Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Gunungan sampah di TPA atau open dumping menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia. Pemerintah pun perlu menegakkan aturan serta menerapkan sistem kelola sampah dari hulu ke hilir.

Di sisi lain, peran aktif masyarakat secara luas memilah sampah sangat krusial, demi berjalannya rantai daur ulang sampah.

Pemprov DKI Jakarta mulai menghentikan open dumping di TPST Bantargebang sejak Agustus 2026 dan beralih ke sistem controlled landfill.

Dalam sistem controlled landfill, sampah tidak lagi hanya ditumpuk secara terbuka. Penempatan dan pemadatan sampah dilakukan secara lebih teratur, kemudian ditutup menggunakan material tertentu secara berkala.

Selengkapnya, tonton tayangan video berikut ini!

#berdampaklestari

#bantargebangditutup

#pengelolaansampahjakarta

#manajemensampahkota

Baca Juga [FULL] Polda Metro Jaya Tangkap 65 Orang Diduga Tunggangi Demo DPR, Sita Airsoft Gun-Sajam di https://www.kompas.tv/nasional/687651/full-polda-metro-jaya-tangkap-65-orang-diduga-tunggangi-demo-dpr-sita-airsoft-gun-sajam



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/687663/seribu-langkah-kelola-sampah-peran-aktif-masyarakat-demi-berjalannya-rantai-daur-ulang
Transkrip
00:01Saudara gunungan sampah di TPA atau Open Dumping menjadi pekerjaan rumah besar bagi Indonesia.
00:08Pemerintah pun perlu menegakkan aturan serta menerapkan sistem kelola sampah dari hulu ke hilir.
00:15Di sisi lain peran aktif masyarakat secara luas memilah sampah sangat krusial demi berjalannya rantai daur ulang sampah.
00:24Mulai Agustus 2026, pemerintah Provinsi Jakarta menutup praktik pembuangan sampah tanah terbuka alias Open Dumping.
00:32TPST Bantar Gebang pun bertransformasi menuju sistem kontrol landfill, salah satu upaya pemerintah membenahi pengelolaan sampah dari hulu ke hilir.
00:41Targetnya, 2028 nanti seluruh sampah di Jakarta terkelola dengan baik.
00:46Kalau sampah terus kita hasilkan, sebanyak apapun tempat pembuangan dan teknologi yang kita punya, masalahnya tak akan pernah selesai.
00:54Artinya, solusi sampah tak cukup dimulai dari hilir.
00:57Kita perlu kembali ke hulu ke tempat di mana sampah pertama kali muncul.
01:01Dari rumah kita, dari cara kita berbelanja, dan dari cara hidup kita sehari-hari.
01:06Lalu, sejauh mana peran kita dalam memutus rantai masalah sampah ini?
01:19Sobat Sustenesia, sebelum menumpuk di tempat pembuangan akhir, ada satu titik sampah bermula.
01:26Rumah.
01:27Sampah rumah tangga menyumbang sekitar 56,7 persen dari total timbulan sampah nasional.
01:33Maka, benang kusut persoalan sampah perlu diurai dari rumah.
01:40Perubahan kecil sebenarnya bisa dimulai.
01:43Salah satunya dengan memilah apa yang kita buang.
01:47Kebiasaan sederhana yang sudah dilakukan Nia, warga permukiman padat di Kelurahan Padurenan, Kecamatan Mustika Jaya, Kota Bekasi.
01:57Di keluarga kecilnya, Nia menanamkan kebiasaan sederhana, memilah sampah sebelum benar-benar membuang.
02:04Kita itu kan memang sampah rumah tangga itu ya penghasil sampah terbesar kalau kata saya gitu ya.
02:11Jadi saya memang mengajarkan kepada anak-anak, pada suami, memang ya awalnya sebelum kita mengajak orang lain kan keluarga sendiri
02:19dulu gitu kan.
02:20Ngajarin anak-anak dulu, nanti buang sampahnya kalau yang kering ke sini ya, kalau yang basah ke sini ya gitu.
02:26Jadi kita memang di rumah itu ada dua tempat sampah, yang ember memang untuk sampah organiknya.
02:34Nah yang satunya lagi kantong itu atau karung itu saya buat sampah yang anorganik gitu.
02:40Jadi di rumah memang sudah disiapkan.
02:42Jadi sebenarnya permasalahan sampah itu kalau memang kita sudah tahu caranya mah ya sudah beres aja sih dari rumah juga
02:48gitu.
02:49Jadi yang terbuang itu hanya sampah residunya aja yang emang tidak bisa didaur ulangkan.
02:56Kebiasaan memilah sampah pun Nia tularkan ke lingkungan sekitar.
02:59Bersama ibu-ibu di RT tempat ia tinggal, Nia mengubah sampah yang terpila menjadi karya bernilai.
03:06Dulu kita punya komunitas namanya Rumah Baca Umi.
03:10Nah kebetulan di Rumah Baca Umi itu kan suka ada kegiatan.
03:14Kegiatan untuk mengajak keluarga sekitar, terutama ibu-ibu sama anak-anak untuk membuat kreasi dari barang bekas.
03:21Apalagi misalkan kayak ada orderan gitu ya, Bu Nia tolong dong bikinin misalkan empat mensil dari botol gitu ya.
03:29Alhamdulillah berarti kan ada orderan, ada pemasukan juga nih gitu buat teman-teman pengerus.
03:36Sobat susu Indonesia, mari kita ikuti lebih dekat keseruan Nia dan kawan-kawan mengelola sampah.
03:44Ini mau bikin apa, Bu?
03:46Bunga tulip dari ini.
03:47Bunga tulip.
03:48Ini harus diapain lagi nih, Bu?
03:50Tuga dipasang dakron, ini dakronnya masukin.
03:53Segini?
03:54Eh, dipadukin.
03:56Ini bahannya dari kain perca.
03:58Terus ini dari bungkus kopi.
04:01Nah ini bungkus kopi bisa dianyam jadi dompet kayak gitu.
04:06Nah ini kaleng, kaleng bekas.
04:10Tuh, bisa diolah lagi jadi tempat pensil.
04:15Kesadaran Nia dan ibu-ibu untuk lebih bijak mengelola sampah telah lalui berbagai tahapan.
04:21Ada edukasi, kebiasaan yang dibentuk, hingga kepedulian yang terus ditumbuhkan.
04:26Edukasi memantik kebiasaan memilah sampah jadi gerakan,
04:29hingga bang sampah lahir di lingkungan ini sejak 2017.
04:35Tapi kan tidak segampang itu ya, untuk menanamkan mindset orang itu beda-beda.
04:41Jadi di saat awal-awal itu banyak warga yang istilahnya tidak terima.
04:46Jadi mereka, kenapa sih saya harus milah sampah sih gitu?
04:50Kan saya udah bayar sampah gitu kan?
04:52Nah, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan warga yang seperti itu,
04:57akhirnya ya sudah deh.
04:58Ketika hasil pilihannya, ketika mereka harus memilah,
05:02nah hasil pilihannya itu kemana?
05:04Yaudah, akhirnya kita bentuklah bang sampah untuk menyelesaikan pertanyaan itu
05:09dan untuk menyelesaikan solusinya.
Komentar

Dianjurkan