Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Penulis Dewi Lestari, Bagus Muljadi hingga Produser Film Jumbo, Novia Puspa Sari menawab keresahan mahasiswa UMN.

ROSI on Location Universitas Multimedia Nusantara hadir dengan empat sosok dari dunia yang berbeda. Para mahasiswa dengan kritis bertanya kepada narasumber, yakni:

Prof. Bagus Muljadi Assistant Professor of Engineering, University of Nottingham

Dewi Dee Lestari Penulis & Penyanyi

Novia Puspa Sari Producer Film Jumbo, Head of Production Visinema Studios

Rini Karyaningsih Penggerak Desa Sejahtera Astra Bugisan, Klaten


Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/wIPvkmOFm98



#dewilestari #bagusmuljadi #rosikompastv

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/687777/penulis-dewi-lestari-bagus-muljadi-hingga-produser-film-jumbo-jawab-keresahan-mahasiswa-rosi
Transkrip
00:01Bicara soal tanggung jawab, kita sekarang sesinya adalah panggung jawab.
00:07Jadi teman-teman yang ingin bertanya, bisa bertanya pada ketiga narasumber kita di bagian panggung jawab ini.
00:15Sudah ada yang mau nanya? Tunjuk tangan. Ya boleh, yuk.
00:19Perkenalkan nama saya Arya Damersdiawan dari jurusan komunikasi angkatan 2025.
00:25Pertanyaan saya kan, kalau menurut Pak Mulyadi kan kita sebagai mahasiswa terutama kita harus bisa lebih menghadapi abu-abu atau
00:35yang namanya ketidakpastian.
00:36Itu kan menjadi sebuah tantangan yang sulit ya kan, terutama karena ada kayak media sosial sekarang, terus ada instant gratification.
00:44Nah menurut Pak Mulyadi, itu gimana caranya supaya kita sebagai mahasiswa bisa lebih mentoleransi ke abu-abuan itu.
00:56Kan aku juga kebetulan suka baca buku, itu kayak gitu, kayak buku Fiksy itu bisa membantu gak ya Prof?
01:03Buk Fiksy? Oke. Ada dua bapak komunikasi atau linguistik, satunya pasti kenal Noam Chomsky, satunya lagi sebenarnya bukan orang komunikasi,
01:17tapi dia bapak komunikasi.
01:19Namanya Claude Shannon, pernah denger? Ya kan? Dia tuh di Bell Labs, Bell Labs itu sebuah institusi yang banyak hampir
01:27keluar pemenang Nobel atau sekelas pemenang Nobel.
01:30Dia bertanya satu hal, is communication thermodynamical? Apakah komunikasi itu sifatnya thermodinamis? Pertanyaan macam apa itu?
01:45Siapa yang punya imajinasi untuk bertanya hal-hal seperti itu? Ada jurnal dari Google DeepMind, LLM, Large Language Model.
01:59Jadi back end-nya AI lah gitu ya. Itu tidak bisa melakukan lompatan dalam ilmu pengetahuan seperti manusia bisa melompat.
02:08Klaim dia bukan saya ya. Ada tiga hal caranya ilmu pengetahuan itu dihasilkan.
02:12Induksi, artinya bikin riset, disini benar enggak, disalah enggak. Kesimpulannya jadi ilmu baru.
02:19Ada satu yang namanya deduksi. Deduksi itu dari logika, dari premis, kesimpulannya mengikat lepas dari Anda suka atau tidak.
02:27Dan yang satu lagi, abduksi. Abduksi itu dari imajinasi.
02:33Ketika datanya enggak ada untuk diteliti, dia ngambil inspirasi dari tempat lain.
02:38Dia harus berpikir gimana caranya punya super smelling sense misalnya.
02:43Dia harus berimajinasi seperti itu.
02:46Einstein itu menciptakan general relativity.
02:50Mengubah cara pandang kita berpikir tentang gravitasi.
02:53Itu bukan karena diajarin gurunya, tapi karena dia berpikir, berimajinasi.
02:58Bahwa gravitasi itu bukan sekedar gaya, tapi pembengkokan kurvatur ruang dan waktu.
03:04Di mana dia bisa mikir kayak gitu.
03:06Kalau dia tidak berpikir abu-abu, kalau dia tidak ngelamun.
03:11Kalau dia tidak berimajinasi, kalau dia tidak baca fiksi.
03:14Satu contoh terakhirnya Mbak Rosi ya.
03:17Fiksi itu di Indonesia itu dimarjinalkan.
03:20Sampai ada beberapa tahun yang lalu, kitab suci disebut fiksi, semua orang marah gitu ya.
03:25Saya kasih tau di Jerman ya.
03:27Saya orang Jerman.
03:28Di Jerman tuh karya literatur terhebatnya itu namanya Faust.
03:35Oleh Goethe.
03:36Tau enggak Goethe Institute?
03:38Tau ya? Penulis hebat.
03:41Jens Weidman, direktur Bundesbank, berantem sama direkturnya Bank Sentral Eropa, ECB waktu itu.
03:48Namanya Mario Draghi.
03:50Dia berantem, dia bilang, gue enggak mau nyetak duit.
03:53Kan dia pakai euro uang yang sama kan.
03:55Tau enggak argumennya dari mana?
03:57Dari Faust.
03:59Dia bilang di dalam cerita itu, yang merupakan memori kolektif orang Jerman.
04:03Dia bilang, setan pada waktu itu di buku Faust, namanya Mepistopheles.
04:08Dia itu mencoba menggoda raja untuk cetak uang kertas.
04:42Bisa di cek di Google.
04:42Karya sastra itu bisa membentuk kita.
04:44Mungkin bisa dijawab oleh Di.
04:46Aku boleh bantu jawab ya?
04:47Boleh.
04:47Jadi sebetulnya ada satu fungsi dari karya fiksi, yang ini menurut saya jarang dibahas.
04:55Salah satu fungsi penting fiksi sebetulnya adalah meningkatkan empati.
04:59Kenapa?
04:59Karena di dalam fiksi kita belajar how to be in someone else's shoes.
05:06Gimana kita menjadi seseorang yang lain daripada diri kita sendiri.
05:10Terutama ketika saya menjadi penulisnya, bayangkan kalau saya menulis 50 karakter,
05:17saya harus menjadi ke 50 karakter tersebut.
05:20Saya mampu menjadi orang yang disebut antagonis, tapi saya jadi tahu kenapa si antagonis melakukan hal tersebut.
05:28Oh ternyata dia punya latar belakang, alasan dan sebagainya.
05:32Sementara protagonis juga bukan serba sempurna.
05:35Dia juga punya keresahan, kegagalan gitu ya.
05:39Nah jadi memang fiksi itu melatih kita sulit sekali untuk hitam putih di dalam fiksi.
05:44Justru menurut saya salah satu karya fiksi yang indikator, fiksi yang bagus dan penulis yang bagus adalah
05:51ketika dia mampu semakin tidak egois.
05:56Karena dia mampu menjadi banyak orang, banyak perspektif, dia mewakili banyak kaum gitu ya.
06:02Nah begitu juga pembaca.
06:04Setiap karya fiksi mengajak pembaca untuk masuk ke dalam hidup seseorang.
06:08Untuk memasuk ke dalam hidup orang lain, pemikiran orang lain.
06:11Jadi kalau tadi ada pertanyaan bagaimana sih caranya agar kita tidak hitam putih,
06:16kita bisa lebih legowo menghadapi abu-abu, salah satunya adalah baca karya fiksi,
06:23nonton film juga.
06:25Karena film juga sebetulnya adalah perpanjangan dari karya fiksi dalam bentuk audiovisual.
06:30Nah jadi sebetulnya sama saja.
06:33Berlatih menjadi orang lain dan belajar melihat dunia dari perspektif yang berbeda dari perspektif kita.
06:41Satu lagi, coba.
06:44Halo semuanya, nama saya Valencia Fika Winaga.
06:47Valencia?
06:48Iya dari DKV.
06:49Nah saya ada pertanyaan nih, perubahan paling mendasar apa yang perlu dilakukan agar generasi muda Indonesia itu tidak hanya menjadi
06:57konsumen irmu dan budaya,
06:59tetapi mampu menciptakan gagasan dan pengetahuan yang berasal dari pemasalahan Indonesia sendiri?
07:05Good.
07:05Terima kasih.
07:06Terima kasih.
07:06Alumni-nya dulu coba jawab, adik kelasnya bertanya.
07:11Mungkin kalau aku coba berangkat dari pengalaman pribadiku juga ya,
07:15bahwa ketika kuliah-kuliah itu kan seringkali mindset-nya adalah,
07:20misalnya kalau ada yang bagian untuk ngejar IPK tinggi, yaudah pokoknya belajar terus.
07:24Atau yang yaudah yang penting lulus gitu.
07:27Kalau aku sendiri dalam proses kuliah sendiri berusaha untuk di tengahnya,
07:31dalam arti tentunya tetap belajar, tapi tetap juga menyeimbangkan dengan aktif dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan di kampus gitu.
07:40Itu menurut aku sesuatu langkah awal yang bisa dilakukan mahasiswa sih saat ini,
07:44di mana keaktifan ini bisa banyak hal ya, dari organisasi di kampus, dari ikut dengan media di kampus,
07:51bisa juga berkarya juga sendiri dengan teman-teman, apalagi kalau spesifiknya karena aku jurusan film.
07:56Jadi bikin film itu bukan cuma bergantung ketika ada tugas kuliah aja gitu,
08:01tapi dari inisiatif yang dibangun bersama dengan mahasiswa-mahiswa lain juga gitu.
08:05Kemudian aktif juga dengan pengalamanku sendiri juga waktu ketika kuliah,
08:08aku terlibat dalam media majalah kampus juga,
08:11di mana di situ juga melatihku untuk bisa berpikir lebih kritis,
08:15mengikuti terus perkembangan yang terjadi di negara ini dan juga di lingkungan kampus tentunya,
08:21yang akhirnya membuat aku membangun, apa ya, membangun gak hanya secara pengetahuan dan pengalaman ya,
08:28tapi juga berguna dengan networkingnya aku juga,
08:32karena pada akhirnya sebagai mahasiswa tuh bukan hanya masuk kelas, pulang, selesai,
08:36tapi aku juga membangun relasi dengan mungkin lintas jurusan dari berbagai organisasi yang aku jalankan.
08:42Dan sampai hari ini ketika aku bekerja ternyata itu sangat bermanfaat sekali gitu.
08:46Dan akhirnya aku jadi lebih berani untuk bisa berkarya dengan pengetahuan yang mungkin jadi lebih luas,
08:56tidak hanya dengan kacamata aku sendiri aja sebagai anak jurusan film gitu.
09:00Kamu juga semasa kuliah membangun jejaring gak?
09:04Tentunya.
09:05Iya ya?
09:05Jadi kamu juga membuat jejaring,
09:09jadi kamu bisa masuk dalam satu ekosistem yang mendukung ilmunya kamu di UMN gitu.
09:15Betul, dan termasuk ya dengan bergabung dengan komunitas juga.
09:18Karena itu yang akhirnya membuat kita juga berkontribusi gitu.
09:22Oke, di dulu?
09:26Rasanya kalau mendengar pertanyaan tadi,
09:29mungkin pertanyaannya bagaimana kita menjadi seseorang yang lebih aktif mencari ilmu,
09:35ketimbang pasif menerima ilmu gitu ya.
09:39Aduh, sebetulnya saya ini bukan contoh yang baik.
09:42Saya mungkin lebih ekstrim daripada Prof Bagus.
09:45Jadi kalau tadi saya dengar angka-angka IP kamu itu,
09:48dalam hati saya lebih rendah daripada itu.
09:52D.O.
09:53Sama.
09:55Jadi waktu dulu,
09:57saya memulai karir dari usia sangat muda.
09:59Jadi dari 17 tahun saya mulai bernyanyi.
10:02Jadi otomatis,
10:05kaki saya di kampus itu udah hampir gak ada.
10:07Saya datang untuk benar-benar formalitas,
10:10gimana caranya bisa lulus gitu kan.
10:12Yang penting dapet ijasa.
10:13Yang penting dapet ijasa.
10:17Anaknya Sarjana.
10:19Itu aja gitu ya.
10:20Tapi saya tidak punya aspirasi sama sekali untuk memakai ilmu formal saya di dalam karir.
10:26Kenapa?
10:26Karena saya sudah berkarir.
10:28Saya sudah tahu.
10:29Saya akan jadi seniman gitu.
10:31Nah, tapi yang ingin saya ungkapkan di sini adalah,
10:35kita itu sering sekali terpesona dengan kata passion gitu.
10:42Apa-apa passion, apa-apa passion.
10:44Sehingga bisa dibilang passion itu identik dengan yang gue seneng.
10:49Yang hobi gue gitu kan.
10:51Tapi sebenarnya,
10:53passion itu kan datang dari kata dasar pati ya.
10:57Suffering, menderita gitu.
10:59Kalau saya kilas balik ke belakang,
11:03saya itu siap menderita untuk nulis dan musik.
11:08Gak ada yang nyuruh saya nulis,
11:10gak ada yang bilang,
11:10gue, lu bakal jadi terkenal, bakal jadi orang,
11:13kalau lu nulis.
11:14Jadi menulislah setiap hari.
11:15Gak ada.
11:16Tapi saya nulis setiap hari.
11:18Dan itu bukan karena ada iming-iming kesarjanaan,
11:22bukan ada iming-iming masa depan yang cerah.
11:25Kita tahu siapa sih yang nyuruh orang tua,
11:27mana yang nyuruh anaknya jadi penulis.
11:29Ya kan?
11:30Cita-cita itu sangat tidak lazim gitu loh.
11:32Tapi saya lakukan kenapa?
11:34Karena saya sangat cinta.
11:36Saya rela menderita untuk itu.
11:38Ketika saya ditolak oleh majalah,
11:41ditolak oleh perlombaan,
11:43gak menang dan sebagainya.
11:44Saya terus aja nulis.
11:46Nah, curigailah hal-hal seperti itu
11:51di dalam hidup kalian.
11:53Ada gak hal-hal yang gak ada orang nyuruh,
11:57gak ada iming-iming apa,
11:58tapi kalian ingin terus lakukan.
12:01Curigai itu.
12:02Dan kejar itu.
12:03Karena bisa jadi,
12:05disitulah posisi kita bisa menjadi pembelajar yang aktif seumur hidup.
12:09Karena bukan karena mau S1,
12:12mau dapat ini, dapat itu, dapat ini,
12:13tapi betul-betul kita berangkat dari diri kita sendiri.
12:17Sesuatu yang inner dan internal.
12:19So, curigai itu ya teman-teman.
12:22Sorry Prof, sorry.
12:24Ini menurut aku apa ya,
12:26sebuah definisi yang mengembangkan apa yang disebut dengan passion.
12:32Kita kadang-kadang ini udah overrated dengan
12:35kerjakanlah sesuatu yang passion.
12:37Sesuai dengan passion.
12:38Tapi seorang di Lestari hari ini,
12:40ingin mengatakan ketika kamu passion dengan sesuatu,
12:44kamu harus juga mau menderita dengan itu.
12:46Karena itulah sebenarnya jalan yang kamu harus tempuh.
12:50Kamu gak akan pernah berhasil sebelum kamu menderita bersama itu.
12:54Aku udah janji yang ketiga, yang baju coklat.
12:56Perkenalkan nama aku Ian Bradley.
12:58Apa?
12:59Ian Bradley, dari jurusan Sistem Informasi.
13:01Aku ingin bertanya kepada Pak Bagus ya.
13:04Di era sekarang itu, Indonesia itu digempur dengan
13:07Indonesia emas tahun 2045 ya Pak Bagus.
13:11Tentu sebuah negara itu tidak dibangun hanya dari naratif Pak.
13:15Tapi dari bukti bahwa sebuah negara itu bisa membuktikan
13:18naratif tersebut Pak.
13:19Kalau saya perhatikan di Indonesia,
13:21Indonesia itu masih, bisa dibilang pendidikannya masih rendah Pak.
13:25Dengan skor PISA yang rendah,
13:26dan juga dengan penghasil mahasiswa Sistem.
13:30Tolong koreksi kalau saya salah Pak.
13:32Tapi Indonesia itu menghasilkan, kalau gak salah sekitar 18 persen.
13:36Sedangkan negara tetangga seperti Malaysia itu menghasilkan 36-38 persen.
13:42Singapura itu 31 persen Pak.
13:44Menurut Pak Bagus, apa akar masalah dari ketertinggalannya pendidikan di Indonesia?
13:49Itu saya pertanyaan saya. Terima kasih.
13:51Indonesia emas itu bukan narasi.
13:54Indonesia emas, so what?
13:56Negara besar itu bukan narasi.
13:59So what?
14:00I can't do anything with it.
14:02Besar apanya?
14:02I don't know.
14:04Maka itu di dalam podcast itu dan dalam media-media saya selalu bilang,
14:09narasi itu sesuatu yang binding, mengikat.
14:11Saya mau mati buat narasi itu.
14:13Dan kita tahu karena sering baca fiksi,
14:15narasi itu artinya mau kemana.
14:18Indonesia emas itu bukan narasi.
14:19Pendidikan kita pun hasil dari kemiskinan narasi,
14:22latah berkebijakan, ngambil dari luar.
14:25Indonesia is a laboratory of the world.
14:28That's a narrative.
14:30Indonesia itu global ekosistem chokehold.
14:34Tropical gambut terbesar di dunia itu di Indonesia.
14:37Hampir 30 ke 40 estimated gigaton karbon bisa diserap di situ.
14:42Kalau enggak kebakaran.
14:44Mangrove, coral reef.
14:46Jadi kalau Indonesia semena-mena terhadap gambutnya,
14:50ini dunia kerepotan.
14:51Dia enggak akan bisa ngukur gambut.
14:53Tapi itu enggak dijadikan narasi.
14:54Karena kalau itu dijadikan narasi,
14:56Anda tahu besok ngambil jurusan apa.
14:58Anda tahu arti hadir Indonesia itu di muka bumi numpang lewat.
15:02Atau punya kewajiban untuk itur menyelesaikan permasalahan dunia.
15:07Kemiskinan narasi itulah yang diadopsi oleh
15:10kebijakan pendidikan Indonesia lepas dari SD sampai SMA,
15:13sampai perguruan tinggi.
15:14Yang membuat dia latah kebijakan.
15:16Karena dia enggak punya narasi.
15:18Pendidikan itu hak atau komoditas.
15:20Dia enggak tahu.
15:21Siapa yang harus kontrol, dia enggak tahu.
15:23enggak keluar dari ranah kita sendiri.
15:25Satu contoh yang kalau bisa 30 menit, 30 detik selesai.
15:29Jawabannya ada di identitas dan di budaya kita sendiri.
15:32Orang Sunda itu di abad ke-15 ada figur namanya Bujang Gamanik.
15:36Seorang pangeran, rupawan, bisa apapun di dunia dilakukan.
15:40Dia pergi mengitari Pulau Jawa dua kali.
15:43Jalan kaki.
15:44Yang pertama pulang karena dia kangen sama ibunya.
15:46Enggak tahan.
15:46Masih manusia.
15:47Akhirnya setelah jalan kaki sampai ke Bali,
15:50dia bertapa 10 tahun dan menghilang.
15:51Yang aneh adalah dalam catatan dia itu 450 tempat nama gunung, nama sungai, nama batas wilayah, batas etnik, audiovisual.
16:02Dia catat semua secara truthful.
16:04Dan kemudian lewatnya peta Jawa itu bisa direplikasi.
16:08Anda mungkin bisa bilang, ah itu mah gampang aja.
16:11Orang Indonesia itu selalu sadar bahwa dia bisa memetakan dirinya oleh karena kartografer dari barat.
16:18Bukan karena orang kita sendiri.
16:20Bujang Gamanik itu adalah bapak empirisme di dunia.
16:23Dunia Nusantara seperti David Hume.
16:25Tapi kita gak tahu.
16:27Kita gak tahu filosofi dia itu apa.
16:29Itu yang harus jadi PR buat Indonesia.
16:32Baru dia keluar dari post-colonial mindset.
16:34Sampai jumpa.
16:34Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan