Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Karhutla yang tak kunjung mereda, semakin berdampak pada kesehatan masyarakat. Di Jambi, imbas kabut asap karhutla, warga yang terkena ISPA terus meningkat.

Kabut asap imbas karhutla yang terjadi di sejumlah daerah di Tanah Air, masih menghantui warga.

Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali terjadi di kawasan Jalan Jurusan Pelaihari, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Kebakaran di lahan kosong ini terjadi di dekat salah satu perusahaan. Petugas langsung bergerak cepat memadamkan api yang berkobar, hingga kobaran api tidak meluas ke sisi lainnya.

Kesehatan warga semakin terancam ketika mereka terpaksa beraktivitas di tengah selimut kabut asap. Lia, seorang ibu rumah tangga, harus mendapatkan bantuan tabung oksigen karena mengalami sesak napas. Setiap pagi, Lia harus berjuang bertahan di tengah kabut asap yang mengepung rumahnya.

Untuk mengetahui kondisi terkini penyebaran karhutla di Jambi, telah bergabung bersama kami, Jurnalis KompasTV, Ratna Sari.

#ISPA #jambi #karhutla

Baca Juga Begini Situasi Malam Usai Massa Membubarkan Diri di Depan Gedung DPR | KOMPAS MALAM di https://www.kompas.tv/nasional/687784/begini-situasi-malam-usai-massa-membubarkan-diri-di-depan-gedung-dpr-kompas-malam



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/687786/update-kondisi-karhutla-di-jambi-hingga-kasus-penanganan-ispa-kompas-malam
Transkrip
00:01Setelah untuk mengetahui kondisi terkini, penyebaran karhutlah di Jambi telah bergabung bersama kami, Jurnalis Kompas TV, Ratna Sari.
00:08Selamat malam, Ratna. Jadi bagaimana hingga saat ini proses pemadaman karhutlah di Jambi?
00:15Iya, selamat malam Ibrahim dan juga saudara.
00:18Dari Jambi, saya mengabarkan soal kebakaran hutan dan lahan yang saat ini masih terjadi di beberapa kabupaten, kota di Jambi.
00:29Saat ini penanganan kebakaran hutan dan lahan mesti dilakukan dengan dua cara.
00:34Pertama, pemadaman melalui jalur udara yang dibantu dengan helikopter waterbombing dan juga pemadaman jalur udara dengan satgas di lokasi.
00:44Selain itu juga saudara, untuk mempercepat api atau pemadaman di sejumlah lahan,
00:49Satgas Taurla Provinsi Jambi telah menyiagakan 10 ton garam untuk operasi modifikasi cuaca atau OMC
00:58yang akan dilaksanakan jika bibit awan sudah terdeteksi oleh BMKG.
01:05Selain itu saudara, saat ini luasan lahan yang terbakar di Jambi mengalami kenaikan cukup signifikan.
01:13Data terakhir, ada laporan sekitar 658 hektare lahan terbakar.
01:19Namun data terbaru dari tim Satgas Taurla saat ini, luasan lahan terbakar mencapai 954 hektare.
01:27Dari 954 hektare ini terbanyak berada di Kabupaten Waro Jambi, 302 hektare lahan terbakar disusul Kabupaten Tanjung Jabung Barat
01:37sebanyak 214 hektare lahan yang terbakar.
01:41Sementara untuk Kabupaten Kota lainnya masih dalam perhitungan mengingat memang ada sebagian lahan di Kabupaten
01:48seperti Tanjung Jabung Timur, apinya belum 100% padam Ibrahim.
01:53Ratna, lalu bagaimana apakah warga yang rumahnya dekat dengan sumber Karhutla ada rencana evakuasi?
02:00Lalu bagaimana juga soal penanganan penyakit ISPA warga di sana?
02:07Ya, Ibrahim dan juga saudara soal rumah warga yang berada di dekat lokasi kebakaran hutan dan lahan.
02:14Saat ini memang BPBD Kota Jambi juga telah mendirikan posko bencana keringan dan Karhutla yang ada di halaman perkantoran BPBD
02:24Kota Jambi.
02:25Dari posko ini mereka memfokuskan data dan juga membantu para korban, salah satunya korban Karhutla.
02:33Sejauh ini belum ada informasi yang kami dapat terkait dengan korban yang diusulkan.
02:38Sementara memang warga memilih bertahan di rumahnya.
02:43Ibrahim Saim itu juga dengan adanya peristiwa kebakaran hutan dan lahan ini mengakibatkan kabut asap
02:50yang kian pekat apalagi tiga hari belakangan di Kota Jambi.
02:55Akibat kabut asap ini, kasus ISPA menjadi meningkat dari laporan Dinas Kesehatan Kota Jambi.
03:02Kasus ISPA sempat tembus di angka 2000, namun beberapa minggu terakhir kasus ISPA menurun ke Ibrahim.
03:11Baik, terima kasih untuk laporannya Ratna Sari langsung dari Jambi.
Komentar

Dianjurkan