00:00Selamat malam, saya Rosia Nasilalahi.
00:02Selamat datang di program Rosi Ruang Opini Sumber Informasi.
00:07Presiden ketujuh Jokowi mengatakan kekuasaan hanya sementara.
00:12Untuk itu jangan digunakan untuk menjatuhkan orang.
00:17Pernyataan mantan Presiden ini memantik percakapan di publik.
00:21Banyak yang bertanya, apa maksud pernyataan Jokowi ini dan ditujukan kepada siapa?
00:27Malam ini saya mengundang seorang pengat politik dan militer Universitas Nasional, Dr. Selamat Ginting.
00:36Terima kasih Bung Selamat sudah hadir.
00:39Terima kasih Rosi.
00:41Sebenarnya saya juga mengundang seorang pegiat ketua pergerakan Indonesia untuk semua.
00:49Dan dia juga seorang yang dikenal dalam praktisi komunikasi.
00:55Tapi ya adik Armando, tapi ya sedang dalam perjalanan.
00:58Karena ini adalah program langsung, maka we have to move on.
01:02Saya mulai dulu dengan Bung Selamat.
01:04Bung Selamat, saya mendengar pernyataan Anda ketika mantan Presiden Jokowi mengatakan bahwa kekuasaan ini
01:16jangan kita punya kekuasaan yang besar, kemudian kita pakai untuk menjatuhkan orang.
01:21Itu dulu, satu alinnya itu dulu.
01:22Terus saya dengar bahwa Bung Selamat mengatakan ini ditujukan untuk Pak Jokowi sendiri.
01:29Dari mana logikanya?
01:30Orang sedang pidato, tapi itu untuk dirinya sendiri.
01:34Ini kan bicara tentang budaya Jawa.
01:38Budaya Jawa itu seperti ketika menunjuk jari itu ke depan, kemudian empat jari ke dalam.
01:47Artinya sesungguhnya ini adalah refleksi dari dirinya sendiri.
01:53Jadi kalau kita mengeritik orang, kita harus juga melihat siapa diri kita.
02:00Ini bicara tentang kekuasaan.
02:03Jokowi ini bukan makhluk moral, tapi dia adalah makhluk politik.
02:09Oke, sampai di situ, kalau ini diucapkan di ruang publik, message itu kan pasti punya tujuan.
02:18Persis.
02:19Ada goal untuk menyampaikan pesan.
02:23Iya.
02:23Nggak mungkin dong orang menyampaikan pesan di tengah banyak orang, tapi pesan itu setungguhnya untuk dirinya sendiri.
02:30Itu nggak ada dasarnya, Bu Ginting.
02:33Ya, betul.
02:34Tentu ini ada pesan-pesan yang disampaikan.
02:37Pertama, kalau kita lihat dari perspektif ilmu politik, maka harus dipahami dulu bahwa ketika bicara mengenai kekuasaan,
02:47ketika bicara mengenai pengaruh kekuasaan, ketika dia bicara tentang perilaku orang,
02:56ini dia sudah bicara tentang politik.
03:01Maka di dalam politik jelas, ini bukan semata-mata ketika dia tampil bicara soal moral semata.
03:11Bukan bicara soal keagamaan semata.
03:14Walaupun itu dilakukan di sebuah pesan trend di Kebumen.
03:19Di acara Maulun Nabi.
03:20Ini ada pesan yang disampaikan kepada kekuasaan.
03:26Kekuasaan itu bisa saja artinya lembaga, kelembagaan ya.
03:31Kelembagaan itu dari mana dia memberikan contoh itu lurah.
03:36Kalau ingat nggak dulu siapa sih yang sering disebut lurah, Pak Lurah?
03:41Ya dirinya sendiri juga.
03:43Artinya sang penguasa.
03:45Maka bisa juga ini pesan kepada lembaga-lembaga penegak hukum,
03:52kepada eksekutif, kepada parlemen, dan juga jangan salah, kepada presiden.
03:59Artinya ini dia sedang berbicara, ada pesan politik yang ingin disampaikan.
04:07Ini kan bukan semata-mata pada tanggal 29 Agustus saja.
04:13Kita harus tarik mundur.
04:1727 sebelum 27 Agustus ada pembicaraan apa?
04:23Yang cuplikan video kan maksudnya kan?
04:25Cuplikan video ke Tumprojo yang mengatakan bahwa sebagai seorang aktivis,
04:29ia bisa merasakan bahwa bisa terjadi percepatan pemilu.
04:35Tapi sebelum sampai ke situ, awalnya tadi Bung Selamat Ginting mengatakan bahwa
04:39ini sesungguhnya Pak Jokowi ini sedang mengatakan tentang dirinya sendiri.
04:45Yang saya katakan apa dasarnya, bicara di depan umum, tapi untuk dirinya sendiri.
04:50Tapi kini ada pergeseran dari penjelasan Bung Selamat Ginting
04:56bahwa ini bisa ditujukan bagi orang-orang di luar dirinya.
05:00Penegak hukum dan juga bahkan eksekutif.
05:03Dalam hal ini siapa sih yang sedang berkuasa?
05:05Presiden Prabowo.
05:07Apakah Anda ingin mengatakan bahwa pesan ini sesungguhnya ditujukan pada Presiden Prabowo?
05:13Memang dia tidak secara eksplisit mengungkapkan hal itu.
05:18Tetapi dalam komunikasi politik ada bahasa yang tersirat.
05:22Ada bahasa implisit. Memang tidak terang-terangan.
05:26Maka kalau kita bicara ada tiga makna yang bisa kita pahami.
05:33Pertama memang kekuasaan memang harus dibatasi.
05:37Pemeopolitik ya.
05:39Kekuasaan harus dibatasi oleh norma dan juga oleh ada pembatasan dari sisi kelembagaan.
05:48Maka kalau saya lihat dia bicara kekuasaan padahal dia sendiri baru lengser dari kekuasaan.
05:58Dia sedang menarasikan bahwa dia sesungguhnya masih punya pengaruh politik.
06:05Jadi kita harus melihat Jokowi masih ada kelanjutan dari apa?
06:11Jokowi punya Gibran sebagai wakil presiden.
06:16Hubungannya apa?
06:17Ya jelas dia ingin memberikan pesan kepada Prabowo begitu ya.
06:24Ini pesan ke depan tentu dia ingin artinya dinastinya tetap terjaga.
06:33Jangan ada yang memukul.
06:35Kan kira-kira gitu.
06:35Kenapa saya harus katakan gitu?
06:37Kenapa sampai jauh melompat bahwa karena ada Mas Gibran yang putranya Pak Jokowi.
06:42Jadi kalimat bahwa jangan kita punya kekuasaan yang besar kemudian kita pakai untuk menjatuhkan orang.
06:48Itu hal yang tidak baik.
06:50Karena kekuasaan itu hanya sementara.
06:52Jabatan itu hanya sampingan.
06:53Itu yang harus diingat waktu kita memiliki kekuasaan.
06:56Apa hubungannya ketika presiden ketujuh atau mantan presiden Jokowi mengatakan ini.
07:02Itu ada kaitannya dengan putranya yang sekarang menjadi wakil presiden.
07:06Bukan cuma putranya, artinya bagian dari kelompok Jokowi sebelumnya.
07:12Ini kan ada pesan mendesak dari akademisi dan lain-lain supaya Prabowo segera melakukan resafal kabinet.
07:21Ini menjelang dua tahun.
07:23Artinya ini pesan juga jangan menggunakan kekuasaan untuk sewenang-wenang.
07:31Bahkan kira-kira begitu ada kekhawatiran juga itu tadi misalnya publik juga bertanya.
07:38Kenapa kemudian polisi tidak memeriksa Budi Ari dengan pernyataannya itu.
07:45Artinya publik juga meminta ini era Jokowi orang yang bicara seperti ini saja dituding makar, diperiksa.
07:54Ini kan tidak.
07:55Ini kan juga kira-kira ada memberikan sinyal jangan dong ditangkap, jangan dong ditahan, jangan dong orang-orang gue itu
08:04diresafal.
08:06Itu ada pesan seperti itu.
08:07Memang pesan itu tidak secara eksplisit.
08:12Menyebut nama.
08:14Iya, cuma di dalam politik, komunikasi politik itu kita bisa tangkap.
08:19Ini interpretasi, ini hipotesis.
08:22Memang harus dibuktikan nanti.
08:25Cuma di dalam politik itu memang...
08:27Artinya tidak mungkin seorang Jokowi mengatakan itu tanpa maksud.
08:34Oh iya.
08:35Pasti dan semua orang tahu bahwa Pak Jokowi adalah seorang yang selalu menggunakan simbol.
08:42Iya, betul.
08:43Jadi tidak mungkin ketika di acara Hari Maulid Nabi itu Pak Jokowi pidato dan mengatakan bahwa kekuasaan itu tanpa sementara,
08:52jangan mentang-mentang kuat jadi bisa semena-mena, itu pasti ada maksudnya.
08:59Iya, betul.
08:59Dan Anda melihat bahwa ini maksudnya adalah memberikan pesan pada Presiden Prabowo yang saat ini sedang berkuasa untuk tidak semena
09:09-mena terhadap segala sesuatu yang terkait dengan kelompok Pak Jokowi, begitu?
09:14Iya, betul.
09:15Saya kira begitu.
09:16Jadi ini...
09:17Memangnya dari sisi Pak Jokowi sedang terancam?
09:20Jadi begini, ini situasi 27 Agustus kemarin, kemudian disambung dengan sebelumnya pernyataan Budi Ari, itu kan ada pesan patahan politik.
09:36Sekarang logikanya saja secara sederhana, ketika RI 1 ada niat, RI 1 misalnya, ini logika alamiah saja, ketika RI 1
09:53terguling, maka yang naik itu RI 2.
09:56Kan kira-kira begitu. Ini juga ada pesan supaya sampai saat ini Presiden Prabowo tidak pernah mau menanggapi kelompoknya Jokowi
10:09untuk mengagendakan di dalam Pilpres 2019 nanti Prabowo-Gibran 2 periode.
10:18Oh, ada melihat bahwa suara-suara selama ini yang menggelorakan tentang Prabowo-Gibran 2 periode, itu rata-rata dari yang
10:29punya keterkaitan dengan Pak Jokowi.
10:34Iya.
10:35Dan itu bukan dari yang murni pendukung Pak Jokowi sejak awal.
10:39Iya, betul.
10:39Jadi Anda melihat bahwa ketika Pak Prabowo tidak terlalu menanggapi gerakan Prabowo-Gibran 2 periode, maka Ketum Projo memberikan pesan
10:51itu.
10:51Hati-hati bahwa bisa terjadi pemilu yang dipercepat.
10:57Iya.
10:57Masa sampai segitu?
10:59Oh iya, politik kan bicaranya bukan satu langkah, dua langkah.
11:04Ini seperti main catur, kita sudah bisa, kira-kira juga kalau aransemen, oh ini tang-tang-tang, tang-tang, oh
11:12lagu Bengawan Solo, kira-kira begitu.
11:15Nah ini juga langkah seperti langkah catur, tiga langkah ke depan, kira-kira orang sudah bisa membaca.
11:22Ini interpretasi politik, boleh dong orang punya interpretasi, boleh juga mereka membantah.
11:28Karena politik itu pasti tidak ditampilkan di panggung utama, itu pasti di panggung belakang dulu.
11:37Nah konsensusnya nanti adalah di panggung tengah.
11:40Oke, saya mau mensamerikan apa yang menjadi penjelasan Bung Selamat Ginting.
11:45Artinya Anda mengatakan bahwa pesan pidato Pak Jokowi tentang bahwa jangan kita punya kekuasaan yang besar,
11:55kemudian kita pakai untuk menjatuhkan orang, itu hal yang tidak baik, sesungguhnya itu ditujukan pada Presiden Prabowo.
12:01Dan ini ada kaitannya karena ingin menjaga WAPRES, yaitu Mas Gribran, yang notabene adalah anaknya Pak Jokowi,
12:10tetap harus bersama Pak Prabowo hingga pemilu ke 2029 nanti.
12:17Menjaga supaya mereka berdua tetap ada atau ketergantungan terhadap kekuatan politik Pak Jokowi, ya atau tidak?
12:25Ya, bahkan menginginkan ini dua periode, artinya lanjut ya, bukan cuma 2029.
12:33Ya, 2029 maksudnya ke pemilu, artinya memastikan bahwa harus bersama Mas Gribran.
12:39Iya.
12:39Oke.
12:39Apa yang ada di sini?
12:42Apa yang ada di sini?
12:43Seolah-beri.
Komentar