Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Pernyataan Presiden ke-7 RI Joko Widodo soal bahaya menggunakan kekuasaan untuk menjatuhkan orang mendapat sorotan.

Pengamat Politik dan Militer Universitas Nasional, Selamat Ginting, menilai pernyataan tersebut bisa dimaknai sebagai refleksi Jokowi terhadap dirinya sendiri.

Menurut Selamat, pesan tersebut juga tidak semata-mata berkaitan dengan moral. Ia menilai pernyataan tersebut dapat dimaknai sebagai refleksi terhadap diri Jokowi sendiri.

Menurut Selamat, prinsip tersebut menggambarkan bahwa ketika seseorang mengkritik pihak lain, ia juga harus melihat dirinya sendiri.

Terlebih, menurutnya, pernyataan Jokowi berkaitan dengan persoalan kekuasaan.

Ia menilai Jokowi tidak bisa hanya dilihat sebagai sosok yang menyampaikan pesan moral, karena sebagai mantan presiden, Jokowi juga merupakan aktor politik.

Selamat kemudian menyinggung istilah "Pak Lurah" yang pernah digunakan untuk menyebut Jokowi.

Menurutnya, istilah tersebut juga berkaitan dengan sosok penguasa.

Pesan soal penggunaan kekuasaan itu, menurut Selamat, bisa ditujukan kepada berbagai institusi yang memiliki kewenangan.

Mulai dari lembaga penegak hukum, eksekutif, parlemen hingga presiden.

Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/iUAlhRmHMEs?si=rgB1htAhQRICHoYF



#jokowi #prabowo #adearmando

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/688893/jokowi-bicara-kekuasaan-pengamat-bisa-jadi-pesan-untuk-dirinya-rosi
Transkrip
00:00Selamat malam, saya Rosia Nasilalahi.
00:02Selamat datang di program Rosi Ruang Opini Sumber Informasi.
00:07Presiden ketujuh Jokowi mengatakan kekuasaan hanya sementara.
00:12Untuk itu jangan digunakan untuk menjatuhkan orang.
00:17Pernyataan mantan Presiden ini memantik percakapan di publik.
00:21Banyak yang bertanya, apa maksud pernyataan Jokowi ini dan ditujukan kepada siapa?
00:27Malam ini saya mengundang seorang pengat politik dan militer Universitas Nasional, Dr. Selamat Ginting.
00:36Terima kasih Bung Selamat sudah hadir.
00:39Terima kasih Rosi.
00:41Sebenarnya saya juga mengundang seorang pegiat ketua pergerakan Indonesia untuk semua.
00:49Dan dia juga seorang yang dikenal dalam praktisi komunikasi.
00:55Tapi ya adik Armando, tapi ya sedang dalam perjalanan.
00:58Karena ini adalah program langsung, maka we have to move on.
01:02Saya mulai dulu dengan Bung Selamat.
01:04Bung Selamat, saya mendengar pernyataan Anda ketika mantan Presiden Jokowi mengatakan bahwa kekuasaan ini
01:16jangan kita punya kekuasaan yang besar, kemudian kita pakai untuk menjatuhkan orang.
01:21Itu dulu, satu alinnya itu dulu.
01:22Terus saya dengar bahwa Bung Selamat mengatakan ini ditujukan untuk Pak Jokowi sendiri.
01:29Dari mana logikanya?
01:30Orang sedang pidato, tapi itu untuk dirinya sendiri.
01:34Ini kan bicara tentang budaya Jawa.
01:38Budaya Jawa itu seperti ketika menunjuk jari itu ke depan, kemudian empat jari ke dalam.
01:47Artinya sesungguhnya ini adalah refleksi dari dirinya sendiri.
01:53Jadi kalau kita mengeritik orang, kita harus juga melihat siapa diri kita.
02:00Ini bicara tentang kekuasaan.
02:03Jokowi ini bukan makhluk moral, tapi dia adalah makhluk politik.
02:09Oke, sampai di situ, kalau ini diucapkan di ruang publik, message itu kan pasti punya tujuan.
02:18Persis.
02:19Ada goal untuk menyampaikan pesan.
02:23Iya.
02:23Nggak mungkin dong orang menyampaikan pesan di tengah banyak orang, tapi pesan itu setungguhnya untuk dirinya sendiri.
02:30Itu nggak ada dasarnya, Bu Ginting.
02:33Ya, betul.
02:34Tentu ini ada pesan-pesan yang disampaikan.
02:37Pertama, kalau kita lihat dari perspektif ilmu politik, maka harus dipahami dulu bahwa ketika bicara mengenai kekuasaan,
02:47ketika bicara mengenai pengaruh kekuasaan, ketika dia bicara tentang perilaku orang,
02:56ini dia sudah bicara tentang politik.
03:01Maka di dalam politik jelas, ini bukan semata-mata ketika dia tampil bicara soal moral semata.
03:11Bukan bicara soal keagamaan semata.
03:14Walaupun itu dilakukan di sebuah pesan trend di Kebumen.
03:19Di acara Maulun Nabi.
03:20Ini ada pesan yang disampaikan kepada kekuasaan.
03:26Kekuasaan itu bisa saja artinya lembaga, kelembagaan ya.
03:31Kelembagaan itu dari mana dia memberikan contoh itu lurah.
03:36Kalau ingat nggak dulu siapa sih yang sering disebut lurah, Pak Lurah?
03:41Ya dirinya sendiri juga.
03:43Artinya sang penguasa.
03:45Maka bisa juga ini pesan kepada lembaga-lembaga penegak hukum,
03:52kepada eksekutif, kepada parlemen, dan juga jangan salah, kepada presiden.
03:59Artinya ini dia sedang berbicara, ada pesan politik yang ingin disampaikan.
04:07Ini kan bukan semata-mata pada tanggal 29 Agustus saja.
04:13Kita harus tarik mundur.
04:1727 sebelum 27 Agustus ada pembicaraan apa?
04:23Yang cuplikan video kan maksudnya kan?
04:25Cuplikan video ke Tumprojo yang mengatakan bahwa sebagai seorang aktivis,
04:29ia bisa merasakan bahwa bisa terjadi percepatan pemilu.
04:35Tapi sebelum sampai ke situ, awalnya tadi Bung Selamat Ginting mengatakan bahwa
04:39ini sesungguhnya Pak Jokowi ini sedang mengatakan tentang dirinya sendiri.
04:45Yang saya katakan apa dasarnya, bicara di depan umum, tapi untuk dirinya sendiri.
04:50Tapi kini ada pergeseran dari penjelasan Bung Selamat Ginting
04:56bahwa ini bisa ditujukan bagi orang-orang di luar dirinya.
05:00Penegak hukum dan juga bahkan eksekutif.
05:03Dalam hal ini siapa sih yang sedang berkuasa?
05:05Presiden Prabowo.
05:07Apakah Anda ingin mengatakan bahwa pesan ini sesungguhnya ditujukan pada Presiden Prabowo?
05:13Memang dia tidak secara eksplisit mengungkapkan hal itu.
05:18Tetapi dalam komunikasi politik ada bahasa yang tersirat.
05:22Ada bahasa implisit. Memang tidak terang-terangan.
05:26Maka kalau kita bicara ada tiga makna yang bisa kita pahami.
05:33Pertama memang kekuasaan memang harus dibatasi.
05:37Pemeopolitik ya.
05:39Kekuasaan harus dibatasi oleh norma dan juga oleh ada pembatasan dari sisi kelembagaan.
05:48Maka kalau saya lihat dia bicara kekuasaan padahal dia sendiri baru lengser dari kekuasaan.
05:58Dia sedang menarasikan bahwa dia sesungguhnya masih punya pengaruh politik.
06:05Jadi kita harus melihat Jokowi masih ada kelanjutan dari apa?
06:11Jokowi punya Gibran sebagai wakil presiden.
06:16Hubungannya apa?
06:17Ya jelas dia ingin memberikan pesan kepada Prabowo begitu ya.
06:24Ini pesan ke depan tentu dia ingin artinya dinastinya tetap terjaga.
06:33Jangan ada yang memukul.
06:35Kan kira-kira gitu.
06:35Kenapa saya harus katakan gitu?
06:37Kenapa sampai jauh melompat bahwa karena ada Mas Gibran yang putranya Pak Jokowi.
06:42Jadi kalimat bahwa jangan kita punya kekuasaan yang besar kemudian kita pakai untuk menjatuhkan orang.
06:48Itu hal yang tidak baik.
06:50Karena kekuasaan itu hanya sementara.
06:52Jabatan itu hanya sampingan.
06:53Itu yang harus diingat waktu kita memiliki kekuasaan.
06:56Apa hubungannya ketika presiden ketujuh atau mantan presiden Jokowi mengatakan ini.
07:02Itu ada kaitannya dengan putranya yang sekarang menjadi wakil presiden.
07:06Bukan cuma putranya, artinya bagian dari kelompok Jokowi sebelumnya.
07:12Ini kan ada pesan mendesak dari akademisi dan lain-lain supaya Prabowo segera melakukan resafal kabinet.
07:21Ini menjelang dua tahun.
07:23Artinya ini pesan juga jangan menggunakan kekuasaan untuk sewenang-wenang.
07:31Bahkan kira-kira begitu ada kekhawatiran juga itu tadi misalnya publik juga bertanya.
07:38Kenapa kemudian polisi tidak memeriksa Budi Ari dengan pernyataannya itu.
07:45Artinya publik juga meminta ini era Jokowi orang yang bicara seperti ini saja dituding makar, diperiksa.
07:54Ini kan tidak.
07:55Ini kan juga kira-kira ada memberikan sinyal jangan dong ditangkap, jangan dong ditahan, jangan dong orang-orang gue itu
08:04diresafal.
08:06Itu ada pesan seperti itu.
08:07Memang pesan itu tidak secara eksplisit.
08:12Menyebut nama.
08:14Iya, cuma di dalam politik, komunikasi politik itu kita bisa tangkap.
08:19Ini interpretasi, ini hipotesis.
08:22Memang harus dibuktikan nanti.
08:25Cuma di dalam politik itu memang...
08:27Artinya tidak mungkin seorang Jokowi mengatakan itu tanpa maksud.
08:34Oh iya.
08:35Pasti dan semua orang tahu bahwa Pak Jokowi adalah seorang yang selalu menggunakan simbol.
08:42Iya, betul.
08:43Jadi tidak mungkin ketika di acara Hari Maulid Nabi itu Pak Jokowi pidato dan mengatakan bahwa kekuasaan itu tanpa sementara,
08:52jangan mentang-mentang kuat jadi bisa semena-mena, itu pasti ada maksudnya.
08:59Iya, betul.
08:59Dan Anda melihat bahwa ini maksudnya adalah memberikan pesan pada Presiden Prabowo yang saat ini sedang berkuasa untuk tidak semena
09:09-mena terhadap segala sesuatu yang terkait dengan kelompok Pak Jokowi, begitu?
09:14Iya, betul.
09:15Saya kira begitu.
09:16Jadi ini...
09:17Memangnya dari sisi Pak Jokowi sedang terancam?
09:20Jadi begini, ini situasi 27 Agustus kemarin, kemudian disambung dengan sebelumnya pernyataan Budi Ari, itu kan ada pesan patahan politik.
09:36Sekarang logikanya saja secara sederhana, ketika RI 1 ada niat, RI 1 misalnya, ini logika alamiah saja, ketika RI 1
09:53terguling, maka yang naik itu RI 2.
09:56Kan kira-kira begitu. Ini juga ada pesan supaya sampai saat ini Presiden Prabowo tidak pernah mau menanggapi kelompoknya Jokowi
10:09untuk mengagendakan di dalam Pilpres 2019 nanti Prabowo-Gibran 2 periode.
10:18Oh, ada melihat bahwa suara-suara selama ini yang menggelorakan tentang Prabowo-Gibran 2 periode, itu rata-rata dari yang
10:29punya keterkaitan dengan Pak Jokowi.
10:34Iya.
10:35Dan itu bukan dari yang murni pendukung Pak Jokowi sejak awal.
10:39Iya, betul.
10:39Jadi Anda melihat bahwa ketika Pak Prabowo tidak terlalu menanggapi gerakan Prabowo-Gibran 2 periode, maka Ketum Projo memberikan pesan
10:51itu.
10:51Hati-hati bahwa bisa terjadi pemilu yang dipercepat.
10:57Iya.
10:57Masa sampai segitu?
10:59Oh iya, politik kan bicaranya bukan satu langkah, dua langkah.
11:04Ini seperti main catur, kita sudah bisa, kira-kira juga kalau aransemen, oh ini tang-tang-tang, tang-tang, oh
11:12lagu Bengawan Solo, kira-kira begitu.
11:15Nah ini juga langkah seperti langkah catur, tiga langkah ke depan, kira-kira orang sudah bisa membaca.
11:22Ini interpretasi politik, boleh dong orang punya interpretasi, boleh juga mereka membantah.
11:28Karena politik itu pasti tidak ditampilkan di panggung utama, itu pasti di panggung belakang dulu.
11:37Nah konsensusnya nanti adalah di panggung tengah.
11:40Oke, saya mau mensamerikan apa yang menjadi penjelasan Bung Selamat Ginting.
11:45Artinya Anda mengatakan bahwa pesan pidato Pak Jokowi tentang bahwa jangan kita punya kekuasaan yang besar,
11:55kemudian kita pakai untuk menjatuhkan orang, itu hal yang tidak baik, sesungguhnya itu ditujukan pada Presiden Prabowo.
12:01Dan ini ada kaitannya karena ingin menjaga WAPRES, yaitu Mas Gribran, yang notabene adalah anaknya Pak Jokowi,
12:10tetap harus bersama Pak Prabowo hingga pemilu ke 2029 nanti.
12:17Menjaga supaya mereka berdua tetap ada atau ketergantungan terhadap kekuatan politik Pak Jokowi, ya atau tidak?
12:25Ya, bahkan menginginkan ini dua periode, artinya lanjut ya, bukan cuma 2029.
12:33Ya, 2029 maksudnya ke pemilu, artinya memastikan bahwa harus bersama Mas Gribran.
12:39Iya.
12:39Oke.
12:39Apa yang ada di sini?
12:42Apa yang ada di sini?
12:43Seolah-beri.
Komentar

Dianjurkan