Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Bank Indonesia terus memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain untuk meningkatkan aliran masuk modal asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah.

Bagaimana detail arah bauran kebijakan moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran dalam memperkuat stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan?

Simak pembahasannya bersama Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial (DKMP) Bank Indonesia, Dhaha Praviandi Kuantan, dalam program Kompas Bisnis pada Rabu (9/9/2026).

Baca Juga Cerita Purbaya Setahun Jadi Menkeu: Bikin Pusing Hampir Setiap Hari di https://www.kompas.tv/nasional/689660/cerita-purbaya-setahun-jadi-menkeu-bikin-pusing-hampir-setiap-hari

#bi #bankindonesia #rupiah

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/689750/full-kebijakan-insentif-likuiditas-bi-untuk-stabilitas-rupiah-pertumbuhan-kompas-bisnis
Transkrip
00:05Intro
00:19Saudara Anda menyaksikan Kompas Bisnis bersama saya Putri Oktaviani
00:23Rapat Daun Gubernur atau RDG Bank Indonesia pada 18 hingga 19 Agustus 2026
00:28memutuskan mempertahankan BI Rates sebesar 5,75%
00:33Suku Bunga Deposit Facility sebesar 4,75%
00:36dan Suku Bunga Landing Facility sebesar 6,5%
00:44Keputusan ini tetap konsisten dengan upaya memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah
00:49dari dampak tingginya gejolak global akibat perang di Timur Tengah
00:53menjaga pencapaian sasaran inflasi 2,5% plus minus 1%
00:58pada tahun 2026 dan 2027
01:00serta mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan
01:03Indonesia juga terus memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain
01:08untuk meningkatkan aliran masuk modal asing dan memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah
01:13meningkatkan likuiditas dan mengurangi segmentasi likuiditas di pasar uang dan perbankan
01:19serta mempercepat pendalaman pasar uang dan pasar falas atau PUFA
01:32Indonesia terus memperluas kebijakan insentif dan sejumlah kebijakan lain
01:36untuk meningkatkan aliran masuk modal asing dan perkuat stabilitas nilai tukar rupiah
01:41lalu bagaimana detail arah bauran kebijakan moneter, makroprudensial
01:45dan sistem pembayaran dalam perkuat stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan
01:50Kompas Bisnis akan tanya langsung ke Dahap Raffian di Kuantan
01:54Direktur Departemen Kebijakan Makroprudensial DKMP Bank Indonesia
02:00Selamat pagi pada
02:01Pagi Mbak Oktar
02:03Ya Pak, jadi bagaimana asesmen Bank Indonesia dan terhadap resiko geopolitik global yang masih tinggi
02:09dan juga resiko rambatan terhadap ketahanan sektor perbankan dan keuangan domestik?
02:16Ya, terima kasih Mbak Oktar
02:18Memang menarik ya kalau kita melihat terkait dengan perkembangan ekonomi di global ya
02:24secara umum kita melihat secara prospek pertumbuhannya masih lemah gitu ya
02:30dinamika geopolitiknya masih tinggi
02:32kita juga menyaksikan terkait dengan harga komoditas yang bisa menimbulkan inflasi global yang juga tinggi
02:39disertai juga ketidakpastian di pasar keuangan
02:42dan juga arus modal di negara berkembang yang saya kira juga masih menjadi tantangan
02:47nah ini semua saya kira menjadi tantangan bagi kita semua
02:51namun di tengah tantangan global yang masih tinggi tersebut
02:54Alhamdulillah perekonomian domestik kita masih menunjukkan ketahanan yang baik ya
02:59nah kita melihat beberapa indikator disini terkait dengan pertumbuhan ekonomi
03:03masih trendnya positif ya
03:05tumbuh 5,29% di triulan 2,2026
03:08dan terutama ini ditopang oleh adanya belanja pemerintah dan investasi
03:13nilai tukar kalau kita lihat juga kondisinya relatif stabil
03:16inflasi berada dalam kisaran
03:18cadangan devisa juga cukup kuat untuk mendukung kebutuhan impor
03:22kewajiban eksternal serta juga untuk menghadapi tantangan-tantangan
03:26di global maupun di domestik
03:29dengan pertumbuhan tersebut kami memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia
03:34akan tetap kuat berada pada kisaran 4,9 sampai 5,7%
03:39dan inflasi yang terjaga di sekitar 2,5 plus minus 1%
03:44hal ini menunjukkan fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat
03:48dan juga akan tetap kuat menghadapi ketidakpastian global
03:52nah yang menarik di sektor keuangan
03:54ini juga kita menunjukkan beberapa indikator-indikator yang masih terjaga
03:59permodalan masih oke di atas 20%
04:02resiko kredit juga terkendali
04:04NPL-nya di bawah 5%
04:06dan juga kita kondisi likuiditas di perbankan kita yang juga memandai
04:12oke, kalau tadi berarti artinya secara fundamental
04:15masih dianggap cukup kuat dan juga ada optimisme di sana
04:17padahal lantas bagaimana asasun BI
04:19terhadap kecukupan likuiditas penyaluran kredit pembiayaan
04:24iya, kalau kita lihat untuk kecukupan likuiditas ini
04:28Mbak Okta ya
04:29dari sisi utamanya kan funding perbankan dalam hal ini DPK
04:35ini kita melihat masih tumbuh cukup tinggi di 11,21%
04:40nah ini utamanya dikontribusikan oleh bank-bank BUMN
04:45kita melihat juga kecukupan likuiditas perbankan kita
04:48dari sisi AL per DPK ini juga masih besar angkanya di 23,1%
04:53ini kita menunjukkan bahwa kapasitas perbankan untuk mendukung
04:58pertumbuhan ekonomi ini juga masih cukup solid
05:01dari sisi uang primer pada Agustus 2026 ini tumbuh 16,3%
05:08sehingga ini juga mengindikasikan likuiditas di perbankan yang masih juga oke
05:13dalam konteks ini Bank Indonesia melalui berbagai kebijakannya
05:17salah satunya kebijakan makropedensial yang longgar ini kita teruskan
05:21diantaranya melalui KLM untuk mendukung ketersediaan dan menambah likuiditas di perbankan
05:28yang harapannya nanti bisa disalurkan ke kredit-kredit yang menjadi prioritas bagi perekonomian
05:34dengan perkembangan tersebut kondisi likuiditas yang memada tersebut
05:39pada gilirannya kita melihat pertumbuhan dari sisi kredit atau pembiayaan ini cukup tinggi ya
05:45di bulan ini 13,58%
05:50oke artinya memang kredit pembiayaan masih tumbuh
05:53dan tadi sempat disinggul soal bagaimana kebijakan makropedensial yang longgar
05:57terlatas pada Bank Indonesia ini kan mencatat kredit perbankan pada Juli 2026
06:0013,58% secara tahunan atau sudah melewati target di level 8-12% di 2026
06:07apakah pertumbuhan itu didorong oleh itu tadi efektivitas dari insentif kebijakan makropedensial longgar
06:12yang telah dikeluarkan oleh Bank Indonesia
06:15ya kalau dari catatan kami pertumbuhan kredit yang tumbuh di Juli 2026 cukup tinggi tersebut
06:24ini sejalan dengan efektivitas kebijakan makropedensial gitu ya melalui KLM
06:31kalau dari hasil hitungan kami jumlah insentif yang diserap perbankan melalui KLM
06:37per 1 Agustus 2026 itu angkanya sudah mencapai 446,5 triliun
06:44dan terus meningkat sampai dengan perkembangan data terkini gitu ya
06:49nah pertumbuhan kredit yang tinggi tersebut ini juga disertai oleh ketahanan perbankan yang cukup kuat
06:56tadi kami sampaikan terkait dengan kecukupan dari sisi likuiditas yang memandai
07:01dari sisi resiko NPL juga terkendali
07:05sehingga penyaluran kredit yang tinggi tersebut ini tetap dilakukan oleh perbankan
07:10dengan tetap memperhatikan aspek prudensialitasnya
07:14nah dalam konteks ini kami Bank Indonesia ini terus mendorong gitu ya
07:18untuk penyaluran kredit antara lain melalui yang baru nih
07:22terkait dengan KLM Pendalaman Pasar Keuangan atau PPU
07:25yang berlaku pada 1 September 2026
07:28dan juga melalui penguatan rasio pembiayaan inklusif makropedensial
07:34yang akan berlaku pada 1 Oktober 2026
07:36penguatan kedua kebijakan makro-pro tersebut
07:39ini harapannya akan mendorong penyaluran kredit pada sektor-sektor prioritas
07:44termasuk utamanya juga terkait dengan UMKM
07:47dengan tetap tentunya menjaga prudensialitas dan stabilitas sistem keuangan
07:53demikian Mbak Okta
07:55oke baik menarik soal kebijakan insentif KLM PPU
07:58tapi nanti kita bahas kembali Pak Usai Jada
08:00dan saudara tetap bersama kami di Kompas Bisnis
08:18selamat menikmati
08:46selamat menikmati
09:02tercapai dari perlosan insentif KLM tersebut apa sih Pak?
09:06ya terima kasih Mbak Okta
09:08jadi dalam rangka menjaga stabilitas sistem keuangan
09:11ketersediaan likuiditas pada sistem keuangan ini merupakan hal yang esensial
09:16atau yang penting gitu ya
09:17ibaratnya orang makan gitu ya
09:20kalau dia nggak ada minum kan seret gitu ya
09:22jadi ini merupakan apa namanya upaya untuk kita
09:25apa likuiditas ini hal yang penting bagi perekonomian
09:28agar tetap mampu bisa tumbuh gitu ya
09:32stabilitasnya terjaga yang pada gilirannya akan berdapat pada pertumbuhan ekonomi
09:36nah tadi kami sampaikan di awal likuiditas perbankan memang secara umum masih memadai gitu ya
09:42namun kalau kita breakdown lebih jauh berdasarkan pemantauan kami
09:46distribusi likuiditas antar bank ini tidak merata gitu ya
09:51di tengah pertumbuhan DPK yang masih perlu untuk terus kita tingkatan
09:55ini masih ada ruang-ruang untuk kita bisa mendorong intermediasi
10:00melalui portfolio decision making perbankan
10:03yang harapannya bank itu akan lebih mengutamakan untuk bisa melakukan penyaluran kredit
10:09dibandingkan dengan penempatan pada surat-surat berharganya gitu ya
10:14untuk itu Bank Indonesia ini melakukan penguatan KLMPPU ya
10:18atau pendalaman pasar keuangan
10:19yang tujuannya adalah untuk meredistribusi likuiditas di pasar uang dan perbankan
10:25untuk juga melakukan percepatan pendalaman pasar uang
10:29serta juga untuk bagaimana mendorong penyaluran kredit pada sektor-sektor prioritas
10:35dengan tentunya tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian
10:39nah per September 2026 ini KLM ini diperkuat menjadi dua channel
10:45utamanya terkait satu KLM Financing
10:47yang fokusnya adalah untuk memperkuat penyaluran kredit pada sektor-sektor kreditas
10:53dan juga KLM untuk pendalaman pasar uang gitu ya
10:56yang untuk mendorong bank optimal pengelolaan kepemilikan SSB-nya gitu ya
11:01nah total insentif KLM ini naik dari sebelumnya 5,5%
11:07sekarang maksimal 6,0%
11:09dengan komposisi yaitu DPK dari sisi Financing sebesar 4%
11:15dan untuk yang PPU atau KLM PPU itu 2%
11:20nah sederhananya KLM PPU ini adalah bagaimana
11:24kalau bank itu mampu mengelola SSB terhadap funding-nya itu
11:30di bawah level yang kita tetapkan yaitu 19%
11:33itu kita berikan insentif sebesar 2% dari DPK
11:38sementara untuk bank-bank yang SSB per funding-nya itu di atas 9%
11:4419% itu tidak mendapatkan insentif KLM
11:48nah ini harapannya bank-bank akan mengelola portfolio yang secara optimal
11:52yang pada gilirannya kita harapkan terus mendorong pertumbuhan kredit
11:57oke, padahal dari mulai penerapan hingga saat ini
12:02bagaimana pantauan bank Indonesia terhadap implementasi dan efektivitas pemberian insentif itu?
12:09nah kalau kita lihat dari sisi efektivitasnya memang
12:15realisasi dari insentif KLM ini tadi kami sampaikan
12:18itu nilainya sudah mencapai Rp446 triliun per Agustus gitu ya
12:23dengan rasio insentif itu sebesar 5%
12:26nah tingginya pemanfaatan insentif likuiditas ini
12:29ini menunjukkan secara tidak langsung bahwa bank-bank itu
12:32memiliki komitmen gitu ya
12:35untuk melakukan penyaluran kredit pada sektor-sektor prioritas
12:39peningkatan KLM ini juga merefleksikan
12:42besarnya likuiditas yang dioptimalkan perbankan
12:45untuk mendukung pembiayaan ke sektor-sektor prioritas tersebut
12:49sejalan dengan kebutuhan perekonomian dan juga program-program strategis pemerintah
12:54hasil pantauan kami juga menunjukkan selain dari sisi kuantiti secara pricing juga
13:00sektor-sektor yang menjadi yang didorong oleh KLM menjadi cakupan KLM ini juga
13:08memiliki pricing yang lebih kompetitif dibandingkan sektor-sektor lainnya
13:12sehingga ini harapannya juga meningkatkan akses masyarakat dan dunia usaha ya
13:18untuk bisa memperoleh pembiayaan dengan pricing yang lebih baik dan juga lebih luas
13:24Bank Indonesia tentunya senantiasa melakukan evaluasi terhadap implementasi
13:29dan efektivitas kebijakan yang kami tempuh termasuk KLM ini
13:32dengan harapan likuiditas diperbankan ini cukup gitu ya
13:38sehingga dapat mendorong intermediasi dan memperkuat pada gilirannya
13:42untuk pertumbuhan ekonomi dan ketahanan sistem keuangan
13:46oke itu tadi soal penerapan yang lantas pada bagaimana koordinasi dan juga
13:51sinergi kebijakan antara Bank Indonesia dengan KSSK dan juga pemerintah
13:55dalam upaya menjaga stabilitas dan turut mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan
14:00ya Bank Indonesia tentunya dalam dengan KSSK dan juga dengan pemerintah
14:06terus memperkuat sinerginya
14:08dengan KSSK kita memperkuat sinergi dalam konteks ketahanan sistem keuangan
14:14dan bagaimana upaya-upaya untuk menjaga kecukupan likuiditas di sistem perekonomian
14:20yang harapannya nanti bisa untuk menjadi mendorong pertumbuhan kredit
14:25dan juga menjaga pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan
14:29dengan pemerintah tentunya lebih luas lagi yang kita koordinasikan
14:34termasuk untuk terkait misalnya terkait dengan penerbitan SBN
14:38lalu juga terkait dengan pengelolaan rekening pemerintah
14:41dan juga koordinasi-koordinasi lainnya
14:43termasuk juga untuk bagaimana kita sama-sama pengelolaan inflasi ya
14:49untuk harga pangan dan juga untuk bagaimana menghadapi kenaikan komoditas
14:54harga secara global
14:56dengan demikian harapannya dari sisi fiskal, moneter, makropudensial, mikropudensial
15:02penjaminan, resolusi
15:04ini bisa bergerak secara bersama-sama dalam satu arah
15:09menjaga stabilitas sistem keuangan
15:10memperkuat intermediasi dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi
15:14inklusif dan juga berkelanjutan
15:17oke tentu tidak hanya bagaimana penerapan yang kita harapkan bisa baik
15:21tapi juga bagaimana koordinasi yang diharapkan bisa berjalan dengan lancar
15:25begitu sehingga nantinya akan berdampak pada bagian pertumbuhan ekonomi dalam negeri
15:28terima kasih Pak DHA Prafyandi Kuantan
15:31Direktur Departemen Kebijakan Makropudensial DKMP Bank Indonesia
15:34sudah bersama di Kompas Wisnya
15:35selamat pagi
15:36selamat menikmati
Komentar

Dianjurkan