Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu


JAKARTA, KOMPAS.TV - Kasus keracunan yang diduga berkaitan dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mendorong evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program tersebut, terutama dari sisi keamanan pangan dan rantai distribusi makanan.

Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak IDAI, Yogi Prawira, mengatakan persoalan utama yang perlu segera dievaluasi bukan hanya bahan makanan, tetapi juga jarak waktu antara makanan selesai dimasak hingga disantap anak.

Di sisi lain, Juru Bicara Partai Gerindra Bahtra Banong menyatakan keprihatinannya atas rangkaian kasus keracunan tersebut. Ia menegaskan bahwa tidak semestinya ada anak yang mengalami keracunan akibat program yang bertujuan meningkatkan kesehatan dan gizi anak.

Baca Juga [FULL] IDAI Soroti Kasus Keracunan MBG Berulang: Harus Ada Transparansi SPPG Distribusi MBG! di https://www.kompas.tv/nasional/690384/full-idai-soroti-kasus-keracunan-mbg-berulang-harus-ada-transparansi-sppg-distribusi-mbg



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/690442/full-keracunan-mbg-berulang-idai-soroti-jarak-masak-hingga-santap
Transkrip
00:00Kasus keracunan usaha menyatap makan bergizi gratis kian berulang.
00:03Polisi tengah menyelidiki penyebab keracunan.
00:06Sementara Ikatan Dokter Anak Indonesia meminta program ini dihentikan terlebih dahulu
00:11dan lebih baik MBG disediakan oleh kantin sekolah.
00:14Akankah ini bisa menjadi solusi?
00:16Kita akan ulas bersama Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia,
00:23Dr. Yogi Prawira, dan Jurubicara Partai Gerindra, Bahtera Bandung,
00:27yang hadir lewat sambungan daring. Selamat pagi, Dr. Yogi, dan juga Bang Bahtera.
00:32Selamat pagi, Mas. Selamat pagi, Dr. Yogi.
00:35Selamat pagi.
00:36Saya ke Dr. Yogi terlebih dahulu.
00:38Dr. Yogi, Idayi ini mendorong untuk stop dulu MBG, sementara untuk evaluasi total.
00:45Seberapa besar kemungkinan harus di-stop MBG ini,
00:48dan juga evaluasi apa yang harus menesak dilakukan sekarang?
00:52Baik, jadi mungkin saya tidak bisa menjawab dengan satu kata ya, stop.
00:59Iya atau tidak gitu.
01:00Tapi yang harus kita lakukan evaluasi adalah ada tiga titik yang sangat penting ya,
01:09dan bisa diukur sebenarnya.
01:11Yang pertama adalah jarak antara waktu memasak dengan waktu santap.
01:17Ini adalah variable tunggal yang paling menentukan ya, dan paling mudah diaudit gitu.
01:22Karena kita tahu kalau bakteri itu berkembang dengan sangat cepat,
01:26antara suhu 5 hingga sekitar 60 derajat.
01:29Sehingga makanan matang yang berada di rentang itu lebih dari 2 jam sejak dimasak,
01:34maka akan berisiko untuk bakterinya tumbuh.
01:36Di Indonesia, suhu kita rata-rata itu 32 derajat.
01:40Sehingga biasanya bahkan bisa lebih cepat lagi,
01:43antara matang hingga disantap itu harusnya sekitar 1 jam.
01:47Kemudian tentang pengukuran suhu dan rantai dingin atau rantai suhu,
01:52itu tidak boleh hanya diperkirakan saja.
01:56Seperti halnya vaksin yang punya cold chain,
01:59maka makanan yang disiapkan secara massal untuk dikonsumsi anak-anak yang sehat,
02:04maka itu harus jelas berapa suhu pada saat dia matang,
02:09kemudian selama perjalanan, dan sampai dikonsumsi oleh siswa.
02:15Kemudian yang ketiga adalah kalau kita lihat dari beberapa bukti,
02:19bakteri-bakteri yang tumbuh ya,
02:21ada Bacillus cereus, ada Staphylococcus aureus,
02:25maka ada E. coli,
02:27maka sumbernya kemungkinan besar bisa dari air,
02:30bisa dari orang yang menyiapkan mengantar sampai disantap oleh si anak tadi gitu ya.
02:38Jadi sumber kontaminasi ini harus dicari betul fokusnya ada di mana,
02:43dan betul-betul dicoba diputus gitu ya.
02:47Karena sebenarnya kalau kita melihat sejarahnya,
02:51intoksikasi makanan itu sudah berlangsung cukup lama di Indonesia ya.
02:55Bukan hanya setelah MBG, yang berbeda sekarang adalah
03:01kewaswadaan, kemarahan publik.
03:03Tapi menurut saya yang lebih penting adalah
03:04penyelidikan yang tidak tuntas, tidak pernah tuntas.
03:08Jadi selama investigasi tidak pernah selesai,
03:10kita tidak akan pernah benar-benar belajar.
03:12Kita hanya terkaget-kaget lagi setelah ada kejadian berikutnya.
03:17Oke, penyelidikan yang tidak tuntas.
03:19Ini yang ingin saya tanyakan ke Bang Bahtera.
03:21Ini kita sudah bicara soal ini beberapa waktu lalu,
03:23Bang Bahtera itu belum ada kasus di Lombok Tengah gitu ya.
03:27Kita bicara soal Pati, Sidoarjo, kemudian dari Karo.
03:30Kemudian setelah kita bahas, bicara soal SOP,
03:33kita bicara soal pidana, kemudian muncul lagi di Lombok Tengah.
03:37Ini belum ada evaluasi yang kemudian secara tuntas,
03:41ini Bang Bahtera untuk bisa memastikan ini tidak terbang ke Bali?
03:46Ya, yang pertama tentu kami prihatin ya,
03:50atas kejadian yang berhentetan terkait soal keracunan makan bergisi ini.
03:58Karena menurut hemat kami bahwa tidak boleh,
04:02jangankan ratusan atau ribuan ya,
04:05satu anak pun sebetulnya tidak boleh ada yang mengalami keracunan
04:09akibat program MBG ini.
04:11Karena Pak Prabowo pengen sebetulnya agar tujuan MBG ini,
04:15selain soal bagaimana kesehatan anak-anak kita makin baik,
04:21gisinya makin baik,
04:22tentu juga dalam upaya, dalam rangka,
04:25supaya kualitas pendidikan kita di masa yang akan datang juga,
04:29kualitasnya makin baik pula.
04:30Maka dari itu program MBG ini diluncurkan sebagai program strategis pemerintahan Presiden Prabowo.
04:37Namun dalam perjalanan bahwa kemudian Pak Prabowo juga sering meminta
04:41agar betul-betul pembenahan dari segi tata kelolanya betul-betul diberesin dari hulu sampai ke hilir.
04:49Kalau kita lihat menurut penjelasan BGN bahwa 80-90 persen penyebab dari keracunan itu adalah
04:58kelalaian tidak menerapkannya standar SOP yang sudah ditentukan.
05:06Dan sebetulnya kan BGN juga sudah menerapkan peraturan-peraturan berkaitan mulai dari misalnya sumber pangannya,
05:13terus kemudian penyajian makanannya, penyimpanan makanannya juga,
05:17terus kemudian soal lingkungan juga ya yang paling penting,
05:21jangan lupa ya, sumber makanannya pun baik, makanannya pun sehat.
05:25Kalau misalnya dalam kondisi penyajian, orang yang menyajikan sampai distribusinya
05:30tidak tepat waktu juga, itu akan juga menimbulkan masalah.
05:33Bang Batra, kita sudah bicara soal ini, evaluasi dari hulu ke hilir semuanya,
05:37SOP, kemudian juga lingkungannya.
05:39Bang Batra, tapi kan ada desakan juga,
05:42ini kemarin kita juga sudah bicara dengan salah satu korban,
05:44ibu dari korban keracunan ini, mereka bilang untuk stop saja.
05:48Idae juga dari paket berita yang tadi kami saksikan juga,
05:51membilang untuk stop dulu, ini MBG untuk evaluasi setelah secara meneluruh.
05:55Tidak ada opsi untuk stop sementara, Bang Batra, kalau dari Partai Gerindra?
05:59Ya sebetulnya kan kami pengennya ya, bahwa ini kan sudah berjalan ya,
06:04di berbagai daerah.
06:06Yang paling penting sebenarnya adalah soal bagaimana pengawasan yang ketat itu dilakukan
06:12mulai dari hulu sampai hilir, supaya kejadian yang serupa tidak berulan.
06:16Dan yang berikutnya adalah, jika memang ditemukan hal-hal yang tidak menerapkan standar SOP yang sudah ditetapkan oleh BGN,
06:25penindakan juga harus didahulukan, agar juga ada efek jerah bagi dapur-dapur.
06:31Sebetulnya kan begini ya, pemantauannya BGN sudah menempatkan orang juga di dapur-dapur,
06:37ada kepala SPPG, SPPG.
06:38Nah ini juga yang harus kita dorong, agar betul-betul melakukan pengawasannya yang ketat.
06:43Jadi jangan hanya melakukan yang sifatnya formalitas, karena ini menyangkut soal nyawa.
06:48Ini sesuatu yang dikonsumsi anak-anak kita, tidak boleh kemudian kita menyepelehkan soal ini.
06:54Nah maka dari itu kami terus mendorong upaya evaluasi, terus kemudian kita juga harus melihat bahwa
07:01di sisi mananya sih sebetulnya ini yang menyebabkan keracunan-keracunan ini.
07:05Karena di berbagai daerah juga kan banyak juga dapur-dapur sebetulnya yang berjalan dengan baik,
07:10dan bahkan jauh lebih besar jumlahnya yang terlaksana dengan baik.
07:14Artinya kan itu juga harus dijadikan sampel, jadikan contoh kenapa di daerah ini penyajiannya baik,
07:20kenapa daerah ini tidak terjadi hal serupa, tapi masih ada daerah-daerah lain juga yang mengalami hal yang serupa.
07:26Saya tangkap, Bang Bahtera.
07:27Harus sampai ke arah sana tuh.
07:28Penindakan dan pengawasan ya?
07:30Bukan apa namanya, betul-betul pengawasan yang ketat harus dilakukan sampai ketat di bawah.
07:36Penindakan dan juga pengawasan dari Bang Bahtera, tapi untuk opsi stop ini sepertinya sulit untuk diambil oleh pemerintah.
07:42Saya mau ke Dr. Yogi lagi.
07:45Dr. Yogi, jika memang untuk stop sementara ini tidak bisa dilakukan,
07:48ini kan Idaya menyarankan bahwa paling tidak skemanya diubah.
07:51Masakan MBG ini harus dari kantin sekolah saja, jangan dari dapur tersebut terpusat.
07:57Memang plus minusnya kalau misalnya masakan ini dibuat di kantin sekolah, bukan di kantor,
08:01ataupun dapur terpusat seperti apa, dok?
08:04Ya baik, jadi kan pada pola yang kita lihat ya, sebenarnya kan keracunan ini pada kejadian masal berbasis dapur yang
08:14besar atau cukup besar.
08:16Penyebabnya kan utamanya bukan bahan baku yang buruk ya, tapi makanan yang mungkin baik, makanan yang baik lah gitu ya,
08:23tapi dibiarkan terlalu lama pada suhu yang salah gitu.
08:27Sehingga kita harus memutus waktu antara makanan disiapkan sampai disantap oleh masing-masing anak gitu ya.
08:37Maka skemanya tentu desentralisasi ya.
08:39Kelebihannya apa?
08:41Kalau desentralisasi tentu keamanan suhu, kesegaran makanannya,
08:44karena jarak antara selesai dimasak sampai ke media makan si anak itu singkat,
08:48maka resiko makanan berada di danger zone tadi, 5-60 derajat, waktu transit yang lama bisa diminimalkan.
08:55Menunya bisa fleksibel, sehingga lebih mudah mengakomodasi kebutuhan siswa.
09:00Kadang-kadang kan ada anak dengan lagi makanan yang berat, atau intoleransi terhadap hal tertentu gitu ya.
09:06Dan logistiknya tentu bisa lebih efisien, tidak perlu adanya armada transportasi khusus,
09:11pengemasan antar sekolah yang rumit ya, dan juga penting pemberdayaan ekonomi lokal.
09:17Akan membuka ruang partisipasi bagi pengelola kantin, sekolah, pelaku MKM lokal di sekitar sekolah.
09:22Tapi tentu ada minusnya, tentu ketersediaan air bersih itu harus menjadi standar.
09:30Kemudian fasilitas sanitasi, alat masak di tiap sekolah itu kan akan sangat bervariasi.
09:36Kantin-kantin yang ditunjuk harus memiliki sertifikat laik higienis sanitasi.
09:40Dan pengawasan untuk titiknya tentu akan menjadi bertambah,
09:45karena menjadi ribuan titik gitu ya, karena kalau di masing-masing sekolah.
09:49Dan jangan sampai ini menjadi beban operasional sekolah,
09:52karena tugas dan pihak sekolah kan fokusnya adalah kegiatan belajar mengajar.
09:59Jadi kalaupun ini dikerjakan, harus ada tanggung jawab pada misalnya memang manajemen dapur
10:07untuk memproduksi dan memastikan ini bekerja secara baik gitu ya.
10:14Pola lain sebenarnya dengan model kolaborasi misalnya SPPG bertindak sebagai hub pengadaan bahan baku,
10:22pengolahan mentah, pusat pengawasannya, kemudian kantin sebagai final finishing gitu ya.
10:28Jadi yang memasak sampai akhirnya disantap oleh sisi suakana tadi.
10:33Dalam bukan masalah makanan atau bahan bakunya,
10:36bisa saja di bahan baku makanan sehat dimasak sudah sampai suhu yang mematikan tadi,
10:41tapi waktu transitnya, kalau di Indonesia satu jam saja itu sudah cukup untuk kumannya tumbuh,
10:48kemudian toksinnya akan bertahan gitu.
10:52Walaupun dipanaskan ulang, re-heating, toksin itu akan tetap bisa bertahan,
10:56karena beberapa dia tahan panas.
10:58Oke, ini yang kemudian disampaikan juga Laudhidai soal bagaimana skema MBG dari kantin sekolah.
11:04Bang Bahtera, kami dengar juga sebenarnya sudah ada kajian ataupun sudah mulai kajian ini
11:08dari BGN untuk bisa menerapkan skema kantin sekolah.
11:14Kalau dari komunikasi Partai Gerindra bersama dengan BGN maupun pemerintah,
11:18seperti apa saat ini progresnya, Bang Bahtera?
11:22Ya tentukan masukan dari berbagai pihak, dari publik juga pemerintah terus mendengarkan,
11:27dan termasuk sebetulnya Pak Prabowo juga pernah menyampaikan bahwa meminta BGN untuk melakukan kajian,
11:33kalau misalnya memungkinkan untuk dikelola oleh kantin sekolah.
11:37Namun tentu juga ada plus minusnya ya,
11:40sebagaimana yang disampaikan oleh dokter tadi bahwa di sekolah itu kan memang dipusatkan untuk kegiatan belajar mengajar.
11:47Jangan sampai juga misalnya, kalau nanti di situ justru apa namanya,
11:52jadi pusat itu bisa juga terganggu sistem pebelajaran,
11:56jadi semua harus apa namanya, ada kajian yang mendalam tentu ya,
12:00kita harus hitung plus minusnya,
12:02kemudian kalau di sana misalnya bagaimana sumber bahan bakunya,
12:07terus kemudian lingkungan sekolah juga harus dipertimbangkan,
12:10jadi memang banyak aspek ya,
12:11namakan dari itu kami terus meminta untuk dilakukan kajian-kajiannya secara komprehensi,
12:18bagaimana apakah ada plus minusnya kalau misalnya memang memungkinkan diterapkan di kantin-kantin sekolah.
12:24Namun yang paling penting bagi kami adalah,
12:26karena ini adalah program strategis pemerintahan Presiden Prabowo,
12:30maka dari itu memang harus betul-betul dilakukan pengawasan secara ketat,
12:35sebagaimana apa yang kita diskusikan tadi bahwa ini kalaupun sudah diterapkan semua ya,
12:40mulai dari bagaimana sumber bahan bakunya, bagaimana penyimpanannya,
12:45bagaimana lingkungan dapur-dapur tersebut,
12:47terus kemudian betul-betul memang tidak boleh hanya sampai sejauh di situ,
12:51sampai ke pendistribusian pun harus dicek,
12:54supaya tingkat keamanan dari makanan yang akan disajikan ini jauh lebih baik,
12:59ketimbang misalnya kalau hanya sekedar pengecekannya secara formalitas,
13:03nah inilah kami terus meminta ya,
13:05sebetulnya kan penyebab-penyebab keracunan itu sudah diidentifikasi ya,
13:10dari berbagai temuan-temuan,
13:13nah yang paling penting adalah memang harus diterapkan pengawasan dari bulu ke hilir,
13:18kami sih mau memastikan, kalau misalnya itu bisa dilakukan,
13:21kami memastikan dan sangat yakinnya bahwa tidak akan terjadi kejadian-kejadian serupan yang kita saksikan ini,
13:26dan ini kan secara berulang dari hari ke hari.
13:30Oke, lagi-lagi pengawasan dari bulu ke hilir yang kami tangkap,
13:32Bang Batra, saya kembali ke dokter Yogi,
13:34pengawasan dari bulu ke hilir,
13:36jika kemudian nanti skema kantin yang diambil,
13:39ini kan sepertinya akan lebih sulit dokter Yogi,
13:41solusinya seperti apa?
13:43Apakah perlu misalnya penempatan anak ahli gisi juga di masing-masing sekolah
13:46yang mungkin jumlahnya lebih besar daripada jumlah dapur SPPG,
13:50dan seperti apa kira-kira yang lebih ideal, dokter Yogi?
13:54Sebenarnya ada rujukan baku dan bisa diakses secara bebas ya,
13:58ada dari WHO yaitu 5 kunci keamanan pangan,
14:03kemudian dari kodex alimentarius itu ada HA-CCP,
14:07itu ada analisis bahaya,
14:09ada tintik kendali kritis ya,
14:10sehingga jangan jadikan rujukan-rujukan tadi,
14:14hanya sebagai dokumen akademik,
14:16karena itu memang betul-betul sudah dirancang oleh kepala ahli,
14:19untuk dapur berskala besar,
14:21jadi bisa merujuk kepada,
14:23dan jangan jadikan keamanan pangan itu sebagai satu,
14:26yang sifatnya tidak mandatory gitu lah,
14:30karena begini, sekali lagi saya apresiasi ya,
14:33kalau niat baik kita adalah untuk memperbaiki gizi anak Indonesia,
14:38tapi seandainya keracunan ini berulang ya,
14:41di area berulang itu dia akan merusak lapisan penyerap di usus halus ya,
14:45kalau lapisannya belum pulih kena serangan berikutnya lagi,
14:48penyerapan zat gizinya akan terganggu,
14:50sehingga akan terbentuk lingkaran setan ya,
14:53infeksi menyebabkan kurang gizi,
14:55kurang gizi menurunkan daya tahan,
14:56daya tahan mengundang infeksi berikutnya,
14:58dan kelompok yang paling rentan itu anak-anak ya,
15:00jadi kalau keracunan ini kita biarkan berulang,
15:04maka dia akan bekerja melawan tujuan program itu sendiri,
15:07jadi tamanan pangan bukan syarat tambahan,
15:10tapi itu bagian dari program perbaikan gizi itu sendiri.
15:15Oke, baik saya kembali ke Bang Bahtera,
15:17Bang Bahtera jika kemudian nanti skema kantin sekolah benar-benar diambil,
15:22atau misalnya sudah dipertimbangkan oleh pemerintah,
15:25tentu ada halangannya,
15:26ini bagaimana dengan dapur-dapur SPPG yang sudah berdiri,
15:28kemudian relawannya juga sudah ada,
15:30apakah ini menjadi penghalang juga Bang Bahtera
15:32untuk bisa menerapkan skema yang baru ini?
15:35Ya tentu semuanya harus dilakukan kajian ya,
15:37secara mendalam,
15:39plus minusnya ya,
15:40dan tentu juga kan kita harus mempertimbangkan juga,
15:43dapur-dapur yang sedang berjalan sekarang juga,
15:48apalagi kan ini tidak murni ya,
15:51apa namanya,
15:52ditanggung oleh pemerintah,
15:53ini kan istilahnya padat karya juga ya,
15:56sebagian pengusaha-pengusaha juga membuat
15:57dapur-dapur sendiri,
15:59dan juga kita harus mempertimbangkan
16:01teman-teman yang sudah mau ya,
16:04apa namanya,
16:04berkontribusi,
16:06membangun dapur-dapur,
16:07terus kemudian,
16:08jangan sampai nanti
16:10dapur-dapur mereka juga mangkrak justru ya,
16:12kalau misalnya di alihkan ke sana semua,
16:15tapi memang harus dilakukan kajian-kejian secara kompersensif,
16:17karena kan teman-teman pengusaha yang membangun dapur ini,
16:20saya yakin dan percaya bahwa mereka juga melakukan,
16:23apa namanya,
16:24sistemnya kan,
16:24pinjam uang di bank,
16:25itu juga harus dipertimbangkan,
16:26ya, maka dari itu,
16:28sebetulnya,
16:29karena mereka menggunakan skema itu,
16:31kami meminta bahwa yang punya dapur-dapur ini,
16:33tolonglah,
16:34ya, betul-betul,
16:35harus turun tangan langsung,
16:37meng-cross-check bagaimana,
16:38mulai dari bahan bakunya,
16:40terus kemudian,
16:41soal lokasi,
16:42apa namanya,
16:43sterilisasi,
16:45penyimpanannya,
16:45lingkungan dapurnya,
16:46itu harus memang betul-betul di-check,
16:47jadi,
16:48jangan hanya sekedar formalitas,
16:50jadi,
16:50kalau itu bisa dilakukan,
16:52saya yakin dan percaya ya,
16:54karena kan di berbagai daerah,
16:55saya juga sering turun ya,
16:57terutama di daerah pemilihan saya,
16:58di Sulit Tenggara,
16:59begitu saya turun ke bawah,
17:00banyak sekali dapur-dapur,
17:01sebetulnya yang baik juga,
17:03dan mereka menerapkan skema,
17:05dan bahkan ya,
17:06bisa menumbuhkan perekonomian,
17:07di tingkat sampai paling bawah,
17:09karena,
17:10bisa saja bahan bakunya,
17:11diambil dari BUMDES,
17:12ya,
17:13bahkan,
17:13apa namanya,
17:14tempat-tempat mereka buat dapur itu,
17:16mereka menyewa lahannya,
17:18ya,
17:18mereka menyewa tempatnya,
17:19dari BUMDES,
17:20dan itu kan juga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi,
17:23di tingkat bawah,
17:23artinya begini,
17:24yang sedang berjalan ini,
17:25yang sudah cukup baik ini,
17:27banyak sekali,
17:28sebetulnya juga dapur-dapur yang,
17:29apa namanya,
17:30bahkan jumlahnya jauh lebih besar ya,
17:32dapur-dapur yang berjalan dengan baik,
17:34kenapa sih,
17:34kita nggak bisa memberi contoh,
17:35ke misalnya yang,
17:37apa namanya,
17:37dapur-dapur yang,
17:38masih bermasalah sampai hari ini,
17:40kalau bagi saya,
17:41bagi kami,
17:41Partai Green Ra,
17:42memang selain pengawasan,
17:43ya,
17:44penindakannya,
17:44memang kalau ada dapur-dapur yang nakal,
17:46ya,
17:46terutama ya,
17:47misalnya melakukan dalam hal penyajian,
17:49mengurangi ya,
17:51standarisasi menu yang sudah ditetapkan oleh BGN,
17:53karena mohon maaf ya,
17:54kami juga banyak menemukan di bawah,
17:56teman-teman ini,
17:57mereka mengurangi porsi,
17:59kemudian untuk kemudian,
18:00bagaimana mereka supaya bisa menambah keuntungan,
18:03nah ini tidak boleh terjadi,
18:04ini semua yang menyebabkan ya,
18:06apa namanya,
18:07standarisasi itu makin berkurang,
18:09sehingga,
18:10dalam hal penyediaan makanan itu,
18:12itu juga bisa menjadi penyebab.
18:14Oke, baik,
18:15saya kembali ke Dr. Yogi,
18:16Dr. Yogi,
18:17kita bicara soal dampak keracunan yang masih terus terjadi,
18:20beberapa waktu terakhir,
18:21selain mungkin ada muntah,
18:23diare,
18:23pusing,
18:24sesak nafas,
18:25apa kemudian bahaya yang lebih besar,
18:27mengintai para siswa yang masih diduga,
18:30makan makanan yang tidak aman,
18:31kemudian,
18:32salah satu kasus di Karo,
18:34misalnya ada yang disebut hilang ingatan,
18:36setelah keracunan,
18:36apakah ini mungkin bisa terjadi juga,
18:39dan seperti apa sebenarnya,
18:41efek keracunan ini untuk jangka panjangnya,
18:43untuk tubuh dan juga kembang anak.
18:49Dr. Yogi,
18:51untuk suara masih ditutup,
18:52dokter.
18:53Oh, maaf, maaf.
18:54Baik.
18:55Jadi, secara prinsip,
18:56tubuh kita itu,
18:58punya namanya defense mechanism ya,
19:00mekanisme pertahanan tubuh.
19:01pada saat ada zat berbahaya,
19:04baik dia kuman,
19:05atau dia racun,
19:07masuk ke dalam saluran cerna kita,
19:09maka gejala awalnya adalah,
19:10muntah dan diare.
19:12Ya, itu tujuannya untuk mengeluarkan,
19:14toksin,
19:15atau kuman yang,
19:17tadi masuk ke saluran cerna.
19:19Sehingga memang,
19:20kita tidak memberikan obat,
19:22untuk menghentikan itu pada anak ya.
19:24Nah, kemudian bahaya yang mengintai berikutnya adalah,
19:27dehidrasi.
19:28Ya, bagaimana kita setelah itu melakukan rehidrasi,
19:31jangan sampai kehilangan cairan dengan jumlah besar,
19:34sehingga menyebabkan sampai urinnya sedikit,
19:38kemudian anak bisa mengalami gangguan elektrolit,
19:41dan sebagainya.
19:42Kalau itu bisa dikerjakan,
19:44ditata laksana awal,
19:46dan apa namanya,
19:49penyebabnya itu bisa diketahui,
19:53dan tidak berulang,
19:54pada anak dengan gizi baik,
19:56nah itu sebagian besar,
19:57dia tidak akan menyebabkan gangguan tumbuh kembang.
20:01Tapi, tadi seandainya ini berulang,
20:03maka polanya akan menjadi lingkaran setan tadi,
20:05dengan setiap kali kita mengalami diare,
20:08maka akan ada kerusakan dari mukosa usus,
20:11gangguan penyerapan,
20:12setelah itu menyebabkan gizi yang kurang,
20:16kemudian mudah mengalami infeksi,
20:17dan itu akan menjadi satu lingkaran yang berulang.
20:21Sehingga, penting sekali,
20:23untuk kita melakukan evaluasi secara sistem gitu ya,
20:26ya tadi, yang belak-belak dari hulu ke hilir.
20:31Dan, harus ada batasan-batasan gitu ya,
20:35yang ya tadi,
20:36kita kan sepakati,
20:37satu anak saja keracunan,
20:39itu kan sudah menjadi musibah besar.
20:42Karena,
20:43anak-anak ini kan,
20:45yang harusnya akan menjadi pemimpin-pemimpin kita di masa depan gitu ya.
20:49Jadi, ada beberapa butir untuk perbaikan sistem.
20:53Sekali lagi,
20:54ini bukan semacam tuduhan ya,
20:56jadi,
20:58kita meminta semua pihak ya,
21:00BGN,
21:01pemerintah,
21:02yang dipimpin oleh Pak Prabowo,
21:04itu untuk melakukan introspeksi dan evaluasi.
21:08Tetapkan dan audit batas waktu dari masak ke santap.
21:11Ini variable tunggal yang sangat menentukan,
21:13dan paling mudah diukur.
21:14Masak jam berapa,
21:16dimakan jam berapa.
21:18Wajibkan pencatatan suhu,
21:19bukan hanya sekedar imbauan.
21:21Jadi, harus ada lock-nya.
21:23Percatat suhu,
21:24sehingga kita bisa tahu,
21:25berapa lama dia berada di suhu yang tidak kita kendalikan.
21:29Kalau lah,
21:29kesehatan dan higiennya dari,
21:31orang yang menyiapkan,
21:32sampai yang mendistribusi secara serius gitu.
21:35Karena tadi,
21:36ada beberapa kuman yang,
21:37bisa jadi memang,
21:39apa namanya,
21:40dari luka terbuka,
21:42atau dari ispa,
21:43atau dari tangan yang tidak bersih tadi.
21:45Dan perkepukan air sebagai bahan pangan.
21:48Uji berkala sumber airnya,
21:50ada catatannya,
21:51ada pengolahannya,
21:53kalau sumber itu terjamin.
21:54Bangun sistem pelaporan yang tidak menghukum pelapor.
21:58Karena ini beberapa kali yang disampaikan oleh,
22:01orang tua,
22:02pihak ke sekolah.
22:04Kalau melapor,
22:04dia aib.
22:06Padahal justru ini yang kita apresiasi gitu ya.
22:09Angka yang kita miliki ini,
22:10selalu lebih kecil dari kenyataan.
22:11Dan ini pola di Indonesia.
22:12Kadang-kadang kita unblaming the victim.
22:15Dan sediakan mekanisme menu alternatif.
22:18Oke,
22:19ini yang kemudian harus kita perhatikan,
22:20agar tidak berulang soal penindakan,
22:22pengawasan lagi-lagi,
22:23dan juga standar yang harus diikuti secara ketat,
22:26oleh semua dapur SPPG yang ada di Indonesia.
22:29Terima kasih.
22:29Dr. Yogi Prawira,
22:32Ketua UKK Emergensi dan Terapi Intensif Anak Iday,
22:35dan juga Bang Bahtra Banong,
22:36Jurubicara Partai Gerindra,
22:37sudah bergabung di Sapa Indonesia Pagi.
22:39Selamat pagi semuanya.
22:41Selamat pagi Mas, Dr. Yogi.
22:43Ya, terima kasih.
Komentar

Dianjurkan