- 1 menit yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Presiden Prabowo Subianto melantik Suhasil Nazara sebagai Menteri Keuangan menggantikan Purbaya Yudhi Sadewa.
Suhasil mendapat arahan untuk menjaga kesehatan dan kredibilitas APBN, memastikan anggaran mendukung program prioritas pemerintah, serta mempertahankan defisit di bawah 3 persen.
Pergantian ini menjadi momentum untuk melihat arah kebijakan fiskal pemerintahan ke depan.
Ekonom dan peneliti LPEM FEB Universitas Indonesia, Jahen Fachrul Rezki, menilai tantangan Suhasil tidak hanya menjaga stabilitas fiskal, tetapi juga memastikan kebijakan keuangan negara lebih transparan, berbasis data, dan memiliki arah yang jelas.
Jahen menyoroti sejumlah pekerjaan rumah, mulai dari pengelolaan utang, penerimaan pajak, daya beli masyarakat, hingga pentingnya koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia.
Produser: Prayogi Haro
Editor: Joshua
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/690782/full-ekonom-lpem-ui-ungkap-tantangan-suahasil-nazara-menjaga-kredibilitas-apbn-kompas-pagi
Suhasil mendapat arahan untuk menjaga kesehatan dan kredibilitas APBN, memastikan anggaran mendukung program prioritas pemerintah, serta mempertahankan defisit di bawah 3 persen.
Pergantian ini menjadi momentum untuk melihat arah kebijakan fiskal pemerintahan ke depan.
Ekonom dan peneliti LPEM FEB Universitas Indonesia, Jahen Fachrul Rezki, menilai tantangan Suhasil tidak hanya menjaga stabilitas fiskal, tetapi juga memastikan kebijakan keuangan negara lebih transparan, berbasis data, dan memiliki arah yang jelas.
Jahen menyoroti sejumlah pekerjaan rumah, mulai dari pengelolaan utang, penerimaan pajak, daya beli masyarakat, hingga pentingnya koordinasi antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia.
Produser: Prayogi Haro
Editor: Joshua
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/690782/full-ekonom-lpem-ui-ungkap-tantangan-suahasil-nazara-menjaga-kredibilitas-apbn-kompas-pagi
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:09Intro
00:11Anda menyaksikan Kopas Bisnis bersama saya Nanda Aprilia
00:15Surah Presiden Prabowo Subianto kembali merisa full kabinet
00:18Prabowo melantik Suhasil Nazara menjadi Menteri Keuangan
00:25Suhasil Nazara dilantik sebagai Menteri Keuangan
00:28menggantikan Purbaya Yudhisa Dewa Suhasil sebelumnya menjabat
00:32sebagai Wakil Menteri Keuangan di Kabinet Merah Putih
00:35Pelantikan Menkyu Suhasil merupakan reshuffle kabinet ke-6
00:40yang dilakukan Presiden Prabowo Subianto
00:42Sementara untuk posisi Bendahara Negara atau Menteri Keuangan
00:45ini merupakan pergantian yang kedua
00:47Sebelumnya Purbaya Yudhisa Dewa dilantik pada September tahun lalu
00:51untuk menggantikan Sri Mulyadi
00:59Suhasil bukan orang baru di lingkungan Kementerian Keuangan Saudara
01:02Sebelumnya ia menjabat sebagai Wakil Menteri Keuangan di Kabinet Merah Putih
01:07Suhasil juga pernah menjabat sebagai Kepala Badan Kebijakan Fiskal
01:11di Kementerian Keuangan
01:12Ia juga pernah menjadi anggota Dewan Ekonomi Nasional
01:15Suhasil juga merupakan guru besar di Fakultas Ekonomi dan Bisnis
01:19di Universitas Indonesia
01:25Suhasil juga pernah menempuh pendidikan doktoral di University of Illinois
01:30mendapatkan gelar master di Cornell University
01:33dan meraih gelar sarjana dari Universitas Indonesia
01:40Suhasil Nazara dilantik sebagai Menteri Keuangan
01:43menggantikan Purbaya Yudhisa Dewa
01:45Suhasil mengaku mendapat arahan dari Presiden Prabowo Subianto
01:49untuk bisa menjaga kesehatan dan juga kredibilitas keuangan negara
01:53Suhasil mengatakan APBN harus sehat
01:57agar mampu menjalankan program-program prioritas pemerintah
02:00Selain itu Saudara, APBN juga harus dapat mendukung
02:03pertumbuhan dan stabilitas ekonomi Indonesia
02:07Arahan pusat dari Bapak Presiden adalah untuk menjaga keuangan negara
02:12artinya menjaga kesehatannya, menjaga kredibilitas dari keuangan negara tersebut
02:19Jadi APBN sebagai bagian dari keuangan negara
02:22harus bisa menjalankan program-program prioritas pemerintah
02:27karena itu APBNnya itu harus sehat
02:29Selain APBNnya harus sehat, dia juga harus kredibel
02:33APBN itu harus dapat dipercaya
02:35Dan untuk itu kita akan melakukan dengan Kementerian Keuangan
02:39yang selama ini sudah bekerja dengan sangat-sangat keras
02:43akan melanjutkan menjaga keuangan negara tersebut
02:47menjadi APBN yang nantinya bisa menumbuhkan
02:50dan APBN yang juga bisa betul-betul menstabilkan ekonomi Indonesia
02:55Pak tadi peduli APBN apakah defisit bakal tetap di bawah 3% Pak?
02:59Defisit akan tetap di bawah 3%
03:02Prioritasnya adalah menjalankan APBN yang kredibel
03:04Jadi saya akan terus menjalankan APBN yang dapat dipercaya
03:08komunikasi publik yang dapat dipercaya
03:11dan juga akan memastikan bahwa
03:14apa yang dilakukan oleh APBN adalah mendukung program prioritas pemerintah
03:19Suhasil Nazara dilantik Presiden Prabowo sebagai Menteri Keuangan
03:23menggantikan purbaya Yudhisa Dewa
03:25Suhasil mendapat arahan dari Presiden untuk jaga APBN
03:29Lalu bagaimana arah kebijakan fiskal ke depannya Saudara?
03:33Dan bagaimana penyelesaian pekerjaan rumah yang ditinggalkan oleh MenQ sebelumnya?
03:37Kompas Bisnis pagi ini akan menanyakannya kepada Jahen Fakrul Rezki
03:41Ekonom dan Peneliti LPM FEB Universitas Indonesia
03:45Selamat pagi Mas Jahen, apa kabar?
03:48Bagaimana Anda? Baik, Alhamdulillah
03:51Alhamdulillah
03:52Mas Jahen, dari pergantian, dari purbaya, kemudian ke Pak Suhasil
03:57bagaimana Anda membaca arah kebijakan fiskal ke depannya?
03:59Apakah ini akan berlanjut atau justru Suhasil punya gaya dan potensi
04:04arah yang berbeda nantinya?
04:06Kalau dari pilihan kebijakan mungkin akan seperti yang disampaikan Pak Suha tadi
04:11kredibilitas dari kebijakan keuangan akan dijaga
04:15terus juga poin pentingnya adalah
04:19mensupport program-program yang akan dilaksanakan oleh perintah
04:22komunikasi yang semakin baik
04:24tapi tentunya setiap leader punya gaya-nya masing-masing ya
04:27cuma ya bottom line-nya adalah
04:31Menteri Keuangan yang baru tentunya akan menjadi tim
04:35yang akan mensupport Presiden
04:37untuk bisa menggolkan apa yang menjadi mimpi besar dari Presiden
04:42cuma terkait dengan Menteri Keuangan yang baru
04:45saya yakin dan tentunya kita berharap akan banyak hal yang baru yang bisa disampaikan tadi ya
04:51clarity dalam kebijakan misalnya
04:53terus juga memastikan bahwa kredibilitas dalam pengelolaan keuangan negara menjadi sangat krusial
04:59karena ini yang seringkali kita dengarkan dalam beberapa periode terakhir gitu
05:06Oke, berarti
05:07kalau kita melihatkan sosok Pak Suha ini kan bukan orang baru di Kementerian Keuangan Mas Jahen
05:13Pak Suha ini paham betul mengenai APB yang perpajakan, pembiayaan, subsidi
05:18dan juga tata kelola fiskal dari dalam khususnya
05:20tapi apakah Anda melihat ini justru menjadi tantangan besar bagi Pak Suha
05:24karena tuntutannya akan jadi semakin besar juga tentunya?
05:27Ya, ekspektasi orang terhadap Menteri Keuangan pasti akan sewa tinggi
05:31ya tadi kan sebagai bendahara negara
05:33yang punya power sangat besar dalam mekanisme alokasi anggaran
05:39stabilisasi ataupun distribusi dalam pengelolaan keuangan negara gitu
05:44nah ditambah beliau kan tadi seperti disampaikan di awal
05:47punya rekam jejak yang cukup panjang di Kementerian Keuangan
05:50dan juga berasal dari kampus
05:52jadi kita berharap mungkin kombinasi antara teknokrat
05:56dia akademisi dan pengalaman yang sangat kaya
05:59bisa membantu beliau untuk navigate kebijakan keuangan negara yang lebih baik
06:04karena isunya tadi kan selalu beliau ucapkan
06:08kredibilitas dari pengelolaan keuangan negara
06:10jadi orang pun akan sangat berharap sangat tinggi kepada beliau
06:13untuk bisa melaksanakan hal tersebut
06:16dan lagi-lagi khususnya adalah isu terkait dengan pengelolaan keuangan negara
06:21yang menjadi banyak catatan bagi banyak pihak selama beberapa kredi terakhir
06:26oke berarti karena Paswa merupakan orang lama juga
06:30menurut Anda publik jadinya berhak ya
06:32meminta lebih dari sekedar hanya stabilitas birokrasi
06:35tapi juga keberanian untuk bisa mengoreksi kebijakan itu sendiri
06:39oh tentu tentu
06:40jadi yang jadi poin penting sebagai Menteri Keuangan
06:44juga harus bisa bilang kepada Presiden
06:46misalnya Pak Presiden kita mungkin bisa mensupport program ini
06:50tapi dengan catatan gitu
06:52atau sebaliknya ada problem yang akan kita hadapi
06:55ketika ingin mensupport kebijakan ini
06:57so again dengan adanya beliau di sana
07:00kita mengharapkan nanti kebijakan yang akan diambil oleh Kementerian Keuangan
07:04kembali kepada kebijakan yang lebih evidence based policy
07:08tanpa tentunya juga menjunjung tinggi hal-hal yang nantinya bisa membantu
07:13perekonomian kita dan juga mesejahterakan masyarakat Indonesia ke depannya
07:16oke nah kemarin setelah dilantikkan
07:19Pak Suhasil kan menyampaikan bahwa komitmennya untuk bisa menjaga defisit APBN di bawah 3%
07:24ini akan kita bahas tapi selengkapnya akan kami hadirkan
07:27saya jidah sodara tetaplah bersama kami di Kompas Bisnis
07:42Anda kembali mengaksikan Kompas Bisnis
07:44sodara masih bersama dengan kami
07:45Jahen Fahlul Reski
07:47ekonom dan peneliti LPM FEB
07:49Universitas Indonesia
07:50Mas Jahen
07:52kita mendengarkan kemarin dengan seksama
07:54bahwa setelah dilantik
07:55Kementerian Keuangan yang baru mengatakan
07:57akan menjaga defisit APBN di bawah 3%
07:59nah tapi bagaimana dengan gambaran
08:02ketika utang grafiknya terus naik
08:04maka opsi yang paling masuk akal kan adalah dengan menarik pajak
08:07dari pandangan Anda Mas Jahen
08:09bagaimana kemudian Menteri Keuangan yang baru ini
08:11bisa menyeimbangkan antara pajak dan juga daya beli
08:16ya jadi kalau kita mendengarkan tadi bottom line-nya kan 3% defisit ya
08:21Menteri Keuangan yang baru Pak Suha akan mencoba untuk menjaga amanat yang diaturlah undang-undang tersebut
08:28implikasinya apa?
08:30kalau kita melihat misalnya pemerintah ingin tetap mempertahankan program-program yang ada
08:35berarti kan ada banyak hal yang harus dilakukan
08:38ada banyak alternatif kebijakan yang perlu dipikirkan oleh pemerintah
08:41salah satunya tentunya yang paling gampang adalah realokasi anggaran
08:45jadi beberapa kebijakan-kebijakan yang mungkin belum dibutuhkan
08:48perlu dikurangi ataupun dipindahkan posnya
08:51berikutnya tadi yang seperti disampaikan pajak
08:54cuma saya masih melihat bahwa kemungkinan untuk mengubah
08:57proporsi ataupun porsi perpajakan kita dalam jangka pendek
09:01sepertinya masih akan cukup sulit
09:03kenapa? karena pada saat sekarang misalnya ada isu tadi yang seperti disampaikan
09:07daya beli masyarakat yang masih cukup terkendala
09:10terus juga perekonomian kita yang di atas kertas memang terlihat bagus
09:14tapi di lapangan banyak masyarakat yang mengalami kesulitan
09:18jadi kalau misalnya Menteri Keuangan yang baru ingin mencoba untuk menggulirkan
09:23kebijakan perpajakan yang lebih ekspansif misalnya
09:28atau untuk mengenerate tambahan pemasukan baru
09:31saya rasa itu akan cukup sulit dilakukan di jangka pendek
09:34jadi memang pilihannya sangat terbatas ya
09:37pilihan untuk bisa menjaga 3% terbatas
09:39cuma lagi-lagi dengan adanya tadi ya pengalaman yang cukup panjang
09:44beliau kan bukan orang baru ya di Kementerian Keuangan
09:47dari mantan kepala BKF, wakil Kementerian Keuangan
09:51terus juga sekarang menteri
09:52saya rasa beliau sudah punya banyak tools yang bisa dilakukan
09:56untuk bisa menjaga tadi yang disampaikan 3% defisit
10:00nah apakah ada alternatif lainnya ke depan
10:04ya tadi pajak mungkin akan sangat sulit
10:07dan ya bisa jadi alternatif berikutnya adalah
10:10seperti membayar kompensasi dan berbagai macam tools-tools
10:13yang mungkin bisa lakukan oleh pemerintah
10:16oke tapi haruskah pasu hasil juga membaca
10:19bahwa kualitas fiskal ini tidak bisa hanya dilihat dari angka defisit
10:23karena kalau saya menyinggung begitu ya Mas Jahen
10:26yang disorot oleh lembaga pemberingkat modis misalnya
10:29yang konsen terhadap konsistensi dari kebijakan itu sendiri
10:33betul jadi mungkin problem yang dihadapi sebelumnya
10:36sebagai contoh misalnya SAL ya
10:38kebijakan Menteri Keuangan sebelumnya
10:40terkait dengan pemberian tambahan injeksi
10:44buat perbankan kita yang dihibara
10:47idenya adalah menambah likuiditas
10:49tapi kan orang juga pengen tahu guidance-nya seperti apa
10:52jadi kapan misalnya kebijakan ini akan ditarik oleh pemerintah
10:57clarity
10:58jadi tadi ya di speech disampaikan di awal adalah
11:01komunikasi dan juga guideline dari pemerintah menjadi sangat penting
11:05nah pilihan kebijakannya juga harus menunjukkan
11:08bahwa policy options-nya menjaga
11:11ataupun memastikan kredibilitas itu bisa tercapai dengan baik gitu
11:14ya modis concernnya adalah
11:16ada banyak pilihan kebijakan yang diambil oleh Kementerian Keuangan sebelumnya
11:19yang dianggap less prudence
11:22yang dianggap akan memberikan beban yang cukup signifikan terhadap fiskal kita
11:27dan tentunya orang menghadapi kekhawatiran pemerintah
11:32dengan berbagai macam akrobat fiskalnya
11:35bisa nggak mereka menjaga ini tetap prudence dengan baik
11:38nah hal-hal seperti ini, keraguan seperti ini yang perlu dihilangkan
11:42ya perlu adalah adanya guidance dari pemerintah dalam hal ini
11:47Kementerian Keuangan
11:48untuk memberikan assurance
11:49bahwa apapun yang dilakukan oleh pemerintah itu demi
11:52satu, untuk menjaga perekonomian
11:56tapi juga dilakukan dengan cara-cara yang tepat gitu
11:59bukan dengan cara-cara yang terkesan reckless
12:02ataupun tidak memikirkan kaedah-kaedah yang pas
12:07Oke, kita menyinggung sedikit dari perkataan yang sebelumnya disampaikan oleh Menteri sebelumnya
12:12Pak Purba ya
12:13pemerintah kan punya ambisi
12:14mengenai pertumbuhan ekonomi di angka 6% bahkan 8%
12:18Menurut Anda, Mas Jahen, bagaimana kemudian bisa memastikan
12:21pertumbuhan ini itu tidak hanya didikmati oleh kalangan atas saja
12:24tetapi bisa juga dirasakan oleh pekerjaan yang berkualitas
12:28sampai dengan harga bahan pokok yang terjangkau, Mas Jahen
12:31Ya, kalau soal harga bahan pokok memang bukan menjadi
12:36apa ya, fungsi ataupun domain dari Kementerian Keuangan
12:40ya, lagi-lagi mereka adalah bendahara
12:43fungsinya nanti adalah memastikan alokasi anggarannya pas
12:46bisa memberikan distribusi ya
12:48distribusilah mahal misalnya dan subsidi dan sebagainya
12:51ataupun juga buffering terkait dengan adanya shock dalam perekonomian
12:55Nah, given fiscal space kita terbatas
12:58memang perlu spending wisely dan better
13:00ya, tadi ada banyak studi-studi yang menunjukkan
13:04ataupun kami dari LPM menunjukkan bahwa memang ada kelompok menengah
13:08ya, kelompok kelas menengah yang menghadapi masalah
13:11tidak mampu mereka untuk konsumsi lebih baik
13:14semakin besar proporsi income mereka itu
13:17dihabiskan untuk konsumsi makanan
13:20ya, makanya nanti tugas perintah dalam hal ini
13:23saya rasa bukan hanya Kementerian Keuangan
13:24ya, tapi perintah secara keseluruhan
13:26memastikan bahwa masyarakat kita mampu untuk bisa
13:29apa ya, spending dengan better
13:31mendapatkan income yang lebih baik
13:33agar nanti konsumsi masyarakat tetap tumbuh
13:35dan pertumbuhannya masih bisa dijaga
13:37tapi ya problemnya sekarang kan
13:39gak hanya masalah gimana cara kita bisa tumbuh lebih tinggi
13:42tapi tumbuh yang berkualitas gitu
13:44jadi apakah misalnya 6% kita capai
13:48tapi dengan konsekuensi adanya masalah
13:50tata kelola keuangan negara yang tidak benar
13:53ada masalah kekhawatiran terkait dengan defisit dan sebagainya
13:57jadi trade-off ini yang juga perlu dipikirkan lebih matang ya
14:00dan kredibilitas dari pengelolaan keuangan negara
14:03menjadi salah satu faktor paling utama
14:04untuk bisa menuju ke arah sana
14:06oke, nah ini juga yang harus menjadi perhatian
14:10tidak sih Mas Jahen, karena kan
14:13Menteri Keuangan sebelumnya Pak Purbaya
14:14ini kan meninggalkan jabatannya dengan beragam isu
14:17yang belum terselesaikan
14:18saya rangkum disini mulai dari masalah utang ush
14:21yang ternyata harus ditanggung negara
14:23kepastian nominal dividend yang harus disetor
14:25dan antara ke pemerintah
14:27sampai dengan permasalahan subsidi BBM
14:29lalu bagaimana menurut Anda
14:31Menteri Keuangan yang baru membenahi antrian masalah ini
14:34kalau melihat dari sisi prioritasnya?
14:38ya first thing first
14:39jadi memang isunya adalah
14:41beliau masuk ke dalam kondisi yang tadi ya
14:45banyak problem yang harus diselesaikan
14:48pertama mungkin terkait dengan cash flow ya
14:51tadi misalnya cara baru dari pemerintahan sekarang kan
14:56sistemnya adalah front loading ya
14:58jadi sebelumnya biasanya spending banyak di semester kedua
15:02di tahun berjalan sekarang diganti ke tahun pertama
15:04sehingga mungkin muncul berita-berita bahwa pemerintah
15:07membutuhkan tambahan dana untuk bisa memenuhi kebutuhan di semester yang kedua
15:11terus yang kedua juga pertumbuhan perpajakan
15:15kita sebenarnya di semester satu masih cukup oke
15:18jadi dua puluhan persen kalau nggak salah pertumbuhannya
15:20tapi spendingnya juga semakin besar gitu
15:23jadi makanya perlu coba dilihat
15:26mana nih kira-kira pengeluaran
15:27dan ini kan sudah banyak didiskusikan oleh masyarakat umum ya
15:31ada hal-hal yang mungkin bisa direduksi terlebih dahulu
15:35ada hal-hal yang mungkin bisa ditunda
15:37ataupun dievaluasi
15:39sehingga tidak memberikan beban bagi keuangan negara kita
15:43ini kan antara keinginan dengan kemampuan yang belum match gitu
15:46nah mudah-mudahan sih dengan adanya perubahan
15:49di sisi kementerian keuangan
15:51tadi menjaga bottom line
15:54kebijakan keuangan negara yang kredibel
15:56dan juga yang baik ya tetap kelelai yang baik
15:59dan tentunya menumbuhkan kembali kepercayaan publik
16:02terhadap kebijakan fiskalnya menjadi sangat krusial gitu
16:06saya rasa sekarang mungkin pilihannya adalah
16:09marginal improvement yang bisa dilakukan oleh kementerian keuangan
16:12itu pasti akan memberikan tingkat keyakinan yang semakin baik bagi pasar
16:15kemarin kan kalau kita lihat IISG cukup positif ya mbak ya
16:18jadi semoga ini juga bisa dipertahankan
16:21dan lagi-lagi pilihan kebijakannya itu
16:23memberikan manfaat yang banyak
16:25bukan hanya kelompok tertentu
16:26tapi buat Indonesia secara keseluruhan
16:28oke kita beralih mengenai Bank Indonesia
16:32Mas Jahen di soal koordinasi dengan Bank Indonesia
16:35kalau dari sudut pandangan
16:36bagaimana kemudian agar pengelolaan kas fiskal
16:40penertiban SBN dan juga operasi liku di tas Bank Indonesia
16:44bisa berjalan dalam kerangka yang bersama-sama
16:46lebih terkoordinasi dan juga lebih konsisten ke depannya di bawah MENQ yang baru
16:51ya sekarang kita juga mungkin punya MENQ dan juga Gubernur BI yang baru ya
16:56dan kebetulan juga mereka berasal dari kampus yang sama sebelumnya
17:02punya kedekatan baik secara profesional maupun individual
17:07jadi semoga ini memberikan arah kebijakan yang lebih baik
17:12antara koordinasi fiskal dengan moneter
17:14jadi kita sangat mengharapkan nanti kebijakan-kebijakan yang diambil
17:19baik dari segi fiskal dan juga nanti moneter
17:22itu selalu mengupayakan ataupun mengutamakan
17:27apa ya
17:28based on kebutuhan dari negara
17:30bukan misalnya based on hal-hal yang justifikasinya masih sulit untuk kita bayangkan gitu
17:36nah dengan adanya pimpinan-pimpinan baru dari kedua institusi ini
17:40kita sangat mengharapkan adanya level koordinasi yang semakin baik
17:44jadi kalau ada dispute itu sebaiknya diselesaikan
17:48ataupun misalnya ada ketidaksepakatan
17:50itu bisa diskusikan
17:51dan hal itu kan hal yang lumrah ya
17:54adanya debate terkait dengan policy making
17:56justru itu yang kita harapkan
17:57tapi ketika nanti keluar ini menjadi salah satu koordinasi kebijakan yang paling pas
18:01nah semoga
18:03semoga ya
18:03jadi kita sangat berharap banyak dengan perubahan ini
18:06bisa memberikan secerca harapan baru yang mampu membuat negara ini menjadi semakin baik ke depannya
18:13oke amin itu harapan bersama tentunya
18:15tapi kita masih menjingung soal koordinasi disini mas jahen
18:18Indonesia kan semakin banyak memiliki instrumen
18:21APBN, SAL, Pentertiban, SBN, Danantara, BUMN
18:25sementara Bank Indonesia mengelola BI rate, SRBI, likuiditas dan stabilitas rupiah
18:32bagaimana dari sudut pandang Anda untuk bisa memastikan bahwa instrumen tersebut dapat bekerja dalam urutan yang sama
18:39ya ini juga menjadi problem sekarang ya mbak ya
18:42apalagi kita mengetahui yield dari US Treasury pun semakin meningkat sekarang
18:49makanya koordinasi ini menjadi sangat penting
18:51apakah pilihan stance yang diambil oleh Kementerian Keuangan juga cukup align gak nanti dengan yang diambil oleh Bank Indonesia
19:01karena nanti kalau objektifnya ataupun tools yang diambil saling cancelling out kan dampaknya gak akan optimal buat perekonomian
19:09nah lagi-lagi kita berharap bahwa pilihan kebijakannya nanti itu berlandaskan oleh data
19:16berlandaskan dengan kebutuhan bukan karena masalah keinginan ya
19:20bukan karena masalah emosional
19:22ini yang kita harapkan dua pimpinan baru baik di Kementerian Keuangan
19:26di Bank Indonesia bisa memastikan hal-hal ini dilakukan dalam policy making
19:31dan yang kedua juga yang paling penting adalah komunikasi
19:35pasar itu akan sangat sensitif dengan inkonsistensi dan juga komunikasi yang tidak clear gitu
19:40ini yang menjadi concern semua orang
19:44jadi kalau kita melihat kemarin pidatunya Pak Suha kan cukup menenangkan ya
19:48menenangkan, memberikan assurance dan cukup clear
19:51dan semoga ini bisa bertahan
19:53walaupun saya rasa honeymoon periodnya gak akan panjang
19:56karena lagi-lagi ekspektasinya besar
19:58dan beliau kan orang yang sudah lama berkecimpung di Kementerian Keuangan
20:01jadi mudah-mudahan bisa tancap gas dengan lebih baik setelah ini
20:04Oke ini menarik ya Mas Jahen untuk melihat bagaimana koordinasi
20:08dan juga kerjasama antara Menteri Keuangan yang baru dengan Gubernur BI yang baru
20:12bagaimana ke depannya ini akan sama-sama kita kawal bersama
20:15Terima kasih sudah berbagi insight-nya bersama kami di Kompas Bisnis
20:18Jahen Fahrul Reski, ekonom dan peneliti LPM FEB Universitas Indonesia
20:22Selamat pagi Mas Jahen, sehat selalu
20:24Terima kasih sama-sama Mbak
Komentar