Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu
JAKARTA, KOMPASTV - Mahfud MD menilai keputusan Presiden Prabowo Subianto mengganti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merupakan langkah perbaikan.

Purbaya digantikan Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara.

Mahfud menilai pilihan Presiden terhadap Suahasil cukup tepat karena merupakan birokrat profesional.

"Satu, tentu kita apresiasilah presiden tanggap. Tapi ini sebuah upaya perbaikan, dan pilihannya kepada Pak Suahasil menurut saya oke juga," ujar Mahfud.

Mahfud mengaku mengenal Suahasil selama dirinya menjabat Menteri Koordinator. Ia menilai Suahasil merupakan sosok yang profesional.

"Saya bekerja dengan dia 4-5 tahun ketika Bapak menjadi Menko. Dan cukup profesional. Mudah-mudahan ini bisa memperbaiki keadaan," katanya.

Sementara terkait Purbaya, Mahfud mengaku sebelumnya memiliki harapan besar terhadap mantan Menteri Keuangan tersebut.

Namun, menurut Mahfud, terdapat dua kelemahan mendasar dari Purbaya, yakni komunikasi publik dan substansi pekerjaannya.

"Menyangkut Purbaya memang dulu kita terlalu besar harapannya. Kelemahan Purbaya yang paling mendasar itu dua sebenarnya. Satu, komunikasi publiknya buruk. Kemudian substansi urusannya juga tidak beres," ujar Mahfud.

Mahfud kemudian menyoroti sejumlah pernyataan dan kebijakan Purbaya yang dinilainya tidak berjalan sesuai dengan janji yang disampaikan.

Salah satunya terkait pembiayaan proyek Whoosh.

Mahfud kemudian menyinggung beban pembayaran proyek yang menurutnya kini harus ditanggung pemerintah.

Produser: Yuilyana

Thumbnail Editor: Aqshal

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/690874/purbaya-dicopot-mahfud-md-soroti-2-kelemahan-purbaya-komunikasi-dan-substansi
Transkrip
00:00Emang dulu kita terlalu besar harapannya.
00:02Kelemahan purbaya yang paling mendasar itu dua sebenarnya.
00:06Jadi Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa akhirnya tumbang betul Pak, akhirnya dicopot.
00:11Hari ini digantikan oleh Wakil Menteri Keuangan, Suha Hasil Nasara.
00:18Dan kita tidak menduga secepat itu, karena banyak yang kecelek.
00:22Karena awalnya menduga bahwa orang ini hebat, kelihatan percaya diri sekali,
00:26kita punya harapan besar, termasuk Pak Mahfud.
00:28Meskipun Pak Mahfud mengatakan 2-3 minggu lalu, ternyata akhirnya dia kerupuk.
00:32Seperti Pak Mahfud sudah tahu bahwa itu yang terjadi pada Pak Purbaya.
00:36Apa komentar Bapak dengan reshuffle ini?
00:38Satu, tentu kita apresiasilah Presiden tanggap.
00:45Meskipun tidak terlalu besar lompatannya, tapi ini sebuah upaya perbaikan.
00:52Dan pilihannya kepada Pak Suha Hasil menurut saya oke juga.
00:58Seorang birokrat profesional gitu ya?
01:00Birokrat profesional, saya bekerja dengan dia 5 tahunan lah, 4-5 tahun.
01:05Ketika Bapak jadi Minkau, puluk?
01:06Ketika jadi Minkau dan cukup profesional dan korek.
01:11Mudah-mudahan ini bisa memperbaiki keadaan.
01:13Nah, itu kalau untuk langkah yang diambil Presiden dan memilih Suha Hasil.
01:21Nah, menyangkut Purbaya memang dulu kita terlalu besar harapannya.
01:26Kelemahan Purbaya yang paling mendasar itu dua sebenarnya.
01:29Satu, komunikasi publiknya buruk.
01:38Kemudian, substansi urusannya juga tidak beres.
01:43Maksudnya apa ya?
01:44Kalau komunikasi publik buruk, kan begitu dia diganti, dia lalu sesumbar.
01:48Nah, itu semua gampang gitu.
01:50Meskipun itu memberikan harapan orang baru.
01:51Dia memberi harapan orang.
01:53Jadi beda banget sama sering mulia.
02:23Terima kasih telah menonton!
02:32Tadi urusan komunikasi. Sekarang substansi ya?
02:34Ya, substansi. Janji-janjinya itu juga tidak jalan.
02:39Dan berubah misalnya dulu ketika bicara WUS.
02:43Ingat ya?
02:45Kita bahas sampai dua tiga episode itu, Pak.
02:47Sampai dua tiga episode.
02:48WUS itu, ya, mula-mula dia sama dengan pandangan masyarakat.
02:55Pandangan kita lah itu harus jangan ditanggung negara.
02:58Karena sejak semula memang itu dinyatakan tidak pakai APBN.
03:03Nah, tiba-tiba pakai APBN.
03:04Dan harganya setiap kali lipat dari apa yang sudah disepakati dengan Jepang.
03:09Dan yang penting, yang paling penting bagi konstitusi, dokumen perjanjian WUS itu sampai sekarang
03:17enggak ada DPR yang ada waktu itu.
03:20Enggak ada satupun yang punya.
03:21Siapa yang punya? Perjanjiannya apa?
03:24Padahal di situ misalnya perjanjian Cina dengan Yunani,
03:28kan pada akhirnya mengambil area-area tertentu di wilayah Yunani.
03:33Karena enggak mampu, ketika ditanya, dasarnya apa perjanjian diam-diam yang tidak dipublikasikan?
03:40Nah, kita waktu itu memperingatkan.
03:43Negara tetap harus bertanggung jawab.
03:45Tapi bahwa mekanisme seperti itu harus lewat DPR.
03:52Sesuai dengan pasal 11 ayat 2 Undang-Undang Dasar,
03:58itu tidak ada jejaknya bahwa itu pernah lewat DPR, WUS itu.
04:02Apalagi memang waktu itu DPR menolak menteri BUMN, kan?
04:08Pokoknya harus dipecat.
04:10Kalau tidak dipecat, enggak boleh ke DPR.
04:11Sehingga enggak pernah berembu tentang WUS itu.
04:15Nah, pada waktu itu si Purbaya mengatakan bukan dana PBN.
04:19Dan begitu, rame masyarakat.
04:21Harusnya dana antara, kata Pak Purbaya.
04:23Harusnya dana antara.
04:25Lalu sekarang berbelok lagi, berbelok lagi, masuk KPBN lagi.
04:29Gimana sih menteri keuangan?
04:31Akhirnya sekarang harus dicicil oleh pemerintah, Pak.
04:341 triliun per tahun selama 80 tahun.
04:37Selama 80 tahun.
04:38Yang tadinya dijanjikan oleh Purbaya itu tidak akan dihandle oleh pemerintah.
04:42Jadi menurut Pak Fud, itu salah satu gambaran
04:46bahwa tidak bisa di-deliver oleh janji yang disampaikan.
04:49Artinya dia juga enggak mau mungkin melihat isyarat presiden.
04:56Bahwa kamu jangan bicara itu.
Komentar

Dianjurkan