Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 15 jam yang lalu
Sobat Suara, penulis buku Membangun Indonesia Untuk Kejayaan Nusantara, Sri Harjono, secara terbuka mengkritik konsep pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini dalam tayangan podcast Suara Jogja. Dalam percakapan tersebut, ia menyoroti ketimpangan angka pertumbuhan ekonomi lima persen yang ternyata cuma bisa menyerap sekitar 5,8 persen tenaga kerja di sektor formal. Pak Sri memperhitungkan kalau setiap satu persen pertumbuhan ekonomi hanya mampu menciptakan sekitar 130 ribu sampai 180 ribu lapangan kerja baru.

Angka penyerapan ini jelas jauh dari kata cukup jika dibandingkan dengan tiga setengah juta lulusan SMA, SMK, hingga perguruan tinggi yang masuk ke pasar kerja setiap tahunnya. Akibat minimnya penyerapan di sektor formal, jutaan anak muda Indonesia akhirnya kesulitan mendapatkan pekerjaan yang layak dan terpaksa gigit jari. Melihat kondisi kritis ini, Sri Harjono menegaskan bahwa pemerintah sudah seharusnya merombak total konsep pertumbuhan ekonomi nasional dari akarnya.

Saksikan selengkapnya di YouTube Suaradotcom
Transkrip
00:00Kalau diakumulasikan 5% x 26 tahun kan udah harusnya 130% ya.
00:04Tapi kok yang kerja di formal tumbuhnya cuma 5,8%?
00:08Itu kemana pertumbuhan ekonomi itu?
00:09Pertumbuhan ekonomi kita tidak mencetapkan lapangan kerja formal.
00:12Sekarang ini elastasitas kesempatan kerja kita.
00:15Dari pertumbuhan ekonomi, 1% pertumbuhan ekonomi itu cuma menghasilkan lapangan kerja antara 130.000 sampai 180.000 orang.
00:24Jadi kalau misalnya kita tumbuh 5%, ini kita tambahkan kerja formal cuma sekitar 700-800 ribu.
00:29Anak ilus SMA, SMK, sedajat sama perguruan tinggi, itu udah 3 juta sampai 3,5 juta.
00:34Lu yang 2 juta, setengah juta, kemana kan?
00:37Kita harus berubah.
00:39Harus berubah kita.
00:41Dan itu perubahan terjemputnya dari konsep pertumbuhan ekonomi yang kita ubah.
00:44Kita ganti.

Dianjurkan