JAKARTA, KOMPAS.TV - Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun, mendorong pembahasan ulang tentang revisi Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara pada 17 September lalu.
Ia mempertanyakan lagi relevansi batas defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 3 persen dari Produk Domestik Bruto.
Misbakhun juga menyinggung soal ambang atas rasio utang 60 persen PDB.
Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menilai kedua angka tersebut bukan norma utama dalam UU Keuangan Negara dan perlu dibahas ulang untuk mendukung ekspansi pertumbuhan ekonomi.
Apakah artinya DPR ingin fiskal yang lebih longgar? Kredibilitas fiskal seperti apa yang diinginkan market? Kompas Bisnis tanya Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas.
Baca Juga [FULL] Pidato Menkeu Suahasil di Sidang Paripurna DPR, Ungkap Prioritas APBN 2027 di https://www.kompas.tv/nasional/693337/full-pidato-menkeu-suahasil-di-sidang-paripurna-dpr-ungkap-prioritas-apbn-2027
#apbn #defisit #dpr
_
Sahabat KompasTV, apa pendapat kalian soal berita ini? Komentar di bawah ya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/694626/analisis-head-of-research-kiwoom-sekuritas-soal-dpr-ingin-kaji-ulang-batas-defisit-apbn-3-persen
Ia mempertanyakan lagi relevansi batas defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar 3 persen dari Produk Domestik Bruto.
Misbakhun juga menyinggung soal ambang atas rasio utang 60 persen PDB.
Ketua Komisi XI DPR Mukhamad Misbakhun menilai kedua angka tersebut bukan norma utama dalam UU Keuangan Negara dan perlu dibahas ulang untuk mendukung ekspansi pertumbuhan ekonomi.
Apakah artinya DPR ingin fiskal yang lebih longgar? Kredibilitas fiskal seperti apa yang diinginkan market? Kompas Bisnis tanya Liza Camelia Suryanata, Head of Research Kiwoom Sekuritas.
Baca Juga [FULL] Pidato Menkeu Suahasil di Sidang Paripurna DPR, Ungkap Prioritas APBN 2027 di https://www.kompas.tv/nasional/693337/full-pidato-menkeu-suahasil-di-sidang-paripurna-dpr-ungkap-prioritas-apbn-2027
#apbn #defisit #dpr
_
Sahabat KompasTV, apa pendapat kalian soal berita ini? Komentar di bawah ya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/694626/analisis-head-of-research-kiwoom-sekuritas-soal-dpr-ingin-kaji-ulang-batas-defisit-apbn-3-persen
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:08Ketua Komisi 11 DPR Muhammad Mishbahun mendorong pembahasan ulang tentang revisi Undang-Undang No. 17 tahun 2003 tentang keuangan negara
00:17pada 17 September lalu.
00:19Ia mempertanyakan lagi, relevansi batas defisit anggaran pendapatan dan belanja negara atau APBN sebesar 3% dari produk domestik bruto.
00:28Mishbahun juga menyinggung soal ambang batas rasio utang 60% PDB.
00:36Undang-Undang Keuangan Negara 17 itu seakan-akan ruangnya lebih sakral dari Undang-Undang Dasar 45.
00:45Ini sangat sakral, menjadi lebih sakral dari itu.
00:51Nah, di Undang-Undang Dasar 45 itu sudah kita lima kali amandemen.
00:57Tapi Undang-Undang Dasar, Undang-Undang Keuangan Negara 17 itu pertarungannya di situ.
01:05Nah inilah, karena apa? Di dalamnya itu penuh dengan kepentingan.
01:14Mulai saat itu mulai dibuat mengenai pertanggung jawaban keuangan negara, neraca pemerintah dan sebagainya.
01:22Tetapi karena Undang-Undang itu tidak menyebarkan secara luas, contoh, mengenai defisit.
01:31Orang mengatakan defisit 3%, saya tanya di pasal berapa, tidak ada yang bisa menyebutkan.
01:40Defisit itu bukan normal.
01:41Tadi Pak Prof Didi menyampaikan harus menjadi normal.
01:45Defisit itu tidak ada di normal.
01:49Rasio utang 60% itu tidak ada di normal.
01:53Sudah terjebak dalam perangkap middle income trap, kita terjebak dalam pemikiran supaya kita tidak keluar dari itu.
02:00Keluar dari pemikirannya saja, enggak, mau mengeluarkan keadaan negara gitu.
02:06Lah ini yang harus kita satu sisi mengenai 3% ini.
02:12Seakan-akan angka 3% itu sesuatu yang absolut.
02:19Sesuatu yang luar biasa.
02:22Kalau mereka melakukan, kenapa kita tidak?
02:27Meski ingin membahas ulang aturan batas defisit APBN pada 29 September,
02:32Dewan Perwakilan Rakyat TPR menyetujui rancangan undang-undang tentang anggaran pendapatan dan belanja negara atau APBN tahun anggaran 2027 disahkan
02:42menjadi undang-undang.
02:45Dalam APBN ini, pendapatan negara diperkirakan sebesar Rp3.435 triliun.
02:53Belanja negara sebesar Rp4.106 triliun.
02:58Ini adalah anggaran belanja di atas Rp4.000 triliun.
03:02Menteri Keuangan Suhasil Nazara bilang kebijakan fiskal 2027 dirancang tetap ekspansif secara kolaboratif, terarah, dan terukur dengan defisit sebesar 2
03:13,4% terhadap produk domestik berutu.
03:38Asumsi dasar ekonomi makro yang telah disepakati pemerintah dan DPR yaitu pertumbuhan ekonomi sebesar 6%,
03:47inflasi sebesar 2,5%, suku bunga SBN 10 tahun di kisaran 6,9% dan nilai tukar rupiah pada kisaran
03:58Rp17.500 per dolar Amerika Serikat.
04:01Sedangkan Indonesian Crude Price atau ICP disepakati sebesar Rp75.000 per barrel dengan lifting minyak sebesar 612,5 ribu barrel
04:12per hari dan lifting gas sebesar 954 ribu barrel setara minyak per hari.
04:30Permintaan mengkaji ulang batas defisit APBN 3% dan rasio utang 60% kembali mengemuka.
04:36Ketua Komisi 11 DPR Muhammad Nisbahun menilai kedua angka tersebut bukan norma utama dalam Undang-Undang Keuangan Negara
04:44dan perlu dibahas ulang untuk mendukung ekspansi pertumbuhan ekonomi.
04:48Apakah artinya DPR ingin fiskal yang lebih longgar?
04:51Kredibilitas fiskal seperti apa yang diinginkan market?
04:55Kompas Bisnis akan tanya ke Liza Kamelia Suryanata, Head of Research Keyworm Securitas.
05:00Selamat pagi, Bu Liza.
05:06Selamat pagi, Bu Liza.
05:08Ya, halo. Selamat pagi, Mbak Oktah.
05:10Bu Liza, bagaimana tanggapan Anda mengenai argumen DPR khususnya Ketua Komisi 11 DPR Bakun tadi
05:15soal ambang batas defisit APBN 3% dan rasio utang 60% ini bukan norma utama
05:21serta menghambat ekspansi pertumbuhan ekonomi?
05:25Ya, jujur pandangan Pak Misdi Bakun mengenai hal ini bukan hal baru buat saya ya.
05:30Saya sudah pernah dengar beliau katakan pertama kali itu di sebuah forum market outlook dari media lain
05:36itu ketika USD, IDR berada di posisi 1700, baru 1700 ya.
05:43Dan ketika itu saya tanya kepada beliau, rupiah saat ini berada di posisi terendah sepanjang sejarah
05:51padahal kita bukan di dalam krisis moneter seperti tahun 98 gitu ya.
05:55Nah, beliau saat itu juga pernah bilang langsung bahwa mengenai defisit fiskal ini
06:02memang angka 3% tidak harus dianggap terlalu sakral ya.
06:08Oke, satu sisi saya percaya.
06:10Batas 3% ini memang bukan angka suci, Mbak.
06:13Tapi masalahnya, boleh nggak defisit 5%?
06:19Nggak sekedar boleh nggak defisit 5% gitu maksudnya.
06:22Kalau belanja lebih besar dari pendapatan, ya normalnya selisihnya harus bisa ditutup ya kan.
06:29Nah, tutupnya dari mana?
06:30Bisa dari pajak, penerimaan bukan pajak, potong belanja lain, pos belanja lain misalkan.
06:36Atau pakai dividen atau ya tambah hutang begitu.
06:40Nah, terus kemudian mengenai rasio debt, rasio hutang ini.
06:45Menurut saya terlalu naif ya kalau misalkan kita bilang negara-negara lain rasio defisit fiskalnya lebih tinggi dari 3%,
06:53rasio hutangnya juga lebih tinggi dari 60% and it's fine-fine aja.
06:57Dan ya, menurut saya kalau statement sebatas itu doang, itu terdengar terlalu naif gitu.
07:03Kalau Indonesia dibandingkan langsung misalkan dengan Amerika, Jepang, atau Singapura yang rasio hutangnya itu 100-200%.
07:11Ya, kalau US itu kan punya US dollar sebagai reserve currency teraman di dunia gitu.
07:19Jepang punya investor domestik yang base yang besar dan mereka kebanyakan hutang mayoritasnya dalam mata uang sendiri gitu.
07:28Singapura juga punya aset negara yang sangat besar.
07:30Jadi, pertanyaannya adalah bukan boleh hutang berapa besar, tapi market mau menghargai Indonesia itu diharga berapa?
07:41Oke, lantas pulisa kalau misalnya dilihat aturan batas defisit 3% dan rasio hutang 60% itu tadi yang ada
07:47dalam Undang-Undang Keuangan Negara,
07:49kalau dibilang tadi bukan norma utama, tapi sebenarnya masih relevan nggak dengan tantangan perekonomian nasional saat ini?
07:55Hmm, oke kalau bicara tantangan ekonomi nasional, saya kira kita ada 3 tantangan utama saat ini.
08:02Yaitu, kita mau pertumbuhan lebih tinggi, ya kan, tapi rupiahnya ini masih rentan.
08:08Dan yang ketiga, pinjaman uang global, mencari uang global sekarang mahal modalnya gitu, ongkosnya, sorry.
08:16Kita bandingin, US Treasury, tenor 10 tahun, sekarang udah di level 5,3 persenan.
08:22Soon Indonesia sekarang di level 7, nggak sampai 7,2, nah berarti spreadnya itu ada sekitar kurang dari 2 persen,
08:32ya.
08:33Investor global saat ini cari return ini sudah cukup tinggi di US gitu ya, dengan aset yang jauh lebih aman
08:44dan lebih liquid gitu.
08:45Indonesia memang kasih yield yang lebih tinggi, tapi di spread 2, hampir 2 persen tersebut, investor harus perhitungkan resiko rupiah,
08:53currency risk, country risk, dan liquidity.
08:56Nah, jadi memang angka 3 persen ini bukan angka suci, tapi di saat ongkos untuk mendapatkan global fund itu mahal,
09:05pertanyaannya apakah, bukan, apakah kita bisa berutang lebih banyak atau nggak.
09:11Pertanyaannya, apakah pertumbuhan yang dibeli dengan utang itu mampu membayar bunganya gitu.
09:17Oke, jadi don't get me wrong, saya nggak anti utang saat ini ya.
09:21Kalau utang dipakai untuk proyek produktif dan returnnya lebih tinggi daripada bunganya, fine gitu.
09:27Semua negara juga pasti punya utang, semua, even company juga sadar utang itu penting gunanya untuk ekspansi gitu ya.
09:35Tapi kalau utang mahal hanya dipakai untuk menjaga pertumbuhan hari ini doang, atau periode kepemimpinan saat ini, tanpa hasil yang
09:43jelas,
09:44kita cuma buying time, tapi kita cuma buying time dan menambah tagihan di masa depan gitu.
09:51So, I think kalau, sorry, kalau 3 persen ini mau dibuat fleksibel, bisa gitu ya.
09:57Tapi harus ada pagar, pagar, apa namanya, pagar guidance-nya gitu.
10:02Defisit hanya boleh lewat 3 persen hanya saat kondisi luar biasa.
10:06Contohnya, krisis, ada pandemi, benjana besar atau resesi.
10:11Lalu, beban bunga dan cicilannya juga jangan sampai terlalu mengerus APBN.
10:16Belanja rutin juga jangan sampai dibayai oleh utang ya.
10:20Karena kalau kebutuhan sehari-hari negara udah dibayai utang, nanti bisa kayak US tuh yang tiap hari ada drama minta
10:27persetujuan parlemen untuk naikin pelafon utang gitu.
10:30Kalau enggak, US government bisa shut down.
10:32Bayangin kalau misalkan airport, postal service, atau kantor kelurahan, kecamatan, RT RW, itu beroperasi cuma setengahnya.
10:39Nanti orang mau bikin KTP, KK, akte lahir, akte kematian, itu bisa berbulan-bulan kali selesainya.
10:45Kayak gitu gitu ya.
10:46So, jadi ya, defisit diperbesar ya harus jelas.
10:52Kapan bisa dikecilin lagi gitu.
10:54Jadi, intinya adalah oke, boleh fleksibel, tapi jangan bebas-bebas banget.
10:58Nanti kepablasan.
10:59Oke, harus fleksibel, tapi tidak boleh kebebasan.
11:02Tapi begini, kalau melihat apakah market ini membaca pernyataan Miss Bakun tadi itu sebagai permintaan agar APBN-nya dipelonggar.
11:09Radibilitas fiskal seperti apa yang diinginkan market, baik pasar SBN, rupiah, ataupun juga pasar saham, Iza?
11:15APBN mau dilonggarkan, APBN 2027 itu bukannya udah yang terbesar sepanjang sejarah ya katanya.
11:21Udah tadi Mbak Okta kayaknya baru aja membacakan di atas 4.100 triliun, ini sudah sangat besar, masih mau diperlonggar
11:29lagi gitu.
11:30Oke, mungkin ada kebutuhannya, but then again, it's very fair for me to ask, biaya ini dari mana?
11:40Jadi, saya pakai logika ibu rumah tangga biasa aja deh.
11:43Jadi, kalau negara ini adalah suatu rumah tangga yang sangat besar, yang huge gitu ya, yang ekstra luar biasa.
11:49Nah, negara bisa tarik pajak, bisa nerbitin utang, tapi logika dasarnya I believe sama gitu.
11:55Jadi, kalau negara mau belanja lebih besar, ya se-yogyanya negara juga cari income lebih giat lagi ya gitu.
12:08Jadi, saya akan balik bertanya, uangnya dari mana?
12:12Biayanya berapa?
12:13Dan belanja itu menghasilkan apa?
12:14So, I believe kalau tiga pertanyaan itu belum dijawab, memperbesar defisit, belum tentu strategi pertumbuhan ya, itu cuma memperbesar tagian
12:24gitu.
12:25Itu seperti belanja rumah tangga, pakai kredit card, sampai jebol limitnya, tapi nanti anak cucu yang harus menanggung beban bunganya
12:33gitu, beban fiskalnya di kemudian hari.
12:35Oke, Bu Luzia nanti kita lanjutkan kembali, dan saudara tetap bersama kami di Kompas Bisnis.
12:43Kembali di Kompas Bisnis, dan kita akan menunjukkan perbincangan bersama dengan Ibu Liza Kamila Suryanata, Head of Research Keyworm Securitas.
12:50Ibu Liza, kita lanjutkan kembali.
12:51Jadi, apa resiko terbesar terhadap kredibilitas fiskal, persepsi investor, dan juga nilai tukar rupiah,
12:56kalau kedua batas parameter fiskal tadi diberi ruang kompromi agar dilonggarkan?
13:03Resiko terbesar bukan di angka 3%-nya.
13:06Resiko terbesar adalah negara kehilangan policy anchor.
13:11Bukankah angka 3% dan 60% itu ada dasar legal-nya ya?
13:15Itu tertulis di UU Keuangan Negara, yang balik lagi tadi ke perkataan Pak Misbakun sendiri gitu, UU Keuangan Negara.
13:23Nah, oke lah, market bisa nerima kalau misalnya deficit lebih besar ketika krisis gitu.
13:29Tapi kalau dinaikkan ketika kondisi normal tanpa aturan pengganti yang jelas,
13:35ya investor bisa dong minta premium risk yang lebih tinggi gitu.
13:39So, jadi balik lagi ke lingkaran setannya.
13:42Utang naik, maka yield naik ya.
13:47Karena kita harus menarik uang global fund, kita berebut dengan negara lain,
13:51maka kita harus kasih sweetener yang lebih tinggi dong, yield naik.
13:56Menjadikan bunga APBN naik, kebutuhan pembiayaan naik lagi.
14:00Akhirnya rupiah tertekan gitu.
14:02Akhirnya ruang fiskal yang tadinya mau diperbesar justru habis buat bayar bunga gitu.
14:06So, I suggest jangan cabut pagar lamanya sebelum pagar barunya jelas gitu.
14:13Terus, mengenai tadi, kita berebut dana global dengan negara lain ya.
14:20Ya, saya kurang setuju kalau foreign outflow terlalu cepat dijelaskan hanya karena situasi politik
14:28atau ada yang mau bikin rusuh lah katanya.
14:30Ya, of course, stabilitas politik itu penting gitu.
14:33Tapi ya, Pak Presiden, kompetisi mendapatkan uang global sekarang ini sesederhana ini.
14:39Tinggal buka Bloomberg Investor dan membandingkan return.
14:42US Treasury tadi sekitar 5,3 persen.
14:46Indonesia sekitar 7,2 persen kurang.
14:49Jadi, investor tinggal tanya, spreadnya ini cukup nggak untuk menutup resiko currency risk,
14:55country risk, liquidity, ya.
14:57Jadi, sebelum kita bilang dana asing ini nggak masuk karena ada yang mau bikin rusuh,
15:02kita harus berat ditanya ke dinisita sendiri gitu.
15:05Indonesia sekarang menawarkan apa alternatif yang lebih menarik dibanding luar sana gitu.
15:14Terus, karena kalau kita berbicara safety yield, ya Amerika jujur sangat kompetitif gitu.
15:20Kalau investor asing mau cari cost of fund dengan nominal yang lebih murah pun,
15:24Jepang masih jauh lebih murah ya, walaupun ada resiko kurs juga di sana gitu.
15:31Jadi, Indonesia ini ada di tengah-tengah.
15:33Kita bukan negara paling aman, juga kadang kita not always stable gitu.
15:38Dan kita juga bukan negara dengan cost of fund paling murah gitu.
15:41Berarti kita harus menang dari growth, dari pertumbuhan, dari policy certainty,
15:47dari kemudahan usaha, dari return investasi, dan balik ke fiskal credibility gitu.
15:54So, I mean, ya capital itu kan nggak punya nasionalisme ya, dia nggak pilih kasih gitu istilahnya.
16:02Mereka cuma cari kemana return terbesar.
16:05So, tugas kita tuh bukannya marah ketika uangnya pergi,
16:08tapi tugas kita itu bikin Indonesia layak dipilih gitu sih.
16:12Oke, balik lagi juga kalau misalnya mau cabut pagarnya,
16:16tadi balik lagi soal bagaimana kita juga harus punya guidance begitu,
16:19supaya tadi jangan sampai kebentasan.
16:21Bu Liza, Menteri Kewangan Soal Hasil Nazara kan janji untuk menjaga defisit di bawah 3%.
16:25Apakah permintaan Komisi 11 untuk membahas ulang batas ini otomatis runtuh atau seperti apa, Bu Liza?
16:32Nggak juga sih, belum tentu.
16:34Kan di APBN 2027 udah ditulis defisit APBN 2,4%.
16:39Nah, ini menyediakan, apa yang namanya, ketenangan batin market gitu, ketenangan market ya.
16:46Market confidence, sorry.
16:49Ya, tapi DPR ini lagi bicara rule of the game jangka panjang gitu.
16:52Jadi, dua-duanya bisa berjalan bersamaan sih.
16:55Ya, siapa tahu nanti di tengah jalan di-adjust lagi gitu kan.
16:57Nah, the point is, market akan lihat bukan cuma yang dikatakan aja, tapi yang dilakukan.
17:04Berapa defisit aktualnya?
17:06Terus, gimana penerbitan SBN ya?
17:09Berapa cost of fund-nya?
17:10Rupiah gimana posisinya gitu?
17:12Terus, penerimaan negara.
17:14Nah, penerimaan negara ini juga jadi, ya, jadi concern of course gitu ya.
17:20Ketika belanja mau besar, tapi penerimaan negaranya nggak ada.
17:23Sebenarnya, for example, Pak Purbaya, Pak atau pemerintah, sebelum Pak Purbaya dipecat maksudnya.
17:30Dia minta investasi dari dana tara dibalikin kan, 120 triliun.
17:36Tapi, sepertinya dana tara nggak keberatan dan kemudian bilang ketika Pak Suha Hasil ini menjabat, akan Niko ulang.
17:43Nah, ternyata Pak Suha, just lately, ya, kemarin, kalau nggak salah, beritanya adalah Pak Suha Hasil menetapkan dividen dan antara
17:52yang itu tidak akan ditarik ke APBN sampai 2027, begitu.
17:59Oke.
18:02Oke, saya bikin tesis, satu hari sesudah Pak Suha Hasil ini diangkat.
18:08Beliau ini adalah sosok teknokrat yang sudah dikenal lama di Kementerian Keuangan dari tahun 2019, kalau nggak salah.
18:16Dan, supposedly, dia berada di bawah Ibu Sri Mulyani yang kita kenal sebagai pejuang APBN Credible, ya.
18:24Nah, market saat ini menunggu bukti dari Pak Suha Hasil, ya, mungkin, ya.
18:33Apakah beliau ini punya otoriti dan dia bisa berkata tidak untuk keperluan atau demand dari pos-pos belanja yang kayaknya
18:46nggak sesuai, gitu, dengan anggaran pemerintah.
18:50Nah, so, ya, kita nggak mau ngejudge performance beliau dulu karena memang dia baru sebulan, gitu, ya, belum lama ada
19:01sebulan, gitu.
19:03Ya, tapi ya, kita akan lihat aja keputusan mereka mengenai pembiayaan APBN, dan antara rupiah, dan disiplin fiskal.
19:13Oke, Buliza, hampir sebulan nih MENQ-nya ganti dan juga melihat gerak rupiah yang kembali mendekat ke 18 ribu per
19:19dolar.
19:19Apakah market sudah bisa membaca arah fiskal setidaknya sampai akhir tahun atau masih menunggu dan juga kebingungan, gitu?
19:28Bingung sih mungkin nggak, tapi again, yang seperti saya bilang, kayaknya menunggu bukti dari KMNQ juga.
19:39Hubungan antara pembiayaan APBN, terus kemudian peran dan antara di sini, rupiah, posisi rupiah, dan disiplin fiskal tersebut, ya.
19:50Nah, BI, kemarin Ibu Destri Damayanti itu baru saja bilang bahwa intervensi rupiah di pasar spot sekarang sudah dikurangi menjadi
19:5930 persen, ya.
20:00Apakah ini kode keras kalau BI itu menginginkan dana sahal dikembalikan?
20:06Nah, ya ini maksudnya masih menduga-duga gitu ya.
20:10Tapi intinya kalau BI mulai lebih hati-hati memakai cadangan devisa untuk stabilisasi rupiah,
20:16artinya tugas menjaga rupiah ini nggak bisa dibebankan ke BI sendirian, kan?
20:20Gitu.
20:20Jadi, fiskal, trade balance, trade balance kita sempat defisit dua kali, tapi udah mulai surplus lagi sekarang.
20:31Capital inflow dan policy confidence ini semuanya, I think, sangat terhubung sekali.
20:36Jadi, so, optimisme ke performance, Pak, soal hasil sekarang ya harus dibuktikan lewat keputusan, kebijakan dia.
20:44Oke, menarik soal bagaimana, kembali lagi, kalau misalnya tadi bicara soal bagaimana membatas defisit yang tadi diusulkan agar lebih longgar,
20:53tentu harus juga tadi mengingat bahwa tetap harus juga ada growth, ada pertumbuhan,
20:57dan juga belanjanya lebih besar dibandingkan juga dengan pemasukan dari pemerintah,
21:02dan juga tadi juga harus diperhatikan bagaimana soal policy confidence dari pemerintah terkait juga pertumbuhan di komit.
21:07Terima kasih, Liza Kamila Suryanata, Head of Research Keyworm Security, sudah bersama di Kompas Bisnis.
21:12Selamat salam, Ibu Liza.
21:13Thank you.