Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Kelompok Houthi merilis video yang memperlihatkan serangan mereka terhadap pasukan militer pemerintah Yaman dan Arab Saudi di wilayah Al Waziyah, Provinsi Taiz.

Dalam video tersebut, tampak kelompok Houthi menembaki kendaraan militer dan meluncurkan roket di daerah pegunungan hingga menyisakan kendaraan yang terbalik.

Namun, pasukan koalisi pemerintah membantah klaim tersebut dan menyatakan bahwa pasukan gabungan mereka, termasuk Brigade Raksasa, justru sedang menyerbu posisi Houthi lewat operasi militer berskala besar bernama "Fajar Yaman".

Kelompok Houthi juga mengatakan Arab Saudi melancarkan 119 serangan selama 24 jam yang menargetkan Sanaa dan beberapa provinsi, sementara pasukan pemerintah Yaman mengumumkan hampir 1.879 serangan terhadap wilayah Houthi sebagai bagian dari operasi serangan "Fajar Yaman", mengklaim sekitar 950 pejuang telah dinetralisir.

Baca Juga Kontingen Indonesia Tiba di Jepang, 103 Atlet Siap Berlaga di Asian Para Games 2026 | KOMPAS MALAM di https://www.kompas.tv/olahraga/696004/kontingen-indonesia-tiba-di-jepang-103-atlet-siap-berlaga-di-asian-para-games-2026-kompas-malam

Rekaman lain juga dirilis Angkatan Bersenjata Yaman dan kelompok Houthi, memperlihatkan pertempuran di garis depan Marib, termasuk kendaraan lapis baja yang meledak akibat terkena tembakan lalu terbakar.

Pertempuran pecah di berbagai wilayah di Yaman saat ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi juga meningkat, sementara pasukan pemerintah Yaman mendapat dukungan udara dari koalisi pimpinan Saudi.

Media Iran, Press TV, melaporkan tiga ledakan keras terdengar di ibu kota Arab Saudi, Riyadh.

Ledakan yang diduga berasal dari rudal yang berasal dari Yaman itu menyebabkan kebakaran besar di Riyadh.

Kita bahas soal perang Houthi dan pemerintah Yaman serta Arab Saudi, termasuk penolakan Arab Saudi atas tawaran Israel untuk memerangi kelompok Houthi, bersama Pengamat Militer dari Center for International and Diplomatic Engagement (CIDE), Anton Aliabbas.

Baca Juga Kontingen Indonesia Tiba di Jepang, 103 Atlet Siap Berlaga di Asian Para Games 2026 | KOMPAS MALAM di https://www.kompas.tv/olahraga/696004/kontingen-indonesia-tiba-di-jepang-103-atlet-siap-berlaga-di-asian-para-games-2026-kompas-malam

#arabsaudi #houthi #perang #israel #yaman

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/696011/full-arab-saudi-tolak-bantuan-israel-perangi-houthi-ini-analisis-pengamat-militer-cide
Transkrip
00:02Kembali di Sapa Indonesia Pagi Saudara, kelompok Houthi merilis video yang memperlihatkan serangan mereka terhadap pasukan militer pemerintah Yaman dan
00:10Arab Saudi di wilayah Al-Waziyah, Provinsi Thais.
00:24Dalam video tersebut tampak kelompok Houthi menembaki kendaraan militer dan meluncurkan roket di daerah pegunungan Higa menyisakan kendaraan yang terbalik.
00:33Namun pasukan koalisi pemerintah membantah klaim tersebut dan menyatakan bahwa pasukan gabungan mereka termasuk Brigade Raksasa justru sedang menyerbu posisi
00:44Houthi lewat operasi militer berskala besar bernama Fajar Yaman.
01:03Sarat, sarat, sarat, sarat, sarat, sarat.
01:19Lohba Houthi juga mengatakan Arab Saudi melancarkan 119 serangan selama 24 jam menargetkan Sana'a dan beberapa provinsi,
01:28sementara pasukan pemerintah Yaman mengumumkan hampir 1.879 serangan terhadap wilayah Houthi sebagai bagian dari operasi serangan Fajar Yaman.
01:39Klaim sekitar 950 pejuang telah dinetralisir.
01:58Kapal lain juga dirilis Angkatan Bersenjata Yaman dan kelompok Houthi memperlihatkan pertempuran di garis depan Marib termasuk kendaraan lapis baja
02:07yang meledak akibat terkena tembakan lalu terbakar.
02:11Pertempuran pecah di berbagai wilayah di Yaman saat ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi juga meningkat,
02:18sementara pasukan pemerintah Yaman mendapat dukungan udara dari koalisi pimpinan Saudi.
02:31Media Iran Press TV melaporkan 3 ledakan keras terdengar di ibu kota Arab Saudi Riyadh.
02:37Ledakan yang diduga berasal dari rudal yang berasal dari Yaman itu menyebabkan kebakaran besar di Riyadh.
02:54Sebelumnya, Saudara Kementerian Media Arab Saudi merilis video serangan di Bandara Riyadh pada hari Sabtu.
03:02Jemaah Umroh turut menjadi korban dalam serangan yang dilancarkan kelompok Houthi di Bandara Internasional King Khalid Riyadh Arab Saudi.
03:09Serangan itu menewaskan sebanyak belasan orang dan melukai lebih dari 300 lainnya.
03:15Ledakan api dan poin-poin berjatuhan dari langit-langit ke arah para penumpang di bawahnya.
03:24Kelompok Houthi terus melancarkan serangan ke pasukan pemerintah Yaman dan Arab Saudi.
03:30Salah satunya serangan ke Bandara Internasional King Khalid Riyadh Arab Saudi yang menewaskan belasan orang dan melukai lebih dari 300
03:37lainnya.
03:38Kita bahas soal perang Houthi dan pemerintah Yaman serta Arab Saudi termasuk penolakan Arab Saudi atas tawaran Israel untuk memerangi
03:45kelompok Houthi.
03:46Bersama pengamat militer dari Center for Intermastic and Diplomatic Engagement, Syed Anton Ali Abbas.
03:53Selamat pagi Mas Anton.
03:55Pagi Mbak Wokta.
03:56Ya menarik soal bagaimana ada serangan tapi Arab Saudi menolak tawaran Israel untuk memerangi Houthi.
04:02Apa pertimbangan Arab Saudi untuk menolak?
04:04Ya setidaknya kalau saya melihatnya ada dua pertimbangan yang mungkin itu dilakukan oleh Arab Saudi.
04:10Yang pertama jelas mereka tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel dan memang beberapa kali baik dari sisi Israel maupun Amerika
04:18Serikat mencoba untuk melakukan normalisasi hubungan diplomatik antara Israel dan Saudi.
04:23Jadi ini adalah lupaya.
04:24Jadi saya melihatnya bahwa kenapa kemudian Israel memberikan bantuan kepada Arab Saudi menawarkan bantuan itu adalah karena mencoba untuk mempercepat
04:33ya.
04:33Mempercepat ataupun juga menggoyang posisi Arab Saudi untuk mau melakukan normalisasi.
04:39Tapi kan posisinya ditolak.
04:40Kenapa ditolak?
04:41Pertama adalah jelas ini ongkosnya akan sangat mahal bagi pemerintah Arab Saudi.
04:45Terutama kerajaan.
04:46Kenapa?
04:47Karena tentu saja publik Arab Saudi itu bisa jadi mengecam.
04:51Mengecam apabila kemudian kerajaan itu menerima bantuan dari Israel.
04:56Itu yang pertama.
04:57Kedua saya juga melihat bahwa kalau misalnya Arab Saudi menerima bantuan dari Israel ini akan memudahkan untuk Houthi melakukan propaganda.
05:06Propaganda bahwa mereka sedang memerangi Saudi yang bekerja sama dengan Israel.
05:11Jadi itu ada narasi itu yang tentu saja itu yang diperhatikan.
05:14Jadi yang pertama adalah ongkos politik untuk publik domestiknya Arab Saudi.
05:19Yang kedua adalah potensi nanti bisa dimanfaatkan propaganda oleh Houthi.
05:23Jadi saya melihatnya kenapa kemudian pemerintah Saudi mencoba saat ini itu menolak dari tawaran Israel itu.
05:30Oke ada ongkos politik yang mahal dan juga bisa terjadi perang narasi.
05:35Tapi begini Mas Anton, Arab Saudi itu kan sekutunya Amerika di Timur Tengah.
05:39Israel juga sekutunya Amerika.
05:41Nah apakah artinya Arab Saudi ini takut dimusuhi negara Timur Tengah yang bukan sekutu Amerika?
05:45Atau takut dengan pandangan dunia internasional seperti tadi kalau Mas Anton sebutkan soal bagaimana perang narasi bisa dibuat oleh kelompok
05:52Houthi?
05:53Ya sebenarnya Amerika Serikat sendiri kan sudah pernah meminta untuk Arab Saudi mempertimbangkan normalisasi hubungan dengan Israel.
06:00Dan sejauh ini sikap yang dibangun oleh Arab Saudi itu masih firm.
06:04Mereka menolak untuk melakukan normalisasi dengan hubungan dengan Israel.
06:08Kenapa? Karena ongkos politik domestiknya sangat mahal.
06:11Jadi sejauh ini publik domestiknya Arab Saudi tetap masih akan menolak untuk melakukan normalisasi hubungan dengan Israel.
06:18Itulah kenapa posisi dari kerajaan itu terjepit.
06:22Di satu sisi mereka memang membutuh bantuan dari Amerika Serikat.
06:26Tapi di sisi lain apabila bantuan itu mensyaratkan untuk bekerja sama dengan Israel tentu saja mereka akan mempertimbangkan ulang.
06:32Untuk memilih tidak.
06:34Kenapa? Karena ini akan berbicara tentang kelangsungan dari rezim kerajaan.
06:38Jadi mereka tentu saja akan bertarungnya jauh lebih besar untuk kelangsungan nasib kerajaan dalam konteks Arab Saudi.
06:46Mbak Wokta.
06:47Oke. Mas Anton kalau dari sisi kekuatan militer sebetulnya perbandingan kekuatan antara Arab Saudi dan juga kelompok Houthi itu seperti
06:53apa?
06:54Sebenarnya kalau di atas kertas ya jelas Arab Saudi itu di atas.
07:01Di atasnya banyak ya.
07:02Di atasnya banyak.
07:03Akan tetapi memerangi kelompok gerilyawan seperti Houthi ini juga tidak mudah.
07:08Anda ingin membombardi.
07:10Misalnya mau datang.
07:11Ini kan ketika mereka memerangi lewat Taiz dan lain-lain.
07:14Problemnya yang menguasai lapangan itu Houthi.
07:17Satu.
07:17Houthi tidak dalam kelihatan bergrombol besar tapi bergrombol kecil-kecil.
07:22Itulah kenapa kalau kita bicara tentang gerilyawan.
07:24Itu sulit memerangi.
07:26Itu satu.
07:26Kalau lewat darat.
07:27Kedua kalau ingin lewat udara gitu ya lewat udara tentu saja itu jauh lebih tidak efektif gitu.
07:32Kenapa?
07:33Karena scatter pasukannya Houthi.
07:35Jadi kalau misalnya pasukan Houthi berkumpul pada satu tempat mudah untuk melakukan serangan udara ke satu tempat.
07:40Problemnya itu ketika dia scatter itu kan susah ditindak.
07:43Kedua.
07:44Ketiga.
07:45Stok peluru nih.
07:46Stok rudal gitu.
07:47Yang dimiliki oleh Arab Saudi makin lama itu makin menipis.
07:50Kenapa?
07:51Karena mereka lebih banyak untuk bertahan.
07:53Bertahan dari serangan yang dilancarkan oleh Houthi.
07:56Itu satu.
07:56Kedua.
07:57Jangan-jangan kalau misalnya nanti perang Amerika Serikat dan Iran itu kembali berlangsung.
08:02Ada lagi roket-roket atau rudal termasuk juga drone itu menyerang Arab Saudi.
08:06Mau tidak mau mereka juga harus menepis.
08:07Jadi posisinya memang terjepit.
08:09Di satu sisi kalau ngomongnya di atas kertas memang di atas.
08:13Tapi kalau misalnya ngomong tentang gerily di lapangannya itu punya problem.
08:16Belum lagi kalau kita bicara misalnya tentang tentara di Arab Saudi itu sekitar ada 250.
08:22Tapi jangan dibayangkan bahwa 250 ribu itu solid.
08:27Mereka terpecah menjadi tiga.
08:28Ada tentara reguler, ada garda nasional, dan ada kerajaan.
08:32Tiga-tiganya itu memang tidak solid.
08:34Saling ada rivalitas satu sama lain.
08:37Itulah kenapa sekalipun misalnya Arab Saudi punya banyak ratusan ribu tentara.
08:42Tapi untuk bicara tentang apakah mereka ratusan ribu itu siap untuk mengorban jiwa raga untuk kerajaan Arab Saudi.
08:51Nah itu jadi pertanyaan.
08:52Itulah kenapa untuk memerangi Houthi itu tidak semudah walaupun mereka di atas kertas.
08:58Memiliki kekuatan, kemampuan itu di atas Houthi.
09:02Mbak Wokta.
09:02Oke, Mas Anton tadi kalau dikatakan ya soal bagaimana soliditas antar pasukan mereka.
09:07Tapi ini juga bisa dikatakan ada celah sistem pertahanan juga nggak di Arab Saudi karena adanya serangan dari Houthi ini?
09:14Iya, jelas ketika kita bicara tadi interceptor.
09:17Interceptor di Amerika Arab Saudi makin lama makin menyusut.
09:19Karena apa?
09:20Karena stok mereka yang paling besar adalah banyak dihabiskan ketika ada perang antara Amerika Serikat dengan Iran.
09:26Karena ada beberapa serangan masuk Arab Saudi mereka menepis.
09:29Dan di sisi lain, karena dia sudah menepis.
09:32Lalu kemudian ketika kita bicara serangan yang dilakukan oleh Houthi.
09:35Houthi itu melakukan serangan tidak hanya kemudian menggunakan drone tapi juga menggunakan rudal jelajah.
09:43Nah itulah kenapa yang kita bisa lihat.
09:44Kenapa misalnya bandara King Khalid itu terserang lalu terserang dengan baik.
09:49Lalu misalnya ada instalasi-instalasi Aramco misalnya mau juga pipa minyak yang terhubung dari timur ke barat.
09:56Misalnya juga banyak yang rusak.
09:57Kenapa? Karena kemudian interceptornya itu makin lama makin menipis.
10:02Tidak mungkin misalnya Arab Saudi kemudian menghabiskan interceptor yang ada saat ini.
10:07Kenapa? Kalau itu sampai habis artinya pertahanan udara mereka jauh tidak ada.
10:11Kalau misalnya memang tidak ada maka makin mudah untuk Houthi untuk melakukan serangan kepada Arab Saudi.
10:18Tidak perlu lagi menggunakan rudal jelajah tapi juga cukup menggunakan drone-drone yang murah.
10:23Dan itu akan jauh lebih efektif.
10:26Mas Anton, konflik Houthi dan pemerintah Yaman ini kan sudah berlangsung lama.
10:30Tapi bisa dikatakan belakangan makin intens.
10:32Apa sih sebetulnya tujuan dari Houthi melakukan ini?
10:34Dan apakah semata ini membela Iran?
10:36Atau ada motif lain dibalik itu?
10:39Kalau mereka ini kan sebenarnya memang perangnya sudah lama.
10:41Dari 2015-2014 sampai 2022 itu perangnya cukup intens.
10:46Lalu kemudian ada gencatan senjata.
10:49Kemudian terpicu lagi gitu ya.
10:51Ketika ada pesawat dari Iran yang dilarang mendara di Son A.
10:56Kemudian harus mendara di bandara lain gitu.
10:59Itu yang kemudian men-trigger mereka saling aksi balas serang gitu.
11:03Jadi memang ini problemnya cukup panjang.
11:05Lalu yang kedua memang selama ini ketika memerangi Houthi, itu kan Arab Saudi itu ada pasukan koalisi.
11:11Koalisinya ada banyak.
11:12Ada Bahrain, ada Kuwait, ada Uni Emirat Arab dan lain-lain termasuk juga pemerintah Yaman.
11:17Problemnya hari ini yang berperang hanya Saudi saja.
11:21Sama Uni Emirat Arab hubungannya tidak baik.
11:23Kuwait, Bahrain masih belum memikirkan.
11:26Belum lagi misalnya kita bicara tentang fakta Mekah, ada Turki dan ada Pakistan.
11:31Sejauh ini mereka juga maju-mundur, maju-mundur.
11:34Kenapa? Karena di sisi lain kan mereka punya kredensial sebagai mediatornya Iran gitu.
11:39Jadi ini memang menjadi rumit ketika kita bicara perang ini.
11:42Saya sendiri sejauh ini belum melihat bahwa perang ini akan terekskalasi, akan sangat tinggi gitu.
11:48Bahwa mungkin dalam jangka pendek iya.
11:50Karena kalau saya melihat gitu misalnya Mbak Wokta, sebelum serangan baik dari pihak Kuti maupun juga dari pihak Arab Saudi,
11:58itu kan memberikan warning terlebih dahulu.
12:01Misalnya sebelum serangan semalam misalnya Arab Saudi itu melakukan warning.
12:04Tolong sipil-sipil keluar dari instalasi ini, ini karena kami akan serang.
12:08Begitu juga misalnya dari pihak Kuti.
12:10Artinya apa?
12:11Satu, mereka lebih banyak ingin memberikan tekanan politik ketimbang untuk meningkatkan eskalasi yang sangat tinggi.
12:18Kenapa? Satu, mereka untuk mencoba untuk mengontrol damage-nya.
12:23Kedua adalah untuk mengurangi korban sipil.
12:26Kalau misalnya mereka ingin melakukan eskalasi, tentu saja nggak perlu waro-waro langsung main serang-serang aja.
12:31Tapi kan kenyataannya, dalam beberapa hari terakhir ini misalnya,
12:35termasuk juga ketika Huti menyerang Bandara King Khalid,
12:38itu kan mereka sudah melakukan ancaman duluan.
12:40Jadi bagi saya memang intensnya, memang mungkin akan tinggi,
12:44tapi kalau kita lihat apakah kualitas serangannya itu sangat masif, sangat besar,
12:50saya nggak terlalu yakin, Mbak Uta.
12:53Oke, tapi kalau misalnya nanti, oke kita tidak bisa berada-ada,
12:56tapi kalau misalnya serangan Huti terus berulang menyerang,
12:59misalnya kilang minyak pangamil terpusat ekonomi,
13:01seberapa besar sebetulnya kekuatan Arab Saudi ini untuk bisa melindungi fasilitas strategis ini, Mas Anton?
13:07Nah, ini yang pertanyaan menarik, Mbak Uta, kenapa?
13:10Karena posisi Arab Saudi itu sebenarnya terjepit.
13:13Mau mundur, dia takut untuk malu, ini sebagai negara besar, kok malah mundur?
13:22Tapi kalau di sisi-sisi dia ingin maju, maka kemudian potensi untuk kerusakannya jauh lebih besar.
13:28Jadi ini yang bagi saya memang rumit ya, rumit untuk bagi posisi Arab Saudi,
13:33karena dia terjepit, maju salah, mundur juga salah.
13:35Itu satu. Kedua memang, ketika kita bicara tadi, bagaimana nasibnya, eskalasinya,
13:41memang lagi-lagi, mereka akan berbagi misal, bertukar serangan misal, dan lain-lain.
13:49Tapi apakah mereka punya cara untuk menyelamatkan muka masing-masing?
13:54Nah, yang sejauh ini yang saya lihat, ini belum ada muka itu.
13:57Jadi mereka belum ada jalan keluar untuk saving face.
14:01Sehingga pilihan yang baru ada adalah ya saling bertukar serangan.
14:05Jadi bagi saya sih, sejauh ini masih akan seperti itu, Mbak Okta.
14:09Oke, Mas Anton bisa dikatakan gini nggak?
14:11Jadi Arab Saudi ini ada dilema bahwa membalas serangan dengan kekuatan militer sepenuhnya,
14:15atau juga menahan diri supaya konfliknya ini nggak semakin meluas.
14:17Opsi mana yang kira-kira punya resiko paling besar buat Arab Saudi?
14:21Risiko paling besar adalah ketika dia mau melakukan serangan totalitas kepada Houthi.
14:27Itu risikonya akan sangat besar.
14:29Kenapa?
14:29Karena satu, intersektor mereka sangat dikit.
14:33Jadi dikit, gitu.
14:34Lalu yang kedua, potensi, kos, dan juga baik itu kerusakan,
14:41maupun juga tekanan ekonomi, bagi Arab Saudi itu akan jauh besar.
14:44Jadi kalau misalnya tekanan ekonomi yang jauh besar, maka mimpi untuk mewujudkan visi Arab Saudi 2030,
14:51itu makin lama akan makin melambat untuk tahapan mencapainya itu.
14:56Itu yang bagi saya, melihat Arab Saudi, posisinya jelas semakin terjepit.
15:00Mau tidak mau, pilihannya adalah bagaimana mereka bisa duduk di meja perundingan,
15:05dan itu kemudian terjadi lagi gencatan senjata.
15:07Dan ini kan yang sedang lagi diupayakan oleh Iran, gitu.
15:10Jadi bagaimana Iran kemudian memainkan posisi ini, menawarkan untuk Arab Saudi,
15:15mau nggak dia menjadi mediator.
15:17Karena bagaimana menunjukkan Iran punya hubungan dengan Houthi, gitu.
15:20Tapi apakah, di sisi lain kan Iran juga tidak tulus juga untuk mendamaikan.
15:25Karena dia tahu bahwa kalau dia bisa mendamaikan ini,
15:27maka dia akan punya posisi tawar yang lebih dengan Amerika Serikat,
15:32ketika kita bicara dengan perang Iran-Amerika Serikat, Mbak Wokta.
15:35Oke, Mas Anton, apakah serangan Houthi ke Arab Saudi ini,
15:39utamanya ke titik seperti bandara, sampai melukai orang-orang yang umroh,
15:42ini bisa menimbulkan, apa ya, dikatakan tegenggang rasa
15:45atau kerjasama antar negara memerangi kelompok ini?
15:48Saya sih nggak lihat itu.
15:49Karena apa? Karena Houthi, tadi saya bilang,
15:51Houthi itu sebelum melakukan serangan, dia sudah waro-waro.
15:54Jadi dia sudah meminta untuk maskapai tidak terbang ke situ.
16:00Kenapa? Karena semua zona udara itu bahaya.
16:03Yang kedua, dia sudah meminta sipil untuk menjauhi bandara.
16:07Jadi bagi saya, kejadian yang kayak kemarin,
16:11itu dalam bentuknya sebagai collateral damage.
16:13Bagi Houthi, kalau saya pakai logikanya Houthi itu collateral damage.
16:16Kenapa? Karena saya sudah berulang kali untuk mengeluarkan warning.
16:20Hindari, hindari, hindari.
16:22Dan itu kan kemudian pattern yang sama,
16:24dilakukan oleh Arab Saudi ketika mereka ingin melakukan serangan ke sana.
16:28Mereka melakukan warning dulu.
16:30Hindari sipil, tolong jauhi tempat misalnya depot minyak yang ada di saun A.
16:36Karena mereka akan serangan.
16:37Kenapa? Untuk mengurangi, untuk menekan korban sipil.
16:41Itu yang kenapa tadi saya bilang bahwa ada upaya untuk mengontrol eskalasi kekerasan yang terjadi dalam perang kali ini, Mbak
16:49Okta.
16:49Oke, tapi meskipun polanya bisa dikatakan selalu kasih warning,
16:54tapi tentu serangannya Houthi ini bisa jadi apa ya,
16:57alarm ataupun juga hujan serius bagi stabilitas keamanan di kawasan Arab Saudi.
17:02Dan juga langkah Arab Saudi selanjutnya tentu kita lihat bagaimana nanti akan jadi penentu
17:06apakah konflik bisa dikendalikan ataupun juga berkembang jadi konfrontasi yang lebih luas.
17:09Terima kasih.
17:10Pengamat Militer Syed Mas Anton Ali Abbas sudah bersama di Sapa Indonesia Pagesel.
17:14Selamat malam, Mas Anton.

Dianjurkan