00:00Kabut asap dampak kebakaran hutan dan lahan di kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah semakin menebal.
00:05Jarak pandang hari ini bahkan hanya 200 meter.
00:12Seperti inilah situasi Bundaran Kalawang, titik nol kota Palangkaraya yang biasanya ramai oleh warga di akhir pekan.
00:21Kini terlihat sepi.
00:23Kabut pekat berwarna kuning mengancam kesehatan warga.
00:25Tak hanya menghalangi jarak pandang, kabut asap juga mengandung partikel yang berbahaya yang dapat mengganggu kesehatan warga.
00:38Dan ini adalah pantauan udara kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah hari ini.
00:43Bundaran Talawang yang merupakan titik nol kilometer kota Palangkaraya tertutup kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan yang telah berlangsung
00:52sejak beberapa bulan yang lalu.
00:53Tebalnya asap juga memperburuk jarak pandang.
00:57Berdasarkan data gabungan Pemprov Kalimantan Tengah, Kominfo, dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah,
01:04jarak pandang di kota Palangkaraya hari ini sekitar 200 meter atau sangat berbahaya.
01:21Kita akan pantau situasi terkini Karhutla bersama dengan jurnalis Kompas TV, Zahwa Majid, dan juru kamera Bimo Wicaksana di Palangkaraya,
01:30Kalimantan Tengah.
01:30Selamat siang, Zahwa.
01:33Gambarkan kepada kami bagaimana dengan kondisi terkini, termasuk dengan kualitas udara dan titik sebaran api di wilayah Palangkaraya dan sekitarnya.
01:44Ya, Imron dan juga saudara pada siang hari ini di kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah, kabut asap semakin menebal.
01:52Jika lihat di belakang saya ini, Imron jarak pandang juga semakin menurun.
01:58Baru saja kami lihat dari data gabungan pemerintah provinsi Kalimantan Tengah, Kominfo, dan juga Badan Penanggulangan Bencana Daerah pada hari
02:08ini,
02:09jarak pandang bahkan mencapai hanya 100 meter saja.
02:14Dan jika melihat dari titik panas yang tersebar di kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah juga masih sangat banyak ya, Imron dan
02:21juga saudara.
02:21Berdasarkan data gabungan dari pemerintah provinsi Kalimantan Tengah, Kominfo, dan juga Badan Penanggulangan Bencana Daerah pada hari ini masih terdapat
02:32334 titik panas di kurang lebih 159 lokasi yang tersebar di kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
02:39Karena memang di lahan-lahan gambut yang terbakar di kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah ini, Imron, tak hanya juga apinya merambat
02:47dengan sangat cepat,
02:49tapi juga lahan gambut ini menyimpan bara api yang menyebabkan kabut asap pada hari ini yang mencapai level berbahaya.
03:01Ya, jika melihat konsentrat partikulatnya pada saat ini mencapai 1.247 atau hampir 4 kali lipat dari batas berbahaya.
03:11Dan bisa dilihat di belakang saya akan ditunjukkan oleh juru kamera Bimowijak sana agar mendapat gambaran bagaimana kondisi di jalanan
03:22di kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
03:24Saat ini saya berada di jalan Kerinci, kecamatan Pahandut, bagaimana sulit sekali untuk melihat ke depan begitu.
03:31Karena kabut asap begitu tebal dan tidak hanya mengganggu penglihatan, saudara, kabut asap ini juga mengganggu kesehatan warganya.
03:42Bahkan berdasarkan data yang dihimpun begitu di kota Palangkaraya sendiri,
03:50kasus infeksi saluran pernapasan akut atau ISPA ini telah melampaui 11.000 kasus jika diakumulasi sejak Juni 2026.
04:00Bahkan dari itu, dari pemerintah kota menyediakan 43 titik rumah oksigen dan 2 puskesmas yang beroperasi selama 24 jam
04:12sebagai bantuan bagi masyarakat yang merasa sesak dan keluhan-keluhan pernapasan lainnya untuk mendapatkan pertolongan pertama begitu.
04:21Tak hanya itu, dari pemerintah kota Palangkaraya juga menyediakan layanan bus oksigen gratis
04:29yang berjalan di seluruh kota Palangkaraya, Kalimantan Tengah dan berhenti di titik-titik tertentu
04:38untuk masyarakat dapat datang dan mendapatkan bantuan berupa oksigen murni yang bisa didapatkan secara gratis
04:47jika sudah merasa sesak begitu, Imron.
04:50Baik kebut asap di wilayah Palangkaraya semakin tebal, jarak pandang sangat terbatas
04:55dan kualitas udara masih berada pada level berbahaya.
04:58Terima kasih atas laporan Anda, Jurnalis Kompas TV, Zahu Majid dan Juru Kamera, Bimo Wicaksana.