- 2 hari yang lalu
KOMPAS.TV - Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) memutuskan pemilihan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menggunakan mekanisme ahlul halli wal aqdi (Ahwa). Keputusan tersebut diambil melalui voting dalam forum muktamar.
Kader Muda NU Muhammad Khozin mengatakan mekanisme Ahwa dipilih sebagai jalan tengah antara aspirasi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dengan supremasi para ulama.
"Dengan adanya sistem penghitungan Ahwa ini setidaknya meminimalisir dan menutup ruang itu. Karena kenapa? Karena dalam tahapan election-nya PW dan PC tetap diberikan ruang dengan lima nama itu, tapi selection-nya itu ada di tingkat Ahwa," kata Muhammad Khozin dalam program Sapa Pagi, Minggu (30/8/2026).
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menilai mekanisme Ahwa memiliki kelebihan dan kekurangan.
Salah satu kelebihannya adalah mengembalikan supremasi kiai serta menjaga marwah NU dari isu intervensi dan politik uang.
Baca Juga Ini Agenda Sidang Pleno Empat Muktamar NU ke-35 dan Skema Pemilihan Ketum PBNU | KOMPAS SIANG di https://www.kompas.tv/regional/688123/ini-agenda-sidang-pleno-empat-muktamar-nu-ke-35-dan-skema-pemilihan-ketum-pbnu-kompas-siang
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/688127/full-muktamar-ke-35-nu-ahwa-jadi-mekanisme-pemilihan-ketum-pbnu
Kader Muda NU Muhammad Khozin mengatakan mekanisme Ahwa dipilih sebagai jalan tengah antara aspirasi Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) dan Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) dengan supremasi para ulama.
"Dengan adanya sistem penghitungan Ahwa ini setidaknya meminimalisir dan menutup ruang itu. Karena kenapa? Karena dalam tahapan election-nya PW dan PC tetap diberikan ruang dengan lima nama itu, tapi selection-nya itu ada di tingkat Ahwa," kata Muhammad Khozin dalam program Sapa Pagi, Minggu (30/8/2026).
Sementara itu, Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi menilai mekanisme Ahwa memiliki kelebihan dan kekurangan.
Salah satu kelebihannya adalah mengembalikan supremasi kiai serta menjaga marwah NU dari isu intervensi dan politik uang.
Baca Juga Ini Agenda Sidang Pleno Empat Muktamar NU ke-35 dan Skema Pemilihan Ketum PBNU | KOMPAS SIANG di https://www.kompas.tv/regional/688123/ini-agenda-sidang-pleno-empat-muktamar-nu-ke-35-dan-skema-pemilihan-ketum-pbnu-kompas-siang
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/688127/full-muktamar-ke-35-nu-ahwa-jadi-mekanisme-pemilihan-ketum-pbnu
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:01Pemilihan ketum PBNU di Muktamar ke-35 NU yang dijadwalkan pada Sabtu malam diundur dan akan diselesaikan pada hari Minggu
00:09ini.
00:09Muktamar ke-35 Nadlatul Ulama akhirnya menetapkan mekanisme pemilihan ketua umum pengurus besar Nadlatul Ulama.
00:17Ini menggunakan mekanisme Ahlul Haliwal Akdi atau Ahwa.
00:21Seperti apa sebenarnya mekanismenya?
00:23Kita akan bahas bersama dengan Kadar Budha NU Muhammad Kozin dan juga Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia Burhanuddin Muhtadi.
00:31Selamat pagi, Assalamualaikum Prof. Burhan dan juga Gus Kozin.
00:37Assalamualaikum Prof.
00:39Selamat pagi, Gus.
00:41Gus Kozin, saya muka Anda dulu yang kebetulan lagi di jobang juga ya Gus pagi hari ini.
00:46Nah Gus kemarin kan seharusnya pemilihan ketua umumnya di Sabtu malam gitu.
00:50Tapi mungkin karena ada dinamikanya, mekanismenya saja kemarin belum fix gitu ya.
00:55Sampai akhirnya ada mekanisme lewat Ahwa, pemilihan ketua umumnya.
00:59Ini sebenarnya kemarin seperti apa dinamikanya, Gus?
01:02Ya tadi malam sampai dengan dini hari ya, diputuskan melalui voting bagi para muktamirin.
01:13Untuk kemudian ini satu sejarah baru yang biasanya untuk pemilihan, apa namanya, TANFID, ketua umum, itu dilakukan melalui voting, one
01:24man one put.
01:25Tadi malam diputuskan untuk dilakukan melalui mekanisme Ahwa, penjaringan untuk ketua umum TANFIDIAH, PBNU.
01:36Nah kemudian ini kan mekanisme yang baru dilakukan di tahun ini dan juga dipilih melalui voting.
01:42Memang kemarin seperti apa?
01:44Musyawarah yang berjalan hingga akhirnya agak menemukan kebuntuan gitu, sampai akhirnya voting gitu Gus?
01:52Ya mekanisme yang diatur melalui tatibnya kan seperti itu.
01:55Yang opsi pertama itu, satu keputusan dicapai melalui musyawarah mufakat.
02:00Jika itu tidak tercapai musyawarah mufakat, maka dilakukan melalui voting.
02:04Nah tradisi di setiap pelaksanaan muktamar sebelum-sebelumnya, itu untuk TANFIDIAH itu dilakukan melalui voting.
02:13Artinya PCNU dan PWNU di tingkat cabang dan tingkat wilayah itu menuliskan satu nama.
02:20Dari rekapitulasi itu nantinya biasanya ada 99 kandidat yang mendapatkan suara minimal itu akan lolos di putaran kedua dan seterusnya
02:31sampai dengan final.
02:32Nah untuk saat ini ada semangat dari beberapa kandidat yang sudah beredar di publik,
02:41ingin adanya penegasan dan penguatan supremasi dari ahlul ahli wal akdi atau ahwa tanpa menghilangkan porsi.
02:49Jadi ada porsi yang tidak ditinggalkan suara daripada PW dan PC, tapi ada supremasi juga yang ditegaskan daripada ahlul ahli
03:01wal akdi.
03:01Artinya supremasi keulamaan, para kiai-kiai host, tokoh dari yang sembilan ini tetap tidak dilompati seperti itu.
03:09Jadi ini jalan tengah yang terbaik, terbukti ketika voting tadi malam, opsi untuk kemudian dipilih melalui mekanisme ahwa ini dipilih
03:22sekitar 401 suara berbanding 150 yang tetap dengan mekanisme voting.
03:29Ada satu suara yang tidak sah.
03:30Oke baik, saya Pak Prof. Furhan, Anda melihat dinamika yang kemarin seperti apa, terutama di Muktamar 35 di tahun ini
03:39dibandingkan dengan 2021 yang lalu,
03:41ini kan ada yang baru nih, mekanisme yang baru untuk memilih Ketua Umum. Seperti apa Anda melihatnya?
03:48Ya, sebenarnya tidak persis baru ya. Muktamar ke-27 di Sutubondo tahun 1984, itu pertama kali mekanisme ahwa diperkenalkan bukan
03:59hanya dalam memilih Roy Sam,
04:01tapi juga Ketua Tanvidya. Jadi saat itu terjadi kesepakatan antar ulama host gitu ya, untuk memilih Roy Sam,
04:11G. Ahmad Siddiq dan Gus Dur sebagai Ketua Tanvidya sebagai satu simbol perlawanan melawan dominasi G. Idham Khalid.
04:22Jadi itu pertama kali, Roy Sam dan Ketua Tanvidya dipilih secara bersamaan melalui mekanisme formatur atau Ahlul Haliwal Abdi.
04:33Meskipun beberapa Muktamar berikutnya hanya formatur atau Ahwah saja yang memiliki keunangan untuk memilih Roy Sam.
04:45Sementara untuk pemilihan Ketua Tanvidya, itu diberikan secara langsung kepada Muktamirin.
04:51Nah, sekarang kembali lagi ke mekanisme seperti yang kita akan pernah lalui ya, tahun 1984 pada saat Gus Dur dan
05:02G. Ahmad Siddiq terpilih.
05:03Nah, pertanyaannya apa yang menjelaskan perubahan dinamika itu?
05:07Kalau kita lihat, terutama pernyataan dari G. E. J. Zulfa Mustafa, bahwa beliau mengatakan sudah terjadi kesepakatan antar para bakal
05:20calon ketua umum,
05:22beliau sebut langsung beliau sendiri, kemudian Gus Kikin, kemudian dia juga sebut Gus Rozin.
05:30Agak mirip nih, Gus Hozin, Gus Rozin.
05:36Kemudian beliau juga sebut nama-nama lain.
05:38Hanya satu nama yang beliau tidak sebut, yaitu kesepakatan untuk memilih Ketua Tanvidya melalui Ahwah.
05:45Satu nama yang beliau tidak sebut adalah Gus Yahya.
05:49Jadi artinya sudah ada kesepakatan di tingkat elit, di luar dari Gus Yahya,
05:55bahwa proses pemilihan Ketua Tanvidya pada Muktamar kali ini,
06:00bukan hanya lewat, bukan hanya pemilihan Roisam ya,
06:05tapi juga Ketua Tanvidya, yaitu melalui Ahwah.
06:09Nah, dari situ kita tahu bahwa ternyata tetanya sudah berubah.
06:14Sebelumnya banyak sekali nama yang beredar,
06:17termasuk Menteri Agama, Pak Nasarwin Umar,
06:21termasuk juga Gus Yusuf, atau Gus Salam,
06:26termasuk juga Nama Mas Hesput,
06:28tentu saja incumbent Gus Yahya.
06:31Tetapi sejak pengumuman sebelum voting dimulai oleh Gus Zulfa,
06:36bahwa pemilihan Ketua Tanvidya itu juga melalui Ahwah.
06:41Sepertinya tinggal ada dua kubu.
06:44Kubu pertama adalah Gus Yahya,
06:46versus selain kubu Gus Yahya.
06:50Nah, selain kubu Gus Yahya,
06:53itu sepertinya sudah solid untuk memilih paket pemilihan Roisam
06:59dan Ketua Tanvidya melalui Ahwah.
07:03Nah, ini sepertinya dinamika terakhir yang terbentuk.
07:07Dan kalau kita lihat sekian ratus yang menolak pemilihan via Ahwah,
07:12sepertinya, sepertinya ya, itu memang basis loyalis Gus Yahya.
07:18Sebab menurut saya,
07:20kalau pemilihan Ketua Tanvidya melalui proses voting secara langsung,
07:26itu dinamika elektoralnya menjadi lebih tak terduga.
07:30Ketimbang misalnya melalui sembilan anggota Ahwah.
07:34Karena kalau sembilan anggota Ahwah yang memilih Ketua Tanvidya,
07:39itu relatif lebih bisa,
07:42tanda kutip, terkendali atau terkontrol.
07:44Dibanding misalnya mengendalikan ratusan mutamirin.
07:48Ketika mereka diberikan hak untuk memilih siapa yang menjadi Ketua Tanvidya BPNU.
07:53Oke, tapi Prof. Burhan,
07:55kalau kita melihat ini kan hasil votingnya kemudian hampir 70 persen,
07:58kalau tidak salah, kalau saya tidak salah hitung,
08:0070 persen mutamirin ini memilih untuk mekanisme yang Ahwah.
08:04Apakah kita bisa melihat sebenarnya,
08:05kalaupun melalui voting juga hasilnya bisa jadi sama nanti,
08:09one win one vote, hasilnya ternyata memenangkan misalnya kubu yang satunya ini?
08:14Asal solid ya, asal solid ya.
08:17Dalam pengertian Gus Yahya versus satu rival
08:22yang dikeluarkan oleh kubu selain Gus Yahya,
08:26mungkin bisa menang juga.
08:28Cuma kan masalahnya adalah ada banyak poros nih.
08:33Ini tempo ya, Gus Hozin ya, yang nyebut ya.
08:36Poros yang pertama adalah poros yang disuarakan
08:40misalnya oleh kekuasaan Gus Kikin ya.
08:44Kemudian juga sebelumnya Bledar,
08:46Pak Nasarwin Umar.
08:48Kemudian PKB sendiri sebelumnya punya calon sendiri.
08:51Bisa Gus Salam dari Denanyar,
08:55atau Gus Yusuf Futuri ya.
08:56Gus Yusuf ini sama dengan saya,
08:58ini pendukung MU ini ya.
09:00Terus kemudian ada lagi nama yang lain,
09:03misalnya Gus Rozin dari PWM Jawa Tengah.
09:05Ada banyak nama sebenarnya,
09:07di luar dari incumbent.
09:08Nah, tetapi, lagi-lagi,
09:11kalau banyak nama ini bersatu ya,
09:13sepertinya tersirat dalam suara yang kemarin
09:17memutuskan untuk mendukung
09:19formatur atau AHWA melalui proses pemilihan ketuatan vidya.
09:23Jadi ketuatan vidya dipilih melalui AHWA itu,
09:27itu ternyata didukung oleh sekitar 70% dari Muta Mirim.
09:31Yang kurang lebih adalah basis dukungan
09:33kubu di luar dari kusyahya.
09:37Tetapi lagi-lagi,
09:39Mas, ya,
09:40kalau melalui pemilihan salah langsung,
09:43itu kan betul-betul nggak terkendali,
09:44termasuk dampak negatifnya adalah efek politik uang.
09:48Nah, ini nanti yang akan saya bahas ke Prof. Burhan,
09:51tapi saya ke Gus Kauzin dulu.
09:52Gus Kauzin, kalau kita bicara soal sistem AHWA ini,
09:55sebenarnya, berarti hari ini yang akan diawali adalah
09:57memilih AHWA-nya terlebih dahulu,
09:59kemudian Roy S. Am,
10:00baru ketua PBNU ini akan dipilih nanti
10:05dari calon-calon yang diajukan namanya oleh PCNU,
10:08juga PWNU.
10:08Berarti ini prosesnya akan sangat panjang hari ini, Prof.
10:11Apa-apa, Gus Kauzin?
10:12Bisa lebih dari satu hari mungkin?
10:14Bisa panjang, nih?
10:15Nggak, nggak.
10:16Diupayakan, kalau kita dapat info dari panitia internal,
10:22itu diupayakan hari ini tuntah.
10:23Jadi bukan pemilihan AHWA, tabulasi,
10:26karena nama-nama yang disodorkan oleh suriah
10:29di tingkat wilayah dan cabang,
10:31itu sudah disertakan ketika tahap registrasi awal.
10:34Dan itu sudah dimasukkan di satu kotak
10:38yang tidak menggunakan kunci,
10:40jika dibuka itu pecah lah, seperti itu.
10:42Ternyata tingkat keamanannya itu bisa relatif dipercaya.
10:46Jadi nanti itu sistemnya adalah tabulasi,
10:49penghitungan untuk sembilan nama teratas untuk AHWA.
10:52Setelah itu kemudian AHWA melakukan rapat internal
10:55untuk menentukan ROISAM,
10:57terus kemudian ada voting atau pengusulan lima nama itu.
11:03Lima nama itu harus juga mendapatkan persetujuan dari ROISAM
11:08yang terpilih untuk maju ke tahapan berikutnya.
11:12Artinya di internal AHWA.
11:15Jadi PW dan PC itu akan mengajukan lima nama.
11:18Lima nama untuk kemudian dari lima itu
11:22nanti menjadi ruang internal dari AHWA
11:24untuk memutuskan siapa dari lima nama itu.
11:27Oke baik, soal ini,
11:29mungkin yang menjadi pertanyaan adalah,
11:32bisa jadi ini mengurangi dalam tanda kutip
11:34ini partisipasi ataupun juga mengakomodasi
11:37suara-suara dari muktamirin secara individual
11:39seperti itu, Gus Kozin.
11:41Seperti apa ada menanggapinya?
11:43Ya, orientasi utamanya itu
11:45ya betul yang disampaikan Prof. Burhan.
11:48Kita tidak bisa pungkiri lah.
11:50Ini sudah menjadi rahasia umum ya.
11:52Tensi, apa namanya,
11:55polarisasinya sangat tajam
11:56dengan nuansa potensi juga
11:59adanya manipolitik.
12:01Tentunya ini kan tidak sesuai
12:03dengan spirit dasar dan makna dasar
12:05daripada Nahdlatul Ulama gitu kan.
12:08Dengan adanya sistem penghitungan AHWA ini
12:11setidaknya meminimalisir dan menutup ruang itu.
12:14Karena kenapa?
12:15Karena dalam tahatan election-nya
12:19PW dan PC tetap diberikan ruang
12:21dengan lima nama itu.
12:23Tapi selection-nya itu ada di tingkat AHWA.
12:27Seperti itu.
12:28Jadi tidak sama sekali mengurangi.
12:30Ya, selama ini kan positioning suriah
12:32di tingkat cabang dan wilayah itu
12:34sebagai pengendali dan pimpinan tertinggi organisasi.
12:38Ro'isam itu pimpinan tertinggi organisasi
12:40di Jamiyan atau Tululama.
12:42Sementara Tanfidiyah itu adalah pelaksana.
12:45Nah, untuk memonitoring itu
12:47kita mulai dari tahapan election ini.
12:50Dari tahapan pemilihan.
12:52Jadi kontrol utama itu tetap ada di AHWA
12:55tapi porsi daripada PC dan PW ini
12:59tidak dihilangkan.
13:00Dengan lima nama yang disodorkan itu
13:02tidak ada hak yang dikurangi.
13:04Seperti itu.
13:05Oke, paling tidak ini adalah suara bersama
13:07dari tingkat wilayah dan juga cabang.
13:09Bukan individual muktamirin seperti itu ya.
13:11Prof. Burhan, tadi dilanjutkan lagi
13:13soal sistem AHWA ini
13:15yang kemudian diharapkan bisa
13:17meminimalisasi dampak misalnya
13:19soal money politics
13:20atau misalnya juga ada intervensi eksternal
13:24misalnya. Apakah itu memang bisa
13:26meminimalkan itu semua
13:28atau justru ketika sistem AHWA yang dipakai
13:31ini polarisasi semakin menajam?
13:36Begini ya, memang ada
13:38track off-nya ya ketika sistem AHWA digunakan kembali
13:41setelah sekian lama tidak dipakai
13:44terutama dalam proses pemilihan
13:45Ketua Tanvidya NU ya.
13:49Plus-nya terutama dalam konteks pemilihan
13:53Ketua Tanvid melalui AHWA adalah
13:56Supremasi Kiai ya, itu kembali
14:00ditetapkan dalam kedudukan yang terhormatnya.
14:05Dan ini plus yang kedua
14:07NU dikembalikan marwahnya
14:09terutama bagaimanapun
14:11kalau proses pemilihan secara langsung
14:14seperti yang kita saksikan
14:16dalam banyak muktamar-muktamar sebelumnya
14:19itu kan muncul isu-isu yang tidak sedap
14:23termasuk isu intervensi dari luar
14:26termasuk juga isu manipolitik ya
14:28berkaitan dengan suara yang diberikan oleh muktamirin
14:33nah ini tentu saja bisa mengurangi
14:36citra atau kehormatan NU
14:39karena proses pemilihan Ketua Tanvid
14:41organisasi Islam terbesar di Indonesia
14:44bahkan di dunia
14:45itu tidak bisa sepi dari manipolitik
14:49itu plusnya sistem AHWA
14:51tetapi ada juga minusnya
14:54bagaimanapun ruang demokratis
14:58dari muktamirin untuk menyuarakan siapa
15:01yang mereka akan pilih sebagai Ketua Tanvid
15:05itu diberikan kepada sekelompok elit
15:08Kiai ya
15:10yang tentu saja sedikit banyak mengurangi
15:14saya tahu memang masih tetap ada proses
15:18demokratis ya
15:19yang muncul dalam proses pemilihan AHWA
15:21tetapi tetap
15:22nuansanya itu tidak serame
15:24misalnya kalau proses pemilihan
15:26Ketua Tanvid melalui
15:28secara langsung
15:29jadi bahkan
15:30ada banyak ledekan ya
15:32ada banyak guyonan
15:33pemilihan ketua BBNU itu
15:36jauh lebih rame
15:37ketimbang pemilihan ketua
15:39umum partai-partai
15:40itu karena ini
15:42karena saking demokratisnya
15:44kalau kita rujuk beberapa muktamir sebelumnya
15:47itu kan betul-betul luar biasa
15:49nah
15:50kalau kita tanya dengan apakah
15:52melalui sistem AHWA
15:55ruang intervensi dari luar
15:57akan hilang sepenuhnya
15:59saya juga tidak terlalu yakin gitu ya
16:01bukan berarti saya mengecilkan arti
16:04Kiai yang ada di AHWA
16:07tetapi lagi-lagi namanya intervensi
16:08akan mencari celah bagaimanapun caranya
16:11memang
16:12memang intervensi itu akan jauh lebih sulit
16:16kalau misalnya
16:18dilakukan proses pemilihan secara langsung
16:22kenapa?
16:23karena mengendalikan ratusan muktamirin
16:25itu jauh lebih susah mas
16:27ingat ya kasus muktamir di Cipasung
16:29waktu itu
16:31Pak Soeharto itu sudah punya desain
16:34untuk memenangkan Abu Hasan
16:36jadi intervensi kekuasaan luar biasa
16:39kuat ya
16:40Gus Dur dan pendukungnya
16:42dilarang
16:42atau mengalami banyak
16:44restriksi dalam muktamir itu
16:47tetapi karena proses pemilihan
16:49dilakukan secara langsung oleh muktamirin
16:51Gus Dur tetap menang
16:52jadi lagi-lagi mengendalikan ratusan orang
16:56itu jauh lebih sulit
16:58uang sekalipun diberikan kepada anggota muktamirin
17:01itu belum tentu
17:02mungkin uangnya diterima
17:04sama anggota muktamirin yang punya suara
17:08tapi belum tentu dipilih
17:10jadi memang tidak mudah
17:12mengendalikan ratusan orang
17:14tapi tentu saja kita punya harapan besar
17:17kepada siapapun yang nanti terpilih sebagai anggota HUA
17:20supaya meletakkan supermasi suriah
17:24meletakkan supermasi KIAI ya
17:26karena bagaimanapun
17:28NU ada organisasi KIAI di atas segalanya
17:31untuk kepentingan NU yang lebih baik ya
17:34oke baik ini kelemahan yang ada di sistem AHWA
17:37misalnya intervensi lebih mudah dilakukan
17:40Gus Kozin jika memakai sistem AHWA ini
17:43apalagi ada isu-isu sebelumnya
17:45bahwa ada paket-paket ketua umum
17:47dan juga Roy S.A.M. yang bermunculan
17:50dari sejumlah poros
17:51seperti apa Anda menanggapinya?
17:54iya artinya dalam setiap pilihan
17:55pasti ada plus minusnya ya
17:57kalau tadi mengilustrasikan
18:00memperbandingkan perburuhan
18:01pada saat kejamannya Presiden Soeharto
18:05dengan Gus Dur
18:06ya ada perbedaan figur dan kultur ya
18:09waktu itu ada tokoh sebesar Gus Dur
18:12saat ini mungkin relatif tidak ada
18:14tokoh sebesar Gus Dur
18:15secara struktur
18:16eh secara figur
18:17dan secara kultur
18:18ya apa kondisi di lapangan masyarakat kita dulu
18:23dengan sekarang memang relatif berbeda ya Prof
18:25terkait dengan pragmatisme politik
18:28dan segala macam
18:29kita tidak bisa tidak bisa pungkiri
18:31tapi prinsip dasar di kalangan pesantren itu
18:35darul mafasid muqaddimun alajal bil masoleh
18:39jadi menghindari mafsadat yang di depan mata
18:41itu jauh lebih diutamakan
18:43daripada kita mencari kemaslahatan yang lain
18:45apa itu mafsadat di dalam
18:47apa namanya beberapa waktu terakhir
18:49menjelang muktamar ini
18:51ya terkait dengan
18:52adanya quote-unquote intervensi
18:55dan potensi manipolitik yang begitu masif
18:58tentunya kita sebagai warga NU
19:00tidak tidak berharap situasi itu
19:03tetap berlanjut seperti itu
19:05karena bagaimanapun sesuai dengan namanya
19:07Nahdlatul Ulama ini adalah
19:09organisasi kebangkitan para ulama
19:11yang memiliki supremasi
19:14ketokohan, keilmuan, keteladanan
19:16jika kemudian dalam perjalanan suksesi kepemimpinannya
19:19kemudian diawali
19:21dari dinamika-dinamika yang tidak baik
19:24maka ini kan mendelegitimasi
19:26mendowngrade posisi
19:28jamian adlatul ulama
19:30itu satu hal
19:31kemudian yang kedua
19:32bahwa ada plus minusnya
19:34dalam setiap pilihan mekanisme
19:35pasti ada plus minusnya
19:37tapi bagi muktamirin
19:39terbukti dengan voting 401
19:41berbanding 150
19:42inilah yang dianggap
19:44darulma fasid ya
19:45menghindari kemasadatan
19:47yang jauh lebih besar
19:48bagi keberlangsungan jemian adlatul ulama
19:51ke depan
19:52bahwa kemudian
19:535 nama yang dipilih
19:55itu kan melalui penjaringan
19:57pasti sudah berjenjang
19:58di tingkat wilayah
19:59dan di tingkat cabang
20:00kemudian dari 5 itu
20:02ditashweh lagi
20:04kemudian diverifikasi lagi
20:06dari 9 nama akhwa ini
20:08untuk kemudian 5
20:10ini siapa yang akan dipilih
20:13nah kalau dalam tradisi NU
20:16kita kan ada ketakdiman juga
20:18ada kebasis kepatuhan juga
20:21kepada para masyaih
20:22kiblatnya
20:23kalau kita tidak patuh
20:24dan tidak meyakini
20:25apa yang menjadi da'u
20:27daripada para masyaih
20:28siapa lagi yang mau dijadikan patron kita
20:31di dalam berorganisasi
20:32yang seperti itu
20:33paling tidak nama-nama yang
20:34nama-nama yang akan dipilih oleh
20:36Roy S. Amin ini juga
20:37pastinya nama-nama yang seharusnya
20:39sudah secara berjenjang
20:40disetujui oleh
20:41Pala Nadelin gitu ya
20:43paling tidak
20:44mewakili suara-suara mereka
20:45walaupun secara tidak langsung
20:46tapi Gus Kozin ini juga
20:48salah satu yang menarik
20:49di Muktamar kali ini
20:50adalah soal
20:51rangkap jabatan gitu ya
20:53yang akhirnya kemudian
20:54ada ketentuannya
20:56bahwa yang tidak boleh
20:57merangkap jabatan politik
20:58di luar NU
21:00itu adalah
21:00Ketua Umum
21:01dan juga
21:02Roy S. Amin
21:03kalau tidak salah sebelumnya
21:04Ketua
21:05Wakil
21:06dan juga
21:06Roy S. dan Wakilnya
21:07ini berarti ada pelonggaran
21:10aturan
21:11rangkap jabatan ini
21:11atau seperti apa?
21:12iya ini semakin menegaskan
21:15bahwa
21:16dalam eksistensi
21:18keberlangsungan
21:18suatu organisasi
21:20khususnya
21:20bagi kami
21:22di Jemian
21:23atau Tilulama
21:24tidak boleh kemudian
21:25terlalu dibikin
21:26ruang jarak yang lebar
21:28antara Ulama
21:29dan Umaro
21:30bagaimanapun
21:31ada misi perjuangan
21:32dakwah yang
21:34diemban oleh
21:35Jemian atau Tilulama
21:36di bidang
21:37ad-dinia
21:38di bidang
21:38siasa
21:39di bidang
21:40pemerintahan
21:41pendidikan
21:41ekonomi
21:42artinya itu
21:43bukan sesuatu
21:44yang harus
21:47dipertentangkan
21:47makanya
21:48nanti akan ada
21:49pelonggaran
21:50untuk mandataris
21:51yang dipilih
21:52melalui forum
21:52Muqtamar
21:53itu adalah
21:53Roy S. Amin
21:54dan Ketua Umum
21:56Tanfidia
21:56selebihnya
21:57dibolehkan
21:58melakukan rangkap
22:00jabatan
22:01di jabatan-jabatan
22:02politik
22:03entah itu
22:03di eksekutif
22:04atau di legislatif
22:05menurut kami
22:06ini satu langkah maju
22:07ya
22:07satu langkah maju
22:08untuk kemudian
22:09meletakkan
22:10organisasi itu
22:11bukan sebagai
22:12satu ekosistem
22:14yang vis-a-vis negara
22:15tapi ini menjadi
22:16mitra strategis negara
22:18yang apa
22:18dijalankan oleh negara itu
22:20bagian integral
22:21daripada misi perjuangan
22:22Jemian atau Tilulama
22:23juga
22:23seperti itu
22:24oke tujuannya adalah
22:25semakin dekat
22:26sebagai mitra strategis
22:27pemerintah
22:27tapi saya mau ke
22:28Prof. Uruhan
22:29bicara soal fungsi
22:31mitra
22:31ini kan tidak hanya
22:32mitra strategis
22:33tapi juga mitra
22:34mitra kritis
22:34ini PBNU
22:35ke pemerintah
22:36nah
22:36kalau misalnya
22:37ada aturan yang
22:38kemudian dilonggarkan
22:39seperti ini
22:39Prof. Uruhan
22:40yang awalnya
22:41wakil ketua dan juga ketua
22:43kemudian
22:43sekarang jadi ketuanya saja
22:45seperti apa ke depannya
22:46kalau menurut Anda
22:49ya memang gini ya
22:52dalam sebuah acara PKB
22:54di Bandung
22:56saya menyampaikan kritik
22:58terhadap
22:59PBNU belakangan ini
23:01yang menurut saya
23:02kekurangan
23:02semangat kritik
23:04terhadap
23:05kekuasaan
23:08terutama
23:09sejak
23:09dan berlangsung
23:11sampai sekarang
23:12jadi kita
23:14kita memerlukan
23:14NU yang
23:16kuat
23:17sebagai buffer zone
23:18dari kelompok
23:19masyarakat sipil
23:20jadi
23:21terutama sejak
23:23NU
23:24kembali ke hitah
23:25tahun 1984
23:27waktu itu
23:28kita sepakat
23:29bahwa NU
23:30dipisahkan dengan
23:31kepentingan
23:32politik praktis
23:33dipisahkan disini
23:34sebagai sebuah entitas
23:35bahwa kemudian
23:37aktivis NU
23:38ada yang aktif
23:38di partai
23:39dipersilahkan
23:40tetapi
23:41ada simbol-simbol
23:43kepengurusan
23:43PBNU
23:44yang diharapkan
23:46tidak
23:46ada di dua
23:48entitas sekaligus
23:50baik itu
23:51di entitas politik
23:52maupun di entitas
23:53ormas
23:53nah kalau misalnya
23:55menjadi double agent
23:57ada di dua
23:59level sekaligus
24:01itu
24:01dikhawatirkan
24:03kalau kita
24:03menujuk pada
24:04semangat
24:04mengutama
24:05itu akan
24:06mengurangi
24:07independensi
24:08atau semangat
24:09hitah
24:10NU
24:10nah tetapi
24:12apakah kemudian
24:13tidak menjadi
24:14pengurus
24:15partai politik
24:16lantas
24:17mengembalikan
24:18semangat
24:19hitah NU
24:20ya tidak
24:21tidak ada jaminan
24:22tidak menjadi
24:24pengurus
24:24partai politik
24:25bukan berarti
24:26tidak politis
24:26kan gitu
24:27tetapi
24:28setidaknya
24:28mengurangi
24:29potensi
24:30ke arah sana
24:31nah
24:32semangatnya
24:33mungkin
24:34hanya di level
24:36kenapa
24:36hanya di level
24:37Roy Sam
24:38sama ketua
24:39Tanfid
24:39itu mungkin
24:40semacam
24:41simbol ya
24:42dari
24:42pengurus
24:43PPNU
24:43tetapi
24:44garis besarnya
24:45kira-kira
24:45adalah
24:47PPNU
24:48harus kembali
24:49menjadi
24:50apa namanya
24:51menjadi
24:52kelompok
24:54buffer zone
24:54yang
24:55mampu
24:56menyuarakan
24:56aspirasi
24:57umat
24:58terutama
24:58ketika
24:58terjadi
24:59apa namanya
25:01hal-hal
25:01yang memang
25:01perlu di
25:02kritik
25:03jadi semangat
25:04amar-ma'ruf
25:05harus muncul
25:06terus
25:06dari PPNU
25:08dan itu
25:09akan muncul
25:11kalau misalnya
25:12semangat
25:12hitoh itu
25:13terus ada
25:14jadi kalau
25:15istilah saya
25:16kemarin itu
25:16dalam acara
25:17di Bandung
25:18saya sebut
25:19dengan istilah
25:19apa namanya
25:22PPNU
25:23belakangan ini
25:24terlalu
25:24terlalu kuat
25:25menguasa
25:26keidam halidnya
25:27terlalu kurang
25:28nuansa
25:28kusdurnya
25:29yang
25:30yang bagus
25:31itu imba
25:31keidam ini
25:33mantan
25:34ketua
25:35PPNU
25:35yang sangat
25:36ini ya
25:37lihai
25:38bermain politik
25:39sementara
25:40Gus Dur
25:40itu mantan
25:41ketua
25:42PPNU
25:42yang
25:43menjadi sangat
25:44kuat citra
25:45sebagai
25:46kelompok
25:47pelindung
25:48masyarakat sipil
25:49nah butuh
25:50butuh
25:52sepanjang kombinasi
25:52kedua tokoh ini
25:53terutama
25:54untuk kepemimpinan
25:55NU ke depan
25:56oke nah terakhir
25:57para politik
25:58tapi juga
25:59tidak menjadi
26:00bagian
26:01atau subordinasi
26:02dari kekuasaan
26:03nah ini terakhir
26:04prop
26:04puluhan singkat saja
26:05jika Anda melihat
26:06calon-calon yang sekarang ada
26:07kemudian yang kuat
26:08kira-kira menang siapa
26:09bisakah kemudian kita menemukan
26:11kombinasi yang
26:12seperti kita mau tadi
26:14wah ini berat ini
26:15yang tahu nih
26:16Gus Hose
26:21begini ya
26:22ini lepas dari soal
26:24soal apa namanya
26:25soal
26:27siapa
26:27kan umurnya
26:28macam-macam ya
26:29siapa
26:30ada poros ini
26:31menitipkan nama ini
26:32saya tidak mau terjebak
26:34pada nama
26:35per nama
26:36saya
26:37saya ingin
26:38ada kriterian ini mas
26:39karena saya
26:40pikir dari NU juga
26:42jadi punya semacam
26:43harapan besar
26:44kepada pengurus
26:45PBNU ke depan
26:46nah harapannya adalah
26:48NU itu sebagai
26:49sebuah jamaah
26:50itu luar biasa itu
26:52ratusan juta
26:54orang ya
26:55survei saya itu
26:5660% orang Islam itu
26:57merasa dekat dengan NU
26:58jadi lebih dari
27:00120 juta
27:02orang Indonesia
27:02yang merasa dekat
27:03dengan NU
27:04dari sisi jamaah
27:06tapi dari sisi jamaah
27:07sebagai sebuah
27:08organisasi
27:09itu PRNU masih banyak
27:11jadi mohon maaf
27:12masih kalah
27:13dibanding Muhammadiyah
27:14dalam urusan
27:15misalnya ya
27:17menyantuli umat
27:18ini yang menjadi PR
27:20dan itu
27:21bisa terselesaikan
27:23kalau misalnya
27:24kepengurusan PBNU
27:25PBNU itu
27:26tidak terlalu
27:27menghambah
27:27pada kekuasaan
27:28dan punya
27:29dignity
27:30dignity disini
27:32artinya dia punya
27:33marwah juga
27:34logistiknya juga
27:36tidak terlalu
27:36lemah
27:37dalam arti
27:38tidak terlalu
27:39bergantung
27:40pada kekuasaan
27:41kekurusan sumber daya
27:42dan
27:43manajemennya
27:44harus kuat
27:44nah itu
27:45supaya tadi
27:46PRNU
27:47sebagai jamaah
27:48itu bisa
27:49terselesaikan
27:51satu persatu
27:51begitu
27:52saya gak ngomong
27:53soal calon ya
27:54nanti
27:54dianggap tim sukses
27:56baik
27:57kita lihat
27:58bersama-sama hari ini
27:58proses
27:59muktamar seperti apa
28:00mudah-mudahan
28:01di hari terakhir
28:01tidak nambah lagi
28:02gitu ya
28:03Gus Kozin
28:04karena mungkin
28:04prosesnya sangat panjang
28:05mudah-mudahan
28:06juga yang terpilih
28:07nanti bisa membawa
28:08NU ke depannya
28:08lebih baik
28:09mengurangi polarisasi
28:10dan juga tentunya
28:11bisa
28:13mengutamakan
28:13kepentingan umat
28:14di negeri ini
28:15terima kasih
28:16Gus Kozin
28:17kader muda NU
28:18dan juga
28:19Prof Buruharidin Muhtadi
28:20Direktur Eksekutif
28:21Indikator Politik Indonesia
28:22sudah bergabung
28:23di Sampai Indonesia Pagi
28:24Wassalamualaikum
28:25Terima kasih
28:28Prof
Komentar