Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Rapat kerja Badan Anggaran DPR RI bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Menteri PPN/Bappenas Rachmat Pambudy diwarnai interupsi saat pembahasan lanjutan RAPBN 2027, Kamis (27/8/2026).

Anggota Banggar DPR dari Fraksi PDI Perjuangan, Dolfie Othniel Palit, mempertanyakan klaim pemerintah mengenai pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan yang disebut berjalan cepat. Ia menyoroti kesenjangan antara rata-rata penghasilan buruh yang disebut Rp3,5 juta dengan rata-rata nasional Rp8,2 juta.

Baca Juga FULL! Susno & Pakar Pidana Soroti Hasil Ekshumasi Sutrimo, 3 Minggu Belum Keluar | KOMPAS PAGI di https://www.kompas.tv/video/688401/full-susno-pakar-pidana-soroti-hasil-ekshumasi-sutrimo-3-minggu-belum-keluar-kompas-pagi

Dolfie juga mempertanyakan klaim Bappenas mengenai pertumbuhan fiskal yang cepat. Menurutnya, sejumlah indikator justru menunjukkan perlambatan, mulai dari penurunan angka kemiskinan, rasio gini, nilai tukar petani hingga penciptaan lapangan kerja.

"Jadi sebenarnya siapa yang menikmati pertumbuhan tinggi ini?" menjadi sorotan utama dalam kritiknya terhadap arah pertumbuhan dan pemerataan ekonomi.

Produser: Prayogi Haro

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/688428/full-dpr-komisi-xi-fraksi-pdip-cecar-dua-menteri-prabowo-soal-klaim-pemerintah-ekonomi-tumbuh-cepat
Transkrip
00:00Jadi sebenarnya siapa yang menikmati pertumbuhan yang tinggi ini?
00:04Masa Bapak tetapkan di situ 0,367?
00:08Oh, baik-baik Pak.
00:10Iya.
00:10Nah itu kita koreksi aja Pak.
00:12Iya, maksudnya ada koreksi.
00:15Ketua, sebelum pindah boleh?
00:17Silahkan klarifikasi aja ini Pak Menteri.
00:21Dari indikator NTP-NTN-nya memang belum ada ya?
00:26Belum disampaikan.
00:30NTP dan NTN?
00:340,7, 0,8 ini bukan angka-angka NTP atau NTN yang biasanya.
00:42Biasanya 110.
00:44NTP-nya belum keluar itu.
00:45Jadi sudah ada apa nanti kita tambahkan Pak NTP-nya?
00:49Salah ketik juga.
00:50Ini digabung jadi indeks sehatan petani.
00:53Bapak mohonnya kan masing-masing kan?
00:55Ya, justru karena pada pembahasan.
00:59Terus, terus, terus.
01:00Karena dalam pembahasan sebelumnya Pak Menteri,
01:04indeks kesejahteraan petani 0,7, 0,8 itu abstrak.
01:09Bahkan Bapak Pena sendiri mengakui itu abstrak.
01:13Sehingga kita tambahkan kembali NTP dan NTN yang harus disampaikan pada pembahasan ini.
01:20Nah, enggak ada ini angkanya.
01:24Pak Menteri, saya ingin mengingatkan ketika Kem PPKF pembahasan,
01:30NTP angkanya ada,
01:33komodan nilai tukar nilaian angkanya juga ada.
01:37Dilengkapi aja nanti Pak Menteri.
01:39Dipanjah.
01:40Terima kasih Pak.
01:40Di nota keuangan sudah dilampirkan itu.
01:42Sudah untuk NTP maupun NTN.
01:46Berapa Pak?
01:46Ini tidak itu disini.
01:47Berapa lagi?
01:48Di nota saya cari-cari juga belum kelihatan itu.
01:52Berapa?
01:53Enggak ada Pak.
01:59Pak Ketua, satu lagi sekalian Pak Ketua.
02:02Sambil Pak Menteri mencari.
02:05Pak Menteri, biar nanti saja Pak Menteri,
02:07itu bisa dipanjah, disampaikan.
02:09Kita ada disini Pak.
02:11Jadi nilai tukar pertandingnya itu 126 sampai 128 tahun tahun 2027.
02:16Nilai tukar nilaiannya adalah 106 sampai 110 tahun 2027.
02:22Sekretariat minta tolong dimasukkan karena ini raker ya.
02:27Dimasukin dulu.
02:30Oh tayangannya?
02:32Mas, masukin dulu mas.
02:34Sebentar Pak Dolby.
02:48Bisa kan.
02:49Jangan sampai tipu bolak-balik.
02:54Oke Pak Dolby, yang kedua apa Pak?
02:56Ya, dari tayangan ini, pada saat kita rapat di KMPPKF,
03:01ada dua indikator yang belum masuk ini Pak.
03:05Satu, tingkat kemiskinan ekstrim.
03:09Apakah sekarang sudah tidak dicapai atau sudah tercapai,
03:13sehingga tidak menjadi sasaran pemerintah lagi.
03:15Nah ini perlu, pada saat kita membahas KMPPKF itu kita sepakati ada Pak.
03:20Ada, ada.
03:21Tingkat kemiskinan ekstrim.
03:25Ada Pak, di total keuangan dituliskan nol, nanti kita tambahkan disini Pak.
03:29Ya, ditambahin tolong ya.
03:31Terus satu lagi Pak, yang juga belum masuk.
03:34Ya.
03:35Penciptaan lapangan kerja baru pada tahun 2027.
03:41Penciptaan lapangan kerja baru tahun 2027.
03:45Itu juga belum masuk disini.
03:47Ada Pak, nanti kami tambahkan juga.
03:49Ya, maksudnya jangan sampai kelupaan Pak.
03:51Soalnya sekarang sering salah ketik, ini jadi susah kita.
03:54Ya.
03:55Saya bacakan angkanya 2,57 sampai 3,49 juta orang.
03:59Oke, yang pertama kita sepakati bahwa apa yang belum masuk disini,
04:06maka kita bersepakat bahwa di panja nanti itu harus muncul, panja A.
04:14Sehingga ketika dibahas oleh Komisi 11, nanti itu sudah ada ya.
04:22Ano Pak, ini terlalu sering Pak Menteri, antara yang disampaikan oleh Pak Presiden
04:28dengan di buku, kadang-kadang ada tipu memang.
04:32Bahwa Presiden menyampaikan 6 di nota yang kami terima, 5,9.
04:38Memang banyak, ano MBG 480, padahal sebenarnya 240 lampirannya.
04:44Memang banyak tipu-tipu di anokan.
04:47Makanya yang seperti ini, tolonglah Pak Menteri oleh jajaran di fooding yang benar,
04:54di fooding yang pas.
04:56Kalau Pak Menteri enggak dikasih fooding yang pas,
05:00dan seperti ini kurang enak juga, padahal notas sudah ada gitu loh.
05:04Sepakat Pak Menteri ya, nanti langsung dipanja ya.
05:07Nanti kami perbaiki dalam masa diskusi ini,
05:10dan memang diskusi ini memang untuk perbaiki yang kurang-kurang juga.
05:14Terima kasih atas koreksinya Pak.
05:16Iya.
05:17Saya lanjut Pak.
05:22Lanjut ya.
05:24Kita masuk ke asitektur APBN 2027, sehat, kredibel, dan berkelanjutan.
05:29Kita masuk ke sana.
05:31Pada tahun 2027, pemerintah optimis kinerja perekonomian nasional akan tetap solid dan terjaga
05:38seiring dengan terpiliharannya stabilitas makroekonomi dan dukungan kebijakan pemerintah.
05:46Pertumbuhan ekonomi ditargetkan sebesar 6 persen yang akan didorong oleh penguatan sinergi kebijakan fiskal,
05:51kebijakan moneter, dan sektor keuangan,
05:54serta optimalisasi peran dan antara dalam mendorong investasi strategis.
06:00Inflasi diproyeksikan terkendali pada kisaran 2,5 persen didukung oleh penguatan pengendalian harga pangan
06:07dan sinergi kebijakan antara pemerintah pusat, pemuda, dan bank Indonesia.
06:13Nilai tukar rupiah diproyeksikan berada pada level 17.500 per dolar AS
06:17dan rata-rata yield SBN 10 tahun sebesar 6,9 persen
06:23dengan stabilitas yang ditopang oleh penguatan pasar keuangan domestik,
06:27peningkatan pasokan devisa, dan terjaganya arus modal.
06:33Harga minyak mentah Indonesia ICP diproyeksikan sebesar 75 dolar per barel
06:38sementara lifting minyak bumi ditargetkan mencapai 610 ribu barel per hari
06:44dan lifting gas bumi sebesar 654 ribu barel setara minyak per hari.
06:52APBN akan dijaga prudan dan sustainable dengan berbagai upaya sebagai berikut.
06:58Yang pertama, kita terus mengoptimalkan pendapatan negara melalui peningkatan kebutuhan,
07:04kepatuan dan tax base, penguatan kortex, optimalisasi SDA,
07:09serta insentif fiskal yang terukur untuk mendorong investasi.
07:15Jadi di sini Pak Ketua, kita memperbesar tax base.
07:22Pemerintah sampai sekarang, enggak ada rencana untuk menaikkan tax tarifnya.
07:27Utamanya kita akan memperbaiki juga STM di tax collection kita,
07:32sehingga ke depan pegawai-pegawai saya di tax maupun biaya cukai akan lebih bersih
07:38sehingga peningkatannya akan lebih optimal.
07:40Yang kedua, belanja negara harus semakin berkualitas,
07:44lebih produktif, efektif, dan efisien untuk mengeselerasi efektif perekonomian.
07:49Ketiga, pembiayaan dikelola secara prudian dan inovatif
07:53dengan menjaga deficit utang dalam batas aman.
07:56Dengan kebijakan tersebut, RAPBN 2027 tetap ekspansif namun terukur
08:03dengan defisit 2,4 persen dari PDB,
08:07sehingga RAPBN mampu mendorong pertumbuhan sekaligus menjaga kesenambungan fiskal.
08:14Pendapatan negara RAPBN 2027 diproyeksikan mencapai Rp3.426 triliun
08:21atau tumbuh 6,8 persen dari outlook 2026 dengan rasio 12,23 persen terhadap PDB.
08:33Target pendapatan negara tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat kapasitas fiskal
08:37secara bertahap dan berkelanjutan.
08:45Pendapatan negara ini terdiri dari penerimaan perpajakan sebesar Rp2.908 triliun,
08:51penerimaan negara bukan pajak sebesar Rp517,4 triliun,
08:56dan penerimaan hibah sebesar Rp0,7 triliun.
09:01Peningkatan pendapatan negara akan ditempu melalui optimalisasi perpajakan
09:06dan penerimaan SDA dengan tetap menjaga keseimbangan antara penerimaan,
09:10investasi, dan pertumbuhan ekonomi.
09:14Pemerintah akan menjaga kebijakan pendapatan negara tetap adaptif
09:19terhadap dinamika ekonomi global,
09:22volatilitas harga komunitas,
09:25dan perkembangan ekonomi digital.
09:29Selanjutnya, penerimaan perpajakan tahun 2027
09:33diproyeksikan sebesar Rp2.908 triliun
09:36atau tumbuh 10,5 persen dari outlook 2026
09:41dengan rasio perpajakan atau tax ratio sebesar 10,38 persen
09:46terhadap PDB.
09:47Hal ini sejalan dengan penguatan aktivitas ekonomi
09:50dan keberlanjutan reformasi perpajakan.
09:54Penerimaan perpajakan sebut terdiri dari penerimaan pajak sebesar
09:58Rp2.591,4 triliun atau tumbuh 12,1 persen
10:02dan penerimaan kepabianan dan cukai sebesar Rp316,6 triliun.
10:10Pemerintah akan melanjutkan reformasi perpajakan
10:13secara berkelanjutan termasuk harmonisasi kebijakan perpajakan
10:18untuk memperkuat basis dan kapasitas penerimaan negara.
10:24Ini jangan diartikan intensifikasi, Pak.
10:28Kita hanya akan eksensifikasi saja sehingga yang bayar pajak,
10:33yang harusnya bayar-bayar, yang sudah bayar yang tidak diganggu.
10:37Peningkatan kepatuhan menjadi kunci dalam mengoptimalkan penerimaan
10:41melalui pemanfaatan teknologi, penguatan sinergi antar lembaga,
10:46serta penegakan hukum yang lebih efektif ini berlaku untuk pegawai kami juga.
10:55Jadi bukan hanya pembayar pajak, tapi juga penanggih pajak akan kami pastikan dilakukan dengan baik dan bersih.
11:05Belanja Pemerintah Pusat pada tahun 2027 akan diarahkan menuju belanja berkualitas
11:10dengan tetap menjaga kinerja pelayanan publik dan mendukung daya beli masyarakat
11:15untuk mencapai keberlanjutan pembangunan.
11:18Dari sisi perkembangan anggaran,
11:21Anggaran Belanja Pemerintah Pusat menunjukkan tren yang meningkat sejak tahun 2023 hingga RAPBN 2027.
11:29Dalam RAPBN 2027, anggaran Belanja Pemerintah Pusat direncanakan sebesar Rp3.362,29
11:37atau meningkat sebesar 3,6 persen dibandingkan outlook tahun 2026.
11:43Kebijakan Belanja Pemerintah Pusat yang akan ditempuh pada tahun 2027 antara lain
11:47dipokuskan untuk mendukung pencapaian target PKPN tahun 2027,
11:53juga optimalisasi belanja untuk mendukung kebijakan pemerintah,
11:57mendorong pertumbuhan ekonomi, peningkatan kualitas layanan publik dan SDM,
12:01serta menjaga daya beli masyarakat.
12:04Juga untuk mendorong pembangunan sarana dan prasarana yang mendukung pencapaian prioritas nasional.
12:09Kemudian juga untuk mengakselerasi penurunan kemiskinan
12:14dan penghapusan kemiskinan ekstrem berbasis DTSN
12:17serta penguatan program graduasi kemiskinan
12:20dan yang terakhir adalah untuk
12:22dengan menajamkan akurasi data penerimaan subsidi dan bansos
12:28agar lebih tepat sasaran.
12:32Anggaran pendidikan terus mengalami peningkatan.
12:35Pada era PBN 2027,
12:38direncanakan sebesar Rp820,9 triliun,
12:41mengalami pertumbuhan sebesar 13,9 persen dibandingkan outlook tahun 2026,
12:47yang antara lain dipergunakan untuk peningkatan akses dan kualitas pendidikan yang merata
12:54bagi seluruh masyarakat, antara lain melalui PIP kepada 22,1 juta siswa
12:59dan KIP kuliah kepada 1,1 juta mahasiswa.
13:04Juga untuk pembangunan sekolah unggul Garuda dan sekolah rakyat,
13:09peningkatan kualitas pembelajaran melalui makanan bergisi gratis,
13:12percepatan revitalisasi sekolah dan madrasah,
13:16peningkatan kesejahteraan pendidikan,
13:18peningkatan kesejahteraan pendidik dan tenaga kependidikan,
13:22pemberian BOS untuk 54,2 juta siswa
13:25dan BOP PAUD untuk 6,3 juta peserta didik,
13:29serta pemenuhan hak pendidikan dasar secara bertahap selektif dan afirmatif.
13:36Anggaran perlinsos merupakan salah satu instrumen penting
13:39untuk mengelindungi masyarakat dari risiko sosial,
13:43menjaga daya beli, dan meningkatkan kemampuan ekonomi masyarakat miskin dan rentan.
13:48Pada RAPBN 2027,
13:51anggaran perlinsos direncanakan sebesar Rp 549,9 triliun.
13:56Ini meningkat dibandingkan dengan atlook tahun 2026 yang sebesar Rp 500 triliun
14:01atau tumbuh 10 persen.
14:06Anggaran kesejahteraan dalam RAPBN tahun anggaran 2027
14:09direncanakan sebesar Rp 244,9 triliun
14:13atau tumbuh 1,7 persen dibandingkan atlook tahun 2026
14:18sebesar Rp 240,8 triliun.
14:21Kebijakan anggaran kesejahteraan diarahkan untuk mendorong
14:24peningkatan kualitas pelayanan kesehatan masyarakat
14:27antara lain melalui yang pertama peningkatan kesehatan dan gizi masyarakat
14:32termasuk program penuntasan tuberkulosis.
14:36Yang kedua penguatan promosetif dan preventif bidang kesehatan
14:41diantaranya melalui program cek kesehatan gratis.
14:44Yang ketiga meningkatkan akses pelayanan kesehatan berkualitas
14:48antara lain melalui program revitalisasi atau update rumah sakit,
14:51peningkatan efektivitas program JKN,
14:54serta peningkatan dan pemerataan distribusi SDM kesehatan.
14:59Yang keempat, untuk peningkatan kualitas kesehatan untuk ibu hamil,
15:04ibu menyusui, dan balita dengan asupan gizi yang terjamin.
15:10Bidang ketahanan pangan pada LAPBN tahun anggaran 2027
15:14dialokasikan anggaran sebesar Rp 195,3 triliun,
15:19meningkat dibandingkan outlook tahun 2026 sebesar Rp 190,9 triliun.
15:25Anggaran tersebut diarahkan pada beberapa kebijakan utama.
15:28Pertama, meningkatkan produktivitas pangan antara lain melalui intensifikasi dan ekstensifikasi.
15:38Yang kedua, menjaga stabilitas dan pasukan harga pangan,
15:42sehingga keterjayaan pangan dan keterjangkauan harga tetap terjaga.
15:48Ijin ketua, Pak Menteri, mohon mengklarifikasi.
15:59Karena di sini ada dua pos program, dua program,
16:03yang masuk di dalam kebijakan bidang pendidikan,
16:08dan masuk juga di bidang perlindungan sosial.
16:12PIP, KIP, itu masuknya di anggaran pendidikan.
16:18Tapi di sini juga ada di perlindungan sosial.
16:23Kalau seperti ini kan menjadi dobel.
16:25Kalau PKH, memang masuknya perlindungan sosial.
16:29Tapi kalau PIP, KIP, itu jelas anggaran bidang pendidikan.
16:33Jadi tidak mungkin itu dua-duanya berada di dobel begitu.
16:38Salah ketek lagi.
16:43Itu tampilannya beririsan, tapi nanti hanya satu anggarannya tidak akan dobel.
16:49Yang dimaksud adalah,
16:51yang satu itu clear bagian dari mandatori anggaran pendidikan,
16:57tapi perlindungan sosial itu tidak bisa dimasukkan anggaran pendidikan lagi.
17:02Dia tetap dimandatorinya.
17:05Itu kira-kira.
17:07Nanti kita klik seperti itu.
17:08Harus dipertegas Pak, artinya PIP dan KIP itu bukan perlindungan sosial.
17:14Iya, clear.
17:15Itu mandatori pendidikan.
17:17Nanti akan kita keluarkan dari situ.
17:27Jangan sampai kesannya ada optimalisasi yang sebelah.
17:32Kita koreksi Bu.
17:34Nanti untuk presentasinya akan kita klaim sebagai perlindung sosial.
17:41Perlindung sosial itu bukan ada yang pendidikan, ada yang kesehatan.
17:44Iya, biar ya.
17:47Jadi kalau gitu,
17:49yang ada anggarannya,
17:51yang anggaran ada persirisan,
17:52kita pisahkan ke yang utamanya Bu.
17:54Jadi enggak akan kita klaim di perlindung sosial ya.
17:58Termasuk di kesehatan juga nanti.
18:00Jadi itu ya, betul-betul ya.
18:02Enggak, bukan catatan.
18:03Itu dianggap tidak ada.
18:05Dianggap tidak ada.
18:05Dianggap tidak ada.
18:07Yang perlindung sos.
18:08Yang ter...
18:10PIP, KIP kuliah itu keluar dari sana.
18:14Clear kalau itu.
18:16Terus Pak Menteri.
18:18Siapa?
18:19Nanti kami koreksi Bu.
18:20Terima kasih atas masukannya.
18:27Bidang katalan pangan pada RAPWN tahun anggaran 2027
18:31dialokasikan anggaran sebesar 100...
18:33Udah saya baca ya tadi ya.
18:35Sudah.
18:36Next ya.
18:38Berikutnya, transfer ke daerah.
18:40Transfer ke daerah pada tahun 2027
18:42direncanakan sebesar 735 triliun rupiah,
18:46meningkat 5,5 persen dari outlook 2026
18:50sebesar 696,9 triliun rupiah.
18:55Transfer ke daerah tahun anggaran 2027
18:57diarahkan untuk mendukung pemenuhan belanja pokok daerah
19:00dan pemerataan pelayanan publik.
19:03Adapun, kebijakan TKD pada tahun 2027 adalah
19:07diprioritaskan untuk mendukung belanja pokok daerah,
19:11antara lain belanja pegawai, operasional pemerintah,
19:14dan pelayanan dasar publik.
19:16Juga diarahkan untuk mengurangi ketimpangan fiskal antar daerah,
19:20memperkuat kapasitas fiskal daerah,
19:22dan mempercepat pemerataan layanan daerah,
19:26dan sinergi fiskal dan daerah
19:29akan kami perkuat terus ke depan.
19:31TKD juga diarahkan untuk mendukung daya saing daerah,
19:35belanja berkualitas,
19:36pembiayaan kreatif,
19:37dan penguatan lokal taxing.
19:40Pada RAPBN anggaran tahun 2027,
19:44defini dirancanakan sebesar 2,40 persen terhadap PDB
19:48atau sekitar Rp671,2 triliun,
19:51lebih rendah dibandingkan dengan outlook 2026.
19:55Perbaikan tersebut juga tercermin dari kesimbangan primer yang membaik.
19:59Hal ini menggambarkan penguatan kualitas fiskal
20:02dan perbaikan kapasitas RAPBN
20:05dalam membiayai belanja negara.
20:10Secara dengan itu,
20:12kebijakan pembiayaan tahun 2027
20:14tetap diarahkan secara pruden,
20:16terukur, dan inovatif
20:17guna mendukung program prioritas nasional
20:20dengan tetap menjaga kesinambungan fiskal.
20:23Pembiayaan investasi RAPBN
20:26tahun anggaran 2027
20:28meningkat dibandingkan outlook tahun 2026
20:31menjadi Rp203,9 triliun.
20:34Ini mencerminkan komitmen pemerintah
20:37untuk memperkuat investasi yang lebih produktif
20:40dan tepat sasaran.
20:42Alokasi tersebut diarahkan
20:44untuk mendukung BUMN dan BLU,
20:47pembiayaan perumahan bagi masyarakat
20:48berpenghasilan rendah,
20:50pembangunan infrastruktur strategis,
20:51dan penguatan dana abadi pendidikan.
20:56Postur RAPBN 2027
20:58diarahkan dan berfokus
21:00pada 8 program kerja prioritas nasional
21:02dengan strategi fiskal yang kolaboratif,
21:05terarah, dan terukur
21:07dengan defisit anggaran diproyasikan
21:09mencapai 2,4 persen dari PDB.
21:11Pendapatan negara diperkirakan
21:13mencapai Rp3,426 triliun
21:15atau tumbuh 6,8 persen
21:17year-on-year dari outlook 2026.
21:19Peningkatan tersebut
21:20utamanya melalui
21:22peningkatan tax compliance
21:24dan tax base.
21:27Tax compliance termasuk
21:28petugas kami penanti.
21:30Belanja negara ditargetkan
21:31sebesar Rp4.097,2 triliun
21:34atau tumbuh 3,9 persen
21:37dari outlook 2026
21:38yang terdiri dari
21:40belanja pemerintah pusat
21:41sebesar Rp3.362,2 triliun
21:45dan transfer ke daerah
21:48sebesar Rp735 triliun.
21:51Berdasarkan pendapatan belanja tersebut,
21:53defisit anggaran sebesar
21:55Rp671,2 triliun
21:57atau 2,4 persen dari PDB
21:59dengan rasio utang yang terukur
22:01dan terkendali
22:02serta terus dijaga
22:04dalam batas yang aman.
22:06Pimpinan dan anggota
22:08Badan Anggara yang saya hormati,
22:11dari pemaparan
22:12dan penjelasan tadi,
22:13dapat kami sampaikan
22:14kesimpulan RAPBN
22:152027 sebagai berikut.
22:18Perekonomian dunia tahun
22:192027 diperkirakan
22:21masih akan dihadapkan
22:22pada dinamika yang kompleks
22:24dengan tingkat
22:25kedepastian yang tinggi.
22:26Proyeksi pertumbuhan
22:27ekonomi global diproyeksikan
22:29akan menunjukkan
22:30perbaikan,
22:31namun tetap menghadapi
22:33berbagai risiko
22:33yang dapat menekan
22:35kinerja ekonomi global.
22:37Perekonomian Indonesia
22:38tetap resilient
22:39dan menunjukkan
22:40ketahanan yang solid.
22:41Pada semester 1 tahun 2020
22:43sudah menumbuh sebesar
22:445,49 persen
22:45didukung konsumsi domestik,
22:48meningkat investasi,
22:49dan dukungan
22:51kebijakan pemerintah.
22:53Satu lagi kebijakan fiskal
22:54dan APBN
22:55menjadi instrumen penting
22:56untuk menjaga
22:57stabilitas makroekonomi
22:58dan mewujudkan kesejahteraan
23:00bagi seluruh rakyat Indonesia.
23:03APBN 2027
23:05diarahkan untuk mendukung
23:06tumbuh lebih tinggi,
23:08sejahtera lebih cepat
23:10melalui strategi ekonomi
23:11dan fiskal
23:12yang dipokuskan
23:14pada 8 kluster program
23:17kerja prioritas nasional.
23:19APBN 2027
23:21akan terus dijaga sehat,
23:23kredibel,
23:25berkelanjutan
23:26melalui
23:27peningkatan pendapatan negara,
23:30peningkatan belanja
23:30yang semakin berkualitas
23:32dan efisien,
23:33serta
23:34pembiayaan anggaran
23:36yang inovatif dan prudent.
23:38Demikian kami sampaikan
23:39rancangan APBN
23:40tahun anggaran 2007.
23:42Terima kasih.
23:43Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
23:46Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
23:48Baik,
23:49selanjutnya Menteri PPN
23:51Kepala Bapak Nas
23:52kami persilakan 15 menit.
23:55Terima kasih Bapak Pimpinan Sidang.
23:58Bismillahirrohmanirrohim.
23:59Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
24:03Selamat sore,
24:04salam sejahtera untuk kita semua.
24:05Shalom,
24:06swastiastu,
24:08namo buddha,
24:09salam kebajikan.
24:10Yang sangat saya hormati
24:12Bapak Ibu Pimpinan
24:14dan Anggota Badan Anggaran DPR RI,
24:18Bapak Menteri Keuangan
24:19beserta jajarannya,
24:21Ibu Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia
24:24beserta jajaran,
24:25Bapak Menteri Hukum
24:28yang wakili beserta jajaran,
24:31serta
24:31para hadirin yang saya muliakan.
24:35Pada kesempatan ini,
24:36izinkan di siang dan sore hari ini
24:39kami menyampaikan mengenai
24:41Rencana Kerja Pemerintah tahun 2027
24:44sebagai bagian dari pembahasan
24:46RUU APBN tahun 2027.
24:50Bagi Pemerintah RKP 2027
24:53bukan sekedar dokumen tahunan
24:56atau daftar belanja,
24:58tapi lebih ke arah peta kerja
25:00untuk menerjemahkan mandat Presiden
25:03menjadi kerja pembangunan
25:06yang hasilnya bisa benar-benar
25:08diraksakan oleh sebanyak-banyaknya
25:10rakyat Indonesia.
25:11Bapak-Ibu yang saya hormati,
25:13dapat kami sampaikan bahwa
25:15proses penyusunan RKP 2027 saat ini
25:18telah melalui berbagai tahapan
25:21yang juga melalui berbagai pembahasan
25:24dan dengan demikian kami berharap
25:26hal ini bisa menjadi bagian
25:28dari Rencana Kerja Pemerintah tahun 2027.
25:33Dengan tetap berlandaskan
25:35pada penjaksila
25:37pembukaan Undang-Undang Dasar 45
25:39dan khususnya Pasal 33
25:41Undang-Undang Dasar 45
25:43RKP 2027 disusun dengan
25:46tiga lampiran utama
25:48yang berfungsi sebagai strategi
25:51sebagai landasan utama
25:52dalam penyusunan
25:53RAPBN 2027
25:56sehingga memastikan
25:57terciptanya
25:58kesinambungan antara prioritas
26:00pembangunan dan dukungan fiskal
26:03sebagaimana sudah disampaikan oleh
26:04Bapak Menteri Keuangan.
26:07Kelengkapan dokumen ini
26:08sudah kami siapkan
26:10dan kami mencoba untuk
26:12membahas secara ringkas
26:14dalam urean yang saya sampaikan
26:17pada saat ini.
26:19Ibu dan Pak sekalian,
26:21mengapa kita perlu mempercepat
26:23pertumbuhan kita?
26:26Indonesia sudah terlalu lama
26:28di dalam ekonomi pendapatan menengah.
26:33Sejak tahun 1993,
26:36menurut catatan kami,
26:37Indonesia memang sudah keluar
26:39dari kategori
26:42pendapatan rendah,
26:44namun tetap belum bisa melompat
26:46menjadi negara berpenghasilan tinggi,
26:49di mana krisis tahun 1908
26:52ditambah krisis pandemi COVID-19
26:56juga menunjukkan bahwa
26:59meskipun fondasi ekonomi kita kuat,
27:02namun kita tetap harus waspada
27:04terhadap berbagai guncangan ekonomi
27:07yang terjadi selama ini.
27:09Karena itu pula,
27:10pertumbuhan ekonomi tinggi
27:12tetap kita butuhkan,
27:14tadi dari Bapak Pimpinan,
27:16mengingatkan supaya kita juga
27:17selalu menjaga
27:19batas atas pertumbuhan ekonomi tinggi.
27:22Pertumbuhan ekonomi tinggi
27:23diperlukan untuk memperbesar
27:25kapasitas produksi nasional.
27:27Pertumbuhan ekonomi tinggi
27:29diperlukan untuk memperluas
27:31kesempatan kerja,
27:32dan pertumbuhan ekonomi tinggi
27:34juga dibutuhkan agar
27:35daya saing industri kita
27:37terus meningkat.
27:38Dan serta pada akhirnya,
27:40pendapatan per kapita
27:41hanya bisa diukur
27:42dan bisa dilalui
27:44kalau kita bisa mendapatkan
27:45pertumbuhan ekonomi tinggi.
27:47Dan namun demikian,
27:49pertumbuhan ekonomi tinggi
27:50tetap harus
27:51dilakukan,
27:53juga memenuhi
27:54pemerataan ekonomi
27:55yang semakin luas
27:56dan turunnya
27:57kesenjangan ekonomi.
27:59Ibu dan Pak sekalian,
28:01dengan dukungan Bapak Ibu,
28:02semua RKP 2027
28:05kita tetap,
28:06kita tempatkan
28:07sebagai momentum
28:08untuk membangun
28:09trajektori
28:10pertumbuhan ekonomi
28:11yang lebih tinggi.
28:12hingga kita mencapai batas
28:14tahun 2029
28:16sesuai yang ditetapkan
28:17AstraZita.
28:18Target tersebut harus kita
28:20capai dengan optimisme,
28:21namun tetap harus realistis.
28:24Melalui penguatan produktivitas,
28:26melalui peningkatan investasi,
28:28melalui percepatan
28:30industrialisasi
28:31untuk menciptakan
28:32lapangan kerja
28:33yang lebih berkualitas.
28:36Selanjutnya,
28:37lebih lanjut,
28:37pertumbuhan ekonomi
28:38juga diarahkan
28:39agar tidak hanya tinggi saja,
28:42tetapi juga
28:43lagi-lagi
28:44harus berkualitas.
28:45Pertumbuhan ekonomi tinggi
28:47juga harus inklusif
28:48dan pertumbuhan ekonomi tinggi
28:50juga harus berkelanjutan
28:52dengan arah
28:53mencapai sasaran pembangunan,
28:56yaitu penurunan
28:57jumlah orang miskin,
29:01terutama kemiskinan ekstrim
29:02yang tadi sudah disampaikan
29:03oleh Bapak Menteri Keuangan,
29:05rasio gini
29:06yang juga harus terus turun
29:08dan tingkat pengangguran terbuka
29:10juga harus makin turun
29:11dan dengan demikian,
29:13kalau itu terjadi,
29:14maka peningkatan
29:15indeks modal manusia
29:16juga akan membaik
29:17dan termasuk juga
29:19kejahatan petani,
29:20kejahatan nelayan,
29:21dan kejahatan orang-orang
29:22yang pada saat ini
29:23pada kondisi yang di level bawah.
29:26Kemudian Pak sekalian,
29:27oleh karena itu,
29:28pertumbuhan ekonomi
29:292027
29:30dalam RKP
29:31ditargetkan
29:32sebesar 6 persen
29:34dengan dorongan
29:34kebijakan utama diantaranya
29:36pengembangan industri strategi,
29:39peningkatan produk kiasi
29:40dan produksi pangan utama,
29:42mendorong produktivitas
29:4310 juta penduduk yang berusaha
29:44dan pekerjaan melalui Prokesra,
29:47menjaga daya beli masyarakat,
29:48serta memastikan bahwa
29:50optimalisasi aset BUMN
29:52dan pengembangan kawasan industri,
29:54serta pengembangan kawasan-kawasan
29:56ekonomi khusus lainnya.
29:58Bapak-Ibu,
29:59anggota Dewan yang saya hormati,
30:01pertumbuhan ekonomi nasional
30:02tidak hanya kuat secara agregat,
30:04tetapi juga harus merata
30:06antar wilayah
30:07dan inklusif.
30:10Karena kami mengamati juga,
30:12ternyata ada daerah-daerah tertentu
30:14yang pertumbuhan ekonomi
30:16yang sangat tinggi,
30:17namun juga kesenjangannya
30:18juga relatif tinggi.
30:20Ini merupakan bagian
30:21dari perencanaan pembangunan
30:22yang harus kita atasi bersama.
30:25Artinya,
30:26wilayah dengan pertumbuhan tinggi
30:27tetap harus dikawal,
30:28agar manfaatnya
30:30tidak hanya terkonsentrasi
30:31pada kelompok-kelompok tertentu saja.
30:34Dan sesuai dengan naran Bapak Presiden,
30:36di tahun 2027,
30:38PKPN yang terdiri dari 60 program
30:40yang tersebar dalam 8 kluster
30:43yang tadi sudah disampaikan
30:44oleh Bapak Menteri Keuangan,
30:468 kluster itu mencakup
30:47kluster pangan,
30:49kluster energi dan air,
30:50kluster pendidikan,
30:52kluster kesehatan,
30:53kluster hililisasi,
30:55kluster infrastruktur,
30:56kluster ekonomi keragatan,
30:58dan kluster desa,
30:59serta yang paling penting
31:01salah satunya adalah
31:02penurunan jumlah orang miskin.
31:05PKPN yang menjadi program
31:06dan kegiatan yang paling prioritas
31:08pada tahun 2027 ini,
31:11intinya adalah
31:12pertumbuhan tinggi
31:13akan dicapai dari program-program
31:16prioritas melalui
31:18program-program yang punya
31:19multiplier effect
31:20di bidang pembangunan,
31:22khususnya pembangunan
31:23yang mengarah kepada
31:23pemerataan.
31:25Ibu dan Pak sekalian,
31:26era PBN 2027
31:28disusun dengan peran
31:29sebagai shock absorber
31:31sekaligus
31:31kontrol siklikal
31:32untuk meredam guncangan ekonomi
31:34di tengah badai
31:35ketidakpastian global
31:37yang tadi juga sudah disampaikan
31:38oleh Bapak Menteri Keuangan.
31:40Berdasarkan arah kebijakan fiskal
31:42dan target sasaran
31:43pembangunan nasional tersebut,
31:45defisit anggaran
31:46dalam postur
31:46RAPBN tahun 2027
31:48sebesar Rp611,2 triliun
31:51atau sekitar 2,4 persen
31:52terhadap PDB
31:53dengan rasio utang
31:55yang terukur
31:55dan terkendali
31:56dan dijaga
31:57dalam batas aman.
31:58Pendapatan negara
31:59pada era PBN 2027
32:01sudah disampaikan
32:02oleh Bapak Menteri Keuangan,
32:04namun demikian
32:05kami izinkan
32:06kami menyampaikan
32:06beberapa hal
32:07khususnya difokus pada
32:10era BPN tahun 2027
32:12antara lain
32:12menyempurnakan
32:14kebijakan perpajakan
32:15serta mengoptimalkan
32:17PNBP
32:17sebagai salah satu
32:18sumber pendanaan
32:19dan difokuskan
32:21pada meningkatan
32:22kualitas belanja
32:22di mana kita berharap
32:25ada spending yang lebih baik
32:26memperkuat harmonisasi
32:28kebijakan fiskal
32:29pusat dan daerah
32:30meningkatkan kualitas
32:31pelayanan publik
32:32dan mempercepat
32:33pemerataan bangunan
32:34serta memperkuat
32:35fiskal daerah.
32:36Dan yang terakhir adalah
32:38mendukung pembangunan
32:39dengan tetap
32:40menjaga kesinambungan
32:41dan stabilitas fiskal
32:43pasar dan pasar keuangan.
32:46Selanjutnya,
32:47pengendalian dan evaluasi
32:48merupakan bagian
32:49yang tak terpisahkan
32:50dari siklus
32:51perencanaan bangunan
32:52dan arah pengendalian
32:54dan evaluasi ke depan
32:55akan difokuskan
32:57untuk memastikan
32:58pencapaian
32:59trisula pembangunan.
33:00Pada sisi pengendalian,
33:02fokus kita diarahkan
33:03pada PKPN
33:04dan proyek strategis nasional
33:06sebagai program
33:07yang menjadi motor
33:08penggerak utama
33:09pembangunan nasional.
33:11Sebagai penutup,
33:12izinkan saya menyampaikan
33:13bahwa penguatan
33:14Pak Menteri,
33:16tadi ketika
33:17Bapak menyampaikan postur,
33:19kesimbangan primernya berapa?
33:21Tadi sudah disampaikan oleh
33:22Bapak Menteri Keuangan.
33:23Bapak ada juga itu.
33:24Berapa?
33:25Tidak kelihatan.
33:26Ya, ya.
33:30Daripada saya salah.
33:32Sama.
33:36Ya, saya sudah
33:4020.
33:41Ya, sudah.
33:42Terus Pak.
33:43Kita samakan saja
33:44dengan Menteri Keuangan
33:45supaya saya tidak mengulang.
33:47Izinkan saya mengulangi.
33:49Selanjutnya,
33:50pengendalian dan evaluasi
33:51merupakan bagian
33:52yang tidak terpisahkan
33:53dari siklus
33:54perencanaan pembangunan,
33:55di mana
33:56arah pengendalian dan evaluasi
33:57ke depan
33:58akan difokuskan
33:59untuk memastikan
34:00pencapaian
34:00tesula pembangunan.
34:03Sebagai penutup,
34:04izinkan saya
34:05menyampaikan
34:05bahwa secara umum,
34:07muatan substansi
34:08rencana kerja pemerintah
34:092027 telah selaras
34:12dan difungsikan
34:12untuk menerjemahkan
34:14prioritas pembangunan
34:15ke dalam
34:17RAPBN
34:18seperti yang disampaikan
34:19berlangkali
34:19oleh Bapak Menteri Keuangan,
34:21pertumbuhan yang lebih tinggi
34:23dan kesejahteraan
34:24yang lebih cepat.
34:25Sinergi perencanaan
34:27dan penganggaran nilah
34:28yang akan mendorong
34:28tercapai pertumbuhan ekonomi
34:30yang secara fundamental kuat,
34:33secara fundamental
34:34juga berkeandilan,
34:36tujuannya adalah
34:36penurunan jumlah orang miskin
34:38dan peningkatan kualitas SDM
34:39sehingga astacita
34:41bukan sekedar cita-cita
34:42melainkan target yang terukur
34:45dan dapat kita capai bersama.
34:47Demikian yang saya bisa sampaikan.
34:49Terima kasih.
34:50Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
34:54Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh.
34:56Baik.
34:58Selanjutnya.
34:59Pak Dofi ada?
35:00Silakan.
35:01Ke halaman 4, Pak Menteri.
35:05Sasaran dan indikator pembangunan.
35:09Hanya perlu klarifikasi aja ini, Pak.
35:11Iya, iya, Pak.
35:13Tema fiskal kita
35:16tumbuh
35:18lebih tinggi,
35:20sejahtera lebih cepat.
35:22Yang mana ini cepatnya ini, Pak?
35:24Yang halaman 4 ini.
35:25Coba.
35:25Kita sekarang
35:29kemiskinan ekstrim masih 0,5.
35:31Kita arahkan untuk 0%.
35:34Itu berarti...
35:35GNI per kapita gak cepat.
35:37Kenapa?
35:39GNI per kapitanya tidak cepat naiknya, Pak.
35:44Kemudian, apa lagi?
35:46Tingkat kemiskinan tidak cepat turunnya.
35:49Ya, itulah.
35:50Kemiskinan ekstrim tidak cepat.
35:52Makanya...
35:53Rasio gini, tidak cepat.
35:56Ya, Pak.
35:57Tingkat pengangguran terbuka,
35:59tidak cepat berkurangnya.
36:02Indeks modal manusia,
36:04tidak cepat naiknya.
36:06Nilai tukar petani,
36:07tidak cepat naiknya.
36:09Nilai tukarnya lain,
36:11tidak cepat naiknya.
36:13Proporsi penciptaan lapangan kerja
36:15reformat juga tidak cepat.
36:17Penciptaan lapangan kerja baru
36:18juga tidak cepat.
36:20Jadi, yang dimaksud sejahtera
36:23lebih cepatnya itu yang mana, Pak?
36:27Ya, pertama-tama
36:28soal kemiskinan ekstrim.
36:30Udah, Pak Dorfis.
36:31Boleh, Pak.
36:32Oke, baik.
36:33Boleh, Pak.
36:34Impinkan saya menjawab.
36:35Soal kemiskinan ekstrim
36:37yang tadinya masih ada,
36:39kita harapkan 0%.
36:41Tapi kemiskinan ekstrim itu, Pak,
36:43sudah ditargetkan
36:45dari sejak 2024 0%.
36:48Iya, Pak.
36:48Dari 2024 0%,
36:502025 menjadi 0,83
36:53yang dicapai.
36:55Sekarang masuk 2025
36:57atau 2026,
36:59sama juga di 0,83.
37:02Nah, target Bapak
37:03di 2027
37:05tingkat kemiskinan ekstrim 0.
37:08Iya, Pak.
37:12Terus, Pak.
37:14Silakan.
37:16Ya, ini memang
37:17soal lebih cepat itu
37:20memang
37:21angka,
37:23apa maksud saya,
37:24lebih cepat itu
37:26dalam arti
37:30pimpinan,
37:31bisa bicara
37:32sebelah kanan,
37:33pimpinan,
37:35menanggapi
37:36apa yang ditanyakan
37:37oleh Pak Dolphy.
37:38Sebentar, Pak.
37:39Boleh.
37:39Menanggapi Pak Dolphy
37:40tidak boleh.
37:41Karena Pak Dolphy
37:42nanyanya ke menteri.
37:44Ini bukan
37:45antara anggota DPR
37:46sesama anggota.
37:47Tapi pimpinan mungkin
37:48lebih baik
37:49menterinya saja
37:50yang menjelaskan.
37:51Perlu meluruskan juga
37:53bahwa kata cepat
37:54tidak bisa kita lihat
37:55secara berdiri sendiri.
37:56Iya, sebentar.
37:57Kan gitu.
37:57Kalau setiap anggota
37:59saling sambit,
38:01padahal ini kita
38:02dapat kerja,
38:05kapan selesai ya?
38:06Santai aja, Pak.
38:09Pasti selesai kok.
38:11Santai aja.
38:12Sekarang Pak Menteri yang jawab.
38:14Silakan.
38:16Terima kasih,
38:16Bapak Pimpinan.
38:18Jadi,
38:19soal cepat,
38:20lambat,
38:21itu kan kata-kata.
38:22Kalau ditransformisikan
38:24dalam bentuk angka,
38:25itu kan kita sepakat
38:28dari pertumbuhan ekonomi
38:32itu dibatesin
38:33hanya tidak sampai
38:35sekian persen, kan?
38:37Tidak sampai 2 persen
38:38atau 1 persen.
38:39Bahkan kita
38:40pertumbuhan ekonomi pun
38:41lambat.
38:42Tapi kita coba kita lihat,
38:43pekerjaan penciptaan
38:44lapan kerja baru
38:45dari minus menjadi
38:482,57 sampai
38:493,49 persen.
38:52Nah, tentu saja
38:53ini
38:56ukuran-ukuran seperti ini
38:58juga mohon
38:58nanti kita diskusikan
39:00kalau boleh
39:01waktu kita
39:02di Komisi 11, Pak.
39:04Kalau boleh.
39:06Nah, kemudian
39:11soal cepat
39:12atau lambat kan
39:13gimana ya?
39:17pertumbuhan ekonomi
39:18dari...
39:20Pak Menteri,
39:21sebenarnya kan
39:22ada,
39:23saya tadi menyampaikan
39:24perbandingan
39:242024, 2025,
39:262026.
39:28Yang ingin
39:29sebenarnya secara umum
39:31ketika kita
39:32tumbuh
39:326 persen,
39:34tingkat kesejahteraan
39:35yang mau dicapai
39:36kita itu
39:37sebanding tidak
39:38dengan tingkat
39:39pertumbuhan
39:39tadi.
39:40Itu saja, Pak.
39:42Misalnya begini, Pak.
39:44Boleh?
39:45Misalnya begini ya, Pak.
39:48Bapak cantumkan
39:49di sini
39:50GNI per kapita
39:5189,65
39:55tahun
39:552026
39:56juta ini kan.
39:582027
39:59batas bawahnya
40:00itu
40:0198,54.
40:03Kalau kita
40:03rata-ratakan, Pak.
40:052026
40:06itu
40:067,5 juta
40:08per orang
40:10per bulan.
40:11Kemudian
40:122027
40:13jadi
40:148,2 juta
40:15per orang
40:16per bulan.
40:18Cepat atau
40:19lambat?
40:19Relatif.
40:20Tapi kalau kita
40:21lihat rata-rata
40:22penghasilan buruh
40:24itu
40:253 juta, Pak.
40:263,5 juta.
40:28Jadi
40:29sebenarnya
40:29siapa yang menikmati
40:31pertumbuhan yang
40:31tinggi ini?
40:32Kalau
40:33kemudian
40:34rata-rata
40:35penghasilan buruh
40:36masih
40:363,5 juta.
40:38rata-rata
40:39nasionalnya
40:398,2 juta.
40:41Kan senjang
40:42sekali.
40:43Nah, oleh
40:44karena itu
40:44gini rasio
40:46ini, Pak.
40:47Ini harus
40:48dikoreksi
40:48juga
40:50untuk
40:51memastikan
40:52bahwa gini rasio
40:53itu tadi
40:54kesenjangannya
40:55nggak tinggi.
40:57Misalnya
40:58sekarang
40:59gini rasio
41:00sekarang aja
41:012026
41:01sudah
41:020,368.
41:05Masa
41:05Bapak
41:06tetapkan
41:06disitu
41:060,367.
41:08harusnya
41:09Oh,
41:09baik-baik, Pak.
41:11Iya.
41:12Itu kita koreksi aja, Pak.
41:13Iya,
41:14maksudnya ada koreksi.
41:15Kan
41:16pengantar kami
41:17tadi itu Pak
41:17sebenarnya.
41:18Terlalu sempit
41:20pergisirannya.
41:21Terbukanya, Pak.
41:22Batas
41:22itu dikoreksi, Pak.
41:24Dikoreksi.
41:25Supaya
41:25kecepatnya tadi
41:26terasa.
41:27Cepatnya itu terasa.
41:30Bapak Pimpinan,
41:31ini
41:33kesalahan patah
41:34saya koreksi.
41:35Pak Kamrut
41:36Pak Kamrut
41:38sudah diakui oleh Pak Menteri
41:40ada kesalahan fatal.
41:42Yang mana yang diakui?
41:43Coba diulangi dulu.
41:45Ya, kan
41:46rasio gini
41:47terlalu tipis.
41:49Tipis banget
41:50gini rasionya.
41:510,0001.
41:55Oke, Pak Menteri
41:57sudah cukup.
41:58Pak Ketua
41:59izin mengklarifikasi
42:01kembali
42:01halaman 11
42:02paparan dari
42:03Bapak Nas
42:07terkait dengan
42:08rincian
42:09anggaran pendidikan
42:10pada belanja negara.
42:14Halaman 11
42:20Ini paparannya
42:21Pak Menteri
42:22Bapak Nas
42:28Ya, saya mau menyampaikan
42:30begini Pak.
42:31Bapak menyampaikan
42:33di dalam
42:33paparan yang saya
42:35terima.
42:36Tadi Bapak
42:37tidak menjelaskan.
42:38Tetapi saya membutuh
42:39klarifikasi.
42:40Bahwa capaian
42:42sektor pendidikan
42:43itu ada
42:4471.744
42:46sekolah
42:47menerima
42:48bantuan
42:48revitalisasi
42:49pada tahun
42:502026.
42:52Saya mau
42:53menegaskan Bapak.
42:54Anggaran yang
42:55didikdasmen itu
42:5614 triliun
42:57untuk 11.000
42:59sekolah.
42:59Dan kita pernah
43:01bertanya, memang
43:01semua tidak ada
43:02didikdasmen.
43:03Tidak semua ada
43:04didikdasmen.
43:05Kami menanyakan
43:06apakah
43:07didikdasmen
43:08mempunyai data
43:09yang 60.000
43:11itu mana saja?
43:13Berbulan-bulan
43:14kami tanya,
43:15tidak pernah ada
43:15jawaban dan
43:16dikatakan tidak tahu.
43:18Menurut saya
43:18ini problem.
43:19Dan apakah benar?
43:21Ini perlu
43:21diklarifikasi juga.
43:2271.000
43:24ini benar
43:24atau tidak?
43:25Kita tidak
43:26menginginkan
43:27angka besar
43:28tapi kita
43:28tidak tahu
43:28faktanya.
43:31Dokumen
43:31nanti akan
43:32kita serahkan.
43:33Yang secara
43:33rinci menunjukkan
43:34bahwa didikdasmen
43:35hanya ada
43:3611.000
43:36sekolah
43:37untuk
43:37anggaran
43:3814 triliun.
43:40Nah,
43:41yang di sini
43:4171 triliun,
43:4271 sekolah,
43:4471.000.
43:45Kami paham
43:46bahwa itu
43:46memang tidak
43:47semuanya didikdasmen.
43:48Ada yang berupa
43:49bantuan Presiden.
43:51Tetapi tidak
43:51sebanyak itu.
43:53Nah,
43:53ini yang saya kira
43:53harus diklarifikasi.
43:54Terima kasih.
43:56data dari
43:57didikdasmen
43:57berapa?
43:5811.000.
43:5911.000.
44:00Pak Menteri
44:01tadi
44:01di paparan
44:04744.000.
44:05Ada lebih
44:0560.000.
44:08Belum
44:09yang kita hitung
44:10bantuan Presiden langsung.
44:12Oke.
44:13Pak Menteri
44:14kira-kira 71.000
44:15datanya valid, Pak.
44:17Valid, Pak.
44:18Itu anggaran
44:18sudah ditambahkan
44:19menjadi 71.000
44:20sampai akhir tahun nanti.
44:21Mungkin
44:21anggaran
44:22waktu diskusi
44:23dengan Ibu
44:23yang belum
44:24ditambah
44:25mungkin, Bu.
44:26Jadi
44:26kalau Ibu
44:28mau data
44:28kami punya datanya
44:29nanti
44:30Pak Dijian Anggaran
44:31bisa memberikan
44:32data sekolah
44:33yang mana aja.
44:35Oke.
44:35Ada dua hal.
44:36Yang pertama
44:37nanti
44:38minta tolong
44:39komisi 10
44:40rapat dengan
44:41Menteri
44:42Diktasmen
44:43memastikan
44:44angka yang dari
44:46Bapak Nas
44:47sekali ini.
44:49Cacok apa tidak?
44:50Kalau memang
44:51tidak cacok
44:51nanti
44:52di panjang
44:53kita bahas
44:53lebih dalam.
44:54Pak Dijian Anggaran
44:55juga siap
44:56menyampaikan
44:57datanya.
44:59Sudah itu aja.
45:00Titik temunya nanti.
45:04Nah tanyakan
45:05di forum
45:06rapat resmi
45:06Komisi 10.
45:07Menterinya
45:08tidak jawab.
45:09Tidak bisa menjawab.
45:09Bikinkan laporan
45:10rapat kerja
45:11dan taunya
45:11hanya yang
45:1211 ribu.
45:13Pasir rapat kerja
45:13sampaikan
45:14ke Badan Anggaran.
45:15Nanti Badan Anggaran
45:16punya data
45:16ketemu dengan
45:17Menteri Keuangan
45:18dan Bapak Nas
45:19clear.
45:20Ya.
45:25Cara baru
45:26nonton di Smart TV.
45:28Nonton live streaming
45:29dan ribuan tayangan
45:30Kompas Gramedia
45:31langsung dari
45:32Smart TV kamu.
45:34Cara installnya
45:35buka Google Play Store
45:36di Smart TV kamu.
45:38Cari Kompas TV
45:39melalui pencarian.
45:41Pilih aplikasi
45:42lalu install.
45:44Selesai
45:44kamu bisa menonton
45:46video pilihan
45:47editorial
45:47Kompas TV.
45:48Download Kompas TV
45:50Apps di TV kamu
45:51sekarang juga.
45:53Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan