00:00Lebih lengkap soal erupsi gunung anak Krakatau dan kemunculan suara dentuman yang terdengar
00:04mulai dari kawasan Lebak hingga Bandung.
00:06Kita bahas bersama ahli vulkanologi ITB Mirzam Abdurrahman.
00:10Pak Mirzam, selamat petang.
00:13Selamat petang, Mas Dipol.
00:15Baik, Pak Mirzam berdasarkan...
00:17Pasti, sudah benar-benar ada.
00:18Baik, terima kasih.
00:19Pak Mirzam, berdasarkan pantauan Anda, bagaimana kondisi dan tingkat aktivitas anak Krakatau saat ini, Pak?
00:27Ya, kita pasti masih ingat kejadian letusan 2018 kemarin.
00:32Itu yang kemudian warga sekitar sana dan kita semua ada kekhawatiran maupun trauma akan terjadi.
00:40Letusan yang serupa kemudian diikuti oleh kegagalan lereng, longsor, dan akhirnya berdampak pada tsunami.
00:47Dari riset yang kami miliki, salah satu mahasiswa S3 kami yang studi di Birmingham,
00:53itu kami menemukan suatu fakta yang menarik.
00:56Bahwa kecepatan pertumbuhan anak Krakatau itu dalam pantauan kami memiliki kecepatan yang berbeda.
01:04Nah, ini berimplikasi pada kemudian pertumbuhan tubuh anak Krakatau
01:08yang kemudian bisa memungkinkan terjadi keterasambilan dan kemudian longsor.
01:13Nah, dari hasil pengamatan kami, ada dua periode krusial di dalam pertumbuhan anak Krakatau.
01:18Periode di 1960 sampai 2018 dan kemudian periode setelah terjadinya longsor 2018
01:25atau tepatnya 2019 tumbuh sampai 2023.
01:29Oke.
01:30Kalau gitu ya, kemudian Krakatau mengikuti pertumbuhan yang lama
01:33atau periode di 1990 sampai 2018,
01:36maka untuk mencapai ketinggian sebelum longsor seperti halnya 2018,
01:40itu kita memerlukan waktu sampai 2100.
01:43Baik Pak Mirza, kalau kita lihat juga bahkan dentumannya,
01:48ini terdengar bahkan hingga wilayah Bandung, termasuk juga dengan getarannya.
01:52Kalau yang Anda cermati, apakah memang erupsi kali ini juga sudah terbilang cukup besar
01:57untuk kemudian menjadi perhatian kita semua?
02:00Nah, belum. Saya izin melanjutkan apa yang saya sampaikan tadi.
02:03Berikutnya ketika pertumbuhan mengikuti pertumbuhan 2019 sampai 2023,
02:07maka untuk mencapai anak Krakatau sebelum longsor itu hanya butuh sampai tahun 2036.
02:12Jadi artinya kondisi sekarang, masyarakat tidak perlu khawatir
02:16seperti apa yang disampaikan PVMBK.
02:18Letusan yang terjadi saat ini bukan letusan besar seperti letusan 1883
02:22atau abad ke-5 atau abad ke-6.
02:24Tapi fenomena dentuman ini adalah fenomena yang bisa dijelaskan
02:28dengan pendekatan fisika gitu ya,
02:31bahwa ini bukan sesuatu yang jarang terjadi.
02:35Meskipun sumbernya berada di Selat Sunda sana sebagai kandidat kita mengatakan gitu.
02:38Kenapa kandidat? Karena periode letusan Krakatau kali ini terjadi pada tanggal 4
02:43menjelang pukul 23.07 sampai tanggal 5 kurang lebih pukul 4.40.
02:49Artinya dentuman yang kecil pun, kemudian ketika terjadi letusan kecil,
02:54perbedaan temperatur antara di bagian permukaan tanah dengan atmosfer itu
03:00bisa membelokkan perambatan gelombang suara.
03:04Inilah yang menyebabkan kenapa posisi rumah saya di Bandung
03:07dan beberapa yang di dekat di sana mungkin tidak bisa mendengar.
03:11Ini seolah-olah ada sesuatu yang tidak wajar.
03:15Karena perbedaan temperatur tadi, kemudian kondisi atmosfer, angin, dan sebagainya
03:19bisa menyebabkan gelombang itu merambat tidak pada bidang horizontal.
03:23Tapi dibelokkan ke atas, kemudian pada sampai posisi tertentu.
03:26Gelombang itu kemudian akan dibelokkan kembali, turun, kemudian sehingga terdengar
03:31pada tempat, pada posisi yang lebih jauh.
03:32Artinya berdasarkan pemantauan dari Pak Mirza,
03:35bahwa betul getaran hingga dentuman yang kemudian terdengar hingga Bandung
03:39ini diakibatkan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau.
03:42Iya, karena kami, itu salah satu dugaan dan hipotesis.
03:46Karena timing dari dentuman tersebut terjadi bersamaan dengan letusan Krakatau.
03:50Kami juga tidak mengarahkan itu kepada gempa bumi.
03:53Karena getaran yang diterima, sebagai contoh di rumah saya itu adalah getaran di kacanya saja,
03:57di pintunya saja.
03:58Tidak ada gelombang yang dirasakan pada bagian lantai.
04:02Pak Mirza sempat merasakan secara langsung, Pak?
04:04Gimana?
04:05Pak Mirza sempat merasakan secara langsung?
04:07Seperti apa situasi saat itu?
04:08Saya merasakan secara langsung.
04:08Itu kejadian pada waktu saya merasakan itu,
04:10saya dari pukul 1 kurang sampai pukul 2 lebih.
04:14Itu dentuman itu terasa.
04:16Bunyinya tidak jelas, seperti bus, seperti bus sound system gitu ya.
04:19Tetapi getaran yang menarik adalah tidak pada lantai saya,
04:22tapi di pintu dan juga kaca.
04:24Artinya ada media lain kemudian atau gelombang itu merambat.
04:27Nah inilah kemudian dari timing dan jenis keberadaan getaran tadi.
04:31Maka salah satu hipotesisnya adalah,
04:34kami duga salah satu yang ada dari aktivitas anak Krakatau.
04:37Bisa nggak kemudian merdarahnya?
04:39Bisa saja, tapi harus dibuktikan.
04:40Ini belum satu kesimpulan, Mas Sepoie.
04:43Sepoie hanya satu hipotesis bahwa letusan gunung berapi,
04:46dan kemudian kejadian itu memiliki waktu irisan.
04:50Oke, bahwa tadi Pak Mirzam juga sudah menjelaskan,
04:52masyarakat tidak perlu khawatir,
04:53tapi kalau kita berkaca pada situasi yang terjadi,
04:56mulai tadi dentuman hingga ada getaran,
04:58apakah ada indikasi peningkatan erupsi
05:00dan apakah ada potensi resiko longsoran bawah laut akibat erupsi?
05:06Dengan pengamatan yang sedang kami lakukan itu,
05:09bahwa untuk mencapai longsor dengan volume yang sama 2018,
05:13itu kalau kecepatannya sangat cepat sekali,
05:16kita baru akan terjadi itu di 2036.
05:182036 ya?
05:19Tapi kalau kecepatan pertumbuhan itu lambat,
05:21seperti pertumbuhan 1990 sampai 2018,
05:24maka kejadian itu baru berulang di 2001-04.
05:27Artinya masih kemudian di abad berikutnya.
05:31Nah, pemantuan PVMBG,
05:33misalkan semalam kita melihat ada lava fountain.
05:36Masyarakat bisa sama-sama melihat,
05:37kalau kita dulu main air mancur,
05:39ketika air mancur itu semakin tinggi,
05:41kemudian lama-lama berkurang,
05:42artinya energinya habis.
05:43Mari kita lihat bersama,
05:45lava fountain atau pancuran lava itu,
05:46kalau kemudian tingginya berangsur, berkurang,
05:48artinya mengindikasikan bahwa, gitu ya,
05:51energinya perlahan mulai berkurang,
05:53sehingga tidak mampu lagi menyembur ke atas.
05:55Itu yang bisa kita amati,
05:58masyarakat bisa melihat secara langsung,
06:00selain kemudian mendengarkan arahan dari PVMBG tentunya.
06:03Oke, kalau potensi kemunculan awan panas mungkin,
06:05atau lontaran batu pijar,
06:07termasuk juga hujan abu,
06:08ini mungkin terjadi, Pak Mirza?
06:11Lontaran hujan abu dan sebagainya,
06:13tentu saja bisa terjadi,
06:14kalau kemudian lontaran cukup eksplosif,
06:16tapi dengan posisinya yang relatif cukup jauh,
06:19kemudian masih didominasi,
06:21keluarnya fase cairan,
06:22itu biasanya kecil kemungkinan,
06:25lontaran abu dan batu pijar itu akan terjadi.
06:28Biasanya lontaran abu itu terjadi ketika energinya sudah habis,
06:31awalnya tersumbat,
06:33terjadi akumulasi energi,
06:34baru kemudian meningkat,
06:35kemudian baru bisa nyembur.
06:37Jadi, apakah bisa?
06:38Bisa, tetapi tentu tidak dalam periode yang,
06:40yang akan dekat ini.
06:41Oke, tentu ini juga masih harus diperhatikan,
06:44dan menjadi kewaspadaan,
06:45untuk melihat seperti apa,
06:46peningkatan aktivitas dari Gunung Anak Rakatau.
06:48Terima kasih.
06:49Ahli Vulkanologi ITB,
06:50Pak Mirza Abdurrahman,
06:51telah bergabung di Kompas Petang.
Komentar