Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu
KOMPAS.TV - Suara dentuman erupsi Gunung Anak Krakatau yang berlokasi di Selat Sunda dilaporkan terdengar hingga wilayah Bandung, Jawa Barat.

Aktivitas erupsi berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) sekitar pukul 23.07 WIB hingga Sabtu (5/9/2026) sekitar pukul 04.40 WIB.

Ahli Vulkanologi ITB, Mirzam Abdurrachman, mengatakan fenomena dentuman yang terdengar hingga wilayah yang jauh dari Gunung Anak Krakatau masih dapat dijelaskan secara ilmiah.

Menurutnya, perbedaan temperatur antara permukaan bumi dan atmosfer, ditambah kondisi angin, dapat membuat gelombang suara membelok dan merambat hingga jarak yang lebih jauh.

Baca Juga BREAKING NEWS! Terkini, Abu Vulkanik Anak Krakatau Mulai Hujani Warga Malam Ini (5/9/2026) di https://www.kompas.tv/regional/689236/breaking-news-terkini-abu-vulkanik-anak-krakatau-mulai-hujani-warga-malam-ini-5-9-2026



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/689237/ini-penyebab-suara-dentuman-erupsi-gunung-anak-krakatau-terdengar-hingga-bandung-kompas-petang
Transkrip
00:00Lebih lengkap soal erupsi gunung anak Krakatau dan kemunculan suara dentuman yang terdengar
00:04mulai dari kawasan Lebak hingga Bandung.
00:06Kita bahas bersama ahli vulkanologi ITB Mirzam Abdurrahman.
00:10Pak Mirzam, selamat petang.
00:13Selamat petang, Mas Dipol.
00:15Baik, Pak Mirzam berdasarkan...
00:17Pasti, sudah benar-benar ada.
00:18Baik, terima kasih.
00:19Pak Mirzam, berdasarkan pantauan Anda, bagaimana kondisi dan tingkat aktivitas anak Krakatau saat ini, Pak?
00:27Ya, kita pasti masih ingat kejadian letusan 2018 kemarin.
00:32Itu yang kemudian warga sekitar sana dan kita semua ada kekhawatiran maupun trauma akan terjadi.
00:40Letusan yang serupa kemudian diikuti oleh kegagalan lereng, longsor, dan akhirnya berdampak pada tsunami.
00:47Dari riset yang kami miliki, salah satu mahasiswa S3 kami yang studi di Birmingham,
00:53itu kami menemukan suatu fakta yang menarik.
00:56Bahwa kecepatan pertumbuhan anak Krakatau itu dalam pantauan kami memiliki kecepatan yang berbeda.
01:04Nah, ini berimplikasi pada kemudian pertumbuhan tubuh anak Krakatau
01:08yang kemudian bisa memungkinkan terjadi keterasambilan dan kemudian longsor.
01:13Nah, dari hasil pengamatan kami, ada dua periode krusial di dalam pertumbuhan anak Krakatau.
01:18Periode di 1960 sampai 2018 dan kemudian periode setelah terjadinya longsor 2018
01:25atau tepatnya 2019 tumbuh sampai 2023.
01:29Oke.
01:30Kalau gitu ya, kemudian Krakatau mengikuti pertumbuhan yang lama
01:33atau periode di 1990 sampai 2018,
01:36maka untuk mencapai ketinggian sebelum longsor seperti halnya 2018,
01:40itu kita memerlukan waktu sampai 2100.
01:43Baik Pak Mirza, kalau kita lihat juga bahkan dentumannya,
01:48ini terdengar bahkan hingga wilayah Bandung, termasuk juga dengan getarannya.
01:52Kalau yang Anda cermati, apakah memang erupsi kali ini juga sudah terbilang cukup besar
01:57untuk kemudian menjadi perhatian kita semua?
02:00Nah, belum. Saya izin melanjutkan apa yang saya sampaikan tadi.
02:03Berikutnya ketika pertumbuhan mengikuti pertumbuhan 2019 sampai 2023,
02:07maka untuk mencapai anak Krakatau sebelum longsor itu hanya butuh sampai tahun 2036.
02:12Jadi artinya kondisi sekarang, masyarakat tidak perlu khawatir
02:16seperti apa yang disampaikan PVMBK.
02:18Letusan yang terjadi saat ini bukan letusan besar seperti letusan 1883
02:22atau abad ke-5 atau abad ke-6.
02:24Tapi fenomena dentuman ini adalah fenomena yang bisa dijelaskan
02:28dengan pendekatan fisika gitu ya,
02:31bahwa ini bukan sesuatu yang jarang terjadi.
02:35Meskipun sumbernya berada di Selat Sunda sana sebagai kandidat kita mengatakan gitu.
02:38Kenapa kandidat? Karena periode letusan Krakatau kali ini terjadi pada tanggal 4
02:43menjelang pukul 23.07 sampai tanggal 5 kurang lebih pukul 4.40.
02:49Artinya dentuman yang kecil pun, kemudian ketika terjadi letusan kecil,
02:54perbedaan temperatur antara di bagian permukaan tanah dengan atmosfer itu
03:00bisa membelokkan perambatan gelombang suara.
03:04Inilah yang menyebabkan kenapa posisi rumah saya di Bandung
03:07dan beberapa yang di dekat di sana mungkin tidak bisa mendengar.
03:11Ini seolah-olah ada sesuatu yang tidak wajar.
03:15Karena perbedaan temperatur tadi, kemudian kondisi atmosfer, angin, dan sebagainya
03:19bisa menyebabkan gelombang itu merambat tidak pada bidang horizontal.
03:23Tapi dibelokkan ke atas, kemudian pada sampai posisi tertentu.
03:26Gelombang itu kemudian akan dibelokkan kembali, turun, kemudian sehingga terdengar
03:31pada tempat, pada posisi yang lebih jauh.
03:32Artinya berdasarkan pemantauan dari Pak Mirza,
03:35bahwa betul getaran hingga dentuman yang kemudian terdengar hingga Bandung
03:39ini diakibatkan oleh erupsi Gunung Anak Krakatau.
03:42Iya, karena kami, itu salah satu dugaan dan hipotesis.
03:46Karena timing dari dentuman tersebut terjadi bersamaan dengan letusan Krakatau.
03:50Kami juga tidak mengarahkan itu kepada gempa bumi.
03:53Karena getaran yang diterima, sebagai contoh di rumah saya itu adalah getaran di kacanya saja,
03:57di pintunya saja.
03:58Tidak ada gelombang yang dirasakan pada bagian lantai.
04:02Pak Mirza sempat merasakan secara langsung, Pak?
04:04Gimana?
04:05Pak Mirza sempat merasakan secara langsung?
04:07Seperti apa situasi saat itu?
04:08Saya merasakan secara langsung.
04:08Itu kejadian pada waktu saya merasakan itu,
04:10saya dari pukul 1 kurang sampai pukul 2 lebih.
04:14Itu dentuman itu terasa.
04:16Bunyinya tidak jelas, seperti bus, seperti bus sound system gitu ya.
04:19Tetapi getaran yang menarik adalah tidak pada lantai saya,
04:22tapi di pintu dan juga kaca.
04:24Artinya ada media lain kemudian atau gelombang itu merambat.
04:27Nah inilah kemudian dari timing dan jenis keberadaan getaran tadi.
04:31Maka salah satu hipotesisnya adalah,
04:34kami duga salah satu yang ada dari aktivitas anak Krakatau.
04:37Bisa nggak kemudian merdarahnya?
04:39Bisa saja, tapi harus dibuktikan.
04:40Ini belum satu kesimpulan, Mas Sepoie.
04:43Sepoie hanya satu hipotesis bahwa letusan gunung berapi,
04:46dan kemudian kejadian itu memiliki waktu irisan.
04:50Oke, bahwa tadi Pak Mirzam juga sudah menjelaskan,
04:52masyarakat tidak perlu khawatir,
04:53tapi kalau kita berkaca pada situasi yang terjadi,
04:56mulai tadi dentuman hingga ada getaran,
04:58apakah ada indikasi peningkatan erupsi
05:00dan apakah ada potensi resiko longsoran bawah laut akibat erupsi?
05:06Dengan pengamatan yang sedang kami lakukan itu,
05:09bahwa untuk mencapai longsor dengan volume yang sama 2018,
05:13itu kalau kecepatannya sangat cepat sekali,
05:16kita baru akan terjadi itu di 2036.
05:182036 ya?
05:19Tapi kalau kecepatan pertumbuhan itu lambat,
05:21seperti pertumbuhan 1990 sampai 2018,
05:24maka kejadian itu baru berulang di 2001-04.
05:27Artinya masih kemudian di abad berikutnya.
05:31Nah, pemantuan PVMBG,
05:33misalkan semalam kita melihat ada lava fountain.
05:36Masyarakat bisa sama-sama melihat,
05:37kalau kita dulu main air mancur,
05:39ketika air mancur itu semakin tinggi,
05:41kemudian lama-lama berkurang,
05:42artinya energinya habis.
05:43Mari kita lihat bersama,
05:45lava fountain atau pancuran lava itu,
05:46kalau kemudian tingginya berangsur, berkurang,
05:48artinya mengindikasikan bahwa, gitu ya,
05:51energinya perlahan mulai berkurang,
05:53sehingga tidak mampu lagi menyembur ke atas.
05:55Itu yang bisa kita amati,
05:58masyarakat bisa melihat secara langsung,
06:00selain kemudian mendengarkan arahan dari PVMBG tentunya.
06:03Oke, kalau potensi kemunculan awan panas mungkin,
06:05atau lontaran batu pijar,
06:07termasuk juga hujan abu,
06:08ini mungkin terjadi, Pak Mirza?
06:11Lontaran hujan abu dan sebagainya,
06:13tentu saja bisa terjadi,
06:14kalau kemudian lontaran cukup eksplosif,
06:16tapi dengan posisinya yang relatif cukup jauh,
06:19kemudian masih didominasi,
06:21keluarnya fase cairan,
06:22itu biasanya kecil kemungkinan,
06:25lontaran abu dan batu pijar itu akan terjadi.
06:28Biasanya lontaran abu itu terjadi ketika energinya sudah habis,
06:31awalnya tersumbat,
06:33terjadi akumulasi energi,
06:34baru kemudian meningkat,
06:35kemudian baru bisa nyembur.
06:37Jadi, apakah bisa?
06:38Bisa, tetapi tentu tidak dalam periode yang,
06:40yang akan dekat ini.
06:41Oke, tentu ini juga masih harus diperhatikan,
06:44dan menjadi kewaspadaan,
06:45untuk melihat seperti apa,
06:46peningkatan aktivitas dari Gunung Anak Rakatau.
06:48Terima kasih.
06:49Ahli Vulkanologi ITB,
06:50Pak Mirza Abdurrahman,
06:51telah bergabung di Kompas Petang.
Komentar

Dianjurkan