KOMPAS.TV - Kemarau panjang membuat krisis air bersih semakin dirasakan warga di sejumlah wilayah Kabupaten Karawang, Jawa Barat.
Warga Desa Mulyasejati harus berjalan kaki sekitar satu kilometer untuk mengambil air.
Sementara di Desa Wanakerta, warga rela mengantre hingga empat jam demi mendapatkan air bersih.
Kondisi ini membuat antrean panjang hingga saling berebut air terjadi di sejumlah wilayah terdampak.
Tak hanya warga, kemarau berkepanjangan juga berdampak pada sektor pertanian.
Sawah mengering, sementara sejumlah bendungan dan sumber air mengalami penyusutan debit.
Kondisi tersebut membuat kebutuhan air bersih masyarakat semakin mendesak, sekaligus mengancam aktivitas pertanian.
Pemerintah pun menyiapkan langkah menghadapi dampak El Nino dan kemarau panjang.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menyampaikan pemerintah memastikan kesiapan infrastruktur sumber daya air untuk menghadapi kondisi tersebut.
BMKG juga mengingatkan perlunya penyesuaian kegiatan pertanian terhadap kondisi iklim, termasuk jadwal tanam dan pemilihan varietas tanaman pangan.
Pengelolaan serta pemanfaatan air hujan juga menjadi salah satu bagian penting dalam konservasi air secara berkelanjutan.
Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/Y3BwHxQBDFM
#elnino #indonesia #krisisair
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/693283/air-bersih-sulit-warga-karawang-jalan-kaki-1-km-dan-antre-4-jam-dipo