00:00Setelah putusan MK dibacakan, Wakil Ketua DPRD Kota Sukabumi yang berasal dari fraksi PDI Perjuangar.
00:06Rojab Asyari menurunkan foto Wakil Presiden Gibran Akebuming di ruang kerjanya.
00:11Sebelumnya PDIP Jabar menegaskan jika aksi Rojab adalah sikap personal.
00:16Kita bahas dengan politisi PDIP, Andreas Hugo Parera dan Ketua Umum Gibranistik, Taufik Bilfakih.
00:23Selamat petang, Bang Hugo. Selamat petang, Bang Taufik.
00:27Selamat petang. Halo, selamat petang, Bang Andreas.
00:31Ya, saya ke Bang Andreas dulu kalau gitu.
00:33Bang Andreas, ini kan kita lihat Wakil Ketua DPRD Sukabumi yang juga kader PDP turunin fotonya Mas Gibran.
00:40Jadi sebenarnya benar-benar sikap pribadi atau sebenarnya sikap partai?
00:49Jadi pertanyaan ini dari pagi tadi saya ditanya soal ini juga.
00:54Saya bilang ini kawan ini dia melihat bahwa apa yang diputuskan oleh MK kemarin itu itu sungguh hukum yang benar.
01:07Dan banyak kayak saya kira semua mengapresiasi termasuk teman-teman ya Pak Taufik.
01:14Mereka kan kita lihat bahwa keputusan MK ini benar.
01:17Apa bahwa hal yang tidak bisa dibuktikan di proses di MK dan itu sudah diputuskan.
01:25Nah, ini adalah keputusan hukum.
01:29Dan ini adalah negara hukum.
01:30Dan seharusnya ya kalau kita negara hukum kita taat pada hukum ini kan.
01:34Nah, oleh karena itu ya apa yang dilakukan oleh kawan ini adalah keberanian moral.
01:40Dia untuk ya menindaklanjuti apa yang sudah diputuskan oleh MK.
01:46Ya, salut sama kawan ini.
01:49Dia berani mengambil sikap.
01:52Dan sikap dia dia bilang sementara sampai tunggu ada fakta hukum lain.
01:57Jadi ini benar bukan instruksi dari DPP ya Bang?
02:00Kenapa?
02:01Bukan instruksi dari DPP?
02:03Tidak ada, belum ada instruksi dari DPP.
02:05Tidak ada, tapi secara substansif Anda menyetujui sikap dari kader PDIP?
02:10Saya melihat itu keberanian moral dari kawan Rojab ini di Sukabumi.
02:17Dan itu seharusnya sebagai bangsa.
02:19Oke.
02:20Kita melihat bahwa keberanian moral seperti ini, ini harus kita dukung.
02:26Oke, baik.
02:27Coba saya ke Bang Bil.
02:28Bang Bil, Anda sendiri melihat apa yang dilakukan oleh kader PDIP adalah bentuk sikap personal atau sebenarnya Anda juga membaca
02:34bahwa ini merupakan sikap dari partai PDIP?
02:38Kalau saya melihat bukan cuma masalah sikap partai atau personal, tapi justru kita sangat prihatin melihat bahwa ternyata kualitas anggota
02:47DPR kita ya seperti itu gitu.
02:49Saya melihat justru ada tindakan provokatif di sana, ada tindakan yang agak kampungan, bahkan juga tidak mencerminkan sebagai pejabat publik
02:58yang seharusnya menentramkan suasana.
03:00Provokatif kampungan, Bang, saya potong. Provokatif kampungan Anda bilang. Maksudnya apa? Gimana?
03:07Oh iya, ini reaksioner karena beliau itu tidak menurunkan di kantor DPDPDI atau di kantor PDI atau tidak di rumahnya.
03:16Tapi itu di kantor yang milik pejabat publik, milik negara.
03:20Ada pelanggaran kode etik di sana dan tidak ada penghormatan terhadap kelembagaan negara.
03:25Dan benar yang disampaikan pembina kami bahwa ini adalah miskinnya pengetahuan dan literasi hukum dari pejabat publik kita ketika kemudian
03:33Mahkamah Konstitusi tidak pernah membuat putusan bahwa Gibran itu cacat administrasi atau Gibran itu tidak sesuai dengan prosedur.
03:41Yang disampaikan oleh Mahkamah justru hanya menyampaikan bahwa tidak ditemukan dan ini fakta bahwa ternyata Mahkamah itu elegan menurut saya
03:51gitu.
03:51Apalagi kan bukan Gibrannya yang diundang ke Mahkamah untuk mempertanggungjawabkan.
03:55Artinya seharusnya kalau kita baca pertimbangan hukum itu, itu bentuk bahwa Mahkamah masih menghormati ada jalur lain untuk menentukan keapsahan
04:04dan kepatutan bahwa calon presiden itu apakah dia sesuai dengan mekanisme atau tidak.
04:10Jadi saya kira sikap dari teman-teman, aku nggak bilang PDI ya, kalau PDI silahkan.
04:15Tapi saya mau bilang...
04:15Tapi kan kita lagi bahas sikap PDIP, jadi anda sebenarnya mau ke sana kan?
04:20Iya, tapi kebetulan sama teman-teman anggota DPR, Pak Andreas saya rasa juga perlu koordinasi lagi untuk kemudian mendidik teman
04:27-teman yang menjadi pejabat publik.
04:29Kalau jawaban yang biasa itu kritik yang bagus, tapi kalau anggota DPR kan ada mekanisme kalau mau memberikan kritik.
04:34Saya ke Bang Andreas kalau gitu.
04:36Bang Andreas, barusan Bang Bil mengatakan ada sikap yang kampungan, pemahamannya kurang atas putusan MK.
04:43Jawaban anda?
04:44Ya kadang-kadang kita perlu ada suara dari kampung yang berani seperti ini.
04:49Itu menunjukkan bagaimana rakyat, sikap rakyat di bawah.
04:52Kampung nggak masalah Bang, kampungannya itu yang bermasalah.
04:55Iya.
04:55Pejabat publik soalnya.
04:56Dia dari kampung tapi tidak kampungan, itu yang penting.
04:59Sikap itu sikap kampungan bagi seorang pejabat publik Bang.
05:03Kalau warga kampung biasa kita akan maklumi.
05:05Pejabat publik itu yang sangat repot menurut kami.
05:07Tidak apa-apa. Ini adalah keberanian moral dari seseorang yang mempunyai jabatan publik.
05:15Sulit membedakan antara keberanian dan juga kerendahan berpikir sebagai pejabat publik Bang.
05:20Itu yang sangat kami sayangkan.
05:22Dan penting untuk sekarang.
05:24Bang, itu dia digaji oleh rakyat dan kantor itu kantornya rakyat yang seharusnya dia tunjukkan sikap yang elegan.
05:31Bukan dengan cara-cara kekanak-kanakan Bang.
05:32Uang itu sudah diberikan oleh MK dan keputusan MK kemarin.
05:37Apa putusannya MK Bang? Apakah Gibran itu cacat moral? Apakah Gibran itu tidak memuli syarat?
05:42Abang boleh jelaskan?
05:44Kita tidak perlu berdebat soal itu gitu.
05:47Harus diberikan, jangan menyesatkan publik. Jadi abang harus tegaskan putusannya itu apa?
05:52Itu sudah jelas. Kemarin sudah jelas keputusan itu.
05:55Apa yang jelas Bang?
05:56Sekarang kita tinggal menunggu bagaimana publik melihat persoalan-persoalan yang terjadi di dalam kemarin.
06:04Saya sebenarnya kemarin ketika proses DMK itu berjalan, saya pikir lebih baik kawan ini mundur aja gitu.
06:12Mundur saja?
06:13Mundur kenapa? Karena dengan pembuktian seperti itu masuk di dalam wilayah pembuktian.
06:20Situasi yang kita lihat, ini kasihan juga gitu kawan ini.
06:24Apa yang terbukti dari Bapak Gibran itu tidak memuli syarat Bang?
06:27Kalau nanti kemudian ada hal yang kemudian sampai kepada impeachment, aduh sangat apa ya.
06:35Sebagai bangsa, saya terus terang malu mau bicara seperti ini.
06:40Jadi sebenarnya Bang Andres, kalau saya potong, Bang Andres sebenarnya sikap dari partai, terutama yang ada di Senayan seperti apa?
06:48Karena kan ini ada haknya di DPR.
06:52Kita lihat sebagai bangsa, kita malu dengan persoalan orang di MK berdebat soal...
06:59Ya malu karena abang dan teman-teman tidak punya pemahaman secara komprehensif.
07:04Saya ditanya dari mana-mana, dari luar negeri ke masa kawan-kawan.
07:07Justru luar negeri mempermalukan, menertawakan apa yang selama ini terjadi gara-gara ada kegagalan berpikir.
07:14Itu di MK loh. MK itu Pembangun Negara.
07:18Dan MK tidak mengatakan bahwa Gibran itu terbukti bersalah.
07:24Dan putusan MK itu tidak memperlihatkan bahwa Gibran itu tidak lulus.
07:29Saya pikir, Mas Taufik ini lebih pantas dari Wakil Presiden.
07:33Dia pintar ini anak.
07:34Bukan soal itu Bang. Artinya kita jangan sesatkan publik.
07:38Artinya ini terlepas dari abang kurang berkenan dengan eksistensi Mas Gibran.
07:42Atau teman-teman PDIP sudah tidak nyaman dengan Pak Jokowi dan keluarganya.
07:46Tapi, kita jangan sesatkan publik.
07:48Bang Andres.
07:50Tapi sebenarnya melihat dari putusan MK, dia kan mengatakan bahwa memang tidak menemukan bukti atas kelulusan seorang Gibran.
08:00Ijasahnya.
08:01Nah, jadi sebenarnya sikap dari PDIP secara to the point, dorongnya apa?
08:06Karena MK sudah bilang itu bukan wilayahnya.
08:09Nah, kita tahu setelah itu ada bola panasnya di siapa? DPR, Toh?
08:14Tidak ada bola panas, bola dingin.
08:16Ini kita bicara soal ini, kita bicara soal tanggung jawab moral kita sebagai bangsa.
08:22Oke.
08:22Kita melihat persoalan ini gitu.
08:24Oke, persingkat saja bang.
08:26Secara tanggung jawab moral bangsa, PDIP maunya apa bang?
08:30Itu sudah dimulai oleh kawan dari kawan Rojok tadi gitu.
08:33Bahwa dia bertanggung jawab moral.
08:34Terlalu rendah sekali kalau cara bersikap negarawan apalagi pejabat publik.
08:38Dia lebih cepat terus jadi wapres daripada harus mempertahankan.
08:41Ini bukan soal itu bang.
08:43Bang, jangan sesatkan publik kita dengan cara berpikir yang sangat kekanakan-kanakan.
08:47Dan ingat, di Mahkamah Konstitusi kemarin itu tidak berkaitan dengan hal-hal yang tidak terbukti seolah-olah Gibran itu menyalahi
08:55aturan.
08:55Baik, bang, saya ambil.
08:57Ada fakta di persidangan bahwa yang namanya Gibran Raka Buming Raka itu mengikuti proses prosedur.
09:04Dan Dick Dasman sudah menjelaskan bahwa ada putusan Dirjen nomor 33 yang sebenarnya ijazah kelulusan itu alternatif.
09:11Karena kalau ijazah Gibran yang didatangkan dari UTS maupun yang didatangkan dari MDIS, itu padanannya adalah D1.
09:17Sehingga itu oleh pihak Dick Dasman itu dikesampingkan.
09:21Artinya ini mekanisinya prosedur.
09:23Jadi apa responan gak bang Bil?
09:25Iya, tapi jangan juga. Kita bukan berarti tidak bisa mengkritik putusan MK bukan.
09:29Nah sekarang bola liarnya di ruang publik seolah-olah Mas Gibran itu melakukan pelanggaran peraturan prosedur suket itu.
09:36Makanya disitulah pentingnya PKPU 19-2023 karena konflik penyetaraan SMA dari luar negeri sering terjadi.
09:44Jadi sebenarnya kita sebenarnya diberikan sikap kedewasaan oleh peraturan PKPU kita.
09:492029 Taufik kan jadi Bang Apres. Dia punya ijazah lebih baik.
09:53Oke, jadi Bang Andre, jadi sikap dari...
09:57Sebentar, Bang Andre, jadi sikap dari PDP yang ada di Sukabumi, apakah nanti akan meluas bergerak ke sejumlah wilayah lain?
10:05Ini untuk bangsa dan negara. Saya katakan apa yang dilakukan oleh Taufik itu, itu adalah keberanian moral dari seorang pejabat
10:15publik yang ada di daerah untuk mempunyai sikap gitu.
10:19Dan itu untuk pelajaran kita gitu.
10:23PR juga harus berani, Kompas juga harus berani untuk mempunyai sikap seperti itu.
10:27Jadi PDIP mendukung sikap dari kadernya yang di Sukabumi ya, Bang Andreas ya?
10:37Ya, Anda tahu bagaimana proses apa yang terjadi.
10:41Saya menurunkan ini karena sikap keberanian, sikap saya terhadap apa yang diputuskan di MK.
10:49Dan itu saya kira keberanian seperti itu harus didukung.
10:52Oke, diristui oleh PDIP. Bang Bill, tapi begini, ini kan disampaikan barusan sama Bang Andreas, bisa saja juga meluas ke
11:01sejumlah wilayah yang lain.
11:02Dan tadi juga ada tuntutan dari sejumlah kadernya yang mengatakan untuk Mas Gibran mundur saja pasnya putusan dari MK.
11:08Jawaban Anda?
11:10Ya, kalau kader-kader PDIP mau melakukan hal itu bagus.
11:12Ini Bang Andreas, saya bicara dulu.
11:14Bang Andreas, ini pertanyaannya buat saya.
11:18Kalau itu dilakukan oleh kader-kader PDIP, di kantor PDIP, atau di rumah pribadi, silahkan.
11:24Tapi kalau pejabat publik kemudian dilakukan di kantor negara, ini adalah pelecehan terhadap lembaga negara.
11:31Apalagi tidak ada sebuah putusan atau semacam informasi lebih menguat tentang Gibran adalah orang yang melakukan apelanggaran konstitusional.
11:40Selama ini kan cuma tafsir di ruang publik.
11:42Dari putusan Mahkamah Konstitusi yang sebenarnya sangat menjaga situasi itu.
11:46Jadi saya rasa Bang Andreas justru ingin menampilkan ke ruang publik bahwa kualitas pejabat-pejabat dari teman-teman PDIP seperti
11:54itu.
11:54Sangat rendahan dalam berpikir, ketanakan-kanakan, nasioner.
11:58Dan ini adalah sesuatu atau perbuatan yang menurut saya adalah...
12:02Oke, sebentar.
12:03Kalau begitu, Bang Bill, saya punya pertanyaan buat Anda kalau begitu.
12:07Bang Bill, kalau memang...
12:10Bagus yang perlu kita dukung juga.
12:13Tolong diterima dulu Bang Andreas.
12:14Sebentar Bang Andreas, sekarang saya ke Bang Bill dulu.
12:16Bang Bill, kalau memang itu sikapnya PDIP, sekarang harapan Anda dari Gibran Nisti, bagaimana sikap istana, kemudian partai koalisi untuk
12:26mendukung, Mas Gibran?
12:28Ya, seharusnya, saya mau kasih ingat sama teman-teman koalisi terutama ya.
12:32Jangan lupa, Gibran orang yang punya perang terhadap eksistensi mereka.
12:36Jadi Gibran juga yang justru memberikan peluang bagi gabungan partai politik untuk ikut menikmati bagaimana menjadi penguasa yang bergabung bersama
12:45Pak Prabowo.
12:45Itu satu.
12:46Jadi, jangan tutup mata di sini, itu yang pertama.
12:48Yang kedua, selalu bersikap objektif.
12:50Karena Gibran Raka Buming Raka, saya kira dia tidak akan takut, kalaupun nanti akan ada pansus kah, atau akan ada,
12:56apa istilahnya, mekanisme untuk impeachment.
13:00Selama diberikan ruang untuk mempertanggungjawabkan, saya yakin Gibran Raka Buming Raka tidak akan takut dan tidak akan berhenti.
13:06Tapi satu hal yang jangan dilupakan, tolong jangan sesatkan publik, seolah-olah Gibran itu tidak lulus SMA.
13:12Karena fakta persidangan itu hanya mengatakan, karena tidak didatangkan Gibran.
13:16Yang didatangkan adalah Dik Dasmen, di mana Dik Dasmen sendiri yang bikin peraturan, jangan membawa sertifikat kelulusannya.
13:24Karena kalau dibawa, maka itu jadi D1.
13:26Maka yang paling penting di sini adalah bagaimana lama dari sekolahnya Gibran yang disetarakan grade 12 dalam konteks SMK yang
13:33ada di Indonesia.
13:34Sayang sekali, pemahaman dari anggota DPR kita yang kebetulan dari PDIP terlalu rendahan, terlalu kampungan, reaksioner, dan destruktif.
13:42Ini adalah sikap yang justru menghancurkan demokrasi kita, dan kami atas nama relawan Gibran Nisti akan menjadikan ini sebagai temuan
13:49untuk meminta kepada Dewan Kehormatan DPR-nya yang ada di Sukabumi untuk memproses yang bersangkutan
13:55karena dinilai sudah mencederai demokrasi kita dan lambang negara kita. Aku pikir itu.
14:00Baik, terima kasih Bang Bilky, terima kasih Bang Andres setelah bergabung di Kompas Petang.
14:04Kita berjumpa lagi di dialog berikutnya.
14:05Nanti Taufik aja jadi Wakil Presiden.
14:08Siapa Bangku?