00:11Terima kasih.
00:42Terima kasih.
01:00Bicara mengenai bagaimana makna dari 100 tahun peringatan erupsi Gunung Batur atau dikenal Laut Batur.
01:08Silakan, Bli.
01:09Ya, terima kasih.
01:11Jadi memang apa yang kami lakukan saat ini, yang kami rangkai sebagai penggiatan 100 tahun Ren Batur itu,
01:23memang secara prinsip adalah untuk memperingati apa yang leluhur kami lakukan 100 tahun lalu.
01:32Jadi pada prinsipnya kita mengenang dan memperingati peristiwa besar yang secara kultural itu banyak sekali memberikan dampak kepada masyarakat desa
01:44Gunung Batur.
01:45Karena relokasi di 100 tahun lalu itu menyebabkan desa kami direlokasi, dipindahkan.
01:52Karena perpindahan situs permukiman tentu ada banyak penyesuaian yang terjadi kemudian.
01:59Ya, kita kehilangan sumber daya waktu itu kan, kehilangan rumah, kehilangan mungkin beladang yang mendekat dengan kawasan permukiman,
02:08tentu berdampak pada kehidupan masyarakat.
02:12Dan yang kita rayakan adalah semangat daripada tetua-tetua kita.
02:19Dalam kondisi terkena bencana seperti itu bisa bangkit.
02:24Dan dalam waktu 100 tahun sudah nyaris bisa melengkapi atau membangun kembali situs-situs kami.
02:33Meskipun ya tentu Pura Ulun dan Batur sebagai situs sentral dia tergeser ya karena ada di permukiman.
02:39Ada beberapa situs seperti Pura Kodo, Pura Jabakuta yang juga disesuaikan dengan posisi permukiman saat ini.
02:47Dia bergeser tapi dia mengurangi makna.
02:50Ada juga situs-situs yang benar-benar hilang seperti Pura Pasar Agung, Pura Prapen Pingit.
02:55Itu kita sudah bisa bangun kembali.
02:57Artinya 100 tahun yang lalu leluhur kami mulai dari nol lagi membangun peradaban Batur itu.
03:03Dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang tersisa, dengan ingatan, dengan mungkin ya materi pasti ya.
03:12Dan tentunya kekuatan komunikasi dengan pemerintah, dengan aparat otoritas ketika itu.
03:19Sehingga Batur kembali bangkit.
03:23Maka salah satu daripada pokok-pokok pikiran dalam kegiatan kami ini adalah Batur Metangi.
03:30Artinya Batur Bangkit ya.
03:32Kita berupaya membangkit bagaimana merefleksikan 100 tahun lalu melalui peristiwa itu untuk ratusan tahun ke depan.
03:41Jadi tentu dalam kondisi hari ini juga Batur tidak lepas dari berbagai tantangan.
03:47Tantangan alifungsi, tantangan disrupsi kultural.
03:51Banyak sekali yang saya kira sama dengan tantangan-tantangan di desa lain pada umumnya di Bali.
03:57Mungkin juga di dunia begitu.
03:59Jadi kita berupaya untuk itu.
04:01Untuk bisa survive, bisa semakin berkembang.
04:12Nah, harapan ke depan dari 100 tahun era Rarut Batur ini, ke depannya seperti apa untuk masyarakat Batur?
04:20Ya, seperti yang saya nyatakan tadi memang pertama kami harapkan ada sisi kependidikan ya.
04:29Jadi masyarakat khususnya generasi muda bisa teredukasi melalui kegiatan ini.
04:36Jadi tidak, walaupun ya mungkin ini adalah gagasan yang cukup ideal, yang namanya ideal itu kadang-kadang jauh daripada realitas
04:47gitu.
04:47Tapi kita menembak hal yang ideal gitu.
04:50Harapan kami ya memang masyarakat tidak kehilangan jati dirinya lah, tidak kehilangan identitasnya.
04:56Dengan paham tentang sejarah, nilai-nilai sejarah, nilai-nilai kultural itu jadi masyarakat bisa,
05:03khususnya generasi muda bisa teredukasi, bisa lebih literer dalam konteks melaksanakan atau melanjutkan peradaban Batur.
05:13Karena kan bagaimanapun juga, tahun ini, tahun 2026 ketika 100 tahun itu sudah tidak ada lagi pelaku sejarah di peristiwa
05:22100 tahun itu.
05:24Yang terakhir sudah meninggal sekisaran 8 tahun yang lalu, 8 atau 6 tahun yang lalu.
05:29Itu orang yang terakhir yang, sementara 100 tahun juga pasti akan demikian.
05:34Mungkin orang yang merayakan atau yang melihat peristiwa peringatan ini juga akan sudah tidak ada.
05:43Tetapi harapan kita nilai-nilai itu tetap terwariskan.
05:46Satu lagi, tadi di seminar itu sempat adakan untuk melawan sesuatu yang berusaha menghentikan tradisi atau mencoba untuk menghentikan tradisi.
06:03Itu seperti apa sih?
06:05Kami bukan anti pada perubahan, anti pada pembangunan.
06:11Tetapi kami memegang nilai-nilai ideologi yang diwarisi dari para leluhur.
06:20Terutama dalam konteks menjaga kawasan Kaldera Batur yang secara kultural kami sebut sebagai tetaman yang dapat dari.
06:28Maka hal-hal yang bagi kami tidak sejalan dengan nilai-nilai itu sebisa mungkin kami tidak akan lindungi.
06:38Artinya ketika ada hal yang kurang sesuai dengan nilai-nilai yang kami wariskan, kami akan lawan.
06:45Misalnya dalam konteks ada fungsi misalnya.
06:50Sepanjang itu sesuai dengan nilai-nilai, ya kita bisa diskusikan.
06:55Memang kan pembangunan yang baik adalah pembangunan yang dikomunikasikan, bukan tiba-tiba.
07:02Kalau sudah komunikasikan kan kita tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.
07:06Sampai saat ini sih kita masih bersepakat ada nilai-nilai yang boleh atau boleh diadaptasikan.
07:13Tapi ada juga nilai yang harus terjaga.
07:17Hal ini kan harus beriringan.
07:19Jadi bagaimana kita membangun sesuatu, imaji yang memang win-win solution.
07:26Bukan hanya untuk memenangkan masyarakat adat, memenangkan pemerintah, atau memenangkan pihak ketiga, investor, swasta.
07:36Memang harus duduk bersama dulu.
07:38Jangan ujuk-ujuk tiba-tiba ada program-program pengembangan yang tiba-tiba langsung turun dari langit yang kami tidak tahu.
07:44Lebih-lebih misalnya berada di zona-zona yang tidak sesuai dengan apa yang kita lakukan.
07:52Misalnya contohnya pembangunan, komunikasi pariwisata yang berdekatan dengan situs-situs itu kan kita punya etikanya.
07:59Jadi capriwisata seperti itu.
08:02Dan bagi kami gunung dan danau batu itu adalah sumber kesucian.
08:07Pusat dan sumber kesucian.
08:08Sumbu dari energi yang menjaga kami.
08:13Sampai hari ini ya memang karena peristiwa satu tahun lalu juga mengubah landscape kewenangan ya.
08:20Karena sekarang menjadi kawasan yang kewenangannya ada di pemerintah.
08:24Bukan lagi di jasa adat.
08:26Karena kita ditukar begitu bahasanya ya itu yang menjadi tantangan kami.
08:31Harapan kami walaupun sesuatu kewenangan bukan di kami.
08:34Tapi sesuatu bidang dan adat masih menjadi kawasan kami.
08:37Sesuatu tanggung jawab spiritualan.
08:38Mari sama-sama menjaga.
08:40Karena batu ini tanggung jawab bersama dari Bali.
08:44Bukan hanya masyarakat batu.
08:45Kalau batu rusak, Bali akan rusak.
08:48Kalau kita anggap pulau Bali ini sebagai sebuah tubuh manusia,
08:51batu adalah salah satu kepalanya.
08:53Sama seperti bersakir, sama seperti kawasan jatuh anggap batu karun.
08:57Kalau kepala rusak, dia akan rusak sampai ke badan-badannya.
09:01Kan ada pepatah menyatakan.
09:03Ikan itu rusak dari kepala.
09:04Kalau kepalanya rusak, semua badan akan rusak.
09:08Rusaknya dalam artian apa?
09:10Banyak narasi kultural yang dititipkan oleh ketua kami terhadap saat itu.
09:17Bisa dalam bentuk fisik, bencana alam.
09:20Bisa dalam bentuk non-fisik, ketemah, kena kutukan.
09:27Nah, ya itu tinggal dipilih yang mana.
09:31Dan padahal akhirnya ya sama.
09:33Kutukan itu juga bisa berupa,
09:37karena kita tidak pandai menjaga harmonisasi alam.
09:40Jadi jangan selalu juga menggerakkan kutukan itu sebagai hanya sekedar mitos,
09:46sekedar hal-hal yang bersifat rohani.
09:48Kalau kita sudah merusak alam dan terkena imbasnya itu juga bagian daripada kutukan, alam.
09:54Satu lagi, Pijro.
09:56Soal ini kan adanya ketidaksingkuran.
09:59Mungkin ada kebijakan dari pemerintah soal TWA.
10:03Termasuk juga masyarakat adat sendiri, petani lokal.
10:06Ada yang konflik dengan investor.
10:08Itu bagaimana?
10:09Kalau petani lokal itu petani lokal yang mana dulu nih?
10:13Seperti apa sih kasusnya?
10:15Ya, Anda mungkin bisa konfirmasi dulu,
10:19petani lokal itu apakah betul-betul petani batur?
10:22Atau jangan-jangan petani yang justru merambah kawasan adat kami lebih dulu,
10:25daripada investor.
10:28Kalau soal kasus itu,
10:31saya tidak mau komen sebagai orang yang juga harus dirugikan.
10:36Entah pemerintah ataupun kelompok petani itu yang menang,
10:39yang rugi adalah desa adat.
10:40Karena mereka tidak pernah menghormati nilai-nilai yang telah kami waris dari dulu.
10:47Dan dari dulu tidak mau.
10:50Artinya bukan masyarakat batur ya?
10:52Ya, nanti bisa cek lah.
10:53Berapa orang itu masyarakat batur?
10:55Walaupun kemarin misalnya ribu-ribu mengatasnamakan sebagai warga adat batur.
10:59Warga adat batur itu hari ini jumlahnya 12.685
11:03berdasar hitungan ketekan pada saat musabah desa di Pura Desa.
11:08Itulah masyarakat adat batur, kurang lebih ya.
11:10Kalau ada orang mengatasnamakan warga masyarakat adat batur
11:14atau kemudian narasinya dipelintir menjadi masyarakat adat Bali
11:18karena sudah ketara, ya mari kita uji.
11:22Kami jujur saja dokumen masalah kasus itu karena itu sudah menguntungkan bagi kami
11:29secara sebagai warga desa adat.
11:30Karena kami akan selalu tersudutkan, terkalahkan.
11:35Kami juga sulit melindungi situs-situs kami ketika jadi seperti itu kan.
11:43Jadi perambahan atau jadi apa.
11:44Beda misalnya, mari kalau kita bersama-sama berkolaborasi menjaga itu bersama-sama,
11:49beda lagi perhitungannya.
11:50Kami tidak punya alasan yang, apa namanya,
11:56sementara ya untuk kawasan itu tidak ada alasan untuk komensil ya.
12:00Sementara.
12:01Kami membuat Pura itu bukan untuk dijual.
12:04Kami membangun Pura hanya untuk membalikkan situs yang dulu hilang.
12:09Kami membangun akses sampai Pura Pasar Agung itu berdarah-darah
12:13demi membangun Pura Pasar Agung.
12:15Bukan untuk tujuan pariwisata seperti sekarang.
12:18Ya meskipun juga secara, apa namanya, dampak ya tentu ada dampak domino ya,
12:24masyarakat gitu secara umum.
12:25Tapi ya pada prinsipnya itu awalnya bukan untuk itu gitu.
12:30Adalah untuk, apa namanya, untuk alasan yang spiritual gitu.
12:35Untuk membangun kembali situs kami.
12:37Meskipun juga tidak bisa juga kita spiritualitas itu selalu kita agung-agungkan
12:42di romantisasi seperti itu kan.
12:44Bisa, ada yang bisa dimanfaatkan.
12:46Tapi jangan juga melanggar hal-hal yang kurang atau tidak kita sepakati gitu.
12:51Pada prinsipnya seperti itu.
12:55Persoalan lainnya memang kalau soal tanah,
12:57konflik tanah itu batur sedang, ya sedang seksi ya.
13:01Batur sebagai sebuah desa adat dan sebagai sebuah kawasan ya.
13:05Karena kan beda itu.
13:06Kalau kita bicara kawasan batur itu ada 15 desa adat yang memiliki kawasan.
13:10Termasuk TWA itu termasuk kawasan batur?
13:13Iya. Kalau TWA itu memang sebagian besarnya masuk di kawasan desa adat batur.
13:18Karena TWA lah kami tidak punya akses untuk masuk selama ini.
13:23Nah itu bagaimana caranya?
13:25Biar bisa sinkron?
13:26Kami berharap pemerintah hari ini bisa juga memperhatikan suara-suara itu.
13:33Termasuk media gitu.
13:35Kalau ingin menjelaskan atau mencari tahu tentang bagaimana tanggapan kami terhadap kawasan itu.
13:44Tanya kami dulu dong.
13:46Jangan tiba-tiba mengklaim sebagai masyarakat adat, batur gitu.
13:51Masyarakat adat yang mana?
13:53Masyarakat yang turun-temurun berada di sana itu yang mana?
13:57Yang sejak tahun berapa?
13:59Kalau 1990 itu dianggap sudah turun-temurun?
14:03Namun ya memang saja generasi kedua kalau dianggap dari 1990 gitu kan.
14:08Tapi apakah itu sudah cukup untuk melegitimasi?
14:11Ya itulah.