Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
100 TAHUN RARUD BATUR: KEBANGKITAN DAN HARAPAN BARU MASYARAKAT ADAT

Peringatan satu abad letusan Gunung Batur atau Rarud Batur menjadi momentum refleksi besar bagi masyarakat adat dalam merajut kembali peradaban yang sempat terdislokasi akibat bencana masa lampau.

Meski menghadapi berbagai tantangan zaman dan alih fungsi kawasan, semangat Batur Metangi diharapkan mampu memperkuat edukasi serta melestarikan identitas budaya bagi generasi muda ke depan.

Tonton selengkapnya video perbincangan mendalam ini untuk mengetahui perjalanan dan harapan masyarakat adat Batur selengkapnya!

Hanya di youtube beritabali.com

#Bali #BeritaBali #AllAboutBali #RarudBatur #BaturMetangi
Transkrip
00:11Terima kasih.
00:42Terima kasih.
01:00Bicara mengenai bagaimana makna dari 100 tahun peringatan erupsi Gunung Batur atau dikenal Laut Batur.
01:08Silakan, Bli.
01:09Ya, terima kasih.
01:11Jadi memang apa yang kami lakukan saat ini, yang kami rangkai sebagai penggiatan 100 tahun Ren Batur itu,
01:23memang secara prinsip adalah untuk memperingati apa yang leluhur kami lakukan 100 tahun lalu.
01:32Jadi pada prinsipnya kita mengenang dan memperingati peristiwa besar yang secara kultural itu banyak sekali memberikan dampak kepada masyarakat desa
01:44Gunung Batur.
01:45Karena relokasi di 100 tahun lalu itu menyebabkan desa kami direlokasi, dipindahkan.
01:52Karena perpindahan situs permukiman tentu ada banyak penyesuaian yang terjadi kemudian.
01:59Ya, kita kehilangan sumber daya waktu itu kan, kehilangan rumah, kehilangan mungkin beladang yang mendekat dengan kawasan permukiman,
02:08tentu berdampak pada kehidupan masyarakat.
02:12Dan yang kita rayakan adalah semangat daripada tetua-tetua kita.
02:19Dalam kondisi terkena bencana seperti itu bisa bangkit.
02:24Dan dalam waktu 100 tahun sudah nyaris bisa melengkapi atau membangun kembali situs-situs kami.
02:33Meskipun ya tentu Pura Ulun dan Batur sebagai situs sentral dia tergeser ya karena ada di permukiman.
02:39Ada beberapa situs seperti Pura Kodo, Pura Jabakuta yang juga disesuaikan dengan posisi permukiman saat ini.
02:47Dia bergeser tapi dia mengurangi makna.
02:50Ada juga situs-situs yang benar-benar hilang seperti Pura Pasar Agung, Pura Prapen Pingit.
02:55Itu kita sudah bisa bangun kembali.
02:57Artinya 100 tahun yang lalu leluhur kami mulai dari nol lagi membangun peradaban Batur itu.
03:03Dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang tersisa, dengan ingatan, dengan mungkin ya materi pasti ya.
03:12Dan tentunya kekuatan komunikasi dengan pemerintah, dengan aparat otoritas ketika itu.
03:19Sehingga Batur kembali bangkit.
03:23Maka salah satu daripada pokok-pokok pikiran dalam kegiatan kami ini adalah Batur Metangi.
03:30Artinya Batur Bangkit ya.
03:32Kita berupaya membangkit bagaimana merefleksikan 100 tahun lalu melalui peristiwa itu untuk ratusan tahun ke depan.
03:41Jadi tentu dalam kondisi hari ini juga Batur tidak lepas dari berbagai tantangan.
03:47Tantangan alifungsi, tantangan disrupsi kultural.
03:51Banyak sekali yang saya kira sama dengan tantangan-tantangan di desa lain pada umumnya di Bali.
03:57Mungkin juga di dunia begitu.
03:59Jadi kita berupaya untuk itu.
04:01Untuk bisa survive, bisa semakin berkembang.
04:12Nah, harapan ke depan dari 100 tahun era Rarut Batur ini, ke depannya seperti apa untuk masyarakat Batur?
04:20Ya, seperti yang saya nyatakan tadi memang pertama kami harapkan ada sisi kependidikan ya.
04:29Jadi masyarakat khususnya generasi muda bisa teredukasi melalui kegiatan ini.
04:36Jadi tidak, walaupun ya mungkin ini adalah gagasan yang cukup ideal, yang namanya ideal itu kadang-kadang jauh daripada realitas
04:47gitu.
04:47Tapi kita menembak hal yang ideal gitu.
04:50Harapan kami ya memang masyarakat tidak kehilangan jati dirinya lah, tidak kehilangan identitasnya.
04:56Dengan paham tentang sejarah, nilai-nilai sejarah, nilai-nilai kultural itu jadi masyarakat bisa,
05:03khususnya generasi muda bisa teredukasi, bisa lebih literer dalam konteks melaksanakan atau melanjutkan peradaban Batur.
05:13Karena kan bagaimanapun juga, tahun ini, tahun 2026 ketika 100 tahun itu sudah tidak ada lagi pelaku sejarah di peristiwa
05:22100 tahun itu.
05:24Yang terakhir sudah meninggal sekisaran 8 tahun yang lalu, 8 atau 6 tahun yang lalu.
05:29Itu orang yang terakhir yang, sementara 100 tahun juga pasti akan demikian.
05:34Mungkin orang yang merayakan atau yang melihat peristiwa peringatan ini juga akan sudah tidak ada.
05:43Tetapi harapan kita nilai-nilai itu tetap terwariskan.
05:46Satu lagi, tadi di seminar itu sempat adakan untuk melawan sesuatu yang berusaha menghentikan tradisi atau mencoba untuk menghentikan tradisi.
06:03Itu seperti apa sih?
06:05Kami bukan anti pada perubahan, anti pada pembangunan.
06:11Tetapi kami memegang nilai-nilai ideologi yang diwarisi dari para leluhur.
06:20Terutama dalam konteks menjaga kawasan Kaldera Batur yang secara kultural kami sebut sebagai tetaman yang dapat dari.
06:28Maka hal-hal yang bagi kami tidak sejalan dengan nilai-nilai itu sebisa mungkin kami tidak akan lindungi.
06:38Artinya ketika ada hal yang kurang sesuai dengan nilai-nilai yang kami wariskan, kami akan lawan.
06:45Misalnya dalam konteks ada fungsi misalnya.
06:50Sepanjang itu sesuai dengan nilai-nilai, ya kita bisa diskusikan.
06:55Memang kan pembangunan yang baik adalah pembangunan yang dikomunikasikan, bukan tiba-tiba.
07:02Kalau sudah komunikasikan kan kita tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.
07:06Sampai saat ini sih kita masih bersepakat ada nilai-nilai yang boleh atau boleh diadaptasikan.
07:13Tapi ada juga nilai yang harus terjaga.
07:17Hal ini kan harus beriringan.
07:19Jadi bagaimana kita membangun sesuatu, imaji yang memang win-win solution.
07:26Bukan hanya untuk memenangkan masyarakat adat, memenangkan pemerintah, atau memenangkan pihak ketiga, investor, swasta.
07:36Memang harus duduk bersama dulu.
07:38Jangan ujuk-ujuk tiba-tiba ada program-program pengembangan yang tiba-tiba langsung turun dari langit yang kami tidak tahu.
07:44Lebih-lebih misalnya berada di zona-zona yang tidak sesuai dengan apa yang kita lakukan.
07:52Misalnya contohnya pembangunan, komunikasi pariwisata yang berdekatan dengan situs-situs itu kan kita punya etikanya.
07:59Jadi capriwisata seperti itu.
08:02Dan bagi kami gunung dan danau batu itu adalah sumber kesucian.
08:07Pusat dan sumber kesucian.
08:08Sumbu dari energi yang menjaga kami.
08:13Sampai hari ini ya memang karena peristiwa satu tahun lalu juga mengubah landscape kewenangan ya.
08:20Karena sekarang menjadi kawasan yang kewenangannya ada di pemerintah.
08:24Bukan lagi di jasa adat.
08:26Karena kita ditukar begitu bahasanya ya itu yang menjadi tantangan kami.
08:31Harapan kami walaupun sesuatu kewenangan bukan di kami.
08:34Tapi sesuatu bidang dan adat masih menjadi kawasan kami.
08:37Sesuatu tanggung jawab spiritualan.
08:38Mari sama-sama menjaga.
08:40Karena batu ini tanggung jawab bersama dari Bali.
08:44Bukan hanya masyarakat batu.
08:45Kalau batu rusak, Bali akan rusak.
08:48Kalau kita anggap pulau Bali ini sebagai sebuah tubuh manusia,
08:51batu adalah salah satu kepalanya.
08:53Sama seperti bersakir, sama seperti kawasan jatuh anggap batu karun.
08:57Kalau kepala rusak, dia akan rusak sampai ke badan-badannya.
09:01Kan ada pepatah menyatakan.
09:03Ikan itu rusak dari kepala.
09:04Kalau kepalanya rusak, semua badan akan rusak.
09:08Rusaknya dalam artian apa?
09:10Banyak narasi kultural yang dititipkan oleh ketua kami terhadap saat itu.
09:17Bisa dalam bentuk fisik, bencana alam.
09:20Bisa dalam bentuk non-fisik, ketemah, kena kutukan.
09:27Nah, ya itu tinggal dipilih yang mana.
09:31Dan padahal akhirnya ya sama.
09:33Kutukan itu juga bisa berupa,
09:37karena kita tidak pandai menjaga harmonisasi alam.
09:40Jadi jangan selalu juga menggerakkan kutukan itu sebagai hanya sekedar mitos,
09:46sekedar hal-hal yang bersifat rohani.
09:48Kalau kita sudah merusak alam dan terkena imbasnya itu juga bagian daripada kutukan, alam.
09:54Satu lagi, Pijro.
09:56Soal ini kan adanya ketidaksingkuran.
09:59Mungkin ada kebijakan dari pemerintah soal TWA.
10:03Termasuk juga masyarakat adat sendiri, petani lokal.
10:06Ada yang konflik dengan investor.
10:08Itu bagaimana?
10:09Kalau petani lokal itu petani lokal yang mana dulu nih?
10:13Seperti apa sih kasusnya?
10:15Ya, Anda mungkin bisa konfirmasi dulu,
10:19petani lokal itu apakah betul-betul petani batur?
10:22Atau jangan-jangan petani yang justru merambah kawasan adat kami lebih dulu,
10:25daripada investor.
10:28Kalau soal kasus itu,
10:31saya tidak mau komen sebagai orang yang juga harus dirugikan.
10:36Entah pemerintah ataupun kelompok petani itu yang menang,
10:39yang rugi adalah desa adat.
10:40Karena mereka tidak pernah menghormati nilai-nilai yang telah kami waris dari dulu.
10:47Dan dari dulu tidak mau.
10:50Artinya bukan masyarakat batur ya?
10:52Ya, nanti bisa cek lah.
10:53Berapa orang itu masyarakat batur?
10:55Walaupun kemarin misalnya ribu-ribu mengatasnamakan sebagai warga adat batur.
10:59Warga adat batur itu hari ini jumlahnya 12.685
11:03berdasar hitungan ketekan pada saat musabah desa di Pura Desa.
11:08Itulah masyarakat adat batur, kurang lebih ya.
11:10Kalau ada orang mengatasnamakan warga masyarakat adat batur
11:14atau kemudian narasinya dipelintir menjadi masyarakat adat Bali
11:18karena sudah ketara, ya mari kita uji.
11:22Kami jujur saja dokumen masalah kasus itu karena itu sudah menguntungkan bagi kami
11:29secara sebagai warga desa adat.
11:30Karena kami akan selalu tersudutkan, terkalahkan.
11:35Kami juga sulit melindungi situs-situs kami ketika jadi seperti itu kan.
11:43Jadi perambahan atau jadi apa.
11:44Beda misalnya, mari kalau kita bersama-sama berkolaborasi menjaga itu bersama-sama,
11:49beda lagi perhitungannya.
11:50Kami tidak punya alasan yang, apa namanya,
11:56sementara ya untuk kawasan itu tidak ada alasan untuk komensil ya.
12:00Sementara.
12:01Kami membuat Pura itu bukan untuk dijual.
12:04Kami membangun Pura hanya untuk membalikkan situs yang dulu hilang.
12:09Kami membangun akses sampai Pura Pasar Agung itu berdarah-darah
12:13demi membangun Pura Pasar Agung.
12:15Bukan untuk tujuan pariwisata seperti sekarang.
12:18Ya meskipun juga secara, apa namanya, dampak ya tentu ada dampak domino ya,
12:24masyarakat gitu secara umum.
12:25Tapi ya pada prinsipnya itu awalnya bukan untuk itu gitu.
12:30Adalah untuk, apa namanya, untuk alasan yang spiritual gitu.
12:35Untuk membangun kembali situs kami.
12:37Meskipun juga tidak bisa juga kita spiritualitas itu selalu kita agung-agungkan
12:42di romantisasi seperti itu kan.
12:44Bisa, ada yang bisa dimanfaatkan.
12:46Tapi jangan juga melanggar hal-hal yang kurang atau tidak kita sepakati gitu.
12:51Pada prinsipnya seperti itu.
12:55Persoalan lainnya memang kalau soal tanah,
12:57konflik tanah itu batur sedang, ya sedang seksi ya.
13:01Batur sebagai sebuah desa adat dan sebagai sebuah kawasan ya.
13:05Karena kan beda itu.
13:06Kalau kita bicara kawasan batur itu ada 15 desa adat yang memiliki kawasan.
13:10Termasuk TWA itu termasuk kawasan batur?
13:13Iya. Kalau TWA itu memang sebagian besarnya masuk di kawasan desa adat batur.
13:18Karena TWA lah kami tidak punya akses untuk masuk selama ini.
13:23Nah itu bagaimana caranya?
13:25Biar bisa sinkron?
13:26Kami berharap pemerintah hari ini bisa juga memperhatikan suara-suara itu.
13:33Termasuk media gitu.
13:35Kalau ingin menjelaskan atau mencari tahu tentang bagaimana tanggapan kami terhadap kawasan itu.
13:44Tanya kami dulu dong.
13:46Jangan tiba-tiba mengklaim sebagai masyarakat adat, batur gitu.
13:51Masyarakat adat yang mana?
13:53Masyarakat yang turun-temurun berada di sana itu yang mana?
13:57Yang sejak tahun berapa?
13:59Kalau 1990 itu dianggap sudah turun-temurun?
14:03Namun ya memang saja generasi kedua kalau dianggap dari 1990 gitu kan.
14:08Tapi apakah itu sudah cukup untuk melegitimasi?
14:11Ya itulah.

Dianjurkan