Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
100 TAHUN RARUD BATUR: KEBANGKITAN DAN HARAPAN BARU MASYARAKAT ADAT

Peringatan satu abad letusan Gunung Batur atau Rarud Batur menjadi momentum refleksi besar bagi masyarakat adat dalam merajut kembali peradaban yang sempat terdislokasi akibat bencana masa lampau.

Meski menghadapi berbagai tantangan zaman dan alih fungsi kawasan, semangat Batur Metangi diharapkan mampu memperkuat edukasi serta melestarikan identitas budaya bagi generasi muda ke depan.

Tonton selengkapnya video perbincangan mendalam ini untuk mengetahui perjalanan dan harapan masyarakat adat Batur selengkapnya!

Hanya di youtube beritabali.com

#Bali #BeritaBali #AllAboutBali #RarudBatur #BaturMetangi
Transkrip
00:04Karena relokasi di 100 tahun lalu itu menyebabkan desa kami direlokasi, dipindahkan.
00:11Karena perpindahan situs, permukiman, tentu ada banyak penyesuaian yang terjadi kemudian.
00:18Situs-situs kami, meskipun ya tentu Pura Ulun dan Waktur sebagai situs sentral ya tergeser ya karena ada di permukiman.
00:25Nah harapan ke depan dari 100 tahun era Rarut Batur ini ke depannya seperti apa?
00:37Kembali ke topik 100 tahun peringatan erupsi Gunung Batur, kita menghadirkan narasumber ketiga yaitu jeruk penyarikan duran di Pura Ulun
00:53Danu.
00:55Batur, nah selengkapnya mungkin beliau bisa bicara mengenai bagaimana sih makna dari 100 tahun peringatan erupsi Gunung Batur atau dikenal
01:07laut Rarut Batur.
01:08Silahkan beli.
01:09Ya, terima kasih ya.
01:12Jadi memang apa yang kami lakukan saat ini yang kami rangkai sebagai penggiatan 100 tahun Rarut Batur itu memang secara
01:25prinsip adalah untuk memperingati apa yang leluhur kami lakukan ya 100 tahun lalu.
01:32Jadi pada prinsipnya kita mengenang dan memperingati peristiwa besar yang secara kultural itu banyak sekali memberikan dampak kepada masyarakat desa
01:44Rarut Batur.
01:45Karena relokasi di 100 tahun lalu itu menyebabkan desa kami direlokasi, dipindahkan.
01:52Karena perpindahan situs permukiman tentu ada banyak penyesuaian yang terjadi kemudian.
01:59Ya, kita kehilangan sumber daya waktu itu kan, kehilangan rumah, kehilangan mungkin beladang yang mendekat dengan kawasan permukiman tentu berdampak
02:10pada kehidupan masyarakat.
02:11Dan yang kita rayakan adalah semangat daripada tetua-tetua kita gitu.
02:19Dalam kondisi terkena bencana seperti itu bisa bangkit dan dalam waktu 100 tahun sudah nyaris bisa melengkapi atau membangun kembali
02:31situs-situs kami.
02:33Meskipun ya tentu Pura Ulun dan Batur sebagai situs sentral dia tergeser ya karena ada di permukiman.
02:39Ada beberapa situs seperti Pura Kodo, Pura Jabakuta yang juga disesuaikan dengan posisi permukiman saat ini gitu.
02:48Dia bergeser tapi dia mengurangi makna ada juga situs-situs yang benar-benar hilang seperti Pura Pasar Agung, Pura Trapen
02:54Pingit.
02:55Itu kita sudah bisa bangun kembali.
02:57Artinya 100 tahun yang lalu leluhur kami mulai dari nol lagi membangun peradaban batur itu.
03:03Dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang tersisa, dengan ingatan, dengan mungkin ya materi pasti ya.
03:12Dan tentunya kekuatan komunikasi dengan pemerintah, dengan aparat otoritas ketika itu.
03:19Sehingga batur kembali bangkit.
03:23Maka salah satu daripada pokok-pokok pikiran dalam kegiatan kami ini adalah batur metangi.
03:31Artinya batur bangkit ya.
03:32Kita berupaya membangkit bagaimana merefleksikan 100 tahun lalu melalui peristiwa itu untuk ratusan tahun ke depan.
03:42Tentu dalam kondisi hari ini juga batur tidak lepas dari berbagai tantangan.
03:47Tantangan alih fungsi, tantangan disrupsi kultural.
03:51Banyak sekali yang saya kira sama dengan tantangan-tantangan di desa lain pada umumnya di Bali.
03:57Mungkin juga di dunia.
03:59Jadi kita berupaya untuk itu.
04:01Untuk bisa survive, bisa semakin berkembang.
04:12Nah, harapan ke depan dari 100 tahun era rarut batur ini, ke depannya seperti apa untuk masyarakat batur?
04:20Ya, seperti yang saya nyatakan tadi, memang pertama kami harapkan ada sisi kependidikan.
04:29Jadi, masyarakat khususnya generasi muda bisa teredukasi melalui kegiatan ini.
04:37Jadi, walaupun ya mungkin ini adalah gagasan yang cukup ideal, yang namanya ideal itu kadang-kadang jauh daripada realitas.
04:47Tapi kita menembak hal yang ideal.
04:50Harapan kami yang memang masyarakat tidak kehilangan jati dirinya, tidak kehilangan identitasnya.
04:56Dengan paham tentang sejarah, nilai-nilai sejarah, nilai-nilai kultural itu, jadi masyarakat bisa, khususnya generasi muda, bisa teredukasi, bisa
05:06lebih literer dalam konteks melaksanakan atau melanjutkan peradaban batur.
05:13Karena kan bagaimanapun juga, tahun ini, tahun 2026 ketika 100 tahun itu, sudah tidak ada lagi pelaku sejarah di peristiwa
05:22100 tahun itu.
05:23Yang terakhir sudah meninggal sekisaran 8 tahun yang lalu, 8 atau 6 tahun yang lalu.
05:29Itu orang yang terakhir.
05:31Nah, sementara 100 tahun juga pasti akan demikian.
05:34Mungkin orang yang merayakan atau yang melihat peristiwa peringatan ini juga akan sudah tidak ada.
05:43Tetapi harapan kita nilai-nilai itu tetap terwariskan.
05:46Satu lagi, tadi di seminar itu sempat adakan untuk melawan sesuatu yang berusaha menghentikan tradisi atau mencoba untuk menghentikan tradisi.
06:03Itu seperti apa sih?
06:05Ya, kami bukan anti pada perubahan, anti pada pembangunan.
06:11Tetapi kami memegang nilai-nilai ideologi yang diwarisi dari para leluhur.
06:20Terutama dalam konteks menjaga kawasan kaldera batur yang secara kultural kami sebut sebagai tetaman yang dapat dari.
06:28Maka, hal-hal yang bagi kami tidak sejalan dengan nilai-nilai itu, sebisa mungkin kami tidak akan lindungi.
06:38Artinya, ketika ada hal yang kurang sesuai dengan nilai-nilai yang kami wariskan, kami kelawan.
06:45Misalnya dalam konteks ada fungsi, misalnya.
06:50Sepanjang itu sesuai dengan nilai-nilai, ya kita bisa diskusikan.
06:55Memang kan pembangunan yang baik adalah pembangunan yang dikomunikasikan, bukan tiba-tiba.
07:02Kalau sudah komunikasikan kan kita tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.
07:06Sampai saat ini sih kita masih bersepakat ada nilai-nilai yang boleh atau boleh diadaptasikan,
07:13tapi ada juga nilai yang harus terjaga.
07:17Hal ini kan harus beriringan.
07:19Jadi, bagaimana kita membangun sesuatu, imaji yang memang win-win solution.
07:26Bukan hanya untuk memenangkan masyarakat adat, memenangkan pemerintah,
07:32atau memenangkan pihak ketiga, investor, swasta.
07:36Memang harus bersama dulu.
07:38Jangan ujuk-ujuk, tiba-tiba ada program-program pengembangan yang tiba-tiba langsung turun dari langit
07:43yang kita kami tidak tahu.
07:44Lebih-lebih misalnya berada di zona-zona yang tidak sesuai dengan apa yang kita lakukan.
07:52Misalnya contohnya pembangunan,
07:55kumulasi pariwisata yang berdekatan dengan situs-situs,
07:57itu kan kita punya etikanya.
08:00Jadi, saya perlisir seperti itu.
08:02Dan bagi kami, gunung dan dana batu itu adalah sumber kesucian.
08:07Pusat dan sumber kesucian, sumbu dari energi yang menjaga kami.
08:13Sampai hari ini, memang karena peristiwa 100 tahun lalu juga mengubah landscape kewenangan.
08:19Karena sekarang menjadi kawasan yang kewenangannya ada di pemerintah,
08:23bukan lagi di jasa adat.
08:26Karena kita dipukar begitu bahasanya, ya itu yang menjadi tantangan kami.
08:31Harapan kami, walaupun secara kewenangan bukan kami,
08:34tapi secara widangan adat masih menjadi kawasan kami, secara tanggung jawab spiritual,
08:38mari sama-sama menjaga.
08:40Karena batur ini tanggung jawab pertama dari Bali, bukan hanya masyarakat batur.
08:45Kalau batur rusak, Bali akan rusak.
08:48Kalau kita anggap pulau Bali ini sebagai sebuah tubuh manusia,
08:51batur adalah salah satu kepalanya.
08:53Sama seperti bersakir, sama seperti kawasan jatuh anggap batu karun.
08:57Kalau kepala rusak, dia akan rusak sampai ke badan-badannya.
09:01Kan ada pepatah menyatakan, ikan itu rusak dari kepala.
09:04Kalau kepalanya rusak, semua badannya akan rusak.
09:09Rusaknya dalam arti apa?
09:10Banyak narasi kultural yang dititipkan oleh ketua kami,
09:15jatuh anggap batu itu.
09:17Bisa dalam bentuk fisik, bencana alam.
09:20Bisa dalam bentuk non-fisik, ketemah, kena kutukan.
09:28Ya itu tinggal dipilih, yang mana.
09:31Dan padahal akhirnya ya sama.
09:33Kutukan itu juga bisa berupa,
09:37karena kita tidak pandai menjaga harmonisasi alam.
09:40Jadi jangan selalu juga menggerakkan kutukan itu
09:43sebagai hanya sekedar mitos,
09:46sekedar hal-hal yang bersifat rohani.
09:49Kalau kita sudah merusak alam,
09:51dan terkena imbasnya itu juga bagian daripada kutukan, alam.
09:54Satu lagi, Pijro.
09:57Soal ini kan adanya ketidaksingkuran,
09:59mungkin ada kebijakan dari pemerintah soal TWA,
10:03termasuk juga masyarakat adat sendiri,
10:05petani lokal, ada yang konflik dengan investor,
10:08itu bagaimana?
10:09Kalau petani lokal itu petani lokal yang mana dulu nih?
10:13Seperti apa sih kasusnya?
10:16Anda mungkin bisa konfirmasi dulu,
10:19petani lokal itu apakah betul-betul petani batur?
10:22Atau jangan-jangan petani yang justru merambah
10:24kawasan adat kami lebih dulu?
10:25daripada investor.
10:28Kalau soal kasus itu,
10:31saya tidak mau komen sebagai orang yang,
10:34yang juga harus dirugikan.
10:36Entah pemerintah,
10:37ataupun kelompok petani itu yang menang,
10:39yang rugi adalah desa adat.
10:41Karena mereka tidak pernah menghormati nilai-nilai yang,
10:45lah kami waris dari dulu.
10:47Dan dari dulu tidak mau.
10:50Artinya bukan masyarakat batur ya?
10:52Ya, nanti bisa cek lah.
10:53Berapa orang itu masyarakat batur,
10:55walaupun kemarin misalnya ribu-ribu mengatasnamakan sebagai warga adat batur.
10:59Warga adat batur itu hari ini jumlahnya 12.685,
11:03berdasar hitungan,
11:04ketekan pada saat nusabe desa di Pura Desa.
11:08Itulah masyarakat adat batur.
11:09Kurang lebih ya.
11:11Kalau ada orang mengatasnamakan warga masyarakat adat batur,
11:14atau kemudian narasinya di pelintir menjadi masyarakat adat Bali,
11:18karena sudah ketara,
11:20ya mari kita uji.
11:22Kami jujur saja dokumen masalah kasus itu,
11:26karena itu sudah menguntungkan bagi kami.
11:29Secara sebagai warga desa adat.
11:30Karena kami akan selalu tersudutkan, terkalahkan.
11:35Kami juga sulit melindungi situs-situs kami ketika jadi seperti itu.
11:42Jadi perambahan, jadi apa.
11:44Beda misalnya,
11:45mari kalau kita bersama-sama berkolaborasi,
11:48menjaga itu bersama-sama,
11:49beda lagi perhitungannya.
11:51Kami tidak punya alasan yang,
11:54apa namanya,
11:56sementara ya,
11:57untuk kawasan itu ada alasan untuk komensil.
12:00Sementara.
12:01Kami membuat Pura itu bukan untuk jual.
12:04Kami membangun Pura hanya untuk
12:07membalikkan situs yang dulu hilang.
12:09Kami membangun akses sampai Pura Pasar Agung itu
12:12berdarah-darah demi membangun Pura Pasar Agung.
12:15Bukan untuk tujuan pariwisata seperti sekarang.
12:18Ya, meskipun juga secara,
12:20apa namanya,
12:21dampak ya,
12:22tentu ada dampak domino ya,
12:24masyarakat,
12:25itu secara umum.
12:25Tapi ya,
12:26pada prinsipnya itu awalnya bukan untuk itu.
12:30itu adalah untuk alasan yang spiritual,
12:35untuk membangun kembali situs kami.
12:37Meskipun juga tidak bisa juga kita,
12:40spiritualitas itu selalu kita agung-agungkan,
12:43diromantisasi seperti itu kan.
12:44Bisa,
12:45ada yang bisa dimanfaatkan.
12:46Tetapi,
12:47jangan juga melanggar hal-hal yang kurang,
12:49atau tidak kita sepakati.
12:51Pada prinsipnya itu seperti itu.
12:55Persoalan lainnya memang kalau soal tanah,
12:57konflik tanah itu Batur sedang,
13:00ya sedang seksi ya.
13:02Batur sebagai sebuah desa adat,
13:03dan sebagai sebuah kawasan.
13:04kawasan ya.
13:05Karena kan beda itu.
13:06Kalau kita bicara kawasan Batur itu ada 15 desa adat.
13:10Termasuk TWA itu termasuk kawasan Batur?
13:13Kalau TWA itu memang sebagian besarnya masuk di kawasan desa adat Batur.
13:18Karena TWA lah kami tidak punya akses untuk masuk selama ini.
13:23Nah itu bagaimana caranya?
13:24Biar bisa sinkron?
13:26Kami berharap pemerintah hari ini bisa juga memperhatikan suara-suara itu.
13:33Termasuk media gitu.
13:35Kalau ingin menjelaskan atau mencari tahu tentang
13:40bagaimana tanggapan kami terhadap kawasan itu,
13:45tanya kami dulu dong.
13:46Jangan tiba-tiba mengklaim sebagai masyarakat adat, Batur.
13:51Masyarakat adat yang mana?
13:53Masyarakat yang turun-temurun berada di sana itu yang mana?
13:57Yang sejak tahun berapa?
13:58Kalau 1990 itu dianggap sudah turun-temurun,
14:03ya iya memang.
14:04Saja generasi kedua kalau dianggap dari 1990 gitu kan.
14:08Tapi apakah itu sudah cukup untuk melegitimasi?
14:11Ya itulah.

Dianjurkan