00:04Karena relokasi di 100 tahun lalu itu menyebabkan desa kami direlokasi, dipindahkan.
00:11Karena perpindahan situs, permukiman, tentu ada banyak penyesuaian yang terjadi kemudian.
00:18Situs-situs kami, meskipun ya tentu Pura Ulun dan Waktur sebagai situs sentral ya tergeser ya karena ada di permukiman.
00:25Nah harapan ke depan dari 100 tahun era Rarut Batur ini ke depannya seperti apa?
00:37Kembali ke topik 100 tahun peringatan erupsi Gunung Batur, kita menghadirkan narasumber ketiga yaitu jeruk penyarikan duran di Pura Ulun
00:53Danu.
00:55Batur, nah selengkapnya mungkin beliau bisa bicara mengenai bagaimana sih makna dari 100 tahun peringatan erupsi Gunung Batur atau dikenal
01:07laut Rarut Batur.
01:08Silahkan beli.
01:09Ya, terima kasih ya.
01:12Jadi memang apa yang kami lakukan saat ini yang kami rangkai sebagai penggiatan 100 tahun Rarut Batur itu memang secara
01:25prinsip adalah untuk memperingati apa yang leluhur kami lakukan ya 100 tahun lalu.
01:32Jadi pada prinsipnya kita mengenang dan memperingati peristiwa besar yang secara kultural itu banyak sekali memberikan dampak kepada masyarakat desa
01:44Rarut Batur.
01:45Karena relokasi di 100 tahun lalu itu menyebabkan desa kami direlokasi, dipindahkan.
01:52Karena perpindahan situs permukiman tentu ada banyak penyesuaian yang terjadi kemudian.
01:59Ya, kita kehilangan sumber daya waktu itu kan, kehilangan rumah, kehilangan mungkin beladang yang mendekat dengan kawasan permukiman tentu berdampak
02:10pada kehidupan masyarakat.
02:11Dan yang kita rayakan adalah semangat daripada tetua-tetua kita gitu.
02:19Dalam kondisi terkena bencana seperti itu bisa bangkit dan dalam waktu 100 tahun sudah nyaris bisa melengkapi atau membangun kembali
02:31situs-situs kami.
02:33Meskipun ya tentu Pura Ulun dan Batur sebagai situs sentral dia tergeser ya karena ada di permukiman.
02:39Ada beberapa situs seperti Pura Kodo, Pura Jabakuta yang juga disesuaikan dengan posisi permukiman saat ini gitu.
02:48Dia bergeser tapi dia mengurangi makna ada juga situs-situs yang benar-benar hilang seperti Pura Pasar Agung, Pura Trapen
02:54Pingit.
02:55Itu kita sudah bisa bangun kembali.
02:57Artinya 100 tahun yang lalu leluhur kami mulai dari nol lagi membangun peradaban batur itu.
03:03Dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang tersisa, dengan ingatan, dengan mungkin ya materi pasti ya.
03:12Dan tentunya kekuatan komunikasi dengan pemerintah, dengan aparat otoritas ketika itu.
03:19Sehingga batur kembali bangkit.
03:23Maka salah satu daripada pokok-pokok pikiran dalam kegiatan kami ini adalah batur metangi.
03:31Artinya batur bangkit ya.
03:32Kita berupaya membangkit bagaimana merefleksikan 100 tahun lalu melalui peristiwa itu untuk ratusan tahun ke depan.
03:42Tentu dalam kondisi hari ini juga batur tidak lepas dari berbagai tantangan.
03:47Tantangan alih fungsi, tantangan disrupsi kultural.
03:51Banyak sekali yang saya kira sama dengan tantangan-tantangan di desa lain pada umumnya di Bali.
03:57Mungkin juga di dunia.
03:59Jadi kita berupaya untuk itu.
04:01Untuk bisa survive, bisa semakin berkembang.
04:12Nah, harapan ke depan dari 100 tahun era rarut batur ini, ke depannya seperti apa untuk masyarakat batur?
04:20Ya, seperti yang saya nyatakan tadi, memang pertama kami harapkan ada sisi kependidikan.
04:29Jadi, masyarakat khususnya generasi muda bisa teredukasi melalui kegiatan ini.
04:37Jadi, walaupun ya mungkin ini adalah gagasan yang cukup ideal, yang namanya ideal itu kadang-kadang jauh daripada realitas.
04:47Tapi kita menembak hal yang ideal.
04:50Harapan kami yang memang masyarakat tidak kehilangan jati dirinya, tidak kehilangan identitasnya.
04:56Dengan paham tentang sejarah, nilai-nilai sejarah, nilai-nilai kultural itu, jadi masyarakat bisa, khususnya generasi muda, bisa teredukasi, bisa
05:06lebih literer dalam konteks melaksanakan atau melanjutkan peradaban batur.
05:13Karena kan bagaimanapun juga, tahun ini, tahun 2026 ketika 100 tahun itu, sudah tidak ada lagi pelaku sejarah di peristiwa
05:22100 tahun itu.
05:23Yang terakhir sudah meninggal sekisaran 8 tahun yang lalu, 8 atau 6 tahun yang lalu.
05:29Itu orang yang terakhir.
05:31Nah, sementara 100 tahun juga pasti akan demikian.
05:34Mungkin orang yang merayakan atau yang melihat peristiwa peringatan ini juga akan sudah tidak ada.
05:43Tetapi harapan kita nilai-nilai itu tetap terwariskan.
05:46Satu lagi, tadi di seminar itu sempat adakan untuk melawan sesuatu yang berusaha menghentikan tradisi atau mencoba untuk menghentikan tradisi.
06:03Itu seperti apa sih?
06:05Ya, kami bukan anti pada perubahan, anti pada pembangunan.
06:11Tetapi kami memegang nilai-nilai ideologi yang diwarisi dari para leluhur.
06:20Terutama dalam konteks menjaga kawasan kaldera batur yang secara kultural kami sebut sebagai tetaman yang dapat dari.
06:28Maka, hal-hal yang bagi kami tidak sejalan dengan nilai-nilai itu, sebisa mungkin kami tidak akan lindungi.
06:38Artinya, ketika ada hal yang kurang sesuai dengan nilai-nilai yang kami wariskan, kami kelawan.
06:45Misalnya dalam konteks ada fungsi, misalnya.
06:50Sepanjang itu sesuai dengan nilai-nilai, ya kita bisa diskusikan.
06:55Memang kan pembangunan yang baik adalah pembangunan yang dikomunikasikan, bukan tiba-tiba.
07:02Kalau sudah komunikasikan kan kita tahu mana yang boleh dan mana yang tidak boleh.
07:06Sampai saat ini sih kita masih bersepakat ada nilai-nilai yang boleh atau boleh diadaptasikan,
07:13tapi ada juga nilai yang harus terjaga.
07:17Hal ini kan harus beriringan.
07:19Jadi, bagaimana kita membangun sesuatu, imaji yang memang win-win solution.
07:26Bukan hanya untuk memenangkan masyarakat adat, memenangkan pemerintah,
07:32atau memenangkan pihak ketiga, investor, swasta.
07:36Memang harus bersama dulu.
07:38Jangan ujuk-ujuk, tiba-tiba ada program-program pengembangan yang tiba-tiba langsung turun dari langit
07:43yang kita kami tidak tahu.
07:44Lebih-lebih misalnya berada di zona-zona yang tidak sesuai dengan apa yang kita lakukan.
07:52Misalnya contohnya pembangunan,
07:55kumulasi pariwisata yang berdekatan dengan situs-situs,
07:57itu kan kita punya etikanya.
08:00Jadi, saya perlisir seperti itu.
08:02Dan bagi kami, gunung dan dana batu itu adalah sumber kesucian.
08:07Pusat dan sumber kesucian, sumbu dari energi yang menjaga kami.
08:13Sampai hari ini, memang karena peristiwa 100 tahun lalu juga mengubah landscape kewenangan.
08:19Karena sekarang menjadi kawasan yang kewenangannya ada di pemerintah,
08:23bukan lagi di jasa adat.
08:26Karena kita dipukar begitu bahasanya, ya itu yang menjadi tantangan kami.
08:31Harapan kami, walaupun secara kewenangan bukan kami,
08:34tapi secara widangan adat masih menjadi kawasan kami, secara tanggung jawab spiritual,
08:38mari sama-sama menjaga.
08:40Karena batur ini tanggung jawab pertama dari Bali, bukan hanya masyarakat batur.
08:45Kalau batur rusak, Bali akan rusak.
08:48Kalau kita anggap pulau Bali ini sebagai sebuah tubuh manusia,
08:51batur adalah salah satu kepalanya.
08:53Sama seperti bersakir, sama seperti kawasan jatuh anggap batu karun.
08:57Kalau kepala rusak, dia akan rusak sampai ke badan-badannya.
09:01Kan ada pepatah menyatakan, ikan itu rusak dari kepala.
09:04Kalau kepalanya rusak, semua badannya akan rusak.
09:09Rusaknya dalam arti apa?
09:10Banyak narasi kultural yang dititipkan oleh ketua kami,
09:15jatuh anggap batu itu.
09:17Bisa dalam bentuk fisik, bencana alam.
09:20Bisa dalam bentuk non-fisik, ketemah, kena kutukan.
09:28Ya itu tinggal dipilih, yang mana.
09:31Dan padahal akhirnya ya sama.
09:33Kutukan itu juga bisa berupa,
09:37karena kita tidak pandai menjaga harmonisasi alam.
09:40Jadi jangan selalu juga menggerakkan kutukan itu
09:43sebagai hanya sekedar mitos,
09:46sekedar hal-hal yang bersifat rohani.
09:49Kalau kita sudah merusak alam,
09:51dan terkena imbasnya itu juga bagian daripada kutukan, alam.
09:54Satu lagi, Pijro.
09:57Soal ini kan adanya ketidaksingkuran,
09:59mungkin ada kebijakan dari pemerintah soal TWA,
10:03termasuk juga masyarakat adat sendiri,
10:05petani lokal, ada yang konflik dengan investor,
10:08itu bagaimana?
10:09Kalau petani lokal itu petani lokal yang mana dulu nih?
10:13Seperti apa sih kasusnya?
10:16Anda mungkin bisa konfirmasi dulu,
10:19petani lokal itu apakah betul-betul petani batur?
10:22Atau jangan-jangan petani yang justru merambah
10:24kawasan adat kami lebih dulu?
10:25daripada investor.
10:28Kalau soal kasus itu,
10:31saya tidak mau komen sebagai orang yang,
10:34yang juga harus dirugikan.
10:36Entah pemerintah,
10:37ataupun kelompok petani itu yang menang,
10:39yang rugi adalah desa adat.
10:41Karena mereka tidak pernah menghormati nilai-nilai yang,
10:45lah kami waris dari dulu.
10:47Dan dari dulu tidak mau.
10:50Artinya bukan masyarakat batur ya?
10:52Ya, nanti bisa cek lah.
10:53Berapa orang itu masyarakat batur,
10:55walaupun kemarin misalnya ribu-ribu mengatasnamakan sebagai warga adat batur.
10:59Warga adat batur itu hari ini jumlahnya 12.685,
11:03berdasar hitungan,
11:04ketekan pada saat nusabe desa di Pura Desa.
11:08Itulah masyarakat adat batur.
11:09Kurang lebih ya.
11:11Kalau ada orang mengatasnamakan warga masyarakat adat batur,
11:14atau kemudian narasinya di pelintir menjadi masyarakat adat Bali,
11:18karena sudah ketara,
11:20ya mari kita uji.
11:22Kami jujur saja dokumen masalah kasus itu,
11:26karena itu sudah menguntungkan bagi kami.
11:29Secara sebagai warga desa adat.
11:30Karena kami akan selalu tersudutkan, terkalahkan.
11:35Kami juga sulit melindungi situs-situs kami ketika jadi seperti itu.
11:42Jadi perambahan, jadi apa.
11:44Beda misalnya,
11:45mari kalau kita bersama-sama berkolaborasi,
11:48menjaga itu bersama-sama,
11:49beda lagi perhitungannya.
11:51Kami tidak punya alasan yang,
11:54apa namanya,
11:56sementara ya,
11:57untuk kawasan itu ada alasan untuk komensil.
12:00Sementara.
12:01Kami membuat Pura itu bukan untuk jual.
12:04Kami membangun Pura hanya untuk
12:07membalikkan situs yang dulu hilang.
12:09Kami membangun akses sampai Pura Pasar Agung itu
12:12berdarah-darah demi membangun Pura Pasar Agung.
12:15Bukan untuk tujuan pariwisata seperti sekarang.
12:18Ya, meskipun juga secara,
12:20apa namanya,
12:21dampak ya,
12:22tentu ada dampak domino ya,
12:24masyarakat,
12:25itu secara umum.
12:25Tapi ya,
12:26pada prinsipnya itu awalnya bukan untuk itu.
12:30itu adalah untuk alasan yang spiritual,
12:35untuk membangun kembali situs kami.
12:37Meskipun juga tidak bisa juga kita,
12:40spiritualitas itu selalu kita agung-agungkan,
12:43diromantisasi seperti itu kan.
12:44Bisa,
12:45ada yang bisa dimanfaatkan.
12:46Tetapi,
12:47jangan juga melanggar hal-hal yang kurang,
12:49atau tidak kita sepakati.
12:51Pada prinsipnya itu seperti itu.
12:55Persoalan lainnya memang kalau soal tanah,
12:57konflik tanah itu Batur sedang,
13:00ya sedang seksi ya.
13:02Batur sebagai sebuah desa adat,
13:03dan sebagai sebuah kawasan.
13:04kawasan ya.
13:05Karena kan beda itu.
13:06Kalau kita bicara kawasan Batur itu ada 15 desa adat.
13:10Termasuk TWA itu termasuk kawasan Batur?
13:13Kalau TWA itu memang sebagian besarnya masuk di kawasan desa adat Batur.
13:18Karena TWA lah kami tidak punya akses untuk masuk selama ini.
13:23Nah itu bagaimana caranya?
13:24Biar bisa sinkron?
13:26Kami berharap pemerintah hari ini bisa juga memperhatikan suara-suara itu.
13:33Termasuk media gitu.
13:35Kalau ingin menjelaskan atau mencari tahu tentang
13:40bagaimana tanggapan kami terhadap kawasan itu,
13:45tanya kami dulu dong.
13:46Jangan tiba-tiba mengklaim sebagai masyarakat adat, Batur.
13:51Masyarakat adat yang mana?
13:53Masyarakat yang turun-temurun berada di sana itu yang mana?
13:57Yang sejak tahun berapa?
13:58Kalau 1990 itu dianggap sudah turun-temurun,
14:03ya iya memang.
14:04Saja generasi kedua kalau dianggap dari 1990 gitu kan.
14:08Tapi apakah itu sudah cukup untuk melegitimasi?
14:11Ya itulah.