00:00MPG dihentikan. Kenapa?
00:07Pemerintah meracuni makanan.
00:13Belum ada bukti bahwa pemerintah meracuni makanan.
00:16Buktinya ada racun di makanan.
00:18Tapi jangan lompat pada konklusi bahwa pemerintah meracuni makanan.
00:25Tetapi algoritma menuntun kita untuk percaya bahwa pemerintah meracuni anak-anak.
00:33Bagaimana logikanya?
00:36Pemerintah mengeluarkan uang untuk membuat generasi itu punah.
00:43Logiknya di mana?
00:48Tapi pemerintah membiarkan korupsi.
00:51Oh itu 2-3 semester yang lalu.
00:57Fakta bahwa kepala BGN yang adalah kawan setia, kawan baik presiden, dibui.
01:08Itu yang saya maksud.
01:10Kita dikendalikan oleh algoritma kebencian.
01:14Kita gak mau fact-checking soal-soal itu.
01:22Demikian juga soal kooperasi itu.
01:26Kooperasi mesti dihentikan.
01:28Kenapa?
01:29Karena ada kooperasi yang dibuat di tengah laut, ada kooperasi yang dibuat di pinggir jurang,
01:34ada kooperasi yang dibuat di tengah kuburan.
01:39Karena itu kooperasi mesti dihentikan.
01:43Berapa banyak kooperasi yang dibuat di pinggir laut, dibuat di atas gunung, dibuat di kuburan.
01:57Suatu waktu saya tanya pada mahasiswa.
01:59Oke, kita akan batalkan kooperasi karena kooperasi dibuat di pinggir jurang, dibuat di tengah laut, dibuat di keburan, dibuat di
02:06atas gunung.
02:08Dia gak bisa jawab ada berapa.
02:11Saya bilang ada 12 juta kooperasi yang dibuat di tengah laut, pinggir laut, tengah hutan, dan di kuburan.
02:21Dia kaget saya bilang 12 juta.
02:26Karena 12 juta kali diupload gambar yang sama.
02:32Masih suah kehilangan akal sehatnya.
02:35Banyak kooperasi, berapa banyak?
02:38Pokoknya banyak, berapa?
02:41Berapa banyak kooperasi yang dibangun secara salah?
02:45Kok banyak? Pak Roki gak lihat sih banyak.
02:47Di mana harus lihat? Di Instagram banyak betul.
02:52Instagram yang diulang-ulang.
02:58Saya ingin ada perdebatan intelektual.
03:03Kalau ada kooperasi yang dibuat di atas gunung, ada berapa?
03:078 juta.
03:09Pindah 8 juta ke tempat yang selainnya.
03:11Gampang.
03:12Dipindahkan aja setelah pakai AI.
03:15Kan pindah.
03:17Karena itu adalah gambar palsu dari keinginan kita untuk marah.
03:23Akibatnya apa?
03:24Kita marah ke segala arah.
03:26Artinya marah tanpa arah.
03:30Saya ingin
03:32mahasiswa itu
03:33bertengkar dengan pikiran yang betul-betul tajam.
03:38Jadi
03:39kembalikan fungsi universitas untuk menapis kebohongan.
03:46Termasuk dalam cara kita merekrut pemimpin.
03:49Entah dia dekan, rektor, bupati, camat, gubernur, wali kota, wakil presiden, presiden.
03:58Supaya kita dapat pemimpin yang bermutu, kita pakai filter.
04:03Filternya namanya
04:05elektabilitas.
04:07Benar.
04:09Kalau itu filternya,
04:12KPU gak perlu.
04:14Cukup menemukan survei.
04:16Saya beli aja elektabilitas.
04:18Kan margin of error bisa dibeli kan?
04:22Mulai sekarang,
04:23universitas, terutama yang ada di Medan,
04:25bilang bahwa
04:27filter elektabilitas itu filter terakhir.
04:32Filter pertama untuk menghasilkan leader
04:34adalah etikabilitas.
04:38Etikability.
04:40Integritas, moralitas.
04:42Pernah gak dia berbohong?
04:44Pernah gak dia menipu statistik?
04:48Pemimpin diuji pertama
04:50di dalam filter etikabilitas.
04:54Kalau dia lulus etikabilitas,
04:57kita filter dia kedua,
04:59yaitu intelektualitas.
05:03Karena seorang pemimpin akan bergaul dengan pemimpin dunia,
05:07maka dia harus punya intelektualitas.
05:10Apa bukti intelektualitas?
05:14Ijasa.
05:17Surat penyeteraan.
05:20Bukan diskors.
05:23Tanda seseorang berintelektualitas,
05:25dia mampu berdiskors,
05:27dia mampu berdebat.
05:28Dia paham konsep-konsep abstrak.
05:32Gak perlu ada ijasa.
05:37Bahkan yang punya ijasa dipalsuin.
05:39Buat apa.
05:42Kalau dia lulus intelektualitas,
05:44baru dia kita izinkan pergi ke lembaga survei
05:47untuk menguji elektabilitasnya.
05:51Jadi, mulai minggu depan,
05:54mahasiswa, BEM,
05:56bikin persyaratan di luar persyaratan undang-undang.
05:59Kami hanya ingin memilih pemimpin yang satu,
06:02lulus etikabilitas,
06:04lulus intelektualitas,
06:06baru kami izinkan dia
06:09menguji elektabilitasnya.
06:12coba kita ulangi.
06:14Satu adalah
06:18etikabilitas.
06:20Dua adalah
06:21intelektualitas.
06:24Tiga adalah
06:26elektabilitas.
06:29Anda kampanye itu.
06:31Hanya dengan itu Anda bisa filter mereka
06:33yang berupaya jadi
06:35leader,
06:37padahal kapasitasnya dealer.
06:43kita coba
06:44jadikan algoritma berbangsa ini
06:47basisnya adalah
06:48filter moral,
06:50filter intelektual,
06:51baru filter elektabilitas.
06:55Nah, kalau itu dilakukan,
06:57orang akan lihat bahwa
06:59kampus ini
07:01jadi miniatur
07:02dari Republik Akal Sehat.
07:07Hanya dengan itu kita bisa katakan
07:08satu waktu bahwa
07:09medan sudah berubah.
07:12Anak medan penting,
07:15klok medan enggak penting.
07:18Tergantung sensasinya.
07:21Tapi sekali lagi,
07:24saya ingin
07:25ada terus di kampus.
07:27saya enggak pakai
07:29baju istana,
07:31baju apa itu,
07:31itu baju yang
07:34enggak ada pentingnya
07:35untuk menghasilkan
07:36algoritma berbangsa.
07:36Semua orang bisa
07:37bisa beli pin istana itu
07:39di Pasar Senen,
07:40bisa pakai jas
07:41yang lebih bagus dari para menteri,
07:44tapi apakah otaknya
07:45juga ada pin?
07:47Apakah otaknya juga
07:49selembut sutra
07:51dari jasnya?
07:54Anda pakai jas,
07:56tapi otakmu berlumut.
07:58selamat menikmati.
07:59Selamat menikmati.
08:00Selamat menikmati.