Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 jam yang lalu
Rocky Gerung Kritik Derasnya Pemberitaan Negatif Program Makan Bergizi Gratis dan Kopdes

Pakar akademisi dan pengamat politik Rocky Gerung memberikan sorotan tajam terkait framing pemberitaan di media massa mengenai program MBG serta Kopdes.

Di hadapan para mahasiswa, Rocky mengkritik derasnya sentimen negatif dan narasi miring yang terus dicekoki kepada publik tanpa melihat esensi serta potensi dampak jangka panjang dari program tersebut. Rocky menilai bahwa dikotomi serta narasi yang terlalu menyudutkan justru dapat memperkeruh persepsi masyarakat terhadap program-program strategis yang menyasar kesejahteraan rakyat di tingkat akar rumput.

Menurutnya, daya kritis mahasiswa dan publik harus tetap objektif, yaitu mampu membedakan antara evaluasi kebijakan yang konstruktif dan narasi politik yang tendensius.

#RockyGerungKritikPemberitaanNegatifMBG #RockyGerungSoalMBGDanKopdes

Creative/Video Editor: Icha/Michael
===================================
Homepage: https://www.suara.com
Facebook Fan Page: https://www.facebook.com/suaradotcom
Instagram:https://www.instagram.com/suaradotcom/
Twitter: https://twitter.com/suaradotcom
Transkrip
00:00MPG dihentikan. Kenapa?
00:07Pemerintah meracuni makanan.
00:13Belum ada bukti bahwa pemerintah meracuni makanan.
00:16Buktinya ada racun di makanan.
00:18Tapi jangan lompat pada konklusi bahwa pemerintah meracuni makanan.
00:25Tetapi algoritma menuntun kita untuk percaya bahwa pemerintah meracuni anak-anak.
00:33Bagaimana logikanya?
00:36Pemerintah mengeluarkan uang untuk membuat generasi itu punah.
00:43Logiknya di mana?
00:48Tapi pemerintah membiarkan korupsi.
00:51Oh itu 2-3 semester yang lalu.
00:57Fakta bahwa kepala BGN yang adalah kawan setia, kawan baik presiden, dibui.
01:08Itu yang saya maksud.
01:10Kita dikendalikan oleh algoritma kebencian.
01:14Kita gak mau fact-checking soal-soal itu.
01:22Demikian juga soal kooperasi itu.
01:26Kooperasi mesti dihentikan.
01:28Kenapa?
01:29Karena ada kooperasi yang dibuat di tengah laut, ada kooperasi yang dibuat di pinggir jurang,
01:34ada kooperasi yang dibuat di tengah kuburan.
01:39Karena itu kooperasi mesti dihentikan.
01:43Berapa banyak kooperasi yang dibuat di pinggir laut, dibuat di atas gunung, dibuat di kuburan.
01:57Suatu waktu saya tanya pada mahasiswa.
01:59Oke, kita akan batalkan kooperasi karena kooperasi dibuat di pinggir jurang, dibuat di tengah laut, dibuat di keburan, dibuat di
02:06atas gunung.
02:08Dia gak bisa jawab ada berapa.
02:11Saya bilang ada 12 juta kooperasi yang dibuat di tengah laut, pinggir laut, tengah hutan, dan di kuburan.
02:21Dia kaget saya bilang 12 juta.
02:26Karena 12 juta kali diupload gambar yang sama.
02:32Masih suah kehilangan akal sehatnya.
02:35Banyak kooperasi, berapa banyak?
02:38Pokoknya banyak, berapa?
02:41Berapa banyak kooperasi yang dibangun secara salah?
02:45Kok banyak? Pak Roki gak lihat sih banyak.
02:47Di mana harus lihat? Di Instagram banyak betul.
02:52Instagram yang diulang-ulang.
02:58Saya ingin ada perdebatan intelektual.
03:03Kalau ada kooperasi yang dibuat di atas gunung, ada berapa?
03:078 juta.
03:09Pindah 8 juta ke tempat yang selainnya.
03:11Gampang.
03:12Dipindahkan aja setelah pakai AI.
03:15Kan pindah.
03:17Karena itu adalah gambar palsu dari keinginan kita untuk marah.
03:23Akibatnya apa?
03:24Kita marah ke segala arah.
03:26Artinya marah tanpa arah.
03:30Saya ingin
03:32mahasiswa itu
03:33bertengkar dengan pikiran yang betul-betul tajam.
03:38Jadi
03:39kembalikan fungsi universitas untuk menapis kebohongan.
03:46Termasuk dalam cara kita merekrut pemimpin.
03:49Entah dia dekan, rektor, bupati, camat, gubernur, wali kota, wakil presiden, presiden.
03:58Supaya kita dapat pemimpin yang bermutu, kita pakai filter.
04:03Filternya namanya
04:05elektabilitas.
04:07Benar.
04:09Kalau itu filternya,
04:12KPU gak perlu.
04:14Cukup menemukan survei.
04:16Saya beli aja elektabilitas.
04:18Kan margin of error bisa dibeli kan?
04:22Mulai sekarang,
04:23universitas, terutama yang ada di Medan,
04:25bilang bahwa
04:27filter elektabilitas itu filter terakhir.
04:32Filter pertama untuk menghasilkan leader
04:34adalah etikabilitas.
04:38Etikability.
04:40Integritas, moralitas.
04:42Pernah gak dia berbohong?
04:44Pernah gak dia menipu statistik?
04:48Pemimpin diuji pertama
04:50di dalam filter etikabilitas.
04:54Kalau dia lulus etikabilitas,
04:57kita filter dia kedua,
04:59yaitu intelektualitas.
05:03Karena seorang pemimpin akan bergaul dengan pemimpin dunia,
05:07maka dia harus punya intelektualitas.
05:10Apa bukti intelektualitas?
05:14Ijasa.
05:17Surat penyeteraan.
05:20Bukan diskors.
05:23Tanda seseorang berintelektualitas,
05:25dia mampu berdiskors,
05:27dia mampu berdebat.
05:28Dia paham konsep-konsep abstrak.
05:32Gak perlu ada ijasa.
05:37Bahkan yang punya ijasa dipalsuin.
05:39Buat apa.
05:42Kalau dia lulus intelektualitas,
05:44baru dia kita izinkan pergi ke lembaga survei
05:47untuk menguji elektabilitasnya.
05:51Jadi, mulai minggu depan,
05:54mahasiswa, BEM,
05:56bikin persyaratan di luar persyaratan undang-undang.
05:59Kami hanya ingin memilih pemimpin yang satu,
06:02lulus etikabilitas,
06:04lulus intelektualitas,
06:06baru kami izinkan dia
06:09menguji elektabilitasnya.
06:12coba kita ulangi.
06:14Satu adalah
06:18etikabilitas.
06:20Dua adalah
06:21intelektualitas.
06:24Tiga adalah
06:26elektabilitas.
06:29Anda kampanye itu.
06:31Hanya dengan itu Anda bisa filter mereka
06:33yang berupaya jadi
06:35leader,
06:37padahal kapasitasnya dealer.
06:43kita coba
06:44jadikan algoritma berbangsa ini
06:47basisnya adalah
06:48filter moral,
06:50filter intelektual,
06:51baru filter elektabilitas.
06:55Nah, kalau itu dilakukan,
06:57orang akan lihat bahwa
06:59kampus ini
07:01jadi miniatur
07:02dari Republik Akal Sehat.
07:07Hanya dengan itu kita bisa katakan
07:08satu waktu bahwa
07:09medan sudah berubah.
07:12Anak medan penting,
07:15klok medan enggak penting.
07:18Tergantung sensasinya.
07:21Tapi sekali lagi,
07:24saya ingin
07:25ada terus di kampus.
07:27saya enggak pakai
07:29baju istana,
07:31baju apa itu,
07:31itu baju yang
07:34enggak ada pentingnya
07:35untuk menghasilkan
07:36algoritma berbangsa.
07:36Semua orang bisa
07:37bisa beli pin istana itu
07:39di Pasar Senen,
07:40bisa pakai jas
07:41yang lebih bagus dari para menteri,
07:44tapi apakah otaknya
07:45juga ada pin?
07:47Apakah otaknya juga
07:49selembut sutra
07:51dari jasnya?
07:54Anda pakai jas,
07:56tapi otakmu berlumut.
07:58selamat menikmati.
07:59Selamat menikmati.
08:00Selamat menikmati.

Dianjurkan