Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
Menteri Koperasi Ferry Juliantono dicecar Komisi VI DPR RI terkait Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) yang belum mendapatkan modal usaha, tetapi sudah harus membayar cicilan.

Anggota Komisi VI DPR RI Zulfikar Hamonanganmenyebut hampir 50 persen koperasi belum memperoleh permodalan, bahkan sebagian membayar cicilan melalui Dana Desa, meski belum beroperasi.

"Sementara operasional mereka belum berjalan, sudah nyicil. Ibarat orang sudah ambil mobil kredit, mobilnya belum datang, tapi sudah harus dibayarkan," ujarnya.

Zulfikar meminta pemerintah segera menyelesaikan persoalan permodalan dan mendorong KDKMP tak hanya berjualan sembako, tetapi menjadi agregator hasil pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan desa untuk disalurkan kepada Bulog.

#KementrianKoperasi #KoperasiDesaMerahPutih #DPRRI

Creative/Video Editor: Lia/Daffa
===================================
Homepage: https://www.suara.com
Facebook Fan Page: https://www.facebook.com/suaradotcom
Instagram:https://www.instagram.com/suaradotcom/
Twitter: https://twitter.com/suaradotcom
Transkrip
00:01Saya di Dapil, saya di wilayah Tangerang Raya, ada sekitar 350 Koperasi Ngaraputi yang sudah berjalan, Pak Menteri.
00:11Namun pendala hari ini, hampir 50% dari Koperasi Ngaraputi yang ada belum mendapatkan pemodalan usaha kepada mereka.
00:21Dengan alasan yang pertama, belum ada survei ulang.
00:25Yang kedua, belum terdata secara online mereka untuk menerima bantuan tersebut karena belum ada survei.
00:34Nah, dengan 50% tersebut, mereka keberatan, sebab mereka memasuki masa tahun pencicilan, pencicilan untuk anggaran Koperasi Ngaraputi dari dana
00:49desa.
00:50Sementara operasional mereka belum berjalan, sudah nikil.
00:55Ibarat orang sudah ambil mobil, kredit, mobilnya belum datang, dan juga nikil tuh.
01:03Mobil atau motor yang harus dibayarkan.
01:07Kendaraan yang belum, mereka nikmati, mereka harus melakukan tahapan pembayaran sikilan melalui dana bundes.
01:14Ini harus diperhatikan, Pak Menteri.
01:15Ya, terima kasih.
01:16Ya, dipahami.
01:17Satu lagi, terakhir.
01:19Pimpinan, saya ingin mengisir masalah anggaran, ya, Tampil.
01:21Ya, ya.
01:22Enggak, ini masih saya.
01:23Kan ini juga sekarang membahas tentang masalah anggaran.
01:26Yang kedua, ini kan menyakut pelatihan.
01:29Nah, di dalam pelatihan yang akan dianggarkan, apakah itu disisikan untuk generasi gadget?
01:34Karena beberapa generasi muda hari ini belum begitu tertarik dengan adanya Koperasi Ngaraputi
01:41dan juga belum tertarik dengan Koperasi karena belum ada tanda petik istilah harapan di Koperasi itu.
01:48Nah, yang diharapkan oleh generasi muda, bila mana anggaran ini disisikan pimpinan,
01:53tolonglah sisipkan kegiatan dengan pemuda yang terkait masalah koperasi dan juga pemahaman tentang koperasi,
02:01serta peran pemuda di koperasi tersebut.
02:05Bagaimana caranya agar minimal pertanian dan pertenakan yang ada di wilayah itu dapat dikelola oleh Koperasi Merah Putih
02:14yang hasilnya dijual ke Bulog, bukan terbalik.
02:19Koperasi berharap barang dari Bulog, tapi harusnya Koperasi Merah Putih lah yang membeli produk hasil,
02:27pertanian dan pertenakan yang ada di tiap desa, Koperasi Merah Putih yang membelinya,
02:34lalu setelah dibeli oleh Koperasi Merah Putih, dijual ke Bulog.
02:38Bukan berharap bergantung dengan garum impusnya Bulog.
02:42Kalau seperti itu negara kita nggak akan maju, Pak Menteri.
02:46Kalau dibalik-balik prosesnya seperti kayak seolah-olah fungsi bolog seperti kayak gudang Alpa atau gudang Indomat.
02:54Sementara harusnya koperasi yang berada di hulu, yang berhubungan dengan desa,
02:59seluruh hasil pangan, pertanian, pertenakan, dan perikanan dapat dikelola oleh Koperasi Merah Putih
03:07untuk disalurkan semula.
03:09Nah ini yang harusnya lebih ditekankan.
03:12Itu saja dari saya pimpinan. Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan