- 2 hari yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV Pergantian kepemimpinan di Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia membawa perhatian baru terhadap arah kebijakan ekonomi nasional.
Di tengah tekanan fiskal, dinamika nilai tukar, arus modal, serta volatilitas global, publik dan pasar tentu menunggu bagaimana dua otoritas ini membangun koordinasi tanpa mengaburkan batas mandat masing-masing.
Seperti apa pola teknokrasi baru yang akan terbentuk dan seberapa kuat koordinasi kementerian keuangan dan Bank Indonesia menjaga keseimbangan antara kebutuhan fiskal, stabilitas moneter, serta kepercayaan pasar?
Simak dialog Kompas Bisnis dengan Ekonom Universitas Airlangga, Profesor Rahma Gafmi.
Produser: Theo Reza
Video Editor: Joshua
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/690974/duet-menkeu-dan-gubernur-bank-indonesia-baru-hadirkan-pola-teknokrasi-baru-ini-kata-ekonom-unair
Di tengah tekanan fiskal, dinamika nilai tukar, arus modal, serta volatilitas global, publik dan pasar tentu menunggu bagaimana dua otoritas ini membangun koordinasi tanpa mengaburkan batas mandat masing-masing.
Seperti apa pola teknokrasi baru yang akan terbentuk dan seberapa kuat koordinasi kementerian keuangan dan Bank Indonesia menjaga keseimbangan antara kebutuhan fiskal, stabilitas moneter, serta kepercayaan pasar?
Simak dialog Kompas Bisnis dengan Ekonom Universitas Airlangga, Profesor Rahma Gafmi.
Produser: Theo Reza
Video Editor: Joshua
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/690974/duet-menkeu-dan-gubernur-bank-indonesia-baru-hadirkan-pola-teknokrasi-baru-ini-kata-ekonom-unair
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:09Intro
00:19Sedangkan menyaksikan kompas bisnis bersama saya Putri Oktaviani
00:22Menteri Keuangan yang baru, Suhasil Nazara berjanji akan memperkuat koordinasi dengan lintas lembaga
00:29yaitu Pak Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan dan Lembaga Penjamin Simpanan yang tergabung dengan KSSK
00:35Terakhir, Danantara juga akan bergabung dalam koordinasi ini
00:40Dengan KSSK pasti akan kita lanjutkan, kan sudah diatur oleh undang-undang
00:46KSSK itu diatur dengan undang-undang, ada rapat yang sifatnya berkala, ada rapat yang tim teknisnya juga jalan
00:54Dan kemudian di rapat KSSK yang terakhir juga mengundang danantara ini akan kita lanjutkan
01:01Karena memang makin banyak yang berdiskusi menjelaskan berbagai macam aspek dari bangunan ekonomi ini
01:07Sebelum NKW berganti, dari Purbaya Yudhisa Dewa ke Suhasil Nazara
01:12Gubernur Pak Indonesia juga berganti dari Periwarjio ke Destri Damayanti
01:17Selain stabilitas, pertumbuhan menjadi fokus bank sentral sesuai mandat undang-undang P2SK
01:24Destri juga meminta pasar tenang karena pergantian gubernur bukan berarti perubahan sikap otoritas moneter
01:32Tentunya untuk market kita berharap
01:37Tidak perlu panik
01:39Kenapa? Karena kami dari Bank Indonesia tetap akan menjalankan kebijakan kami
01:45Seperti juga yang sudah kami lakukan sebelumnya
01:49Jadi stance kebijakan kami tidak berubah
01:51Bahwa stabilitas nilai tukar akan tetap menjadi kunci dari kebijakan kami saat ini
01:58Sehingga kami juga akan terus berada di pasar
02:01Baik dengan melalui intervensi di SPOT, di NDF ataupun NDF
02:06Dan juga tentunya di satu sisi juga kebijakan kami yang bersifat untuk progrote
02:14Akan kami teruskan melalui kebijakan makropodensial kami
02:19Sedara nilai tukar rupiah dalam satu tahun terakhir
02:22Melemah di atas asumsi APBN 2026 yaitu 16.000 per dolar Amerika Serikat
02:28Di era Menteri Keuangan Bulbaya Yudhisa Dewa dan Gubernur Bank Indonesia Peri Warjio
02:32Rupiah bahkan sempat tembus 18.000 per dolar Amerika Serikat
02:40Dan berikut grafik pergerakan rupiah satu tahun terakhir
02:4415 September 2026 rupiah terhadap dolar Amerika Serikat
02:53Ada di level 16.400an
02:57Satu tahun kemudian atau 15 September 2026 rupiah bergerak ke level 17.600an
03:06Ekonom di kompas bisnis bilang dinamika global dan domestik membuat rupiah juga mencari titik keseimbangan baru
03:12Di asumsi APBN 2027 rupiah dipatok di level 17.500 per dolar Amerika Serikat
03:18Kebijakan fiskal moneter sensitif membuat rupiah bergerak baik menguat maupun melemah
03:32Pergantian kepemimpinan di Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia
03:36Membawa perhatian baru terhadap arah kebijakan ekonomi nasional
03:40Di tengah tekanan fiskal, dinamika nilai tukar, arus modal serta volatilitas global, publik dan pasar
03:46Tentu menunggu bagaimana dua otoritas ini membangun koordinasi tanpa mengaburkan batas mandat masing-masing
03:52Seperti apa pola teknokrasi baru yang akan terbentuk dan seberapa kuat
03:56Koordinasi Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia menjaga keseimbangan antara kebutuhan fiskal, stabilitas moneter
04:03Serta kepercayaan pasar, kompas bisnis akan tanya ke ekonom Universitas Air Langga Prof. Rahma Gaffin
04:09Selamat pagi Prof. Rahma
04:12Prof. Rahma, ada kepemimpinan baru di KMNQ dan juga di Bank Indonesia
04:18Apakah duet kepemimpinan baru ini di Kementerian Keuangan maupun Bank Indonesia akan menghadirkan pola teknokrasi yang baru
04:23Atau ini bisa dikatakan sekedar melanjutkan garis kebijakan sebelumnya karena mengingat kerangka arahan presidennya tidak berubah
04:30Ya baik Mbak Okta, jadi saya melihat dari duet kepemimpinan baru di Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia ini
04:38Sebenarnya saat ini itu ada di persimpangan krusial ya Mbak Okta
04:41Atau kebutuhan akan adaptasi teknokratis dan konstanta politik yang strategis dari arah pembangunan nasional
04:51Nah meskipun kerangka besar dan visi strategis presiden itu misalnya Mbak Okta seperti target pertumbuhan ekonomi yang menuju 6%
05:01Kesinambungan proyek strategis nasional serta juga program prioritas kesejahteraan rakyat itu tidak mengalami perubahan
05:08Jadi pergantian nahoda di otoritas fiskal dan moneter itu sebenarnya hampir selalu membawa implikasi terhadap gaya komunikasi
05:18Termasuk juga kecepatan eksekusi serta juga penajaman instrumen kebijakan
05:27Nah tentunya dari sisi makro, jangkar kebijakan itu Mbak Okta tidak hanya bergeser secara radikal
05:34Karena adanya legitimasi program pembangunan yang tetap bersumber dari saya lihat RPJMM
05:42Dan juga Astakita Kepemimpinan Nasional
05:44Nah oleh karena itu Kementerian Keuangan itu tentunya tetap dituntut menjaga keseimbangan antara ekspansi fiskal
05:52Untuk mendanai pertumbuhan dan disiplin anggaran yang prudent
05:57Jadi artinya agar rasio divisit itu tetap terkendali di bawah 3% dari PDB
06:03Nah sedangkan Bank Indonesia sendiri Mbak Okta itu adalah tetap harus berfokus pada mandat utamanya
06:09Yaitu menjaga stabilitas nilai tukar rupiah misalnya dan juga bagaimana dalam mengendalikan inflasi
06:15Sembari juga dapat bersinergi mendukung sektor real melalui bauran kebijakan makro prudensial yang akomodatif
06:23Seperti itu Mbak Okta
06:25Nah oleh karena itu Mbak Okta meskipun arsitektur kebijakan ini serupa
06:29Kepemimpinan baru ini sebenarnya lazimnya membawa karakter teknokratis yang khas
06:35Tentunya ini tercermin saya lihat bisa tercermin dari 3 hal
06:39Yang pertama bagaimana kepemimpinan baru itu seringkali membawa pendekatan yang lebih taktis
06:44Dalam membaca sentimen pasar global dan domestik
06:48Terutama di tengah volatilitas geopolitik dan pergerakan aliran modal asing
06:52Yang kedua bagaimana koordinasi fiskal moneter disini dalam hal ini policy mixnya
06:59Artinya ada efektivitas sinergi antara KemenQ dan BI itu sangat bergantung pada
07:04Kemestri kepemimpinan kedua lembaga itu
07:07Duet baru itu dapat menciptakan ruang kalibrasi instrumen yang lebih dinamis
07:13Misalnya adalah dalam hal optimalisasi instrumen pendukung likuiditas
07:17Seperti kalau Bank Indonesia itu adalah SRBI atau KLM
07:21Dan kalau fiskal itu adalah penyerapan SBN yang ada di pasar primer Mbak Okta
07:26Dan pelaku pasar dan investor itu selalu mencermati kredibilitas
07:31Baik itu independensi atau juga ketegasan komunikasi
07:35Sebagai forward guidance-nya gitu ya
07:38Dari para pengambil kebijakan ini apakah fiskal maupun moneter itu
07:43Untuk membaca arah kepastian usaha ini seperti apa ke depan gitu Mbak Okta
07:48Jadi intinya titik temunya dimana
07:51Jadi disini kita dinamika yang terjadi
07:54Bukanlah sebuah dikotomi antara perubahan total
07:57Atau status quo secara mutlak Mbak Okta
08:00Tapi disini adalah melainkan sebuah evolusi gaya eksekusi
08:04Kerang ke arahan presiden itu bertindak sebagai batas atas misalnya
08:09Atau batas bawah dari ruang gerak kebijakan
08:13Oleh karena itu saya menginginkan duit kepemimpinan baru ini
08:19Itu lebih cenderung menghadirkan pola teknokratis adaptif
08:24Yakni artinya meneruskan kesinambungan makroekonomi yang stabil
08:28Namun juga dengan apa namanya sentuhan instrumen
08:32Misalnya efisiensi birokrasi
08:34Terus juga ketepatan waktu
08:36Bagaimana timingnya gitu ya Mbak Okta
08:39Untuk mengeksekusi yang disesuaikan dengan tantangan struktural terkini misalnya
08:43Seperti transisi fiskal jangka menengah
08:46Penguatan buffer eksternal
08:49Maupun dorongan hilirisasi bagaimana nanti bisa mempunyai nilai tambah demikian Mbak Okta
08:54Oke pola teknokratis adaptif tadi juga menarik soal bagaimana
08:57Prof Rahma menyebutkan soal mempertahankan independensi
09:00Kalau belajar dari dinamika interaksi masa lalu
09:02Yang syarat tarik ulur kepentingan
09:05Sejauh mana Mbak Indonesia mampu itu tadi
09:07Mempertahankan independensi monitor dari potensi dominasi atau fiskal dominans
09:11Atas kebutuhan pembiayaan negara Prof
09:13Jadi gini Mbak
09:14Isu mengenai dominasi fiskal atau fiskal dominans
09:18Itu terhadap independensi bank sentral
09:21Itu merupakan salah satu yang krusial dalam ekonomi makro
09:24Jadi ketika kebutuhan pembiayaan negara itu meningkat
09:29Baik itu untuk mendanai target pertumbuhan ambisius
09:32Termasuk juga program-program prioritas maupun pelebaran divisit
09:37Maka tarik ulur antara otoritas fiskal dan moneter ini
09:40Kerap menguji batas ketahanan dari kelembagaan Bank Indonesia Mbak Okta
09:44Nah belajar dari dinamika historis dan lanskap kebijakan saat ini
09:50Maka kemampuan Bank Indonesia dalam membentengi independensi moneternya itu
09:55Dari tekanan dominasi fiskal ini
09:57Saya melihatnya dari beberapa misalnya beberapa pilar gitu Mbak Okta
10:03Misalnya kalau kita lihat ya secara hukum fondasi independensi Bank Indonesia itu
10:09Artinya ini ditegaskan melalui undang-undang P2SK yang memperjelas mandatnya
10:16Sekaligus batasan interaksi antar lembaga
10:19Artinya meskipun koordinasi itu diperkuat terutama dalam forum KSSK
10:24Dan burden sharing darurat misalnya
10:27Instrumen pembiayaan bersama dalam kondisi krisis undang-undang ini
10:32Sebenarnya tetap menggariskan bahwa
10:34Fokus utama Bank Indonesia itu adalah pada price stability
10:39Yang kedua bagaimana praktik pembelian SBN langsung di pasar primer misalnya
10:43Jadi ini adalah dibatasi secara ketat
10:47Hanya untuk situasi krisis luar biasa
10:50Untuk menghindari moral hazard moneter yang memicu inflasi secara struktural Mbak Okta
10:55Jadi artinya risiko dominasi fiskal ini
10:58Seringkali bermanifestasi pada tekanan untuk menahan suku bunga
11:04Supaya tetap rendah
11:05Demi menekan biaya utang pemerintah misalnya
11:07Meskipun inflasi atau tekanan nilai tukar itu menuntut pengetatan
11:11Nah bagaimana nanti ke depan
11:14Artinya untuk menjaga kredibilitas ini
11:17Maka Bank Indonesia mengandalkan instrumen moneter yang independen Mbak Okta
11:21Dan berbasis pasar
11:22Misalnya SRBI, SVBI, dan SUVBI
11:26Nah instrumen ini Mbak Okta
11:28Berfungsi untuk menyerap likuiditas secara efektif
11:31Tanpa harus selalu mengorbankan instrumen suku bunga acuan utama
11:36Seperti BI rate
11:37Yang kedua
11:38Kalau kita melihat melalui instrumen penyeimbang misalnya
11:41Yaitu Bank Indonesia itu dapat menjaga daya tarik aset rupiah
11:45Di tengah arus modal global misalnya
11:48Sekaligus bagaimana Bank Indonesia itu memberikan sinyal bahwa
11:52Stabilitas makroekonomi itu tidak bisa dikompromikan
11:56Demi memuluskan pembiayaan jangka pendek fiskal
11:59Nah ini untuk bagaimana ke depan independensi Bank Center itu
12:04Pada akhirnya bukan sekadar lip service saja Mbak Okta
12:08Tetapi melainkan sebagai kepercayaan market
12:11Karena apa?
12:12Kita tahu bahwa pelaku pasar domestik maupun asing itu
12:15Selalu memonitor credibility signaling dari bank sentral
12:21Jadi jika pasar itu menangkap indikasi kuat terjadinya dominasi fiskal
12:25Dimana kebijakan moneter itu terpaksa akomodatif secara permanen
12:30Demi menambah divisit
12:32Maka reaksinya itu biasanya langsung tercermin pada pelemahan nilai tukar rupiah
12:37Sehingga nanti akan mengakibatkan pada kenaikan imbal hasil SBN
12:41Dan akhirnya apa?
12:42Akan menaikkan lonjakan-lonjakan premi risiko yang kita tanggung
12:46Oleh karena itu ada kesadaran
12:49Akan risiko pasar inilah yang kerap menjadi rem
12:51Secara alami Mbak
12:53Artinya memaksa kedua otoritas itu
12:56Untuk menjaga batas profesionalismenya masing-masing
12:59Agar biaya ekonomi makro ini tidak menjadi terlalu mahal
13:03Demikian Mbak Okta
13:04Oke menjaga batas profesional karena tadi lagi-lagi pasar juga melihat bagaimana
13:08Dua kepemimpinan di dua lembaga ini ya Prof
13:10Nanti kita lanjutkan kembali dan saudara tetap bersama kami di Kompas Bisnis
13:36Kembali di Kompas Bisnis Saudara dan kita akan lanjutkan perbincangan bersama dengan ekonom Universitas Elangga Prof. Rahma Agami
13:42Prof kita lanjutkan kembali sesuai mandat UU PPSK
13:45Gimana efektivitas koordinasi kedua pejabat baru ini dalam merumuskan skema pembagian risiko di forum KSSK saat berhadapan dengan potensi guncangan
13:54sistemik
13:55Jadi begini Mbak kalau kita lihat bagaimana koordinasi yang baik itu jadi itu adalah saling memberikan suatu kerjasama yang baik
14:11karena di dalam KSSK itu kan ada empat lembaga
14:14Jadi ada Bank Indonesia dan disini adalah Kementerian Keuangan sebagai ketuanya dan ada UJK dan juga ada LPS
14:22Nah ini kan menjaga stabilitas sistem keuangan
14:25Jadi intinya setiap hari itu masing-masing memonitor bagaimana keadaan stabilitas sistem keuangan yang ada di negara kita dan juga
14:35secara internasional
14:37Nah ini pengaruhnya pada nasional itu seperti apa?
14:39Jadi ini adalah harus mempunyai suatu data yang kuat dan akurat dan saling memberikan informasi yang baik
14:46Jadi artinya ada suatu koordinasi yang cukup baik selalu ada katakanlah pertemuan-pertemuan untuk mengkomunikasikan secara makro antar keempat lembaga
14:58ini
14:59Sehingga nanti market itu akan percaya bahwa solid dalam keempat lembaga ini semakin solid ke depan dan bisa menjaga keadaan
15:07stabilitas sistem keuangan yang ada di negara kita
15:09Karena kita tahu bahwa stabilitas keuangan itu menjadi suatu ujung tomba bagaimana perekonomian kita ini berlangsung dengan baik dan tidak
15:18mengalami krisis
15:19Demikian Mbak Okta
15:20Oke kuncinya adalah koordinasi yang baik dan juga solid
15:23Supaya direspon dari pasar juga baik
15:25Nah Prof dalam respon tekanan arus modal keluar apakah kita akan melihat sinergi kebijakan yang simetris
15:31Antara insentif fiskal kemen-Q dan instrumen operasi monitor BI atau justru kecenderungannya asimetris akibat perbedaan preferensi instrumen
15:38Dan kalau tadi sempat disebut soal bagaimana SBN dan juga SRBI
15:41Gini Mbak
15:43Jadi dalam menghadapi tekanan arus modal keluar
15:47Respon kebijakan dari otoritas fiskal dan monitor ini kan jarang sekali berjalan secara linier
15:53Atau simetris sempurna gitu jarang ya
15:56Jadi perbedaan mandat instrumen utama maupun time horizon dari masing-masing lembaga itu
16:02Seringkali menciptakan dinamika asimetri kebijakan
16:05Dimana kemen-Q itu dan BI bergerak dengan kecepatan dan instrumen yang berbeda
16:11Namun tetap berupaya mencapai tujuan akhir yang sama-sama bagaimana bisa menstabilisasikan makroekonomi
16:17Nah dinamika pilihan antara instrumen fiskal dan instrumen monitor ini dalam merespon tekanan eksternal itu dapat
16:24Beberapa pengaruh dari beberapa poin Mbak Okta
16:29Misalnya kita melihat Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia itu memiliki tarikan kepentingan yang berbeda
16:35Ketika dihadapkan pada pelarian modal dan pelemahan nilai tukar
16:38Misalnya contoh, Bank Indonesia itu bergerak paling depan melalui instrumen operasi moneternya yang pro-market
16:45Seperti misalnya SRBI, SPBI maupun SUVBI
16:50Nah ketika modal asing itu keluar, BI ini cenderung menaikkan daya tarik imbal hasil instrumen jangka pendek itu
16:57Untuk menahan outflow
16:59Tanpa harus langsung menaikkan suku bunga iklan utama misalnya BI rate-nya
17:03Yang dapat mencekik sektor real
17:05Nah respon BI ini bersifat taktis Mbak Okta
17:08Termasuk juga harian dan juga sangat lentur terhadap volatilitas pasar keuangan
17:14Sementara Kementerian Keuangan disini kan fokus keberlanjutan biaya utang gitu ya
17:19Sebaliknya Kementerian Keuangan ini tidak bisa serta-merta merespon gejola harian pasar modal
17:24Dengan menaikkan yield penerbitan SBN baru misalnya secara agresif
17:28Nah karena hal ini akan langsung membuat pembengkakan beban pembayaran bunga utang dalam APBN
17:36Oleh karena itu Mbak Okta, insentif fiskal atau penyesuaian pasokan SBN itu cenderung lebih lambat
17:43Dan konservatif
17:45Lebih berfokus pada manajemen kas jangka menengah melalui optimalisasi saldo anggaran lebih itu
17:51Nah titik temunya dimana disini?
17:53Jadi kita melihat meskipun secara instrumen itu terlihat asimetris
17:57Dimana Bank Indonesia itu mengandalkan instrumen moneter jangka pendek
18:02Dan Kementerian Keuangan itu mengelola SBN tenor panjang
18:05Maka sinergi keduanya itu tetap dapat berjalan secara fungsional
18:09Melalui pembagian peran misalnya
18:11Apa saja maka kalau kita lihat
18:14Kalau misalnya ingin meredam kuncangan jangka pendek
18:17Maka SRDI misalnya Bank Indonesia disini
18:19Berfungsi sebagai absorbernya
18:22Sementara jangka pembiayaan menengahnya itu SBN tetap dijaga kredibilitasnya
18:26Demikian Mbak Okta
18:27Oke punya fokusnya masih masing-masing
18:29Tapi tentu yang diutamakan harus prinsip kehatian-hatian ya
18:33Prof, itu gak ada faktor global
18:35Sejauh mana kematangan kerangka koordinasi baru ini
18:38Sanggup menjaga fiskal buffer dan kecukupan cadangan devisa secara simultan?
18:43Ya, jadi begini Mbak
18:45Kalau kita lihat ya
18:48Kita melihat dari koordinasi keduanya itu
18:52Jadi misalnya kementerian, keuangan itu
18:56Ada suatu hal yang memang perlu dijaga
19:00Mengenai bagaimana dalam good governance, pengelolaan fiskal, kehati-hatian gitu
19:05Nah, sementara ini kan harus saling mendukung Mbak Okta
19:09Tidak boleh jalan sendiri-sendiri
19:11Nah, sementara kan ini mempunyai suatu tugas yang bersama-sama
19:16Untuk menuju suatu pada pelabuhan terakhir di mana
19:20Misalnya pelabuhan terakhirnya adalah pertumbuhan ekonomi yang memang ditargetkan seperti itu
19:26Nah, Bank Indonesia disini kan ada
19:28Antara BI dan Kemenku ini ada rem dan gas Mbak
19:32Jadi tidak boleh yang satunya terlalu ngegas, yang satunya terlalu ngerem
19:37Jadi harus ada keseimbangan Mbak Okta antar keduanya itu
19:40Sehingga nanti akan menciptakan suatu balances gitu Mbak Okta
19:44Demikian Mbak Okta
19:44Oke, jadi ya pergantian kepemimpinan ini jadinya kayak bukan siapa menggantikan siapa
19:49Tapi yang lebih kita nantikan bagaimana pergantian kepemimpinan ini
19:52Menghasilkan konsistensi kebijakan, kredibilitas fisika moneter
19:55Dan juga respon terlebih kuat terhadap tekanan ekonomi global
19:57Terima kasih
19:58Ekonom Universitas Elangga, Prof. Rahma Gavi sudah bersama di Kompas Bisnis
20:01Terima kasih, Prof. Rahma
20:03Terima kasih, Mbak Okta
Komentar