Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Kapal cepat KM Arupadhatu I hilang kontak saat mengantar 5 jurnalis foto meliput erupsi Anak Krakatau di Selat Sunda, Senin (7/9/2026) di dalamnya juga ada 3 kru kapal.

Delapan orang lenyap tanpa jejak, dan operasi SAR gabungan yang melibatkan 523 personel selama 10 hari berakhir tanpa hasil.

Namun lima hari setelah kapal hilang kontak, satu jenazah tak dikenal ditemukan di Pulau Enggano, Bengkulu Utara sekitar 347-350 kilometer dari lokasi terakhir kapal terdeteksi.

Setelah tes DNA, tim DVI Polri memastikan jenazah tersebut adalah Surakman (60), ABK KM Arupadhatu I.

Bagaimana mungkin arus laut membawa seseorang sejauh itu?

Apakah benar hanya karena arus, atau ada faktor lain yang berperan?

KompasTV mengulik penjelasan BMKG soal arah dan kecepatan arus di Selat Sunda pada hari kejadian, serta faktor-faktor lain yang memengaruhi pergerakan objek di laut.

Simak video selengkapnya!

Baca Juga Detik-detik! Jenazah 1 ABK Pembawa 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda Tiba di Bandara Soetta di https://www.kompas.tv/video/692331/detik-detik-jenazah-1-abk-pembawa-5-jurnalis-hilang-di-selat-sunda-tiba-di-bandara-soetta

#jurnalis #abk #anakkrakatau #kmarupadhatu #pulauenggano #bmkg

_

Content Creator: Atalya Calista Setiadi (Maganghub Kemnaker)

Video Editor: Arrafi Dzaky Alghifari (Maganghub Kemnaker)

Video Editor: Mohamad Haikal Darmawan (Maganghub Kemnaker)

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/693108/bagaimana-jenazah-abk-kapal-jurnalis-hilang-terdampar-di-enggano-penjelasan-data-arus-laut-bmkg
Transkrip
00:015 jurnalis dilaporkan hilang kontak, seandang meliput erupsi anak Krakatau.
00:06Pencarian 5 jurnalis dan 3 ABK.
00:09Pencarian terhadap 5 jurnalis dan 3 ABK yang hilang kontak.
00:17Sebuah kapal cepat berisi 5 jurnalis foto dan 30 kapal dinyatakan hilang di Selat Sunda.
00:238 orang di dalamnya hilang tanpa jejak.
00:2710 hari pencarian telah berakhir.
00:31Tapi setelah 5 hari pencarian dilakukan, 1 jenazah ditemukan.
00:38Bukan di Selat Sunda, tapi di Pulau Engganung, Bengkulu.
00:43Berjarak sekitar 345 hingga 350 km dari anak gunung Krakatau.
00:51Gimana mungkin arus laut membawa seseorang sejauh itu?
00:54Apakah ini benar-benar karena arus?
00:56Atau ada penjelasan lainnya yang belum kita ketahui?
01:00Yuk kita kulik Sobat Kompas TV.
01:03Semua berawal pada 7 September 2026, kapal cepat KM Aropadatu 1 berangkat dari dermaga Pagedongan Carita Banten sekitar pada pukul
01:1314.00 WIB.
01:15Di dalamnya ada 8 orang, terdiri dari 1 ABK, 1 kapten kapal, 1 pemandu, dan 5 jurnalis foto yang hendak
01:25meliput erupsi anak gunung Krakatau.
01:28Komunikasi terakhir tercatat pada pukul 18.13 WIB dengan posisi rombongan berada di sekitar bugusan anak gunung Krakatau.
01:38Setelah itu kapal dinyatakan hilang kontak.
01:41Operasi sargabungan pun dikerahkan dengan melibatkan 523 personel, puluhan kapal, dan drone thermal mengisir wilayah hingga ribuan mil laut persegi
01:54selama 10 hari.
01:5610 hari pencarian berlalu hingga operasi resmi dihentikan pada 17 September.
02:00Tapi 5 hari sebelum itu, tepatnya Sabtu 12 September, warga menemukan sesosok jenazah tanpa identitas di pesisir Sawang, Bengkok, Desa
02:09Kayapu, Kula Ungganu, Bengkulu Utara.
02:12Jenazah itu sempat disebut Mr. X karena pemeriksaan awal tidak langsung cocok dengan data para korban.
02:20Baru pada Rabu 23 September, tim DVI Polri memastikan lewat tes DNA bahwa jenazah tersebut adalah Surakman yang berumur 60
02:29tahun.
02:29Yang merupakan ABK KM Arupa Datu 1.
02:34Penemuan ini memastikan satu hal, namun memunculkan pertanyaan baru.
02:38Bagaimana bisa jenazah berpindah sejauh 345 hingga 350 km?
02:45Salah satu faktor yang paling mungkin dilihat adalah arus laut.
02:49Berdasarkan data BMKG pada 7 September 2026,
02:53Pemantauan HF Radar Array di Carita dan Tanjung Lesung menunjukkan arus permukaan bergerak dominan ke arah barat daya menuju Samudera
03:01Hindia.
03:02Kecepatannya tercatat sekitar 0,4 hingga 0,9 knot setara 0,74 hingga 1,67 km per jam.
03:11Tinggi gelombang saat itu berkisar 0,3 hingga 1,2 meter.
03:15Jadi pada hari kapal hilang kontak, arus di Selat Sunda memang mengalir menjauh ke arah barat daya, ke Samudera Hindia.
03:24Tapi apakah arus inilah yang langsung membawa Surakman hingga ke Enggano?
03:30Belum tentu.
03:30Berdasarkan data BMKG, selama periode operasi SAR terkait kejadian hilangnya speedboot yang membawa rombongan jurnalis di sekitar Selat Sunda,
03:40data BMKG memprediksi kondisi arus permukaan di Selat Sunda bergerak ke arah barat daya hingga barat laut dengan kecepatan berkisar
03:481 hingga 30,
03:50sehingga dapat menjelaskan kemungkinan penemuan jenazah korban yang ditemukan di sekitar Pulau Enggano.
03:57Arus merupakan faktor utama yang mempengaruhi arah gerak objek di laut.
04:02Namun, jalurnya tidak selalu berupa garis lurus karena arah dan kecepatan arus dapat berubah secara spasial maupun temporal.
04:11Selain arus laut, faktor yang perlu diperhitungkan antara lain arah dan kecepatan angin, gelombang, pasang surut,
04:18serta karakteristik objek yang hanyut.
04:20Kombinasi faktor-faktor tersebut dapat menyebabkan objek mengalami pergeseran arah dan kecepatan selama berada di laut.
04:29Berdasarkan penjelasan dari Apil Akbar, prakirawan BMKG mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi,
04:37maka dapat disimpulkan bahwa gerakan objek dapat disebabkan oleh angin, pasang surut, dan karakteristik objek yang hanyut.
04:46Dapat kita ketahui bahwa jalur arus dari Selat Sunda hingga Bengbulu ini dapat menentukan kemana arah pencarian lima jurnalis dan
05:00dua kru kapal selanjutnya diarahkan.
05:04Sekian, terima kasih Sobat Kompas TV. Sampai jumpa.
05:17Terima kasih.

Dianjurkan