- 4 jam yang lalu
- #karhutla
- #brandnewsindonesia
- #sumatera
- #bnpb
KOMPAS.TV - Empat bulan belakangan, jutaan masyarakat di Sumatera, Kalimantan, Papua, dan daerah lainnya terdampak kebakaran hutan dan lahan.
Bukannya mereda, tapi kabut asap karhutla semakin pekat dan kian membahayakan nyawa manusia, satwa, dan menghanguskan biodiversitas Indonesia.
Kini, warga berunjuk rasa hingga menempuh jalur hukum, mendesak respons negara. Kita bahas hal ini bersama Co-Founder Brand News Indonesia, Virdian Aurellio Hartono, dan Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional, Berton Panjaitan.
#karhutla #brandnewsindonesia #sumatera #BNPB
Baca Juga Komisi II DPR & Guru Besar Ilmu Politik Soroti Peluang Polemik Ijazah Bergulir di DPR | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/nasional/695148/komisi-ii-dpr-guru-besar-ilmu-politik-soroti-peluang-polemik-ijazah-bergulir-di-dpr-sapa-malam
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/695149/full-kapusdatin-bnpb-brand-news-indonesia-soroti-karhutla-tak-reda-warga-desak-respons-negara
Bukannya mereda, tapi kabut asap karhutla semakin pekat dan kian membahayakan nyawa manusia, satwa, dan menghanguskan biodiversitas Indonesia.
Kini, warga berunjuk rasa hingga menempuh jalur hukum, mendesak respons negara. Kita bahas hal ini bersama Co-Founder Brand News Indonesia, Virdian Aurellio Hartono, dan Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional, Berton Panjaitan.
#karhutla #brandnewsindonesia #sumatera #BNPB
Baca Juga Komisi II DPR & Guru Besar Ilmu Politik Soroti Peluang Polemik Ijazah Bergulir di DPR | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/nasional/695148/komisi-ii-dpr-guru-besar-ilmu-politik-soroti-peluang-polemik-ijazah-bergulir-di-dpr-sapa-malam
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/695149/full-kapusdatin-bnpb-brand-news-indonesia-soroti-karhutla-tak-reda-warga-desak-respons-negara
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Kembali di Sapa Indonesia Malam bersama saya Friska Klarissa.
00:03Kebakaran lahan nyaris membakar rumah-rumah warga di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.
00:12Kebakaran lahan gambut mendekati permukiman warga di jalan bukit Palangka 7, Palangka Raya.
00:18Sejumlah warga berupaya memadamkan api dengan alat seadanya
00:22agar api tak semakin menjalar ke area rumah mereka.
00:25Petugas Damkar, Dishud, dan Kodam Tambun Bungai
00:29membutuhkan waktu 2 jam hingga permukaan lahan gambut padam.
00:34Meski demikian, warga tetap khawatir api kembali menyala
00:37karena bara lahan gambut belum benar-benar padam.
00:49Terpaksa kami melapor karena api ini semakin lama semakin membesar.
00:56Polisi menetapkan 5 tersangka pembakar hutan dan lahan di Samarinda, Kalimantan Timur.
01:03Salah satu ditangkap, usai membuka lahan dengan cara membakar.
01:07BBBD memergoki pelaku sedang membersihkan area yang baru saja dibakar.
01:12Penangkapan ini terjadi pada 29 September lalu
01:15di kawasan Pulau Atas, Kecamatan Butan, Samarinda.
01:19Jumat sore, Polresta Samarinda mengungkap telah menangkap 5 orang pembakar hutan dan lahan,
01:24termasuk pria itu.
01:26Polisi telah menahan para tersangka yang terancam pidana maksimal 9 tahun penjara.
01:36hampir keseluruhan dari hudus Soekrandimah melakukan ini sama,
01:41yaitu dengan sengaja melakukan pembakaran untuk pembukaan tahan.
01:48Kemudian maksudnya adalah melakukan pembakaran ini
01:51untuk tujuan akan biaya langsung di murah dengan pembukaan masyarakat yang dimiliki oleh para sengkar.
02:01Empat bulan belakangan, jutaan masyarakat di Sumatera, Kalimantan, Papua, dan daerah lain
02:06terdampak kebakaran hutan dan lahan.
02:08Bukannya meredah, tapi kabut asap karhu telah semakin pekat
02:12dan kian membahayakan nyawa manusia, satwa, dan menghanguskan biodiversitas Indonesia.
02:18Kini warga berunjuk kerasa hingga menempuh jalur hukum, mendesak respons negara.
02:23Kita bahas hal ini bersama ex-ketua BEM Keluarga Mahasiswa Universitas Pajajaran
02:28dan anggota pintar politik Firdian Aurelio Hartono
02:31dan Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nasional, Berton Pajaitan.
02:37Selamat malam Pak Berton, juga Firdian.
02:42Mbak Briska, malam Pak Firdian, malam Mas.
02:47Terima kasih sudah hadir saya ke Pak Berton terlebih dahulu.
02:51Kalau per 9 Oktober 2026, sebenarnya seberapa banyak sih lahan yang sudah hangus
02:56akibat karhutlah dan penanganannya sejauh ini seperti apa, Pak?
03:00Ya, terima kasih ya buat kami bisa diundang lagi di Kompas TV ini.
03:07Dan seperti yang kita sampaikan berkali-kali sebenarnya bahwa memang
03:12luas terbakar lahan itu memang tergolong luas, terutama di 6 provinsi prioritas.
03:20Yang bisa kami catat dan kami memang mengukur sendiri estimasi luas yang terbakar
03:26yang saat ini kita sedang tangani itu ada 123.314 hektare.
03:34Nah, ini di 6 provinsi prioritas dan dari luas ini sebenarnya,
03:40paling banyak itu di Kalimantan Barat dan Kalimantan Selatan, kemudian diikuti dengan Riau.
03:45Nah, namun demikian, pemerintah pusat, tentu dengan gabungan dengan TNI Polri dan pemerintah daerah
03:53juga sudah memadamkan sekitar 99,4% dari luas terbakar saat ini.
03:59Sehingga hari ini yang bisa kami sampaikan, yang perlu dipadamkan itu ada sebesar 195 hektare.
04:08Ini kalau tidak ada hari ini ya, kebakaran baru yang terjadi di lapangan.
04:16Jadi itu mungkin situasinya dan perlu kita pahami sebenarnya, bukan hanya luasnya yang perlu kita lihat,
04:23tapi juga dalamnya mungkin api tersebut atau barat tersebut ada saat ini.
04:29Jadi semakin dalam tentu semakin sulit dan semakin banyak juga asap yang diproduksi.
04:34Demikian Mbak Friska.
04:36Termasuk tantangan yang paling berat di lapangan sejauh ini dari sisinya Pak Berton dan tim BNPB,
04:42lalu juga Firdian yang aktif membagikan bagaimana kondisi di lapangan.
04:46Sesaat lagi di Sapa Indonesia Malam, kami segera kembali.
04:49Saya masih bersama dengan co-founder Brand News Indonesia, Firdian Aurelio Hartono
04:53dan Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penganggulangan Bencana, Berton Panjaitan.
04:57Saya lanjutkan lu ke Pak Berton tadi.
04:59Kan tantangannya tidak hanya luasnya, tapi juga dalamnya, belum lagi ada api baru.
05:04Metode apa sih sebenarnya yang semestinya dievaluasi?
05:08Karena ini sudah 4 bulan berlalu semakin dekat ke permukiman warga, berdampak juga ke kesehatan warga Pak Berton.
05:14Ya, jadi metodenya itu hanya memang ada 2, ditambah 3 alam.
05:18Yang pertama itu metode bagaimana kita melakukan pemberantasan melalui satgas di darat, ya.
05:26Itu sudah memang bagi usahanya kita lakukan.
05:29Kita lakukan pemadaman personal, selang diperpanjang air, didekatkan ke sumber.
05:40Dan juga melalui udara sebenarnya, namun halangan terbesar melalui udara bukan karena kita tidak siap secara alutsista,
05:48tetapi visibility yang memang tidak bisa untuk pesawat kita dioperasikan.
05:56Kemudian, kalau mengenai OMC misalnya, kita tidak memiliki bibit-bibit awan di atmosfer,
06:05sehingga memang sulit untuk kita menyamaikan untuk bibit hujan.
06:12Jadi ini tantangan memang yang sangat signifikan yang kita alami,
06:16terutama visibility ini menjadi hal yang sangat perlu kita jaga sebenarnya
06:23agar tidak ada sesuatu apapun kepada operator yang sudah kita tugaskan
06:29untuk melaksanakan berbagai operasi udara.
06:32Dan pantauan di lapangan juga sering dibagikan oleh Ferdi Anfir,
06:36Anda kan sering membagikan situasi terkini,
06:37Karhutlah juga kabut asap di media sosial.
06:40Sebenarnya di lapangan apa sih yang sampai sekarang masih urgent harus dituntaskan?
06:46Iya, Mbak. Pertama, saya baru pulang banget dari Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah
06:52setelah dua minggu hidup berdampingan bersama relawan dan juga teman-teman muda di Kalimantan.
06:59Dan kami menemukan banyak sekali permasalahan yang sifatnya itu struktural.
07:03Jadi bukan permasalahan yang teknis doang dan dinamis gitu.
07:08Enggak, ini struktural yang sebetulnya ini beyond daripada cuaca buruk atau tidak ada awan gitu.
07:14Apa itu?
07:16Pertama, saya harus menyampaikan bahwa kami di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah,
07:21kami punya dua seruan besar.
07:24Satu seruan kami adalah mengundang presiden, wakil presiden, kepala BNPB, menteri-menteri,
07:30one team press, Rocky Gerung segala macam untuk berkantor 30 hari di Palangkaraya.
07:35Karena indikator udara di sana bisa mencapai seribu sampai dua ribu tiap harinya.
07:39Kalau tidak ada pejabat pusat yang mengerti bahwa pentingnya mengambil kebijakan langsung di tempat,
07:44maka tidak akan pernah bisa pada akhirnya kebijakan itu tepat sasaran.
07:50Saya percaya BNPB Pak Berton pasti betul-betul bekerja.
07:55Tetapi ini membutuhkan lebih daripada satu sektor BNPB.
07:58Karena yang kami temukan ketika kami bertemu dengan PPK, relawan pemadam di lapangan,
08:02ternyata ada kerumitan birokrasi yang hal tersebut membuat nyawa yang terancam, mbak.
08:15Taruhlah misalnya.
08:16Ketika status dari siaga, dari suatu kotak itu siaga, menjadi tanggap darurat,
08:22itu membutuhkan approval dari pemerintahan pusat.
08:26Tapi nanti harus dulu rekomendasi di pemerintahan daerah.
08:30Nah nanti pemerintahan daerahnya lambat, pemerintahan pusatnya saling cuci tangan dan seterus-terusnya.
08:34Akhirnya ujung-ujungnya, PPK di lapangan, banyak sekali yang akhirnya memadamkan api,
08:39tidak bahkan menggunakan APD.
08:41Tidak punya embung, tidak punya selang, mesinnya rusak.
08:44Bahkan BBM dan airnya mereka harus beli dengan kolektif.
08:47Berarti saya ingin mengatakan, hari ini terlalu rumit untuk tidak pejabat pusat turun di lapangan.
08:53Oke, saya sebelum Pak Berton duluan, saya ke Pak Berton.
08:56Silahkan ditanggapi tadi masalah birokrasi di lapangan,
08:59dan mungkinkah pejabat pemerintah pusat berkantor di sana untuk melihat rumitnya situasi?
09:05Kami tentu menghargai semua pendapat yang disampaikan kepada kami.
09:10Tentu berkantor di sana juga sebenarnya pimpinan kami hampir setiap hari itu ada di lapangan,
09:18sehingga memang merasakan apa yang dirasakan oleh masyarakat.
09:21Jadi, bagaimanapun memang birokrasi ada,
09:25tetapi itu sudah kita breakthrough dengan berbagai inovasi-inovasi,
09:31dengan kecepatan-kecepatan yang kita lakukan.
09:34Mungkin sampai ke seperti yang kami katakan tadi,
09:37jauhnya dari pemukiman ke tempat titik api juga menjadi halangan.
09:43Itu mungkin, Mbak, yang bisa kami sampaikan?
09:45Baik.
09:45Terima kasih.
09:46Terima kasih, Pak Berton Panjaitan, Kapus Datin BNPB.
09:49Eh, tapi Ferdian masih tetap bersama kami.
09:50Pak Berton, terima kasih banyak sudah bergabung di Sampai Indonesia Malam.
09:53Ferdian, tadi kan disampaikan juga ada banyak hambatan birokrasi dan sebagainya.
09:58Tapi sebenarnya, apa sih yang bisa dilakukan saat ini?
10:02Karena kan kalau bicara birokrasi itu panjang sekali,
10:05tapi di lapangan kenapa ini masih jadi bottleneck?
10:09Tadi ini saya ingin menyampaikan ke Pak Petro skala BNPB.
10:12Saya minta tolong sekali kenapa pejabat pusat harus turun ke daerah.
10:16Karena saya tahu banyak sekali pejabat daerah yang memang ABS asal Bapak Senang.
10:22Jadi, kepala daerah ini ada yang bilang asap enjoy aja.
10:26Ada yang bilang bersatu kita kuat berserai kita kawin lagi.
10:31Ada yang bilang macam-macam, Mbak.
10:33Artinya tidak menyelesaikan substansi masalah gitu ya, Fir?
10:37Karena laporannya tidak disampaikan ke pusat.
10:39Karena malu depan Prabowo.
10:40Jadi, berarti kepala daerah ini malu bilang ke Prabowo,
10:43kami ini bermasalah Pak Prabowo.
10:44Jadi, depan Prabowo itu harus selalu aman Pak, Palembang aman, Kalimantan aman.
10:48Gak bisa.
10:49Di lapangan itu masalahnya, BPK atau pemadam di lapangan itu butuh banget
10:53rekomendasi daerah untuk bisa mendapatkan
10:55entah itu bantuan tak terduga dari pusat
10:58atau dari BNPB atau Kemenhut.
11:00Itu laporan yang kami terima dari ketemu 15 lebih relawan di lapangan.
11:04Itu baru relawan atau belum teman-teman muda yang memang bantu
11:08untuk bikin yayasan rumah aman asap dan seterusnya.
11:11Jadi, saya pengen mengatakan garis besarnya gini, Mbak.
11:16Kalau Jakarta kita sudah merasa sangat-sangat sesak,
11:19Kalimantan itu sudah 15-20 kali lebih sesak dibanding Jakarta.
11:22Kalau 3 bulan masyarakat terus dibiarkan kayak gini,
11:25bagi saya gak jadi berlebihan kalau saya mengatakan ini adalah bagian dari depopulasi gitu.
11:31Karena orang di sana sudah tidak lagi melihat langit biru.
11:34Saya gak pernah lihat matahari, Mbak, 2 minggu di sana.
11:37Pagi, siang, malam sama begitu ya kondisinya?
11:40Sama, Mbak. Sama banget.
11:41Dan itu membuat orang yang tadinya gak punya ispa jadi punya ispa.
11:44Yang punya ispa atau asma atau penenungnya bisa meninggal.
11:48Bisa meninggal gitu.
11:51Firdian, coba gambarkan lebih detail lagi.
11:53Kan 2 minggu di sana, Firdian melihat bagaimana warga tetap bertahan di tengah kabut asap.
11:58Kondisinya seperti apa sih?
12:00Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bisa beraktivitas ke sekolah, kantor,
12:04atau bahkan yang punya anak-anak harus bertahan di dalam kondisi itu.
12:10Apa yang dilakukan, Firdian, di sana?
12:11Dan bagaimana penanganannya secara realnya di lapangan?
12:16Bagi saya, Mbak, yang 2 minggu turun langsung di Kalimantan,
12:20ada yang lebih mengerikan dibanding asap buat masyarakat kecil adalah ketika anaknya kelaparan gak bisa makan.
12:25Adalah ketika istrinya gak bisa masak karena ayahnya memilih untuk gak bekerja karena asap.
12:32Jadi mereka memilih normal itu bukan karena pengen normal,
12:35karena keterpaksaan untuk terus bekerja.
12:38Dan ini yang tidak akan dirasakan oleh pejabat pusat, termasuk kepala BNPB yang bilang ini normal.
12:42Atau kepala daerah yang bilang ini enjoy aja.
12:46Ya iyalah, mereka hidup dengan air purifier yang mahal di kamarnya.
12:49Mereka hidup dengan asap yang mahal di kamarnya.
12:51Keluar dari kandangnya juga mereka pakai mobil-mobil mewah.
12:56Masyarakat pakai motor.
12:58Dan ada yang gak pakai masker, kenapa gak pakai masker?
13:00Bayangin, Mbak, di Jakarta masker itu satu piece-nya 1.500 lah.
13:04Di sana berapa?
13:05Di sana itu 5.000 sampai 10.000.
13:06Satu piece-nya?
13:08Iya, saya cek ke pasar kemarin.
13:10Karena demand-nya kan tinggi kan?
13:12Dan supply-nya dikit.
13:13Jadi ini membuat tidak bisa bergantung kepada resiliensi daripada masyarakat.
13:18Masyarakat itu kuat, kuat memang.
13:20Tapi dipaksa kuat, bukan memilih untuk menjadi kuat.
13:23Itulah kenapa kami punya delapan tututan yang berkaitan dengan penanganan karhutlah.
13:27Tapi secara tema besar tututan kami adalah
13:28seruap pejabat pusat ngantor.
13:30Supaya ketemu pemerintah daerah, supaya saling ngobrol, ambil keputusan.
13:33Karena hari-hari, Mbak, di sana, kami lagi ngobrol sama mereka lawan nih.
13:37Terus tiba-tiba mereka pada lari karena ada
13:40kodenya itu 68.
13:4168 itu artinya ada karhutlah.
13:4268, 68 gitu.
13:43Ngiyung, ngiyung, ngiyung, ngiyung.
13:44Nah, saya bayangkan pejabat pusat sama daerah
13:46kalau ngantor bareng di Kalimantan itu sering,
13:49bayangin mereka akan merasa sense of urgency-nya sama.
13:52Karena mereka lagi ngantor, tiba-tiba,
13:54wih, apa tuh, ngiyung, ngiyung, gitu.
13:55Nah, sekarang yang saya dapat laporan,
13:57saya dapat laporan gitu seperti Prabowo,
13:59tapi saya cek langsung ke lapangan.
14:01Presid RI 1, RI 2 datang ke sana,
14:04nggak lebih dari 6 jam.
14:05Habis itu pulang, dan habis itu nggak ada impact apa-apa.
14:07Nah, sebenarnya akar masalah yang harus dituntaskan
14:10itu apa sih di lapangan?
14:11Di mana mengurahi benang kusutnya?
14:13Karena sudah 4 bulan ini kan sudah terlalu parah kondisinya, Firdian.
14:17Kalaupun pejabat berkantor di sana,
14:20sebenarnya apa simpul yang bisa dilihat langsung di lapangan oleh mereka?
14:26Pertama adalah harus menetapkan sebagai
14:30bencana nasional.
14:32Malah ini internasional kan,
14:33udah kena ke Malaysia, segala macam.
14:35Kenapa?
14:35Dengan adanya bencana nasional,
14:37bukan hanya prioritas akan diutamakan untuk Kalimantan,
14:40tapi anggarannya akan turun besar untuk Kalimantan.
14:42Dari semua lembaga gitu,
14:44mau itu Kemenhut,
14:45mau itu SD,
14:46mau itu BNPB,
14:47mau itu dari anggaran kepresidenan.
14:49Kedua,
14:50selain anggarannya besar,
14:51adalah kedua,
14:53birokrasi yang harus diselesaikan.
14:55Karena sekarang itu sangat rumit.
14:56Oleh karenanya,
14:57perlu langsung ada direct kontak
15:00antara pusat Pemprov
15:02dengan masyarakat penerima manfaat.
15:04Baik itu adalah BPK,
15:07Relawan Pemadang Pembakaran,
15:08atau masyarakat terdampak,
15:10misalnya yang kena ispa, segala macam.
15:11Perlu ada tuh,
15:12langsung gagasan soal
15:15penggratisan oksigen,
15:16penggratisan rumah sakit,
15:19dan seterusnya.
15:20Ketiga,
15:20saya lihat akar masalah apa?
15:22Yaitu adalah konflik kepentingan.
15:24Makanya salah tutupan kami adalah
15:26nomor 8.
15:27Pecat dan adil seluruh pejabat
15:28yang gagal menguruskan hutlah
15:29serta terbukti milik konflik kepentingan.
15:31Jadi,
15:33kebakaran itu masalahnya, Mbak.
15:34Nggak akan dilihat
15:35sekali terus selesai.
15:37Jadi abis kebakaran satu beres,
15:38kebakaran lagi.
15:39Kebakaran lagi, kebakaran lagi.
15:40Dan saya harus bilang,
15:4160% kebakaran itu
15:43ada di lahan konsesi.
15:44Di lahan perusahaan.
15:45Nah, lahan perusahaan ini,
15:47mereka lakukan
15:48membakar-membakar ini
15:49supaya lebih murah kan operasionalnya.
15:52Nah,
15:52kenapa ini bisa tetap?
15:54Sorry, Mbak.
15:54Saya perlu nyawa satu pesan.
15:55Ini penting sekali dari teman-teman
15:56kami menantang.
15:57Di Kalteng,
15:58ada peladang-peladang dayak
16:00yang dikriminalisasi
16:02dan dijadikan kambing hitam.
16:03Karena dianggap
16:03membuat karhut lain nih konyol.
16:05Apa yang bisa dilakukan
16:06oleh individu orang dayak
16:07yang menggunakan
16:10kultur mereka
16:10untuk membakar
16:11satu hektare, dua hektare,
16:12abis itu mereka berpindah.
16:13Abis itu,
16:13si lahan hektarnya
16:14juga nggak akan dipakai
16:15untuk merusak alam.
16:16Tiba-tiba dianggap
16:17yang membuat bencana ini.
16:19Tapi perusahaan-perusahaan
16:20skala raksasa
16:21mana transparansinya?
16:23Kami nggak pernah dengar
16:23siapa yang akhirnya dipidana,
16:25dipenjara.
16:26Jadi penanganan karhut lainnya,
16:28proses hukumnya pun
16:29harus transparan,
16:30betul-betul,
16:31yang menyebabkan kebakaran hutan
16:32dan lahan.
16:33Inilah yang dipidana.
16:34Terima kasih, Firdian.
16:36Sudah membagikan
16:37bagaimana kondisi di sana
16:38selama dua minggu
16:39di Kalimantan
16:40ke Founder Brand News Indonesia
16:41dan sebelumnya juga hadir
16:42Kapus Datin, BNPB,
16:43Bertenpah Jaitan.
16:44Selamat malam.
16:45Terima kasih.