00:00Saya masih bersama dengan kuasa hukum pelapor surat keterangan penyetaraan pendidikan Gibran Azam Khan
00:06dan ketua bidang politik Dewan Pimpinan Pusat Partai Solidaritas Indonesia, Bestari Barus.
00:12Jadi sebenarnya kalau tadi dikatakan ini ujungnya ada politik, ada operasi di belakangnya.
00:18Laporan ini dibuat atau aduan masyarakat apapun itulah terkait ijazah ini,
00:24apakah tujuan akhirnya ya ke politik untuk memakzulkan Mas Gibran dari Kursi Wapres?
00:28Kita gak kesana.
00:30Jadi kita, jadi gongnya itu adalah suket itu harus diperiksa keasliannya.
00:38Apakah suket ini palsu atau suket ini dibuat dalam konteks mainstreamnya itu ditemukan.
00:47Nah kalau itu yang terjadi maka siapa yang membuat itu harus diproses.
00:50Supaya tidak terjadi orang-orang yang menjadi pemimpin tertinggi, katakan tertinggi nomor satu nomor dua kan tertinggi.
00:56Tidak begitu.
00:58Sehingga memenuhi syarat pasal 169 undang-undang nomor 7 tahun 2017 huruf R bahwa dua syarat itu terpenuhi.
01:06Satu 40 tahun.
01:08Gibran sampai sekarang kan belum 40 tahun sebenarnya.
01:10Walaupun ada putusan 90 yang akhirnya diputus MK-MK.
01:14Tapi itu berlaku kalau putusan MK-90.
01:17Dan sekarang kan Deni Indra ini juga melaporkan ke DKPP soal masalah KPU ini.
01:24Nah itu kan berproses juga.
01:26Biarkan saja.
01:26Belum ada yang tun.
01:27Kan begitu.
01:28Belum juga ada yang sudah putusan di KIP.
01:31Bonatua.
01:31Yang sudah dinyatakan tidak ditemukan itu ijazah.
01:34Sudah.
01:34Itu yang Pak Jokowi.
01:36Yang Gibran juga proses.
01:37Nah biarkan saja itu proses.
01:39Tidak apa-apa.
01:40Artinya begini.
01:42Kalau tujuan kita tidak ke sana.
01:45Tapi tujuan kita biarkan saja sutek itu diperiksa.
01:48Kan begitu.
01:49Apa hasilnya kita serahkan semua.
01:51Kan begitu.
01:51Nah kalau itu berjalan sampai ke area politik tadi.
01:55Ya tentu punya hak dong.
01:57Di pasal 79.
02:00Undang-undang yang dibuat.
02:02Satu yang dibuat oleh DPR RI.
02:04Itu kan memperbolehkan hak impeachment.
02:08Hak menyatakan pendapatan.
02:09Itu di DPR.
02:10DPR itu.
02:11Itu kan boleh.
02:12Silahkan mereka yang punya andil.
02:14Sembilan parpol atau berapa sekarang.
02:16Silahkan saja.
02:17Tidak langsung ke sana untuk ke pemakjuan Mas Gibran.
02:20Tapi tidak menutup kemungkinan untuk.
02:21Itu kan di luar kita.
02:23Hal itu atau konsekensi politik itu.
02:26Kembali lagi saya.
02:27Ini sudah keempat kali.
02:29Bahwa melapor.
02:31Mengadu.
02:32Itu adalah hak yang dilindungi konstitusi.
02:36Silahkan.
02:38Gitu loh.
02:39Yang penting konstitusional.
02:42Kan itu saja.
02:43Apa yang mau kami komentari tentang hak orang.
02:46Masa kami batasi.
02:47Tapi artinya.
02:48Kalau dibantahkan tidak ada niatan politik.
02:51Untuk memaksudkan Mas Gibran.
02:53Dari pintu masuk laporan hukum ini.
02:55Anda setuju?
02:57Begini.
02:57Gerakan yang dilakukan itu.
02:59Sudah gerakan politik.
03:01Termasuk laporan hukum ini.
03:03Lah ya itu operasi politik dong.
03:05Lu gimana sih.
03:06Masa menerima itu saja.
03:08Kemudian harus punya persepsi yang jelek.
03:11Saya lagi di operasi.
03:14Ya sudah.
03:14Kenapa rupanya.
03:15Kalau NT mengoperasi orang.
03:16Emang kenapa?
03:17Kan gak apa-apa juga NT mengoperasi orang.
03:19Gak apa-apa.
03:20Tinggal kita nanti lihat.
03:22Hukum itu berbeda dengan politik.
03:24Bahwa kita meyakini.
03:27Bahwa.
03:29Apa yang dilakukan kawan-kawan ini kan.
03:32Berandaskan konstitusi.
03:33Berhadapan juga dengan pembuat undang-undang.
03:37Ya tinggal diuji.
03:38Sesuai dengan konstitusi.
03:40Tetapi ketika tuduhan.
03:42Tanpa mengatakan kami duga.
03:45Ya kami keberatan.
03:47Kan itu saja.
03:48Yang selama ini.
03:49Si Anu begini.
03:50Si Anu begini.
03:52Tapi.
03:53Tidak mengatakan kami duga.
03:56Kan itu yang selalu kesalahan dari kawan-kawan ini.
03:59Selalu menunjuk hidung si Anu salah.
04:02Padahal pembuktiannya tidak ada.
04:03Makanya gini.
04:04Berarti pejabat publik.
04:05Dia dalam putusan MK 105.
04:09Bahwa pejabat publik itu.
04:11Tidak boleh melaporkan.
04:13Presiden.
04:14Menteri.
04:15Gubernur.
04:16Bupati.
04:17Gak boleh.
04:17Kan itu putusan MK yang tertinggi.
04:19Terus ada lagi kip.
04:21Informasi publik pasal 18 ayat 2.
04:24Bahwa setiap rakyat yang berkenda ingin mengetahui siapa publik tersebut.
04:28Maka tunjukkan.
04:29Tidak perlu ribet.
04:31Tidak perlu berantem.
04:32Tidak perlu bersidang.
04:33Tidak perlu adu domba.
04:34Istilahnya ya.
04:35Tidak perlu cakar-cakaran.
04:37Menurut Anda ini jadi ribet karena kenapa?
04:38Ya itu tadi.
04:39Tidak pernah tunjukkan.
04:41Tidak ada kewajiban.
04:42Tidak ada kewajiban.
04:42Tidak ada kewajiban.
04:43Tidak ada kewajiban.
04:44Tidak ada kewajiban.
04:45Tidak ada kewajiban.
04:45Tidak ada.
04:46Tidak ada kewajiban.
04:46Tidak ada heran.
04:46Tidak hadir.
04:47Tidak hadir.
04:47Tidak ada hadir.
04:49Lihat dia pelapor utama.
04:51Maka telih aduan absolut.
04:53Apa maksudnya?
04:54Pasal 30 kalau yang laporin.
04:56Yang ngelaporin.
04:56Tunggu biar yang lain pintar.
04:58Yang ngelaporin satu orang atau dua orang ini.
04:59Jokowi.
05:00Yang lainnya siapa?
05:01Kan tidak dipakai yang lain
05:02Terus?
05:03Yang lapor, yang Pak Jokowi
05:05Sudah dipanggil belum?
05:06Sudah kan, pelapor itu sebentar
05:09Jangan berasumsi pribadi dong
05:11Tidak berasumsi, ini bahasa hukum
05:13Makanya dengarkan
05:13Jalannya sidang itu jadi sah gak?
05:16Sah dong
05:16Sah kan?
05:17Ya udah gak apa
05:18Kan makanya harusnya
05:20Jentel saja, jangan berjanji saya mau hadir
05:23Pasti hadir
05:24Pasti hadir pada waktunya dong
05:26Gak kaya anda, tiap hari hadir gak ada gunanya juga
05:29Kita mengugat, kita mengugat ijazah Pak Jokowi
05:33Itu sudah tiga kali gak pernah hadir
05:35Malulah
05:36Mana undangannya pasti hadir dong
05:38Kita kan mengugat di PN
05:40Di mana?
05:41Ada gak kewajibannya hadir
05:42Nah itu kan
05:43Susah kan kalau gitu
05:45Eh manusia ini
05:46Kalau sudah menjadi pejabat publik
05:49Sudahlah gak usah
05:50Bertele-tele
05:51Datang saja
05:52Berasumsi
05:53Sesuai apa yang ada
05:55Di akarnya sempit
05:56Oleh mayurangkas rakyat
05:57Undang-undang dasar pasal 1
06:00Ayat 2
06:01Rakyat berdaulat
06:02Maka kalau rakyat berkehendak
06:04Datang saja
06:05Pak Jokowi rakyat bukan?
06:06Pak Jokowi rakyat bukan?
06:07Loh
06:07Jangan gini loh
06:08Pejabat publik waktu itu
06:10Dia presiden loh
06:11Sekarang ini
06:12Jangan dulu-dulu
06:13Sekarang ini
06:14Pak Jokowi rakyat bukan?
06:16Walaupun rakyat
06:17Tapi hak fasilitasnya
06:18Sekarang
06:18Saya tanya dulu
06:20Hak fasilitasnya sekarang
06:21Ini gak boleh jadi pengajar
06:22Bo
06:22Anda yang salah
06:23Sekarang gini
06:24Saya mau tanya
06:25Sekarang Pak Jokowi
06:26Walaupun bukan presiden
06:27Apakah sekarang negara
06:29Tidak memberikan?
06:30Seperti
06:30Pengawal
06:32Saya mau tanya
06:32Melekat gak itu?
06:33Terus sekarang
06:34Dia menjawab
06:35Itu hak konstitusi
06:38Terus Anda yang menghakimi
06:40Bahwa dia harus hadir
06:41Sesuai dengan apa yang ada di kepala Anda
06:43Kalau memang dia melaporkan
06:44Hakim dong panggil
06:46Kalau tidak
06:46Kalau tidak melaporkan
06:48Nah ini
06:48Ini kesalahan yang tidak mengerti
06:50Kalau untuk dikasih ijazahnya Mas Gibran
06:52Harusnya apa?
06:52Ijazahnya ditunjukkan saja
06:53Atau surat keterangan penyetaraan pendidikan
06:55Sudah ditunjukkan
06:56Itu suket
06:57Ya sudah benar itu suket
06:59Itu memang boleh
07:00Gimana?
07:01Itu dianggap penyetaraan
07:03Karena pendidikannya diambil di luar negeri
07:05Keputusannya dalam pertimbangan
07:07Dibacakan oleh Hakim
07:09Tidak ada
07:09Sudah baca itu ada
07:11Tidak ada ijazah
07:12Tidak ditemukan di persidangan
07:13Tidak ada ijazah
07:14Atau tidak ada suket
07:15Tidak ada ijazah
07:16Ya sudah
07:17Memang betul
07:18Saya juga membenarkan
07:19Justru
07:19Justru
07:20Makanya gini
07:21Suket bandingannya
07:22Aduh
07:23Suket itu
07:23Ini gimana
07:24Masa gini
07:25Saya mau tanya Friska
07:27Orang mau jadi presiden
07:28Mau jadi wakil presiden
07:29Mau jadi menteri
07:30Menjadi gubernur
07:31Cukup suket
07:31Aduh
07:32Yang benar dong
07:33Madulah
07:33Eh satunya ada kok
07:35Mane
07:35Ada
07:36Anda mau ngatakan
07:38Nih nih
07:38Saya bacakan disini
07:40Gak mau saya baca itu
07:41Amar
07:42Baca Amar
07:43Itu apa
07:43Baca
07:44Baca
07:44Hanya hadir
07:45Diskusi bawa bahan begini
07:47Anda apa
07:48Anda punya bahan
07:49Asap punya bahan
07:51Sudah cukup ada di kepala semua
07:52Ya tapi salah
07:53Karena Anda apa
07:54Anda melihat adalah
07:56Ini cuma
07:57Bukan amarnya
07:58Yang pertimbangan
08:00Amarnya aja pertimbangan
08:01Jangan kita bahas disini
08:02Ketidak mengertian
08:04Ya itulah
08:04Anda berkeinginan
08:07Tidak ada
08:08Tidak ada
08:10Tidak ada
08:11Tidak ada
08:12Kita profesional
08:13Berubahlah
08:13Kita konstitusional
08:15Biarkan saja proses itu berjalan
08:17Konstitusi
08:17Bukan berdasarkan yang Anda pikirkan
08:20Bukan
08:21Kasian ini yang menonton
08:23Konstitusi ini adalah pikiran
08:26Bingung kepada kalian
08:27Kepada Anda
08:28Cara menjelaskan
08:29Azam kan
08:30Enggak boleh
08:31Enggak bukan
08:32Gitu loh
08:33Kita
08:34Tidak menyestifikasi
08:36Letakkan
08:36Yang hak itu adalah hak
08:38Yang batil itu batil
08:39Yang mana yang batil
08:41Yang mana yang hak kan begitu
08:42Yang batil yang memberikan tuduhan-tuduhan palsu
08:45Oke
08:45Sekarang
08:46Sekarang
08:47Hukum dan politik
08:48Akan sama-sama
08:49Berjalan
08:50Tidak bisa dipisahkan
08:52Antara laporan hukum ini
08:53Dan implikasi politik
08:53Kalau hukum tersendiri
08:55Politik beda
08:57Tapi tidak bisa dipisahkan
08:58Dengan operasi politik
08:59Itu kan terserah
09:00Gini
09:02Mungkin
09:02Belum sadar bahwa
09:04Hukum dan politik itu
09:06Satu kesatuan
09:08Politik menciptakan hukum
09:09Hukum ditegakkan untuk politik juga
09:11Oke
09:12Terima kasih Anda sudah bergabung
09:13Di Rosi Bung Azam kan
09:14Terima kasih
09:15Bung Bestari Barus
09:16Terima kasih
09:17Senderah Anda telah menyaksikan Rosi
09:18Kita jumpa lagi
09:19Kami setelah
09:19Hanya di Kompas TV
09:20Independent
09:21Terpercaya
09:21Saya Friska Klarissa
09:22Selamat malam
09:23Sampai jumpa
09:49Sampai jumpa lagi
09:54Download Kompas TV Apps
09:56Di TV kamu
09:57Sekarang juga