- 3 menit yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Bank Mandiri memberikan fasilitas kredit dengan plafon Rp40 triliun kepada PT Jhonlin Baratama, perusahaan yang terafiliasi dengan pengusaha Haji Isam. Dari plafon tersebut, sekitar Rp17 triliun telah digunakan.
Bank Mandiri menyatakan fasilitas kredit itu ditujukan untuk pengembangan usaha, belanja modal, serta kebutuhan pembiayaan perusahaan dan grup usaha di industri batu bara beserta sektor penunjangnya.
Agunan kredit mencakup aset tetap dan tidak tetap, termasuk saham PT Jhonlin Agro Raya (JAR) dan PT Pradiksi Gunatama (PGUN).
Pengamat BUMN sekaligus Direktur Next Indonesia Center, Herry Gunawan, menyoroti risiko penurunan nilai saham yang dijadikan agunan, kemungkinan tumpang tindih jaminan aset, serta proses penilaian dan persetujuan kredit.
Ia juga mempertanyakan transparansi penggunaan fasilitas kredit tersebut di tengah pertanyaan Bursa Efek Indonesia terkait kemungkinan kaitannya dengan akuisisi saham Bayan.
Menurut Herry, Bank Mandiri perlu menjelaskan mekanisme mitigasi risiko dan memastikan tata kelola pemberian kredit berjalan memadai. Bagaimana potensi dampaknya terhadap Bank Mandiri dan investor?
Produser: Prayogi Haro
Editor: Novaltri
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/698657/full-pakar-ungkap-soal-bank-mandiri-kucurkan-kredit-rp40-triliun-ke-perusahaan-haji-isam
Bank Mandiri menyatakan fasilitas kredit itu ditujukan untuk pengembangan usaha, belanja modal, serta kebutuhan pembiayaan perusahaan dan grup usaha di industri batu bara beserta sektor penunjangnya.
Agunan kredit mencakup aset tetap dan tidak tetap, termasuk saham PT Jhonlin Agro Raya (JAR) dan PT Pradiksi Gunatama (PGUN).
Pengamat BUMN sekaligus Direktur Next Indonesia Center, Herry Gunawan, menyoroti risiko penurunan nilai saham yang dijadikan agunan, kemungkinan tumpang tindih jaminan aset, serta proses penilaian dan persetujuan kredit.
Ia juga mempertanyakan transparansi penggunaan fasilitas kredit tersebut di tengah pertanyaan Bursa Efek Indonesia terkait kemungkinan kaitannya dengan akuisisi saham Bayan.
Menurut Herry, Bank Mandiri perlu menjelaskan mekanisme mitigasi risiko dan memastikan tata kelola pemberian kredit berjalan memadai. Bagaimana potensi dampaknya terhadap Bank Mandiri dan investor?
Produser: Prayogi Haro
Editor: Novaltri
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/698657/full-pakar-ungkap-soal-bank-mandiri-kucurkan-kredit-rp40-triliun-ke-perusahaan-haji-isam
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:13Intro
00:14Saatnya Anda menyaksikan Kompas Bisnis, Saudara ada informasi dari Bank Mandiri yang memberikan fasilitas kredit sebesar 40 triliun rupiah
00:21kepada perusahaan afiliasi Adi Samshuddin Arshad alias Haji Isham, yakni John Lin Baratama.
00:31Lewat keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Bank Mandiri bilang sumber pembayaran utama kembali fasilitas kredit berasal dari usaha operasional
00:39perusahaan
00:39berapa anak perusahaan yang dapat memberikan dividen dan hanya berasal dari usaha batubara yang dimiliki debitur dan grup usaha
00:47di mana Bank Mandiri menilai dari sumber pembayaran di atas, Bank menilai debitur memiliki kemampuan yang cukup untuk menuhi seluruh
00:56kewajiban.
01:04Dalam keterangan resmi di Bursa Efek Indonesia yang ditandatangani oleh Senior Vice Presiden Bank Mandiri,
01:10Adi La Vista menegaskan pelafon fasilitas kredit yang diberikan kepada PT John Lin Baratama senilai 40 triliun rupiah.
01:17Dari pelafon tersebut yang telah digunakan adalah sebesar 17 triliun rupiah.
01:22Tujuan penggunaan fasilitas kredit tersebut dalam rangka pengembangan usaha meliputi capek serta kebutuhan pembiayaan perusahaan dan grup usaha John Lin
01:32di industri batubara dan penunjangnya.
01:35Bank memberikan fasilitas kredit tersebut dengan mempertimbangkan prospek usaha, kinerja keuangan, dan kemampuan membayar
01:43serta memperhitungkan kemampuan self-financing debitur terhadap kebutuhan perusahaan dan grup usaha.
01:56Sementara itu pertanyaan Bursa Efek Indonesia mengenai agunan dijawab oleh Bank Mandiri
02:02bahwa fasilitas pinjaman tersebut dijamin dengan fixed asset dan non-fixed asset
02:07termasuk saham JAR dan PGUN yang merupakan afiliasi dari John Lin Baratama serta rekening perusahaan.
02:15Bank Mandiri juga menegaskan atas penilaian saham yang digunakan sebagai agunan tambahan
02:20telah sesuai pasal 4 POJK 40 POJK 03 2017 dan kebijakan internal
02:26di mana agunan saham merupakan sumber pelunasan sekunder dan dinilai secara konservatif.
02:32Bank Mandiri sebelumnya juga telah menyebutkan fasilitas kredit kepada John Lin Baratama
02:36tidak digunakan untuk transaksi jual-beli saham.
02:40Kredit yang mengagunkan saham JAR dan PGUN disebut untuk mendukung pengembangan usaha
02:46di industri batubara dan sektor penunjangnya.
02:54Sementara terkait dengan akuisisi saham bayan oleh perusahaan Haji Isam,
02:59Bursa Efek Indonesia melayangkan surat kepada Bank Mandiri meminta penjelasan dengan pertanyaan
03:04apakah fasilitas kredit yang diberikan kepada John Lin Baratama digunakan untuk kegiatan bisnis
03:09yang dijalankan baik langsung maupun tidak langsung bersama dengan bayan atau perusahaan terbuka lainnya.
03:16Namun Saudara, Bank Mandiri tidak secara gamblang menjawab pertanyaan ini
03:22hanya menegaskan bahwa fasilitas kredit yang diberikan kepada John Lin Baratama
03:26digunakan dalam rangka pengembangan perusahaan dan grup usaha capek
03:31serta kebutuhan pembiayaan John Lin Group di industri batubara penunjangnya.
03:36Dalam menilai repayment capacity debitor hanya memperhitungkan cash flow dari usaha existing
03:42yang berasa dari industri batubara John Lin Group.
03:52Saudara, Bank Mandiri memberikan kredit 40 triliun rupiah kepada John Lin Baratama
03:57perusahaan milik Haji Isam yang diduga untuk mengakusisi bayan dengan jaminan saham JAR dan PGUN.
04:03Seberapa besar risikonya bagi Bank Mandiri?
04:06Kita berbincang dengan Heri Gunawan, pengamat BUMN sekaligus Direktur Next Indonesia Center
04:11yang telah hadir di Studio Kompas TV.
04:13Pak Heri selamat pagi.
04:14Terima kasih sudah datang lagi ke Kompas TV.
04:18Pak Heri tadi ada beberapa hal yang menjadi catatan kami di Kompas Business.
04:22Yang pertama yang jadi pertanyaan saya adalah bagaimana Anda menilai dengan adanya pinjaman jumbo
04:29dari Bank Mandiri ke John Lin Baratama senilai 40 triliun.
04:32Apakah kalau kita melihat kapasitas permodalan dan juga profit risiko Bank Mandiri ini tergolong besar?
04:37Kalau kita lihat dari hitungannya Bank Mandiri tentu tidak begitu besar ya.
04:42Karena dia outstanding creditnya kan 1.600 triliun ya.
04:46Ini 40 triliun.
04:47Tapi bahwa risiko yang dihadapi tetap saja besar.
04:50Nah saya rasa tadi seperti disampaikan oleh Mas Yeni itu
04:53bahwa Bursa Efek Indonesia sudah beberapa kali mempertanyakan soal kredit ini ke Bank Mandiri.
04:59Saya rasa ada yang belum ditanya oleh Bursa Efek Indonesia plus regulator terutama OJK.
05:05Salah satu yang diagunkan itu adalah sahamnya PT.JAR.
05:10Pak John Lin Agro Raya.
05:13Nah saham ini tahun 2024 PT.JAR ini sudah mengagunkan 12 HGU-nya dia.
05:2012 HGU-nya dia untuk pinjaman di Bank Mandiri senilai 1,4 triliun.
05:25Plus satu entitas perusahaan yang diagunkan namanya PT.ESAM.
05:28Jadi ini polanya sama nih.
05:30Jadi mengagunkan perusahaan.
05:32Nah bagaimana mungkin PT.JAR yang 12 HGU-nya sudah diagunkan ke Bank Mandiri
05:38sekarang yang diagunkan lagi adalah sahamnya.
05:41Nah ini kan pelayak dipertanyakan bagaimana mungkin satu objek
05:46itu sudah diagunkan sampai dua kali ke bank untuk kredit yang nilainya triliunan.
05:52Tapi secara aturan ini celahnya di mana Pak?
05:53Satu perusahaan JAR tadi ada yang diagunkan yang awal tadi asetnya kemudian sekarang sahamnya.
06:01Sehingga lolos tentunya ada pertimbangan tadi dari Bank Mandiri.
06:04Menurut Anda celahnya di mana?
06:05Ya menurut saya ini persoalannya bukan apa namanya peraturan boleh atau tidak.
06:11Tapi ini persoalan tata kelolanya dia.
06:13Bagaimana persoalan tata kelolanya sehingga dia mampu memitigasi risiko.
06:17Karena gini, kalau kita lihat polanya kan ini menurut saya risiko yang akan dihadapi Bank Mandiri ini adalah risiko yang
06:24akan berlipat.
06:25Jadi risiko yang berlipat itu begini.
06:26Pertama itu sama dengan saat ini itu LDR-nya Bank Mandiri,
06:32loan to deposit ratio-nya itu sudah 94 persen.
06:34Artinya sesak nafas nih Bank Mandiri.
06:37Kalau sudah sesak likuiditasnya maka Bank Mandiri kemudian menerbitkan surat utang abadi,
06:44perpetual bond di Singapura dalam bentuk dolar itu nilainya sekitar 14 triliun lah ya.
06:5114 triliun ini kan dia tidak ada jatuh tempo tapi tiap bulan, tiap tahun dia harus membayar bunganya.
06:57Itu satu.
06:58Yang kedua ada risiko kredit terhadap nilai agunan tadi.
07:01Satu, sahamnya berpotensi karena gini, ini kan kredit kita asumsikan itu berhenti pada tanggal 17 September.
07:09Karena kan dikatanya melakukan assessment terhadap satu bulan dengan harga sahamnya yang intraday,
07:15terus kemudian diambil harga paling bawah.
07:17Persoalannya satu bulan kalau kita tarik.
07:19Harga paling bawah di tanggal tersebut?
07:21Iya, periode katakanlah 17 September sampai Agustus gitu ya, ke Agustus ke belakang.
07:26Ini puncaknya sahamnya ini, saham JAR dan saham PGN.
07:33Nah ini puncak-puncaknya.
07:34Setelah tanggal 17, saya lihat polanya itu menghasilkan semuanya mengalami penurunan.
07:39Oke.
07:40Dua perusahaan ini karena harganya sudah jauh.
07:43Karena harganya ribuan kan, 1.8 ribuan per lembar saham.
07:46Pada ditutup kemarin yang satunya lagi sekitar 2.500.
07:50Padahal ketika IPO harganya 1.115 rupiah, satunya lagi 300 rupiah.
07:55Jadi sudah jauh melambung.
07:57Selain itu, itu juga ada afiliasi.
08:00Misalnya gini, di komisarisnya, anaknya Haji Isam, itu Joni Saputra.
08:04Itu kan dia preskom di JAR, sekaligus komisaris di PT Jonlin Baratama.
08:09Baratama ini perusahaan yang nerima duit dari Bank Mandiri.
08:12Nah dialah yang deal.
08:14Nah jadi ini kan ada afiliasi di sini, yang artinya ada risiko gitu ya.
08:19Nah kemudian juga ada risiko, misalnya risiko sistemik.
08:23Misalnya gini, ketika Jonlin Baratama itu mengalami persoalan ketika dia harus melunasi kewajibannya secara reguler.
08:32Ini kan mengalami, atau istilah yang orang biasa sebut itu wrong way risk ya.
08:37Nah ini kan akan berdampak.
08:39Berdampak juga kepada kondisi sahamnya JAR dan PGUN.
08:43Nah ini pada akhirnya nanti yang dirugikan adalah investor-investor kecil.
08:47Jadi yang jauh lebih penting menurut saya sekali lagi yang saya tekankan bahwa sejauh mana Bank Mandiri melakukan assessment yang
08:54proper terhadap agunannya.
08:56Terhadap agunan yang diberikan oleh Jonlin Group.
08:58Apalagi tadi satu, yang asetnya sudah diagunkan untuk kredit senilai 1,4 triliun.
09:03Pak Harry nanti kita bahas satu persatu terkait dengan risiko yang disebutkan oleh Bapak tadi.
09:08Tapi sebelum kita ke sana, saya mau bertanya terkait dengan pertanyaan BI soal sangkut pautnya pinjaman ini dengan akuisisi bayan
09:18oleh perusahaan Haji Isam Jonlin Baratama.
09:21Tapi tidak dijawab gamblang oleh Bank Mandiri.
09:25Menurut Anda apakah sebetulnya ada indikasi ke sana?
09:29Iya, karena gini kan, kan tidak mungkin Bank Mandiri, ini kan tidak boleh Bank Mandiri membiayai kasih kredit untuk transaksi
09:36saham.
09:36Kan tidak boleh. Makanya Bank Mandiri tidak menjelaskan bahwa ini adalah untuk membeli saham bayan misalnya.
09:43Nah itu tidak diperbolehkan di dalam regulasi.
09:45Makanya dia sebut ini adalah untuk belanja modal.
09:48Belanja modal ini adalah ekspansi. Ekspansinya apa?
09:51Iya beli saham bayan.
09:53Jadi sebenarnya kan kita sudah tahu transaksinya memang seperti itu.
09:57Karena dia batas waktunya waktu itu kan 30 September kan.
10:01Kalau ujung-ujungnya dibelikan saham, itu memang diperbolehkan secara aturan?
10:04Nah, jadi bahasa kreditnya adalah untuk capex kan dia bilang gitu.
10:11Jadi Bank Mandiri menyalurkan kreditnya ini adalah untuk capex bukan untuk transaksi saham di bursa.
10:19Nah, ini dilakukan padahal dia digunakan untuk ekspansi akuisisi juga.
10:25Oke, yang juga jadi pertanyaan ini Pak Heri, ini kok bisa cepat ya cairnya?
10:31Awam saja misalkan mau mengajukan pinjaman ke bank banyak sekali rangkaiannya.
10:37Kita mau mengajukan KPR misalkan panjang sekali rangkaiannya.
10:40Kalau kita melihat kasus ini ataupun ya case yang ini, apakah menurut Anda dari Bank Mandiri ini cairnya itu terlalu
10:47cepat?
10:48Dan super cepat?
10:49Dengan waktu yang singkat, apakah aspek kehati-hatian juga sudah sesuai dengan kaida OJK menurut Anda?
10:55Inilah menurut saya yang ada ketidakwajaran.
10:59Menurut saya ada ketidakwajaran di dalam pemberian kredit ini.
11:03Satu nilainya sangat besar untuk ukuran agunan yang diberikan.
11:08Karena agunan ini kan dua perusahaan ini jaran PGUN.
11:11Tidak sebesar itu?
11:11Iya, itu kalau digabung ya, dua perusahaan ini itu kira-kira dividennya satu tahun itu 2025 itu 100 miliar.
11:18Jauh sekali ya?
11:19Ini asetnya juga 1-2 triliun, 1-4 triliun, jadi kira-kira sekitar 6 triliun dua perusahaan ini digabung.
11:26Jadi menurut saya ini satu asetnya terlalu kecil untuk sebuah pinjaman senilai 40 triliun.
11:33Dan yang kedua, lagi-lagi tadi, JAR, salah satu perusahaan yang diagunkan, itu sudah mengagunkan HGU-nya,
11:4212 HGU plus satu anak perusahaannya PTSM, itu ke Bank Mandiri juga untuk pinjaman 1,4 triliun.
11:48Artinya kan harus ada diskon ketika dipaluasi nih perusahaan yang dijadikan agunan.
11:53Nah jadi menurut saya, dan kedua, ketiga, itu kan memang keputusannya begitu cepat.
11:57Seolah-olah Bank Mandiri tergesa-gesa.
11:59Jadi yang dikejar-kejar, ibaratnya gini, bayan mengejar Haji Isam atau pemilik John Lynn sebagai penerima manfaat terakhir
12:08untuk membayar pada tanggal 30 September.
12:11Haji Isam mengejar Bank Mandiri, kira-kira gitu.
12:14Bank Mandiri nggak tahu siapa yang menekan.
12:17Jangan lupa, di dalam setiap keputusan kredit, terutama yang besar kayak begini,
12:22di setiap bank, itu ada yang namanya komite kredit.
12:25Komite kredit itu komite dibawa direksi dan langsung dipimpin oleh direktur utama, oleh presiden direktur.
12:32Artinya apa? Ini juga ada nggak mekanisme pembahasan itu?
12:37Kalau tidak ada mekanisme itu, maka ini adalah salah satu pelanggaran dari tata kolol yang dilakukan oleh Bank Mandiri.
12:43Kalau ada pembahasan, apa pertimbangannya?
12:46Ini bisa menjadi resiko hukum bukan saat ini, tapi bisa jadi di kemudian hari.
12:51Oke, ada resiko hukum. Tapi kalau kita melihat sebetulnya ya, secara wajar Pak Heri,
12:56harusnya itu memakan waktu berapa lama? Secepat-cepatnya.
12:59Karena kan banyak sekali yang harus di assessment, yang harus dipertimbangkan,
13:02terkait juga dengan bagaimana agunannya, bagaimana kemampuan untuk membayarnya.
13:08Ini secara wajar untuk korporasi itu, untuk memberikan pinjaman itu seberapa cepat?
13:14Ya kalau menurut saya untuk kasus kayak gini, paling cepat itu tiga bulan.
13:18Karena gini, ketika dia, ini kan nanti akan berpindah ke pemilikan, salah satunya yang dijaminkan kan.
13:24Ketika berpindah ke pemilikan, kan yang dianalisis bukannya hanya pergerakan saham.
13:28Tapi ketika ke saham itu misalkan berpindah, misalnya gitu ya.
13:33Maka yang dia lihat adalah operasinya kan.
13:36Bagaimana operasinya, bagaimana penjualannya, kemudian lahannya seperti apa, ada sengketa atau tidak.
13:42Ini kan assessmentnya tidak cukup membutuhkan satu jasa penilai.
13:48Mungkin jasa penilainya ada jasa penilai keuangan, ada jasa penilai non-keuangan.
13:53Nah inilah kemudian menjadi pertimbangan komite kredit untuk memutuskan gitu.
13:58Memutuskan bahwa ini agunannya layak dan masa depannya bagus ke depan gitu ya.
14:04Nah itu juga baru berapa nilai kredit yang diberikan.
14:07Nah menurut saya, ini kan terlalu besar.
14:09Jadi selain kredit yang pertama itu 40 triliun, kan ada tambahan kredit.
14:15Tambahan kredit adalah untuk perumahan seluruh karyawan John Lynn Group.
14:21Oke.
14:22Jadi dapat ini adalah berlipat lah bonusnya.
14:25Atau bisa juga Bang Mandiri maksudnya adalah ingin mengikat payrollnya.
14:28Bisa jadi juga begitu.
14:29Begitu caranya ya.
14:30Kalau kita ngomongin soal risiko juga, ini Pak Heri tadi Anda membedah beberapa risiko.
14:36Salah satunya terkait dengan yang saya soroti, apakah kredit sebesar ini berpotensi menimbulkan
14:42concentration risk bagi Bang Mandiri menurut Anda?
14:46Ini kalau concentration risk itu mungkin tidak, tapi akan menjadi, akan berdampak.
14:55Ini punya potensi dampaknya sistemik terhadap bisnisnya Bang Mandiri.
14:59Kenapa saya bilang sistemik?
15:00Pertama, Haji Isam ini atau nasabahnya Bang Mandiri itu punya nilai politis yang sangat tinggi.
15:08Dia adalah, seperti sudah muncul di banyak pemberitaan, itu adalah penyandang dana dari Presiden.
15:15Bapak Prabowo waktu mencalonkan sebagai Presiden.
15:18Nah sehingga orang berasumsi kemudian bahwa ini Bang Mandiri mengalami tekanan.
15:22Nah ketika risiko ini menjadi bergeser dari risiko kredit, risiko kredit mungkin kecil,
15:29tapi kemudian risiko reputasi ini yang akan menjadi lebih besar.
15:34Ini akan menggulung Bang Mandiri.
15:36Kalau sudah menggulung Bang Mandiri, kalau efek reputasi yang sudah naik, itu artinya kalau Bang Mandiri,
15:42maka orang-orang akan rame-rame menarik dananya dari Bang Mandiri.
15:45Nah ini efek dari risiko reputasi, ini yang harus diantisipasi.
15:50Oke, Pak Heri tadi juga kita membahas terkait dengan saham yang diagunkan, ada JAR dan juga PGUN.
15:57Tapi kalau kita melihat dulu begitu ya, sebagai basis informasi,
16:02apa sih bedanya dan juga tingkat keamanan agunan berupa saham dengan agunan berupa aset real,
16:08seperti tanah dan juga bangunan.
16:09Perbedaannya seperti apa, lebih aman yang mana.
16:12Tapi kita bahas susah jeda, Pak Heri tetaplah bersama kami, sodara, di Kompas Bisnis.
16:30Anda masih bersama kami di Kompas Bisnis, sodara, dan kita lanjutkan perbincangan dengan Heri Gunawan,
16:35penggemat BUMN dan Direktur Next Indonesia Center.
16:38Pak Heri, tadi pertanyaannya terkait dengan perbedaan keamanan agunan.
16:42Apa perbedaan keamanan agunan antara saham, dalam konteks ini adalah JAR dan juga PGUN,
16:47dengan agunan real, seperti bangunan, tanah, dan juga lain-lain?
16:52Ya kalau yang fix itu kan lebih solid ya, jadi artinya kalau tanah, apalagi tiap tahun harganya itu biasanya naik.
16:58Kalau saham, ini nggak usah tahunan, dalam hitungan hari itu bisa turun.
17:02Ini saya kasih contoh gini, di saham JAR misalnya gitu ya, itu saham JAR itu pada tanggal 14 Agustus, itu
17:10harganya sekitar Rp2.010.
17:13Nah, ketika harganya Rp2.010, pada tanggal 17 September itu harganya Rp4.190, itu adalah puncak.
17:20Setelah itu harganya turun, kemarin ditutup harganya tinggal Rp2.230.
17:25Nah, yang lebih gawat, ini saham PGUN misalnya, puncaknya itu 17 September harganya Rp10.500 per lembar saham.
17:35Kemarin 28 Oktober, sudah turun 20%, harganya tinggal Rp8.000 per lembar saham.
17:40Jadi ibaratnya kalau ini yang diagunkan sama Bank Mandiri, apa yang menjadi agunan oleh Bank Mandiri,
17:46ibaratnya gini, agunannya sudah mulai kempes, padahal kreditnya baru, duitnya baru dikucurin gitu ya.
17:52Nah, ini menurut saya resikonya ini sangat besar.
17:56Kalau tadi tanah, ya sudah setiap tahun itu pasti akan naik dan itu jelas gitu ya.
18:00Berarti ini dampaknya terhadap nilai agunan dan tingkat perlindungan kredit itu sangat tinggi dong,
18:05karena tadi volatilitasnya juga tinggi, dan juga kita ketahui bahwa JAR dan juga PGUN ini
18:09sudah tidak bisa top up lagi begitu, karena memang 100% yang diagunkan untuk Bank Mandiri ini.
18:16Nah, ini kasusnya agak mirip misalnya dengan anak perusahaan BUMN yang lain gitu ya.
18:21Agak mirip, tapi tentu saja berbeda secara fundamental.
18:24Kasus Telkomsel misalnya masuk, menyutik dana, sekitar waktu itu berapa?
18:304 triliun atau berapa itu ke Gotoh.
18:32Yang kemudian sahamnya anjlok, sehingga valuasinya menjadi turun.
18:37Nah, ini bisa ketika kasus Telkomsel mungkin bisa disebut sebagai investasi risikonya.
18:41Kalau ini, mau disebut bukan risiko investasi kan?
18:45Ini adalah risiko kredit yang kemudian bisa jadi suatu ketika ya, mudah-mudahan tidak terjadi.
18:50Jangan ada anggapan misalnya, kok Anda ceroboh ya?
18:53Mau menggunakan harga sahamnya itu sebagai agunan yang harganya,
18:59gimana dia menghitung valuasinya?
19:01Belum lagi tadi, yang lagi saya mau ulang lagi itu,
19:05yang JAR itu, itu apalagi asetnya sendiri, itu kan sudah mulai kempes.
19:10Karena 12 HGU-nya itu sudah dijaminkan ke Bank Mandiri.
19:14Itu ada di keterbukaan informasinya JAR.
19:17Oke, jadi apa yang perlu dilakukan kalau kita melihat,
19:19kita sama-sama tahu begitu,
19:21nilai, aset, valuasi juga tidak sebesar itu untuk diagunkan.
19:24Apakah kalau kita melihat terkait dengan saham PGUN dan juga JAR ini,
19:28apakah bank jadinya perlu memberikan syarat tambahan, agunan,
19:32atau ada mekanisme margin call jika harga saham yang dijaminkan turun melewati batas tertentu?
19:38Nah itu kan, itu kalau perjanjiannya kan itu sebenarnya ada inian ya,
19:42ada apa namanya, itu pasti kerahasian di antara mereka.
19:45Yang seharusnya kan dibatasi kan,
19:47misalnya bahwa oke ketika Anda agunkan ke saya,
19:50saham harga sahamnya 9 ribu per lembar saham.
19:52Nah seharusnya kalau dia turun dengan batas bawah sampai 7 ribu,
19:56itu masih bisa diterima, tapi kalau di bawah 8 ribu Anda harus tambah agunan.
20:00Nah itu kan sebenarnya bisa dilakukan begitu,
20:03tapi apakah itu dilakukan oleh bank mandiri kita tidak tahu.
20:05Karena ini perjanjiannya biasanya B2B dan ada kerahasiaan ya,
20:09kerahasiaan bank segala macam.
20:11Nah kalau itu tidak di, tapi sebenarnya ini adalah bola panas
20:15ketika dia itu mau menerima agunan dalam bentuk saham gitu.
20:20Yang dia tidak tahu bahwa sahamnya ini bakal berpluktuasi.
20:24Jadi kan kalau kata bank mandiri,
20:27kalau saya baca di keterbukaan informasinya itu,
20:29dia bilang itu kan periode assessment itu adalah satu bulan harga,
20:32kemudian perdagangan internasi dengan harga yang paling bawah.
20:36Nah itu persoalannya,
20:38dalam rentang satu bulan itu,
20:40ini sahamnya PGUN dan jar itu begini tuh.
20:44Begitu sampai puncaknya begini,
20:47jar sama PGUN.
20:48Konsisten dua-duanya kompak tuh turun.
20:51Karena memang udah kelelahan ya,
20:53ibaratnya dia mau maraton,
20:55tapi dia pakai lari sprint kan,
20:57karena mau di-assess kan,
20:58puncaknya udah ngos-ngosan turun.
21:01Nah ini kemudian tinggal bank mandiri lah,
21:03ambil resikonya.
21:05Karena untuk menjaga resikonya,
21:07maka bank mandiri itu kemudian
21:11menerbitkin surat utang abadi,
21:13surat utang seumur hidup tuh,
21:15yang harus dibayar bunganya segala setiap bulan dan setiap tahun.
21:18Nah setiap tahun harus dibayar.
21:21Nah inilah menurut saya memang,
21:22dan nanti ada resiko lainnya bank mandiri,
21:24ini kan bank mandiri itu,
21:26apa namanya,
21:27ini ya kan,
21:28apa namanya,
21:28harus menerbitkan CKPN-nya juga harus tinggi.
21:30Cadangan kerugian penurunan nilai,
21:32ketika kreditnya mulai bermasalah.
21:35Nah ada satu yang disebut oleh bank mandiri,
21:37bahwa untuk memberikan keyakinan kepada publik,
21:40bahwa dia itu dalam keuangannya perusahaan ini,
21:45perusahaan yang dijadikan agunan,
21:46termasuk perusahaan debitur,
21:48kayak Pak John Lin Baratama itu,
21:51itu kan nanti dia akan menjaga sinking fund-nya.
21:54Nah sinking fund itu kan adalah dana yang ditempatkan,
21:57dan penggunaannya sudah pasti untuk apa.
22:01Persoalannya,
22:02perusahaan-perusahaan ini,
22:04kayak misalkan KayaJar dan PGUN,
22:06ini bukan perusahaan yang kaya raya.
22:09Pertama gini ya,
22:10mereka tuh tahun 2025 misalnya,
22:12labanya hanya ada di kisaran 300 miliar,
22:15dan 200 miliar.
22:16Jadi artinya bukan perusahaan perkebunan yang besar gitu ya.
22:20Mungkin dia masuk kategorinya menengah lah ya,
22:23menengah.
22:23Karena labanya juga sangat terbatas.
22:25Dan saya rasa juga itu juga menjadi,
22:28lalu pertanyaannya ya,
22:29sinking fund,
22:31dana simpanan yang untuk penggunaannya sudah ditentukan itu,
22:34itu mau disimpan berapa duit di situ?
22:36Bisa-bisa nggak beroperasi tuh perusahaan gitu ya.
22:39Apalagi saat ini kan,
22:42peta perdagangan di komoditas seperti sawit ini,
22:46sejak adanya di situ sudah mengalami perubahan ya.
22:49Oke,
22:50terakhir,
22:51bisa boleh dijawab singkat,
22:52Pak Heri,
22:53apakah perlu ada transparansi dari bank mandiri,
22:57mengingat bank mandiri kan dimiliki bukan hanya pemerintah,
23:01tetapi juga publik.
23:02Publik perlu tahu,
23:03jangan sampai setiap ada laporan keuangan,
23:05bikin deg-degan para investor dan juga publik.
23:07Boleh dijawab singkat,
23:08harus transparansi,
23:09transparan atau seperti apa?
23:10Ya,
23:10menurut saya terutama adalah harus transparan,
23:13terkait dengan,
23:14yang belum ditanyakan oleh Bursa Efek Indonesia plus regulator,
23:18bahwa satu saham dari perusahaan yang diagunkan saat ini,
23:23itu ada,
23:23apa namanya,
23:24asetnya sudah ada yang diagunkan,
23:26jar itu misalnya,
23:2712 HGU-nya sudah diagunkan,
23:29begitu juga anak perusahaannya sudah diagunkan,
23:31nah kemudian sekarang sahamnya diagunkan kembali.
23:33Dan tentu keterbuka-keterbuka informasi yang lain,
23:36bahwa apakah Bang Mandiri tahu,
23:37dana ini digunakan untuk membeli saham?
23:40Baik,
23:41berarti perlu sekali kita publik juga mengetahui betul,
23:45baca-baca yang keterbukaan informasi,
23:47meskipun memang tidak secara gamblang,
23:49disebutkan detilnya terkait dengan hal ini,
23:52namun juga patut dibacalah apa keterkaitannya,
23:56dan juga patut berhati-hati,
23:57dan juga mungkin tadi ada rekomendasi dari Pak Heri,
24:00untuk BMRI ada risiko-risiko di kedepannya,
24:05apabila memang ini terus berlanjut begitu.
24:07Baik, terima kasih.
24:07Heri Gunawan, penggabat BMN,
24:09sekaligus Direktur Next Indonesia Center,
24:10atas suatu ini bersama kami,
24:11di Studio Kompas TV, Pak Heri,
24:13sekali lagi terima kasih.
24:14Sehat selalu.