Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Ketua DPR RI, Puan Maharani meminta penegak hukum mengusut tuntas soal kasus tewasnya pedagang cermin, Bambang Setiawan dalam kerusuhan 27 Agustus lalu.

Puan mendesak Polri mengusut tuntas misteri kematian Bambang Setiawan.

Menyelidiki misteri kematian Bambang Setiawan dengan bukti-bukti yang ada secara tuntas.

Kerusuhan pada 27 Agustus terjadi malam hingga dini hari di sejumlah titik setelah massa aksi demonstrasi di gedung DPR, MPR RI membubarkan diri.

Lalu, apa yang membuat polisi hingga sekarang belum juga menetapkan siapa para pelaku di balik kematian Bambang di Pejompongan, saat malam kerusuhan 27 Agustus?

Kita bahas bersama Ketua Indonesia Risk Centre, Julius Ibrani dan juga ada Pengamat Hukum dan Kepolisian, Anton Charliyan.

Baca Juga Amnesty Sebut Kematian Bambang di Pejompongan usai Demo 27 Agustus Pelanggaran Hak atas Hidup di https://www.kompas.tv/nasional/688485/amnesty-sebut-kematian-bambang-di-pejompongan-usai-demo-27-agustus-pelanggaran-hak-atas-hidup

#demo #kerusuhan #pejompongan
_

Sahabat KompasTV, apa pendapat kalian soal berita ini? Komentar di bawah ya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/688532/full-kematian-penjual-cermin-bambang-di-pejompongan-kenapa-polisi-belum-tetapkan-tersangka
Transkrip
00:05Intro
00:09Kompas petang kembali, Saudara Ketua DPR RI Buwan Maharani meminta penegak hukum
00:14mengusut tuntas kasus tewasnya pedagang cermin Bambang Setiawan dalam kerusuhan 27 Agustus lalu.
00:24Wan mendesak Polri mengusut tuntas misteri kematian Bambang Setiawan.
00:29Melidiki misteri kematian Bambang Setiawan dengan bukti-bukti yang ada secara tuntas.
00:35Kerusuhan pada 27 Agustus terjadi malam hingga dini hari di sejumlah titik
00:40setelah masa aksi demonstrasi di gedung DPR MPR RI membubarkan diri.
00:56Kita minta semuanya itu diselidiki oleh pihak penegak hukum dengan tuntas
01:05dan kita lihat apa yang terjadi dan dituntaskan dengan sebaik-baik.
01:39Polisi masih menyelidiki penyebab peninggalnya seorang pedagang cermin
01:42di pejompongan saat kerusuhan usai demo 27 Agustus pecah.
01:46Dalam konferensi pers, Kabit Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menjelaskan
01:51tengah menganalisa rekaman video di media sosial
01:54untuk mengungkap dugaan pengeroyokan yang menimpa korban.
01:59Tadi kita sampaikan satu, kita sangat prihatin ya dengan insiden yang terjadi kejadian kemarin.
02:05Kalau pertanyaan yang pertama itu sama dengan pertanyaan dari DN.
02:10Kita akan mendalami, karena apa?
02:12Teman-teman harus memahami banyak unggahan di media sosial yang disinformasi, provokasi, dan hoaks.
02:21Rekaman video yang beredar di media sosial juga lah yang memberi petunjuk bagi keluarga
02:26untuk mengidentifikasi korban Bambang Siawan.
02:30Justru kita tahunya dari video, kita gak nyanyi-nyanyi jelas nih posisi mayat ini,
02:36posisi dia dipukulin, posisi dia dibawa, kita gak tahu.
02:40Tapi pokoknya dapat infonya di RS Polri gitu ya?
02:44Itu info dari siapa ya Bu?
02:46Anak saya gak tahu ya, anak saya yang besar info dari mana saya gak tahu.
02:50Cuman sempat WA anak saya, coba kamu perhatiin nih video, ini video Bapak bukan?
02:57Anak saya iniin ternyata, benar loh, itu Bapak.
03:03Itu lah aslinya.
03:09Tim Advokasi untuk Demokrasi atau TAUD menemukan sejumlah keanehan dalam aksi demonstrasi 27 Agustus.
03:16TAUD menilai ada kelompok misterius berciri khusus yang diduga sebagai upaya untuk mempertebal konflik antar masyarakat.
03:25TAUD menemukan bahwa terdapat sekelompok orang tak berikat kepala putih, berbadan tegap,
03:31selain dua masa berikat kepala putih yang sebelumnya saya sebutkan tadi.
03:36Yang secara terpisah juga melakukan penganiayaan.
03:39Secara bersama-sama korban yang mengalami kekerasan yang dilakukan oleh beberapa kelompok yang diorganisir ini,
03:45bukan hanya peserta aksi, tapi juga warga pada umumnya.
03:49Belum dapat dipastikan mana di antara kelompok ini yang bertanggung jawab atas penganiayaan terhadap Bambang Setiawan.
03:56Atas temuan kelompok misterius yang diduga melakukan kekerasan yang menewaskan Bambang Setiawan
04:02dan melukai seorang siswa kelas 12 di Pejobokan, TAUD mendesak Polri untuk mengusut tuntas kasus ini.
04:10Mengusut tuntas secara transparan dan akuntabel terhadap proses penegakan hukum pelaku kekerasan
04:15terhadap almarhum Bambang Setiawan dan juga korban kekerasan dari siswa madrasah Fatur Rahman
04:25serta masa aksi dan masyarakat sekitar lokasi aksi pada malam tanggal 27 Agustus 2026.
04:30Komnas HAM, Komnas Perempuan, Ombudsman Republik Indonesia dan juga Komisi Perlindungan Anak Indonesia
04:37untuk melakukan langkah berdasarkan kewenangannya guna memastikan pemenuhan hak asasi manusia berjalan sebagaimana mestinya.
04:44Yang kedua, memeriksa adanya dugaan pelanggaran yang terjadi selama aksi demonstrasi di tanggal 27 Agustus 2026.
04:53Dari peristiwa kerusuhan malam 27 Agustus, polisi telah menetapkan 45 tersangka terkait pengerusakan fasilitas umum
05:00namun soal penggadiayaan yang mengakibatkan satu warga tewas di pejombongan
05:05sampai saat ini masih belum ada kemajuan dalam pengungkapannya.
05:09Tim Liputan, Kompas TV
05:15Lalu apa yang membuat polisi sampai sekarang belum juga menetapkan siapa para pelaku di balik kematian Bambang di pejombongan saat
05:22malam kerusuhan 27 Agustus?
05:24Kita bahas bersama Ketua Indonesia Risk Center Julius Ibrani dan juga ada pengamat hukum dan kepolisian Anton Charlian.
05:30Selamat petang semuanya.
05:32Selamat petang, Mbak Sindi.
05:36Saya ke Mas Julius dulu ya, Mas Julius.
05:38Ini kan CCTV ada, di tempat seterbuka itu minim kemungkinan tidak ada saksi.
05:42Tapi sampai sekarang belum ada tersangka.
05:44Menurut Anda kenapa lama sekali?
05:47Nah, ini yang saya katakan mekanisme untuk mengidentifikasi pelaku itu, itu tidak bisa dilakukan dengan proses criminal justice system biasa.
05:57Ini sudah harus ada metode-metode investigasi berbasis intelijen.
06:02Siapa kelompok ini datangnya dari mana?
06:05Siapa pengerahnya?
06:06Kemudian siapa pendananya?
06:08Hingga kemudian terlihat bahwa tujuannya bukan untuk demonstrasi menuntut hak dasar, tapi untuk menciptakan kerusuhan dan kemudian menyerang warga, menciptakan
06:17instabilitas sosial.
06:18Dan ini sistematis berarti, Mas Julius?
06:20Sangat sistematis.
06:22Ini sangat terstruktur.
06:23Komandonya juga kelihatan kok.
06:25Ini kelompok-kelompok berikat kepala putih ini.
06:27Nah, artinya adalah pendekatan dalam penanganan penindakan oleh kepolisian harusnya juga menggunakan pendekatan pengerahan sosial.
06:34Kerahkan masyarakat untuk mengidentifikasi siapa kelompok-kelompok ini.
06:39Apakah bagian dari masyarakat Jakarta atau bukan.
06:42Jika tidak, dengan kacamata criminal justice system biasa atau peradilan pidana biasa, mencari siapa saksi, mencari alat bukti, itu tidak
06:51akan bisa diselesaikan.
06:52Gitu kira-kira.
06:53Berarti ada salah mekanisme, Mas Julius, singkatnya seperti itu?
06:57Artinya mekanisme peradilan pidana saja itu terlalu sederhana untuk mengusut tuntas peristiwa-peristiwa kerusuhan seperti ini.
07:05Jadi harus pakai mekanisme di luar daripada itu.
07:08Ada mekanisme intelijen, mekanisme partisipasi sosial, agar bisa melengkapi keseluruhan cerita, termasuk mengumpulkan bukti-bukti tadi.
07:15Oke, kalau Pak Anton tadi kalau dugaan dari Mas Julius ini adalah sesuatu yang sistematis, menurut Anda kan berarti pelibatan
07:22warga sekitar untuk menguatkan saksi atau menguatkan keterangan ini jadi krusial.
07:27Tapi menurut Anda kenapa saat ini lama sekali?
07:32Kemungkinan lama itu karena tetap saja, tadi juga oleh Mas Julius, saya sangat mendukung.
07:39Memang di dalam pengungkapan kriminal itu ada sosiokriminal, intelijen kriminal, dan lain-lain.
07:47Cuman yang jelas, di sini itu tetap polisi walaupun bagaimana harus mengutamakan ya olah TKP.
07:57Kenapa mungkin lama?
08:00Karena mungkin ya minimnya saksi atau mungkin simpang siurnya keterangan-keterangan yang ada.
08:07Sehingga belum bisa mengerucut kepada satu, kan olah TKP itu dimana ada bukti, dimana ada saksi, benda-benda untuk mengerucut
08:19menemukan tersangkanya.
08:20Nah ketika tersangkanya ini walaupun tadi ada kelompok-kelompok tertentu yang mempunyai ciri-ciri khusus,
08:28ini pun juga kan bisa kita lihat bagaimana sosoknya, apakah dari depan, dari belakang, untuk mengidentifikasi hal tersebut kan bukan
08:39hal yang gampang.
08:40Dan apakah di TKP juga ditemukan?
08:44Saya mau tanya juga Pak Anton, kalau misalnya mengidentifikasi kelompok itu kan perlu secara detail,
08:50tapi kan kelompok itu bergerak dari satu titik ke satu titik dan itu adalah lokasi yang terbuka.
08:55Sulit dibayangkan kalau minim saksi sebenarnya Pak?
08:59Mungkin saja saksinya itu juga takut, kita kan tidak tahu.
09:04Ataupun juga saksinya simpang siur, ketika karena yang namanya alat bukti itu adanya kecocokan antara satu saksi dengan saksi yang
09:15lain.
09:15Nah ketika ada ketidakcocokan satu saksi dengan yang lain, ini akan cukup menyulitkan satu tindak pidana.
09:23Apalagi kalau ini mungkin ada kelompok-kelompok terorganisir.
09:27Bisa saja nanti dimasukkan saksi-saksi yang memang mau ya bukannya mengarah tapi mungkin akan memecah belah atau mengaburkan.
09:38Ini kan bisa saja terjadi gitu kan.
09:40Nah makanya di sini pun juga kita percayalah.
09:43Pasti dalam tidak lama lagi akan ditemukan.
09:47Ini kan baru 4 hari atau 5 hari.
09:50Jangan sampai ketika sudah terjadi masalah begini, kembali dicari kambing hitam.
09:56Kalau kambing hitam sekarang susah.
09:59Jadi nanti carinya kambing belang gitu kan.
10:01Oke makanya harus hati-hati.
10:03Kalau Mas Julius, sebenarnya mencari pelaku dalam suatu kericuhan, ini bukan yang pertama kali.
10:09Polisi sudah pernah melakukan itu.
10:10Tapi kenapa kalau yang ini kok tampaknya lama sekali?
10:14Ada apa sih Mas Julius?
10:16Jadi ada banyak faktor yang distraktif menurut saya dalam demo kali ini.
10:21Pertama munculnya kelompok-kelompok Ormas dengan seragamnya dan juga pemimpin kelompoknya.
10:27Yang tanda kutip disitu ikut mencoba melakukan stabilisasi.
10:31Yang pertama.
10:32Yang kedua, minimnya identifikasi kelompok-kelompok untuk membedakan mana yang kelompok demonstran, yang menuntut hak dasar, mana yang memang menciptakan
10:42kerusuhan.
10:42Nah, kalau pembeda ini dari awal sudah dilakukan, maka tentu masyarakat pun akan mendukung tindakan kepolisian untuk melakukan atau menjaga
10:53ketertiban umum itu sendiri.
10:55Karena yang menjadi catatan bagi sejarah kita, dalam setiap aksi demonstrasi besar-besaran, selalu ada kelompok-kelompok kiriman yang tujuannya
11:04untuk menciptakan kerusuhan, mengganggu stabilitas sosial.
11:08Siapa yang mengirim Mas Julius?
11:09Nah, ini tidak bisa dilakukan.
11:10Nah, sampai saat ini kami masih mengidentifikasi.
11:13Karena tidak hanya ada dua kelompok, kami dilihat di lapangan ada beberapa kelompok dengan ciri atau identitas tertentu.
11:21Meskipun tidak menunjukkan tulisan itu identitas siapa.
11:24Dengan ikat kepala putih, kelompok berkostum hitam-hitam dan segala macemnya.
11:29Ada yang seragam menggunakan alat-alat pengrusak fasilitas publik seperti batu, kayu dan segala macemnya.
11:35Nah, ini kelompok yang kami lihat datangnya berbeda, timingnya kurang lebih juga berbeda, tetapi di titik yang sama dengan tujuan
11:43yang sama menciptakan kerusuhan.
11:45Nah, saya pikir.
11:47Saya pikir ini kenapa pendekatannya tidak boleh menggunakan pendekatan represif semantan, membubarkan paksa, lalu melakukan pendekatan-pendekatan seperti gas air
12:00mata dan yang lain.
12:01Tetapi harus mitigatif, dari awal sudah harus di-tackle kedatangannya.
12:05Pak Anton, kalau dari pengalaman Anda sebenarnya ketika secara visual dari CCTV misalnya sudah jelas ada identitas tertentu atau ciri
12:14-ciri tertentu,
12:15tapi kalau lama seperti ini apakah mungkin juga ada tekanan dari pihak luar?
12:23Biasanya kalau tekanan itu tidak ada.
12:26Karena selama saya dulu bahkan saya banyak menyidik yang berhubungan dengan intansi-intansi yang sangat kuat.
12:34Ya, sepanjang kita profesional itu tidak ada gitu kan.
12:39Jadi tidak usah khawatir di dalam masalah ini.
12:43Cuman apapun juga bahwa ini mari kita jadikan satu cermin karena kebetulan juga korbannya juga ya tukang cermin gitu kan.
12:53Bahwa setiap ya aksi-aksi itu selalu berujung adanya korban.
12:58Nah, ini pun juga agar sebelumnya itu preventif aktifnya itu betul-betul dilakukan.
13:05Sehingga ketika ada terjadi demo itu ya lebih aksi ini lebih disiagakan lagi ya CCTV lain-lain ekstra gitu kan.
13:16Kalau perlu.
13:17Nah, untuk mengantisipasi hal-hal yang demikian.
13:21Karena mohon maaf, laporan intelijen bisa saja terjadi.
13:25Cuman kalau di dalam alat bukti, laporan intelijen itu bukan sebuah alat bukti.
13:31Tapi hanya sekedar petunjuk kecil saja.
13:34Jadi tetap saja di sini, kalau kami sebagai penyidik, alat bukti itulah yang paling utama.
13:41Karena ketika sudah ditemukan alat bukti, scientific investigation, mereka itu sendiri tidak akan bisa berkelit.
13:50Dan apalagi, ini adalah satu aksi.
13:53Aksi itu ya kita sendiri tahu pasti ada kepentingan-kepentingan tertentu.
13:59Itu tidak kita nafrikan kan.
14:02Nah, ini jelas bahwa mereka pun juga yang beraksi ini tentu saja sudah sangat diperhitungkan.
14:09Kita sendiri tidak tahu apakah mereka pun juga memakai penutup wajah atau ini.
14:17Sehingga karena kita pun juga tidak tahu bagaimana hasil video yang didapatkan yang bahkan bukan dari CCTV.
14:25Tapi justru dari video yang ada di Mensas.
14:29Nah, ini juga kan betul dianalisis, dibesarkan bagaimana.
14:34Nah, nanti setelah itu baru kita menemukan bahwa dialah tersangkanya.
14:39Oke, berarti harus memang ada yang jelas dulu.
14:41Tapi Mas Julius kan tadi Anda juga sempat menyinggung bahwa setidaknya ada dua kelompok tertentu.
14:46Nah, berarti kalau informasi ini saja bisa dikumpulkan oleh teman-teman tim pencari fakta,
14:51berarti sebenarnya polisi juga sudah mengantongi informasi yang lebih komprehensif kan Mas Julius?
14:56Saya yakin sudah. Saya juga berkomunikasi dengan teman-teman polisian untuk memberikan beberapa masukan gitu ya dan temuan kami di
15:04lapangan.
15:05Pertama, kita harus lepas dulu deh dari framing bahwa ini ada penumpang gelap dan segala macam.
15:10Kami di lapangan melihat bahwa adanya lebih dari tiga kelompok dengan tiga identitas berbeda ini
15:16memang datang untuk merusuh, menggunakan alat-alat benda-benda tumpul yang untuk merusuh fasilitas publik
15:23dan tujuannya adalah tadi menciptakan ketakutan masyarakat, instabilitas sosial, bahkan menciptakan konflik horizontal.
15:32Jadi seolah-olah ini masyarakat yang sedang bertahuran dan segala macam.
15:37Nah, jadi kalau framingnya hanya sesederhana mencari siapa pelakunya, itu dalam konteks pidana maksud saya, itu tidak akan selesai masalah
15:46ini.
15:46Oke, mas Julius sebentar.
15:49Kalau pelakunya sudah banyak, terafiliasi, ya, terkoordinasi gitu ya, maka framingnya ini framing sosial yang harus digunakan gitu.
15:59Oke, nah kalau kita juga mencari siapa ada di baliknya, tapi mas Julius dari pengalaman dan juga pengamatan Anda,
16:04apakah dalam kasus ini tekanannya juga besar kepada polisi?
16:10Tentu, jadi gini, kenapa saya membaca bahwa framing ini lebih dari sekedar tindak pidana pengrusakan penganiayaan masyarakat,
16:17tetapi kepada pengkondisian, konflik sosial, tawuran masyarakat,
16:22untuk memahami bahwa ternyata kerusuhan ini berbasis atau berlatar belakang kepentingan politik.
16:29Jadi kita tidak terkunci dengan masalah sistem peradilan pidana biasa.
16:33Nah, tentunya dalam situasi seperti ini, menjelang Oktober, kita tahu Oktober adalah masa periode presiden diangkat melalui pemilu kemarin.
16:43Ini selalu ada kerusuhan-kerusuhan berlatar belakang politik.
16:47Nah, framing ini kita bangun supaya apa?
16:50Supaya kita membuka peluang-peluang bahwa ada aktor-aktor politik yang mencoba menciptakan instabilitas sosial.
16:56Jadi kita bisa usut siapa di belakangnya.
16:58Karena kalau kita seperti katak dalam tempurung, kita berhenti dalam pemikiran sistem peradilan pidana biasa,
17:05maka akan terjadi repetisi karena tidak pernah kita bisa tangkap siapa aktor wataknya,
17:12siapa pendananya, dan siapa yang kemudian mengerahkan masa dan mengendalikannya.
17:16Nah, kepolisian harus bekerja sama dengan Pemprov, dengan masyarakat,
17:20melihat situasi ini secara sosial dan dalam konteks politik tadi.
17:24Kang Anton sudah menjelaskan itu, ada kriminal sosial dan segala macam yang perlu dipertimbangkan.
17:28Oke, baik.
17:29Mas Julius dan Pak Anton, terima kasih sudah berbagi bersama kami di Kompas Petang.
17:33Sehat selalu semuanya.
17:34Sampai jumpa di video selanjutnya.
Komentar

Dianjurkan