Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
Anggaran Rp5,2 Triliun Buat Apa? Kasus Smartboard NTT Bikin DPR Angkat Bicara!

Kritik tajam mengenai tata kelola anggaran serta konsep digitalisasi pendidikan disampaikan oleh anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Bonnie Triyana, dalam Rapat Kerja bersama Kemendikdasmen.

Saat berbicara di depan Menteri Abdul Mu'ti beserta jajaran Wakil Menteri, Bonnie menyinggung kasus SDN Emboeng di Nusa Tenggara Timur (NTT) yang viral usai dipasangi papan tulis pintar (smartboard), meski gedung sekolahnya sendiri belum dialiri listrik.

"Logikanya kalau sekolah dapat smartboard, mestinya terekam di Dapodik kondisi fisiknya, ada listriknya atau tidak. Kalau belum ada listrik, kenapa dibeli dan dikirim? Harusnya anggarannya dihemat atau dialokasikan untuk menyediakan jaringan listriknya dulu," kata Bonnie.

#DPR #SmartboardNTT #Kemendikdasmen

Creative/Video Editor: Lia/Evan
===================================
Homepage: https://www.suara.com
Facebook Fan Page: https://www.facebook.com/suaradotcom
Instagram:https://www.instagram.com/suaradotcom/
Twitter: https://twitter.com/suaradotcom
Transkrip
00:00Digitalisasi itu mungkin metode.
00:04Dia jauh lebih besar dari sekadar menyediakan alat digital.
00:11Jadi mengubah buku menjadi PDF itu bukan digitalisasi.
00:16Tidak cukup seperti itu.
00:18Seperti juga sama halnya dengan menyediakan smartboard untuk sekolah.
00:24Itu bukan digitalisasi.
00:26Jadi itu penyediaan alat digital pelajaran untuk pembelajaran.
00:34Jadi belum tentu digitalisasi.
00:36Kalau digitalisasi dalam pengertian kami mungkin lebih besar lagi kepada ekosistemnya.
00:45Jadi ada listrik apa enggak, ada internet apa enggak, anak-anaknya terampil enggak,
00:50gurunya bisa enggak mempergunakan itu terus sampai kemudian tersedia
00:54sampai metode belajarnya terus dan itu melibatkan banyak hal di dalam ekosistem digital itu.
01:03Jadi kalau digitalisasi hanya sekadar menyediakan alat digital,
01:09itu namanya bukan digitalisasi.
01:11jangan-jangan kalau bicara tentang digitalisasi sebagai sebuah metode pembelajaran itu nilai yang dibutuhkan,
01:21dibutuhkan jauh dari lebih besar lagi dari yang sekarang di alokasikan.
01:27Kalau itu bicara tentang digitalisasi, jangan-jangan lebih besar lagi yang dibutuhkan.
01:33Nah, yang terakhir di sini ada pendampingan digitalisasi pembelajaran.
01:39Saya memohon klarifikasi karena di sini tidak ada anggarannya, nol.
01:42Itu di halaman 33.
01:45Peralatan digitalisasi pembelajaran itu 5,2 triun anggarannya.
01:53Ini di halaman 33.
01:55Sementara pendampingan digitalisasi pembelajaran itu 0.
02:00Saya minta klarifikasinya jawabannya mengenai anggaran ini,
02:05sehingga kita dalam program digitalisasi ini tepat sasaran,
02:10tepat guna juga,
02:13dan bisa mencapai tujuan yang kita inginkan bersama dalam program digitalisasi pembelajaran.
02:23Jadi tidak sekadar membagikan alat digital,
02:27membagikan gadget,
02:28kemudian kita sebut itu sebagai program digitalisasi.
02:32Karena jangankan di NTT, Pak.
02:35Di Banten yang cuma satu setengah jam dari sini saja masih banyak wilayah yang blank spot.
02:40Nggak ada internetnya, sinyal internetnya nggak ada.
02:44Walaupun memang teknologi memungkinkan
02:46smartboard itu tidak perlu internet misalkan.
02:49Tapi itu catatan dari kami,
02:53pada akhirnya kami dari praksi jadi perjuangan,
03:00bisa dapat menyetujui penambahan anggaran kemdikdasmen dari Rp61,1 triliun
03:08menjadi Rp89,1 triliun.
03:12Terima kasih.
03:13Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Komentar

Dianjurkan