Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
PALANGKA RAYA, KOMPAS.TV - Kabut asap selama dua bulan lebih di Palangka Raya, Kalimantan Tengah kian mempersulit ruang gerak masyarakat.

Di kawasan hari bebas kendaraan atau car free day, warga tak lagi bisa berolahraga dengan lega dan membatasi durasi hingga rute jangkauan.

Kabut asap pekat akibat karhutla yang mengepung Kota Palangka Raya, kian mengganggu aktivitas warga di ruang publik.

Di area car free day, warga yang berolahraga terpaksa membatasi durasi karena udara yang tak lagi sehat sehingga wajib menggunakan masker.

Sejumlah pesepeda mengaku tak bisa lagi menjangkau rute jauh karena paparan asap yang membuat dada sesak dan tenggorokan sakit.

Kita perbarui kondisi terkini di Palangka Raya, Kalimantan Tengah, bersama Jurnalis KompasTV Arpawi dan Juru Kamera Deny Hermawan di sana.

Baca Juga Parah! Ikon Kota Palembang hingga Bandara Tertutup Kabut Asap Tebal | KOMPAS PETANG di https://www.kompas.tv/regional/695263/parah-ikon-kota-palembang-hingga-bandara-tertutup-kabut-asap-tebal-kompas-petang

#kabut #karhutla #palangkaraya

_

Sahabat KompasTV, apa pendapat kalian soal berita ini? Komentar di bawah ya!


Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/695330/dampak-kabut-asap-karhutla-warga-palangka-raya-batasi-olahraga-saat-cfd-kompas-siang
Transkrip
00:00Kami awali kompasian dengan informasi kabut asap selama dua bulan lebih di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, kian mempersulit ruang gerak masyarakat.
00:08Di kawasan hari bebas kendaraan atau Car Free Day, warga tak lagi bisa berolah raga dengan lega dan membatasi durasi
00:15hingga rute jangkauan.
00:22Kabut asap pekat akibat kar hutlah yang mengepung kota Palangkaraya, kian mengganggu aktivitas warga di ruang publik.
00:28Di area Car Free Day, warga yang berolah raga terpaksa membatasi durasi karena udara yang tak lagi sehat, sehingga wajib
00:37menggunakan masker.
00:39Sejumlah pesepeda mengaku tak bisa lagi menjangkau rute jauh karena paparan asap yang membuat dada sesak dan tenggorokan sakit.
00:52Pakai masker dan olahraga pun juga tidak lama-lama juga gitu, takut juga dengan asap semakin pekak.
00:59Kalau upaya pemerintah sih saya lihat sudah sangat baik ya upaya untuk memadamkan api.
01:06Cuman kalau dipadamkan kan asapnya ini tidak bisa hilang gitu.
01:10Sangat mengganggu aktivitas kami ya, biasanya kami bisa bersepeda agak jauh, kali ini cukup pendek dan langsung kalau buka mendukung
01:20UMKM di CFD ini Pak.
01:21Tapi asapnya cukup mengganggu.
01:25Kita akan perbaharui kondisi terkini di Palangka Raya, Kalimantan Tengah bersama dengan jurnalis Kompas TV Arpawi dan juru kamera Denny
01:32Hermawan di sana.
01:33Selamat siang Arpawi.
01:34Bagaimana informasi terkini terkait dengan kebakaran hutan dan lahan di sana, termasuk kabut asap yang sebelumnya menyelimuti wilayah Palangka Raya.
01:44Imron dan juga saudara, hingga siang ini kondisi kabut asap di kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah memang masih sangat pekat
01:57dengan aroma yang menyengat dan cukup mengganggu.
02:00Kondisi ini juga mengakibatkan jarak pandang tersisa 250 meter.
02:05Dan kondisi ini tentu mengganggu aktivitas warga, sehingga warga ketika mau keluar rumah dan beraktivitas harus menggunakan masker.
02:20Imron dan juga saudara, dari data terbaru BMKG Palangka Raya, indeks kualitas udara untuk parameter konsentrasi PM 2.5 hari
02:31ini
02:31menembus angka 1.038 mikrogram per meter kubik.
02:38Angka ini sudah melampaui ambang batas berbahaya dan berpotensi menimbulkan kerusakan pernapasan permanen jika terus menerus terpapar.
02:49Kabut asap yang sudah memasuki lebih dari dua bulan ini secara langsung tentunya memukul aktivitas masyarakat di ruang publik.
02:59Seperti pada gelaran Carve Day di Jalan Yosudarso pagi tadi, masyarakat terpaksa beradaptasi dengan memakai masker
03:11serta memotong durasi olahraga mereka dibanding pada hari normal biasanya.
03:19Karena memang mereka mengeluhkan sesak nafas dan tenggorokan kering ketika melakukan olahraga.
03:27Dan untuk menekan paparan polusi, pemerintah daerah bersama tim gabungan memang sudah membagikan masker medis gratis di sejumlah ruang publik.
03:38Namun masyarakat menilai kebutuhan utama saat ini adalah masker standar N95 dengan filtrasi tinggi serta distribusi masif
03:50hingga ke kawasan permukiman padat penduduk. Begitu Imran.
03:54Baik, Anda katakan kabut asap yang sangat pekat begitu ya, masih menyelimuti wilayah Palangkara dan sekitarnya.
04:00Itu artinya apakah titik api masih banyak ditemukan di sana, jumlahnya berkurang atau justru semakin bertambah, Harpawi?
04:07Oke, Imran dan juga saudara terkait upaya pemadaman di lapangan, tim gabungan dari BPBD, TNI, Pori, serta Manggala Agni dan
04:18Relawan terus dikerahkan.
04:20Berdasarkan catatan terbaru BPBD Provinsi Kalimantan Tengah, tercatat sudah ada 855 kejadian kebakaran lahan
04:30dengan total luasan area terbakar mencapai 1.420 hektare.
04:36Ratusan personil gabungan setiap harinya dikerahkan ke titik-titik api atau hotspot di sekitar pinggiran kota Palangkara.
04:45Namun penanganan di lapangan menghadapi kendala teknis yang sangat kompleks karena mayoritas lahan yang terbakar merupakan lahan gambut.
04:55Berbeda dengan lahan tanah mineral atau lahan biasa yang apinya hanya membakar vegetasi permukaan,
05:02pada lahan gambut api membara di bawah permukaan tanah hingga kedalaman bermeter-meter.
05:09Kondisi ini justru membuat pemadaman darat tidak cukup hanya dengan menyiram,
05:14melainkan harus menggunakan metode injeksi air ke dalam tanah,
05:18guna membasahi kedalaman gambut hingga bisa benar-benar padam.
05:24Proses ini juga membutuhkan pasokan air yang melimpah peralatan pompa tekanan tinggi
05:29serta waktu pemadaman yang mungkin bisa berminggu-minggu dan untuk hanya mematikan barak di satu titik imran.
05:38Baik, kepayah penanganan karhu telah di Palangkara yang masih telus dilakukan.
05:41Sementara itu update per siang hari ini kabut asap tebal masih nampak menyelimuti wilayah Palangkara.
05:47Terima kasih atas laporan Anda jurnalis Kompas TV, Arpawi dan juru kamera Denny Hermawan.

Dianjurkan