Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
Simulasi Dua Nama SMRC: KDM Catat Elektabilitas 69,3%, Prabowo Raih 18,8%

Lembaga survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) merilis hasil pemetaan politik terbaru melalui simulasi head-to-head dua nama calon presiden.

Dalam hasil rilis tersebut, Dedi Mulyadi (KDM) mencatatkan keunggulan elektabilitas secara signifikan dengan raihan 69,3%, sementara Prabowo Subianto memperoleh 18,8%.

Survei ini mengukur peta preferensi serta dinamika dukungan pemilih jika kontestasi politik mengerucut pada dua figur utama. Selisih persentase yang cukup lebar ini menjadi indikator menarik mengenai pergeseran persepsi publik serta dinamika peta politik nasional yang terus berkembang.

#DediMulyadi #Prabowo #Capres

Creative/Video Editor: Icha/Evan
===================================
Homepage: https://www.suara.com
Facebook Fan Page: https://www.facebook.com/suaradotcom
Instagram:https://www.instagram.com/suaradotcom/
Twitter: https://twitter.com/suaradotcom
Transkrip
00:00Sekarang kita masuk ke elektabilitas Presiden Prabowo, seberapa besar efek dari penurunan approval rating itu dan juga kondisi-kondisi makro
00:17yang dinilai oleh masyarakat.
00:18Nah pertama saya jelaskan terlebih dahulu bahwa populasi survei adalah seluruh warga negara Indonesia yang punya hak pilih dalam pemilu,
00:33yaitu 17 tahun ke atas atau sudah menikah.
00:37Dalam survei, dibagi populasi itu menjadi dua subpopulasi, yang pertama adalah mereka yang punya handphone dan yang kedua yang tidak
00:48punya handphone.
00:49Dari subpopulasi yang punya handphone, kita melakukan survei secara lewat telepon dengan metode double sampling, sampelnya ada 1013 orang.
01:05Kemudian pada subpopulasi yang tidak punya handphone, mereka tentu tidak bisa diwawancara lewat telepon.
01:13Kita lakukan dengan wawancara secara tetap muka, jumlahnya 200 responden.
01:21Kenapa kita menggunakan dua mode ini?
01:24Karena di populasi ada sekitar 80% yang punya handphone, dan untuk efisiensi kita melakukan survei telepon terhadap mereka yang
01:37punya telepon,
01:38dan sisanya kita wawancara secara tetap muka, sehingga total sampelnya ada 1213 responden.
01:46Dan margin of error survey diperkirakan plus minus 2,9% pada 3,9%.
01:54Jadi artinya kalau nanti kita membahas temuan survei, selisih antara persentase yang satu, kategori yang satu dengan yang lain,
02:06itu diperlukan selisih lebih dari 5,8% untuk menyimpulkan bahwa ada perbedaan misalnya elektabilitas antara toko yang satu dengan
02:18yang lain.
02:20Selanjutnya, ini tentang flowchart penarikan sampel dalam survei telepon yang disebut double sampling,
02:28dan ini flowchart penarikan sampel untuk populasi yang tidak punya handphone, atau multistage random sampling.
02:37Dan tidak lupa saya sampaikan bahwa kita melakukan validasi sampel dengan membandingkan profil demografi sampel terhadap populasi,
02:50dari sisi wilayah, gender, desa-kota, umur, pendidikan, etnis, dan agama.
02:57Dan kita melakukan apa yang dinamakan pembobotan atau kalibrasi,
03:05sedemikian sehingga sampel yang kita analisis ini memiliki profil yang dekat dengan populasi dari sisi demografi.
03:17Seperti apa profil sampel yang kita analisis dari sisi wilayah, provinsi,
03:24itu kita sudah cek, kita bandingkan, sangat proporsional,
03:33wilayah yang penduduknya banyak atau pemilihnya besar,
03:36seperti Jawa Barat, sampelnya juga besar, begitu.
03:40Kemudian dari sisi penggunaan handphone juga kita sudah proporsionalkan lewat kalibrasi.
03:50Selain itu juga dari sisi gender, desa-kota, umur, agama, etnis, pendidikan,
03:57terlihat bahwa profil sampel, demografi sampel ini sangat dekat dengan populasi.
04:06Oleh karena itu kita yakin temuan kita bisa dijeneralisasi ke populasi pemilih yang besar.
04:17Nah, kita masuk Mas Yiriman pada temuan, temuan survei ini tentang elektabilitas,
04:27elektabilitas calon-calon presiden, terutama tentang kekuatan elektoral presiden Prabowo sebagai pertahanan.
04:37Dalam survei kita menanyakan kepada responden pertanyaan semi terbuka.
04:46Semi terbuka artinya dalam wawancara, surveyor atau enumerator itu memberikan daftar banyak nama,
04:57di sini ada totalnya 24 nama, nama-nama tokoh, nama-nama calon, nama-nama politisi
05:07yang potensial lah, potensial mungkin saja maju sebagai calon presiden
05:14dan memberikan kesempatan kepada masyarakat responden untuk menyebut nama lain.
05:24Jika yang ingin dipilih tidak ada di daftar.
05:29Dari pertanyaan semi terbuka tentang siapa yang akan ibu atau bapak pilih sebagai presiden
05:40diantara nama-nama berikut, kita memperoleh respon ada 35,5 persen yang memilih Deddy Mulyadi,
05:51itu yang paling tinggi ya.
05:55Setelah Deddy Mulyadi, ada Anis Baswedan, 10,3 persen.
06:02Jadi Deddy dengan Anis itu signifikan bedanya ya, 25 persen selisihnya.
06:10Kemudian setelah itu ada Prabowo Subianto, 9,8 persen, jadi ini imbang ya.
06:17Dari sisi, dari pertanyaan semi terbuka ini, Anis dengan Prabowo imbang,
06:24juga diimbangi oleh Gibran ya.
06:28Sekarang posisinya wakil presiden 8,4 persen.
06:31Jadi tiga tokoh itu selisihnya sangat kecil.
06:36Bisa dikatakan Gibran dan Anis mengimbangi Prabowo.
06:42Oke ya.
06:43Tetapi kalau Deddy memang dia di atas ya, signifikan, unggul dalam simulasi semi terbuka.
06:52Selanjutnya juga ada sejumlah nama yang signifikan ya, 5 persen untuk Kurubaya, Yudi.
07:00Nah ini menteri yang sudah baru saja tidak menjabat ya, di reshuffle ya, dari keuangan.
07:07Kemudian Ganjar, Pranowo, 5 persen.
07:10Di bawah itu ada sejumlah tokoh-tokoh lain di bawah 3 persen ya.
07:18Nah ini, tapi masih ada sekitar 13,9 persen yang belum tahu ya, belum punya pilihannya.
07:30Jadi kalau kita lihat ini sebenarnya menarik ya bahwa walaupun disodorkan banyak nama,
07:3724 nama dan kemudian publik juga bisa memasukkan nama lain,
07:42terkonsentrasi sebenarnya pilihan-pilihan publik itu pada ya beberapa nama saja.
07:45Kalau saya lihat ini di atas 2 persen itu cuma ada tujuh nama.
07:50Benar, jadi tujuh nama yang mendapat dukungan yang signifikan ya.
07:56Yang juga, kalaupun dikasih opsi lainnya,
08:00ternyata ya nggak banyak juga yang menyebut nama-nama lain gitu.
08:05Jadi bisa jadi publik, apa namanya,
08:10pilihannya ya tidak jauh berbeda dari apa yang kita berikan,
08:15daftar nama.
08:17Di samping itu, yang juga penting di sini,
08:23ternyata ketua-ketua partai juga punya PR ya.
08:27Kita tahu kan untuk mencalonkan presiden itu harus lewat dukungan partai politik,
08:33dicalonkan oleh partai.
08:34Tetapi Deddy, ya dia sebagai kader partai saja, bukan ketua partai.
08:39Anies juga kan bukan ketua partai.
08:42Ketua partai Prabowo, Gibran juga bukan.
08:45Ini PR bagi ketua-ketua partai ya,
08:48kalau mereka mau maju punya PR yang besar untuk meningkatkan dukungan
08:53dibanding mereka yang bukan ketua partai.
08:55Nah, masa ini Man, ini kita melakukan survei semi terbuka ini
09:01sudah beberapa kali, sehingga kita bisa lihat,
09:05kita bandingkan temuan survei sekarang ini dengan sebelumnya.
09:11Sebelumnya, kita dalam rangkaian survei nasional,
09:20kita pernah melakukan pada tahun lalu, November 2025,
09:26kemudian ada Februari-Maret, Juli, dan Oktober.
09:30Jadi empat titik, empat titik survei yang bisa kita lihat
09:34perbedaan dan dukungan pada masing-masing tokoh.
09:40Pada tahun lalu, November tahun lalu, ya setahun yang lalu,
09:45Pak Prabowo masih berada di atas.
09:4834,9 persen meninggalkan nama-nama lain, ada Deddy, 19,7,
09:58kan jaraknya lebih dari 10 persen tuh, lebih dari 15, sekitar 15 persen.
10:04Apalagi yang lain, Anies, Gibran, masih di bawah gitu ya.
10:08Nah, tetapi kita lihat setelah itu, Februari-Maret,
10:14Prabowo sudah mulai menurun, atau stabil masih, tidak terlalu jauh beda,
10:19yang sangat besar itu merosot dari Maret ke Juli.
10:24Itu dari 33 ke 14,5 persen.
10:30Hanya sekitar empat bulan.
10:33Empat bulan, turun hampir 20 persen.
10:38Dan setelah itu, dari Juli ke Oktober, ya sekitar tiga bulan kemudian,
10:45belum ada ribau.
10:47Kekuatan elektoral Pak Prabowo ternyata semakin melemah.
10:52Nah, ini konsisten, ya, dengan semakin merosotnya approval rating
10:59atau tingkat kepuasan publik terhadap kinerjanya yang sudah kita rilis kemarin.
11:05Kira-kira itu yang bisa kita tangkap, ya, dari grafik tren ini.

Dianjurkan