00:00Di Pulau Komodo, seikor rusa berlari sekencang mungkin setelah digigit.
00:04Beberapa menit kemudian, ia ambruk.
00:07Padahal lukanya hanya sayatan kecil.
00:09Selama puluhan tahun, ilmuwan menduga rusa itu keracunan bakteri.
00:14Tapi pada tahun 2009, Brian G. dan timnya menemukan sesuatu yang berbeda.
00:20Gigitan Komodo ternyata membawa toksin khusus yang langsung bekerja pada pembuluh darah.
00:26Coba pikirkan ini, Komodo bukan predator yang berlari cepat.
00:30Kecepatannya cuma sekitar 20 km per jam setara pelari amatir di lapangan,
00:36tapi ia berhasil menangkap rusa yang jauh lebih gesit.
00:40Tahun 2005, kurator reptil di San Diego Zoo bernama Alan Woodward menemukan
00:45bahwa air liur Komodo mengandung sekitar 57 jenis bakteri.
00:50Ia lalu mengembangkan hipotesis bahwa gigitan kotor itulah yang membunuh mangsa lewat infeksi.
00:55Teori itu dipercaya selama bertahun-tahun.
00:58Tapi ada satu zat dalam air, liur Komodo yang sampai sekarang masih diteliti lebih lanjut
01:04dan dampaknya lebih mengejutkan dari yang kita kira, kita akan membahasnya di akhir video.
01:10Penemuan tentang kemampuan Komodo ternyata mengubah cara kita memahami predator purba ini selamanya.
01:16Tahun 2009, Brian Giffray dari University of Melbourne mempublikasikan hasil analisis yang mengguncang dunia herpetologi.
01:26Ia memindai kepala Komodo dengan CT scan dan menemukan kelenjar di rahang bawah yang berisi berbagai senyawa aktif.
01:33Ada zat yang disebut kalikrain-like serin proteas.
01:37Ada pula protein yang menekan pembekuan darah.
01:40Semua ini disimpan di kelenjar khusus di sisi kepala Komodo, bukan di air liur sembarangan.
01:45Ini sistem yang presisi.
01:48Ada angka detail tentang komposisi kimia kelenjar ini yang membuat para ahli terheran-heran
01:53dan kita akan membahasnya lebih jauh sebentar lagi.
01:57Tapi yang lebih penting, cara kerja toksin inilah yang benar-benar membuat mangsa tidak berdaya.
02:03Bayangkan kamu punya selang kebun yang bocor, air terus keluar.
02:07Kamu pakai lakban untuk menutupnya.
02:09Itu cara tubuh mamalia membekukan darah.
02:12Trombosit bekerja untuk menutup luka.
02:15Sekarang bayangkan ada orang yang melepas lakban itu sambil menambah lubang baru.
02:19Komodo melakukan persis hal itu.
02:22Toksin dalam gigitannya mengandung protein yang disebut antikoagulan.
02:27Fungsinya sederhana, mencegah darah membeku.
02:29Padahal ini justru yang membuat mangsa terus melemah.
02:33Menurut penelitian Fry, toksin ini juga memicu vasodilatasi.
02:38Artinya, pembuluh darah mangsa melebar, tekanan darahnya drop, dan ia kehilangan kekuatan.
02:44Dalam skala waktu 15 sampai 30 menit, darah yang keluar tidak berhenti.
02:49Mangsa yang tadinya bisa lari jauh perlahan kehilangan tenaga.
02:54Analoginya seperti mobil yang banyak kempes sambil terus berjalan.
02:58Dulunya, ilmuwan mengira mangsa mati karena infeksi bakteri yang menumpuk di dalam air liur komodo.
03:04Tapi data Fry menunjukkan bahwa mangsa justru mati karena efek toksin langsung dari gigitan itu.
03:10Infeksi hanya faktor tambahan.
03:13Bakteri memang ada, tapi bukan pembunuh utama.
03:16Bedanya besar.
03:17Bayangkan perbedaan antara keracunan lambat dari luka yang tidak dirawat versus suntikan langsung zat aktif ke dalam pembuluh darah.
03:24Komodo menggigit dengan presisi, menembus kulit dengan gigi bergerigi yang setajam pisau bedah.
03:31Lalu toksin masuk langsung ke aliran darah.
03:34Tapi komodo tidak hanya mengandalkan bisa.
03:37Rahangnya bisa membuka lebar sampai 80 derajat.
03:41Gigi-giginya setajam belati, bergigi seperti gergaji kecil.
03:45Saat menggigit, ia mengoyak jaringan otot dan tendon dengan gerakan menyentak.
03:50Teknik ini memungkinkan toksin masuk lebih dalam kejaringan tubuh mangsa.
03:55Jadi ada kombinasi luka, mekanis plus kimia.
03:58Komodojo juga punya pendengaran yang tajam meski pandangan matanya tidak terlalu jernih.
04:04Ia mengandalkan lidah bercabang untuk mencium aroma mangsa dari jarak jauh.
04:09Lidah itu bekerja seperti radar kimiawi.
04:12Setiap jilatan mengambil molekul dari udara dan mengirimkannya ke organ sensorik di langit-langit mulut.
04:18Dalam waktu singkat, komodo bisa melacak mangsa sejauh beberapa kilometer.
04:23Faktor ini penting karena komodo adalah pemburu sabar.
04:27Ia bisa menunggu berjam-jam di jalur yang sering dilalui rusak.
04:30Begitu ada yang lewat, ia menerjang dengan kejutan dan menggigit satu kali.
04:35Satu gigitan itu cukup.
04:37Mangsa berlari menjauh dengan toksin yang sudah terlanjur masuk.
04:41Dan sementara itu, komodo menunggu dengan tenang.
04:45Beberapa jam kemudian, mangsa yang lemah bisa langsung dilacak ulang.
04:49Inilah strategi perburuan yang paling efisien bagi predator di ekosistem kering pulau komodo.
04:55Jadi, komodo bukan sekadar hewan buas yang asal menggigit.
04:59Ia adalah sistem pemburu yang punya senjata ganda, fisik, dan kimia.
05:04Dari sini kita bisa melihat bagaimana satu mekanisme biologis bisa begitu efektif.
05:10Dan disinilah kita kembali ke angka yang tadi disinggung.
05:14Toksin komodo yang paling banyak dipelajari mengandung sekitar 10 senyawa berbeda yang bekerja secara simultan pada sistem peredaran darah mangsa.
05:23Kompleksitas ini mengingatkan kita bahwa dunia biologi penuh hal yang belum terjawab.
05:29Penemuan tentang toksin komodo juga membuka riset tentang potensi medis manusia.
05:34Bayangkan senyawa yang sama bisa diolah jadi obat pengen cer darah yang lebih efektif.
05:40Tapi mari kita kembali ke realitas.
05:42Komodo tetaplah predator yang butuh habitat dan mangsa untuk bertahan hidup.
05:47Dan kita harus menjaga ekosistem ini agar tidak hilang.
05:51Komodo dragon dengan gigitan yang mengandung toksin, senjata yang menakjubkan untuk melumpuhkan mangsa dalam waktu singkat.
05:59Kalau menurutmu ada hewan lain dengan kemampuan kimia yang lebih unik dari komodo, tulis di komentar.
06:05Terima kasih sudah menonton sampai habis.
06:08Jangan lupa subscribe dan sampai ketemu di video berikutnya.
06:12Terima kasih sudah menonton!