00:00Bapak jangan, Bapak Ibu jangan pernah kehilangan harapan kepada Bapak Presiden.
00:06Walaupun kelihatan beliau lebih banyak diam sekalipun dicaci, tapi sesungguhnya kami bekerja dalam senyap.
00:15Untuk memperbaiki Indonesia yang kita cintai supaya bisa menjadi lebih baik.
00:21Kami menyadari kehadiran kami di sini, kami tahu tadi paparan saya menyusun.
00:27Sekarang di mana undang-undang P2MI?
00:30Saya berjuang berdua, memperjuangkan undang-undang P2MI itu bukan perkara mudah.
00:40Dulu bottleneck-nya bukan saja di masyarakat sipil, tapi di antar kementerian itu sulit.
00:51Antar kementerian ketenaga kerjaan dengan menteri P2MI sekarang nyatu.
00:55Sudah tidak ada masalah.
00:58Sekarang sudah selesai di DPR, saya bersama dengan menteri P2MI untuk mendorong itu.
01:05Sekarang sudah di badan legislasi, sedikit lagi dalam waktu dekat akan diparipurnakan.
01:10Kemudian kami menyusun DIM.
01:15Saya saja ikuti perkembangannya.
01:17Menteri Hukum berarti saya tahu kan di mana, sampai di mana sekarang undang-undang P2MI.
01:22Kenapa undang-undang P2MI-nya kita hold sementara?
01:26Karena kita mendahulukan undang-undang ketenaga kerjaan yang merupakan induk yang sudah disahkan kemarin.
01:31Nah, dalam waktu dekat undang-undang P2MI-nya, saya tadi sebelum ke sini bicara untuk kami pulang,
01:39bicara dengan DPR untuk segera kita selesaikan undang-undang P2MI-nya.
01:46Teman-teman semua, saya bilang, teman-teman itu bukan, saya tahu kalau boleh memilih,
01:55kalau boleh memilih, jauh lebih bagus bekerja di Indonesia.
02:03Oke?
02:05Tapi faktanya, faktanya, terpaksa harus keluar kan?
02:10Karena itu, negara menyadari sepenuhnya bahwa teman-teman adalah pahlawan devisa.
02:18Tapi, presiden tidak hanya sekedar mau membeli simbol itu.
02:27Tidakkan pernah presiden hanya mau memberikan simbol sekedar.
02:31Karena faktanya memang, uang yang masuk sebagai devisa ke negara itu Rp288 triliun setahun.
02:43Jadi kalau kami tidak peduli kepada Bapak Ibu semua, memang tidak masuk di APBN.
02:49Tidak masuk di APBN.
02:53Tetapi itu langsung terdistribusi, teman-teman ke keluarga, dan lain sebagainya ya.
02:59Tapi kan menggerakkan ekonomi Indonesia dengan Rp288 triliun itu luar biasa.
03:06Karena itu, pemerintah lewat presiden kita hari ini,
03:10memerintahkan kepada kami untuk memperhatikan, tidak boleh.
03:14Kami harus jaga, tadi banyak kasus, kami tahu.
03:17Karena itu kita selesaikan, tidak sama sekali untuk kami cari,
03:23apa ya?
03:26Bapak Ibu tahu, tadi laporannya berapa?
03:284.000 orang di Kementerian Hukum, kami kasih status keluarga negaraan.
03:33Lebih sedih dibandingkan teman-teman semua.
03:36Mereka stateless.
03:40Baru dibawa kemimpinan Bapak Presiden Prabowo,
03:434.000 orang, mungkin menjelang 10.000 orang,
03:46yang akan kami beri status keluarga negaraan.
03:52Teman-teman masih sudah bekerja.
03:55Ada anak-anak, bayangkan berapa banyak anak-anak.
03:58yang mau pulang ke Indonesia,
04:01itu tidak bisa pulang.
04:02Karena tidak memiliki status keluarga negaraan.
04:04Mungkin Pak Menteri mau terbitkan paspor,
04:07tapi karena tidak jelas ke status keluarga negaranya,
04:10tidak bisa.
04:11Pak Dirjen Dukcapil mau terbitkan KTP,
04:14tidak bisa.
04:15Masalahnya dia warga negara atau bukan.
04:17Nah inilah yang kami selesaikan.
04:20Karena itu kami undang Pak Roki untuk hadir,
04:23nanti pasti akan sampai.
04:25dan sekaligus mengawal kami,
04:28karena Pak Roki kan selalu bicara apa adanya.
04:33Tidak pernah Pak Roki ini bicara apa adanya.
04:35Suatu saat hari ini beliau mungkin datang ke saya,
04:38besok kalau saya salah beliau bilang saya dungu.
04:42Iya kan kalau saya salah.
04:44Nah karena itu saya mohon dengan hormat kali ini ya,
04:48Mbak siapa?
04:49Mbak Mariati.
04:51Tolong sampaikan ke kawan-kawan.
04:55Teman-teman boleh dipasti ada solusi,
04:57boleh ikut setiap hari Jumat,
05:00jam 10 pagi waktu Indonesia.
05:07Maksud saya,
05:09atau gini,
05:11atau gini,
05:12tadi kan Pak Menteri sudah kasih nomor telepon kan?
05:16Mbak Mariani percaya enggak?
05:18Saya kerja melayani warga sekarang sampai jam 3 pagi.
05:22Tapi bukan lewat handphone,
05:24tapi Instagram saya.
05:27Supratman08 boleh ngadu apa aja?
05:35Supratman08,
05:36Instagram,
05:37boleh DM ke saya.
05:40Saya lebih banyak pegang Instagram dibandingkan handphone.
05:46Maksudnya terima pengaduan.
05:49Terima pengaduan dibandingkan WhatsApp.
05:55Nanti ambil ke Instagram saya.
05:58Saya rasa itu dari saya,
06:00ya Mbak Mariani ya,
06:01jangan soal pertanggung jawaban,
06:07anggaran,
06:09mohon maaf,
06:11kalau kita mau ini menteri ya,
06:14saya aja jadi menteri ini.
06:15saya sampai hari ini sekalipun ngambil SBPD untuk jalan,
06:21uang harian itu enggak pernah loh.
06:24Cuman kan,
06:26ya bukan,
06:27maksud saya,
06:28kalaupun ada hak saya di situ,
06:31saya lebih baik kasih ke orang yang lebih mampu.
06:35jadi bukan,
06:37bukan enggak ngambil anu ya,
06:38cuman saya beritahu aja.
06:39Tapi,
06:41intinya bukan di situ.
06:42Tapi apakah masalah kawan-kawan itu bisa tertangani atau tidak?
06:46Apa bisa selesai negara hadir bersama kita semua?
06:50Ya,
06:51terima kasih.
06:56Terima kasih.