Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
Kritik Pedas KDM ke OJK: Bandingkan Rumitnya Perbankan Resmi dengan Bebasnya Praktik Bank Emok

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi melontarkan kritik keras terhadap regulasi perbankan formal yang dinilai terlalu rumit, sementara praktik pinjaman ilegal seperti bank emok dan pinjol bebas beroperasi tanpa pengawasan. Di hadapan Otoritas Jasa Keuangan, Dedi membandingkan ketimpangan antara pelaku usaha resmi yang wajib membayar pajak dengan sektor informal yang melenggang bebas tanpa aturan.

Ia juga menyoroti fenomena kelas menengah manipulatif yang kerap memanipulasi proposal atas nama UMKM demi meraup keuntungan pribadi. Melalui pengalaman di pemerintahan, ia mengungkap bahwa program bantuan pinjaman tanpa bunga sering kali macet akibat mentalitas pinjam yang buruk. Lantas, apa saja poin penting dari evaluasi tata kelola keuangan ini dan bagaimana langkah OJK menanganinya? Simak ulasan selengkapnya dalam video ini.

Selengkapnya dalam video di atas.

#KritikKDMTerhadapOJK #PerbandinganPerbankanResmiDanPraktikBankEmok

Creative/Video Editor: Aqilah/Rizal
===================================
Homepage: https://www.suara.com
Facebook Fan Page: https://www.facebook.com/suaradotcom
Instagram:https://www.instagram.com/suaradotcom/
Twitter: https://twitter.com/suaradotcom
Transkrip
00:00Problemnya adalah, Indonesia ini negeri aneh harus berbaik, termasuk Jawa Barat ini.
00:05Yang usaha resmi memenuhi prosedur banyak banget itemnya, kita jujur Pak.
00:11Perbankan item dari OJK-nya panjang, pembinaannya sering, tegurannya luar biasa.
00:17Pokoknya kalau sama yang benar memenuhi peraturan, di Indonesia itu paling rumit.
00:24Tapi yang bank-bank gelap itu di mana-mana tidak ada yang nenggur, tidak bayar pajak,
00:30tidak ada pengawasnya, bebas Pak.
00:34Kalau iklimnya terus seperti ini, sulit.
00:38Investasi di kita itu bisa berjalan dengan cepat.
00:42Kenapa? Semua orang nanti akan ambil jalan pintas.
00:46Jalan pintasnya bagaimana?
00:47Ngapain kita berbisnis secara benar, karena rumit dan panjang.
00:52Faktor birokrasi yang berbelit, bayar pajak yang tinggi, seluruh keuangan kita harus terbuka.
00:58Mening bisnis gelap tidak bayar pajak, tidak dikejar-kejar oleh Direkturat Jenderal Pajak, bebas.
01:06Apakah kita akan membiarkan ekonomi hitam menguasai dan ekonomi putih tidak menguasai?
01:11Bukan hitam putih kebenaran, ini cara.
01:14Dan ini perlu integral.
01:15Setelah itu nanti lagi apalagi jalan pintas.
01:17Karena dia punya uang yang kuat, banyak, tidak berseri, gampang, deketin Deddy Mulyadi sebagai politisi.
01:25Support dia ketika pilkada, agar nanti dia bisa merh, kuat lagi jaringannya.
01:30Bahaya Pak, model begini.
01:32Kenapa model begini?
01:33Model begini tidak akan bisa kompetitif di tingkat internasional.
01:37Hanya jagoan di Jawa Barat, tapi tidak jagoan Indonesia.
01:41Ini problem.
01:41Nah, ini dari sisi kita pelaku, dari sisi rakyat.
01:45Saya selalu mengatakan, gubernur harus memperbaiki diri, rakyat juga harus memperbaiki diri.
01:51Orang ngomong lagi, Kang itu yang kena pinjaman rentenir itu harusnya diintervensi.
02:00Udah deh, kita mau intervensi apa?
02:04Pengalaman gubernur dari area Panuriana, Padani Setiawan.
02:09Ingat aja, ada dua kredit pemerintah provinsi, Raksadesa Daka Balarea.
02:16Tanpa bunga, Alhamdulillah duit na'ewe.
02:22Itu jadi Pak.
02:23Apa artinya?
02:24Pada era PSBI ada PNPM, ada dua PNPM.
02:28Satu infrastruktur, dua ekonomi bergulir.
02:31Saya Bupati Purwakarta, tidak ada ekonomi bergulir.
02:34Semua infrastruktur.
02:35Akhirnya di Jawa Purwakarta waktu itu, Kepala Desa pusing, semua jalan, selesai.
02:40Bagus semua, bingung harus bangun di mana.
02:42Tapi tidak ada kemacetan.
02:44Yang ekonomi bergulir, 75 persen, macet.
02:50Mentalitasnya apa?
02:52Mentalitas kita adalah,
02:55Kalau pinjem ke bank emok atau bank keliling, 10 persen bayar.
03:02Kenapa?
03:03Nagingnya ngancam.
03:07Kalau ke pinjol, bayar juga.
03:09Karena nanti disebarin.
03:10Dipermalukan.
03:12Tapi kalau pinjem pemerintah tanpa bunga,
03:17Mau alamayar.
03:18Batur gek korupsi gede.
03:20Mau nyok orang di bangsa 10 juta, kudu mayar.
03:23Saruak lah.
03:24Pejabat mah gede korupsi na.
03:25Orang masak gitu.
03:26Duit negara iya.
03:27Ngege.
03:29Diputihkan.
03:30Selesai.
03:31Ini pertama.
03:32Yang kedua, ini penting.
03:34Manipulasi ekonomi kerakyatan.
03:36Apa itu?
03:37Mereka yang menjadi koordinator, mengkoordinatori petani, nelayan, pengrajin.
03:46Ini sering terjadi.
03:49Di kelompokan, dia mengkoordinatori, mengajuin ke bank atas nama UMKM.
03:55100 miliar, per kelompok 10 juta, 30 juta, 50 juta, 100 juta, 200 juta, sampai langkah 400 miliar.
04:04Siapa yang menikmati kredit ini?
04:06Mereka yang mengorkestrasinya, yang mengatasnamakan, yang mengajukan proposalnya, sampai ke sananya.
04:1340 sampai 3 juta, saya punya data tentang itu.
04:1750 sampai 4 juta.
04:19Gimana?
04:19Nama, begitu bank nagih ke dia, dia ngerti, saya terimanya cuman, orangnya udah gak ada.
04:25Kita juga hati-hati perbankan, kadang-kadang kita, orang atas nama UMKM.
04:29Di Indonesia ini banyak yang atas nama-atas nama, UMKM, UMKM.
04:34Kapan?
04:34Kalau ada pertemuan OJK seperti ini, dia paling tampil ke depan.
04:39Begitu dicek, calok UMKM.
04:43Tepuk tangan dong, ini benar fakta.
04:45Terjadi.
04:47Yang menderita siapa?
04:48UMKM-nya.
04:50Dia kenapa?
04:52Apa sih problem Indonesia?
04:52Problem Indonesia dari dulu adanya, kelas menengah manipulatif.
04:58Indonesia rusak, Jawa Barat rusak oleh kelas menengah manipulatif.
05:04Yang pintar meyakinkan perbankan, tapi manipulatif ke perbankan dan menyengsarakan warga.
05:10Untuk itu bagaimana caranya?
05:12Yang pintar meyakinkan perbankan dan menyengsarakan warga.
05:19Terima kasih.

Dianjurkan