Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 6 menit yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Sekretaris Jenderal Partai Gerindra sekaligus Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Sugiono, angkat bicara terkait dugaan penyadapan ilegal terhadap Presiden Prabowo Subianto.

Sugiono menilai tindakan penyadapan terhadap kepala negara oleh institusi yang berada di bawah Presiden merupakan bentuk insubordinasi.

Ia juga mempertanyakan motif dan dasar tindakan tersebut, terlebih Presiden Prabowo tengah menjalankan berbagai agenda pembangunan nasional.

Sugiono menyampaikan apresiasi kepada Kapolri dan jajarannya yang telah menangani kasus tersebut serta menghormati proses hukum yang sedang berjalan.

Ia menyebut persoalan ini perlu menjadi bahan evaluasi, termasuk terkait keamanan komunikasi Presiden.

Gerindra juga berencana melakukan konsolidasi untuk menyikapi kasus tersebut. Sementara mengenai motif dan pihak yang bertanggung jawab, Sugiono meminta masyarakat menunggu hasil penyelidikan lebih lanjut.



Produser: Prayogi Haro

Editor: Joshua

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/699739/listyo-sigit-cs-sadap-prabowo-sekjen-gerindra-sugiono-ungkap-motif-insubordinasi-dugaan-makar
Transkrip
00:00Kalau saya sih berpendapat bahwa ini merupakan satu bentuk mensubordinasi,
00:11mensubordinasi kemudian yang bisa jadi kemudian juga dibuka motif-motif yang mengarah ke pakar kepada Presiden.
00:20Penyadapan itu, penyadapan itu, sesuatu yang menurut saya, sesuatu yang luar biasa ya, sangat disayangkan.
00:34Kemudian juga kami di Gerindra berpandangan, apa sih motifnya, apa sih dasarnya, kan seperti itu.
00:42Penyadapan dilakukan kepada Kepala Pemerintahan, Presiden, ini oleh institusi yang berada di bawah beliau.
00:55Kalau saya sih berpendapat bahwa ini merupakan satu bentuk mensubordinasi,
01:06kesubordinasi kemudian yang bisa jadi kemudian juga dibuka motif-motif yang mengarah ke pakarnya kepada Presiden.
01:17Sekali lagi, kami mengucapkan apresiasi kepada Kapolri dan jajarannya yang sudah melakukan proses ini
01:28dan tentu saja kita menghormati proses hukum yang sedang berjalan
01:35untuk bisa mengetahui lebih dalam dan lebih lanjut.
01:39Tapi sekali lagi, ini merupakan sesuatu yang sangat-sangat disayangkan
01:46karena seperti yang kita ketahui bersama,
01:49bahwa Presiden berbagai program pemerintahan yang dipimpinnya
01:53sedang melaksanakan agenda-agenda pembangunan yang tujuannya adalah
01:57melakukan transformasi bangsa ini
01:59jadi bangsa yang menjadi negara yang merdeka,
02:06maju berdaulat adil dan makmur,
02:08ikatkan kesejahteraan masyarakatnya,
02:10di tengah-tengah upaya seperti itu,
02:13ada upaya-upaya yang seperti ini.
02:17Mas, tapi sebenarnya ini kan diselai standar kebobolan,
02:21sebenarnya apa sih yang terjadi mas, sampai Presiden yang punya pengamanan
02:25iya menjadi pertanyaan, jadi pertanyaan masyarakat.
02:28Dan itu tadi, kalau disebut kebobolan ya ini dari dalam sendiri kan,
02:34dari dalam pemerintahan sendiri,
02:36maka itu yang saya bilang, ini bisa saja diperjemahkan sebagai suatu
02:41subordinasi yang akan arah.
02:42Karena dari dalam apakah akan ada evaluasi mas,
02:44mungkin di dalam terkait komunikasi,
02:46pasti akan ada. Seperti apa mas, mungkin?
02:50Kalau di partai ya ada konsolidasi gak mas,
02:52menyikapi hal ini kan ini menyangkut ketua umum partai Gerindra juga mas.
02:56Ya, tentu saja.
02:57Konsolidasi seperti apa mas ya?
02:59Juga akan melakukan konsolidasi sama katekan,
03:04bahwa ini adalah kepala negara, presiden yang berasal dari partai kami.
03:09Termasuk dengan perpul-perpul lain yang akan menyikapinya.
03:13Mas, sebenarnya yang bertanggung jawab menjaga keamanan saya presiden dan orang-orang sekitarnya itu,
03:18siapa mas terbagi apa mas?
03:21Mas, kalau update terbarunya sendiri,
03:24mas, apakah sudah ada update baru terkait dengan kira-kira siapa dalam ini?
03:30Oh, ini prosesnya masih berjalan.
03:33Kita yakin bahwa akan ada temuan-temuan ataupun fakta-fakta baru nanti.
03:42Jadi kita tunggu saja.
03:43Mas, sebagai segi ini, ah, disebut ada fakta si matahari masih yakin.
03:46Ini motifnya politis, karena kan presiden yang menjadi target sasaran dan beberapa politikus.
03:52Kalau berbicara soal intensi atau niat apapun yang dilakukan,
03:57kita sama-sama tahu bahwa penyadapan itu dilakukan lewat serangkaian proses yang membutuhkan keputusan pengadilan berdasarkan undang-undang kita.
04:11Dan sepanjang pengetahuan saya, penyadapan itu juga bukan sesuatu yang dapat dengan serta-merta dilakukan.
04:19Karena itu, perlu juga dipertanyakan intensinya apa presiden sendiri yang disadap.
04:35Ada kaitan dengan pemilu, ke depan mungkin menjelang pemilu, ada penyadapan ini, sudah ada hindusan ke sana.
04:43Mas, ini kan target sasarannya kan presiden saja.
04:48Wakil presiden tidak, dan ini menjadi pertanyaan.
04:51Kalau dari Gerindra mungkin melihat...
04:53Saya belum tahu ya, tapi yang pasti kemarin disampaikan bahwa penyadapan ini dilakukan kepada presiden,
04:58dan itu saja cukup untuk membuat sebuah pertanyaan besar dengan kita semua.
05:02Apa yang motif dari semua ini, kemana arahnya, seperti tadi saya bilang,
05:09kita penuh saja hasil prosesnya.
05:13Saya kira itu juga jadi bahan evaluasi.
05:22Mungkin ada undang-undang yang sudah ada mengatakan bahwa...
05:25Eh, bukan undang-undang yang sudah ada mengatakan bahwa penyadapan ini kan juga
05:29merupakan sesuatu yang tidak mudah, harus ada alasan dibagi itu dan proses penyelidikan yang dilakukan.
05:38Dan kita akan melihat lagi evaluasi monitor ini.
05:41Kira-kira apakah mungkin Parko akan mencoba untuk ada baran baru atau mungkin evaluasi terkait dengan keamanan sebaru?
05:47Sekjen atau pimpinan akan ketemu nggak sih Mas Pras menyikapi kasus besar ini?
06:02Sekjen atau pimpinan Parko kan beberapa juga kena jadi sasaran penyadapan.
06:08Nah ini akan bertemu kah untuk menyikapi ini?
06:11Ya bisa diagak.
06:13Kapan? Mas Pras menyikapi?
06:15Mas Pras menyikapi kerasnya bawah ini adalah makarnya.
06:18Eh ya, mecet-banti mobilnya nih!
06:22Ya kenapa?
06:24Kenapa ada yang sedih di bawah ini?
06:26Dan kemudian malah kamu datang dari burung ini?
06:28Dan itu itu subordinasi.
06:29Yute me.
06:31Mas Pras menyikapi Jogja menurunkan foto mas jiviran di kantor bangkat DPRD-nya.
06:36Itu ada tanggapannya nggak mas?
06:38Ya...
06:42Kalau dinamikan di partai-partai-partai
06:44Terima kasih ya
06:45Terima kasih mas
06:46Terima kasih mas
06:48Terima kasih mas
06:50Di antaranya
06:52Mas, konsolidasi dulu mas
06:54Sama partai lain mas
06:56Cara baru nonton di Smart TV
06:59Nonton live streaming
07:00Dan ribuan tayangan Kompas Gramedia
07:03Langsung dari Smart TV kamu
07:05Cara installnya
07:06Buka Google Play Store di Smart TV kamu
07:09Cari Kompas TV melalui pencarian
07:12Pilih aplikasi lalu install
07:15Selesai
07:16Kamu bisa menonton video pilihan editorial Kompas TV
07:20Download Kompas TV Apps di TV kamu sekarang juga

Dianjurkan