- 2 bulan yang lalu
- #rosikompastv
- #bagusmuljadi
- #karhutla
JAKARTA, KOMPAS.TV - ROSI on Location Universitas Multimedia Nusantara hadir dengan empat sosok dari dunia yang berbeda.
Ada yang datang dari dunia engineering dan teknologi, ada yang dikenal lewat kata-kata dan musik, ada yang berada di balik kesuksesan film Jumbo, dan ada yang terus bergerak membangun kehidupan masyarakat di desa.
Bersama:
Prof. Bagus Muljadi Assistant Professor of Engineering, University of Nottingham
Dewi Dee Lestari Penulis & Penyanyi
Novia Puspa Sari Producer Film Jumbo, Head of Production Visinema Studios
Rini Karyaningsih Penggerak Desa Sejahtera Astra Bugisan, Klaten
Tayang Kamis 27 Agustus 2026 pukul 20.30 WIB di KompasTV.
#rosikompastv #bagusmuljadi #karhutla
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/687767/full-kata-dewi-lestari-hingga-bagus-muljadi-tentang-karhutla-dan-kondisi-indonesia-rosi
Ada yang datang dari dunia engineering dan teknologi, ada yang dikenal lewat kata-kata dan musik, ada yang berada di balik kesuksesan film Jumbo, dan ada yang terus bergerak membangun kehidupan masyarakat di desa.
Bersama:
Prof. Bagus Muljadi Assistant Professor of Engineering, University of Nottingham
Dewi Dee Lestari Penulis & Penyanyi
Novia Puspa Sari Producer Film Jumbo, Head of Production Visinema Studios
Rini Karyaningsih Penggerak Desa Sejahtera Astra Bugisan, Klaten
Tayang Kamis 27 Agustus 2026 pukul 20.30 WIB di KompasTV.
#rosikompastv #bagusmuljadi #karhutla
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/687767/full-kata-dewi-lestari-hingga-bagus-muljadi-tentang-karhutla-dan-kondisi-indonesia-rosi
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00:02Ukuran integritasnya ini seperti apa?
00:00:05Berarti pemerintah masih sanggup atau tidak, walaupun faktanya masih agak.
00:00:08Ini akan muncul kontroversi berkepanjangan.
00:00:10Ini tetap tidak mengubah satu tetas cinta pun untuk Indonesia.
00:00:28Apa kabar UMN?
00:00:33UMN apa kabar?
00:00:37Senang sekali Rosy malam hari ini bisa ada di UMN.
00:00:42Dan bersama-sama dengan teman-teman mahasiswa UMN.
00:00:45UMN mana suaranya?
00:00:54Senang deh bisa ketemu dengan teman-teman mahasiswa lagi.
00:00:58Dan yang pasti teman-teman mahasiswa akan merasa sangat senang dengan narasumber Rosy hari ini.
00:01:04Saya panggilkan yang pertama, ia adalah seorang akademisi.
00:01:09Tetapi ia menjadi sosok yang sungguh memberikan inspirasi.
00:01:13Siapakah dia?
00:01:20Profesor Bagus Mulyadi.
00:01:22Saat ini ia menjadi asisten profesor di University of Nottingham, Inggris.
00:01:27Lulusan teknik mesin ITB ini melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar master dan doktor di bidang apply mechanic dari National Taiwan
00:01:36University.
00:01:36Baginya ilmu pengetahuan bukan sekadar tentang ruang kelas dan laboratorium saja.
00:01:43Melalui kanal YouTube miliknya, Prof Bagus aktif mengajak publik melihat potensi Indonesia untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi guna
00:01:53menjawab berbagai tantangan ke depan.
00:01:55Dari ilmu lahir inovasi, dari inovasi lahir dampak.
00:01:59Inilah dia Prof Bagus Mulyadi.
00:02:06Profesor of Engineering University of Nottingham, Inggris.
00:02:14Hai Prof.
00:02:18Good to see you too Prof.
00:02:21Ini adalah mahasiswa-mahasiswa UMN.
00:02:24Apakah dari wajah-wajah mereka Anda merasa bahwa dulunya itu Anda pernah seperti mereka?
00:02:32Coba ada yang merasa enggak?
00:02:33Hah?
00:02:34Ada kelasnya Pak Niki tuh.
00:02:36Oh ada kelasnya Pak Niki.
00:02:37Sekali lagi UMN, tepuk tangan untuk Prof Bagus Mulyadi.
00:02:44Selanjutnya adalah seorang yang rasanya tidak perlu diperkenalkan terlalu panjang.
00:02:49Ia dikenal dengan Supernova dan novel-novelnya yang selalu bestseller.
00:02:56Inilah dia.
00:03:03Sastra dan musik.
00:03:05Dua dunia yang telah membawanya melahirkan karya-karya yang dikenal lintas generasi.
00:03:11Ia adalah D. Lestari.
00:03:14Namanya mulai dikenal luas lewat karya novel Supernova.
00:03:18Yang berhasil masuk Top 5 Katolistiwa Literary Award pada 2001.
00:03:23Sejak itu berbagai karya sastra D. terus mendapat apresiasi.
00:03:28Sebut saja Filosofi Kopi, Perahu Kertas, Madre, hingga Aroma Karsa.
00:03:34Selain sastra, D juga aktif berkarya di dunia musik.
00:03:39Sejumlah lagu ciptaannya sudah tak asing di pelantara musik Indonesia.
00:03:44Seperti lagu Melaikat Juga Tahu, Perahu Kertas, dan Kali Kedua.
00:03:51Dari kata lahir cerita, dari nada lahir rasa, dari karya lahir inspirasi.
00:03:57Inilah D. Lestari.
00:04:04UMN, tepuk tangan untuk D. Lestari.
00:04:10Aidi.
00:04:13D. Lestari, baru liris yang terbaru novelnya namanya Midpoint.
00:04:18Midpoint, sebuah karya non-fiksi.
00:04:21D. Lestari, akan terbit sebentar lagi.
00:04:23Midpoint.
00:04:24Midpoint, yes.
00:04:25D. Lestari, tepuk tangan sekali lagi teman-teman.
00:04:32Berikutnya adalah yang sangat tidak asing untuk UMN, karena dia adalah alumni UMN tahun 2014.
00:04:38Dia adalah producer film, head of production, Vcinema Studios.
00:04:42Yang memproduksi salah satu adalah film Jumbo.
00:04:46Ada yang tahu, alumni UMN yang memproduksi Jumbo?
00:04:50Ini dia.
00:04:54Di balik kesuksesan film animasi Jumbo, ada sosok muda yang ikut memastikan cerita ini bisa sampai ke layar dan dinikmati
00:05:03jutaan orang.
00:05:05Dia adalah Novia Puspasari.
00:05:07Produser film Jumbo sekaligus head of production Vcinema Studios ini menempuh pendidikan film dan televisi di Universitas Multimedia Nusantara.
00:05:19Novia dipercaya menjadi produser Jumbo, film animasi yang berhasil tembus lebih dari 10 juta penonton selama masa penayangan.
00:05:30Jumbo bukan satu-satunya.
00:05:31Sebelumnya, Novia juga ikut membesut sejumlah film karya Vcinema.
00:05:36Dari kesempatan lahir pembelajaran, dari pembelajaran lahir karya, inilah Novia Puspasari.
00:05:45UMN inilah alumni kalian, Novia Puspasari.
00:05:56Rasanya kembali pulang kampung gak?
00:05:59Iya, balik lagi nih ketemu gedung ini.
00:06:02Kalau 2014 itu termasuk generasi awal-awal ya di UMN ya?
00:06:05Iya, dan waktu itu pas aku mau lulus gedung day ini baru jadi, jadi belum merasakan tuh kelas-kelasnya.
00:06:11Oh, kamu waktu itu jurusan apa? Fakultas apa?
00:06:13Jadi awal mulainya dari desain komunikasi visual, kemudian penjurusannya ke film.
00:06:18Yang terakhir apa?
00:06:19Film.
00:06:20Film, ada yang dari film sini?
00:06:23Banyak.
00:06:23Wow, bisa belajar dari nanti, Novia Puspasari.
00:06:28Tepuk tangan sekali lagi.
00:06:32Saya harus mengucapkan terima kasih untuk Prof Bagus, karena sudah biasanya ngajar di kota tempat tinggalnya Robin Hood, Nottingham.
00:06:45Dan khusus datang ke Jakarta, salah satunya bisa mengisi acara di UMN.
00:06:50Jadi terima kasih sekali lagi ya, Prof. Bagus.
00:06:54Kehormatan, terima kasih.
00:06:55Saya mau mulai dulu pertanyaan untuk Anda bertiga, bagaimana Anda bertiga melihat Indonesia saat ini?
00:07:02Kayaknya kalau kita lihat thread terutama, social media yang begitu banyak digunakan oleh anak-anak muda, begitu banyak kecemasan.
00:07:11Tapi saya mau tanya dulu sama Prof Bagus, bagaimana Prof Bagus ada di Indonesia, juga di Nottingham, bagaimana melihat Indonesia
00:07:20masa kini?
00:07:22Gelap, banyak asep, agak sesek nafas.
00:07:26Tapi bukan yang pertama, dari tahun 2019, dari 2022 sampai sekarang itu masalah nggak selesai-selesai.
00:07:33Tapi kalau bisa dijadikan satu kalimat, apa sih sebenarnya yang orang seperti saya lihat dari Indonesia itu belum sebagai tempat
00:07:42di mana ilmu pengetahuan itu berasal.
00:07:46Tapi sudah mulai jadi tempat di mana film-film yang baik itu berasal.
00:07:52Itu mungkin.
00:07:53Oke, nanti saya mau kembali ke Prof Bagus, karena ada ilmiah terbaru Prof Bagus itu soal gambut 30 Juli 2026,
00:08:03jadi baru banget.
00:08:05Di, bagaimana kamu melihat Indonesia?
00:08:08Waduh, ini pertanyaan sulit ya.
00:08:10Sebetulnya sudah kepingin nanya, boleh sejujur apa menjawabnya?
00:08:16Karena dari dulu Indonesia banyak PR, tapi menurut saya hari ini PR kita bukannya berkurang tapi malah bertambah banyak.
00:08:26Dan polarisasi serta kecepatan orang untuk memuja sekaligus meng-cancel itu cepat sekali.
00:08:37Jadi saya melihat sepertinya banyak emosi menggelegak di bawah permukaan, terutama di masyarakat kita gitu ya.
00:08:44Dan ini merata, fenomenanya bukan cuma di perkotaan tapi juga rasanya sudah sampai pedesaan.
00:08:50Karena kalau saya pergi belusukan, kadang-kadang saya pergi belusukan, riset, buku dan sebagainya.
00:08:56Diskusi yang sama yang saya dengar di Jakarta itu terdengar juga di desa-desa gitu ya.
00:09:01Jadi saya harap ya Indonesia bisa baik-baik saja, kita baik-baik saja, tapi banyak kekhawatiran sih jujur untuk saya
00:09:10hari ini.
00:09:10Banyak kekhawatiran. Kalau Novi?
00:09:13Oke, kalau harus jujur dengan Indonesia hari ini tentunya tidak baik-baik saja.
00:09:20Kita tentu sudah melihat sendiri juga semua banyaknya berita di sosial media dan keadaan negara kita sampai hari ini gitu.
00:09:27Tapi kalau dari aku sebagai yang bekerja di industri entertainment sendiri, mungkin melihatnya bahwa sebenarnya Indonesia mempunyai potensi yang besar
00:09:36sekali.
00:09:37Kita punya banyak sekali budaya yang memang sangat potensi untuk kita kembangkan bersama gitu.
00:09:44Dengan tentunya penduduk yang sangat banyak sekali di negara ini gitu.
00:09:48Jadi Indonesia sebenarnya untuk di masa depan dengan kecanggihannya teknologi, dengan pengembangan yang ada hari ini,
00:09:57harusnya kita bisa berkembang menjadi lebih baik lagi sih.
00:10:01Oke, kita memang berkumpul di sini teman-teman Prof Bagus, Di dan Novi kita rasanya juga hati kita bersama saudara
00:10:09-saudari kita yang ada di NTT,
00:10:12Teristimewa Flores, juga ada hati kita bersama seluruh keluarga yang ada di Kalimantan.
00:10:18Prof Bagus, Anda melakukan riset terkait kebakaran gambut.
00:10:23Kalau saya baca di sini, itu terbit 30 Juli 2026, mengukur potensi kebakaran hutan gambut, kolaborasi ITB dan Nottingham University,
00:10:34betul?
00:10:34Untuk membantu pengelolaan gambut Indonesia.
00:10:39Nah, kalau sekarang terjadi kebakaran yang luar biasa di Kalimantan, bahkan kemudian ada pertanyaan yang cukup, menurut saya cukup mengkhawatirkan.
00:10:51Kalimantan bukan terbakar, tetapi dibakar.
00:10:56What's your take on this? Apa pandangan Prof Bagus soal ini?
00:11:00Iya, ini jadi kayak semacam komedi, tapi gak lucu gitu, gak kayak film jumbo gitu ya.
00:11:06Jadi, riset, ini teman-teman ada di dalam lingkup universitas yang saya sebenarnya lebih suka berada di sini daripada di
00:11:13dalam kementerian gitu misalnya.
00:11:15Karena di sini tempat alam ilmu pikiran itu diasah tuh.
00:11:19Tapi permasalahan seperti tanah longsor yang di Aceh Tamiang, kemudian di NTT, kemudian di Kalimantan,
00:11:27segala hal yang berikatan dengan bencana alam, itu manusia sudah diberikan alam pikiran untuk menyelesaikan setidaknya memprediksi.
00:11:35Jadi, komedinya itu adalah, karena saya baru buat paper, paper itu makalah internasional.
00:11:41Di jurnal ekologi, subyeknya adalah Kalimantan.
00:11:45Tujuan papernya adalah untuk memprediksi 3-5 hari ke depan itu, bisa gak diprediksi mana yang rawan.
00:11:54Ada yang lucu Mbak Rosi ya, saya terbang ke Indonesia itu 14 Agustus.
00:11:59Saya di dalam pesawat, handphone semuanya bunyi.
00:12:03Padahal udah airplane mode.
00:12:05Tapi karena pemerintah UK, itu kirim pesan ke seluruh orang, UK itu lagi 36 derajat sekarang.
00:12:13Nggak saya rada hitaman sedikit.
00:12:14Panas banget maksudnya kan?
00:12:15Panas banget, dan oleh karena itu, diwanti-wanti, diberikan warning oleh pemerintah.
00:12:22Jangan nyalain asap puntung rokok di belakang, gak boleh barbecue, gak boleh apapun.
00:12:28Itu namanya negara yang risetnya dipakai untuk mencegah, bukan untuk melakukan apapun setelahnya.
00:12:37Atau hanya sekedar kertas kosong.
00:12:39Atau kertas kosong bahkan digunakan sebagai pencitraan, seperti itu.
00:12:43Setelah kita mendapatkan cerita yang sama, bahwa bencana alam itu tidak bisa dihindari.
00:12:51Memang betul, tapi bisa dimitigasi.
00:12:53Itu kejadian berulang-ulang, dan kalau saya boleh tambahkan satu hal, itu karena di Indonesia itu orang tidak berpikir interdisipliner.
00:13:03Jadi bidang saya itu sebenarnya teknik mesin.
00:13:05Saya itu juniornya Paniki satu tahun di ITB.
00:13:08Dia teknik material.
00:13:10Kita satu gedung.
00:13:13Kemudian saya S2, S3, karir akademik saya itu lompat-lompat.
00:13:18Dari matematik ke fisika, ke ilmu bumi.
00:13:20Gambut, itu ranah interdisipliner.
00:13:26Siapa yang bisa tahu gambut?
00:13:29Sipil?
00:13:30Engineering?
00:13:32Ekologis?
00:13:34Orang film?
00:13:36Sosial?
00:13:37Semuanya.
00:13:38Semuanya.
00:13:40Tapi karena mahasiswa di sini itu tidak dipaksa diberikan model, ideal, diteladani untuk bisa berpikir lintas disiplin.
00:13:49Jadi semuanya bilang, itu masalah lu deh, bukan masalah gue.
00:13:52Itu permasalahan.
00:13:54Wow.
00:13:55Jadi merasa ada orang yang tidak perlu bertanggung jawab.
00:13:59Ada sektor yang merasa tidak perlu bertanggung jawab.
00:14:01Dan itu milik orang lain.
00:14:03Ini tadi Mbak Di bilang hal yang baik sekali.
00:14:06Jadi semacam kayak itu ya, bipolar society gitu.
00:14:10Kalau enggak malaikat, setan.
00:14:12Kalau enggak hitam, putih.
00:14:13Kita terbiasa berpikir binar, seperti anak kecil, bukan seperti anak muda gitu ya.
00:14:21Universitas itu tujuannya untuk berpikir secara interdisipliner, bisa membayangkan abu-abu.
00:14:27Mengenai lempar-melempar tanggung jawab, itu adalah saya pikir adalah korupsi dari mental gotong royong.
00:14:33Gotong royong itu dianggap sebagai digotong royong, bukan menggotong royong.
00:14:41Saya paling menghindari di dalam media-media itu untuk menyalahkan institusi manapun.
00:14:48Hak Anda untuk pintar, itu kewajiban saya untuk mengajar.
00:14:51By definition.
00:14:52By definition.
00:14:54Hak Anda untuk makan, itu kewajiban saya untuk bikin makanan gratis.
00:15:00Oke.
00:15:01Hak Anda untuk mendapatkan pemerintah yang bisa mencegah kebakaran, tanah longsor, itu adalah kewajiban Anda.
00:15:10Untuk menjadi individu yang setelah lulus dari UMN ini, bisa menjadi individu yang bertanggung jawab.
00:15:17Bukannya saling lempar, nyalahin orang yang terjadi sekarang.
00:15:21Prof, satu lagi saya penasaran, jadi jurnal atau makalah ilmiah terbaru Prof Bagus ini, itu kan methodology for predicting pit
00:15:34fire risk, gambut.
00:15:36Pit itu gambut.
00:15:37Di Kalimantan, new output from our group, jadi ada output dari hasil kajian, dan would love to see this implemented
00:15:46at policy level.
00:15:48Apakah dari kajian ilmiah ini sudah terimplementasi atau belum, skipnya di mana?
00:15:55Kok bisa sampai kebakaran begitu meluas di Kalimantan?
00:15:59Ya jelas belum, kalau sudah saya dapat warning kayak waktu di pesawat itu, gitu kan.
00:16:03Saya gak dapat warning.
00:16:04Jadi mentalnya ya, selalu berpikir ini El Nino, dulu juga waktu tanah longsor disitu juga salahnya adalah karena ini kemarau
00:16:13yang panjang.
00:16:14Atau dibakar, apapun itu asalkan bukan kesalahan saya dalam gagal memprediksinya seperti itu.
00:16:21Kalau lihat ke Instagram saya, hari ini saya post program komputer yang digunakan oleh grup kami untuk memprediksi di mana
00:16:31kebakaran gambut di Kalimantan akan terjadi, 20 hari sebelum kebakarannya terjadi.
00:16:36Itu bisa rekan-rekan download.
00:16:38Ada yang jago programming di sini?
00:16:41Siapa yang jago programming?
00:16:43Ada yang tahu GitHub enggak?
00:16:46Tahu?
00:16:46Benar?
00:16:48Di-download pakagenya, dicari kesalahan kami ada di mana, dipakai.
00:16:54Gambut itu akan tidak terbakar lagi bukan karena kebijakan, bukan karena ruang sidang, bukan karena orang kaya, bukan karena pemerintah,
00:17:03tapi karena kamu.
00:17:05Itu yang saya mau agar mahasiswa saya di Nottingham dan di Indonesia tuh lihat, bukan nyalain orang.
00:17:11Itu loh baru masalahannya.
00:17:12Wow, oke.
00:17:13Karena bisa diprediksi Mbak Rosi.
00:17:15Sebenarnya bisa kan?
00:17:16Bisa.
00:17:17Sekarang saya tanya ya, ada engineering di sini?
00:17:22Engineering ada, ini gedung kita namanya apa?
00:17:27Sustainable building.
00:17:31Untuk bikin sustainable building jurusan apa yang dipakai?
00:17:36Paniki jurusan apa?
00:17:38Teknik fisika.
00:17:40Teknik fisika dan arsitektur dan sipil harus kerja bersama-sama.
00:17:43Gambut itu tanah yang diketahui oleh orang ekologi, beban mekaniknya diukur oleh orang sipil, program komputernya diukur oleh orang matematik.
00:17:55Kita punya fakultas pikiran untuk memprediksi itu, tapi sains itu bukan hanya metodologi, sains itu adalah apa yang ditanyakan, apa
00:18:08yang ditanyakan itu adalah syarat orang dapat Nobel Prize.
00:18:13Karena dia mempertanyakan pertanyaan yang tepat, bukan karena dia bikin teori yang lebih bagus dari Einstein.
00:18:19Einstein bisa bikin teori itu karena dia mempertanyakan hal yang tepat.
00:18:22Anda lulus mempertanyakan berapa banyak tegangan geser yang diderita oleh tanah yang punya kemiringan 30 derajat, berapa keras tanah yang
00:18:30dikompaksi oleh jaringan akar tunggang khas Sulawesi, khas Kalimantan.
00:18:35Dan berapa banyak laju pertumbuhan gambut, itu semuanya bisa dipikirkan, bisa diprediksi, jadi tidak ada alasan.
00:18:43Kalau begitu pertanyaan yang saya rasa ini cukup provoking, jadi bagaimana Anda menjawab pertanyaan yang ada di sosial media, Kalimantan
00:18:53itu terbakar atau dibakar?
00:18:55I don't care, I really don't care.
00:18:57Why?
00:18:58It's El Nino, dibakar, dia bisa dibakar karena apa?
00:19:03Karena memang kering, karena kering, karena kering, tanah basah itu dibakar gak akan bisa.
00:19:11Saya ini peneliti, bukannya cenayang yang bisa lihat hati orang, Barosi.
00:19:16Saya gak tertarik sama hal-hal yang gak bisa dibuktikan.
00:19:20Dibakar, membakar itu bukan rana saya sebagai akademisi.
00:19:23Saya tidak menunjuk kesalahan ke orang lain.
00:19:26Yang saya tahu, kerentanannya, bukan apinya, tapi berapa gampang dia disulut, itu yang saya bisa.
00:19:34Nah kita harus stop.
00:19:35Oke, saya ngerti, jadi maksudnya Prof Bagus, ada situasi alam yang tidak boleh main-main dengan sepercik api pun, itu
00:19:45yang harus betul-betul dijaga.
00:19:47Kita harus naik oktav diskusinya, gak boleh ini salahnya lo, ini salahnya lo, enggak, salah saya, saya.
00:19:56Iya, kenapa lo, Gus, gak bikin program ini dan diseminasikan lebih gencar sebelum-sebelumnya, kenapa harus tunggu sampai kebakaran?
00:20:04Bukannya sekedar nunjuk hidung orang itu dibakar atau tidak.
00:20:09UMN lebih baik dari itu mahasiswanya.
00:20:11Itu yang saya mau bilang.
00:20:12Ngerti poinnya, jadi harusnya memang karena situasi alam yang sudah berdasarkan,
00:20:18Dia sudah menunjukkan tanda ke arah situ, harusnya bisa dijagain, mau dibakar.
00:20:24Harusnya bisa.
00:20:25Oke, got the point.
00:20:26Di, kalau misalnya sekarang Prof Bagus sudah menjelaskan apa yang menjadi perspektifnya.
00:20:34Sebagai seorang penulis buku dan makin ke sini makin banyak aja produktivitasnya.
00:20:40Merasa gak sih bahwa, tadi Prof Bagus bilang interdisipliner.
00:20:49Di adalah contoh seorang lulusan mahasiswa perahyangan, belajarnya apa dan jadinya apa, bener ya?
00:20:57Iya, saya belajar hubungan internasional, jadi secara formal titel saya sarjana ilmu politik.
00:21:05Tapi berakhir menjadi seorang penulis, musisi, dan bisa dibilang profesi yang saya jalankan sekarang adalah hobi-hobi saya sejak kecil.
00:21:16Tapi saya mendapatkan banyak ilmu dari hubungan internasional.
00:21:22Kenapa? Karena di sana saya dipaksa untuk menulis.
00:21:25Jadi kalau di HI itu hampir semua ujiannya berupa SI.
00:21:30Jadi berbeda dengan jurusan di visip lainnya, hanya hubungan internasional setidaknya saat itu di Unpar,
00:21:38yang mungkin 90 persen ujiannya dalam bentuk SI.
00:21:43Jadi ketika saya tidak belajar atau tidak sempat belajar, kemampuan mengarang bebas saya dipaksa.
00:21:52Untuk memakai bahan apapun yang saya tahu, lalu membuat semacam runtutan logika yang bisa diterima menjadi sebuah jawaban dan akhirnya
00:22:01berhasil meluluskan saya.
00:22:03Nah, tapi semakin ke sini saya pernah juga tuh Rosy di satu persimpangan lah ya ketika saya lulus S1,
00:22:15saya sempat berpikir untuk S2 waktu itu, berpikir untuk mengambil filsafat.
00:22:21Jajalah.
00:22:22Sah ya, tapi saya akhirnya mengurungkan niat saya, kenapa?
00:22:28Karena saya menyadari betapa eklektiknya, betapa campur sarinya minat saya.
00:22:34Jadi minat saya tuh banyak banget.
00:22:36Mulai dari meneliti UFO sampai spiritualitas, sampai fisika kuantum, sampai...
00:22:47Betul, kamu kan nulis apa aja, ada petir, rekel, itu pas dalam seri supernova, lalu filosofi kopi tentang kopi, madre
00:22:57tentang roti, lalu aroma karsa tentang penjiuman.
00:23:00Jadi akhirnya saya menyadari, saya mungkin memang harus menjadi pembelajar seumur hidup walaupun tidak dalam jalur formal gitu ya.
00:23:09Dan menariknya menulis adalah setidaknya yang saya lakukan ya, karena saya banyak menulis fiksi.
00:23:16Saya harus melakukan world building, membangun sebuah dunia yang meyakinkan, dipercaya orang seolah-olah itu nyata.
00:23:25Dan ini menariknya fiksi, fiksi itu bermain di batas seolah-olah.
00:23:29Tidak faktual seperti kalau saya membuat novel sejarah misalnya gitu ya, tapi harus tetap berpijak pada realitas.
00:23:36Terutama logika peristiwa, itu gak bisa, gak bisa enggak.
00:23:40Banyak orang bilang, hidup boleh gak masuk akal, tapi fiksi harus masuk akal.
00:23:45Jadi di dalam menulis fiksi, walaupun kita berimajinasi, bisa liar banget kemana-mana, tapi tetap berpikir kritis dan berpikir logis
00:23:56itu mutlak.
00:23:57Karena dari sanalah orang jadi bisa mengikuti cerita kita.
00:24:01Jadi logika itu sangat penting.
00:24:03Nah, di dalam menulis fiksi yang berbagai macam tema tersebut, saya harus seolah-olah tahu banyak hal.
00:24:10Misalnya ketika Aromakarsa gitu ya, itu novel tentang penciuman, penciuman manusia super.
00:24:18Artinya saya harus membayangkan kalau manusia super mencium dunia ini gitu ya, pasti berbeda dengan saya.
00:24:25Saya harus membayangkan kalau anjing saya yang penciumannya 40 kali lipat daripada manusia, itu pasti akan melihat realitas yang sama
00:24:33sekali berbeda.
00:24:34Nah, untuk itu saya jadi harus belajar banyak hal.
00:24:38Untuk Aromakarsa misalnya, saya belajar bikin parfum, sampai harus kursus membuat parfum.
00:24:44Lalu saya harus ke tempat-tempat yang baunya ekstrim.
00:24:49Misalnya saya ke Bantar Gebang, karena saya pikir mana lagi ya tempat paling bau di dunia ini, di Indonesia lah
00:24:55gitu ya.
00:24:55Bisa saya kunjungi, saat ini iya ya, saat itu saya pikir oke saya pergi ke Bantar Gebang, landfill terbesar di
00:25:02Indonesia gitu ya, untuk tahu oh bau-bauannya seperti ini gitu kan.
00:25:06Lalu ada ekstrim lainnya ke pabrik parfum, pabrik perawatan tubuh dan sebagainya.
00:25:13Padahal kan itu mau nulis novel fiksi ya.
00:25:16Novel fiksi gitu.
00:25:18Bahkan untuk novel fiksi saja, dia riset.
00:25:21Harus.
00:25:21Dia membutuhkan penelitian dan tetap ada sainsnya di dalamnya, jadi gak boleh bebas ngarang juga ya.
00:25:29Gak bisa, gak bisa.
00:25:31Satu contoh yang menarik adalah, saya membuat satu tokoh, padahal bukan tokoh utama, dia pembalap mobil.
00:25:36Lalu pembalap mobil ini, olinya bocor, dicium oleh manusia yang bener penciuman super itu, Mbak Rosy.
00:25:43Itu saya harus meneliti, apa saja di dalam oli mobil balap yang berbeda dengan oli mobil biasa.
00:25:49Yang berpotensi menimbulkan bau gitu ya.
00:25:52Jadi meskipun imajinatif, tapi saya rasa banyak hal dalam bidang seni, terutama kalau teman-teman ada yang tertarik ke dalam
00:25:59kepenulisan,
00:26:00itu tetap kita dibutuhkan rasa ingin tahu, rasa ingin belajar yang tidak habis-habis.
00:26:07Karena itulah modal untuk kita berkarya.
00:26:11Saya menarik satu poin dari Di ya, kita memang boleh, karena Di ini hobinya ngelamun dan berhayal.
00:26:18Iya lagi.
00:26:19Salah satu hobinya Di itu begitu, tetapi ketika dia punya imajinasi, imajinasinya itu gak boleh tanpa basis.
00:26:27Gak boleh kosong, jadi imajinasi itu juga tetap harus dilapisi dengan keinginan tahuan tentang apa yang sebenarnya faktualnya itu seperti
00:26:40apa.
00:26:40Supaya kalau kamu bikin fiksi, itu tetap ada dasarnya kan.
00:26:44Betul, karena itu yang akan menarik perhatian pembaca yang mengikat atensi mereka dan merasa bahwa gue bisa hanyut di dalam
00:26:55cerita ini.
00:26:56Karena mereka masuk ke dalam sebuah dunia yang meyakinkan.
00:26:59Nah itu tadi.
00:27:00Nov, kalau membuat jumbo itu kan biasanya seniman itu menghasilkan karya yang hebat itu dari rasa pilu.
00:27:08Dari, atau misalnya hal yang paling dekat dengan Kompas TV aja, komika itu semakin dia lucu, itu sebenarnya karena dia
00:27:18pernah punya perasaan yang terluka.
00:27:23Jadi, tapi dia sudah, jadi dia memulihkan dirinya dengan stand up komedi.
00:27:28Apakah membuat film juga itu bagian dari sesuatu yang ingin memulihkan?
00:27:33Ya, ketika kita bikin karya memang pasti sesuatu yang akan bisa relevan dengan semua orang adalah keresahan kan.
00:27:41Pasti bermula dari keresahan.
00:27:43Sama seperti kenapa kami sendiri dari V-cinema membuat jumbo gitu.
00:27:47Awal mulanya adalah berangkat dari keresahan bagaimana di Indonesia sendiri sangat sedikit sekali adanya tontonan yang baik untuk anak dan
00:27:55keluarga Indonesia.
00:27:56Memulai dari situlah bahwa kami berkomitmen untuk fokus kita menghasilkan karya yang bisa dinikmati.
00:28:03Gak hanya cuman menghibur untuk anak-anaknya, tapi orang dewasa pun juga bisa ikut menikmati karya tersebut.
00:28:09Kemudian hadirlah salah satunya dengan ide jumbo ini sendiri.
00:28:13Jumbo sendiri juga melewati proses yang cukup panjang ya dengan lebih dari 5 tahun.
00:28:16Tapi sebenarnya value utama yang mau kami hadirkan adalah bahwa film jumbo ini, film yang bisa dinikmati untuk kita, anak
00:28:25-anak kita dan anak-anak di dalam diri kita.
00:28:27Jadi berangkat dengan keresahan itu bagaimana...
00:28:30Karena anak-anak gak punya tontonan yang bermutu ya?
00:28:33Betul, ditambah dengan bahwa orang dewasa sendiri pun sebenarnya kita masih punya jiwa anak-anak di dalam diri kita loh
00:28:38yang bisa kita embrace gitu.
00:28:40Inner child ya.
00:28:42Ada keresahan, ada situasi yang sebenarnya ingin diubah.
00:28:47Itu menghasilkan satu karya.
00:28:50Rasanya kalau kita bicara situasi sekarang, situasinya memang tidak mudah.
00:28:56Ada teman-teman mahasiswa UMN, ada yang baru masuk, ada yang sudah lulus ujian.
00:29:02Kalau melihat headline kompas beberapa waktu lalu, menyadur dari BPS.
00:29:09Itu lulusan S1 hingga S3 yang menganggur itu sudah tembus lebih dari 1 juta.
00:29:16Dan itu presentasinya adalah sekitar 11 atau 12 persen dari total penganggur di Indonesia.
00:29:23Jadi saya bisa ikut merasakan bagaimana anak muda sekarang itu berada dalam situasi yang cukup mencemaskan.
00:29:32Buat apa sekolah susah-susah, UMN lagi, pasti uang kuliahnya gak murah, ketawa.
00:29:40Tapi kan terus mau apa kalau di depan mata masih ada 1 juta yang menganggur.
00:29:47Bagaimana Prof Bagus melihat situasi ini, bahwa anak muda ini memang berhak untuk cemas.
00:29:54Berhak untuk marah.
00:29:56Anda berkewajiban untuk marah sebenarnya, bukan hanya berhak.
00:30:00Sekarang lebih parah, dulu saya IPK-nya 2,69.
00:30:04Ulang tahunnya Mbak Rosi juga 26 bulan.
00:30:07By the way, diceritain dulu Prof Bagus.
00:30:10IP 26,9 yang sebenarnya angka bagus itu.
00:30:1526,9 di ITB itu termasuk sangat-sangat tidak pintar.
00:30:20Enggak tahu kalau dikonversi ke UMN berapa Pak?
00:30:24Enggak, betul gak pintar.
00:30:26Enggak bakal dapat kerja itu.
00:30:27Enggak mungkin dapat kerja ya.
00:30:29Itu tergolong under value kalau saham ya.
00:30:34Tadi saya di back room sebelum kemarin ngobrol sama Mbak Rosi.
00:30:38Udah baca belum bukunya Mbak Adi Lestari yang baru, Meteorite kalau gak salah ya.
00:30:42Saya belum baca, tapi dikasih tahu.
00:30:45Midpoint.
00:30:46Midpoint, sorry.
00:30:47Karena belum baca jadi gak tahu.
00:30:48Gak apa-apa.
00:30:49Tapi saya tahu tadi poinnya adalah tentang ketidakpastian.
00:30:52Betul gak?
00:30:53Betul, betul ya.
00:30:55Keacakan, randomness, ketidakpastian.
00:30:59Pendidikan, Anda sekarang sedang mengenyam pendidikan tinggi.
00:31:03Pendidikan itu kata dasarnya itu apa?
00:31:06Education dalam bahasa Inggris, etimologisnya apa?
00:31:10Ada dua, edukare dan educere.
00:31:13Educare itu membuat imprint, nyetak sama percis anaknya dari bapaknya.
00:31:18Jadi caranya diajarin, suruh afalin, kalau salah digebuk gitu ya.
00:31:25Itu namanya edukare.
00:31:27Educare itu artinya itu membawa keluar dari kegelapan.
00:31:33Menunggangi ketidakpastian, menunggangi ketidakpastian, mengkapitalisasi chaos.
00:31:39Itu salah satu dari definisi pendidikan.
00:31:44Anda di tahun pertama pasti belajarnya matematik murni, kimia murni atau ilmu-ilmu dasar.
00:31:52Tahun kedua pasti rada-rada interdisipliner tuh, kalau engineering belajar mekanika fluida.
00:31:58Mekanika fluida itu kimia, matematik, fisika jadi satu.
00:32:01Tuh enggak?
00:32:02Tahun ketiga, tahun keempat masuklah itu filosofi, ekonomi, sosial.
00:32:08Tujuannya apa sih?
00:32:10Supaya Anda bisa siap dalam ketidakpastian, karena dunia yang akan Anda hadapi.
00:32:15Empat tahun, kalau saya lima tahun main counter strike terus soalnya, itu tidak bisa diprediksi.
00:32:21Dulu tahun 90-an, bahkan 2000, keluar seperti apa bisa diprediksi.
00:32:27Sekarang tidak ada bisa diprediksi.
00:32:28Jadi kalau Anda selama empat tahun itu tidak bisa nyaman dengan ketidakpastian,
00:32:36Anda akan disikat sama sekarang jurusan-jurusan yang keluarin mahasiswa lebih banyak dari zaman saya.
00:32:43Itu permasalahan.
00:32:44Jadi teman-teman UMN, tadi saya ngobrol sama Prof Bagus,
00:32:48merasa bahwa kalau dulu jamannya kita,
00:32:53kita hanya tinggal berebut atau kompetisinya sama anak yang lebih pintar.
00:33:01Kalau sekarang, jangan-jangan yang lebih pintar pun,
00:33:05itu belum tentu langsung bisa dapat pekerjaan.
00:33:09Kalau Prof Bagus ini kan dengan IP 2,69 itu kan karena dianggap kurang oke gitu.
00:33:17Tidak bagus, tapi yang teman-teman lain bisa diterima dengan cepat di perusahaan.
00:33:22Nah situasi mereka ini, saya sih memang sangat memahami ya bagaimana ada kegelisahan dan kecemasan yang luar biasa buat teman
00:33:31-teman mahasiswa.
00:33:32Tapi saya ingin masuk ke di Lestari, karena menurut saya bagus sekali poin yang ada di novel terbarunya yang akan
00:33:42rilis, kapan di?
00:33:44Sudah pre-order, jadi sepertinya awal September sudah bisa masuk ke beberapa toko buku.
00:33:51Tadi spoiler tadi ya?
00:33:53Tidak apa-apa ya?
00:33:54Tidak apa-apa dong.
00:33:55Karena ini keren banget.
00:33:56Itu poin yang aku ini kok, saya marketingkan sejak sekarang.
00:34:01It's okay.
00:34:02Ini keren banget, karena menurut aku bagus sekali untuk teman-teman mahasiswa baca ya.
00:34:07Tak semua yang penting dalam hidup datang dengan kepastian.
00:34:13Sebagian datang sebagai musim yang keliru.
00:34:18Wilayah tanpa peta atau rasa yang tak tahu harus bermuara kemana.
00:34:26Di tengah-tengah itu kita berenang bebas tanpa pengaman dalam samudera luas ketidakpastian.
00:34:34Wow, dia lestari.
00:34:41Apa yang kira-kira di bisa sambungkan dengan perasaan anak-anak mahasiswa atau generasi muda saat ini?
00:34:49Jadi buku saya, oh ya itu non fiksi sebetulnya Ros.
00:34:53Jadi midpoint adalah buku non fiksi utuh pertama saya yang ada di genre kurang lebih self improvement slash memoir.
00:35:01Jadi ada beberapa pengalaman hidup langsung.
00:35:05Tapi intinya itu adalah perjalanan retrospective saya melihat ke belakang.
00:35:10Makanya relevan banget bisa ngobrol sama teman-teman hari ini.
00:35:14Karena tahun ini kan saya memasuki season five ya.
00:35:19Jadi gak jauh beda lah sama kakak kita tercinta.
00:35:23Nah, ada yang disebut dengan inteligensi kristal.
00:35:27Inteligensi kristal ini biasanya muncul datang dari pengalaman hidup.
00:35:32Jadi kalau saya melihat, oh apakah saya masih harus bersaing dengan anak-anak umur 20-an, 30-an.
00:35:39Sebetulnya tidak.
00:35:39Karena jenis inteligensi yang kami hasilkan di usia kepala lima ke atas itu sebetulnya inteligensi yang sedikit berbeda gitu ya.
00:35:50Inteligensi ini datang dari pengalaman hidup.
00:35:53Pengalaman hidup itu mengajarkan kita untuk melihat pola, pattern.
00:35:58Dan itu biasanya memiliki kemampuan prediksi yang lebih tepat, akurasi analisis batin maupun logika yang lebih cepat.
00:36:09Karena kita sudah punya banyak bekal dari pengalaman-pengalaman kita yang lalu.
00:36:13Baik pengalaman baik maupun buruk gitu ya.
00:36:16Nah, salah satu yang saya bagi di dalam midpoint adalah ternyata ketika saya lihat ke belakang,
00:36:22banyak kebiasaan-kebiasaan kecil yang saya lakukan sejak muda dari umur belasan, 20-an.
00:36:30Yang ternyata bertahan awet dan punya dampak sangat besar ketika usia saya segini.
00:36:36Yaitu?
00:36:37Contoh, ini salah satu poin dalam midpoint.
00:36:41Stay low, terbang rendah lah.
00:36:44Stay low, terbang rendah lah.
00:36:46Saya tahu teman-teman mungkin punya banyak keinginan, pengen punya tas branded, pengen jadi orang kaya, pengen punya Lamborghini dan
00:36:56sebagainya.
00:36:57It's okay, kita semua bisa punya fantasi dan aspirasi masing-masing.
00:37:01Tapi jangan lupa bahwa terbang rendah itu punya banyak manfaat dan keuntungan.
00:37:10Misalnya, katakanlah kalau kita pakai analogi satu Boeing 747 gitu ya, yang satunya lagi Cessna.
00:37:18Jika ada kondisi darurat mendadak, siapa yang lebih gampang untuk mendarat secara darurat?
00:37:25Cessna.
00:37:26Pasti Cessna.
00:37:28Dan apalagi keuntungannya kita di Cessna ini, kita bisa melihat ke atas tapi juga kita bisa melihat ke bawah dengan
00:37:34lebih mudah.
00:37:34Artinya, hiduplah biasa-biasa aja.
00:37:38Dan yang kita sebut biasa-biasa pun ternyata ketika kita sudah bandingkan dengan populasi dunia,
00:37:45ternyata kita sangat beruntung.
00:37:47Kalau Anda sekarang tidur dengan tempat tidur yang empuk, kasur ya.
00:37:52Kalau Anda bisa makan pagi dari kulkas, buka kulkas.
00:37:56Kalau Anda bisa merasakan pendingin, mau merek Changhong, mau merek Chinese, mau Jepang, apapun.
00:38:03Tapi ada pendingin, itu Anda sudah lebih kaya dari 85 persen manusia di dunia.
00:38:12Minimal lebih beruntung.
00:38:14Lebih beruntung.
00:38:15Nah, artinya ada banyak hal-hal yang sebetulnya bisa kita lakukan sejak dini menabung.
00:38:21Kalau kita kecil ada celengan ayam, saya enggak tahu Rosy masih mengalami atau enggak.
00:38:25Saya masih mengalami celengan ayam dari tanah liat.
00:38:31Kebiasaan menabung, kebiasaan hidup biasa-biasa aja.
00:38:34Gaya hidup yang tidak perlu harus ngikutin merasa punya idola selebriti.
00:38:43FOMO kalau enggak pakai brand apa-brand apa gitu.
00:38:46Ternyata, trust me, lakukan itu 10-20 tahun, kalian akan mendapatkan manfaat yang luar biasa bertahun-tahun kemudian.
00:38:57So, there are so many simple habits yang bisa kita mulai dari sekarang, dari usia-usia kalian.
00:39:02Yang percayalah akan punya dampak yang sangat besar di usia kalian nanti.
00:39:06Jadi di ingin mengatakan bahwa bergaya hidup sederhanalah, stay low, tetapi juga punya imajinasi yang fly high.
00:39:18Fly high in limitless, limitless imagination, but stay low in how you live.
00:39:24Jangan sampai gaya hidupnya tinggi, imajinasinya cetek.
00:39:28Yang paling kasihan yang kebalik sih.
00:39:32Nah, ada yang mau ditambahin?
00:39:35Ya, menyambung tadi dari Kak Di sih sangat insightful banget.
00:39:38Dan menyambung dengan membuat karya pun, ya sama sih bahwa ketika kita bikin karya,
00:39:43kita enggak bisa hanya menganggap bahwa apa yang kita lihat itu udah sangat penting dan besar.
00:39:49Tapi kita juga harus bisa berbaur dan melihat sekitar kita juga gitu.
00:39:53Menyambung dengan bahwa itu kita stay low.
00:39:54Dan tentunya yang menjadi highlight juga melakukan semua hal, membuat karya itu dengan hati gitu.
00:39:59Ketika kita melakukan sesuatu dengan hati, kita akan lebih grounded ketika kita menghasilkan karya tersebut sih.
00:40:08Saya mau tanya, dulu Novi kan sempat pindah jurusan ya?
00:40:14Sebenarnya sih karena pas di WMN itu, di angkatanku adalah angkatan pertama adanya pembuatan jurusan film langsung.
00:40:22Jadi aku angkatan pertama yang mengalami transisi.
00:40:24Jadi kamu merasa bahwa apakah kamu termasuk orang yang, apa yang jadi kuliah kemana kerja harusnya ke situ.
00:40:34Jadi benar-benar satu jalur, kamu percayakan itu?
00:40:37Sebenarnya enggak sih, tapi beruntungnya untung jalannya memberikan jalan yang sesuai.
00:40:43Karena kalau di kan tadi HI, tapi langsung ini.
00:40:48Kalau kamu masih memang on tracknya?
00:40:50S1-nya apa?
00:40:51Ini ya, maksudnya tadi mungkin Mbak Di agak terlalu low key gitu ya.
00:40:55Saya melihat sekali landasan filosofis di dalam buku-bukunya, sebenarnya sebagai seorang HI ya.
00:41:01Indonesia itu enggak punya teori, terutama di bidang HI gitu ya.
00:41:07Karena untuk menciptakan teori, Anda harus mendefinisikan what is state, what is power.
00:41:13Itu rana filosofi sebenarnya.
00:41:17Kalau Anda enggak punya filosofi, ya filosofinya ngikutin barat.
00:41:21Kalau filosofinya ngikutin barat, doktrin HI-nya itu ya kalau enggak liberalisme, realisme, konstruktivisme.
00:41:29Filosofi itu semua bermula dari hubungan antara manusia dengan alam.
00:41:35Manusia itu master of nature atau mikrokosme dari alam.
00:41:42Indonesia punya filosofinya, tadi dia enggak paham caranya berpikir lintas, disiplin.
00:41:48Makanya dia niru, niru dari barat.
00:41:51Dari film misalnya.
00:41:52Anda tahu enggak, gimana caranya orang Inggris itu dapat etik tentang kejujuran akademik.
00:42:00Dari film.
00:42:03Bukan dari baku sekolah?
00:42:05Iya, kalau masih kecil gimana caranya suruh masuk sekolah kan?
00:42:08Jadi maksudnya gini, Anda tahu enggak Lion King itu apa sebenarnya?
00:42:13Karyanya Shakespeare.
00:42:15Judulnya apa?
00:42:17Hamlet.
00:42:19Tentang seorang pangeran, cuma pangerannya dibikin jadi singa.
00:42:23Nah sejarah kolektif orang UK waktu dia menghadapi
00:42:28The Black Plague, apa?
00:42:31Wabah.
00:42:32Wabah.
00:42:32Kayak Covid lah gitu ya.
00:42:33Itu dibuat jadi lagu anak-anak.
00:42:37Kemudian dijadikan film.
00:42:39Film itu bukan sekedar orang bisa beli kamera gitu ya, terus jadi film bagus.
00:42:44Enggak ada yang mau nonton, kalau enggak tepat arketipalnya.
00:42:48Kalau enggak tepat filosofinya tuh enggak akan mau nonton jumbo itu meledak karena dia betul-betul menkapsulasi sikis orang Indonesia
00:42:57dan orang filosofi ngerti itu.
00:42:59Itu permasalahannya.
00:43:02Itu permasalahannya.
00:43:29Toral kedua sebagai preset itu di Imperial College in London, Departemen Ilmu Bumi.
00:43:35Kemudian saya ngajar di Departemen Teknik Kimia sekarang.
00:43:38Saya enggak pernah jadi mahasiswa teknik kimia.
00:43:41Makanya bisa ngurusin hal-hal seperti gambut, bangunan yang mengambil inspirasi dari sarang rayap seperti yang teman-teman sedang nikmati
00:43:50disini.
00:43:50Itu semua ciri khas orang yang enggak berpikir bahwa satu-satunya lapangan kerja dia itu adalah apa yang tertulis di
00:43:57ijazah dia.
00:43:59Itu bukan dunia yang teman-teman hadapi masa depan.
00:44:03Jangan dicontoh ya, saya tidak mengglamorisasi IPK yang jelek, itu bukan untuk dicontoh.
00:44:10Kalau saya bisa ulang lagi waktu, saya akan bersungguh-sungguh betapa banyak waktu yang saya habiskan berfoya-foya padahal enggak
00:44:18ada duit.
00:44:19Berfoya-foya pakai duit orang lain.
00:44:22Jangan dicontoh, waktu itu sangat berharga.
00:44:25Setiap hari Anda malas-malasan ada orang yang dirugikan karena hak orang lain itu tanggung jawab Anda.
00:44:34Bicara soal tanggung jawab, kita sekarang sesinya adalah panggung jawab.
00:44:40Jadi teman-teman yang ingin bertanya bisa bertanya pada ketiga narasumber kita.
00:44:49Di bagian panggung jawab ini.
00:44:51Sudah ada yang mau nanya?
00:44:53Tunjuk tangan.
00:44:54Ya, saya lihat kamu, kamu saya tahu dari awal perhatian terus sama isi diskusi.
00:45:00Boleh, yuk.
00:45:03Ya, benar.
00:45:04Kasih mic-nya.
00:45:07Namanya sama jurusannya ya.
00:45:10Perkenalkan nama saya Arya Damer Setiawan dari jurusan komunikasi angkatan 2025.
00:45:16Pertanyaan saya kan kalau menurut Pak Mulyadi kan kita sebagai mahasiswa terutama kita harus bisa lebih menghadapi abu-abu atau
00:45:26yang namanya ketidakpastian.
00:45:27Itu kan menjadi sebuah tantangan yang sulit ya kan karena terutama karena ada kayak media sosial sekarang terus ada instant
00:45:35gratification.
00:45:35Nah, menurut Pak Mulyadi itu gimana caranya supaya kita sebagai mahasiswa bisa lebih mentoleransi ke abu-abuan itu.
00:45:47Kan aku juga kebetulan suka baca buku.
00:45:50Itu kayak gitu, kayak buku fiksi itu bisa membantu gak ya?
00:45:54Prof, makasih.
00:45:56Buku fiksi?
00:45:56Ya.
00:45:56Oke.
00:45:58Oke, langsung.
00:45:59Boleh, yuk.
00:46:01Komunikasi tadi ya mas Arya ya namanya ya.
00:46:04Oke, ada dua bapak komunikasi atau linguistik.
00:46:07Satunya pasti kenal Noam Chomsky.
00:46:11Satunya lagi sebenarnya bukan orang komunikasi.
00:46:14Tapi dia bapak komunikasi.
00:46:16Namanya Claude Shannon.
00:46:18Pernah denger?
00:46:19Ya kan?
00:46:20Dia tuh di Bell Labs.
00:46:22Bell Labs itu sebuah institusi yang banyak hampir keluar pemenang Nobel atau sekelas pemenang Nobel.
00:46:28Dia bertanya satu hal.
00:46:30Is communication thermodynamical?
00:46:36Apakah komunikasi itu sifatnya thermodinamis?
00:46:40Pertanyaan macam apa itu?
00:46:42Siapa yang punya imajinasi untuk bertanya hal-hal seperti itu?
00:46:49Ada jurnal dari Google DeepMind.
00:46:53LLM, Large Language Model.
00:46:56Jadi backendnya AI lah gitu ya.
00:46:59Itu tidak bisa melakukan lompatan dalam ilmu pengetahuan seperti manusia bisa melompat.
00:47:05Klaim dia bukan saya ya.
00:47:06Ada tiga hal caranya ilmu pengetahuan itu dihasilkan.
00:47:09Induksi artinya bikin riset disini benar enggak, disalah enggak.
00:47:14Kesimpulannya jadi ilmu baru.
00:47:16Ada satu yang namanya deduksi.
00:47:19Deduksi itu dari logika, dari premis kesimpulannya mengikat lepas dari Anda suka atau tidak.
00:47:24Dan yang satu lagi abduksi.
00:47:27Abduksi itu dari imajinasi.
00:47:30Ketika datanya enggak ada untuk diteliti, dia ngambil inspirasi dari tempat lain.
00:47:35Dia harus berpikir gimana caranya punya super smelling sense misalnya.
00:47:41Dia harus berimajinasi seperti itu.
00:47:43Einstein itu menciptakan general relativity.
00:47:47Mengubah cara pandang kita berpikir tentang gravitasi.
00:47:50Itu bukan karena diajarin gurunya, tapi karena dia berpikir, berimajinasi.
00:47:55Bahwa gravitasi itu bukan sekedar gaya, tapi pembengkokan kurvatur ruang dan waktu.
00:48:02Di mana dia bisa mikir kayak gitu.
00:48:03Kalau dia tidak berpikir abu-abu, kalau dia tidak ngelamun.
00:48:08Kalau dia tidak berimajinasi, kalau dia tidak baca fiksi.
00:48:12Satu contoh terakhirnya Mbak Rosi ya.
00:48:15Fiksi itu di Indonesia itu dimarjinalkan sampai ada beberapa tahun yang lalu
00:48:19kitab suci disebut fiksi, semua orang marah gitu ya.
00:48:22Saya kasih tahu di Jerman ya, saya kasih tahu orang Jerman.
00:48:26Di Jerman itu karya literatur terhebatnya itu namanya Faust.
00:48:32Oleh Goethe, tahu enggak Goethe Institut?
00:48:35Tahu ya, penulis hebat.
00:48:38Jens Weidman, direktur Bundesbank, berantem sama direkturnya Bank Sentral Eropa, ECB waktu itu.
00:48:46Namanya Mario Draghi.
00:48:47Dia berantem, dia bilang, gue enggak mau nyetak duit.
00:48:50Kan dia pakai euro uang yang sama kan.
00:48:53Tahu enggak argumennya dari mana?
00:48:54Dari Faust.
00:48:56Dia bilang di dalam cerita itu, yang merupakan memori kolektif orang Jerman.
00:49:00Dia bilang, setan pada waktu itu di buku Faust, namanya Mepistofeles.
00:49:05Dia itu mencoba menggoda raja untuk cetak uang kertas.
00:49:10Bisa di cek di Google.
00:49:13Itulah apa yang fiction bisa menjadi karakter bangsa.
00:49:17Kalau dia sukses, dia itu bukan hanya bisa jadi memori kolektif pada waktu itu bangsa itu mikirnya apa.
00:49:23Tapi bisa menjadi narasi kita ke depan mau kemana.
00:49:26Indonesia itu kurang banyak produk-produk literaturnya seperti Mbak Di.
00:49:30Jadi Anda harus baca banyak literatur.
00:49:32That will shape your mind.
00:49:36Seberapa besar sebenarnya pertanyaan, bagaimana sih karya sastra itu bisa membentuk kita?
00:49:42Mungkin bisa dijawab oleh Di.
00:49:43Aku boleh bantu jawab ya?
00:49:44Boleh.
00:49:45Jadi sebetulnya ada satu fungsi dari karya fiksi, yang ini menurut saya jarang dibahas.
00:49:52Salah satu fungsi penting fiksi sebetulnya adalah meningkatkan empati.
00:49:56Kenapa?
00:49:57Karena di dalam fiksi kita belajar how to be in someone else's shoes.
00:50:02Gimana kita menjadi seseorang yang lain daripada diri kita sendiri.
00:50:07Terutama ketika saya menjadi penulisnya, bayangkan kalau saya menulis 50 karakter,
00:50:14saya harus menjadi ke 50 karakter tersebut.
00:50:17Saya mampu menjadi orang yang disebut antagonis, tapi saya jadi tahu kenapa si antagonis melakukan hal tersebut.
00:50:25Oh ternyata dia punya latar belakang, alasan dan sebagainya.
00:50:29Sementara protagonis juga bukan serba sempurna.
00:50:32Dia juga punya keresahan, kegagalan gitu ya.
00:50:36Nah jadi memang fiksi itu melatih kita sulit sekali untuk hitam putih di dalam fiksi.
00:50:42Justru menurut saya salah satu karya fiksi yang indikator, fiksi yang bagus dan penulis yang bagus adalah ketika dia mampu
00:50:50semakin tidak egois.
00:50:53Karena dia mampu menjadi banyak orang, banyak perspektif, dia mewakili banyak kaum gitu ya.
00:50:59Nah begitu juga pembaca.
00:51:01Setiap karya fiksi mengajak pembaca untuk masuk ke dalam hidup seseorang, untuk memasuk ke dalam hidup orang lain, pemikiran orang
00:51:08lain.
00:51:08Jadi kalau tadi ada pertanyaan bagaimana sih caranya agar kita tidak hitam putih, kita bisa lebih legowo menghadapi abu-abu.
00:51:18Salah satunya adalah baca karya fiksi, nonton film juga.
00:51:22Karena film juga sebetulnya adalah perpanjangan dari karya fiksi dalam bentuk audiovisual.
00:51:27Nah jadi sebetulnya sama saja, berlatih menjadi orang lain dan belajar melihat dunia dari perspektif yang berbeda dari perspektif kita
00:51:38gitu.
00:51:39Ya, abis ini dia langsung pre-order buku Bitcoin sama antara.
00:51:47Tinggal tiga hari lagi loh.
00:51:50Satu lagi, coba.
00:51:54Yang cewek dulu ya, yang baju putih.
00:51:57Ya, kemeja putih.
00:52:01Abis ini boleh yang baju coklat.
00:52:05Halo, nama saya Valencia Fika Winaga.
00:52:08Kenasahan dikit?
00:52:09Halo semuanya, nama saya Valencia Fika Winaga.
00:52:12Valencia?
00:52:13Ya, dari DKV.
00:52:14Nah saya ada pertanyaan nih, berpikir kritis, ilmu pengetahuan budaya dan perkembangan generasi muda itu penting.
00:52:21Di tengah pendidikan yang masih sering berorientasi pada tugas dan nilai serta media sosial yang membuat masyarakat cepat bereaksi secara
00:52:29emosional menurut para narasumber.
00:52:32Perubahan paling mendasar apa yang perlu dilakukan agar generasi muda Indonesia itu tidak hanya menjadi konsumen ilmu dan budaya,
00:52:40tetapi mampu menciptakan gagasan dan pengetahuan yang berdasarkan dari pemasalahan Indonesia sendiri.
00:52:46Terima kasih.
00:52:47Oke, bagaimana tidak hanya menjadi konsumen ilmu dan budaya, tetapi mampu menciptakan gagasan dan pengetahuan yang berdasarkan dari pemasalahan Indonesia
00:53:08sendiri.
00:53:09Good, terima kasih.
00:53:10Terima kasih.
00:53:11Alumni-nya dulu coba jawab, adik kelasnya bertanya.
00:53:16Mungkin kalau aku mungkin coba berangkat dari pengalaman pribadiku juga ya bahwa ketika kuliah, kuliah itu kan seringkali mindsetnya adalah
00:53:24misalnya kalau ada yang bagian untuk ngejar IPK tinggi yaudah pokoknya belajar terus.
00:53:29Atau yang yaudah yang penting lulus gitu.
00:53:31Kalau aku sendiri dalam proses kuliah sendiri berusaha untuk di tengahnya, dalam arti tentunya tetap belajar, tapi tetap juga menyeimbangkan
00:53:41dengan aktif dalam kegiatan-kegiatan yang dilakukan di kampus gitu.
00:53:45Itu menurut aku sesuatu langkah awal yang bisa dilakukan mahasiswa sih saat ini, di mana keaktifan ini bisa banyak hal
00:53:50ya dari organisasi di kampus, dari ikut dengan media di kampus,
00:53:55bisa juga berkarya juga sendiri dengan teman-teman, apalagi kalau spesifiknya karena aku jurusan film.
00:54:00Jadi bikin film itu bukan cuma bergantung ketika ada tugas kuliah aja gitu, tapi dari inisiatif yang dibangun bersama dengan
00:54:08mahasiswa lain juga gitu.
00:54:09Kemudian aktif juga dengan pengalamanku sendiri juga waktu ketika kuliah aku terlibat dalam media majalah kampus juga,
00:54:15di mana di situ juga melatihku untuk bisa berpikir lebih kritis, mengikuti terus perkembangan yang terjadi di negara ini dan
00:54:23juga di lingkungan kampus tentunya,
00:54:25yang akhirnya membuat aku membangun gak hanya secara pengetahuan dan pengalaman ya, tapi juga berguna dengan networkingnya aku juga.
00:54:36Karena pada akhirnya sebagai mahasiswa tuh bukan hanya masuk kelas, pulang, selesai, tapi aku juga membangun relasi dengan mungkin lintas
00:54:43jurusan dari berbagai organisasi yang aku jalankan.
00:54:46Dan sampai hari ini ketika aku bekerja ternyata itu sangat bermanfaat sekali gitu.
00:54:51Dan akhirnya aku jadi lebih berani untuk bisa berkarya dengan pengetahuan yang mungkin jadi lebih luas, tidak hanya dengan kacamata
00:55:01aku sendiri aja sebagai anak jurusan film gitu.
00:55:04Kamu juga semasa kuliah membangun jejaring gak?
00:55:08Tentunya.
00:55:09Iya ya?
00:55:10Jadi gak, kamu juga membuat jejaring, jadi kamu bisa masuk dalam satu ekosistem yang mendukung ilmunya kamu di UMN gitu.
00:55:20Dan termasuk ya dengan bergabung dengan komunitas juga.
00:55:23Karena itu yang akhirnya membuat kita juga berkontribusi gitu.
00:55:27Oke, di dulu?
00:55:30Rasanya kalau mendengar pertanyaan tadi mungkin pertanyaannya bagaimana kita menjadi seseorang yang lebih aktif mencari ilmu ketimbang pasif menerima ilmu
00:55:42gitu ya.
00:55:43Aduh sebetulnya saya ini bukan contoh yang baik, saya mungkin lebih ekstrim daripada Prof Bagus.
00:55:49Jadi kalau tadi saya dengar angka-angka IP kamu itu dalam hati saya, saya lebih rendah daripada itu.
00:55:59Jadi waktu dulu saya memulai karir dari usia sangat muda, jadi dari 17 tahun saya mulai bernyanyi.
00:56:07Jadi otomatis kaki saya di kampus itu udah hampir gak ada.
00:56:12Saya datang untuk benar-benar formalitas gimana caranya bisa lulus gitu kan.
00:56:16Yang penting dapet ijasa.
00:56:18Yang penting dapet ijasa, yang penting bapak ibu saya gak ngamuk-ngamuk, anaknya sarjana itu aja gitu ya.
00:56:24Tapi saya tidak punya aspirasi sama sekali untuk memakai ilmu formal saya di dalam karir.
00:56:30Kenapa? Karena saya sudah berkarir, saya sudah tahu saya akan jadi seniman gitu.
00:56:35Nah tapi yang ingin saya ungkapkan disini adalah kita itu sering sekali terpesona dengan kata passion gitu.
00:56:46Apa-apa passion, apa-apa passion.
00:56:48Sehingga bisa dibilang passion itu identik dengan yang gue seneng, yang hobi gue gitu kan.
00:56:56Tapi sebenarnya passion itu kan datang dari kata dasar pati ya, suffering, menderita gitu.
00:57:03Kalau saya kilas balik ke belakang, saya itu siap menderita untuk nulis dan musik.
00:57:12Gak ada yang nyuruh saya nulis, gak ada yang bilang, wih, lu bakal jadi terkenal, bakal jadi orang kalau lu
00:57:18nulis.
00:57:18Jadi menulislah setiap hari, gak ada.
00:57:21Tapi saya nulis setiap hari.
00:57:22Dan itu bukan karena ada iming-iming kesarjanaan, bukan ada iming-iming masa depan yang cerah.
00:57:29Kita tahu siapa sih yang nyuruh orang tua, mana yang nyuruh anaknya jadi penulis.
00:57:34Cita-cita itu sangat tidak lazim gitu loh.
00:57:37Tapi saya lakukan kenapa?
00:57:38Karena saya sangat cinta, saya rela menderita untuk itu.
00:57:43Ketika saya ditolak oleh majalah, ditolak oleh perlombaan gak menang dan sebagainya.
00:57:48Saya terus aja nulis gitu.
00:57:51Nah, curigailah hal-hal seperti itu di dalam hidup kalian.
00:57:57Ada gak hal-hal yang gak ada orang nyuruh, gak ada iming-iming apa, tapi kalian ingin terus lakukan.
00:58:05Curigai itu dan kejar itu.
00:58:08Karena bisa jadi disitulah posisi kita bisa menjadi pembelajar yang aktif seumur hidup.
00:58:13Karena bukan karena mau S1, mau dapat ini, dapat itu, dapat ini.
00:58:17Tapi betul-betul kita berangkat dari diri kita sendiri.
00:58:21Sesuatu yang inner dan internal gitu ya.
00:58:23So, curigai itu ya teman-teman.
00:58:26Sorry Prof, ini menurut aku sebuah definisi yang mengembangkan apa yang disebut dengan passion.
00:58:37Kita kadang-kadang ini udah overrated dengan kerjakanlah sesuatu yang passion.
00:58:41Sesuai dengan passion.
00:58:42Tapi seorang di Lestari hari ini ingin mengatakan ketika kamu passion dengan sesuatu,
00:58:48kamu harus juga mau menderita dengan itu.
00:58:50Karena itulah sebenarnya jalan yang kamu harus tempuh.
00:58:54Kamu gak akan pernah berhasil sebelum kamu menderita bersama itu.
00:58:58Betul.
00:58:58Tapi tau gak rasanya ditolak tadi ya sama anak unpar?
00:59:03Ditolak apa ini?
00:59:04Ditolak sama anak unpar benarnya.
00:59:06Ditolak cinta atau ditolak pekerjaan atau gimana?
00:59:09Ditolak apa?
00:59:11Masih dendam.
00:59:12Masih dendam.
00:59:13Oh, ditolak oleh anak parah yang an dia.
00:59:16Kalau boleh ya, itu pertanyaan underrated kalau itu menurut saya itu.
00:59:19Mbak Florencia atau Valencia tadi namanya?
00:59:21Boleh gak saya respon satu menit?
00:59:24Bukan dia yang daya, boleh.
00:59:26Saya nanya ini.
00:59:28Tadi pertanyaannya itu, gimana caranya supaya jadi gak konsumen ilmu dan budaya?
00:59:35Saya cepat aja ya, saya tanya.
00:59:36Barang siapa yang bisa menjawab dapat S3 di Nottingham?
00:59:40Mengapa?
00:59:41Enggak sih.
00:59:44Mengapa kita mencari ilmu pengetahuan?
00:59:47Why do we seek knowledge?
00:59:48Anybody?
00:59:49One, two, three.
00:59:51Yang jaket coklat.
00:59:54Jaket coklat?
00:59:55Ya.
00:59:55Cepat aja ini.
00:59:56Jawabannya apa?
01:00:01Yang gede, tereak mas.
01:00:03Tereak aja?
01:00:04Ya.
01:00:04Oh, ada, ada mic.
01:00:06Tess.
01:00:06Oke.
01:00:07Perkenalan diri ya.
01:00:09Permisi, saya Abdurashnu Maedi.
01:00:11Eh, why do we seek knowledge?
01:00:15Why do we seek knowledge?
01:00:17Oke, langsung answer.
01:00:18Ya.
01:00:18We are human dan kita adalah manusia yang serba penasaran.
01:00:22Kita selalu bertanya apakah ini benar atau salah.
01:00:25Dan itu sudah diprogram dari diri kita sendiri untuk bertanya apakah kita melakukan hal benar atau salah.
01:00:33Wah, ini juga berjabat.
01:00:35Kenapa kita harus selalu tahu dan selalu penasaran.
01:00:39Siap.
01:00:39Intinya kita natur di dalam kita sendiri ya.
01:00:41That's nature of our world.
01:00:44Ya.
01:00:44Kalau, karena di Indonesia enggak ada Departemen History of Science, kita enggak tahu.
01:00:48Tapi kolega saya di Inggris itu bilang ada intellectual lineage mengapa para kolonial itu sejauh-jauh sampai ke Indonesia bikin
01:00:56botanical garden.
01:00:57Tujuan dari singkat cerita orang Inggris itu bikin botanical garden mencari pengetahuan itu untuk memugar kembali Taman Firdaus.
01:01:07To recover Eden.
01:01:09Makanya ada fascination terhadap garden.
01:01:12Hampir semua penelitian itu mulanya dari Cibodas, Kebun Raya Bogor, Kew Botanical Garden dan lain sebagainya.
01:01:18Orang Indonesia itu hanya obyek konsumen dari ilmu dan budaya.
01:01:22Karena dia ada di dalam universitas yang merupakan ejawantah atau kristalisasi dari etos yang sudah terbentuk selama ratusan tahun.
01:01:30Tapi dia enggak tahu artinya assistant associate professor itu apa.
01:01:34Dia tahunya kita ini general, break gen, my gen.
01:01:37Kita enggak keluar teori baru, institusi perguruan tinggi dari tanah kita sendiri.
01:01:43Indonesia itu landasan filosofisnya beda.
01:01:46Unless and until you uncover, you unearth your own identity.
01:01:51Kita enggak akan selamanya keluar dari konsumerisme ilmu dan budaya asing.
01:01:57Oke.
01:01:58Aku udah janji yang ketiga, yang baju coklat.
01:02:03Selamat siang Pak.
01:02:05Aku perkenalkan nama aku Ian Bradley.
01:02:07Aku dari Ian Bradley, dari jurusan sistem informasi.
01:02:11Aku ingin bertanya kepada Pak Bagus ya.
01:02:14Di era sekarang itu Indonesia itu digempur dengan Indonesia emas tahun 2045 ya Pak Bagus.
01:02:20Tentu sebuah negara itu tidak dibangun hanya dari naratif Pak.
01:02:24Tapi dari bukti bahwa sebuah negara itu bisa membuktikan naratif tersebut Pak.
01:02:28Kalau saya perhatikan di Indonesia, Indonesia itu masih bisa dibangun pendidikannya masih rendah Pak.
01:02:34Dengan skor PISA yang rendah dan juga dengan penghasil mahasiswa stand.
01:02:39Tolong koreksi kalau saya salah Pak.
01:02:41Tapi Indonesia itu menghasilkan kalau enggak salah sekitar 18 persen.
01:02:45Sedangkan negara tetangga seperti Malaysia itu menghasilkan 36 sampai 38 persen.
01:02:50Singapura itu 31 persen Pak.
01:02:53Menurut Pak Bagus, apa akar masalah dari ketertinggalannya pendidikan di Indonesia?
01:02:58Kemudian Pak Bagus dengan podcastnya bersama Pak Helmi Aya itu sering menyebut
01:03:05salah satunya itu post-colonial syndrome Pak.
01:03:08Saya izin bertanya kepada Pak Bagus.
01:03:11Post-colonial syndrome?
01:03:13Kayak Londo ireng gitu ya?
01:03:17Boleh enggak Pak Bagus elaborate apa itu post-colonial syndrome?
01:03:22Dan apakah itu menjadi faktor penting dalam ketinggalannya pendidikan kita?
01:03:27Terutama ya pasti selain dari kebijakan pendidikan tentunya itu sangat penting ya Pak.
01:03:32Jadi menurut Bapak kira-kira apa solusinya dari ketinggalan di Indonesia ini?
01:03:37Yang kedua, singkat saja Pak.
01:03:39Bapak selalu berkata tentang analytical thinking Pak.
01:03:44Yaitu dimana proses berpikir mengandalkan premis-premis dasar Pak.
01:03:48Yang akan menghasilkan kesimpulan yang liar.
01:03:51Contohnya bisa membuat seorang sosialis menjadi seorang kapitalis.
01:03:54Tapi saya izin bertanya kepada Pak Bagus.
01:03:58Di era sekarang itu AI itu membuat naratif begitu banyak ya Pak.
01:04:02Bagaimana kita menerapkan sistem analytical thinking ini
01:04:05untuk mencegah dari naratif-naratif yang mungkin
01:04:10tidak bisa dipercaya gitu sih Pak.
01:04:12Itu saya pertanyaan saya. Terima kasih.
01:04:15Indonesia emas itu bukan narasi.
01:04:17Indonesia emas so what?
01:04:19Negara besar itu bukan narasi.
01:04:22So what?
01:04:23I can't do anything with it.
01:04:24Besar apanya? I don't know.
01:04:27Maka itu di dalam podcast itu dan dalam media-media saya selalu bilang
01:04:32narasi itu sesuatu yang binding, mengikat.
01:04:34Saya mau mati buat narasi itu.
01:04:36Dan kita tahu karena sering baca fiksi,
01:04:38narasi itu artinya mau kemana.
01:04:41Indonesia emas itu bukan narasi.
01:04:42Pendidikan kita pun hasil dari kemiskinan narasi.
01:04:45Latah berkebijakan.
01:04:46Ngambil dari luar.
01:04:48Indonesia is a laboratory of the world.
01:04:51That's a narrative.
01:04:53Indonesia itu global ecosystem chokehold.
01:04:57Tropical gambut terbesar di dunia itu di Indonesia.
01:05:00Hampir 30 ke 40 estimated gigaton karbon bisa diserap di situ.
01:05:05Kalau enggak kebakaran.
01:05:07Mangrove, coral reef.
01:05:09Jadi kalau Indonesia semena-mena terhadap gambutnya,
01:05:13ini dunia kerepotan.
01:05:14Dia enggak akan bisa ngukur gambut.
01:05:16Tapi itu enggak dijadikan narasi.
01:05:18Karena kalau itu dijadikan narasi,
01:05:19Anda tahu besok ngambil jurusan apa.
01:05:21Anda tahu arti hadir Indonesia itu di muka bumi numpang lewat.
01:05:25Atau punya kewajiban untuk itu menyelesaikan permasalahan dunia.
01:05:30Kemiskinan narasi itulah yang diadopsi oleh
01:05:33kebijakan pendidikan Indonesia lepas dari SD sampai SMA,
01:05:36sampai perguruan tinggi.
01:05:38Yang membuat dia latah kebijakan.
01:05:39Karena dia enggak punya narasi.
01:05:41Pendidikan itu hak atau komoditas.
01:05:43Dia enggak tahu.
01:05:44Siapa yang harus kontrol?
01:05:45Kalau dia enggak tahu, enggak keluar dari ranah kita sendiri.
01:05:48Satu contoh yang kalau bisa 30 menit, 30 detik selesai.
01:05:52Jawabannya ada di identitas dan di budaya kita sendiri.
01:05:55Orang Sunda itu di abad ke-15 ada figur namanya Bujang Gamanik.
01:05:59Seorang pangeran, rupawan, bisa apapun di dunia dilakukan.
01:06:03Dia pergi mengitari Pulau Jawa dua kali, jalan kaki.
01:06:07Yang pertama pulang karena dia kangen sama ibunya, enggak tahan, masih manusia.
01:06:10Akhirnya setelah jalan kaki sampai ke Bali, dia bertapa 10 tahun dan menghilang.
01:06:15Yang aneh adalah dalam catatan dia, itu 450 tempat, nama gunung, nama sungai, nama batas wilayah, batas etnik, audiovisual.
01:06:25Dia catat semua secara truthful dan kemudian lewatnya peta Jawa itu bisa direplikasi.
01:06:31Anda mungkin bisa bilang, ah itu mah gampang aja.
01:06:34No, no, no, it's not.
01:06:35Orang Indonesia itu selalu sadar bahwa dia bisa memetakan dirinya oleh karena kartografer dari barat.
01:06:41Bukan karena orang kita sendiri.
01:06:43Bujang Gamanik itu adalah bapak empirisme di dunia.
01:06:46Dunia Nusantara seperti David Hume.
01:06:48Tapi kita enggak tahu, kita enggak tahu filosofi dia itu apa.
01:06:52Itu yang harus jadi PR buat Indonesia.
01:06:55Baru dia keluar dari postkolonial mindset.
01:06:58Saya mau ke Dilestari kalau begitu ya.
01:07:01Kalau saya mungkin meringkas pertanyaan tentang supaya kita, apa yang dengan pendidikan kita, cara berpikir kita.
01:07:11Mana yang lebih penting, gelar atau daya pikir?
01:07:17Kalau saya sih 100 persen daya pikir.
01:07:20Karena hidup saya sepertinya testimoni soal itu ya.
01:07:25Saya cuma sampai S1 dan itu pun sudah setengah mati.
01:07:30Kalau enggak memaksakan diri mungkin enggak sampai lulus gitu.
01:07:33Tapi menurut saya memang yang paling-paling penting, karena begini.
01:07:37Institusi pendidikan adalah institusi yang saya enggak tahu berapa ratus tahun atau berapa ribu tahun kita punya.
01:07:45Tapi sebelum itu manusia tidak kehilangan nalurinya untuk belajar.
01:07:49Jadi saya rasa naluri dan insting untuk kita belajar dan ingin tahu itulah yang paling penting untuk diasah.
01:08:00Akademis atau bukan adalah pilihan karir.
01:08:02Tersama seperti ada orang yang mau berkarir di Deplu atau sebagai mahasiswa HI, lulusan HI, dia mau sampai ke Deplu.
01:08:11Atau ada yang mau menjadi PR di perusahaan mana, itu adalah pilihan karir.
01:08:16Atau mau menjadi dosen, sampai kayak profesor seperti Prof Bagus gitu.
01:08:20Itu bisa-bisa aja, there's nothing wrong with that gitu.
01:08:22Tapi saya rasa keingintahuan kita dan semangat untuk belajar seumur hidup itulah yang paling penting.
01:08:31Karena ilmu ini harusnya tidak bersekat.
01:08:33Sama seperti tadi multidisipliner, menurut saya itu adalah nature maupun keniscayaan.
01:08:40Karena memang kita gak mungkin ada di kungkung dalam satu spesialisasi tertentu saja seumur hidup kita.
01:08:47Kita pasti harus merambah kepada hal-hal lain.
01:08:50Karena segala sesuatu di dalam dunia ini interconnected gitu.
01:08:53Semuanya berhubungan.
01:08:55Jadi kita gak bisa mengisolasi satu ilmu dari ilmu lainnya.
01:08:58Thank you, De.
01:09:00Nah di Rossi on Location, Kampus Kompas TV di UMN,
01:09:04Dan kita ada Prof Bagus Mulyadi, seorang akademisi yang selalu ya bolak-balik Inggris, Jakarta memberikan banyak insight, inspirasi.
01:09:15Tidak saja tentang dunia pendidikan, sejarah.
01:09:18I think kamu banyak sekali memberikan banyak pencerahan soal ini.
01:09:22Ada seorang di Lestari, penulis, penyanyi yang banyak sekali yang karya yang bestseller.
01:09:28Juga ada alumni UMN, Novi, produksi film, produser film Jumbo, dan Naila ya.
01:09:37Nah kita sering, tadi kan dikatakan bahwa kita sering ingin mencari sesuatu dengan apa ya, imajinasi setinggi-tingginya.
01:09:46Saya percaya bahwa banyak dari teman-teman ini yang mengidolakan di Lestari,
01:09:51Menjadikan Prof Bagus Mulyadi juga sebagai panutan.
01:09:55Tapi seringkali juga kita punya banyak orang di sekitar kita yang bisa menjadi inspirasi kita.
01:10:04Saya mengundang seseorang, dia padahal ambil S1, S2, tapi hidupnya kembali ke kampung halaman.
01:10:11Seorang yang menjadi penggerak utama dibalik kesuksesan desa sejahtera Astra Bugisan.
01:10:17Desa ini tepatnya terletak di kawasan Prambanan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
01:10:22Dia adalah Rini Karyaningsi.
01:10:32Mbak Rini langsung dari Klaten ya?
01:10:36Iya, betul Kak.
01:10:37Dari Klaten ke Gading Serpong.
01:10:40Iya, tadi turun di Gambir.
01:10:42Mbak Rini coba terangkan dulu, Mbak Rini ini alumni apa?
01:10:46Alumni dari mana maksudnya?
01:10:48Oke, saya itu tinggal di desa tetapi saya alumni dari UGM.
01:10:55Wow.
01:10:56S1 saya jurusan peternakan, S2 saya jurusan fakultas ekonomi.
01:11:02Jadi tidak ada on tracknya, lintas-lintas fakultas seperti itu Kak.
01:11:09S1 peternakan UGM, S2 ekonomi UGM.
01:11:13Iya, betul.
01:11:14Kenapa kembali ke kampung untuk menjadi penggerak desa wisata?
01:11:21Karena saya tinggal di desa, desa Bugisan tepatnya.
01:11:27Desa Bugisan itu kalau saya melihat potensi luar biasa, apalagi sudah given kita ada candi gitu.
01:11:34Candi Pelawasan, tetapi candi itu belum berdampak pada masyarakat sekitarnya Kak Rosi.
01:11:43Jadi kita tuh sebagai penonton tamu yang datang ke candi aja, kita gak ada dampak apapun dari banyaknya tamu yang
01:11:52datang ke desa Bugisan.
01:11:54Dan kamu menolak kondisi itu, menolak untuk sekedar jadi penonton.
01:11:57Iya, betul. Dan muncul gagasan saya bagaimana ketika kita bisa berkolaborasi dengan masyarakat lokal untuk membangun perekonomian lokal itu lebih
01:12:13maju dengan adanya yang sudah given warisan budaya itu yang ada di Bugisan gitu.
01:12:19Mari ini saya mau tanya, dengan S2 Ekonomi kenapa kamu gak mencari perusahaan besar?
01:12:24Kenapa memilih kembali ke desa sejahtera?
01:12:27Kamu kan bisa saja melamar di...
01:12:30Iya, awalnya seperti itu. Saya tidak seperti mahasiswa pada umumnya.
01:12:36Saya setelah lulus itu mencoba mendaftar berbagai company ya, nasional maupun multinasional gitu.
01:12:42Tetapi memang dari situ banyak sekali peristiwa ketika saya mendaftar ini gak diterima.
01:12:52Banyak penolakan.
01:12:54Banyak penolakan dan itu levelnya sudah seleksi akhir wawancara seperti itu.
01:13:00Ada untuk level S2 loh.
01:13:01Iya, itu mungkin jadi keresahan kita semua setelah kita lulus, mendaftar, kemudian tidak diterima di berbagai perusahaan besar.
01:13:16Terus akhirnya saya sempat down juga Kak Ros.
01:13:19Nah dari situ mulai bangkit karena dukungan juga dengan orang tua.
01:13:24Orang tua sudah bekerja keras menyokolahkan saya dan kebetulan saya itu bukan mempunyai privilege yang tiba-tiba bisa mengenjam pendidikan
01:13:35tinggi.
01:13:35Boleh tahu orang tuanya?
01:13:37Orang tua saya itu backgroundnya adalah petani dan pedagang.
01:13:42Jadi memang di level masyarakat yang rendah gitu ya.
01:13:46Tetapi kerja keras orang tua saya itu bisa menghasilkan atau setidaknya mempunyai kebanggaan untuk anaknya bisa menyelolahkan sampai S2.
01:13:57Iya, pasti orang tuamu bangga sekali.
01:14:00Seorang petani bisa menyekolahkan anaknya sampai S2.
01:14:04Turis datang kan ke Prambanan, tapi kemudian ya datang foto-foto pulang, tidak berdampak pada keluarga sekitar.
01:14:12Kamu menjadi penggerak untuk membuat desa wisata supaya masyarakat di sekitaran desa Prambanan itu, di desa sejahtera Bugisan itu namanya
01:14:23ya, di Klaten, bisa menerima manfaat dari para turis yang datang.
01:14:28Apa yang Mbak Rini lakukan waktu itu?
01:14:31Dari situ Kak Rosy, sebenarnya saya itu melihat banyak sekali aktivitas yang masyarakat lakukan itu unik.
01:14:39Yang mungkin menurut kita itu adalah aktivitas yang sederhana, tetapi saya melihat itu potensi wisata itu tidak melulu kepada destinasi
01:14:53-destinasi yang memang sudah terbangun, terbentuk dengan luah.
01:14:58Justru kesederhanaan aktivitas masyarakat lokal itu yang saya angkat untuk menjadi daya tarik wisatawan yang masuk ke desa.
01:15:07Di desa saya itu banyak petani lokal, aktivitasnya menanam, memanen.
01:15:15Dan itu kami berembuk ya, mendiskusikan itu kepada RT, RW, Karang Taruna khususnya untuk bagaimana potensi-potensi yang ada di
01:15:29desa itu dikemas supaya menarik dan mendatangkan wisatawan yang belajar ke desa kami.
01:15:36Dan akhirnya itu menjadi sebuah paket-paket wisata yang berbasis pada pengalaman lokal, autentiknya ada.
01:15:46Apa yang Mbak Rini bikin? Yang autentik itu apa kalau wisata di desa itu?
01:15:50Nah banyak sekali, kami karena memang basenya adalah budaya ya Kak Ros, kami ada gerobak sapi, kemudian ada andong, kemudian
01:16:02memasak, memasak makanan lokal, kemudian membuat emping.
01:16:07Kami punya apa namanya, bagi UMKM itu ibu-ibunya banyak yang membuat emping, terus beternak, kemudian banyak kerajinan-kerajinan kayak
01:16:20memahat batu dan itu menjadi uniknya dari desa kami.
01:16:27Dan itu memberikan impact?
01:16:28Dan impact-nya sekarang tidak hanya ke desa itu saja, tetapi juga di sekitaran lingkungan itu pun juga kena impact
01:16:41seperti itu.
01:16:43Bagaimana apa yang paling berat untuk yang tadinya warga desa itu hanya jadi penonton, turis datang gak dapat apa-apa
01:16:49dan kemudian bisa membuat desa itu menjadi desa wisata?
01:16:52Apa yang paling berat diubah? Apakah mindset? Ataukah memang cara mengelola apa bisnisnya?
01:17:03Yang paling berat sebenarnya tantangannya banyak sekali untuk menjadikan sebuah desa itu sebagai destinasi wisata.
01:17:13Salah satu yang paling berat itu adalah mengubah mindset masyarakat itu sendiri.
01:17:18Bahwa masyarakat desa aktivitas yang sederhana itu perlu ditingkatkan kepercayaan dirinya masyarakat supaya itu tuh tidak hal yang biasa aja,
01:17:33hal yang begitu aja itu tuh bisa mendatangkan potensi, yang bisa mendatangkan pendapatan ekonomis juga seperti itu Kak.
01:17:42Pernah sebagai seorang penggerak pernah gak merasa ah capek deh nih gue sama sedulur-sedulur saya gitu.
01:17:51Capek kemudian berselisih paham, kemudian banyak diragukan, banyak yang diremehkan terkait dengan ide-ide nanti bikin ini bikin itu tuh.
01:18:06Sampai saat ini pun juga kalau kita mengembangkan inovasi masih seperti itu, tetapi itu bisa tereliminir ketika kita sudah membuktikannya
01:18:17dengan suatu hasil seperti itu Kak.
01:18:19Jadi awal dulu masyarakat itu menganggap remeh ya, apa sih ini, apa sih ini, dibuat paket apa sih ini, ribet
01:18:30banget, ngurusin tamu-tamu datang harus senyum gini-gini.
01:18:34Itu sesuatu hal yang masyarakat males gitu ya Kak, tapi dari situlah mulai kita menggandeng berbagai sektor ya, karang tarunnya,
01:18:48kemudian ibu-ibu PKK, kemudian UMKM setempat.
01:18:54Prosesnya tidak semua langsung berubah kayak gitu, gak langsung cepat itu butuh proses yang lama untuk membangun dan mengajak masyarakat
01:19:03untuk bisa satu frame bahwa ini bisa dijadikan destinasi wisata seperti itu.
01:19:08Memang gak gampang ya mengubah mindset orang, padahal ini untuk kebaikan bersama, tetapi mengajak orang untuk lelah bersama, tadi passion,
01:19:18berarti mau menderita bersama juga, itu gak gampang.
01:19:22Atau mau menderita untuk satu jalan yang kita yakini inilah yang baik.
01:19:27Teman-teman UMN dan Anda yang menyaksikan Rosy di Kompas TV, saya rasa hari ini kita dapat dari berbagai perspektif.
01:19:35Ada seorang asisten profesor di Nottingham University Inggris, sekolah dengan disiplin S1 ITB, S2, S3, dan terus bergelut di bidang
01:19:49akademisi, meneliti, terus melakukan kajian-kajian.
01:19:55Tapi ada juga seorang sarjana lulusan fakultas HI, para hiangan, ia menjadi seorang penulis luar biasa, karyanya semuanya hampir bisa
01:20:09dibilang best seller, meskipun moto hidupnya adalah stay low atau sederhana.
01:20:16Lalu ada alumni UMN, memang ia kiprahnya dari jalurnya adalah di film dan menjadi produser jumbo.
01:20:25Tapi ada juga seseorang yang bisa kita bilang, tadi ya memperkenalkan dirinya sebagai seorang putri petani.
01:20:33Tapi dari keluarga petani bisa S1 di UGM, S2 di UGM, mendapat banyak penolakan karena S2 UGM tidak juga menjamin
01:20:43bisa mendapat pekerjaan di perusahaan besar, ia kembali ke kampungnya, ke desanya dan menjadi penggerak wisata.
01:20:51Hari ini di panggung Rosy, kita mendapat banyak contoh tentang bagaimana kita ingin menjalani hidup kita.
01:21:00Semuanya berawal dari diri sendiri.
01:21:11Jadi gak bisa juga ya di, bahwa lu sekolah harus belajar ini, harus jadi seperti ini supaya akan jadi kayak
01:21:18begini.
01:21:18Tidak pernah ada timeline yang definitif dalam hidup ini.
01:21:23Sama sekali tidak ya.
01:21:24Dan teman-teman mungkin kalau ada satu hal yang ingin saya ingin ingatkan sekali lagi.
01:21:32Hidup itu adalah tempat kita meletakkan atensi.
01:21:37Jadi hati-hatilah dengan atensimu.
01:21:42Pastikan bahwa atensimu itu ada di tempat-tempat yang memang layak diperjuangkan.
01:21:48Terutama kalian masih sangat muda, jadi eksplorasilah sebanyak-banyaknya.
01:21:53But always keep in mind, cermati hal-hal yang saya bilang tadi.
01:22:00Gak ada yang nyuruh, tapi kok kamu mau coba terus ya gitu.
01:22:04Kamu mau menderita untuk itu, kamu mau susah untuk itu.
01:22:07Dan pelihara lah rasa ingin tahu, itulah yang akan membawamu berjalan sangat jauh ke depan.
01:22:12So, mumpung kalian masih muda, jadi jalankan apa yang kalian suka,
01:22:18tapi selalu nyalakan navigasi internal kalian.
01:22:21Jika memang ternyata, hmm ini dia nih gitu.
01:22:25Curigailah bahwa jangan-jangan di situ jalan hidupmu nanti gitu.
01:22:28Iya.
01:22:30Nof, sekaligus closing statement untuk adik-adikmu di UMN.
01:22:35Kalau aku sendiri juga percaya bahwa belajar itu tuh gak ada batasan umur,
01:22:40siapapun bisa terus belajar dan beranilah untuk terus bermimpi besar,
01:22:45dan ketika bekarya, bekaryalah dengan hati dan terus berbuat baik sih.
01:22:49Terima kasih.
01:22:51Mari ini.
01:22:53Kalau saya hidup itu memang tidak seperti apa yang kita fikirkan,
01:22:59seperti apa yang kita harapkan.
01:23:01Di dalam perjalanan hidup itu banyak transformasi-transformasi yang harus kita bergerak cepat,
01:23:07kemudian ambil tindakan, berani melangkah,
01:23:10dan harus banyak punya jejaring atau kolaborasi baik dengan mitra di berbagai sektor
01:23:19untuk mendukung manfaat banyak orang seperti itu.
01:23:24Dan ini Kak Rosi, saya tuh juga tidak menyangka sebenarnya desa wisata Mbugisan itu bisa sekeren sekarang,
01:23:33banyak program-program yang banyak mendatangkan wisatawan lokal maupun mancanegara,
01:23:39itu banyak dunggungan dari berbagai sektor juga.
01:23:43Dan bersyukur juga kita sampai saat ini itu masuk dalam desa sejahtera Astra
01:23:49yang memang itu sangat menjadi pemacu atau penggerak juga,
01:23:56atau dukungan dari swasta juga untuk membantukin.
01:23:59Itulah pentingnya jejaring sebenarnya.
01:24:02Kita gak mungkin bisa kerja sendiri,
01:24:05itu perlunya kita selalu memiliki networking,
01:24:09berjaring dengan orang-orang yang sama memiliki visi yang sama.
01:24:14Dan saya ingin kita tepuk tangan sekali lagi untuk seorang Rini,
01:24:18pegerak desa S2,
01:24:22tidak pernah salah untuk bisa kembali ke kampung halaman,
01:24:26membangun desanya.
01:24:27Terima kasih.
01:24:28Last but not least, Pak dosen,
01:24:31apa kuliah di akhir cepat ini?
01:24:35Iya, akalmu itu diciptakan untuk membuka rahasia langit,
01:24:41bukan untuk minta belas kasihan,
01:24:44untuk mencemooh orang.
01:24:48Dunia yang baru itu nanti lahir dari karyamu,
01:24:50bukan dari ruang sidang,
01:24:52bukan dari RUU,
01:24:53bukan dari penguasa.
01:24:58Anda bertindak ambil personal responsibility,
01:25:01gunung akan pindah,
01:25:03Indonesia akan jadi lebih baik.
01:25:06Terima kasih.
01:25:07Terima kasih Prof Bagus Mulyadi.
01:25:10Teman-teman terima kasih telah menyaksikan
01:25:12Rossi on Location di UMN.
01:25:14Kami tahu tidak mungkin kami bisa seharian ada di sini,
01:25:19paling tidak dari sedikit apa yang menjadi sharing Prof Bagus,
01:25:23Dilestari,
01:25:24Novia dan Rini,
01:25:26bisa memberikan sedikit banyak perspektif baru,
01:25:32bagi kalian semua yang meniti kehidupan.
01:25:36Tetapi percayalah,
01:25:37segala sesuatu itu akan tergantung dari bagaimana kamu menjalaninya.
01:25:44Sama seperti ketika,
01:25:46tadi saya senang banget dengarnya apa,
01:25:48akalmu itu untuk
01:25:51untuk membongkar rahasia langit.
01:25:54Bukan untuk ngeledek.
01:25:56Jadi,
01:25:57selamat menjalani hari-hari
01:25:59di mana kita menemukan passion
01:26:01dari seorang Dilestari,
01:26:03tetapi passion itu adalah tanda di mana kita berani menderita
01:26:07untuk menjalani atau hidup bersama passion itu.
01:26:10Terima kasih sekali lagi untuk para narasumber,
01:26:13Prof Bagus, Dilestari,
01:26:15Novia dan Rini.
01:26:18Terima kasih.
01:26:19Terima kasih.
01:26:20Terima kasih.
01:26:20Terima kasih.
01:26:20Terima kasih.
01:26:20Terima kasih.