Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Dewi Dee Lestari dikenal sebagai penulis sekaligus musisi.

Namun, siapa sangka, perempuan yang akrab disapa Dee ini justru menempuh pendidikan di bidang Hubungan Internasional dan meraih gelar sarjana ilmu politik.

Dewi mengaku, profesi yang dijalaninya saat ini sebenarnya merupakan hobi yang sudah ia tekuni sejak kecil.

Meski akhirnya tidak berkarier di bidang Hubungan Internasional, Dewi menyebut banyak ilmu dari bangku kuliah yang justru membantunya dalam menjalani profesi sebagai penulis.

Salah satunya adalah kemampuan menulis dan menyusun logika.

Dewi kemudian bercerita, semasa kuliah ia terbiasa menghadapi ujian yang menuntut kemampuan menyusun jawaban dengan logika dari berbagai pengetahuan yang dimilikinya.

Pengalaman tersebut, menurut Dewi, menjadi bekal penting hingga kemudian ia memutuskan untuk terus belajar melalui berbagai minat yang dimilikinya.

Dewi mengaku memiliki ketertarikan yang sangat beragam, mulai dari UFO, spiritualitas, fisika kuantum, supernova, hingga berbagai hal yang kemudian menjadi inspirasi dalam karya-karyanya.

Maka, Dewi menyadari dirinya mungkin memang harus menjadi pembelajar seumur hidup, meski tidak selalu melalui jalur pendidikan formal.



Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/wIPvkmOFm98



#dewilestari #bagusmuljadi #rosikompastv

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/687772/dewi-dee-lestari-ungkap-rahasia-jadi-penulis-fiksi-harus-masuk-akal-rosi
Transkrip
00:00Di, kalau misalnya sekarang Prof. Bagus sudah menjelaskan apa yang menjadi perspektifnya.
00:06Sebagai seorang penulis buku dan makin kesini makin banyak aja produktivitasnya.
00:13Merasa gak sih bahwa tadi Prof. Bagus bilang interdisipliner.
00:19Di adalah contoh seorang lulusan mahasiswa perahyangan.
00:24Iya.
00:25Belajarnya apa dan jadinya apa, bener ya?
00:27Iya, saya belajar hubungan internasional jadi secara formal titel saya sarjana ilmu politik.
00:36Tapi berakhir menjadi seorang penulis, musisi dan bisa dibilang profesi yang saya jalankan sekarang adalah hobi-hobi saya sejak kecil.
00:46Tapi saya mendapatkan banyak ilmu dari hubungan internasional.
00:52Kenapa? Karena di sana saya dipaksa untuk menulis.
00:55Jadi kalau di HI itu hampir semua ujiannya berupa SI.
01:00Jadi berbeda dengan jurusan di visip lainnya.
01:05Hanya hubungan internasional setidaknya saat itu di Unpar.
01:08Yang mungkin 90 persen ujiannya dalam bentuk SI.
01:13Jadi ketika saya tidak belajar atau tidak sempat belajar, kemampuan mengarang bebas saya dipaksa.
01:21Untuk memakai bahan apapun yang saya tahu lalu membuat semacam runtutan logika yang bisa diterima menjadi sebuah jawaban.
01:31Dan akhirnya berhasil meluluskan saya.
01:35Nah, tapi semakin ke sini saya pernah juga tuh Rosy di satu persimpangan lah ya ketika saya lulus S1.
01:46Saya sempat berpikir untuk S2 waktu itu.
01:49Kepikir untuk ngambil filsafat.
01:51Jauh elah.
01:53Sah ya.
01:54Tapi saya akhirnya mengurungkan niat saya.
01:57Kenapa?
01:58Karena saya menyadari betapa eklektiknya, betapa campur sarinya minat saya.
02:04Jadi minat saya tuh banyak banget.
02:06Mulai dari meneliti UFO sampai spiritualitas, sampai fisika kuantum, sampai...
02:17Betul.
02:18Kamu kan nulis apa aja?
02:19Ada petir, rektro, sampai kopi.
02:24Seri supernova, lalu filosofi kopi tentang kopi, madre tentang roti, lalu aroma karsa tentang penjiuman.
02:30Jadi akhirnya saya menyadari saya mungkin memang harus menjadi pembelajar seumur hidup.
02:35Walaupun tidak dalam jalur formal gitu ya.
02:39Dan menariknya menulis adalah setidaknya yang saya lakukan ya.
02:44Karena saya banyak menulis fiksi.
02:46Saya harus melakukan world building.
02:48Membangun sebuah dunia yang meyakinkan.
02:52Dipercaya orang seolah-olah itu nyata.
02:55Dan ini menariknya fiksi.
02:56Fiksi itu bermain di batas seolah-olah.
03:00Tidak faktual seperti kalau saya membuat novel sejarah misalnya gitu ya.
03:04Tapi harus tetap berpijak pada realitas.
03:07Terutama logika peristiwa.
03:09Itu gak bisa enggak.
03:10Banyak orang bilang hidup boleh gak masuk akal.
03:13Tapi fiksi harus masuk akal.
03:16Jadi di dalam menulis fiksi.
03:17Walaupun kita berimajinasi ya.
03:20Bisa liar banget kemana-mana.
03:22Tapi tetap berpikir kritis dan berpikir logis itu mutlak.
03:27Karena dari sanalah orang jadi bisa mengikuti cerita kita.
03:31Jadi logika itu sangat penting.
03:33Nah, di dalam menulis fiksi yang berbagai macam tema tersebut.
03:37Saya harus seolah-olah tahu banyak hal.
03:41Misalnya ketika Aroma Karsa gitu ya.
03:44Itu novel tentang penciuman.
03:47Penciuman manusia super.
03:49Artinya saya harus membayangkan kalau manusia super mencium dunia ini gitu ya.
03:54Pasti berbeda dengan saya.
03:55Saya harus membayangkan kalau anjing saya yang penciumannya 40 kali lipat daripada manusia.
04:01Itu pasti akan melihat realitas yang sama sekali berbeda.
04:05Nah, untuk itu saya jadi harus belajar banyak hal.
04:08Untuk Aroma Karsa misalnya.
04:10Saya belajar bikin parfum.
04:12Sampai harus kursus membuat parfum.
04:15Lalu saya harus ke tempat-tempat yang baunya ekstrim.
04:19Misalnya saya ke Bantar Gebang.
04:21Karena saya pikir mana lagi ya tempat paling bau di dunia ini.
04:24Di Indonesia lah gitu ya.
04:25Bisa saya kunjungi.
04:26Saat ini iya ya.
04:28Saat itu saya pikir oke.
04:30Saya pergi ke Bantar Gebang.
04:31Landfill terbesar di Indonesia gitu ya.
04:33Untuk tahu oh bau-bauannya seperti ini gitu kan.
04:36Lalu ada ekstrim lainnya ke pabrik parfum.
04:41Pabrik perawatan tubuh dan sebagainya.
04:44Yang semuanya sebab wangi-wangi.
04:45Novel fiksi ya.
04:46Novel fiksi gitu.
04:48Bahkan untuk novel fiksi saja dia riset.
04:51Harus.
04:52Dia membutuhkan penelitian.
04:54Dan tetap ada sainsnya di dalamnya.
04:58Jadi gak boleh bebas ngarang juga ya.
05:00Gak bisa.
05:01Satu contoh yang menarik adalah.
05:03Saya membuat satu tokoh.
05:04Padahal bukan tokoh utama.
05:06Dia pembalap mobil.
05:07Lalu pembalap mobil ini.
05:09Olinya bocor.
05:10Dicium oleh manusia yang benar penciuman super itu.
05:13Mbak Rosi.
05:13Itu saya harus meneliti.
05:15Apa saja di dalam oli mobil balap.
05:18Yang berbeda dengan oli mobil biasa.
05:20Yang berpotensi menimbulkan bau gitu ya.
05:23Jadi meskipun imajinatif.
05:25Tapi saya rasa banyak hal dalam bidang seni.
05:28Terutama kalau teman-teman ada yang tertarik ke dalam kepenulisan.
05:31Itu tetap kita dibutuhkan.
05:33Rasa ingin tahu.
05:34Rasa ingin belajar.
05:36Yang tidak habis-habis.
05:37Karena itulah modal untuk kita berkarya.
05:41Saya menarik satu poin dari D ya.
05:43Kita memang boleh.
05:45Karena D ini hobinya ngelamun dan berhayal.
05:48Iya lagi.
05:50Salah satu hobinya D itu begitu.
05:52Tetapi ketika dia punya imajinasi.
05:54Imajinasinya itu gak boleh tanpa basis.
05:57Gak boleh kosong.
05:59Betul.
05:59Jadi imajinasi itu juga tetap harus dilapisi.
06:03Dengan keinginan tahuan tentang apa yang sebenarnya faktualnya itu seperti apa.
06:09Supaya kalau kamu bikin fiksi itu tetap ada dasarnya kan.
06:13Betul.
06:13Karena itu yang akan menarik perhatian pembaca yang mengikat atensi mereka.
06:20Dan merasa bahwa gue bisa hanyut di dalam cerita ini.
06:24Karena mereka masuk ke dalam sebuah dunia yang meyakinkan.
06:28Nah itu tadi.
06:28Nof kalau membuat jumbo itu kan biasanya seniman itu menghasilkan karya yang hebat itu dari rasa pilu.
06:38Dari atau misalnya hal yang paling dekat dengan Kompas TV aja.
06:42Komika itu semakin dia lucu itu sebenarnya karena dia pernah punya perasaan yang terluka.
06:51Jadi tapi dia sudah jadi dia memulihkan dirinya dengan stand up komedi.
06:56Apakah membuat film juga itu bagian dari sesuatu yang ingin memulihkan?
07:02Ya ketika kita bikin karya memang pasti sesuatu yang akan bisa relevan dengan semua orang adalah keresahan kan.
07:10Pasti bermula dari keresahan.
07:12Sama seperti kenapa kami sendiri dari film sinema membuat jumbo gitu.
07:16Awal mulanya adalah berangkat dari keresahan bagaimana di Indonesia sendiri sangat sedikit sekali adanya tontonan yang baik untuk anak dan
07:24keluarga Indonesia.
07:25Memulai dari situlah bahwa kami berkomitmen untuk fokus kita menghasilkan karya yang bisa dinikmati.
07:31Gak hanya cuman menghibur untuk anak-anaknya.
07:33Tapi orang dewasa pun juga bisa ikut menikmati karya tersebut.
07:38Kemudian hadirlah salah satunya dengan ide jumbo ini sendiri.
07:41Jumbo sendiri juga melewati proses yang cukup panjang ya dengan lebih dari 5 tahun.
07:45Tapi sebenarnya value utama yang mau kami hadirkan adalah bahwa film jumbo ini film yang bisa dinikmati untuk kita, anak
07:53-anak kita dan anak-anak di dalam diri kita.
07:55Jadi berangkat dengan keresahan itu bagaimana.
07:58Karena anak-anak gak punya tontonan yang bermutu ya.
08:00Betul ditambah dengan bahwa orang dewasa sendiri pun sebenarnya kita masih punya jiwa anak-anak di dalam diri kita loh
08:06yang bisa kita embrace gitu.
08:08Inner child ya.
08:09Ada keresahan, ada situasi yang sebenarnya ingin diubah.
08:15Itu menghasilkan satu karya.
08:17Rasanya kalau kita bicara situasi sekarang, situasinya memang tidak mudah.
08:23Ada teman-teman mahasiswa UMN, ada yang baru masuk, ada yang sudah lulus ujian.
08:29Kalau melihat headline kompas beberapa waktu lalu menyadur dari BPS, itu lulusan S1 hingga S3 yang menganggur itu sudah tembus
08:41lebih dari 1 juta.
08:43Dan itu presentasinya adalah sekitar 11 atau 12 persen dari total penganggur di Indonesia.
08:49Jadi saya bisa ikut merasakan bagaimana anak muda sekarang itu berada dalam situasi yang cukup mencemaskan.
08:59Buat apa sekolah susah-susah, UMN lagi pasti uang kuliahnya gak murah, ketawa.
09:07Tapi kan terus mau apa kalau di depan mata masih ada 1 juta yang menganggur.
09:14Bagaimana Prof Bagus melihat situasi ini bahwa anak muda ini memang berhak untuk cemas, berhak untuk ya marah.
09:24Berkewajiban untuk marah sebenarnya bukan hanya berhak.
09:27Sekarang lebih parah dulu saya IPK-nya 2,6.
09:306,9. By the way diceritain dulu Prof Bagus, di ITB itu termasuk sangat-sangat tidak pintar.
09:37Gak tau kalau dikonversi ke UMN berapa Pak?
09:41Gak betul gak pintar, gak bakal dapat kerja itu.
09:44Gak mungkin dapat kerja ya?
09:46Itu tergolong under value kalau saham ya.
09:51Tadi saya di back room sebelum kemarin ngobrol sama Mbak Rosi,
09:56udah baca belum bukunya Mbak Adi Lestari yang baru, Meteorite kalau gak salah ya.
09:59Saya belum baca tapi dikasih tau bahwa...
10:03Midpoint, sorry.
10:04Karena belum baca jadi gak tau.
10:06Tapi saya tau tadi poinnya adalah tentang ketidakpastian.
10:09Betul gak?
10:10Betul ya.
10:12Keacakan, randomness, ketidakpastian.
10:17Pendidikan, Anda sekarang sedang mengenyam pendidikan tinggi.
10:20Pendidikan itu kata dasarnya itu apa?
10:24Education dalam bahasa Inggris, etimologisnya apa?
10:26Ada dua, edukare dan educere.
10:30Edukare itu membuat imprint, nyetak sama percis anaknya dari bapaknya.
10:36Jadi caranya diajarin, suruh afalin, kalau salah digebuk gitu ya.
10:42Itu namanya edukare.
10:44Educere itu artinya itu membawa keluar dari kegelapan.
10:50Menunggangi ketidakpastian.
10:53Mengkapitalisasi chaos.
10:56Itu salah satu dari definisi pendidikan.
11:01Anda di tahun pertama pasti belajarnya matematik murni, kimia murni, atau ilmu-ilmu dasar.
11:09Tahun kedua pasti rada-rada interdisipliner tuh.
11:13Kalau engineering belajar mekanika fluida.
11:15Mekanika fluida itu kimia, matematik, fisika jadi satu.
11:18Betul gak?
11:19Tahun ketiga, tahun keempat masuklah itu filosofi.
11:23Ekonomi.
11:24Sosial.
11:25Tujuannya apa sih?
11:27Supaya Anda bisa siap dalam ketidakpastian.
11:30Karena dunia yang akan Anda hadapi empat tahun, kalau saya lima tahun main counter strike terus soalnya.
11:36Itu tidak bisa diprediksi.
11:38Dulu tahun sembilan puluhan, bahkan dua ribu.
11:41Keluar seperti apa bisa diprediksi.
11:44Sekarang tidak ada bisa diprediksi.
11:46Jadi kalau Anda selama empat tahun itu tidak bisa nyaman dengan ketidakpastian.
11:53Anda akan disikat sama sekarang jurusan-jurusan yang keluarin mahasiswa lebih banyak dari zaman saya.
12:00Terima kasih.

Dianjurkan