00:01Dan Anda merasa bahwa Anda bisa menjadi pembersih para koruptor dari sarang istana?
00:11Apa itu enggak agak...
00:12Bukan saya merasa, saya ingin lakukan itu.
00:16Too much enggak sih, Bung Roki? Lebay enggak sih?
00:18Sedikit, bahkan.
00:20Orang-orang munafi kan banyak di istana.
00:24Bahasa-basi atas dasar feudalisme itu, enggak ada itu.
00:30Kalau korupsi itu mesti disebut, lu koruptor itu, maling.
00:34Kalau maling ya itu karena kebutuhan dasar.
00:36Ini koruptor artinya orang yang enggak tahu diri.
00:39Udah punya jabatan, enggak ada kekurangan uang, masih nyolong uang negara.
00:43Itu kan, itu mesti jadi headline benar-benar.
00:47Bukan sekedar headline di KPK, berani jujur itu hebat.
00:52Itu enggak hebat orang jujur itu.
00:54Guru pasti jujur, jurnalis pasti jujur, pembuka agama pasti jujur, dosen pasti jujur.
00:58Enggak hebat-hebatnya.
01:00Jadi di istana mesti itu, ini sarang koruptor.
01:06Ada pengakuan?
01:07Ya harus begitu.
01:08Dan Presiden bilang berkali-kali kok, memang...
01:15Masuk atas kesadaran sendiri, dan juga untuk memberikan saran kritis pada Presiden.
01:21Etis.
01:23Presiden segeri selalu mengatakan bahwa soal kebocoran, soal bagaimana uang kita justru dibawa lari, maka akan dibenahin, soal-soal under
01:33invoicing, inefficiency.
01:36Tapi pada saat yang bersamaan juga ada kabinet yang jauh lebih besar, atau orang mengatakan kabinet yang gemuk, pergantian reshuffle
01:46juga penambahan-penambahan orang.
01:47Di mana dasar etisnya?
01:50Ketika bicara soal efisiensi, tapi di saat yang bersamaan juga membentuk nomenklatur yang justru jauh lebih besar.
01:58Ya dia mungkin pemborosan di situ, tetapi kalau orangnya bersih kan agak-agak korupsi.
02:02Kan trade-offen begitu, mau dibikin simple, tapi isinya koruptor, atau dibikin agak gede, tetapi orang yang terpercaya itu.
02:10Dan mungkin juga belum sempurna.
02:12Ini kan dua tahun ini itu perjanjian politik membatalkan keinginan Presiden untuk mengatur sendiri itu.
02:20Karena ada etika, ini kan perjanjian.
02:24Kan kalau menteri dari partai G diganti, maka harus diganti dari partai G juga.
02:32Nah sekarang diperlebar sebetulnya itu problem efisiensi itu.
02:38Efisiensi di dalam menjaga konsulasi politik, tetapi mungkin boros secara anggaran.
02:45Ya udah, itu pasti terjadi konsekuensinya kan.
02:48Tapi yang penting tidak ada korupsi di situ, itu dulu kan.
02:51Kan yang diomelin publik adalah koruptor.
02:54Nah makin lama publik mengkaitkan, berarti nambah orang kabinet koruptor juga.
03:00Bukan lain lagi itu.
03:02Tetapi udah terbentuk pada publik, bahwa kabinet itu istilahnya korupsi.
03:06Ditambah, dikurangi tetap korupsi itu.
03:08Itu benar.
03:10Persepsi, bukan lagi persepsi, indikasi publik itu betul.
03:13Ya, linear.
03:14Ya.
03:14Hanya kan memang ketika sejak awal dikatakan soal efisiensi, tapi tidak secara praktis itu menunjukkan efektif dan efisiensi.
03:25Itu kan juga paradoks.
03:28Ya, gini-gini.
03:30Efisien itu kalau cuma dua orang.
03:33Oke.
03:34Kalau tambah satu masih efisien.
03:37Tambah tiga, ya mungkin gak efisien lagi.
03:39Kan kita masuk dalam prinsip ekonomi itu.
03:43Namanya.
03:47Law of diminishing return.
03:49Begitu ditambah,
03:51kalau satu lahan dikerjakan oleh dua orang itu tidak produktif.
03:56Kalau lahan 100 meter dikerjakan lima orang masih tidak.
03:59Dikerjakan 10 orang efektif.
04:00Dikerjakan 100 orang gak efektif.
04:02Karena saling injak kaki di situ kan.
04:04Jadi ada batas buat mengukur itu.
04:06Oke, kalau gitu aku tanya Bung Roky.
04:09Tapi sebenarnya dengan jumlah kabinet, lembaga yang dibentuk.
04:13Bung Roky sendiri merasa bahwa ini radical break?
04:16Atau justru sebenarnya sesuatu yang nanti Anda akan bisikan dua detik sebelum Presiden memutuskan?
04:24Ya, buat sekarang kan rekrutmen akhirnya.
04:29Oh ini tentara, yang ini kalangan yang dia kenal tuh.
04:34Ya gak ada supply dari luar.
04:35Bagaimana coba?
04:36Puter-puter orangnya itu juga coba.
04:39Itu masalahnya di situ.
04:41Jadi mengganti itu,
04:43walaupun dia parsial,
04:44tapi dilihat keseluruhan,
04:46dia radical break.
04:47Karena idenya berubah tuh.
04:49Soalnya pasien.
04:50Anda melihat sudah salah satu cara yang bisa,
04:52message yang sedang ingin dinyatakan adalah independensi seorang Presiden Prabowo.
04:59Mengurangi ketergantungan pada kontrak-kontrak politik yang bersifat elektoral.
05:06Ya, tapi kemudian ya kenapa yang masuk tentara?
05:09Ya dipekerjakannya tentara di situ kan.
05:11Nanti kalau dia korupsi, ya diganti aja kan.
05:14Kan Presiden teman-teman yang tentara itu yang pangkat-pangkat tinggi itu yang dikasih japatan,
05:19kan diganti semua kan.
05:20Ada yang dibui bahkan.
05:21Jadi bukan itu isunya.
05:24Isunya adalah kita ingin Presiden betul-betul otentik menjalankan wilayah kekuasaan dia.
05:31Kita ingin Kabinet menjalankan visi dan cara berpikir Presiden.
05:36Sekarang gak ada tuh.
05:38Gak ada Menteri yang mampu tampil ke publik menjelaskan kebijakan negara.
05:44Akibatnya apa?
05:46Presiden mengambil alik Kabinet.
05:49Jadi Presiden jadi juru bicara Kabinet sekarang kan.
05:52Ya karena Kabinetnya ngaco semua kan.
05:55Ya karena itu diganti-ganti dong.
05:57Termasuk lembaga, orang-orang tertentu.
06:01Jadi memang saya lihat bahwa Presiden tidak mungkin lakukan sesuatu secara total.
06:06Karena itu artinya shutdown Kabinetnya berhenti bekerja.
06:10Mesti peace meal, apapun itu ada elemen of pragmatism.
06:16Ada elemen of surprise.
06:18Tetapi bulan ini terlihat secara kualitatif Kabinet itu akan dirompak.
06:25Dan saya bisa bikin prediksi selama bulan Oktober ini akan ada berkali-kali radical break.
06:34Oh ya?
06:35Ya itu namanya prediksi.
06:37Prediksi yang harus terjadi dan saya inginkan terjadi.
06:41Dua detik sebelum itu di ucapkan oleh Presiden.
06:45Terima kasih.
06:46Terima kasih.
06:47Terima kasih.
06:48Terima kasih.