00:00Ikut merasakan gak sih gregetnya masyarakat tentang penanganan kebakaran hutan, kabut asap yang lama sekali tidak tertangani.
00:11Dan tidak ada penjelasan yang lengkap, yang komprehensif tentang apa saja yang sudah dilakukan.
00:18Dan challenge apa yang sedang dihadapi sehingga memang kita masih butuh waktu.
00:24Merasakan gak sih greget?
00:25Saya merasakan, karena itu Presiden kemarin ambil inisiatif untuk menambah polisi hutan itu, 70 ribu.
00:34Tapi teknologinya kan belum bisa dipakai serentak itu.
00:38Karena itu, mesti ada voluntarisme dari publik untuk ikut memadamkan itu, bukan ngoce-ngoce doang kan.
00:43Tentu Jakarta gak mungkin, tapi yang kalangan pencinta alam.
00:48Dua bulan lalu saya ikut memadamkan api di Siak.
00:53Saya ikut.
00:54Real.
00:55Bawa itu tuh, hanya untuk memperlihatkan bahwa, ya mungkin karena saya pencinta alam, pendaki gunung, segala macam, saya bisa lakukan
01:02itu.
01:03Tetapi edukasi itu mesti dimulai dari sekarang.
01:06Karena nanti tahun depan juga akan ada.
01:07Tapi buat hari-hari ini, itu serangan internasional pada Indonesia itu luar biasa.
01:12Dan ada satu hal sebetulnya, prinsip.
01:15Kalau ada asap lintas batas, maka negara yang terpapar dampak itu juga berkewajiban untuk membantu sebetulnya.
01:28Tetapi kan masih ada cekcok, ya sedikit nasionalisme itu antara Indonesia dengan Malaysia, Indonesia dengan Singapura.
01:35Yang mesti diselesaikan dengan prinsip bahwa ini adalah planet bersama.
01:41Dan sesat nafas orang Kalimantan sama dengan sesat nafas orang Malaysia, sama dengan sesat nafas di Kulalumpur atau di Singapura.
01:51Jadi kita selesaikan dulu itu dengan bahas, oke kami minta maaf, memang ada kebakaran dan itu adalah fenomena alam.
01:57Ada tuh kata permintaan maaf.
01:59Itu yang lagi ditunggu oleh publik internasional tuh.
02:03Yang keluar dari pemerintah Indonesia kan maksudnya?
02:05Ya, harusnya keluar dari pemerintah Indonesia.
02:06Tapi kan sinyal bahwa pemerintah bekerja keras habis-habisan untuk menyelamatkan mereka yang tewas di hutan-hutan Kalimantan, orang hutan,
02:17habitat, hancur itu kan.
02:19Itu dilakukan.
02:22Nah, publik menunggu.
02:24Tapi bukan jangan sekedar menunggu, dia bantuin juga pemerintah daerah kan.
02:30Itu yang saya anjurkan.
02:32Bu Roki kan banyak juga seruan.
02:36Udah ini jadikan status bencana nasional.
02:38Yang terbaru adalah gerakan nurani bangsa.
02:41Untuk status bencana nasional.
02:44Kenapa ini selalu menjadi bagian yang sepertinya pemerintah itu reluctant?
02:49Atau seperti tidak terlalu rela menjadikan ini status bencana nasional?
02:56Apakah karena tidak ingin ada bantuan internasional masuk?
02:59Sehingga kemudian bisa ada sesuatu yang mengindikasikan di luar bantuan kemanusiaan?
03:07Pertanyaan saya gini, setuju gak sih jadi status bencana nasional karena hutlah itu?
03:11Ya, saya setuju.
03:12Setuju.
03:12Kenapa sampai sekarang itu tidak ditetapkan?
03:14Kan ini kabinet ada macam-macam isi di dalamnya tuh.
03:19Kalau saya sebagai One Team Press, Oversight Committee, kita udah bicara di One Team Press.
03:25Ini sebaiknya pakai prinsip internasional, saling membantu tuh.
03:30Asap yang kita kirim itu menyakiti paru-paru negara tetangga.
03:35Tapi juga kita yang paling parah paru-paru karena kita yang kiri-kiri pertama itu dampaknya ada di sana tuh.
03:41Tapi percakapan ini kan memerlukan sinyal politik luar negeri, sinyal diplomasi, segala macam itu.
03:47Dan mungkin belum dapat sinyal itu, tetapi pemerintah pasti akan lakukan itu.
03:52Pertama-tama ya tunjukkan lu pada dunia internasional bahwa kami bekerja keras.
03:57Dan Presiden kemarin mungkin 5-7 jam itu bicara soal itu tuh.
04:02Jadi impak kebijakannya sudah dibuat, tetapi kita selalu lihat bahwa, bukan kita selalu lihat, kita mesti lihat potensi kita diserang
04:12itu betul-betul tinggi.
04:14Dan kadang-kadang tidak ada basis akademisnya tuh.
04:16Pokoknya hajar Indonesia, bahwa Indonesia itu merusak lingkungan.
04:20Memang faktanya itu.
04:21Kan kerusakan lingkungan kan disebabkan oleh kerakusan yang disebut oleh Prabowo sebagai serakonomik.
04:29Menunjukkan serakonomik itu dimulai dengan Pak Jumkur menghukum mereka yang merusak lingkungan.
04:36Mungkin sudah 200 perusahaan yang ditutup.
04:39Bako mulai mengoperasikan dashboard itu supaya selalu tahu apa yang mesti dialamatkan.
04:49Tiba-tiba membesar lagi suasana itu, diserang kiri-kanan.
04:53Jadi prinsipnya, putting people first.
04:58Putting humanity first.
05:00Nah untuk menerangkan itu, ya itu kebijakan kabinet.
05:03Tadi soalnya, aku gak mau interrupt, tapi kita diserang secara internasional.
05:09Malaysia, Singapur juga sudah cukup mengeluarkan statement yang memberikan alert pada kita bahwa ini berbahaya.
05:16Tapi kadang-kadang justru respons yang diberikan oleh pejabat kita itu justru mengedepankan nasionalisme.
05:25Padahal dasarnya memang ada problem di kita.
05:30Gini, soal ekologi itu gak ada nasionalisme di situ.
05:33Exactly.
05:33Kita disiksa sama-sama oleh kerakusan kita pada ibu bumi itu intinya.
05:38Kan kita merusak rahim ibu bumi itu.
05:40Nah reaksi pertama pada kita, reaksi kedua ya lingkungan sekitarnya.
05:44Jadi paradigma itu yang saya selalu bilang, ini kabinetnya gak ngerti paradigma itu.
05:49Kenapa?
05:50Ya ini hasil transaksi kabinet transaksional.
05:53Transaksi apa?
05:54Transaksi politis, bukan transaksi etis.
05:56Nah Presiden berupaya untuk membaca itu dan dengan sangat hati-hati berupaya untuk oke kita siapkan dulu perataan dalam negeri,
06:06kita lakukan yang maksimal.
06:08Di ujungnya bantuan internasional mesti dianggap sebagai diplomasi persahabatan, bukan adu-adu nasionalisme.
06:15Itu poinnya di situ.
06:17Dan saya kira Pak Presiden mengerti itu dan akan lakukan itu dalam beberapa hari ke depan.