Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Anggota Dewan Pertimbangan Presiden, Rocky Gerung, menyoroti penanganan kebakaran hutan dan lahan yang menyebabkan kabut asap.

Rocky juga menyoroti dampak kabut asap lintas batas yang memicu persoalan antara Indonesia dan negara tetangga, seperti Malaysia dan Singapura.

Menurut Rocky, negara yang terdampak kabut asap juga memiliki kewajiban untuk membantu penanganannya.

Rocky menilai persoalan kabut asap perlu diselesaikan dengan mengedepankan kerja sama, bukan terjebak dalam perdebatan nasionalisme.

"Yang mesti diselesaikan dengan prinsip bahwa ini adalah planet bersama. Sesat nafas orang Kalimantan sama dengan sesak nafas orang Malaysia," katanya.

Selain mendorong langkah diplomatik, Rocky mengajak masyarakat untuk terlibat dalam upaya penanganan kebakaran hutan.

Ia mengungkapkan pernah ikut memadamkan api di Siak dua bulan sebelumnya dan menekankan pentingnya edukasi publik untuk menghadapi karhutla yang berpotensi kembali terjadi.

Bagaimana menurut Anda? Tuliskan di kolom komentar.

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/bhVcHeFlw1w

Baca Juga Bakom Jelaskan Agenda Pertemuan Kabinet di Istana Bogor, Bantah Rayakan Ultah Prabowo di https://www.kompas.tv/nasional/696493/bakom-jelaskan-agenda-pertemuan-kabinet-di-istana-bogor-bantah-rayakan-ultah-prabowo

#rockygerung #wantimpres #presidenprabowo

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/696502/soroti-kabut-asap-dan-ajak-publik-berpartisipasi-rocky-gerung-ini-planet-bersama-rosi
Transkrip
00:00Ikut merasakan gak sih gregetnya masyarakat tentang penanganan kebakaran hutan, kabut asap yang lama sekali tidak tertangani.
00:11Dan tidak ada penjelasan yang lengkap, yang komprehensif tentang apa saja yang sudah dilakukan.
00:18Dan challenge apa yang sedang dihadapi sehingga memang kita masih butuh waktu.
00:24Merasakan gak sih greget?
00:25Saya merasakan, karena itu Presiden kemarin ambil inisiatif untuk menambah polisi hutan itu, 70 ribu.
00:34Tapi teknologinya kan belum bisa dipakai serentak itu.
00:38Karena itu, mesti ada voluntarisme dari publik untuk ikut memadamkan itu, bukan ngoce-ngoce doang kan.
00:43Tentu Jakarta gak mungkin, tapi yang kalangan pencinta alam.
00:48Dua bulan lalu saya ikut memadamkan api di Siak.
00:53Saya ikut.
00:54Real.
00:55Bawa itu tuh, hanya untuk memperlihatkan bahwa, ya mungkin karena saya pencinta alam, pendaki gunung, segala macam, saya bisa lakukan
01:02itu.
01:03Tetapi edukasi itu mesti dimulai dari sekarang.
01:06Karena nanti tahun depan juga akan ada.
01:07Tapi buat hari-hari ini, itu serangan internasional pada Indonesia itu luar biasa.
01:12Dan ada satu hal sebetulnya, prinsip.
01:15Kalau ada asap lintas batas, maka negara yang terpapar dampak itu juga berkewajiban untuk membantu sebetulnya.
01:28Tetapi kan masih ada cekcok, ya sedikit nasionalisme itu antara Indonesia dengan Malaysia, Indonesia dengan Singapura.
01:35Yang mesti diselesaikan dengan prinsip bahwa ini adalah planet bersama.
01:41Dan sesat nafas orang Kalimantan sama dengan sesat nafas orang Malaysia, sama dengan sesat nafas di Kulalumpur atau di Singapura.
01:51Jadi kita selesaikan dulu itu dengan bahas, oke kami minta maaf, memang ada kebakaran dan itu adalah fenomena alam.
01:57Ada tuh kata permintaan maaf.
01:59Itu yang lagi ditunggu oleh publik internasional tuh.
02:03Yang keluar dari pemerintah Indonesia kan maksudnya?
02:05Ya, harusnya keluar dari pemerintah Indonesia.
02:06Tapi kan sinyal bahwa pemerintah bekerja keras habis-habisan untuk menyelamatkan mereka yang tewas di hutan-hutan Kalimantan, orang hutan,
02:17habitat, hancur itu kan.
02:19Itu dilakukan.
02:22Nah, publik menunggu.
02:24Tapi bukan jangan sekedar menunggu, dia bantuin juga pemerintah daerah kan.
02:30Itu yang saya anjurkan.
02:32Bu Roki kan banyak juga seruan.
02:36Udah ini jadikan status bencana nasional.
02:38Yang terbaru adalah gerakan nurani bangsa.
02:41Untuk status bencana nasional.
02:44Kenapa ini selalu menjadi bagian yang sepertinya pemerintah itu reluctant?
02:49Atau seperti tidak terlalu rela menjadikan ini status bencana nasional?
02:56Apakah karena tidak ingin ada bantuan internasional masuk?
02:59Sehingga kemudian bisa ada sesuatu yang mengindikasikan di luar bantuan kemanusiaan?
03:07Pertanyaan saya gini, setuju gak sih jadi status bencana nasional karena hutlah itu?
03:11Ya, saya setuju.
03:12Setuju.
03:12Kenapa sampai sekarang itu tidak ditetapkan?
03:14Kan ini kabinet ada macam-macam isi di dalamnya tuh.
03:19Kalau saya sebagai One Team Press, Oversight Committee, kita udah bicara di One Team Press.
03:25Ini sebaiknya pakai prinsip internasional, saling membantu tuh.
03:30Asap yang kita kirim itu menyakiti paru-paru negara tetangga.
03:35Tapi juga kita yang paling parah paru-paru karena kita yang kiri-kiri pertama itu dampaknya ada di sana tuh.
03:41Tapi percakapan ini kan memerlukan sinyal politik luar negeri, sinyal diplomasi, segala macam itu.
03:47Dan mungkin belum dapat sinyal itu, tetapi pemerintah pasti akan lakukan itu.
03:52Pertama-tama ya tunjukkan lu pada dunia internasional bahwa kami bekerja keras.
03:57Dan Presiden kemarin mungkin 5-7 jam itu bicara soal itu tuh.
04:02Jadi impak kebijakannya sudah dibuat, tetapi kita selalu lihat bahwa, bukan kita selalu lihat, kita mesti lihat potensi kita diserang
04:12itu betul-betul tinggi.
04:14Dan kadang-kadang tidak ada basis akademisnya tuh.
04:16Pokoknya hajar Indonesia, bahwa Indonesia itu merusak lingkungan.
04:20Memang faktanya itu.
04:21Kan kerusakan lingkungan kan disebabkan oleh kerakusan yang disebut oleh Prabowo sebagai serakonomik.
04:29Menunjukkan serakonomik itu dimulai dengan Pak Jumkur menghukum mereka yang merusak lingkungan.
04:36Mungkin sudah 200 perusahaan yang ditutup.
04:39Bako mulai mengoperasikan dashboard itu supaya selalu tahu apa yang mesti dialamatkan.
04:49Tiba-tiba membesar lagi suasana itu, diserang kiri-kanan.
04:53Jadi prinsipnya, putting people first.
04:58Putting humanity first.
05:00Nah untuk menerangkan itu, ya itu kebijakan kabinet.
05:03Tadi soalnya, aku gak mau interrupt, tapi kita diserang secara internasional.
05:09Malaysia, Singapur juga sudah cukup mengeluarkan statement yang memberikan alert pada kita bahwa ini berbahaya.
05:16Tapi kadang-kadang justru respons yang diberikan oleh pejabat kita itu justru mengedepankan nasionalisme.
05:25Padahal dasarnya memang ada problem di kita.
05:30Gini, soal ekologi itu gak ada nasionalisme di situ.
05:33Exactly.
05:33Kita disiksa sama-sama oleh kerakusan kita pada ibu bumi itu intinya.
05:38Kan kita merusak rahim ibu bumi itu.
05:40Nah reaksi pertama pada kita, reaksi kedua ya lingkungan sekitarnya.
05:44Jadi paradigma itu yang saya selalu bilang, ini kabinetnya gak ngerti paradigma itu.
05:49Kenapa?
05:50Ya ini hasil transaksi kabinet transaksional.
05:53Transaksi apa?
05:54Transaksi politis, bukan transaksi etis.
05:56Nah Presiden berupaya untuk membaca itu dan dengan sangat hati-hati berupaya untuk oke kita siapkan dulu perataan dalam negeri,
06:06kita lakukan yang maksimal.
06:08Di ujungnya bantuan internasional mesti dianggap sebagai diplomasi persahabatan, bukan adu-adu nasionalisme.
06:15Itu poinnya di situ.
06:17Dan saya kira Pak Presiden mengerti itu dan akan lakukan itu dalam beberapa hari ke depan.

Dianjurkan