Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
PALANGKA RAYA, KOMPAS.TV - Usai dua hari diguyur hujan, kabut asap di Palangka Raya terpantau menipis dengan jarak pandang berkisar 400 meter.

Meski kabut asap menipis, kualitas udara di Palangka Raya masih dalam kategori berbahaya. Warga masih menggunakan masker guna menghindari ancaman gangguan pernapasan.

Dan inilah visual pantauan udara terkini di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Dalam visual terlihat asap masih menyala di beberapa bagian lahan yang berdekatan dengan jalan raya.

Diketahui dua hari lalu hujan sempat mengguyur wilayah Palangka Raya yang berdampak pada menipisnya kabut asap.

Lebih lengkapnya, kita bahas bersama relawan yang hingga saat ini terus berupaya memadamkan karhutla di Palangka Raya.

Baca Juga FULL! BPBD Update Soal Peta Sebaran Asap Karhutla: Sudah Tidak Terdeteksi di Jakarta di https://www.kompas.tv/regional/696535/full-bpbd-update-soal-peta-sebaran-asap-karhutla-sudah-tidak-terdeteksi-di-jakarta

#panagkaraya #kabutasap #karhutla #hujan

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/696536/full-relawan-ceritakan-upaya-pemadaman-karhutla-dan-penanganan-kabut-asap-di-palangka-raya
Transkrip
00:00Saudara Kalimantan Tengah, Kabupat, maksud kami kabut asap dan pakar hutlah menipis dibandingkan dengan hari sebelumnya disebabkan hujan yang turun
00:09dalam dua hari terakhir.
00:10Namun hanya di beberapa wilayah saja.
00:16Lantaran hujan yang tidak merata, sebagian wilayah lainnya masih tertutup kabut asap pekat, terutama di wilayah dekat titik api.
00:26Walau kabut asap menipis di sebagian wilayah, namun kualitas udara di kota Palangkaraya masih dalam level sangat tidak sehat.
00:35Warga Dimbau tetap menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan.
00:53Dan inilah saudara visual pantauan udara terkini di Palangkaraya, Kalimantan Tengah.
00:58Dalam visual terlihat asap masih menyala di beberapa bagian lahan yang berdekatan dengan jalan raya.
01:04Diketahui dua hari lalu hujan sempat mengguyur wilayah Palangkaraya yang berdampak pada menipisnya kabut asap.
01:12Meski begitu kondisi udara masih dalam kategori berbahaya.
01:25Dan kini saudara kita pantau situasi kabut asap di Palangkaraya, Kalimantan Tengah bersama jurnalis Kompas TV.
01:32Ada Zahwa Majid dan juru kamera Bimo Wicaksana.
01:35Zahwa selamat siang bagaimana situasinya di sana dan bisa Anda jelaskan ini tepatnya Anda sedang memantau dari mana?
01:50Ya Putu dan juga saudara saat ini saya memantau dari Palangkaraya di Kalimantan Tengah.
01:59Lebih tepatnya di jalan di salah satu wilayah pemukiman warga.
02:04Bisa terlihat di belakang saya masih dilakukan upaya pemadaman.
02:08Tadi juga sempat ada kobaran api besar di belakang saya namun sudah berhasil dipadamkan.
02:14Namun kendati api besar sudah dipadamkan masih terlihat di belakang saya kabut asap masih bermunculan dari permukaan tanah.
02:23Dan jika dilihat di sebelah sini akan ditunjukkan oleh juru kamera Kompas TV Bimo Wicaksana bahwa
02:30lokasi kebakaran karhutlah ini tepat di belakang pemukiman warga.
02:38Ini ada rumah warga di belakang lokasi pemadaman.
02:43Jadi memang tak hanya di dekat jalan raya dan juga di wilayah-wilayah lainnya namun juga di sekitar pemukiman warga
02:52bahkan jaraknya tidak lebih dari 100 meter juga dilakukan pemadaman wilayah-wilayah yang terdampak oleh karhutlah.
03:02Dan di sini juga sudah ada relawan-relawan yang melakukan pemadaman begitu.
03:10Kami akan langsung menanyakan saja kepada salah satu relawan.
03:14Selamat siang Bapak.
03:16Selamat siang.
03:18Saya dengan Pak Ujang.
03:21Dari relawan BPK Bangas Rebon Bangas Permai.
03:25Pak mungkin boleh dijelaskan ini yang di belakang ini yang lagi berusaha dipadamkan ini ada apinya sejak kapan dan dapat
03:32informasi dari mana bahwa ada api yang kembali menyala begitu di belakang pemukiman warga?
03:38Kami tadi kebetulan habis mematikan api di kilometer 10 terus itu ada arahan kami disuruh bergeser pindah ke bukit keminting
03:47ini.
03:48Karena kata warga api sudah membesar.
03:51Jadi kami pindah langsung kami menuju ke sini.
03:55Pak ini kira-kira ada berapa hektar tanah yang terkena kebakaran ini di belakang sini ya?
04:02Kalau diperkirakan ini mungkin lebih daripada 3 atau 4 hektaran ini bu.
04:09Sejauh ini berapa debit air yang digunakan untuk sekitar 4 hektar tanah untuk memadamkan ini?
04:15Berapa debit air sih Pak yang digunakan?
04:17Kalau debit air kebetulan pas musim-musim ini air pada kering bu.
04:23Jadi kami minta air ini dari sumur-sumur warga.
04:27Kalau debit airnya kami kurang tahu berapa yang harus kami perlukan.
04:31Memang kami butuh air.
04:34Tapi kan Pak juga kemarin 2 hari sempat hujan begitu pas malam hari hujan buatan.
04:40Apakah itu dapat membantu mengurangi kabut asap di Kalimantan Tengah ini?
04:47Apa ini sebenarnya sebaiknya yang efektif itu seperti apa sih Pak untuk mengurangi kabut asap di sini?
04:52Sebenarnya kalau ada hujan seperti hujan buatan itu sebenarnya bukan menambah pengurangan asap.
04:59Itu kadang menambah munculnya asap lebih besar lagi.
05:05Karena hujan itu kan nggak sampai ke titik dasar gambut di bawah.
05:09Karena api ini makan gambutnya rata-rata di Kalimantan Tengah ini 1-2 meter ke bawah.
05:15Nah itu kalau hujan buatan aja coba kan mati di atas aja, di bawah masih hidup.
05:21Makanya akhirnya asap itu besoknya jadi membesar, timbul lagi keluar.
05:26Oke jadi hujan buatan itu bahkan sebenarnya bisa membuat kabut asap lebih tebal lagi seperti itu.
05:33Jadi apa yang harus dilakukan untuk benar-benar mematikan api yang ada di lahan gambut ini Pak?
05:39Nah benar itu tadi sebenarnya yang perlu sama sekali dimatikan untuk lahan gambut ini.
05:45Kita langsung turun ke lapangan, langsung kita tembak seperti yang kami lakukan ini.
05:52Yaitu kan kami di lapangan ini langsung menembak ke titik apinya sampai ke dasar sampai ke bawah.
05:58Terima kasih banyak Pak.
06:00Putu dan juga saudara memang sempat Kalimantan Tengah di Palangkaraya tepatnya itu juga sempat hujan dari hujan buatan 2 hari
06:08kebelakang.
06:09Asap juga sempat berkurang begitu namun berdasarkan indeks udara, udara di Palangkaraya Kalimantan Tengah ini masih tergolong berbahaya.
06:19Dan seperti yang dijelaskan oleh Pak Ujung tadi bahwa sebenarnya hujan buatan ini belum terlalu efektif begitu.
06:27Karena memang dari lahan gambut ini sendiri memiliki ciri khas yang menyimpan bara api di dalam tanahnya.
06:35Jadi walaupun permukaan tanahnya sempat terkena hujan, itu di dalam lahan gambut ini masih menyimpan bara api yang menyebabkan asap
06:46bahkan bisa menjadi lebih tebal beberapa hari ke depan.
06:51Putu.
06:51Baik, tadi Anda sampaikan Zahwa ini kan sangat berdekatan dengan rumah-rumah warga yang ada di sana, di dekat permukiman.
06:58Situasinya, kondisi warga di sana seperti apa? Apakah diungsikan sementara karena ini sangat berdekatan atau warga tetap tinggal di sana
07:06tapi ada mekanisme khusus yang dilakukan?
07:13Ya, putul sejauh ini kami melihat warga masih beraktifitas di rumah masing-masing seperti biasa.
07:20Tadi kami juga dalam perjalanan menuju ke sini kami melewati beberapa rumah bahkan ada yang sedang memperbaiki rumahnya begitu dan
07:29seperti biasa saja gitu tidak ada penanganan khusus, tidak ada pengungsian begitu warga.
07:35Bahkan di rumah yang tepat lahan ini sedang dipadamkan begitu pemilik rumah masih ada berada di dalam rumah masih menunggu
07:44lahan-lahan ini untuk dipadamkan begitu.
07:48Jadi tidak ada pengungsian khusus atau ada pengurangan aktivitas di sekitar warga.
07:53Mungkin memang tadi kami lihat tidak terlalu banyak warga yang berlalu lalang tapi jika melihat lebih dekat lagi banyak warga
08:01yang masih berada di dalam rumah masing-masing putuh.
08:05Baik, terima kasih laporan Anda, Jurnalis Kompas TV, Zahwa Maji dan Jurukamera Bimo Wicaksana.

Dianjurkan