Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu


PALANGKA RAYA, KOMPAS.TV - Asap karhutla mengepung Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Penerbangan lumpuh, penghasilan pedagang terdampak, dan warga menghadapi ancaman gangguan kesehatan. Bagaimana mereka bertahan?

Jurnalis KompasTV Dipo Nurbahagia menelusuri dampak kebakaran hutan dan lahan, dari jalur Trans Kalimantan hingga lokasi pemadaman di Palangka Raya. Dipo menemui pedagang, petugas pemadam, serta pasien ISPA, termasuk lansia dan balita.

Investigasi ini juga mengulas penanganan karhutla oleh pemerintah kota, temuan polisi terkait pembakaran lahan, serta sorotan WALHI Kalimantan Tengah terhadap data luas kebakaran versi pemerintah.

Apa kendala pemadaman di lapangan? Sudahkah langkah penanganan melindungi warga dari kepungan asap? Saksikan Program DIPO INVESTIGASI setiap Senin pukul 20.30 WIB di KompasTV.

Baca Juga Karhutla Indonesia Picu Kabut Asap Lintas Negara, Malaysia-Singapura Terdampak | DIPO INVESTIGASI di https://www.kompas.tv/video/696916/karhutla-indonesia-picu-kabut-asap-lintas-negara-malaysia-singapura-terdampak-dipo-investigasi



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/696920/full-menelusuri-kepungan-asap-karhutla-di-palangka-raya-dipo-investigasi
Transkrip
00:07Intro
00:08Intro
00:08Intro
00:10Intro
00:11Intro
00:18Intro
00:28Karhutlah masih membara
00:30Meski pemadaman telah dilakukan selama berbulan-bulan
00:33Namun api yang berkobat dari dalam permukaan tak kunjung padam
00:37Persoalan kini tak hanya sekedar sebaran titik panas
00:41Namun angin yang berhembus membawa asap hingga menyelimuti aktivitas warga
00:46Polusi udara akibat kabut asap kian menjadi ancaman nyata
00:50Tak hanya soal kesehatan namun juga berbicara terkait keselamatan
00:55Dengan dampak merambah hingga ke negara tetangga
00:58Mengapa pemerintah seolah memandangkan kakutlah hanya sekedar persoalan angka
01:03Inilah episode ke-93 di Poinvestigasi
01:06Saya Dipo Terbagi, saya akan menelusuri dan mencari bukti secara langsung
01:10Dari kota Palengkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah
01:17Setelah saya tiba di kota Palengkaraya, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Tengah
01:22Yang menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah paparan asap karhutlah di Indonesia
01:27Ini adalah ikon dari kota Palengkaraya
01:30Di belakangnya bisa terpampang jelas langit yang sangat jauh
01:34Dari warna biru saudara
01:35Masyarakat di kota Palengkaraya tidak bisa lagi menghirup udara segar
01:39Dan tidak bisa melihat langit biru yang saat ini tertutup oleh asap karhutlah
01:47Bagi saya yang usinya sudah 62 tahun
01:50Olahraga adalah kebutuhan
01:52Tapi pertanyaannya, Bapak sekarang berolahraga di tengah asap karhutlah di kota Palengkaraya
01:58Pemerintah, mohon maaf sekali ya, kayaknya tidak cepat tanggap
02:03Sehingga palhutlah semakin meluas
02:10Tadinya saya mengira masih ratusan ribu, masih puluhan ribu
02:13Ternyata sudah jauh ya
02:15Saya kira ini kalau tidak kita turun tangan secara besar-besaran
02:18Tidak bisa
02:23Masih ada pepuluhan asap di salah satu lahan yang sebenarnya bersebaran persis
02:28Dengan jalan raya yang dilalui oleh warga
02:33Ini lahan yang terbakar, lahan apa Pak?
02:35Ini akses ke perkantoran pemerintah kota
02:38Dan ini bisa dilihat ya, material-material yang
02:41Vegetasi-vegetasinya
02:43Sudah hangus terbakar ya Pak?
02:44Ini api di dalamnya ini
02:45Di dalamnya api?
02:46Betul
02:51Sudahkah Pemkot mengidentifikasi?
02:53Dari mana sesungguhnya asap parhutlah itu Pak?
02:55Palangkaranya titik api ada
02:58Banyak desakan dari publik bahwa menginginkan
03:01Karpuklah
03:02Dan ditetapkan sebagai bencana nasional
03:04Saya menyuarakan apa yang disuarakan masyarakat saja
03:06Saya ingin menghormat kepada pemerintah pusat maupun daerah
03:09Harus segera ditetapkan sebagai bencana nasional
03:13Targetnya as soon as possible, secepat mungkin
03:16Rakyat sudah berdampak
03:18Jadi harus segera
03:19Sehingga tidak ada lagi korban-korban yang sia-sia
03:27Ini salah satu pasien ISPA pada anak
03:30Mulutnya berapa itu?
03:325 tahun
03:33Ibu keupus keas mas menteng ini memang karena gejala ISPA?
03:37Iya betul
03:38Gejala ISPA
03:39Demamnya ada
03:40Terus nyilu-nyilu di sekujur tubuhnya
03:44Yang terdampak ini ibu atau sama anak ibu?
03:46Kami sebenarnya
03:47Cuma dia yang paling parah
03:52Ketika melihat dampak yang sedemikian besar
03:54Siapa sesungguhnya pihak yang harus bertanggung jawab
03:57Terkait dengan kahutlah di Kalimantan Tengah
03:59Kalau menurut kami
04:01Saat ini yang paling bertanggung jawab adalah negara
04:03Karena memang ini bagian dari kelalaian mereka
04:09Tim depo investigasi bertolak dari Jakarta menuju Kalimantan Tengah
04:13Yang terdampak melalui Banjarmasin karena Bandara Cilik Riwut Palangkaraya tidak dapat beroperasi akibat terselimuti asap karhutlah
04:19Dalam perjalanan yang ditempuh selama 5 jam kami sempat menelusuri Kabupaten Pulang Pisau
04:24Yang juga menjadi salah satu lokasi terparah kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan Tengah
04:32Saudara kabupaten sepekat tidak hanya menyelimuti ibu kota Kalimantan Tengah atau kota Palangkaraya
04:37Tetapi juga menyelimuti sejumlah daerah penyangga
04:40Saya berada di Kabupaten Pulang Pisau
04:44Salah satu wilayah yang kemudian terdampak asap dari kebakaran hutan dan lahan
04:48Dan menyelimuti aktivitas warga
04:50Saya akan tunjukkan saudara
04:51Di depan saya adalah Jalan Trans Kalimantan yang tidak hanya dilalui oleh kendaraan-kendaraan pribadi
04:58Tetapi juga dilalui oleh sejumlah kendaraan besar yang melintas dari arah Kalimantan Selatan
05:03Menuju ke Kalimantan Tengah
05:05Dan bisa dilihat jarak pandangnya kurang lebih hanya berjarak 100 hingga 200 meter
05:12Yang artinya para pengendara yang melintasi Jalan Trans Kalimantan ini
05:16Betul-betul harus berhati-hati ketika berkendara agar terhindar dari kecelakaan
05:21Saya juga akan tunjukkan saudara bahkan matahari
05:24Yang biasanya tidak bisa kita lihat secara kasat mata
05:28Tetapi sangat mudah terlihat dengan pandangan bebas menggunakan mata
05:33Yang menunjukkan bahwa asap kakutlah begitu tebal di daratan Kalimantan Tengah
05:51Terus saya masih menyestiri Jalan Trans Kalimantan
05:54Tepatnya yang berada di Kabupaten Pulang Pisau
05:57Provinsi Kalimantan Tengah
05:58Yang semakin sore semakin tertutupi oleh kabut asap, kebakaran hutan, dan lahan
06:04Saya akan tunjukkan ya, ada sejumlah abu yang terjatuh
06:10Sebagai bukti betapa masifnya kebakaran hutan dan lahan
06:14Bisa dilihat ya, ini adalah daun yang kemudian terbakar
06:17Dan banyak sekali, cukup banyak abu kebakaran hutan dan lahan yang kemudian turun
06:22Dari atas langit, saya akan coba melihat lebih dekat lagi ya
06:25Jembatan Pulang Pisau, tadi saya melihat ada sungai Kahayan
06:31Dan tidak terlihat sama sekali kondisi yang ada di sungai Kahayan
06:36Nampak asap kebakaran hutan dan lahan di sisi ini saudara
06:41Bisa dikatakan lebih pekat karena jarak pandangnya sangat terbatas
06:45Mungkin kurang lebih hanya 100 meter
06:48Ada satu bangunan di sebelah kiri yang bahkan nyaris tidak terlihat sama sekali
07:04Setelah saya berada di Jembatan Tumbang Nusa
07:07Di Kabupaten Pulang Pisau
07:09Yang menjadi urat nadi penghubung perekonomian
07:13Antara Provinsi Kalimantan Tengah dengan Provinsi Kalimantan Selatan
07:16Saya akan tunjukkan saudara, untuk di Jembatan Tumbang Nusa
07:19Kurang lebih jarak pandang hanya 50 meter
07:21Dan kendaraan mobil harus menyalakan lampunya
07:25Agar terlihat dengan kendaraan lainnya ketika melintas
07:29Oke, ada satu kendaraan juga ya yang nampak
07:33Berdagang ya, berdagang makanan
07:35Saya akan coba datangi
07:36Pak Izin Pak, di Pocompas TV Pak, dengan Bapak siapa Pak?
07:39Pak Abdullah
07:40Pak Abdullah, Pak Abdullah setiap hari berjualan di sini
07:43Di Jembatan Tumbang Nusa, kondisi seperti ini Pak
07:46Tertutup kabut asap, karhutlah
07:48Sudah berapa lama?
07:50Sudah satu bulan lebih
07:51Satu bulan lebih?
07:53Semakin siangnya semakin tebal
07:55Semakin siang semakin tebal?
07:57Bapak jualan di sini gimana Pak kondisinya?
08:00Kesehatannya?
08:01Ya, mau apa lagi lah
08:03Namanya kebutuhan itu terpaksa aja jualan
08:05Terpaksa jualan?
08:06Tapi ada dampak kesehatan yang Bapak rasakan Pak?
08:09Ada
08:09Apa yang Bapak rasakan?
08:10Batuk-batuk, sesak nepas, sudut badannya sakit juga
08:13Oh, oke
08:14Tapi kondisinya Pak, ketika ada asap
08:17Dan sebelum asap ini menyelimuti Jembatan Tumbang Nusa
08:20Banyak membeli atau ada perbedaan Pak?
08:22Banyak perubahan kalau ngomong-ngomong
08:24Perubahannya apa?
08:26Pembelinya paling 50% nggak ada
08:27Artinya sehari kurang lebih berapa orang yang membeli dagangan Bapak?
08:31Kadang-kadang dapat di 100, 200, paling banyak
08:34Biasanya berapa kalau sebelumnya?
08:36Sebelumnya dapat asap 1 juta dapat
08:39Artinya
08:40Biasanya sebelum ada asap 1 juta
08:42Cepat ya
08:43Sehari?
08:43Iya sehari
08:44Sekarang jadi 100 ribu?
08:46100 ya
08:46Dari PEP, kemampuan itu kayaknya
08:49Gak ada tanggapan
08:50Tidak ada tanggapan?
08:52Gak ada
08:53Oke
08:54Apalagi di jalan-jalan gak ada orang bagi-bagi masker
09:00Di tengah tak kunjung padamnya api yang membakar hutan dan lahan
09:04Pemerintah Pusat menggelar rapat
09:05Membahas Percepatan Penanganan Karhutla
09:08Pada Senin 12 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto memimpin secara langsung rapat terbatas penanganan karhutla di Istana Negara Jakarta.
09:17Dalam rapat yang digelar secara hybrid Kepala BNPB saat itu, Suharyanto menjelaskan terdapat enam provinsi yang menjadi prioritas dalam pemadaman
09:25kebakaran hutan dan lahan dengan total area proses pemadaman seluas 639,23 hektare.
09:31Provinsi Kalimantan Tengah menempati urutan pertama dengan total luas lahan dalam proses pemadaman mencapai angka 524,69 hektare.
09:42Taman Nasional Tanjung Puting menyumbang angka besar dalam luasan area karhutla di Provinsi Kalimantan Tengah dengan sebaran 513,89 hektare.
09:51Pekan dalam pantauan udara terlihat dua titik kepala api di Taman Nasional Tanjung Puting saling bertemu dan berhadap-hadapan.
09:59Sementara itu Provinsi Sumatera Selatan menempati urutan kedua prioritas pemadaman dengan total luas lahan seluas 6,9 hektare.
10:07Disusul Provinsi Kalimantan Selatan dengan luas area pemadaman 8,8 hektare.
10:12Provinsi Jambi 81,5 hektare.
10:15Provinsi Kalimantan Barat 16,34 hektare.
10:19Dan Provinsi Riau yang hanya menyisakan 1 hektare.
10:23Presiden Prabowo Sumatera pun menilai luas wilayah yang alami kebakaran hutan dan lahan kini telah menurut drastis.
10:29Tadinya saya mengira masih ratusan ribu, masih puluhan ribu ternyata sudah jauh ya.
10:37Dari ratusan ribu, berapa minggu lalu kita sekarang di bawah seribu.
10:41Saya kira ini kalau nggak kita turun tangan secara besar-besaran, nggak bisa.
10:46Apalagi nanti kita mau adakan mitigasi kan ke depan.
10:49Meski dalam paparan angka, area Karhutla diklaim menurun drastis.
10:53Namun hal tersebut berbanding terbalik dengan imbas Karhutla yang kian berdampak nyata.
10:59Bahkan satu hari setelah rapat terbatas yang digelar di Istana Negara,
11:026 provinsi prioritas pemadaman Karhutla masih tercemari paparan kabut asap
11:06dengan level yang sangat tidak sehat hingga berbahaya jika dihirup oleh manusia.
11:12Data paparan asap Karhutla di Kalimantan Tengah tak kalah mencengangkan.
11:15Dan kota Palangkaraya yang kerap kali menempati urutan pertama dalam tingkat pencemaran udara
11:19akibat Karhutla sempat memecahkan rekor sebagai kota dengan udara paling berbahaya se-Indonesia.
11:26Pantauan NASA juga memperlihatkan dalam satu minggu terakhir
11:29sebaran karbon monoksida dengan konsentrasi tinggi
11:31menyebar di atmosfer di atas wilayah Indonesia dengan ketinggian 18 ribu kaki.
11:36Karbon monoksida merupakan gas beracun yang menimbulkan gejala sakit kepala,
11:40pusing hingga sesak nafas bahkan dapat menyebabkan kematian pada orang-orang tertentu.
11:55Setelah saya tiba di kota Palangkaraya, ibu kota provinsi Kalimantan Tengah
11:59yang menjadi salah satu wilayah terdampak paling parah paparan asap Karhutla di Indonesia.
12:05Bahkan pada pertengahan bulan Oktober 2026, saudara, kota Palangkaraya berulang kali menempati urutan pertama
12:12terkait dengan kota yang memiliki indeks pencemaran udara paling berbahaya di Indonesia.
12:19Dan ini adalah ikon dari kota Palangkaraya, bundaran besar Talawang, Palangkaraya
12:26yang begitu menjadi sorotan saat asap Karhutla menyelimuti ibu kota provinsi Kalimantan Tengah.
12:33Saya akan tunjukkan, saudara, visual drone yang kemudian begitu menggambarkan
12:36betapa masifnya, betapa pekatnya asap Karhutla yang menyelimuti kota Palangkaraya
12:43bahkan hingga ke pusat kota.
12:45Udah bisa dilihat ya?
12:47Ini adalah ikon dari kota Palangkaraya.
12:50Di belakangnya bisa terpampang jelas langit yang sangat jauh dari warna biru, saudara,
12:56atau artinya sudah berbulan-bulan.
12:58Masyarakat di kota Palangkaraya tidak bisa lagi menghirup udara segar
13:02dan tidak bisa melihat langit biru yang saat ini tertutup oleh asap Karhutla.
13:07Bahkan pada siang hingga sore hari, saudara, begitu viral,
13:11video yang kemudian mempertunjukkan tidak hanya paparan asap Karhutla
13:14yang begitu tebal di kota Palangkaraya,
13:16tetapi langit di kota Palangkaraya seolah berubah menjadi berwarna kuning
13:21ataupun berwarna oranye yang menandakan bahwa sinar matahari
13:25tidak mampu menembus secara sempurna ke kota Palangkaraya
13:30akibat terhalangi asap dari Karhutla.
13:36Ini adalah istana di kota Palangkaraya yang juga menjadi salah satu pusat kegiatan
13:42pemerintahan di kota Palangkaraya yang juga tertutupi oleh asap Karhutla.
13:47Saya akan coba datangi salah satu warga saudara yang nampaknya masih beraktifitas olahraga
13:52di tengah kumpulan asap Karhutla.
13:55Izin Mas, Dipo dari Kompas TV, boleh ngobrol sebentar?
13:58Kalau saya lihat tadi Mas lagi pemanasan ya?
13:59Siap.
14:00Ini mau lari atau seperti apa?
14:02Mau jogging ya?
14:03Mau jogging di tengah asap Karhutla?
14:06Siap.
14:07Tapi ada perbedaan tidak ketika ada asap dan juga tidak ada asap untuk lari dan berolahraga?
14:13Sangat ada perbedaan.
14:14Kalau di tengah asap, paru-paru jadi sesak.
14:18Kalau sebelumnya jogging itu terasa enak, hirup udara segar.
14:21Tapi dari Mas sendiri, tahu sudah berapa lama sebenarnya kondisi asap yang pekat ini?
14:28Sekitar mau 4 bulan.
14:34Tidak hanya masyarakat yang beraktifitas olahraga lari saudara ataupun jogging,
14:38tetapi juga saya melihat ada seorang bapak yang juga nampaknya berolahraga dengan menggunakan sepeda.
14:43Saya akan coba datang.
14:44Permisi Pak Dipo dari Kompas TV, Pak.
14:46Boleh ngobrol sebentar ya?
14:48Boleh.
14:48Dengan bapak siapa?
14:49Ambar Rasmokko.
14:51Pak Ambar, ini pagi-pagi naik sepeda di kota Kolangkaraya memang sengaja untuk berolahraga?
14:56Siap.
14:56Memang bagi saya yang usinya sudah 62 tahun, olahraga adalah kebutuhan untuk tetap sehat.
15:06Oke, artinya rutinitas olahraga ini selalu bapak lakukan ya?
15:09Siap, siap.
15:10Tapi pertanyaannya, bapak sekarang berolahraga di tengah asap Karhutlah di kota Kolangkaraya?
15:16Iya, memang Karhutlah asap tebal ini sangat mengganggu.
15:20Sangat mengganggu?
15:20Tetapi, ya bagaimana lagi ya kalau pemerintah, mohon maaf sekali ya, kayaknya tidak cepat tangkap dengan asap ini, sehingga karhutlah
15:32semakin meluas.
15:33Ini kan sudah lintas kabupaten kota.
15:36Bahkan lintas negara?
15:37Lintas negara, lintas provinsi, dan banyak sekali dampaknya.
15:40Dampak itu bukan berarti harus maskeras sakit, tapi dampaknya sudah ada banyak yang batuk-batuk, segala macamnya.
15:46Mestinya, segera ditetapkan menjadi pencana nasional.
16:06Saya berada di Jalan Soekarno, tepatnya di Kecamatan Jekan Raya, Kota Kolangkaraya, dan saya melihat sederah.
16:13Masih ada kepulauan asap yang kemudian lahir di salah satu lahan yang sebenarnya bersebaran persis dengan Jalan Raya yang kemudian
16:23dilalui oleh warga.
16:25Saya akan coba melihat lebih dekat lagi, saudara, untuk mengetahui seberapa banyak titik panas ataupun hotspot yang ada di lokasi
16:37ini.
16:37Tapi saya tidak akan sendiri tentunya, saya akan didampingi oleh Kabit Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Kolangkaraya dengan Pak Balap.
16:46Terima kasih waktunya, Pak.
16:47Pak, saya lihat itu sudah ada kepulauan asap, boleh kita mendekat, Pak, untuk melihat seperti apa proses pemadamannya?
16:52Silahkan, silahkan. Bisa.
16:55Ini lahan yang terbakar, lahan apa, Pak?
16:57Ini lahan pemukiman sebenarnya, sudah mulai akan dibangun pemukiman.
17:02Ini akses ke perkantoran pemerintah kota yang di sebelah sana.
17:09Artinya yang terbakar ini lahan yang berdekatan dengan perkantoran?
17:15Betul. Makanya kita optimalkan penanganan di sini, karena ada beberapa titik yang sudah mendekati lokasi perkantoran pemerintah kota.
17:23Ini tiga hari yang lalu, sudah kita tangani, tapi muncul lagi titik-titik lagi di lokasi yang sudah kita tangani.
17:33Oke. Dan ini bisa dilihat ya?
17:35Kondisi vegetasi-vegetasinya yang...
17:38Sudah angus terbakar ya, Pak?
17:39Betul.
17:40Ini lahan gambut, Pak?
17:41Betul, lahan gambut dan lumayan tebal juga.
17:44Tidak menutup kemungkinan area yang kita injak saat ini juga masih ada barang api di dalamnya, Pak?
17:49Iya, betul. Seperti ini.
17:51Oh, ini ya?
17:51Iya.
17:53Ini api di dalamnya ini.
17:54Di dalamnya api?
17:55Betul.
17:56Ada satu fenomena lubang api, Pak. Apakah bentuknya memang menyerupai seperti ini?
18:00Hampir mirip, cuma kita lihat kondisi tanahnya saja lagi.
18:04Saya akan coba tunjukkan sekali lagi, ini selain kepuluhan asap yang keluar, tetapi ketika didekatkan dengan tangan sangat rasa hawa
18:10panasnya, Pak.
18:11Betul.
18:12Luasnya, Pak, sudahkah dihitung atau mungkin diperkirakan, Pak, yang terbakar ini di area ini?
18:16Kalau di sini sekitar sampai ke jalan Merdeka 1 sampai Merdeka 4 sana diperkirakan kurang lebih sekitar 7 hektare.
18:247 hektare?
18:25Betul.
18:25Hanya di titik ini, Pak?
18:26Iya, di titik ini yang menyebar ke daerah pemukiman penduduk di sebelah sana.
18:31Cukup pekat ya asapnya di area ini ya?
18:33Betul, betul.
18:35Nih, coba lihat di ketinggian tanah gambutnya.
18:38Ini yang tadi Pak Balap sebutkan ya?
18:40Iya.
18:41Ketika belum terbakar, tinggi tanahnya segini?
18:43Betul.
18:43Tetapi ketika sudah terbakar?
18:45Dia akan menyusut.
18:46Menyusut ya?
18:46Karena yang di bawah tanah yang dimakannya, sehingga terjadi lonsor.
18:50Nah, seperti ini, Pak?
18:51Yang ini juga ya?
18:52Nah, ini yang pasti.
18:53Oh, oke. Ini sangat jelas sekali ya?
18:55Iya.
18:56Makanya sering jalan-jalan, jalan-jalan, hati-hati panas mungkin masih, ini, jalan-jalan yang sudah beraspal biasanya longsor ya
19:05gara-gara seperti ini, dimakan api di bawahnya.
19:08Yang jadi kendala kita ya saat ini dengan kondisi cuaca seperti ini sumber air yang jadi masalah.
19:12Sumber air masih menjadi kendala?
19:14Iya. Walaupun sumur bor sudah kita buat, hanya beberapa jam, kemudian kosong isinya.
19:19Makanya kita menggunakan mobil tangki untuk suplai-suplai air.
19:27Kota Pelangkaraya ini begitu disorot oleh seluruh pihak karena terselimuti asap karhutlah.
19:34Sudahkah Pemkot mengidentifikasi? Dari mana sesungguhnya asap karhutlah itu, Pak?
19:4999 persen kejadian ini pasti ulah manusia.
19:52Baik itu masyarakat kecil yang memang beladang atau juga yang besar.
19:58Di Kementerian Kota Nan ada 26 perusahaan yang sudah kami cabut dan bekukan izinnya.
20:04Dan sebetulnya akan terus bertambah.
20:07Kembali saya dapat laporan ada proses sekitar 5 atau 6 perusahaan lagi, termasuk di Kalimantan Tengah yang melakukan pelanggaran.
20:17Sebenarnya pertanyaan dasar dari begitu banyaknya asap karhutlah di Kota Pelangkaraya adalah dari mana sesungguhnya asap itu berasal.
20:26Apakah begitu masifnya asap di Kota Pelangkaraya menggambarkan masih cukup banyak titik kebakaran hutan dan lahan yang ada di Kota
20:34Pelangkaraya?
20:35Atau justru menggambarkan masifnya karhutlah di Provinsi Kalimantan Tengah?
20:39Saya akan tanyakan kepada Wali Kota Pelangkaraya, Pak Fahirit Aparin.
20:44Pak Fahirit, terima kasih tujuan, Pak.
20:45Cep, Mas Dipo.
20:46Bahwa kita tahu, Pak, Kota Pelangkaraya ini begitu disorot oleh seluruh pihak karena terselimuti asap karhutlah.
20:55Sudahkah Pemkot mengidentifikasi dari mana sesungguhnya asap karhutlah itu, Pak?
20:58Pak Pelangkaraya titik api ada, walaupun misalkan titik api di Kota Pelangkaraya tidak ada, tetapi arah angin itu masuk semua
21:06dari Pelangkaraya.
21:07Arah angin masuk ke arah Pelangkaraya?
21:08Nah, jadi kalau tidak ada titik api, apakah Pelangkaraya masih berasal?
21:12Masih bisa.
21:13Arah angin itu dari utara ke selatan.
21:16Ini bisa kita lihat, ini garis putih ini adalah Kota Pelangkaraya.
21:19Jadi, arah angin itu memang masuk semua, baik itu dari barat daya, dari selatan, dari timur, itu masuk ke Kota
21:29Pelangkaraya.
21:30Nah, jadi terlihat kan nih bagaimana arah angin, asap.
21:33Jadi apabila terjadi kebakaran di luar Kota Pelangkaraya, itu asapnya pasti akan ke Pelangkaraya.
21:38Artinya Pak Fahirit ingin mengatakan bahwa asap yang kemudian berkumpul di Kota Pelangkaraya merupakan kiriman dari wilayah tetangga?
21:45Ada dari Pelangkaraya sendiri ditambah plus dari kiriman.
21:49Saya ingin dibandingkan dengan data yang sebelumnya juga sudah disampaikan oleh BNPB kepada Presiden,
21:54bahkan yang menyebutkan bahwa di Kalimantan Tengah sendiri, wilayah yang masih dipadamkan terkait karhutlah ini hanya kurang lebih 10 hektare.
22:01Untuk di Pelangkaraya sendiri sebenarnya berapa luasan karhutlah yang sudah terjadi?
22:05Kalau terjadi, sampai dengan per hari ini itu ada 1.445 hektare.
22:111.445 hektare?
22:12Yang terjadi dari awal, udah dari bulan, 3 bulan yang lalu.
22:16Tetapi ini potensinya masih ada yang bisa menyala, Pak?
22:19Saat ini sebenarnya lebih titik api baru itu tidak ada.
22:24Tetapi lebih titik api yang lama itu menyala kembali dan perlu dilakukan pembasahan, pembasahan, pembasahan.
22:30Hampir kebanyakan seperti itu.
22:31Ini contoh, lokasi di Bulu Merindu namanya.
22:35Di Bulu Merindu, tadi pagi sebenarnya kena hujan, tidak ada asap.
22:40Tapi karena kita tidak melakukan pembasahan lagi kembali, akhirnya jadi seperti ini.
22:44Ini lahan pribadi atau?
22:46Ini milik pribadi, kayaknya masih milik pribadi masyarakat.
22:49Dan yang menarik, Pak, di sini sebenarnya ada papan ya.
22:54Papan bertuliskan himbawan untuk mencegah kebanyakan dalam lahan bahkan.
22:59Bahkan ini kayaknya dendanya.
23:01Ada dendanya, Pak ya.
23:02Tetapi yang menjadi ironia adalah papan ini hancur dan belakangnya adalah karhut lah.
23:08Saat ini masih dilakukan proses pemadaman ya, Pak ya?
23:11Ya, di sana juga ada kan, kita bagi.
23:14Di dalam nanti juga ada tim pukul di dalam sana.
23:18Nah, ini kan titik api di sini.
23:19Di sana di dalam sana juga ada.
23:20Di dalam sana juga masih?
23:21Nah, kita kan sudah lihat pakai drone tuh.
23:24Nah, itu ada drone.
23:25Jadi titik apinya kemana, itu akan kita sasar.
23:28Potensi titik api menyambar ke permukiman warga ini masih terjadi?
23:33Masih ya, kota Palangkara masih terjadi.
23:35Karena kan luas kota Palangkara.
23:37Sekali lagi kita berbicara, kota Palangkara ini memiliki tipologi perkotaan yang berbeda dari kota lainnya.
23:43Ya, kota Palangkara ini kota terluas di Indonesia.
23:46Yaitu 2.800 km persegi.
23:49Itu kota terluas.
23:50Yang tipologinya ada perkotaan, ada hutan, dan ada desa.
23:54Ini kan misalkan ada titik, ini bukan titik api ya, hotspot panas.
23:58Misalkan di sini, nah ini terjadi pemukiman kan di sini nih.
24:02Ini pemukiman.
24:03Nah, tinggal kita ukur berapa jauh.
24:05Nah, apa yang perlu kita lakukan ya, kebanyakan bersama TNI Polri juga kita dengan kolaborasi itu melakukan penyekatan-penyekatan.
24:13Yaitu membuat kanal-kanal supaya tidak menyentuh ke pemukiman.
24:17Melihat begitu menjadi perhatiannya, situasi asap Karputla di kota Palangkara ini dari Pemkot sendiri apakah membutuhkan bantuan untuk kemudian betul
24:28-betul memastikan asap Karputla di kota Palangkara ini bisa diminimalisir atau bahkan mungkin bisa dihilangkan.
24:35Kota Palangkara ini kemarin belum ya, belum dapat dana anggaran.
24:39Belum dapat dana anggaran?
24:41Anggaran banpres gitu loh.
24:42Jadi kabupaten sekitar sudah dapat, tapi per kemarin saya bertemu dengan Pak Menteri Menhut, menyenangkan kembali, ya insya Allah kata
24:50beliau kota Palangkara bisa mendapatkan.
24:52Nah itu sangat-sangat diperlukan kalau menurut saya, karena sekali lagi Sarpras kita memang sudah banyak sekali, baik itu musim
24:59dan lain, dan lain-lain selang.
25:01Peralatan Sarpras itu ada banyak bantuan, tetapi sekali lagi operasional kan itu semua membutuhkan operasional.
25:07Membutuhkan biaya?
25:08Membutuhkan biaya, makna kita juga kota Palangkara juga kan efisiensi.
25:11Efisiensi yang mana benar-benar kita anggaran itu benar-benar se-efektif, efisien mungkin.
25:18Nah ini warga sini.
25:19Ini rumah kita diwarna hijau.
25:20Iya, nah ini kan yang berapa, sudah satu minggu yang lalu kan ini yang sumber terbakar dulu ya.
25:25Iya, iya, iya.
25:26Ini warga sini.
25:27Rumah Bapak berada di area ini Pak?
25:29Iya, di rumah hijau.
25:30Yang tadi sebelum belok kiri, kanan.
25:31Jadi sumber awal dari api ini pertama itu dari arah jalan raya.
25:37Oke.
25:37Nah kami di sini dikepung api ya, dan kami di sini dikepung api.
25:41Terus dari alah jalan Matal ke Pasendeng, langsung ke jalan Lamiang.
25:46Jadi kami di sini dikepung.
25:47Tadi disampaikan juga api itu bermula dari area pinggir jalan ya Pak?
25:52Iya.
25:52Apakah memang itu hanya karena faktor cuaca atau mungkin ada dugaan lain?
25:57Ya kalau yang namanya hutan ini bukan terbakar ya.
26:02Tapi dibakar.
26:02Dibakar?
26:03Iya, tapi kita nggak tahu pelakunya siapa.
26:07Kami juga melaksanakan pemadaman mandiri.
26:09Kami tetap melaporkan ke Pak Wali dan juga minta bantuan beliau.
26:13Termasuk kemarin ada juga bantuan dari Pak Wali berupa aslang dan lain-lain untuk kami.
26:17Karena kami di warga di sini ada juga mesin pompa.
26:20Terakhir Pak Wali, banyak desakan dari publik bahwa menginginkan karhuklah tidak hanya di kota Palangkara ya, tetapi di Kalimantan Tengah.
26:28Bahkan di Pulau Kalimantan ditetapkan sebagai bencana nasional.
26:31Tenggapan Anda?
26:31Saya menyuarakan apa yang disuarakan masyarakat saja.
26:34Bagus, sepakat kalau ditetapkan Pak.
26:36Kami dari masyarakat, saya mewakili masyarakat ya, dan juga saya secara pribadi, melihat kondisi cuaca saat ini yang sangat buruk,
26:46terutama kualitas udara.
26:48Jadi kami menghormat kepada pemerintah, pusat maupun daerah, harus segera ditetapkan sebagai bencana nasional.
26:57Kami tadi menerima masukan-masukan dari seluruh kementerian yang terkait mengenai perkembangan titik panas atau hotspot,
27:08serta upaya seperti pembuatan sekatanal, penyediaan water intake, penerapan bencana nasional ya.
27:18Sementara kita masih sanggup, ya negara kita masih sanggup.
27:28Saudara Polda, Kalimantan Tengah sedang mendalami 130 laporan yang kemudian berkaitan dengan penyebab kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di
27:36Kalimantan Tengah.
27:37Tetapi pertanyaannya, siapa sesungguhnya pihak yang harus bertanggung jawab terkait dengan asap yang begitu mengepul di kota Palangkaraya?
27:46Saya akan tanyakan secara langsung kepada Kapolresta Kota Palangkaraya dengan Kompis Pol Adiatna.
27:51Terima kasih Pak Kapolrest untuk waktunya.
27:53Pak Kapolrest, bahwa kita tahu kota Palangkaraya belakangan ini begitu mendapat selotan setelah asap karhutlah yang mengepul, Pak.
28:01Apakah dari polisi sendiri sudah mendalami siapa sesungguhnya pihak yang bertanggung jawab beserta dengan motif-motifnya?
28:07Untuk di wilayah Palangkaraya, kita sudah menangani tiga laporan polisi sebenarnya.
28:12Tiga laporan polisi?
28:13Tiga laporan polisi, kemudian dari tiga, empat tersangka.
28:17Sudah ada empat tersangka, Pak?
28:19Yang satu laporan polisi mungkin sudah kita serahkan ke kejaksaan, yang dua masih kita tangani.
28:25Dan tentunya juga untuk saat ini kita ada di lokasi salah satu yang terjadinya tindak pidana pembakaran.
28:35Oke, bisa ditunjukkan ya, ini polisi lain yang artinya menunjukkan bahwa lokasi ini diduga kuat telah terjadi tindak pidana yang
28:42menyebabkan kebakaran.
28:44Kebakaran.
28:45Bisa dijelaskan, Pak, mungkin untuk motif di sini seperti apa?
28:47Baik, jadi kalau kita lihat, memang ini berawal dari tanggal sekitar tanggal 15 September.
28:53Itu kita mendapat laporan dari masyarakat bahwa diduga ada salah seorang melakukan pembakaran.
29:00Dan kita sudah mengumpulkan barang bukti, meminta keterangan saksi, dan kebetulan juga ada CCTV.
29:07Ada CCTV?
29:08Ada CCTV yang ada di salah satu rumah ya.
29:10Kemudian kita dalami bersama tim penyidik, dan kemudian kita mendapatkan diduga salah satu pelaku.
29:18Dan memang mereka mengakui yang mana pengakuannya adalah yang bersangkutan melakukan pembakaran.
29:24Melakukan pembakaran?
29:25Melakukan pembakaran sampah dan beberapa potong kayu.
29:28Boleh ditunjukkan mungkin, Pak, untuk lokasi di mana, Pak?
29:31Oke.
29:32Di sana, Pak.
29:33Di dalam ya, Pak, ya?
29:34Iya, di balik kayu yang di dalam.
29:36Oke, artinya ini titik pertama dari kebakaran yang terjadi di wilayah ini, ya, Pak?
29:41Iya.
29:42Oke.
29:43Iya, mungkin titik awal dari sekitaran lokasi sini.
29:48Iya.
29:50Kemudian melakukan pembiaran.
29:51Iya, kan, yang masuk tujuannya adalah kemungkinan, sesuai dengan hasil investigasi, bahwa yang bersangkutan, ini kan milik yang bersangkutan.
30:00Area ini, ya?
30:01Iya.
30:01Area ini, dan kondisi awal memang ini banyak pepohonan dan rumput-rumputan.
30:06Sehingga dugaan kami juga mungkin sekaligus mereka ingin membersihkan lahan.
30:11Ini salah satu rumah terdekat, Pak, yang sangat berdampingan dengan lokasi kebakaran.
30:16Iya, betul, Pak.
30:18Kurang lebih ada berapa rumah di sini, Pak, yang berada di sekitar area kebakaran?
30:23Kalau berada di area ini kan kita ada beberapa titik, ya, perumahan-perumahan.
30:27Apalagi sekarang kota Palangkalaya ini kan lagi pengembangan.
30:31Pengembangan tata ruang, sehingga banyak sekali perumahan-perumahan yang baru dibangun.
30:36Nah, kalau kita lihat lokasi di sekitar ini kan radiusnya cukup dekat, nih.
30:41Di depan kami, di sebelah kiri, hampir di semua.
30:44Ini sangat dekat sekali, artinya dampak daripada terbakarnya lahan ini
30:51tentu sangat berpengaruh sekuali kepada kesehatan lingkungan sekitarnya.
30:58Ibu, Kopus Kasmas Menteng ini memang karena gejala ispa?
31:02Iya, betul. Gejala ispa, demamnya ada, terus nyilu-nyilu di sekujur tubuhnya.
31:27Api Karhutla masih membahar.
31:30Lahirkan asap yang menyebar ke penjuru Nusantara hingga Malaysia dan Singapura.
31:35Sejumlah pihak meminta pemerintah dapat segera memadamkan api karena ancaman Karhutla kian menjadi nyata.
31:41Di Kayung Utara, Kalimantan Barat, seorang anak berusia 6 tahun meninggal dunia diduga terpapar asap Karhutla.
31:48Tekatnya asap diduga berpengaruh pada kondisi anak yang didiagnosa mengalami infeksi paru-paru.
31:54Di ronsen, dan dinyatakan si anak saya itu infeksi paru-paru.
31:59Karena yang saat ini kemungkinan yang paling parah ini imun tubuh anak itu bang udah sakit.
32:06Kalau tentang kabut asap kayak gini ini bang.
32:10Tak hanya di Kalimantan, asap juga membuat kualitas udara di Palembang, Sumatera Selatan berada pada kategori berbahaya.
32:17Cerak pandang menurun drastis hingga mengganggu aktivitas warga.
32:21Untuk menanggulanginya pemerintah melakukan uji coba penggunaan dry ice untuk mengurangi pekatnya asap.
32:28Kualitas udara di Makassar dan Maros, Sulawesi Selatan juga terpantau di level tidak sehat.
32:34Kondisi tersebut diduga akibat adanya kiriman asap Karhutla dari Kalimantan, Maluku hingga Papua.
32:40Sementara di Papua, kabut asap tak hanya menghambat aktivitas warga, namun juga mengganggu jadwal penerbangan dari Bandara Sentani, Jayapura.
32:49Karhutla kian menjadi petaka.
32:51Empat orang petugas dan relawan pemadam kebakaran gugur saat berupaya memadamkan api di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger, Semeru, Jawa
32:58Timur.
32:59Tiupan angin kencang menyebabkan api membesar dan membuat mereka terjebak saat proses pemadaman.
33:06Pergerakan angin juga membuat asap Karhutla bergerak jauh dari lokasi kebakaran.
33:10BMKG bahkan memantau adanya indikasi sebaran asap Karhutla yang sempat memasuki lapisan atmosfer Jakarta, Banten, dan Jawa Barat.
33:21Fenomena kabut asap lintas batas menjadi gambaran Karhutla meluas di Indonesia.
33:26Dasarkan data yang diolah, Ayana dan Center for Policy and Public Management SBM ITB, Papua menjadi wilayah dengan dampak Karhutla
33:34terluas, yaitu diperkirakan mencapai 173.000 hektare.
33:38Di susul Kalimantan, Bali, Nusa Tenggara, Sumatra, Jawa, dan Sulawesi.
33:44Dalam laporan SBM ITB juga menyoroti tak seragamnya luasan hutan dan lahan yang terbakar.
33:50Dasarkan data Sipongi Kementerian Kehutanan, sepanjang Januari hingga Juli, kebakaran menghanguskan 202.000 hektare hutan dan lahan.
33:58Jumlah ini jauh lebih sedikit jika dibandingkan dengan data organisasi masyarakat sipil Auriga Map Biomas Fire yang mencatat luasan Karhutla
34:06mencapai 637.000 hektare.
34:09Bahagian Nusantara Atlas mendata luasan Karhutla menyentuh lebih dari 895.000 hektare sepanjang Januari hingga Agustus 2026.
34:18Tak hanya membekap Nusantara asap Karhutla turut jadi perhatian Perdana Menteri Malaysia.
34:47Terkait tawaran bantuan dari negara tetangga, pemerintah menyebut telah membahasnya.
35:14Kerjasama penanganan Karhutla penting, namun pemerintah harus punya strategi jangka panjang yang menyentuh agar persoalan.
35:20Agar kebakaran di lahan gambut tak terus berulang.
35:25Ini gambut kebakaran dari tahun 90-an, bukan dari tahun 2015 saja.
35:29Dalam konteks mitigasi, bukan berarti kita tunggu sampai nanti musim hujan tiba.
35:36Tapi ada cara yang bisa lebih efektif.
35:38Dengan catatan kita bisa prediksi, misalnya dalam 3 hari ke depan,
35:41desa A itu akan probabilitasnya tinggi terbakar.
35:45Di situ baru ada upaya dibasahin dulu, diinjek.
35:48Karena kalau gambutnya sudah kering, bukan saja dia gampang terbakar, tapi dia juga menolak air.
35:55Gambut Indonesia itu menyimpan 84% karbon dari seluruh gambut di Asia Tenggara.
36:03Pas Asia Tenggara itu sebenarnya bergantung kepada Indonesia untuk menyimpan karbon.
36:07Dia menyelamatkan pelangat.
36:08Kalau dia terbakar, dia menghancurkannya sekaligus.
36:12Penanganan karhutlah harus dilakukan secara cepat dan akurat.
36:15Di sisi lain, penjegahan juga harus terus diperkuat.
36:19Pemerintah harus memiliki komitmen memutus bara agar karhutlah tak terus berulang dan langit Nusantara kembali terak.
36:30Setelah sejak periode Juni hingga Oktober 2026,
36:33kurang lebih terdapat 10.000 kasus ISPA yang terdapat di kota Palangkaraya
36:38akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan.
36:41Dan jika di rata-rata per bulannya terdapat 1.900 kasus dan perharinya terdapat 90 kasus ISPA di kota Palangkaraya.
36:49Saya berada di Puskesmas Menteng untuk mendalami seberapa masif sebenarnya dampak kesehatan bagi warga Palangkaraya
36:58terkait dengan paparan asap kebakaran hutan dan lahan.
37:01Saya akan tanyakan secara langsung kepada Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangkaraya.
37:05Dengan Bapak Ridwan, Pak Ridwan, terima kasih untuk waktunya.
37:07Terima kasih.
37:08Pak, kita tahu bahwa asap Tarhutlah di kota Palangkaraya ini begitu menjadi perhatian
37:14tidak hanya masyarakat Palangkaraya tetapi juga seluruh Indonesia.
37:17Dampak kesehatan yang kemudian dirasakan oleh masyarakat Palangkaraya sejauh apa, Pak?
37:22Di saat Tarhutlah ada beberapa kasus ada peningkatan.
37:26Salah satunya penyakit ISPA.
37:27Ada peningkatan salah satunya penyakit ISPA.
37:29Jadi biasanya rata-rata per hari kalau tidak Kakutlah itu paling 50 sampai 60 sampai 70.
37:38Nah saat Kakutlah itu ada 102 kasus yang terjadi kasus ISPA di kota Palangkaraya.
37:46Secara total, Pak, dari periode Juni hingga Oktober 2026, kalau tidak salah sudah mencapai angka kurang lebih 10.000.
37:52Angka pastinya berapa?
37:5310.335 kasus.
37:5710.335 kasus.
37:59Kemudian saat ini kita juga berada di Pukesmas Menteng.
38:04Jadi sesuai dengan program Pak Wali Kota, menyiapkan dua armada mobil oksigen keliling.
38:12Dan ini bisnya, Pak?
38:13Ya ini bisnya yang kita lihat di depan.
38:16Boleh kita lihat?
38:16Boleh kita lihat, Pak ya?
38:17Ya.
38:18Oke, artinya untuk operasional mobil oksigen ini seperti apa, Pak, nantinya?
38:22Jadi nantinya ini akan berada di tempat-tempat masyarakat yang berdampak terhadap kasus Karhutlah.
38:31Kasus Karhutlah, oke.
38:33Saya akan lihat ya, oke.
38:34Ini sebenarnya seperti bis yang biasa digunakan oleh masyarakat tapi dimodifikasi menjadi seperti rumah sakit dadakan?
38:42Iya.
38:43Jadi kami mau dimodifikasi sehingga mobil ini bisa dimanfaatkan oleh masyarakat yang mengalami batuk pilek sesak.
38:50Selain mobil oksigen, Pak, tadi Pak Ridon juga sempat menyinggung rumah oksigen.
38:55Rumah oksigen.
38:56Jadi kita punya 47 titik rumah oksigen yang tersebar di 30 kelurah.
39:01Oke.
39:02Nah, salah satunya Bukes Mas Menteng juga menyiapkan ruang oksigen untuk warga-warga yang membutuhkan 24 jam kita buka.
39:1224 jam buka?
39:1324 jam buka.
39:14Bukes Mas yang 24 jam siap melayani untuk warga yang memang membutuhkan pelayanan oksigen.
39:32Jadi ini salah satu pasiennya, Pak?
39:34Ini salah satu pasien ISPA pada anak.
39:37Umur seberapa, Ibu?
39:385 tahun, Pak.
39:40Saya izin ngobrol ya.
39:41Silahkan, Pak.
39:42Ibu dengan Ibu?
39:43Detsiana.
39:44Ibu ke Opus Keas Mas Menteng ini memang karena gejala ISPA?
39:48Iya, betul. Gejala ISPA, demamnya ada, terus nyilu-nyilu di sekujur tubuhnya.
39:55Dan ISPA ini karena paporan gamut?
39:57Iya, betul. Karena dapatnya hari minggu kemarin.
40:01Yang terdampak ini ibu atau sama anak ibu?
40:04Semua anak kami sebenarnya, cuma dia yang paling parah.
40:07Satu keluarga kan?
40:08Iya.
40:08Sejak hari minggu kemarin.
40:10Hari minggu kemarin.
40:10Akhirnya kurang lebih sudah satu minggu.
40:11Iya, betul.
40:12Pertama kali yang Ibu ketahui ketika asap parhutlah semakin tebal,
40:16yang Ibu alami pertama kali, yang Ibu rasakan itu apa?
40:20Sesak.
40:20Sesak?
40:22Batuk, pileknya itu langsung demam.
40:26Dan ade juga?
40:27Iya, betul.
40:27Ade masih demam saat ini?
40:28Iya, masih.
40:29Boleh saya pegangnya coba ya?
40:30Iya.
40:32Masih cukup hangat, Bu, ya?
40:33Bahwa kita tahu juga, asap parhutlah ini kan sudah cukup lama ada di kota Palangkaraya.
40:37Dan bahkan Ibu sekeluarga sampai mengalami ISPA.
40:40Ada harapan yang ingin Ibu sampai?
40:42Iya, minta tolong aja untuk penanganan asapinya aja lah.
40:46Kasian anak-anak yang seperti ini, atau apa-apa aja.
40:49Kalau kita dewasa masih bisa kita rasakan, kan?
40:52Kalau efek dampaknya ini, seperti ini, anak itu enggak tahu apa yang sakit, apa yang dia rasakan.
41:01ISPA yang masih diderita sebanyak 3.897.
41:06Dan secara kumulatif ini ada 283.270.
41:12Dengan kasut terbanyaknya di usia di atas 5 tahun, yaitu 2019-559.
41:20Di 7 provinsi, 63 kabupaten kota.
41:25Siapa sesungguhnya pihak yang harus bertanggung jawab terkait dengan kahutlah di Kalimantan Tengah?
41:30Saat ini yang paling bertanggung jawab adalah negara.
41:38Saya cek dulu data fakta yang ada saat ini.
41:40Dengan berdasarkan satelit, misalnya Sipongi, kan ada itu kemudian hasil pemantuan NASA juga.
41:46Berapa sih luasan yang sebenarnya itu?
41:48Kan itu bisa dihitung.
41:50Dan tersebut dampaknya apa?
41:52Ya, targetnya as soon as possible, secepat mungkin.
41:56Karena kan rakyat sudah berdampak, jadi harus segera.
42:02Saudara Presiden Prabowo Subianto memimpin secara langsung rapat terbatas
42:06terkait dengan penanganan kebakaran hutan dan lahan di 6 provinsi prioritas pada tanggal 12 Oktober 2026.
42:14Dalam rapat tersebut, Presiden menyebut bahwa sudah terdapat penurunan yang cukup signifikan
42:19terkait dengan area luas kahutlah yang masih dalam proses pemadaman.
42:24Tapi pertanyaannya, dapatkah fenomena kahutlah dimaknai berdasarkan paparan angka?
42:30Saya akan tanyakan secara langsung kepada Direktur Walhi, Kalimantan Tengah, Bung Janang Firman Palanungkai.
42:37Bung Janang, terima kasih untuk waktunya.
42:38Terima kasih.
42:39Bahwa kita tahu, Bung Janang, ketika Presiden melakukan ratas dengan jajarannya,
42:43ada angka yang keluar, 639 hektare sisa kahutlah yang masih dalam proses pemadaman di 6 provinsi.
42:51Bahkan di Kalimantan Tengah hanya menyebutkan...
43:11Kita bisa menganalisis dari berbagai sumber ya,
43:14ternyata luasannya kebakaran yang disampaikan itu sangat sedikit apabila dibandingkan pada fakta yang di lapangan.
43:20Mungkin bisa disampaikan data apa yang kemudian dimiliki oleh Walhi?
43:23Data makro sebenarnya, Karura Kalteng itu, kalau kita bicara dari sumber lain, misalkan dari Nusantara Atlas,
43:30nah itu ada sekitar 68.299 hektare yang terbakar di wilayah Kalimantan Tengah.
43:36Dengan titik hotspot mencapai 267 ribu lebih gitu.
43:42Nah, peringkat wilayah yang paling terdampak kebakaran itu,
43:45nah ini kita lihat dari MEP Biomas ya, itu Sukamara yang paling banyak, 8 ribu hektare ini.
43:518 ribu hektare?
43:528 ribu hektare.
43:53Palangkaraya sekitar 677, itu data 14 Oktober ya?
43:58Artinya 677 hektare itu hanya untuk di kota Palangkaraya, bukan di Provinsi Kalimantan Tengah?
44:04Kata Palangkaraya saja.
44:06Ada perbedaan yang sangat jauh dari data yang kemudian dipaparkan oleh pemerintah,
44:11dengan data yang kemudian diperoleh oleh Walhi.
44:14Walhi melihatnya seperti apa perbedaan data ini?
44:16Kami sebenarnya jujur saja mengalami kebingungan ya sebenarnya dengan paparan itu.
44:20Apakah data itu Presiden dapatkan dari BNPB atau dari mana gitu?
44:24Artinya kalaupun misalkan BNPB menyampaikan data yang seperti itu,
44:27artinya itu, ini hanya menyenangkan hati Presiden saja gitu.
44:31Pantas saja misalkan dalam penanganan karutlah selama ini di Kalimantan Tengah khususnya ya,
44:35tidak begitu maksimal atau dianggap remeh saja, dianggap biasa saja.
44:39Ya karena memang secara basis data pun,
44:41mereka juga sudah jauh berbeda dengan kontekstual yang terjadi di lapangan saat ini.
44:46Dan ini peta yang kemudian juga diimpun oleh Walhi ya?
44:49Ya, dari BMKG ya.
44:50Bahkan bisa lihat di situ, Pulau Kalimantan Tengah ya.
44:53Bayangkan, nampak sekali kita dikepung oleh asap kan?
44:56Hampir seluruhnya tertutup.
44:57Hampir seluruhnya, hampir seluruhnya.
44:58Hanya sedikit saja di bagian atas itu, yang kemudian tidak sampai terkepung oleh asap.
45:03Nah, ini yang faktanya, makanya sampai yang puncak terakhir puncaknya adalah,
45:07tanggal 14 Oktober 2026,
45:11warna di Kalimantan, langit, bahkan sekitarannya itu sudah berwarna oranye.
45:15Kami di Walhi Kalten, sebenarnya ada membuka posko juga.
45:18Nah, sampai data terakhir kami itu, sampai 300 orang sebenarnya yang kemudian datang ke posko rumah aman asap kami untuk
45:26meminta bantuan.
45:27Mereka minta untuk mendapatkan oksigen gratis, bahkan nebulizer.
45:31Dan rata-rata yang datang ke sana adalah anak-anak usia balita, dan ibu-ibu hamil,
45:37orang tua yang kemudian sudah usia lanjut, gitu.
45:40Dan bahkan ada tidak sedikit juga yang kemudian yang mereka disabilitas, gitu.
45:45Tentu pertanyaannya, ketika melihat dampak yang sedemikian besar, siapa sesungguhnya pihak?
45:50Ataupun kelompok yang harus bertanggung jawab terkait dengan kahutlah di Kalimantan Tengah?
45:56Kalau menurut kami, saat ini yang paling bertanggung jawab adalah negara.
46:01Negara.
46:02Kenapa kemudian negara? Karena memang ini bagian dari kelalaian mereka.
46:09Putih, kuning hingga kemerahan menutup langit biru di Kalimantan
46:13akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan.
46:15Kesehatan ratusan ribu jiwa dan keselamatan satwa terancam asap pekat dan kobaran api di Tengah Rimba.
46:22Pemerintah harus serius memutus barakat hutlah, cegah percik api agar tak berulang kembali.
46:27Negara adalah tumpuan harapan di mana rakyat dapat menghirup bebas udara sehat dan menatap biru di langit Nusantara.
46:34Jadi pun berbahagia.
46:36Sampai jumpa minggu depan.
46:42Terima kasih telah menonton!
46:44Terima kasih telah menonton!

Dianjurkan