Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Polemik ijazah hingga desakan soal pemakzulan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka kembali memunculkan perbedaan sikap di antara partai politik pendukung pemerintahan Prabowo-Gibran.

Juru Bicara PKS Rangga Kusumo menyatakan DPR memiliki ruang konstitusional untuk menindaklanjuti persoalan tersebut melalui fungsi pengawasan, termasuk peluang penggunaan hak angket.

PKS menilai persoalan ini bukan sekadar soal ijazah, melainkan juga menyangkut kredibilitas kepemimpinan nasional dan keadilan antargenerasi.

Namun, Ketua DPP PSI Bestari Barus menilai urgensi langkah tersebut belum terlihat dan mempertanyakan motif politik di baliknya.

Bestari bahkan menuding langkah PKS berpotensi menjadi upaya percepatan pergantian kekuasaan.

Sementara itu, Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menyoroti kemungkinan munculnya fenomena "oposisi dari dalam", ketika partai pendukung pemerintah mengambil sikap berbeda terhadap isu yang menyangkut pemerintahan sendiri.



Produser: Prayogi Haro

Editor: Rafi

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/697999/ditegur-soal-adab-polemik-pemakzulan-gibran-pks-dorong-hak-angket-dpr-psi-tuding-manuver-politik
Transkrip
00:00Mas Rangga, terlebih dahulu. Mas Rangga memang saat ini DPR sedang reses gitu ya.
00:04Apakah dari PKS ini sudah ada pembicaraan di balik layar ataupun informal terkait dengan tindak lanjut ini?
00:11Iya, pertama begini ya. Saya ingin menjawab, kan pertanyaan mendasarnya adalah kita dipertanyakan mengapa ditindak lanjuti seperti itu.
00:20Nah, kita perlu cek ya bahwa gugatannya memang ditolak.
00:25Karena apa? Karena melebihi batas waktu rezim sengketa pemilu. Tapi kan bukan berarti substansinya itu diabaikan.
00:32Pertama begini setidaknya, kenapa ini bagi PKS perlu ditindak lanjutin?
00:36Pertama, dalam putusannya MK secara jelas tidak menemukan dokumen yang menunjukkan Saudara Gibran itu punya ijazah, sertifikat, atau diploma sebagai
00:48bukti menamatkan pendidikan di luar negeri yang setara SMA.
00:51Nah, ditambah juga bukan soal itu saja. Kalau kita lihat polemik yang lain adalah soal dugaan pasal selundupan PKPU 18
01:00ayat 3 itu seperti itu.
01:02Nah, polemik inilah yang kemudian PKS melihatnya dan menyebutnya sebagai ijazah.
01:08Kenapa? Karena ini menyangkut kredibilitas sebuah kepemimpinan nasional, meruah sebuah lembaga kepresidenan,
01:14dan bahkan lebih jauh daripada itu bagi kita anak muda, ini menyangkut soal keadilan antargenerasi.
01:21Bahwa demokrasi itu harus memastikan bahwa setiap anak muda punya kesempatan yang sama untuk menjadi pemimpin di Republik ini.
01:28Ini pelajaran penting bagi penyelenggaran pemilu kita ke depan.
01:32Nah, oleh karena itu kami tegas sikapnya adalah bahwa ijazah ini perlu diproses secara hukum dan konstitusional.
01:39Poin kedua, kita cermati, MK menegaskan bahwa penilaian mengenai keabsahan dan keterpenuhan syarat capers itu merupakan kewenangan lembaga lain.
01:51Emang MK menyatakan itu? Artinya apa?
01:53Artinya MK memberikan ruang bagi lembaga-lembaga negara lain untuk menyelidiki keabsahan persyaratan Saudara Gibran.
02:01Nah, pertanyaannya adalah lembaga negara mana yang bisa mendaklanjuti ini sebagai partai yang punya kursi di parlemen dan kita punya
02:11pengalaman juga di masa lalu soal pengajuan hak angket dan hak-hak lain.
02:16Maka kita melihat bahwa DPR itu punya ruang-ruang konstitusional menjalankan fungsi pengawasan untuk menindaklanjuti kasus tersebut.
02:26Begitu, Mas.
02:26Oke, tapi sudah ada pembicaraan sementara gitu, Mas Rangga, soal hal ini. Misalnya terus kemudian bagaimana respons dari partai-partai,
02:34mungkin fraksi-fraksi yang lain?
02:37Ya, tentu komunikasi terus dijalankan, bahkan kita sudah punya komunikasi yang baik juga antar pimpinan, antar sekjen, dan seluruhnya.
02:47Tapi kan kita juga harus melihat bagaimana dinamika ada respon di DPR seperti itu.
02:53Nah, tapi setidaknya kalau kita melihat bagaimana respon-respon partai lain yang tampak di media, misalnya ya kita melihat bukan
03:01cuma PKS kok yang membuka audiensi ini.
03:05Ada juga Golkar seperti itu. Bahkan juga ada partai yang tegas ini harus ditindaklanjuti seperti itu.
03:12Dan bahkan juga memang kaitin. Nah, kita melihat ada peluang ya. Ada peluang bagaimana ini bisa dilihat, didiskusikan di DPR.
03:20Tentu kita di PKS mengupayakan sesuai dengan kemampuan kami.
03:26Dan saya ingin menyatakan bahwa PKS itu tidak bisa sendirian.
03:31Karena kalau kita bicara angket itu minimal 25 anggota, kemudian juga lebih dari satu fraksi.
03:37Itu PKS tidak bisa sendirian seperti itu. Nah, makanya ini kita upayakan menjadi isu bersama di DPR untuk bisa dibahas.
03:48Oke, baik. Kalau dari Bang Bestari, PSI bagaimana menanggapi hal ini?
03:52Ada kemungkinan yang dibuka oleh PKS untuk mengajak partai-partai lain membahas ini di DPR?
03:59Ya, saya kira pertama adalah yang hadir hari ini bukan ahli hukum kelihatannya.
04:09Jadi, kalau ahli opini mungkin gitu ya.
04:15Karena yang kita lihat balik lagi tentang keputusan MK.
04:19Keputusan MK, sebetulnya kalau kalian mau bergerak tanpa keputusan MK kan kalian juga bisa bergerak.
04:27Kenapa mesti pakai keputusan MK yang NO gitu loh, yang ditolak.
04:33Membacanya itu begini.
04:35Kalau pertimbangan disatukan dengan Amar, harusnya membacanya.
04:40Walaupun kami menemukan bahwa tidak terlihat adanya ijasa, namun laporan kalian tetap kami tolak.
04:49Kan begitu tuh kesimpulannya sebetulnya.
04:51Ya, namun karena ada kegenitan-kegenitan, lama tidak mengorbit ke permukaan.
04:58Jadi mungkin kalau sekelas Mas Gibran yang dipersoalkan kan akan membawa dampak sedikit-sedikit.
05:06Khususnya bagi para lawan Mas Gibran pada waktu di kampanye politik pemenangan Prabowo Gibran.
05:15Ada hal yang lucu gitu, bahwa PKS ini kan ada di kabinet juga gitu ya.
05:24Ada Salim Segab Al-Jufri yang baru dapat kenikmatan juga itu diangkat sebagai salah satu Dewan Pertimbangan.
05:34Bapak yang mendapatkan nikmatan, ya itu bagian dari tugas.
05:37Sebentar, sebentar.
05:38Tadi kamu ngomong saya kan enggak, enggak motok.
05:41Tahan dulu, Mas Langga.
05:42Kamu ngomong saya diam, saya ngomong kamu diam.
05:46Kamu kayak partai yang enggak ada adab aja.
05:48Jadi saya lanjutkan.
05:49Kemudian ada lagi satu mendorong menteri di kabinet Prabowo Gibran.
05:58Hari ini tiba-tiba ada pikiran jelannya yang mungkin karena kurang sehat juga gitu.
06:05Hei, kalian sudah kasih kami ini.
06:07Sekarang kalian mau kami angket ya gitu.
06:10Saya enggak ngerti apa yang ada dalam pemikiran partai ini.
06:14Kemudian ingin berada di depan untuk mengajukan atau menginisiasi atau mengomandani gitu.
06:22Supaya popularitasnya dapat.
06:25Saya kira katakan tadi disebutkannya juga bahwa ini sebagai isu bersama.
06:33Masa anggota koalisi menggalang isu buruk bersama gitu.
06:38Ya Allah, Ya Rasulullah.
06:40Ini bagaimana partai seperti ini ada di dalam koalisi?
06:44Saya juga, kami jadi berkeyakinan karena urgensinya tidak terlihat.
06:49Setelah kami dalami, ini sekedar ingin melakukan katakanlah percepatan gitu.
06:56Langkah-langkah politik percepatan untuk mengganti kekuasaan.
07:00Ini sungguh berbahaya kelakuan-kelakuan mereka ini terhadap kepemimpinan Pak Prabowo Gibran ke depan.
07:07Nah ini yang harus dilihat oleh seluruh pendukung Prabowo Gibran termasuk kami sebagai pendukung yang paling utama.
07:16Kalau yang datang-datang di ujung kan termasuk PKS ini gitu.
07:19Tapi datang di ujung dapat kenikmatan pun kemudian ingin melengsirkan gitu.
07:25Aneh gitu.
07:25Tidak mengerti saya jalan pikirannya apa.
07:28Saya kira itu.
07:29Oke baik, nanti saya akan minta tanggapan Mas Rangga.
07:31Mas Rangga, tahan dulu kita ke Mas Adi dulu.
07:33Mas Adi, kalau tanggapan Anda terkait dengan hal ini disebut oleh Bang Bestari,
07:37ini sepertinya ada yang ingin mengorbit gitu ya.
07:39Walaupun sudah ada PKS di pemerintahan.
07:41Tapi apa yang dilakukan ini sepertinya kok tadi menurut Bang Bestari?
07:47Astagfirullah gitu.
07:49Ya, banyak hal sebenarnya.
07:52Pertama tentu kalau kita menghitung rata-rata secara umum soal follow up dari putusan Mahkamah Konditusi,
07:58itu kan yang sebenarnya paling agresif muncul dari kalangan aktivis,
08:03pegerak, civil society yang mendatangi sejumlah anggota DPR dan kemudian partai politik ya.
08:09Di antara sekian begitu banyak yang didatangi oleh kawan-kawan para aktivis itu,
08:14sebenarnya secara ofisial, secara kelembagaan yang menerima secara terbuka memang kawan-kawan PKS kan,
08:20dan itu diterima di DPP PKS.
08:23Sementara kalau Golkar kan tidak mewakili secara institusional,
08:26hanya mewakili misalnya Ahmad Doli Kurnia sebagai anggota dari Golkar kira-kira begitu,
08:33tapi secara kelembagaan Golkar tidak pernah memberikan statement secara terbuka.
08:36Begitupun dengan PKB ketika didatangi oleh kawan-kawan aktivis,
08:40dianggap tidak terlampang mewakili sikap politik PKB secara kelembagaan.
08:44Tapi kalau PKS kan relatif, dianggap mewakili sikap politik secara kelembagaan dan seterusnya.
08:49Yang ingin saya katakan adalah memang agresivitas untuk men-follow AP terkait dengan putusan Mahkamah Konstitusi,
08:56itu memang dimulai dari kawan-kawan aktivis yang kemudian disambut oleh sejumlah anggota Dewan dan partai seperti PKS.
09:03Nah yang kedua, ya per hari ini saya lihat rata-rata secara umum di DPR itu terkesan memang cari aman
09:10kira-kira begitu
09:10untuk mengomentari terkait dengan putusan Mahkamah Konstitusi.
09:14Ya terbukti, semuanya kan masih sifatnya normatif, statement politiknya.
09:18Ada yang mengatakan bahwa misalnya salah satu politisi gitu,
09:22tidak mengatakan, ya pertandingan dalam pemilu itu ada saatnya bertanding, ada saatnya juga berakhir.
09:28Anda itu boleh kritis terkait dengan hasil pertandingan, tapi Anda itu tidak bisa menyelesaikan itu sesuai dengan celera karena sudah
09:35ada aturan main.
09:36Itu kan statement-statement normatif, beberapa waktu yang lalu juga ada pernyataan dari kawan-kawan yang mengatakan,
09:41ya untuk menghindari kegaduhan dan polemik ya seharusnya semua pihak menahan diri dan seterusnya dan seterusnya.
09:48Artinya yang ingin saya katakan adalah, kalau kita hitung kawan-kawan di DPR itu kan tidak bulat sikap politiknya.
09:54Ada yang cenderung menghindari, ada cenderung yang memang sifatnya normatif, ada juga yang memang seperti kawan PKS gitu ya.
10:02Tapi di dalam, di anggota Dewan Fraksi PKS belum secara konsolidatif mengusulkan ini sebagai sebuah sikap politik resmi.
10:10Publik akan melihat kalau ini menjadi sebagai sebuah sikap politik resmi,
10:14kalau kemudian muncul di fraksi, di kawan-kawan politisi PKS yang ada di Senayan.
10:18Nah yang kedua kalau soal panggung, apa segala macam, ya tentu itu pernyataan bang, bestari ya.
10:25Tapi dalam sistem presidensialisme, multipartai ekstrim mas, memang ada kecenderungan yang disebut dengan soal potensi munculnya oposisi dari dalam.
10:34Jadi partai-partai koalisi yang ada di dalam itu seringkali cenderung berbeda sikap politiknya dengan eksekutif yang diusungnya.
10:41Ini memang fenomena aneh di kita. Dulu, waktu PKS dan Golkar bersama dengan PSB ada sejumlah kebijakan politik yang berbeda.
10:49Misalnya soal hak angkat senturi, PKS dan Golkar kalau tidak salah mendukung.
10:54Sementara partai koalisional pemerintah yang mendukung PSB saat itu sangat menolak.
10:59Termasuk juga soal kenaikan BBM saat itu, partai-partai koalisi PSB menentang dan seterusnya dan seterusnya.
11:05Jadi ini adalah fenomena yang dalam banyak hal dianggap semacam anomali dalam sistem presidensialisme.
11:13Di mana partai koalisi satu sisi bersamaan itu mendukung eksekutif presiden dan wakil presiden.
11:19Tapi dalam banyak hal memang selalu muncul oposisi dari dalam.
11:22Peda sikap politik, kira-kira begitu.
11:25Dan bahkan kalau muncul soal hak angkat ataupun soal pansus terkait dengan ijasa.
11:30Ya ini juga pasti akan dianggap sebagai fenomena munculnya oposisi dari dalam.
11:35Bahkan saya secara terbuka beberapa waktu yang lalu ketika Budi Ari bicara tentang soal kemungkinan retakan sejarah.
11:42Ya kira-kira begitu soal kemungkinan pemilu proses politik dipercepat istilahnya Budi Ari.
11:49Saya menyebutnya itu adalah soal potensi oposisi dari dalam.
11:53Karena ini yang saya sebut sebagai cacat bawaan dalam sistem presidensialisme multipartai.
11:58Satu sisi siap berkoalisi, tapi sisi yang lain kalau ada sesuatu yang sifatnya konfliktual dan tidak sejalan.
12:05Bisa beda-beda mas di akhir perjuangan politik bersama ini.
12:09Itu yang saya sebut sebagai fenomena dalam sistem presidensialisme multipartai.
12:13Oke baik, nah ini yang ingin saya tanyakan ke Mas Rangga.
12:15Mas Rangga, istilah oposisi dari dalam kemudian tadi tanggapan ke pernyataan Bang Bestari bahwa ini lama tidak ngorbit gitu.
12:21Yaudah lah, walaupun sudah dikasih kenikmatan tapi tetap dalam tanda kutip ada langkah percepatan untuk ganti rezim.
12:27Seperti apa?
12:29Ya, sejak awal Mas, kami selalu menempatkan bahwa kasus ini, polemat ini, itu bukan tentang personal.
12:38Bahkan bukan tentang selambar ijazah saja.
12:41Tapi ini soal, tadi saya bilang, soal kredibilitas kepemimpinan nasional itu seperti itu.
12:46Jadi ada hal-hal yang substantif dalam bernegara gitu.
12:50Yang ini perlu untuk mendapatkan pengertian serius.
12:55Dan keputusan MK itu adalah keputusan yang dikeluarkan oleh sebuah lembaga negara.
12:59Jadi tidak bisa kalau kita abaikan seperti itu saja.
13:03Jadi saya kira kalau ada narasi-narasi tadi sangat, saya kira Pak Bestari, apalagi tadi menuduh PKS begitu ya, ingin
13:12melengsarkan ataupun pergantian lebih cepat.
13:16Saya tegaskan bahwa si KPKS itu jelas bahwa keputusan yang kita pegang saat ini adalah keputusan Majelis Yoro.
13:23Kita mendukung pemerintahan, kita bagian dari koalisi sampai 2029.
13:28Saya kira itu tuduhan yang tidak benar seperti itu.
13:30Oke, tuduhan tidak benar Bang Bestari.
13:33Tapi bagaimana kalau Anda melihatnya ke depannya bakal ada nggak sih partai-partai yang ingin mengikut paling tidak ke PKS
13:38dan juga PDIP?
13:41Saya kira begini.
13:44Kami sebagai partai politik pendukung pertama Pak Prabowo Gibran,
13:51itu juga berharap bahwa koalisi ini solid, baik yang pertama, partai-partai yang datang pertama dan yang datang di ujung
14:04-ujung.
14:05Bukan begitu.
14:06Sama-sama kemudian memperjuangkan apa yang menjadi cita-cita daripada kepemimpinan Pak Prabowo Gibran.
14:16Bukan mengutak atiknya untuk satu popularitas.
14:19Dan kemudian kalau dikatakan kredibilitas,
14:22Sudahlah, jangan juga menganggap bahwa diri kita sebagai sandaran daripada,
14:29apa namanya, untuk ukuran sebuah kredibilitas terhadap para pihak.
14:35Cobalah mengaca kepada diri sendiri dan mulailah memperbaiki internal masing-masing kita
14:41demi suksesnya apa yang menjadi cita-cita Pak Prabowo dan Mas Gibran
14:47yang seluruh partai ikut bergabung di dalamnya,
14:50tidak usah juga kegenitan kemudian ikut-ikut kepada partai-partai atau partai yang memang antipati gitu
14:59terhadap salah satu atau dua daripada pemerintahan, tokoh pemerintahan kita ini.
15:08Menyatakan tidak bergabung, tapi menyatakan juga tidak tetap mendukung.
15:15Yang jelas-jelas saja lah, hari ini kita ingin bahwa seluruh masyarakat bangsa terlibat bersama
15:23dan untuk mensukseskan program-program kerja dari pasangan Kabinet Prabowo Gibran.

Dianjurkan