Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
Temui Presiden Prabowo, Panglima Jilah Ungkap Peladang Adat Sering Disalahkan Soal Karhutla

Pimpinan Pasukan Merah TBBR, Panglima Jilah, menyampaikan pandangannya terkait penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) usai bertemu dengan Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka.

Panglima Jilah menegaskan bahwa kerap terjadi kekeliruan persepsi yang menyalahkan peladang adat sebagai pemicu Karhutla. Menurutnya, masyarakat adat Dayak telah berladang secara arif selama ribuan tahun dan tidak pernah membuka lahan di area tanah gambut yang menjadi sumber utama asap, melainkan di tanah mineral.

Dalam kesempatan tersebut, Panglima Jilah juga menyinggung adanya dugaan kekeliruan atau salah tangkap terhadap warga adat yang tengah berladang karena disamakan dengan aktivitas pembukaan lahan perkebunan. Pihaknya mengapresiasi dukungan pemerintah yang tetap mengakomodasi kearifan lokal masyarakat adat dalam berladang sembari terus mengedukasi dan memantau pencegahan Karhutla di wilayah Kalimantan Barat.

#KarhutlaKalimantan #PanglimaJilah #PeladangAdat

Creative/Video Editor: Aqilah/Atha
===================================
Homepage: https://www.suara.com
Facebook Fan Page: https://www.facebook.com/suaradotcom
Instagram:https://www.instagram.com/suaradotcom/
Twitter: https://twitter.com/suaradotcom
Transkrip
00:00Di Kalimantan Barat itu, kahutlah itu sebenarnya sudah sering terjadi.
00:06Tetapi yang menjadi pemikiran kita itu, peladang itu disalahkan.
00:17Jadi peladang itu dengan perkebunan itu kadang-kadang bersamaan waktunya.
00:26Akhirnya peladang yang disalahkan.
00:28Tetapi sebenarnya orang berladang tidak di lahan gambut.
00:32Orang berladang itu di lahan mineral.
00:36Jadi dengan waktu yang bersamaan, akhirnya mungkin orang-orang yang tidak tahu tentang bagaimana berladang,
00:45bagaimana kehidupan kami di sana, akhirnya menunduh peladang yang menjadi sumber asapnya.
00:51Tetapi bukan, orang berladang tidak akan mungkin mau nanam padinya ke tempat yang gambut.
00:57Gambut, itu saja logikanya ya.
01:14Itu khusus untuk perkebunan saja?
01:18Kalau ke Arifan Lopan tidak?
01:28Beliau mendukung masyarakat adat?
01:31Berladang didukung.
01:48Kita masyarakat adat itu memang selalu monitoring Pak.
01:52Jadi kalau kita membakar di mana lahan ladang kita dibakar, disitulah kita yang akan monitoringnya.
01:57Dan itu tidak pernah terjadi namanya ada kebakaran hutan.
02:00Sebelum adanya perkebunan, di Kalimantan itu sudah ada namanya berladang dari zaman dulu, ribuan tahun yang lalu bahkan.
02:10Dan tidak pernah kita melihat namanya kejadian-kejadian yang seperti ini.
02:15Karena orang daya tidak berladang di lahan gambut.
02:20Gambut itu tebal, gambutnya tebal.
02:36Masyarakat adat bersosialisasi lewat tokoh-tokoh adat agar tidak sembarangan membakar hutan.
02:43Karena masyarakat adat itu identik dengan, dekat dengan alam.
02:48Tentunya tidak ada alam, tidak ada masyarakat adat.
02:51Begitu dia. Kita menjaga.
03:02Kemungkinan ada, tapi kemungkinan salah tangkap.
03:05Mungkin ada yang berladang, mungkin dikira berkebun.
03:09Nanti akan kita seleksi Pak.
03:14Sudah cukup ya.
03:15Terima kasih.
03:21Terima kasih telah menonton.
Komentar

Dianjurkan