Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
PALANGKA RAYA, KOMPAS.TV - Asap pekat akibat karhutla mengepung Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

Aktivitas di luar ruangan pun mengancam kesehatan warga.

Namun, tak semua warga bisa berlindung di dalam rumah dari pekatnya asap.

Warga tetap harus beraktivitas di tengah paparan asap yang mengancam kesehatan.

Badariah dan Joni, dua petugas kebersihan Pemkot Palangka Raya, terpaksa menghirup asap pekat karhutla setiap hari.

Meski mulai mengeluh sesak dan sakit kepala, mereka tetap bekerja demi mengais rezeki.
Tak hanya petugas kebersihan.

Ardi, seorang pengemudi ojek online mulai merasakan sesak napas.

Tiga bulan terkepung asap. Ia menjerit meminta pemerintah beri solusi nyata mengatasi kebakaran hutan dan lahan yang kian mengancam.

Hingga Senin (12/10/ 2026), pukul 8 malam, data Indeks Standar Pencemar Udara dari Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan udara di Kota Palangka Raya termasuk dalam kategori berbahaya.

Gerak cepat atasi karhutla dinanti demi keselamatan warga.

Sejumlah warga mau tidak mau harus tetap beraktivitas di luar ruangan di tengah kabut asap.

Kita akan tanya langsung kepada warga Palangka Raya. Sudah ada Andrew Sembiring, pengemudi ojek online dan juga Dahliana, pegawai swasta.

Baca Juga Pemerintah Belum Tetapkan Karhutla jadi Bencana Nasional, Ini Kata Menko Polkam Dudung di https://www.kompas.tv/nasional/695593/pemerintah-belum-tetapkan-karhutla-jadi-bencana-nasional-ini-kata-menko-polkam-dudung

#karhutla #palangkaraya #kabutasap

_

Sahabat KompasTV, apa pendapat kalian soal berita ini? Komentar di bawah ya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/695598/full-pengemudi-ojol-dan-pegawai-swasta-keluhkan-sesak-napas-bekerja-di-tengah-kabut-asap-karhutla
Transkrip
00:00Enko Pulkam Dudung Abdul Rahman menyebut pemerintah belum memutuskan sikap soal tawaran bantuan Malaysia mengatasi kebakaran hutan dan lahan.
00:07Pemerintah juga belum menetapkan kebakaran hutan dan lahan sebagai bencana nasional karena masih mampu menangani kebakaran.
00:30Akan ditetapkan sebagai bencana nasional gak sih lho?
00:32Belum, memang ada ya tanggapan dari negara lain masalah kebakaran hutan ini tetapi kita sudah maksimal berupaya ya.
00:43Mudah-mudahan ini bisa segera dilaksanakan.
00:46Asap pekat akibat kebakaran hutan dan lahan melimuti kota Palangkar Raya, Kalimantan Tengah.
00:51Bekatnya asap membuat warga yang bekerja di luar ruangan mulai merasa sesak nafas.
01:00Benapas sesak, kepala sakit, ya efeknya itu memang gak sehat lah rasanya.
01:08Gimana lagi kalau kita yang kerja di lapangan, mau gak mau harus tetap kerja di lapangan karena untuk sesuap nasi
01:15kan.
01:18Asap pekat akibat karhutlah mengepung kota Palangkar Raya, Kalimantan Tengah.
01:23Aktivitas di luar ruangan pun mengancam kesehatan warga.
01:26Namun, tak semua warga bisa berlindung di dalam rumah dari pekatnya asap.
01:32Warga tetap harus beraktivitas di tengah paperan asap yang mengancam kesehatan.
01:37Badariah dan Joni, dua petugas kebersihan Pemkot Palangkar Raya, terpaksa menghirup asap pekat karhutlah setiap hari.
01:45Meski mulai mengeluh sesak dan sakit kepala, mereka tetap bekerja demi mengais rezeki.
01:51Berasa aku tuh lah, yang pertama tuh bernafas sesak, kepala sakit.
01:57Ya efeknya tuh memang gak sehat lah rasanya.
02:00Agustus lah aku merasa tuh, mungkin dulu-dulunya kada terasa lagi.
02:04Mungkin kelamaan rasanya tuh.
02:06Gimana lagi kalau kita yang kerja di lapangan, mau gak mau harus tetap kerja di lapangan karena untuk sesuap nasi
02:14kan.
02:14Kita gak kerja kan gak makan. Kalau yang untuk kerja di lapangan memang harus mau gak mau kita harus kuat
02:21mental, kuat fisik.
02:24Tak hanya petugas kebersihan.
02:26Ardi, seorang pengemudi ojek online di Palangkar Raya, mulai merasakan sesak napas.
02:32Tiga bulan terkepung asap.
02:35Ia menjerit meminta pemerintah beri solusi nyata mengatasi kebakaran hutan dan lahan yang kian mengancam.
02:41Ini sih sesak sih di dada, berat juga kalau mau yang gimana-gimana kita beraktifitas itu.
02:48Kayak gimana ya rasanya itu sesak banget sih.
02:51Kalau untuk pernafasan itu tuh kurang ini, kurang lega gitu.
02:56Olehnya kan kita gak ada oksigen juga apa segala macam.
02:59Moga cepat ini aja sih mas, cepat selesai aja sih kabut asap ini.
03:04Soalnya kita udah 3 bulan, 4 bulan ini ngerasain kayak gini.
03:07Gak ada ininya juga solusi yang bagus gitu.
03:11Hingga Senin 12 Oktober 2026, pukul 8 malam, data indeks standar pencemaran udara dari Kementerian Lingkungan Hidup menunjukkan udara di
03:20kota Palangkar Raya termasuk dalam kategori berbahaya.
03:25Gerak cepat atas sikar hutlah dinanti demi keselamatan warga.
03:30Tim meliputan Kompas TV Palangkar Raya, Kalimantan Tengah.
03:39Sejumlah warga mau tidak mau harus tetap beraktifitas di luar ruangan di tengah kabut asap.
03:45Kita akan tanya langsung pada warga Palangkar Raya.
03:47Sudah ada Andrew Sembiring, pengmudi ojek online.
03:50Dan juga Dah Liana, pegawai swasta.
03:53Selamat malam Mas Andrew dan juga Mbak Dah Liana.
03:57Apa kabar?
03:58Selamat malam.
04:00Kabar saya baik.
04:03Baik, saya akan bertanya ke Mas Andrew terlebih dahulu.
04:07Mas, ini Anda ini sebagai pengmudi ojek online, Anda setiap hari harus mencari penumpang.
04:14Bagaimana kondisi kesehatan Anda di tengah kabut asap yang menyelimuti Palangkar Raya?
04:19Untuk kesehatan saat ini memang terasa sesak dan kalau mengomudi di lapangan itu mata terasa beri, Pak Gali.
04:29Berarti kan ini tiap hari terpapar asap di jalan.
04:33Ada keluhan soal kondisi kesehatan Anda, Mas Andrew?
04:37Sudah pasti ada, Pak Gali.
04:40Untuk saat ini memang terasa sesak, berat gitu kalau di jalanan, Pak Gali.
04:47Dan setiap hari Anda juga harus selalu menggunakan masker untuk beraktivitas ya, Mas Andrew?
04:52Ya, bahkan kalau asap tembal itu sampai dua lapis, Pak Gali.
04:59Yang Anda lihat sendiri ketika Anda operasional gitu sebagai pengmudi ojek online,
05:05seperti apa kondisi Palangkar Raya saat ini?
05:10Kondisi Palangkar Raya saat ini sangat buruk ya, Pak Gali.
05:14Dari pagi sampai siang tadi, asap sudah sampai menguning dan sore hari ini sudah sangat menguning dan malam hari ini
05:24baru agak reda lagi asapnya, Pak Gali.
05:27Jadi kalau siang pekat, malam sedikit berkurang seperti itu, Mas Andrew.
05:31Saya ke Mbak Dahliana.
05:33Mbak Dahliana, bagaimana dengan kondisi Anda, Mbak Dahliana?
05:38Kondisi saya saat ini, dada sesak, tenggorokan juga sakit, batu, begitu.
05:45Anda sebagai pegawai swasta, aktivitas Anda itu normalnya seperti apa?
05:52Berangkat pagi, pulang sore, dan ketika berangkat atau pulang kerja,
05:57baru mengalami adanya dampak dari kabut asap ini?
06:03Atau seperti apa? Bisa ceritakan kepada kami?
06:06Saya sih berangkat dari rumah sampai ke kantor sekitar 11 km,
06:13sekitar 15 menit sampai 20 menit di jalan, naik motor,
06:17sudah terkepung dengan asap.
06:20Jadi setiap perjalanan menempuh waktu 10 menit dan dampak kabut asap ini sangat terasa.
06:27Dengan kondisi pelangkah raya yang dikepung kabut asap itu,
06:31apakah ada kebijakan dari perusahaan Anda tempat bekerja untuk WFH atau seperti apa, Mbak Dahliana?
06:39Kalau dari kantor, saya sih belum ada.
06:42Belum ada kebijakan bahwa kita kan terdampak di sini,
06:46tapi mereka sih masih belum ada memberikan WFH untuk kami.
06:56Apakah ada sosialisasi atau imbuan,
06:59ataupun dari pihak perusahaan membagikan masker,
07:02ada nggak, Mbak, seperti itu?
07:05Tidak ada sih.
07:07Anda tadi sempat bercerita bahwa Anda juga mengalami sesak seperti itu
07:11akibat kabut asap.
07:13Apakah Anda sudah pernah melakukan pemeriksaan atau seperti apa, Mbak Dahliana?
07:18Sudah.
07:19Kemarin saya hari Senin sudah ke puskesmas,
07:24berobat.
07:25Ya, diagnosanya, kata dokter,
07:29memang karena terpapar asap,
07:32sehingga terhirup oksigen yang buruk.
07:36Apa saran dokter setelah pemeriksaan ini, Mbak?
07:42Sarannya beristirahat di rumah,
07:44dan saya sudah izin juga,
07:46izin sakit untuk berobat,
07:49dan beristirahat di rumah saja.
07:53Mbak Dahliana,
07:55tentu Anda tidak sendiri.
07:57Bagaimana dengan rekan-rekan Anda di perusahaan dan tempat bekerja?
08:00Apakah juga mengalami hal yang sama?
08:04Sama, mereka juga sebagian ada yang sakit,
08:10ada yang kita bersama-sama izin di kantor,
08:13tidak ke kantor, gitu.
08:16Baik, Mbak Dahliana,
08:17saya kembali ke Mas Endru.
08:19Mas Endru,
08:20ini kan Anda harus dengan kondisi pekatnya kabut asap ini,
08:24apakah Anda juga sudah pernah melakukan pemeriksaan kesehatan, Mas Endru?
08:29Kalau untuk pemeriksaan kesehatan,
08:31sudah, Pak Gali,
08:32pemeriksaan kesehatan gratis yang dilakukan oleh Linaf Kesehatan di Bundaran Besar itu,
08:38cuma oksigen, Pak Gali.
08:39Saya juga mendapatkan oksigen gratis di sana, Pak Gali.
08:44Apa hasil dari pemeriksaan kesehatan terhadap Anda, Mas Endru?
08:48Hasil pemeriksaan saat itu semuanya normal, Pak Gali,
08:53cuma katanya ada sesak dan kering di tenggorokan, kata Pak Gali.
09:00Apakah ada suatu kebijakan atau sosialisasi dari perusahaan tempat Anda bekerja
09:05supaya aktivitas Anda ini tetap berjalan lancar
09:09dan juga mengantisipasi kondisi hal yang tidak memungkinkan?
09:14Pak Gali, selalu disarankan itu pada aplikasi untuk menggunakan masker,
09:24baik saat mengantara walaupun dikeluar kegiatan keluar dengan Pak Gali.
09:30Mas Endru, dengan kondisi pekatnya kabut asap di Palangkaraya,
09:33Anda juga terpaksa harus tetap bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
09:38Namun terkait dengan kondisi ini, penumpang tetap seperti hari biasa
09:42atau mulai berkurang sejak asap Karhutla ini mengepung Palangkaraya, Mas Endru?
09:48Untuk penumpang sehari ini sudah sangat berkurang untuk asap ini ya, Pak Gali.
09:56Apalagi waktu di pagi hari, waktu tiga hari itu kami mendapatkan penumpang dari anak sekolah
10:02yang saat ini dilakukannya pembelajaran cara jauh, Pak Gali.
10:07Penumpang menjadi berkurang.
10:09Jadi ketika operasional ini, Anda selalu dari pagi sampai malam atau seperti apa bisa diceritakan?
10:17Ya, dari pagi, dari jam 5 pagi sampai jam 10 malam, Pak Gali.
10:22Dari 5 pagi itu targetnya untuk pemberaikatan anak sekolah.
10:28Tapi untuk saat ini anak sekolah sedang pembelajaran cara jauh.
10:32Jadi untuk saat ini, pemasukan berkurang berkisar 50% Pak Gali.
10:38Jadi Anda selalu beraktivitas setiap hari, bekerja untuk mencari rejeki sebagai pengundi ojek online,
10:45namun juga ke posko-posko kesehatan untuk melakukan pemeriksaan.
10:48Saya ke Mbak Dahiliana kembali.
10:51Mbak Dahiliana, bagaimana cara Anda menjaga kondisi kesehatan ketika memang harus beraktivitas untuk pergi berangkat kerja?
11:01Saya harus menggunakan masker.
11:06Ya, kalau sampai ke kantor, saya harus menutup pintu, ventilasi agar udara asap di luar tidak masuk ke ruangan.
11:17Sudah adakah saran dari dokter terkait dengan kondisi palangkaraya yang digepung kabut asap ini untuk Anda ketika Anda melakukan pemeriksaan
11:26kesehatan?
11:31Mungkin asupan sehari-hari seperti apa?
11:33Makanan yang harus dimakan atau bisa diceritakan kepada kami?
11:38Untuk makanan sih, yang pasti yang harus jangan yang berminyak-minyak,
11:44untuk tidak memicu, tambah gatal, tenggorokan, makan buah yang pasti jangan terlalu, jangan begadang,
11:54dan jangan keluar rumah kalau bisa.
11:58Begitu.
11:59Oke. Mas Indru, untuk menjaga kesehatan, seperti apa mas selain melakukan pemeriksaan di posko?
12:06Untuk menjaga kesehatan saat ini, kalau di lapangan itu, saya waktu asap tipis, saya menggunakan satu masker,
12:14dan pada saat asap tebal, agak susah sebenarnya Pak Gali, karena saya harus menggunakan dua masker.
12:21Karena kalau menggunakan satu masker itu, asap karhutlah itu tembus, dan saat menggunakan dua masker itu terasa sesak karena terlalu
12:31tebal maskernya Pak Gali.
12:32Ini Anda harus menggunakan dua masker, dengan kondisi kabut asap yang seperti itu, tentu sangat mengganggu aktivitas Anda, Mas Indru.
12:42Ya, betul Pak Gali.
12:45Bagaimana dengan keluarga Anda, Mas Indru?
12:48Untuk keluarga saat ini, berada di Sumatera Pak Gali, saya anak perantau di sini Pak Gali.
12:56Oke. Tapi kondisinya di Sumatera kan juga sama, bagaimana dengan kondisi keluarga di sana?
13:03Kondisi keluarga di sana juga, saat ini sedang di rumah Pak Gali, selalu di rumah, untuk mengurangi kegiatan aktivitas di
13:13luar rumah, untuk saat ini baik-baik saja Pak Gali.
13:15Jadi keluarga ada di Sumatera dan harus mengurangi aktivitas di rumah, Mas Indru pun juga selalu menjaga kesehatan, supaya aktivitasnya
13:23juga terus bisa dilakukan.
13:26Terakhir, Mas Indru, apa yang mau disampaikan ke pemerintah?
13:32Untuk pemerintah saat ini, untuk cepat menanggulangi asap karut lainnya Pak Gali, agar bisa melantarkan siklus ekonomi dengan seperti biasanya
13:42Pak Gali.
13:43Oke, saya ke Mbak Daliana. Mbak Daliana, keluarga Anda sendiri seperti apa Mbak Daliana?
13:52Keluarga saya sih ada di Batola juga, saya di sini perantauan.
13:57Kalau untuk mereka sih mungkin agak terdampaknya kurang, karena agak apa ya, di kampung gitu.
14:08Keluarga di Batola itu di Kalimantan mana Mbak?
14:12Di Kalimantan Selatan.
14:14Oh Kalimantan Selatan, jadi terpapar dengan dampak kabut asap juga ya?
14:20Kurang, kata mereka sih kurang.
14:22Oh tidak terlalu ya?
14:26Iya.
14:26Apa Mbak pesan yang ingin disampaikan kepada pemerintah?
14:31Saya harap sih semoga kabut asap yang dianggap jadi musiman ini meredah.
14:38Dan saran saya ke depan diharapkan pemerintah bisa cepat mengantisipasi dengan bijak jika terjadi bencana seperti ini juga.
14:47Dan jangan dipercandakan seperti kata Gubernur Karteng kemarin, bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi.
15:01Saya rasa itu tidak perlu diucapkan dengan situasi seperti ini.
15:06Baik, terima kasih Mbak Daliana, pegawai swasta, warga Palangkaraya.
15:10Dan tadi sebelumnya ada Mas Andrew Sembiring, pengmudi Ojek Online dan juga warga Palangkaraya telah berbagi cerita bersama kami.
15:18Seperti apa dampak yang dirasakan akibat karhutlah yang terjadi di sana.
15:22Terima kasih.
15:23Terima kasih, Pak Gali.
15:25Sama-sama, makasih Pak Gali.
15:26Terima kasih.

Dianjurkan