JAKARTA, KOMPAS.TV Presiden ke-7 RI Joko Widodo mendapat dukungan dari sejumlah kader daerah untuk menjadi Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI). Usulan ini muncul di tengah keterlibatan Jokowi sebagai kader PSI dan dinilai berkaitan dengan kebutuhan partai terhadap figur yang memiliki daya tarik elektoral.
Wakil Ketua Umum PSI Ronald Sinaga menyampaikan aspirasi tersebut saat mendatangi kediaman Jokowi di Solo, Jawa Tengah. Namun, Jokowi belum memberikan jawaban terkait usulan tersebut. Penentuan posisi dalam struktur partai tetap bergantung pada mekanisme internal PSI dan kepemimpinan Ketua Umum Kaesang Pangarep.
Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali menilai popularitas Jokowi menjadi modal bagi partai. Meski demikian, upaya meraih kemenangan pada Pemilu 2029 tidak cukup hanya mengandalkan figur Jokowi, tetapi juga membutuhkan kinerja mesin partai yang kuat.
Pengamat politik Agung Baskoro menilai dorongan agar Jokowi menjadi ketua umum didasari kebutuhan magnet elektoral, sementara keputusan Jokowi bergabung dengan partai politik dinilai sebagai upaya mencari perlindungan dari serangan politik berkepanjangan.
Mengapa ada desakan agar Jokowi menjadi Ketua Umum PSI, dan sejauh mana pengaruhnya bagi partai? Kita bahas bersama Ketua DPP PSI Dedek Prayudi dan Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi.
#jokowi #psi #kaesangpangarep #politikindonesia #pemilu2029 #kompastv
Baca Juga [FULL] PANAS! Bonatua & Ade Darmawan Saling Debat soal Pelaporan Gibran ke Bawaslu | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/nasional/698131/full-panas-bonatua-ade-darmawan-saling-debat-soal-pelaporan-gibran-ke-bawaslu-sapa-malam
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/698132/full-ketua-dpp-psi-pengamat-bahas-usulan-jokowi-jadi-ketum-psi-dongkrak-suara-di-pemilu-2029
Wakil Ketua Umum PSI Ronald Sinaga menyampaikan aspirasi tersebut saat mendatangi kediaman Jokowi di Solo, Jawa Tengah. Namun, Jokowi belum memberikan jawaban terkait usulan tersebut. Penentuan posisi dalam struktur partai tetap bergantung pada mekanisme internal PSI dan kepemimpinan Ketua Umum Kaesang Pangarep.
Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali menilai popularitas Jokowi menjadi modal bagi partai. Meski demikian, upaya meraih kemenangan pada Pemilu 2029 tidak cukup hanya mengandalkan figur Jokowi, tetapi juga membutuhkan kinerja mesin partai yang kuat.
Pengamat politik Agung Baskoro menilai dorongan agar Jokowi menjadi ketua umum didasari kebutuhan magnet elektoral, sementara keputusan Jokowi bergabung dengan partai politik dinilai sebagai upaya mencari perlindungan dari serangan politik berkepanjangan.
Mengapa ada desakan agar Jokowi menjadi Ketua Umum PSI, dan sejauh mana pengaruhnya bagi partai? Kita bahas bersama Ketua DPP PSI Dedek Prayudi dan Direktur Eksekutif Voxpol Center Pangi Syarwi.
#jokowi #psi #kaesangpangarep #politikindonesia #pemilu2029 #kompastv
Baca Juga [FULL] PANAS! Bonatua & Ade Darmawan Saling Debat soal Pelaporan Gibran ke Bawaslu | SAPA MALAM di https://www.kompas.tv/nasional/698131/full-panas-bonatua-ade-darmawan-saling-debat-soal-pelaporan-gibran-ke-bawaslu-sapa-malam
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/698132/full-ketua-dpp-psi-pengamat-bahas-usulan-jokowi-jadi-ketum-psi-dongkrak-suara-di-pemilu-2029
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:04Intro
00:06Sudah Presiden ke-7 Republik Indonesia Jokowi Dodo mendapat dukungan
00:10untuk menjadi Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia.
00:12Menurut pengamat politik Jokowi dan PSI, saling membutuhkan.
00:20JOKOWI! JOKOWI!
00:22Presiden ke-7 RI Jokowi Dodo kini tak malu-malu lagi menunjukkan dirinya
00:26sudah menjadi bagian dari Partai Solidaritas Indonesia.
00:30Hanya saja keberadaan Jokowi di partai berlambang gajah itu
00:33hanyalah anggota atau kader biasa.
00:36Namun kini ada usulan untuk menjadikan Jokowi sebagai Ketua Umum PSI.
00:41Aspirasi yang diklaim datang dari kader daerah itu disampaikan
00:44waketum PSI Ronald Sinaga atau biasa di Sapa Broron
00:48ketika mendatangi kediaman Jokowi di Solo, Jawa Tengah.
00:52Meski Jokowi belum menjawab,
00:54usulan posisi Jokowi di struktur partai bergantung dengan Ketua Umum PSI,
00:59Kesang Pangarep, yang merupakan Putra Bungsu Jokowi.
01:03Dua minggu lalu disini ada pengurus dari Cepon bilang
01:06ada pengennya Bapak jadi Ketua Umum.
01:09Percaya nggak percaya?
01:10Bukan hanya satu aja daerah yang ingin Bapak jadi Ketua Umum.
01:14Tetapi kebanyakan intinya mereka inginkan Bapak menjadi pengurus
01:18secepatnya di PSI.
01:21Kita mendengar aja di bawah ya.
01:24Ada yang ingin menjadi Ketua Umum, ada yang ingin menjadi pembina.
01:28Semua kita tampung.
01:30Ketua Harian DPP PSI Ahmad Ali menyebut,
01:34popularitas figur Jokowi kuat sebagai seorang presiden yang lahir dari masyarakat biasa.
01:39Tetapi untuk membawa PSI meraih kemenangan di 2029,
01:43tak cukup jika hanya mengandalkan figur saja.
01:45Kinerja mesin partai juga harus kuat agar bisa membawa PSI unggul.
01:53Sejak go public di PSI,
01:55Jokowi kerap menunjukkan kartu tanda anggotanya saat bersafari politik.
01:59Menurutnya, ini merupakan pengingat sekaligus penegasan
02:02tentang janjinya akan all out untuk PSI.
02:05Saat ditanya soal posisi Dewan Pembina,
02:08Jokowi menyebut,
02:09ada mekanisme partai untuk menentukan struktur kepengurusan.
02:15Menunjukkan bahwa saya sangat serius
02:17untuk membesarkan PSI.
02:24Bahwa itu saya tunjukkan di NTT,
02:28di Kota Bandung,
02:28atau di tempat lain yaitu
02:30Urusan Momentum Majel.
02:33Ya terserah pada partai,
02:35karena di PSI ada mekanisme
02:37untuk jadi ketua umum itu lewat Kongres,
02:40untuk menjadi ketua Dewan Pembina itu ada mekanismenya lagi.
02:47Menurut pengamat politik, Agung Baskoro,
02:50keinginan kadar PSI mendorong Jokowi menjadi ketua umum
02:53didasari oleh kebutuhan magnet elektoral.
02:56Sementara keputusan Jokowi bergabung dengan partai politik,
02:59guna mencari tameng dari serangan politik yang bisa berkepanjangan.
03:04Di sisi PSI juga punya pekerjaan rumah bagaimana lolos ambang batas.
03:09Yang kita tahu ketika kemarin ada perdebatan ya,
03:12ambang batas sebelumnya diturunkan 4%,
03:15malah di komisi 2 itu ada arahan dinaikkan dari 4%,
03:18bahkan wacananya naik menjadi 5%,
03:21kemudian bahkan sampai 7% semacam itu.
03:24Nah, realitas itu harus direspon.
03:25Dan salah satu respon yang paling efektif dan efisien
03:29menurut kader ya, di tingkat gresur adalah
03:31mencari toko yang punya makanan elektoral yang kuat
03:34dan nama itu akhirnya mengurucut pada figur Pak Jokowi seperti itu.
03:39Dan di sisi ya Pak Jokowi sendiri memang lagi butuh
03:42dalam bentar betik benteng-benteng politik tadi
03:44karena serangan-serangan politik yang beliau terima kan tidak berhenti ya
03:47sampai hari ini.
03:49Apakah soal icasa atas nama beliau?
03:51Apakah soal pemakzulan atas nama Mas Wapres Gibran?
03:56Pertanyaannya kini,
03:57apakah figur Jokowi bisa menjadi magnet suara bagi PSI
04:01di 2029 nanti?
04:04Tim Liputan, Kompas TV
04:10Lalu mengapa ada desakan agar Jokowi menjadi ketua umum PSI?
04:14Dan sejauh mana efek Jokowi bagi PSI jika menjadi nakoda PSI?
04:19Kita bahas bersama ketua DPPW PSI, Dede Prayudi
04:22dan Direktur Eksekutif Fox Pol Center Pangisarwi.
04:26Selamat malam Bang Uki, Bang Pangi.
04:29Selamat malam.
04:31Ya, selamat malam.
04:33Saya ke Mas Uki dulu.
04:35Ini murni desakan kader atau justru jangan-jangan keinginan Pak Jokowi sendiri nih Mas Uki?
04:42Ya, ini adalah desakan kader.
04:45Di PSI sendiri kan kami sudah terbiasa ya dengan menyalurkan aspirasi yang polanya itu bottom up atau aspirasi itu bergeraknya
04:54dari bawah ke atas bukan sebaliknya.
04:56Dan itu sudah dibuktikan dengan Kongres kami yang merupakan pembacaan putusan dari pemilu raya kami yang kami lakukan di dalam
05:04proses memilih ketua umum saat itu Mas Kaisang yang menjadi pemenangnya.
05:07Jadi, beberapa hari lalu ya sekitar seminggu atau dua minggu belakangan itu memang sudah ada aspirasi dari DPD-DPD ya.
05:17Baik itu yang di Jawa Barat, baik itu yang di Jawa Tengah dan lain sebagainya.
05:21Jadi, yang kami catat yang sudah muncul ke media dan langsung bicara dengan Pak Jokowi itu misalnya DPD Surakarta itu
05:29menginginkan Pak Jokowi untuk menjadi Ketua Dewan Bobina.
05:32Begitu juga dengan Jakarta Utara, begitu juga dengan Sukoharjo.
05:37Nah, kemudian ada juga nih yang dari Cirebon.
05:40Yang dari Cirebon ini menginginkan Pak Jokowi untuk menjadi Ketua Umum.
05:44Dan kemarin di Kabupaten Bogor, di situ sudah terang-terangan disebutkan oleh Ketua DPD kami, mereka menginginkan Pak Jokowi segera
05:54masuk ke dalam struktur kepengurusan.
05:56Tapi tidak disebutkan apakah Ketua Dewan Pembina atau apakah Ketua Umum.
06:01Jadi, suara-suara ini tentu saja sudah pasti akan kami tampung dan terkait dengan Pak Jokowi akan dimasukankah atau tidak
06:10ke dalam pengurusan.
06:11Dan kalau dimasukkan, maka dia menjabat sebagai apa di dalam pengurusan itu tentu ada mekanisme partai yang berlaku, Mas.
06:18Termasuk suara-suara yang berseberangan.
06:20Seperti kata Bung Hatta Ali dan Bestari Barus, ini belum saatnya.
06:25Ini sekarang kita saatnya untuk...
06:27Sorry, Ahmad Ali, bukan Hatta Ali, sorry.
06:29Bung Ahmad Ali mengatakan belum saatnya.
06:31Dan Bestari Barus juga demikian.
06:33Ini masih kita fokus untuk membangun partai.
06:35Termasuk suara-suara itu juga akan didengar?
06:38Ya, tentu saja.
06:39Ya, tentu saja. Ketika kita berbicara aspirasi bahwa Pak Jokowi sebaiknya masuk ke struktur.
06:45Bahwa Pak Jokowi di dalam struktur nanti masuk sebagai Ketua Umum atau Ketua Dewan Pembina.
06:51Nah, ini kan sebuah aspirasi.
06:52Nah, Bang Ahmad Ali selaku Ketua Harian kami ini memention soal timing.
06:57Apakah timingnya sekarang?
06:59Di mana memang sudah beredar isu bahwa nanti akan diadakan Rapimnas di HUD PSI di bulan November.
07:05Apakah di momentum tersebutkah Pak Jokowi akan masuk ke dalam struktur atau tidak?
07:10Nah, inilah yang disebutkan oleh Pak Ahmad Ali selaku Ketua Harian kami.
07:15Bahwa ya mungkin belum saatnya.
07:18Tapi hingga hari ini memang belum ada keputusan yang final terkait ini.
07:21Kami sedang menggodoh secara internal.
07:23Mencari aspirasi dari bawah hingga ke level Ketua Harian sekalipun.
07:27Demikian, Mas.
07:28Bung Pangih, kalau ada desakan seperti ini, saya bertanyanya lebih ke cocok nggak Pak Jokowi memimpin PSI?
07:35Dan masih relevan nggak dengan kondisi periode 2026 sampai 2029 ya menjelang pemilu nanti?
07:43Bung Pangih.
07:44Ya, sebenarnya di dalam pendekatan perilaku pemilih atau voting behavior itu memang saya di Indonesia itu partai kita belum partai
07:55modern.
07:55Jadi sangat bertungguh kepada center of candidates.
07:59Jadi basisnya itu adalah personalisasi kandidat.
08:02Misalnya kalau kita uji misalnya antara partai ED, orientasi kepentingan, klentulistik dan programatif, kemudian personalisasi kandidat atau orientasi isu.
08:12Dari empat travel itu yang paling penting di partai hari ini adalah center of candidates figure dan sosok gitu.
08:19Karena kalau misalnya dikasih dalam research box poll misalnya, ketika di dalam memilih partai, ketika ditanya ada dua opsi yang
08:29kita ajukan.
08:30Apakah memilih karena partainya atau karena figurnya di dalam memilih presiden atau dalam pemilih legislatif, itu cenderung masih memilih karena
08:39faktor figur, bukan karena partai pengusung gitu.
08:43Nah artinya memang problemnya partai di Indonesia itu adalah masih problem soal ketergantungan untuk understanding pada sosok dan figur gitu.
08:53Nah kalau kita cermati misalnya di Gerindra ada Prabowo Efek, itu lebih besar daripada Gerindra Efek.
08:58Kemudian kalau kita lihat misalnya di beberapa partai politik hari ini, PDIP masih ketergantungan kepada sosok Ibu Mega dan kemudian
09:08Partai Demokrat tidak bisa melepaskan sosok PSD.
09:12Ketergantungan kepada figur itu, masih mereka pasang balius pandunya itu.
09:16Nah cuma tantangan challenge-nya adalah, apakah kali ini PSI mampu untuk meyakitkan pemilih yang sebelumnya PSI sudah mencoba mengambil
09:25darah nyawa atau suara atau wajah dari Pak Jokowi ketika kita pakai waktu itu Jokowiisme gitu, ditempel di Spandung, di
09:33Baligo.
09:34Tetapi kemudian challenge tantangannya hasilnya antara strategi dengan hasil tidak berbanding lurus, tetap saja suara PSI waktu itu tidak pakai
09:43ambang batas perlemen.
09:44Padahal pada waktu itu semua balius-balius panduk PSI itu sudah ada Jokowi efek gitu, dianggap foto-fotonya Pak Jokowi
09:53sudah dipasang di mana-mana.
09:55Oke, nah tapi kalau bicara soal simbiosis mutualisme, tadi di berita pengantar juga disinggung seperti itu Bung Pangi.
10:02Ini dalam kondisi saat ini, PSI yang membutuhkan Pak Jokowi atau justru Pak Jokowi yang membutuhkan kendaraan politik, which is
10:08itu PSI begitu?
10:11Ya kalau saya cermati hari ini, sebenarnya memang PSI itu butuh darahnya Pak Jokowi, itu yang dibilang oleh Pak Jepri
10:17Geopani kan.
10:18Dia butuh soal, kalau enggak lebih baik partai ini dibubarkan saja, kan itu statement awalnya, jadi artinya harus ada terang,
10:25harus ada keluarga, harus ada figur dari Pak Jokowi, harus ada darah Pak Jokowi.
10:29Enggak, partai ini bubarin aja, usahakan itu di awalnya, tetapi kalau kita mencermati, ya PSI pasti butuh Jokowi efek itu
10:38kan, dibanding PSI efek itu.
10:40Tetapi kemudian, apakah ini masih akan maksimal gitu, karena kerinduan atau kecenderungan Jokowi 2014 dengan 2024 itu beda.
10:51Dulu Pak Jokowi itu populis, sosok yang sangat dirindukan karena kesederhanaannya, merakyatnya, perhatian sama rakyat, tidak berjarah sama rakyat, itu
11:00dulu.
11:00Tapi kan pelan-pelan orang sudah mulai ada kesan-kesan yang bentangan MPI selama ini, Pak Jokowi sudah berubah gitu.
11:11Kerinduan itu apakah sudah muncul lagi atau belum dalam perilaku pemilih kita, karena pasir perilaku pemilih Indonesia itu 10 tahun.
11:18Jadi ada sosok kerinduan Pak SDY, itu 10 tahun setelah dia tidak lagi berkuasa lewat AHY dan Partai Demokrat.
11:25Sosok kerinduan terhadap Suwarto itu 10 tahun, hampir 20 tahun.
11:29Nah, ini baru 2 tahun pasenya.
11:31Apakah pasenya sudah dipercinta, apakah kalau 2 tahun kemudian orang-orang dari ini itu sosok figur Pak Jokowi?
11:38Artinya itu soal?
11:39Ini pasenya sangat cepat sekali.
11:40Oke, itu soal momentum begitu ya, kira-kira ya?
11:43Iya, momentumnya untuk saya masih belum dapat, karena pasenya masih belum 10 tahun.
11:49Ya, Bung Guki, saya ingin bertanya, kenapa sih sejak awal Pak Jokowi bergabung dengan PSI, kan dinyatakan kader PSI begitu.
11:57Enggak dari awal saja diberi posisi di PSI, jangan-jangan masih ada friksi di dalam PSI sendiri bahwa timingnya belum
12:04pas begitu.
12:06Enggak, jadi saya ceritakan secara kronologis ya mas ya.
12:10Pada saat kami kongres di Solo, itu awal tahun lalu, yang kemudian diikuti oleh Rakernas di Makassar ya, beberapa bulan
12:20kemudian.
12:21Di situ Pak Jokowi sudah menegaskan bahwa kalau PSI bekerja keras, saya juga akan bekerja keras untuk PSI.
12:30Kalau PSI bekerja habis-habisan, saya juga akan bekerja habis-habisan buat PSI.
12:34Kalau PSI bekerja mati-matian, saya juga akan bekerja mati-matian buat PSI.
12:38Nah, apa artinya ini?
12:40Begini, Pak Jokowi itu memberikan PR kepada PSI, tidak memberi mudah kepada PSI untuk kemudian bergabung ke partai yang namanya
12:49PSI ini.
12:50Apa PR-nya?
12:51Pak Jokowi menginginkan supaya PSI itu merampungkan kepengurusan.
12:56Nah, ini adalah bagian dari evaluasi dari PSI dan Pak Jokowi sendiri.
13:00Merampungkan kepengurusan atau keterwakilan kami di tingkat kabupaten, mohon maaf, di tingkat kelurahan garis miring desa,
13:07di seluruh Indonesia itu sebanyak kurang lebih antara 75 sampai dengan 80 persen.
13:13Dan selama masa itu juga, PSI itu sibuk sekali merampungkan kepengurusan tersebut, kerja struktur, struktur, struktur.
13:21Dan kalau kita semua notice ya, ketika Pak Jokowi ke Lampung, di Lampung itu, itu PR tersebut baru saja dilunasi
13:31oleh kepengurusan PSI di Lampung.
13:34Begitu juga dengan di NTT, begitu juga dengan di beberapa wilayah di Pulau Jawa.
13:38Jadi, kenapa baru sekarang atau kenapa tidak langsung mendapatkan posisi dan lain sebagainya?
13:46Ini dikarenakan memang Pak Jokowi tidak ingin memberikan efek yang cuma Jokowi elektoral instant, apa, instant electoral gain kepada PSI.
13:56Pak Jokowi ingin kader-kader di PSI itu bekerja.
13:59Dan ketika Pak Jokowi menunjukkan KTA di Bandung kurang lebih 4 atau 5 minggu yang lalu ya, saya juga lupa
14:07persis tanggalnya.
14:08Di situ juga Bandung atau Jawa Barat itu baru saja merampungkan ya, PR yang diberikan oleh Pak Jokowi.
14:16Dan pada saat itu juga Pak Jokowi menunjukkan KTA-nya.
14:19Untuk kemudian memberikan semangat kepada kawan-kawan di provinsi lain yang belum rampung atau hampir rampung lah kurang lebih demikian.
14:28Jadi, ini bukan karena friksi, ini adalah strategi penguatan kader aja mas.
14:34Oke, strategi penguatan kader.
14:36Tapi begini, saya ke Bung Pangi lagi.
14:37Secara objektif gitu ya Bung Pangi, ini sekarang kan banyak lah ya isu-isu negatif yang menerpa Pak Jokowi.
14:44Salah satunya yang paling kuat adalah ijazah.
14:45Ini dari sekapan tau udah banyak sekali yang menyuarakan ini dan sangat menjadi konsumsi publik, sangat menjadi perhatian publik.
14:55Nah, kira-kira apakah Jokowi nanti jika menjadi ketua umum PSI ini lebih menguntungkan partai atau justru berpotensi merugikan setelah
15:02menjadi target serangan politik.
15:05Seperti yang saya sebut tadi, kasus ijazah dan lain-lain.
15:08Tapi jangan dijawab dulu ya Bung Pangi, saya akan tanyakan hal itu sesaat lagi di Sampai Indonesia Malam.
15:11Total apa bersama kami.
15:20Masih membahas desakan kader PSI untuk menjadikan Presiden ketujuh Republik Indonesia, Joko Widodo sebagai Ketua Umum PSI.
15:28Tadi saya bertanya ke Bung Pangi Sharwi.
15:31Bung Pangi, kalau bicara secara objektif gitu ya, sekarang kan Pak Jokowi ini diterpa isu yang bolak-balik menerpa hadiah
15:39soal ijazah.
15:39Nah, itu juga plus minus lah. Dan juga mungkin ada minusnya, banyak minusnya gitu.
15:44Nah, kalau nanti jika terpilih menjadi ketua umum PSI, ini menurut Anda menguntungkan partai atau menguntungkan PSI?
15:50Atau justru malah berpotensi merugikan karena sudah menjadi target politik sebagai isu-isu yang berat seperti salah satunya ijazah tadi?
16:00Ya, sebenarnya begini. Kalau kita lihat memang biasanya kan tergantung isu ya.
16:05Kalau isu itu biasanya memang melekat di pikiran masyarakat soal ijazah ini memang sampai sekarang tidak, istilahnya tidak bisa terbukti
16:14ya.
16:15Ada gitu. Atau di verifikasi, di konfirmasi, dan di validasi di pengadilan atau di persepsi pikiran publik ya, itu tentu
16:21akan menjadi beban bagi PSI.
16:23Tetapi kalau dikelirkan, saya pikir tidak akan menjadi beban gitu. Jadi, problemnya bukan soal ijazah saja menurut saya.
16:30Memang yang agak berat itu produk untuk menjual PSI dengan memakai pikiran Pak Jokowi adalah soal nepotisme dan dinasti politik.
16:39Nah, itu yang terkesan hari ini. Terkesan partai ini hanya nampak-nampaknya hanya partai geng solo gitu.
16:44Partainya hanya, dan itu akan mengganggu segmen pemilihnya terbatas.
16:48Kolomnya hanya seperti, ini hanya untuk keluarga Pak Jokowi dan geng solonya.
16:52Nah, itu yang kemudian menurut saya menjadi challenge beban bagi PSI gitu.
16:58Nah, ini yang kemudian tantangannya di situ, karena meritokrasi tidak terlalu nampak gitu.
17:03Terkesan memang hanya untuk, apa namanya, karirisasinya untuk keluarga Pak Jokowi dan seterusnya.
17:10Soal dinasti dan nepotisme itu.
17:12Nah, yang kedua adalah memang banyak juga publik-presaksi publik yang menyatakan ketika Pak Jokowi masih jadi presiden saja, itu
17:19PSI susah gitu.
17:22Tidak layak jual gitu, apalagi tantangannya sekarang.
17:25Tetapi kan juga banyak hasil supaya box call misalnya menunjukkan ya hanya 2,6 persen per hari ini.
17:30Nah, kalau saya enggak sebut lembaga lain, supaya lain itu saya enggak urus gitu.
17:34Tetapi intinya itu menjadi challenge bagi PSI, bahwa yang namanya usaha tetap peluang butuh dan teradak.
17:42Kan berarti kita tidak memberikan bandwagon efek gitu ya.
17:46Tetapi ini downgrade-downgrade terhadap Pak Jokowi itu besar dibanding potensi keuntungan elektoral untuk PSI-nya.
17:55Nah, ini yang harusnya tidak mudah memulihkan.
17:59Nah, misalnya begini Pak Jokowi dulu terkesan memang kamoplasenya itu kan, ini persepsi publik ya, bukan saya yang ngomong.
18:06Itu kan dulu sedekanam, eratnya, berbicara dengan perhatian sama rakyat.
18:11Nah, kamoplasenya itu kan wajah Pak Jokowi bukan seperti itu lagi, konteksnya per hari ini gitu.
18:15Nah, ini yang enggak mudah gitu. Itu tantangan saja bagi PSI.
18:20Tapi PSI tetap ada partai yang semua di Indonesia yang namanya Tia, Usaha, siapapun yang punya potensi namanya aja Usaha
18:27gitu ya.
18:27Tetapi saya kan tidak mengatakan bahwa tidak punya, tetapi kan ini pemilu juga masih lama ya.
18:33Nah, oke.
18:34Perluannya, pertansi masih ada.
18:35Ya, kalau kata Bung Pangi, tantangannya itu bukan hanya ijazah ya tadi soal ada persepsi publik soal nepotisme dan lain
18:44-lain, geng solo dan lain-lain.
18:46Sudah diperhitungkan memang oleh PSI soal risiko-risiko tadi, Bung Uki?
18:53Ya, tentu saja. Tentu saja. Jadi, isu itu adalah sesuatu yang memang harus dihadapi.
19:01Ketika dia dikelola dengan baik, maka dia memberikan dampak elektoral yang juga menjadi suntikan positif.
19:07Ketika kami tidak dapat mengelola isu dengan baik, ya tentu saja itu akan mendowngrade PSI sebagai partai politik yang semakin
19:15hari semakin identik dengan Pak Jokowi.
19:18Begitu. Nah, kalau kita berbicara soal asosiasi politik antara PSI dengan Jokowi serta dampaknya.
19:26Begini, kita sudah melakukan sebuah penelitian mendalam ya soal sebaran suara pendukung Pak Jokowi dan pemilih PSI.
19:37Sebagian besar pemilih PSI itu berada di area-area perkotaan, atau pemilih-pemilih muda, atau area-area yang mayoritas penduduknya
19:48itu adalah minoritas atau non-muslim lah.
19:51Seperti di NTT misalnya ya.
19:53Nah, sementara pendukung Jokowi itu sebagian besar itu berada di perdesaan, di Pulau Jawa, juga orang-orang yang usianya lebih
20:04senior lah daripada pemilih PSI sebelumnya.
20:07Nah, tentu saja kami memerlukan upaya-upaya untuk merekatkan asosiasi politik antara PSI dengan Pak Jokowi.
20:15Di samping, kami juga harus mengelola isu tadi, termasuk tadi ada isu ijasa Pak Jokowi, termasuk ada isu ijasa Mas
20:23Gibran, dan lain sebagainya.
20:25Jadi, kalau isu ini dapat dikelola, tentu ini menjadi electoral gain, atau pemasukan electoral bagi kami.
20:31Kalau kita berbicara dampak, memang setiap survei itu angkanya beda-beda ya.
20:37Kalau Foxpol tadi di 2,6, kemarin LKPI di 4,3, kemarinnya lagi SMRC di 4,1, dan lain sebagainya.
20:44Ya, tapi pemilu masih jauh.
20:46Jadi, yang kami lihat hari ini itu bukan angkanya itu persisnya berapa, karena mereka masih di dalam rentang margin of
20:53error.
20:53Yang dapat kami lihat, itu adalah trennya.
20:56Apakah trennya positif atau naik dari waktu ke waktu, atau turun dari waktu ke waktu.
21:01Nah, yang kami catat, hingga hari ini, trennya itu meningkat.
21:04Baik itu di SMRC, ya, betul, baik itu di LKPI, baik itu di Poltrek, ya.
21:11Itu trennya meningkat.
21:12Jadi, inilah yang dapat kami katakan untuk memastikan bahwa apakah kami sudah berada di track yang benar atau tidak.
21:20Itu sementara, pemilu sekali lagi.
21:22Betul, kata Pak Bangi tadi, pemilu masih jauh.
21:25Dan antara peluang dengan ancaman, itu kan satu di tangan kiri, satu di tangan kanan.
21:31Kita nggak bisa ngambil salah satu yang kita mau.
21:34Ya, Bung Kiki, tapi gini, bicara soal tadi ya, kalau dikelola isu-isu negatif tadi, sebenarnya bisa jadi electoral gain.
21:39Anda mengatakan seperti itu.
21:40Nah, Pak Jokowi juga bilang, tadi di berita pengaturan juga bilang, saya akan all out untuk PSI.
21:46Nah, kalau begitu, berarti PSI juga untuk membersamai Pak Jokowi dengan isu-isu negatif tadi, itu juga akan all out
21:53ya, membela kebenarannya versinya Pak Jokowi ya?
21:57Ya, tentu saja, tentu saja.
21:59Di samping memang banyak sekali kebenaran yang harus disampaikan, yang sudah ditwis, yang beredar di media masa, di media sosial.
22:06Tentu di sini ada kelekatan emosional antara Pak Jokowi dengan PSI.
22:11Nah, kombinasi di antara keduanya inilah yang kemudian kami utarakan kepada masyarakat dalam menghadapi isu-isu yang, katakanlah, mendegradasi wibawa
22:20politik, reputasi politik, poros Pak Jokowi ya.
22:23Tadi kalau kata Bang Pan itu porosolo, misalnya ya.
22:25Dan tentu saja kami menjadi bagian porosolo, dan tentu kami akan melakukan ya, sebisa mungkin ya, asalkan memang ya, itulah
22:34yang kami anggap benar, itulah kejujuran kami, itulah pandangan kami sebenar-benarnya ya.
22:41Dan inilah yang kita lihatlah, misalnya kalau kita berbicara, yang belakangan ini kan bukan hanya isu Pak Jokowi, isu Mas
22:47Gibran.
22:48Saya ya, atau Sis Grace Natali, atau kawan kami, Bro Faldo Maldini, ini kan kerap kali muncul ya, sebagai garda
22:58terdepan untuk membela Mas Gibran, yang dalam hal ini kami tahu betul riwayat pendidikan Mas Gibran,
23:03dan kami tahu betul undang-undang serta peraturan KPU-nya, dan kami tahu betul bahkan sampai ke dalam proses-proses
23:10pembuatan peraturan-peraturan perundangan tadi.
23:13Dan kami juga tahu betul bahwa ada kebenaran di sini yang harus diungkapkan, sehingga di sinilah poin dari perjuangan kami,
23:21dan di dalam merekatkan asosiasi politik PSI dengan Pak Jokowi, PSI dengan Mas Gibran, tentu ya, kami harus menjadi yang
23:29paling depan,
23:30untuk di dalam komunikasikan kebenaran dari Pak Jokowi dan Mas Gibran tadi.
23:35Oke, saya tertarik dengan pernyataan Bung Pangi tadi, meskipun Pak Jokowi sudah dibawa namanya dalam PSI pada pemilu 2024,
23:44tetapi PSI juga belum maksimal gitu ya, dalam pemilu yang lalu.
23:49Nah, tadi juga diungkapkan bahwa oleh Bung Uki, bahwa punya basis sendiri-sendiri antar PSI dan Pak Jokowi.
23:55PSI sendiri seperti di NTT dan di daerah-daerah minoritas, Pak Jokowi di Pulau Jawa, ini sangat baik.
24:01Nah, tapi itu tidak berbanding lurus dengan hasil pemilu 2024 yang di Pulau Jawa sendiri,
24:05sepertinya PSI juga tidak bisa berbicara banyak.
24:07Kira-kira menurut Foxpol, data di Foxpol, bisa nggak nge-blend Pak Jokowi dan PSI ini,
24:13terutama di Pulau Jawa, karena ya pemilihnya paling banyak?
24:17Iya, kalau kita mencermati, karena saya belum membaca cross-step-nya tabulasi BROB kolomnya ya,
24:24kemarin saya hanya lihat partai-partai yang lolos di ambang batas perlemen aja yang saya baca,
24:28misalnya PKP basisnya di Jawa Timur, kemudian PDP itu Jawa Tengah,
24:34kemudian Golkar itu ada di Kalimantan, kemudian PKS di Jawa Barat,
24:39dan beberapa partai lain, Demokrat juga di Sumatera ya.
24:44Jadi intinya sih, masing-masing partai memang punya kolom seru segmen basis ya,
24:49basis elektoralnya.
24:50Nah, kalau misalnya PSI mau dijadikan NTT sebagai lumbung elektoral,
24:55ya itu bagian dari usaha upaya juga, bahwa memang partai harus punya deferensiasi,
25:02harus punya apa namanya, di mana basisnya selain misalnya memang PSI lebih fokus di,
25:08misalnya terkesan memang selama ini lebih banyak cerutnya di Solo kan,
25:13sebagai potensi dari tantangannya adalah sumber daya manusianya,
25:18calegnya itu juga jadi tantangan,
25:19karena kita bertarung dalam Pilkada, Pilek, itu harus CPI-nya,
25:23rasionalitasnya adalah, apakah sumber daya alam calegnya itu juga memadai atau tidak gitu,
25:28karena misalnya kalau partai-partai yang ambang batas yang selama ini yang besar-besar itu,
25:33mereka punya caleg-caleg yang kans potensialnya, bukan caleg-kaleng-kaleng gitu,
25:38sepertinya memang bibit-bibit pokoknya dapat,
25:42nah itu tantangan mudah-mudah gitu,
25:44untuk bagi partai-partai baru, untuk meyakinkan,
25:47apalagi PSI kemarin kan Pak Jokowi sudah mengeluarkan,
25:49apa namanya, diksi perasa yang paling jawara,
25:53yang paling ampuh itu kan,
25:55bahwa tidak mengatakan optimis bahwa PSI akan lolos,
25:59karena itu harus sampai kepada Pak Jokowi,
26:01karena kalau Pak Jokowi nggak optimis, siapa yang mau percaya gitu,
26:04nah itu yang kemudian,
26:05kalau ada harapan, pasti orang mau gabung,
26:09apakah partai-partai yang lain pindah ke PSI,
26:11tapi kalau udah nggak harapan ya,
26:13orang akan meninggalkan partai tersebut gitu,
26:15karena nggak ada harapan.
26:17Meskipun nama Jokowi Dodo adalah nama figur yang besar,
26:20sosok yang besar, punya nama besar begitu ya,
26:22di gancah politik ke tanah air,
26:23tapi ya tetap saja kalau boleh saya simpulkan dari perbincangan kita malam hari ini,
26:26kerja-kerja politik partai,
26:28kerja-kerja kader-kader partai,
26:30termasuk juga PSI, ini juga dibutuhkan,
26:32tidak serta-merta,
26:35sosok ini bisa mengangkat derajat partai sekaligus,
26:38gitu kira-kira,
26:39dan ini tentu saja dibutuhkan kerja-kerja serius dari PSI juga ya,
26:43Bung Uki ya,
26:44dan itu saya rasa Bung Uki juga akan setuju dengan kesimpulan saya.
26:48Semoga ada,
26:49ya semoga juga ada titik terang,
26:52apakah Pak Jokowi nanti akan memimpin PSI atau tidak,
26:55nanti kita nantikan,
26:56sangat menarik untuk kita simak.
26:57Terima kasih,
26:59Ketua DPP PSI,
27:00Dede Prayudi,
27:01dan Direktur Eksekutif Fox Pol Center Pangisya Rwi,
27:03telah berbagi informasi dan perspektifnya di Sapa Indonesia Malam.