Skip to playerSkip to main content
  • 9 minutes ago
DW Dokumenter

Category

📺
TV
Transcript
00:09Klong
00:10Demikian sebutan untuk kanal-kanal yang mengular sepanjang Thailand.
00:14Di sini, air yang merupakan elemen penting kehidupan sangatlah mudah dijumpai.
00:23Di sini jalur kereta juga mengikuti jalur air, terkadang melintasinya.
00:27Seperti di jembatan sungai Kwai yang terkenal itu.
00:50Kita akan melakukan perjalanan menelusuri sungai-sungai dari Meklong ke Tachin, lalu ke Cawap Raya di Bangkok.
00:57Dari distrik Tonburi, kita melanjutkan perjalanan melewati Nakon Patom ke Kancanaburi.
01:02Dari sana kita akan menyeberangi sungai Kwai Besar, menelusuri anak sungainya yang lebih kecil hingga ke Namtok.
01:07Lalu di Hellfire Pass, kita akan menyusuri jejak jalur kereta api Maut, yang dulunya membentang hingga ke Myanmar.
01:25Pagi hari di tepi laut.
01:28Di sini, sungai Meklong mengalir ke Teluk Thailand.
01:34Hulunya berada di Taman Nasional, di sebelah barat laut.
01:38Sungai ini salah satu dari tiga jalur utama yang melintasi area tropis yang subur ini.
01:43Kita akan menjumpainya lagi sepanjang perjalanan.
01:49Di pasar Meklong, beragam palawija didatangkan dari luar kota.
02:03Jintana berjualan air kelapa di pinggir rel kereta.
02:08Stasiun kereta terletak di antara sungai dan pasar.
02:11Kami bersama dengan Caru, yang akan segera menjalankan kereta.
02:29Semua orang yang bekerja di sini bisa sedikit bahasa Inggris dan Mandarin.
02:33Pasar payung tutup ini menarik pengunjung dari seluruh dunia.
02:41Jika sampai tersangkut payung, kereta akan melambat.
02:44Atau bahkan ikut menyeret kios-kios itu.
02:47Para pedagang akan mengetuk kereta untuk memberitahu masinis karena dia tidak bisa melihatnya.
02:57Kami seperti teman, saling membantu.
03:00Itu sebabnya tidak ada konflik.
03:02Saya suka itu.
03:03Yang penting saya punya tempat berjualan.
03:14Balik ke sini.
03:15Di sini aman.
03:19Di sini aman.
03:24Minggir, ada kereta.
03:26Anda dari mana?
03:28Italia.
03:30Di sini berbahaya karena orang-orang sering melewati batas dan mengambil foto.
03:36Yang paling berbahaya itu ketika mereka mengambil selfie.
03:40Kecepatan kami hanya 3 km per jam.
03:42Jadi bisa berhenti kapan saja.
03:47Ibu, jangan berdiri di sini.
03:51Sebagai masinis, saya menyaksikan perkembangan pasar ini.
03:54Dan saya menyukainya.
03:57Hati-hati, pegangan erat-erat.
04:03Untuk memperingatkan orang-orang, terkadang saya mengajak mereka untuk tos.
04:06Alih-alih mengusir mereka.
04:08Dengan begini, mereka merasa senang.
04:12Oke, kita berhasil.
04:18Saya merasa dekat dengan tempat ini.
04:21Dari umur 5 tahun, sekarang saya 45 tahun.
04:24Kalau tidak kesini, saya kesepian.
04:26Dan rasanya sangat kangen.
04:40Begitu kami keluar kota,
04:42perairan kembali mendominasi pemandangan.
04:49Di sini, garam adalah komoditas penting.
04:57Sistem kanal ini sudah ada selama berabad-abad.
05:00Saat gelombang pasang, air laut akan masuk ke daratan.
05:06Mengalir dari cekungan ke cekungan.
05:24Pada suhu 23 derajat Celcius,
05:26air garam akan semakin pekat.
05:28Meskipun laut berjarak sekitar 3 km dari sini.
05:37Udara di sini terasa berbeda.
05:39Di sini terasa lebih asin.
05:41Setelah selesai mandi,
05:43anginnya akan membuat badan terasa lengket lagi.
05:53Saat matahari bersinar,
05:55bunga garam akan terbentuk dengan baik.
05:56Semakin banyak air yang ditambahkan,
05:58semakin baik.
06:00Angin juga berperan dalam pembentukan bunga garam ini.
06:08Sejak kecil,
06:10saya suka bekerja di bawah matahari
06:11saat angin bertiup.
06:12Ini juga pekerjaan orang tua saya.
06:16Karena itu,
06:18pekerjaan ini sangat berarti bagi saya.
06:21Rasanya seperti warisan turun-temurun.
06:24Dari ayah,
06:26ke anak,
06:27dan cucu.
06:29Saya merasa bangga dengan pekerjaan saya.
06:42Pemandangan ladang garam pun berganti
06:44menjadi vegetasi tropis nan hijau,
06:47tempat bermain bagi monyet.
06:51Yang paling banyak adalah makaka,
06:53sejenis monyet.
06:54Mereka tidak takut pada manusia
06:56atau kereta api.
07:05Ban lem terletak di tikungan sungai Tachin.
07:08Disinilah akhir perjalanan bagi kereta ini.
07:11Namun bagi kita,
07:13setelah satu jam di kereta,
07:14ini baru sepertiga dari perjalanan.
07:20Untuk melanjutkan perjalanan,
07:22kita harus naik feri.
07:27Yang melintasi Tachin
07:29dan menghubungkan ban lem dengan maha chai.
07:37Kereta berikutnya siap berangkat.
07:39Kereta ini juga melewati sebuah pasar.
07:53Dengan sekitar 17 kereta yang melaju
07:55dari berbagai arah setiap harinya,
07:57pasar ini tidak begitu dekat dengan rel
07:59seperti pasar di Meklong,
08:01yang hanya dilewati 4 kereta api dalam sehari.
08:05Kita menuju Bangkok.
08:10Melewati dan melintasi kanal.
08:23Kanal-kanal ini tidak hanya berfungsi
08:25untuk mengalirkan air saat musim hujan,
08:28tetapi juga menjadi area tinggal
08:30dengan sistem transportasi yang sangat baik ke Bangkok.
08:33Masyarakat yang tinggal di rumah panggung
08:35di sepanjang kanal
08:36bepergian dengan perahu.
08:43Di rumahnya,
08:44Nang menyiapkan jajanan manis khas Thailand
08:46untuk dijual di pasar
08:47seperti tap tim krop,
08:49makanan khas dari umbi kacang air.
08:54Tanaman ini tumbuh di air.
08:57Untuk memanennya,
08:58kita perlu mencabutnya dalam jumlah banyak.
09:01Tanaman ini dipenuhi kacang-kacangan
09:03yang harus dikupas.
09:11Sirup buah delima memberi rasa manis
09:13dan warna pada umbi kacang air.
09:18Ini adalah seni rakyat Thailand
09:20yang perlu dilestarikan.
09:23Saat ini hampir tidak ada yang membuatnya lagi.
09:26Makanan Thailand tidak semanis dulu.
09:29Sekarang kami mengurangi gula.
09:32Adonan juga harus dijaga
09:34supaya tidak terlalu kental.
09:36Rasanya lezat,
09:37aromanya harum,
09:38dan teksturnya enak.
09:40Saya suka.
09:51Dia mengangkut jajanan manisnya
09:53ke pasar dengan perahu.
09:55Seekor biawak air Asia
09:56ikut mengawasinya.
10:02Reptil air betah
10:04tinggal di kanal-kanal di Bangkok.
10:08Kami mengikuti Nang melewati Tonburi
10:11sebuah distrik di bagian barat Bangkok.
10:13Di sini,
10:14rasanya seperti tidak lagi berada di kota besar.
10:22Kiosknya di Pasar Apung
10:24didirikan tepat di bawah jembatan kereta.
10:28Dia suka suara kereta yang melintas di atas.
10:40Atapnya ada dua lapis,
10:41jadi tidak panas.
10:43Saya sudah berjualan di sini
10:44lebih dari 30 tahun.
10:45Dulu masih banyak perahu,
10:47tapi orang-orang beranjak tua dan meninggal.
10:50Mau tap tim krop juga?
10:52Nggak pakai nasi ya?
10:57Saya suka di sini.
10:59Dagangan saya laku.
11:01Kalau mau makan manis yang enak,
11:03kalian harus ke sini.
11:04Cuma saya yang jual ini.
11:23Jika kita bepergian melalui distrik Tonburi
11:25di Bangkok tanpa perahu,
11:26transportasi terbaik adalah kereta.
11:31Karena jalanan selalu macet.
11:42Setelah nyaris sejam,
11:44kita tiba di pemberhentian terakhir,
11:46Wong Wian Yai.
11:57Nama itu diambil dari bundaran besar di Tonburi,
12:01tempat berdirinya monumen taksin agung.
12:04Pada abad ke-18,
12:06dia mengusir penjajah Burma
12:07dan menjadikan Tonburi ibu kota kerajaannya.
12:17Penggantinya memindahkan pusat pemerintahan
12:19keseberang sungai Chow Praya,
12:21yang kini menjadi Bangkok.
12:23Kata bang berarti di tepi sungai.
12:42Kesokan paginya,
12:44kami berada di tepi sungai sebelah barat,
12:46siap untuk melanjutkan perjalanan dengan kereta.
12:49Saya masih harus tunggu sampai tuas pengali jalurnya diatur.
12:52Benar?
12:54Mohon tunggu.
13:01Jalur sudah dipindah.
13:04Di stasiun Tonburi,
13:06mereka sedang menghubungkan kereta
13:07yang akan membawa kita ke pegunungan di barat laut.
13:09Ini perjalanan paru ketiga,
13:11terpanjang dan paling seru.
13:13Silahkan jalan.
13:16Tolong pindah jalurnya.
13:19Sudah.
13:20Terima kasih.
13:23Kami akan mundur.
13:26Dua meter lagi.
13:29Satu meter lagi.
13:32Oke, bagus.
13:35Berhenti.
13:56Kita bertemu kembali dengan sungai Tachin.
13:59Kali ini kita akan menyeberanginya tanpa feri.
14:20Selain kelas satu dan dua,
14:22setiap kereta di Thailand memiliki kelas tiga.
14:24Jadi orang dengan uang pas-pasan
14:26masih tetap bisa berpergian.
14:29Bahkan ada bagian khusus untuk para biksu,
14:32yang sangat dihormati.
14:35Naik kereta adalah kesempatan baik untuk bermeditasi.
14:39Nyaman.
14:42Hemat uang.
14:45Sebagai biksu,
14:46saya selayaknya hanya melakukan hal yang bermanfaat bagi masyarakat.
14:58Bermeditasi.
14:59Di beberapa rute,
15:00waktu memang seolah terhenti.
15:03Pemandangannya tidak berubah sedikit pun.
15:09Meskipun Thailand tidak pernah dijajah,
15:12pengaruh Inggris pada awal abad ke-20 sangat terasa.
15:18Di sini, kendaraan melaju di sebelah kiri.
15:25Kereta melaju dengan tenang.
15:28Saya bisa melihat apa yang telah berubah dan apa yang belum.
15:34Semuanya terhubung,
15:35namun tetap punya ciri khas.
15:37Di sana semakin banyak gedung.
15:40Semuanya berubah.
15:42Saya bisa menggunakan pemandangan ini untuk refleksi dan meditasi.
15:46Bagaimana kita hidup berdampingan dengan alam di sini dan saat ini.
15:50Atau di masa depan.
15:52Tanpa saling mengganggu.
15:58Kita tiba di Nakon, Patom.
16:04Kuil ini tingginya 127 meter.
16:08Dan kemungkinan ini adalah kuil Buddha tertinggi di dunia.
16:15Prapatom Chedi adalah tempat ziarah populer bagi umat Buddha dari seluruh Thailand.
16:29Ada banyak wihara di Nakon, Patom.
16:34Tapi hanya satu kuil yang ditinggali biksu perempuan.
16:44Kepala biara dan putrinya,
16:46yang saat ini menjabat sebagai kepala wihara,
16:48termasuk di antara biksuni pertama di Thailand.
16:51Dalam keyakinan mereka,
16:52ada aturan yang melarang perempuan di wihara
16:55untuk menjadi setara dengan biksu.
16:57Namun itu bisa diakali.
17:03Tepat lima tahun lalu,
17:05saya bersama banyak orang lainnya
17:06ditahbiskan di wihara Bodhgaya di India.
17:12Saya berhasil mewujudkan impian.
17:16Dan saya bangga menjadi biksuni.
17:31Sampah plastik kemasan sangat bernilai bagi para biarawati.
17:35Ketika orang bersedekah,
17:37terkadang mereka juga membawa sampah.
17:39Walau mereka tidak memberi uang,
17:41itu tidak masalah bagi kami.
17:46Sampah itu lalu saya pilah untuk didaur ulang.
17:50Botol-botol ini misalnya bisa dijual.
17:54Uangnya dapat dipakai untuk membiayai kuil.
18:00Mereka bahkan mengumpulkan kantong plastik.
18:03Biasanya kami dapat lebih banyak lagi.
18:07Kami keringkan lalu lipat.
18:10Kami membiarkan orang-orang melihatnya
18:13agar nantinya sampah tidak lagi dibuang sembarangan.
18:18Ini hal yang baik.
18:20Mereka meniru ini.
18:24Kami bangga dengan cara ini.
18:35Mereka juga berharap akan tersedianya air yang lebih bersih.
18:38Air keran cukup bersih untuk tanaman.
18:41Tetapi di Thailand,
18:42air minum dijual dalam botol plastik.
18:51Manusia hidup dari empat elemen.
18:54Tanah, air, udara, dan api.
18:58Tanpa air dalam hidup kita,
19:00kita akan mati.
19:02Darah adalah air.
19:04Air liur itu air.
19:06Air mata itu air.
19:08Air seni adalah air.
19:20Kepala wihara kami yang punya ide
19:22meletakkan botol-botol air itu
19:24di tempat kami berdoa,
19:25baik pagi maupun sore.
19:29Fibrasi doa dapat mengubah air minum
19:31menjadi air suci.
19:48Cakram kecil ini membuka
19:50jalur perjalanan kita berikutnya.
19:54Setelah nakon patom,
19:56kereta menggunakan sistem token.
19:59Setiap jalur hanya punya satu token.
20:02Hanya kereta yang memiliki token
20:04yang dapat melanjutkan perjalanan.
20:05Dengan begitu,
20:06di jalur tersebut hanya akan ada
20:08satu kereta dalam satu waktu.
20:15Kereta Thailand sedang menuju modernisasi
20:18sedikit demi sedikit.
20:29Saat ini,
20:30pekerja kereta masih harus hadir
20:32langsung di lokasi
20:33untuk mengoperasikan tuas terpenting
20:35dalam perjalanan kita.
20:40Dua satu siap.
20:42Arahkan ke Kancanaburi.
20:46Jalur satu sudah aman.
20:57Tiga jalur kereta api bercabang
20:59di persimpangan Nong Plado.
21:00Satu jalur menuju utara,
21:02satu lagi ke selatan,
21:03dan satu lagi ke barat laut.
21:05Ke pegunungan yang kita tuju.
21:10Jalur ini menandai awal mula
21:12dari jalur kereta Thailand Burma.
21:14Jalur yang diwarnai tragedi
21:16sejarah Perang Dunia Kedua.
21:18Kita akan segera menuju
21:19jalur kereta api maut yang terkenal itu.
21:23Namun sebelum itu,
21:24kita sekali lagi melintasi Meklong.
21:26Sungai tempat perjalanan kita dimulai
21:29dan akan terus mengikuti hingga ke utara.
21:34Di Kancanaburi,
21:36dua aliran sungai bergabung.
21:39Sungai Kuaiyai dan Kuai Noi,
21:41atau Kuai Besar dan Kuai Kecil.
21:47Ayo, cepat!
21:52Berbaring.
21:54Sedikit lagi.
21:56Kemari.
21:57Gajah Gaina tinggal di dekat sungai Kuai Besar
21:59bersama penjaganya,
22:01Cekuan.
22:02Duduk!
22:03Ayo, duduk!
22:05Kenapa nggak nurut?
22:09Duduk!
22:11Kan sudah pernah diajar, kan?
22:14Duduk!
22:16Duduk sekarang!
22:20Dia seharusnya tidak ke sana.
22:22Lebih baik bermain di sini.
22:27Sini!
22:30Bagus sekali.
22:31Kemarilah.
22:34Dia suka bermain di air.
22:43Gajah lain minum dengan mulut,
22:45tetapi Gaina memakai bela lainnya.
22:52Gajah memahami tubuhnya sendiri.
22:54Mereka tahu air mana yang bisa diminum
22:56dan yang tidak.
22:57Ada gajah yang suka bermain air
22:58lalu keluar lagi.
23:01Kamu suka?
23:04Mandi itu enak, ya?
23:20Gaina tinggal di semacam rumah pensiun
23:23untuk gajah.
23:24Tujuannya agar spesies mereka bisa menikmati
23:27masa tua dengan tenang.
23:37Setiap gajah punya semacam pawang sendiri.
23:40Nama Gaina berarti ayam liar.
23:42Tapi dia bukan gajah liar.
23:48Gaina berusia 67 tahun.
23:51Dulunya adalah seekor gajah pekerja
23:54yang mengangkut kayu
23:55di perbatasan
23:56antara Thailand dan Myanmar.
24:03Kemari!
24:04Cepat!
24:06Kemari!
24:08Ayo!
24:10Dia istirahat lagi.
24:12Sini!
24:14Hanya karena berukuran besar
24:16bukan berarti mereka bisa seenaknya.
24:17Saya harus tegas.
24:18Waktu saya panggil kemari,
24:20dia harus dengar.
24:24Sini!
24:27C berbicara dalam bahasa Karen,
24:30bahasa suku pegunungan.
24:32Gajah itu tumbuh besar
24:33dengan bahasa itu.
24:34Patahkan!
24:35Ayo!
24:43Patahkan kayunya.
24:45Nggak bisa.
24:46Ya sudah.
24:51Kamu mau pulang ya?
24:55Nggak mau di sini dulu.
24:59Bagaimana yang menjelaskannya?
25:01Tapi kami sudah lama bersama.
25:03Sudah seperti keluarga.
25:15Kembali ke sungai Kwai Besar.
25:20The Bridge on the River Kwai
25:21adalah judul film terkenal.
25:25Kisah dalam film ini
25:26dikenal di seluruh dunia.
25:28Selama Perang Dunia Kedua,
25:30tawanan perang dipaksa
25:31membangun jembatan
25:32dalam kondisi mengerikan.
25:38Saat itu,
25:39Jepang telah menduduki Thailand
25:40dan tengah membangun
25:41jalur kereta api Thailand Burma,
25:43jalur pasokan militer darat
25:45untuk menginvasi India.
25:51Film tahun 1957 itu
25:54menggambarkan peristiwa 80 tahun lalu
25:56dan telah ditonton seluruh dunia.
25:58Tentu saja penggemar kereta lokal
26:00punya pandangan sendiri
26:01tentang film ini.
26:06Jembatan di film itu tidak akurat.
26:08Di dunia nyata,
26:09jembatan itu terbuat dari beton dan baja.
26:11Di film, semuanya dari kayu.
26:16Dan jembatannya tidak hanya satu.
26:18Sebenarnya ada dua.
26:25Ini paku persegi.
26:28Paku-paku ini berasal dari periode tersebut.
26:31Kini, sisa-sisa jembatan kedua
26:32yang lebih tua telah diperbaiki
26:34menjadi bagian dari museum.
26:39Jembatan kayu ini bersebelahan
26:41dengan jembatan baja.
26:42Anda dapat melihatnya di peta.
26:45Mereka membangun jembatan kayu terlebih dulu
26:47untuk mempercepat konstruksi.
26:52Jembatan ini memungkinkan
26:54pengangkutan peralatan militer
26:55dan material konstruksi.
27:02Dahulu terdapat banyak jembatan
27:05di pegunungan di sepanjang
27:06sungai Kwai Kecil,
27:07tempat Jepang memperpanjang
27:08jalur kereta ke Myanmar
27:09yang dulunya bernama Burma.
27:19Para penggemar jembatan ini
27:21telah membentuk sebuah kelompok riset.
27:22Dengan menggunakan foto-foto lama,
27:25kita bersama-sama menelusuri
27:26rel kereta yang kini ditumbuhi semak
27:28mencari tanda-tanda bekas
27:30struktur jembatan.
27:37Ada gunung di sana.
27:39Gunung itu.
27:42Jembatannya mungkin ada di depan.
27:47Lihatlah cara pembuatannya.
27:48Mereka mengangkut semuanya
27:50ke sini dengan tangan.
27:51Jembatannya sangat kokoh,
27:52jadi kondisinya masih bagus.
27:57Tidak ada pagar pembatas
27:58di belokan ini.
28:02Jembatannya pasti melengkung.
28:07Ada banyak logam di sini.
28:10Mungkin material lama.
28:14Bisa jadi dulu ada jembatan di sini.
28:16Mereka menggunakan banyak paku dan baut.
28:20Ayo ke sana.
28:23Mari kita lihat.
28:25Ini terlalu dalam.
28:32Ini adalah material logam
28:35yang digunakan pada jembatan kayu.
28:37Ada dua bagian.
28:39Yang ini dijepit dari atas dan bawah
28:42untuk menyatukan dua balon.
28:56Setelah melewati jembatan sungai Kuai besar,
28:59kereta menelusuri sungai Kuai kecil.
29:04Tidak banyak penduduk Kuai Noi
29:06yang tahu tentang sejarah dunia
29:07di sekitar mereka.
29:09Mereka terikat erat
29:11dengan budayanya sendiri.
29:14Dari sepanjang 415 km,
29:17jalur kereta asli Thailand Burma
29:18hanya tersisa sekitar 130 km.
29:21Warga yang tinggal di hulu
29:22jarang berpergian dengan kereta.
29:31Air yang melimpah
29:33di wilayah yang hampir tidak pernah kekurangan.
29:38Orang Thailand memiliki tarian
29:40yang didedikasikan untuk ular air
29:42dan menyembahnya sebagai dewa.
29:44Mereka menyebutnya naga
29:45yang juga melindungi kuil Buddha.
29:50Setelah selesai bermain air,
29:52para remaja ini pergi menemui
29:53kepala wihara prakru.
30:00Dulu di belakang kuil
30:02pernah ada rel kereta.
30:03Dia merekonstruksi
30:05sebagian kecil rel ini.
30:06Biksu ini juga mengumpulkan relik
30:08yang menjadi bukti keberadaan
30:09sekitar 260 ribu orang
30:11yang membangun rel kereta
30:12dalam waktu kurang dari
30:13satu setengah tahun.
30:14Sekitar 12 ribu tawanan perang
30:16dan 90 ribu pekerja paksa
30:18dari Asia kehilangan nyawa
30:19dalam waktu singkat itu.
30:22Ini adalah jalur kereta api mau.
30:27Coba saling membantu
30:28dan temukan sesuatu
30:30dari masa perang dunia ke-2.
30:36Seperti ini.
30:39Apa itu?
30:40Paku.
30:41Lalu, ada cerita apa
30:43di balik paku itu?
30:46Coba berpikir seperti detektif.
30:49Ketemu sesuatu?
30:51Ada angkanya.
30:54Berapa?
30:5519-2003.
30:5719-35.
30:58Apa artinya?
31:00Tahun Buddha.
31:01Tahun Buddha.
31:03Tahun Masehi.
31:051935 Masehi.
31:07Itu tahun pembuatan paku.
31:09Dan paku-paku ini
31:11diproduksi di Eropa,
31:12mungkin di Inggris
31:13atau Jerman.
31:20Tarik nafas dalam-dalam,
31:23hembuskan perlahan.
31:25Ambil sebuah batu.
31:28Bebatuan ini
31:29pernah digunakan
31:30untuk membangun rel kereta.
31:32Tepian batu-batu ini
31:33mungkin menyimpan kisah.
31:39Banyak nyawa yang hilang
31:40saat pembangunan rel kereta.
31:55Ada pepatah yang berbunyi.
31:57Setiap bantalan rel kereta
31:58mewakili satu tawanan perang.
32:11Orang-orang meninggal di sini
32:13demi membangun rel ini.
32:17Itulah makna
32:18satu bantalan satu nyawa
32:20meskipun kini
32:21yang terlihat hanya peninggalannya.
32:27Teruskan.
32:30Kita bertemu dengan
32:31para pekerja kereta api
32:32masa kini.
32:33Mereka akan mengganti
32:34sebagian besar fondasi
32:35di sepanjang jembatan
32:36layang Wangfo.
32:38Tanpa adanya pagar pembatas,
32:40pekerjaan ini
32:40sangat berbahaya.
32:42Ayo buka bautnya.
32:44Kita akan angkat bloknya.
32:46Hati-hati.
32:49Bantalannya sudah rusak.
32:53Setiap tahun,
32:54kami harus mengganti
32:55sekitar 10 dari 100
32:56bantalan jembatan ini.
32:58Makin banyak yang rusak.
33:02Seharusnya seluruh jembatan ini
33:04dibangun ulang.
33:08Kayu dan kelembapan
33:09itu kombinasi yang buruk.
33:11Jika ada retakan
33:12sekecil apapun pada kayu,
33:14air akan meresap.
33:15Lalu kayu jadi lembab
33:16dan mulai lapu.
33:22Hati-hati, pelan-pelan.
33:24Ini bahaya.
33:25Jangan jatuh sewaktu berjalan.
33:29Tarik.
33:31Talinya habis.
33:33Turunkan.
33:36Ketinggiannya sungguh mengerikan.
33:37Mereka bilang
33:37satu bantalan,
33:38satu nyawa.
33:42Kesalahan sekecil apapun
33:44dapat memicu
33:44kecelakaan serius.
33:45Kita harus sangat hati-hati
33:47dan tahu apa yang kita lakukan.
33:52Ke belakang sedikit.
33:55Cukup.
33:57Turunkan pelan-pelan.
33:59Sekarang putar.
34:00Mulai-mulai.
34:03Pekerjaan di bidang kereta
34:04sudah menjadi bagian
34:05keluarga saya turun-temurun.
34:07Kakek,
34:08paman,
34:09dan abang-abang saya.
34:14Karena itu saya menyukainya.
34:15Saya selalu ingin berada di sini,
34:18tepat di tempat saya bekerja sekarang.
34:20Satu, dua,
34:22pindahkan.
34:25Memang berbahaya,
34:26tapi saya tidak takut.
34:27Kalau takut,
34:28saya tidak akan ada di sini.
34:30Pekerjaan ini harus dilakukan.
34:31Jika tidak,
34:32bisa membahayakan kereta
34:33dan penumpangnya.
34:39Jepang membangun
34:40jembatan layang Wangfo
34:41hanya dalam waktu 17 hari,
34:4317 malam.
34:44Dibangun oleh 700 orang Inggris,
34:46600 orang Australia,
34:48450 orang Belanda,
34:49dan 100 orang Thailand.
34:54Satu bantalan,
34:56satu nyawa.
34:57Mereka yang tidak tewas
34:59dalam kecelakaan konstruksi
35:00bisa saja meninggal
35:01karena kolera atau disentri.
35:03Syukurlah,
35:04semua itu sudah berlalu.
35:13Kembali ke pegunungan,
35:15di sepanjang rel kereta
35:16yang terbengkalai.
35:19Dengan dukungan pemerintah mereka,
35:21tawanan perang Australia yang selamat
35:23mendirikan sebuah situs peringatan.
35:26Di Hellfire Pass,
35:27para tawanan yang disiksa
35:28dan kelelahan
35:29harus membobol lorong batu ini
35:31dengan bor manual
35:32dan cangkul batu.
35:36Lihatlah betapa dalamnya lorong ini.
35:38Ini semua digali oleh tangan manusia.
35:42Tidak heran jika tempat ini
35:44diibaratkan sebagai neraka.
35:46Mereka bekerja siang dan malam,
35:47itu sebabnya tempat ini
35:48disebut Hellfire Pass.
35:57Para remaja ini
35:58sedang berusaha
35:59memahami dan menyikapi
36:00sejarah yang mengerikan ini.
36:05Dapat fotonya?
36:08Bagus.
36:09Terlalu gelap.
36:11Kalau begitu, ambil lagi.
36:15Coba lihat.
36:17Bagus.
36:20Kita harus memahami sejarah ini
36:23dan menyampaikan pesan
36:24bahwa kedamaian itu penting.
36:26Bukan hanya untuk dunia,
36:28kedamaian batin juga penting.
36:29Semoga mereka bisa mempelajarinya.
36:31Ketika kita harus memulai tempat ini
36:32.
36:33My mother is a king
36:45I'm a king
36:50My mother is a king
36:52My mother is a king
36:55I'm a king
36:59Remaja berusia 15 tahun ini mengungkapkan dengan kata-katanya
37:07We feel a loss, suffering, and suffering.
37:12Masukkan semua itu ke dalam reflexi batin
37:14yang penuh kasih dan berdoalah.
37:17Biarkan air mengalir untuk mereka yang telah tiada,
37:20dan saat menuangkannya,
37:22pikirkan setiap jiwa yang gugur dalam pembangunan real itu.
37:27Seperti air yang ditakdirkan memenuhi lautan,
37:31begitu pula karma yang kalian kirimkan kepada mereka yang telah tiada
37:35harus menemukan jalannya.
37:41Air melambangkan anugerah.
37:43Kami percaya bahwa air dapat menciptakan hubungan
37:46antara doa dan karma baik.
37:50Dalam banyak ritual Buddha,
37:52air punya peranan penting.
38:02Kami ingin memberikan karma baik kepada semua makhluk hidup.
38:08Kami hanya menginginkan kebaikan.
38:11Tuangkan airnya, semoga karma kita menyebar luas.
38:26Kereta yang kita naiki pun kembali melaju di sepanjang sungai Quai kecil.
38:30Sisa-sisa jalur kereta Thailand Burma akan berakhir di Namtok.
38:41Begitu pula sepertiga terakhir perjalanan kereta ini.
38:45Namun, kita belum sampai di tujuan.
39:08Kami menelusuri Quai Noe lebih dalam ke pegunungan.
39:13Kepala wihara prakru mengizinkan kami ikut ke tempat sucinya.
39:18Perjalanan ini melintasi perairan yang terkadang beromba.
39:24Seperti pikiran manusia, permukaan sungai mungkin terlihat tenang,
39:28tetapi di bawahnya ada arus yang berkecamuk.
39:38Air terjun mengalir dari tempat tinggi ke tempat rendah.
39:44Tidak beda dengan pikiran kita,
39:46yang dengan mudahnya menyerah pada kuatnya godaan.
40:02Tidak masalah dari mana air berasal.
40:05Semuanya mengalir bersama.
40:10Sungai-sungai kecil menyatu menjadi sungai besar,
40:13dan pada akhirnya semuanya mengalir ke lautan.
40:16Begitulah kehidupan manusia.
40:18Semua setara, Anda juga akan mengalir ke lautan.
40:28Kereta juga kembali melaju ke arah laut.
40:32Dalam kesunyian dan keheningan pikiran,
40:34perjalanan melintasi Thailand bagian barat ini nyaris berakhir.
40:40Di dalam gua batu kapur yang dipahat oleh kekuatan air tanpa henti.
40:52Kita memulai sebuah perjalanan,
40:54tetapi sesungguhnya kehidupan ini adalah perjalanan.
40:57Ada banyak pemberhentian.
40:59Kita yang memutuskan di mana kita mau berhenti dan apa yang ingin dilihat.
41:04Sejauh apapun kita berjalan,
41:06pada akhirnya semua orang mengarah ke tujuan yang sama.
41:20Satu-satunya yang tersisa adalah amal baik dan buruk yang kita perbuat selama ini.
41:24Siapapun yang memahami hal itu seharusnya bertanya pada diri sendiri.
41:28Bagaimana saya bisa membuat hidup ini berarti bagi diri sendiri dan bagi orang lain?
41:41Lalu, saat meninggalkan dunia ini,
41:44paling tidak kita akan menjadi kenangan indah bagi generasi berikutnya.
42:02Terima kasih telah menonton!
42:17Terima kasih telah menonton!

Recommended