Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV Presiden RI, Prabowo Subianto memimpin rapat terbatas (ratas) perkembangan penanganan karhutla di Istana Merdeka pada Senin (12/10/2026).

"Dari ratusan ribu beberapa minggu lalu, kita sekarang di bawah 1.000. Saya kira ini kalau enggak kita turun tangan secara besar-besaran, enggak, enggak bisa. Apalagi nanti kita mau adakan mitigasi kan ke depan ya," ujar Presiden Prabowo.

"Ini prioritas sangat utama bagi kita. Kita harus segera atasi ini dan kita harus mencegah ke depan. Nanti, ee, kampanye kita, strategi kita harus masif, komprehensif, menyeluruh, dan bersifat pencegahan," lanjutnya.

Baca Juga Pemerintah Belum Tetapkan Karhutla jadi Bencana Nasional, Ini Kata Menko Polkam Dudung di https://www.kompas.tv/nasional/695593/pemerintah-belum-tetapkan-karhutla-jadi-bencana-nasional-ini-kata-menko-polkam-dudung

#prabowo #karhutla #kebakaran

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/695612/presiden-prabowo-pimpin-ratas-penanganan-karhutla-kita-turun-tangan-besar-besaran
Transkrip
00:00Dari ratusan ribu, berapa minggu lalu kita sekarang di bawah seribu,
00:04saya kira ini kalau enggak kita turun tangan secara besar-besaran, enggak bisa.
00:15Yang terhormat Bapak Presiden, pada hari ini, Senin 12 Oktober 2006,
00:20telah hadir mendampingi Bapak Presiden, Bapak Menko Polkam, Bapak Menko PMK,
00:24Menteri Pertahanan, Panglima TNI, dan Kapolri,
00:26dan turut hadir melalui videokonference Kepala BMPB, BMKG, Kepala Staf Angkatan, Menteri Dalam Negeri,
00:35kemudian Gubernur Pangdam dan Kapolda dari Provinsi Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah.
00:41Dan nantinya kita akan fokus di dua provinsi tersebut,
00:45dan nanti akan dijelaskan secara umum oleh Kepala BMPB.
00:49Lanjutnya dimohon Bapak Presiden memberikan pengantar awal. Terima kasih.
00:54Terima kasih, Saudara-saudara.
00:55Saya kira langsung saja, kalau bisa saya dapat update,
01:00saya dapat perkembangan situasi terakhir.
01:04Mungkin dari Kepala BMPB kalau, ya.
01:08Siap.
01:09Silahkan.
01:10Siap, Bapak Presiden.
01:11Kami izin melaporkan update kondisi per hari ini,
01:17Senin 12 Oktober 2026 sebagai berikut.
01:20Untuk Provinsi Prioritas Lahan Gambut,
01:24ada di enam provinsi, Bapak Presiden, Kalimantan Tengah, Sumatera Selatan,
01:29Kalimantan Selatan, Jambi, Kalimantan Barat, dan Rio.
01:32Untuk hari ini, yang terbakar, yang masih ditangani oleh Satgas di lapangan,
01:43jumlahnya adalah 639,23 hektare.
01:48Yang terbesar memang terjadi di Kalimantan Tengah.
01:51Kenapa paling besar?
01:54Karena baru saja ditemukan kebakaran baru di Taman Nasional Tanjung Kuting,
02:02Kabupaten Kota Waringin Barat dan Seruian.
02:07Per hari ini ada 513,89 hektare yang terbakar di sana.
02:14Meskipun bukan lahan gambut, lahan mineral,
02:18tetapi ini menjadi pekerjaan yang segera harus kamu lakukan.
02:22Pangdem Kalimantan Tengah juga sudah memimpin langsung di lapangan per hari ini.
02:28Kemudian ada penambahan pasukan dan peralatan Satgas Darat.
02:34Sementara untuk Satgas Udara, kami sudah coba bergerak baik dari Palangkaraya, Cilikriwut,
02:43maupun dari Samsudinur, Banjarmasin, sementara belum tembus,
02:47karena visibility yang sangat tebal.
02:51Dan di Kalimantan Tengah ini, operasi-operasi udara,
02:56baik heli-water bombing, operasi modifikasi cuacam,
03:02maupun pesawat komersial,
03:04sementara tidak dapat terbang karena visibility yang rendah.
03:08Sehingga kesimpulannya, Pak Presiden,
03:10yang pertama sampai dengan tanggal 12 Oktober 2026,
03:16masih ada dua provinsi yang cukup berat,
03:19ini Pak Presiden, yaitu Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
03:23Kemudian untuk yang di tempat-tempat lain,
03:27ini juga masih ada kebakaran,
03:29tapi lebih mudah dipadamkan.
03:32Kami juga tetap mengerahkan heli-water bombing
03:35untuk tempat-tempat yang susah dijangkau,
03:38sebagai contoh, Taman National Way Kambas,
03:41Tanjung Kuting di Pangkalan Bun,
03:44dan Halmahera Timur di Maluku Utara.
03:47Kemudian juga untuk di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan,
03:51ini tetap kami masih menitikberatkan pada operasi darat,
03:54karena Kalimantan Tengah khususnya,
03:57tadi kami laporkan bahwa
03:59untuk heli-water bombing ini sudah hampir seminggu lebih
04:02tidak bisa terbang karena tidak visibility rendah.
04:07Untuk Sumatera Selatan baru hari ini bisa terbang,
04:10dan nanti kami akan padukan dengan operasi modifikasi cuaca,
04:14kami tambah armadanya, Kalimantan Tengah menggunakan 4 pesawat,
04:18dan Sumatera Selatan menggunakan 2 pesawat dari Pangkal Pinang.
04:24Kami tetap akan bekerja keras,
04:26sekuat tenaga, mengarahkan segala kemampuan,
04:28paling tidak di bulan Oktober ini,
04:31mudah-mudahan nanti begitu prediksi BMKG
04:34sudah mulai turun hujan alami
04:36di pertengahan Oktober sampai dengan November,
04:40dan selanjutnya setelah musim hujan turun,
04:42tentu saja kondisi karhutlah akan lebih baik.
04:46Tapi sebelum itu kami siap untuk bekerja keras,
04:50mengerahkan segala kemampuan yang kami miliki.
04:53Mungkin itu Bapak Presiden yang bisa kami laporkan.
04:55Selanjutnya mohon petunjuk.
04:58Kepala BIN Pahib, saya mau rekonfirmasi.
05:01Jadi kondisi sekarang,
05:06total di 6 provinsi yang masih harus dipadamkan,
05:16berarti masih terbakar,
05:19adalah 639,23 hektare.
05:23Apa benar itu?
05:24Betul Bapak Presiden.
05:26Tadinya saya mengira masih ratusan ribu,
05:28masih puluhan ribu,
05:29ternyata sudah jauh ya.
05:34Karena itu,
05:37tolong sampaikan ke Menpan RB,
05:42kalau memang saya minta 70 ribu polisi hutan,
05:48itu karena ada maksud untuk menjaga hutan-hutan kita.
05:53Iya, iya, oke.
05:55Oh dari Kemenhut yang hanya 20 ribu se...
05:59Ya kalau enggak ya minta dilatih lah oleh polisi atau oleh tentara.
06:03Namanya aja polisi hutan.
06:06Iya kan?
06:07Kapolri nanti bisa bantu ya, didik polisi hutan ya.
06:10Iya.
06:11Alam kita berat,
06:13tapi dari ratusan ribu,
06:15berapa minggu lalu kita sekarang dibawa seribu.
06:18Saya kira ini kalau enggak,
06:19kita turun tangan secara besar-besaran,
06:21enggak bisa.
06:23Apalagi nanti kita mau adakan mitigasi kan ke depan.
06:27Tanjung,
06:28Taman Nasional Tanjung Puting
06:30menjadi perhatian karena itu Taman Nasional.
06:33Saya ucapkan terima kasih atas juri payah saudara-saudara,
06:37para panglima,
06:39para kapal kapolda,
06:41ya para pejabat di daerah-daerah.
06:45Ya masalah asap,
06:46nanti kita minta masukkan para profesor kita,
06:50bagaimana tapi saya kira memang benar ujungnya ya hanya hujan air ya.
06:57Tapi kita dengan strategi yang kita telah bahas,
07:01waktu saya kumpulkan para pakar dari semua kampus,
07:06ya para pekar,
07:07profesor-profesor itu dan
07:08mereka ahli-ahli dari daerah-daerah sendiri,
07:12bahwa langkah nanti yang paling utama adalah
07:17pencegahan,
07:17presisi,
07:19mitigasi di tingkat paling bawah,
07:21di tingkat desa.
07:24Saya kira itu dari saya, terima kasih.
07:27Selamat sore.
07:29Ya, ada Pangdam yang mau laporan.
07:32Ya, izin Bapak.
07:33Dari Pangdam,
07:33saya menemukan Bapak.
07:34Bapak izin menyampaikan Bapak,
07:37seperti yang tadi Bapak sampaikan,
07:38untuk Tanjung Puting ini memang menjadi perhatian dunia Bapak,
07:43karena sampai saat ini,
07:45hari ini saja,
07:46ada 247 wisatawan mancanegara Bapak,
07:50yang ada di wilayah Tanjung Puting.
07:52Sampai dengan saat ini,
07:54tahun ini sudah 66 ribu Bapak,
07:57wisatawan mancanegara.
07:58Oleh karena itu memang kita harus fokus
07:59untuk memberantas
08:03kahutlah ini,
08:04memang tidak semudah
08:06yang kita bayangkan Bapak,
08:08saya sudah menunjuk beberapa anggota
08:11untuk meninjau lokasinya.
08:13Itu lokasinya memang sangat terpencar Bapak.
08:16Sangat terpencar wilayahnya,
08:18dan wilayahnya rawa.
08:21Kemudian,
08:22bukan hanya orang hutan saja Bapak,
08:25yang ada di dalam,
08:27itu masih banyak binatang-binatang buas Bapak.
08:30Termasuk buaya,
08:32itu juga masih ada,
08:33ular dan sebagainya.
08:34Oleh karena itu memang,
08:35ini menjadi perhatian sendiri Bapak,
08:38untuk masuk ke sana,
08:39itu harusnya hati-hati.
08:41Saya nanti memang sudah membuat tim,
08:43dari pagi sampai siang tadi,
08:45kita rapat dengan BPPD,
08:47dengan Pemda,
08:49Polri,
08:50kita membentuk tim betul-betul,
08:51sehingga nanti pada saat masuk ke sana,
08:54itu betul-betul aman bagi anggota juga Bapak.
08:56karena memang api yang ada di wilayah itu sangat terpencar dan jauh Bapak.
09:01kemudian,
09:03kemudian,
09:03ijem melaporkan juga Bapak,
09:05kami hanya ada kekurangan satu Bapak,
09:09karena memang mobil itu tidak bisa masuk,
09:11kita hanya kekurangan pompa-pompa kecil Bapak.
09:17Karena yang sudah dibantu Bapak yang waktu yang lalu,
09:20itu sudah dipakai,
09:21dan masih dipakai,
09:22untuk pendinginan di beberapa tempat.
09:25Nah,
09:26untuk yang saat ini,
09:27kita masih kekurangan alkon saja Bapak.
09:30Untuk selang dan sebagainya itu masih cukup,
09:32hanya beberapa alkon saja,
09:34tapi tadi juga saya doa koordinasi dengan Gubernur Kalteng,
09:37itu sudah lagi menyiapkan juga Bapak,
09:39mudah-mudahan ini bisa cepat datang,
09:41karena memang kadang-kadang alkon ini,
09:43alat pompa ini sangat terbatas di Kalimantan Bapak.
09:46Sehingga memang mesti didatangkan dari Jawa.
09:48Bapak, kok butuh?
09:50Mungkin kalau untuk mengatasi ini,
09:53sekitar 50 cukup Bapak,
09:55karena memang yang penting itu alatnya ada,
09:58itu bisa cepat kita pakai,
09:59dan bisa kita cepat gunakan.
10:01Demikian juga dengan,
10:03karena memang daerahnya rawa,
10:05itu sulit kita membutuhkan tim bor air Bapak.
10:10Kita sudah ada tim bor air,
10:12tapi memang kita pakai juga di tempat-tempat lain,
10:14sehingga kami sudah bawa juga sekarang,
10:17buat tim untuk bor air,
10:19karena kalau daerah rawa seperti ini,
10:21tidak terlalu sulit,
10:22hanya 10 sampai 15 meter,
10:24untuk membor air,
10:25sehingga untuk bisa memadamkan segera,
10:28api-api yang ada di berbagai wilayah tempat itu Bapak.
10:32Berapa kau butuh kompa air?
10:35Izin?
10:3650.
10:3750 cukup Bapak.
10:39Karena jika dipanen di batas,
10:41mungkin dari Jawa dikirim.
10:42Saya kirim 200.
10:44Siap, terima kasih Bapak.
10:46Terima kasih Bapak.
10:47Apalagi kau butuh.
10:49Sementara itu Bapak.
10:50Satu tim bor bisa kau bikin di situ.
10:53Pompanya kan dari kita.
10:55Timnya kan raya setempat kali ya.
10:58Nanti kita cari Bapak untuk timnya.
11:00Satu lubang bor berapa biaya untuk bayar upahnya?
11:08Kalau biaya itu di lokasi,
11:11di daerah sini kurang lebih 10 juta Bapak per titik Bapak.
11:14Tapi ini kan...
11:1610 juta per titik?
11:18Siap.
11:18Oke.
11:20Saya kirim 2 miliar 200 titik.
11:24Siap.
11:25Ya.
11:26Siap Bapak, terima kasih Bapak.
11:28Tadi kita berdayakan juga masyarakat
11:30untuk bantu untuk membuat bor berapa biaya itu Bapak.
11:33Pencegahan.
11:34Siap.
11:35Saya minta segera diatasi.
11:40Bagaimana visibility di atas
11:42Taman Nasional Tanjung Puting?
11:44Sampai saat ini,
11:46tadi dengan dan lanut dilaporkan
11:48kurang lebih 500 meter Bapak visibility.
11:51Sehingga memang kalau memang bisa Bapak
11:54dengan teknik AU,
11:55kalau bisa dikerahkan untuk waterbombing.
11:59Karena memang kalau dari swasta Bapak,
12:01dia standarnya 5000 meter untuk visibility.
12:04Kemarin di Karsel itu 3000 dari angkatan udara atau penerbat
12:09itu berani untuk menerbangkan waterbombing
12:13di atas 3000 meter Bapak.
12:18Baik.
12:19Oke.
12:20Nanti kita konsolidasi ya.
12:22TNI ya.
12:23Polri ya.
12:24Konsolidasi penerbang-penerbang.
12:27Baik.
12:29Nanti Kapolri akan menjelaskan,
12:31tapi saya kira enggak usah,
12:33enggak usah terlalu terbuka, ya.
12:36Nanti menjelaskan secara terbatas
12:40kepada kami saja.
12:43Baik.
12:44Kalau begitu, terima kasih semuanya.
12:45Sudah-sudah sekalian.
12:47Ya, terima kasih.
12:48Selamat bekerja, selamat berjuang.
12:50Dan kalau ada kebutuhan,
12:53kalau ada keperluan,
12:54apa yang kau butuh,
12:55sampaikan, ya.
12:57Ini prioritas sangat utama bagi kita.
13:01Kita harus segera atasi ini.
13:04Dan kita harus mencegah ke depan.
13:08Nanti kampanye kita,
13:10strategi kita,
13:11harus masif, komprehensif,
13:14menyeluruh dan bersifat pencegahan.
13:22Cara baru nonton di Smart TV.
13:25Nonton live streaming
13:26dan ribuan tayangan Kompas Gramedia
13:28langsung dari Smart TV kamu.
13:31Cara installnya,
13:32buka Google Play Store di Smart TV kamu.
13:35Cari Kompas TV melalui pencarian.
13:38Pilih aplikasi, lalu install.
13:40Selesai,
13:41kamu bisa menonton video pilihan editorial Kompas TV.
13:45Download Kompas TV apps di TV kamu sekarang juga.
13:49Terima kasih.
13:51Terima kasih.
13:51Terima kasih.
13:51Terima kasih.

Dianjurkan