Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV Eks Wamenkumham, Denny Indrayana, mengaku tak paham siapa yang dimaksud Presiden ke-7 RI, Joko Widodo saat menanggapi pernyataan adanya operasi politik dalam polemik ijazah Wapres Gibran Rakabuming.

"Apakah ada operasi politik? Saya tidak paham kepada siapa pernyataan itu ditunjukkan. Tetapi kalau kami membawa persoalan ini ke hadapan meja merah Mahkamah Konstitusi," ujar Denny, dikutip dari akun YouTube Denny Indrayana pada Sabtu (17/10/2026).

"Saya justru mengimbau kepada Bapak untuk kembali menjadi negarawan. Bagaimana caranya? Yang paling tepat adalah memberi masukan kepada Ananda Gibran untuk sudahlah mundur dari posisi wakil presiden," lanjutnya.

Baca Juga FULL! Jokowi Sebut Ada Penumpang 'Gelap' di Kasus Ijazah Gibran, Ade Darmawan-Ray Rangkuti Merespons di https://www.kompas.tv/nasional/696446/full-jokowi-sebut-ada-penumpang-gelap-di-kasus-ijazah-gibran-ade-darmawan-ray-rangkuti-merespons

#dennyindrayana #jokowi #gibran #ijazah

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/696509/reaksi-denny-indrayana-balas-jokowi-soal-operasi-politik-di-balik-polemik-ijazah-wapres-gibran
Transkrip
00:00Yang paling tepat adalah memberi masukan kepada Ananda Gibran untuk sudahlah mundur dari posisi wakil presiden.
00:10Itu adalah tindakan negarawan. Apakah ada operasi politik?
00:14Saya tidak paham kepada siapa pernyataan itu ditujukan.
00:18Tetapi kalau kami membawa persoalan ini ke hadapan meja merah Mahkamah Konstitusi,
00:24kami mengajak pihak-pihak beradu argumentasi, logika, nalar, dengan bukti, dengan saksi, dengan ahli di persidangan yang terbuka untuk umum
00:37sehingga fakta-fakta persidangan bisa dipertanggungjawabkan, bisa dinilai, dilihat bersama-sama.
00:44Yang menurut kami operasi politik justru adalah cawe-cawe presiden Jokowi dalam Pilpres 2024.
00:51Yang paling sekarang mengemuka adalah diubahnya pasal-pasal syarat menjadi menggibran, disesuaikan dengan kondisi gibran.
01:02Syarat umur yang harusnya minimal 40 tahun digibrankan melalui putusan Pak Manusman untuk penakan gibran di Mahkamah Konstitusi.
01:11Salat pendidikan yang seharusnya berpendidikan paling rendah SMA atau sederajat digibrankan melalui pasal 18 R3 Peraturan KPU nomor 19 tahun
01:232023
01:24yang semakin terindikasi adalah pasal selundupan demi meloloskan sodara gibran menjadi wakil presiden.
01:33Itulah sebenarnya operasi politik yang merusak kejujuran dan keadilan Pilpres 2024.
01:43Yang kedua, apakah betul ada upaya mendowngrade reputasi politik sodara gibran dan Pak Jokowi?
01:49Untuk sodara gibran, tanpa didowngrade sekalipun memang reputasinya masih belum layak.
01:56Beliau seharusnya tidak dipasalkan menjadi wakil presiden.
02:01Bahkan untuk menjadi wali kota Solo pun sama-sama kita tahu masih perlu dipertanyakan kelayakannya.
02:10Jadi tidak ada reputasi yang didowngrade.
02:12Memang belum layak untuk menjadi wakil presiden.
02:18Reputasi Pak Jokowi sendiri sebenarnya saya termasuk yang memilih untuk Pilpres tahun 2014.
02:25Meskipun saya saat itu diminta netra karena masih memegang amanah sebagai wakil menteri hukum dan hak.
02:32Tapi seiring perjalanan waktu, reputasi kepresiden dan Bapak dirusak sendiri oleh Presiden Jokowi.
02:40Dimana politik kebangsaan dan kenegaraannya menjadi politik partisan, politik kekeluargaan.
02:48Memilih sodara gibran untuk melanjutkan dinasti kekuasaan Solo adalah langkah yang menurut saya
02:55menunjukkan Bapak kehilangan nilai-nilai kenegarawanannya.
03:01Menjadi presiden relawan.
03:04Presiden yang hanya didukung oleh kelompok-kelompok partisan saja.
03:09Bahkan bukan oleh partai politik.
03:12Hanya Bapak yang ketika menjadi calon presiden memiliki relawan.
03:16Ketika menjadi presiden memiliki relawan.
03:19Dan setelah menjadi presiden masih punya relawan.
03:22Inilah politik relawan, bukan politik kebangsaan atau kenegaraan.
03:28Karena itu saya justru menghimbau kepada Bapak untuk kembali menjadi negarawan.
03:35Bagaimana caranya?
03:36Yang paling tepat adalah memberi masukan kepada Ananda Gibran untuk sudahlah mundur dari posisi wakil presiden.
03:47Itu adalah tindakan negarawan, itu adalah langkah yang bijak, dan itu adalah cara pertobatan bagi keluarga Solo
03:57agar tidak semakin merusak politik Republik, politik Indonesia.
04:23Dengan munculnya tuduhan ijasa palsu yang dari mulai Pak Jokowi terus sekarang ke Mas Gibran,
04:29ini apakah ada satu rangkaian terkait gerakan yang dulu Bapak sempat bilang adanya orang besar gitu Pak?
04:34Ya kan sudah saya sampaikan sejak awal, ini ada operasi politik, kemudian ada penumpang gelap yang menunggangi lagi, jadi menjadi
04:45ramai sekali.
04:47Tapi ya buat saya biasa saja.
04:51Ini membuat isu-isu yang apa namanya, yang penting menjadi terlupakan itu atau seperti itu Pak?
04:58Ya bisa saja seperti itu, bisa saja memang sekali lagi operasi politik untuk mendowngrade reputasi politik seseorang.
05:13Bapak atau Mas Gibran kita maksudnya?
05:15Ya dua-duanya bisa.
05:21Cara baru nonton di Smart TV, nonton live streaming, dan ribuan tayangan Kompas Gramedia langsung dari Smart TV kamu.
05:29Cara installnya, buka Google Play Store di Smart TV kamu.
05:34Cari Kompas TV melalui pencarian.
05:37Pilih aplikasi, lalu install.
05:39Selesai, kamu bisa menonton video pilihan editorial Kompas TV.
05:45Download Kompas TV Apps di TV kamu sekarang juga.

Dianjurkan