00:00Yang paling tepat adalah memberi masukan kepada Ananda Gibran untuk sudahlah mundur dari posisi wakil presiden.
00:10Itu adalah tindakan negarawan. Apakah ada operasi politik?
00:14Saya tidak paham kepada siapa pernyataan itu ditujukan.
00:18Tetapi kalau kami membawa persoalan ini ke hadapan meja merah Mahkamah Konstitusi,
00:24kami mengajak pihak-pihak beradu argumentasi, logika, nalar, dengan bukti, dengan saksi, dengan ahli di persidangan yang terbuka untuk umum
00:37sehingga fakta-fakta persidangan bisa dipertanggungjawabkan, bisa dinilai, dilihat bersama-sama.
00:44Yang menurut kami operasi politik justru adalah cawe-cawe presiden Jokowi dalam Pilpres 2024.
00:51Yang paling sekarang mengemuka adalah diubahnya pasal-pasal syarat menjadi menggibran, disesuaikan dengan kondisi gibran.
01:02Syarat umur yang harusnya minimal 40 tahun digibrankan melalui putusan Pak Manusman untuk penakan gibran di Mahkamah Konstitusi.
01:11Salat pendidikan yang seharusnya berpendidikan paling rendah SMA atau sederajat digibrankan melalui pasal 18 R3 Peraturan KPU nomor 19 tahun
01:232023
01:24yang semakin terindikasi adalah pasal selundupan demi meloloskan sodara gibran menjadi wakil presiden.
01:33Itulah sebenarnya operasi politik yang merusak kejujuran dan keadilan Pilpres 2024.
01:43Yang kedua, apakah betul ada upaya mendowngrade reputasi politik sodara gibran dan Pak Jokowi?
01:49Untuk sodara gibran, tanpa didowngrade sekalipun memang reputasinya masih belum layak.
01:56Beliau seharusnya tidak dipasalkan menjadi wakil presiden.
02:01Bahkan untuk menjadi wali kota Solo pun sama-sama kita tahu masih perlu dipertanyakan kelayakannya.
02:10Jadi tidak ada reputasi yang didowngrade.
02:12Memang belum layak untuk menjadi wakil presiden.
02:18Reputasi Pak Jokowi sendiri sebenarnya saya termasuk yang memilih untuk Pilpres tahun 2014.
02:25Meskipun saya saat itu diminta netra karena masih memegang amanah sebagai wakil menteri hukum dan hak.
02:32Tapi seiring perjalanan waktu, reputasi kepresiden dan Bapak dirusak sendiri oleh Presiden Jokowi.
02:40Dimana politik kebangsaan dan kenegaraannya menjadi politik partisan, politik kekeluargaan.
02:48Memilih sodara gibran untuk melanjutkan dinasti kekuasaan Solo adalah langkah yang menurut saya
02:55menunjukkan Bapak kehilangan nilai-nilai kenegarawanannya.
03:01Menjadi presiden relawan.
03:04Presiden yang hanya didukung oleh kelompok-kelompok partisan saja.
03:09Bahkan bukan oleh partai politik.
03:12Hanya Bapak yang ketika menjadi calon presiden memiliki relawan.
03:16Ketika menjadi presiden memiliki relawan.
03:19Dan setelah menjadi presiden masih punya relawan.
03:22Inilah politik relawan, bukan politik kebangsaan atau kenegaraan.
03:28Karena itu saya justru menghimbau kepada Bapak untuk kembali menjadi negarawan.
03:35Bagaimana caranya?
03:36Yang paling tepat adalah memberi masukan kepada Ananda Gibran untuk sudahlah mundur dari posisi wakil presiden.
03:47Itu adalah tindakan negarawan, itu adalah langkah yang bijak, dan itu adalah cara pertobatan bagi keluarga Solo
03:57agar tidak semakin merusak politik Republik, politik Indonesia.
04:23Dengan munculnya tuduhan ijasa palsu yang dari mulai Pak Jokowi terus sekarang ke Mas Gibran,
04:29ini apakah ada satu rangkaian terkait gerakan yang dulu Bapak sempat bilang adanya orang besar gitu Pak?
04:34Ya kan sudah saya sampaikan sejak awal, ini ada operasi politik, kemudian ada penumpang gelap yang menunggangi lagi, jadi menjadi
04:45ramai sekali.
04:47Tapi ya buat saya biasa saja.
04:51Ini membuat isu-isu yang apa namanya, yang penting menjadi terlupakan itu atau seperti itu Pak?
04:58Ya bisa saja seperti itu, bisa saja memang sekali lagi operasi politik untuk mendowngrade reputasi politik seseorang.
05:13Bapak atau Mas Gibran kita maksudnya?
05:15Ya dua-duanya bisa.
05:21Cara baru nonton di Smart TV, nonton live streaming, dan ribuan tayangan Kompas Gramedia langsung dari Smart TV kamu.
05:29Cara installnya, buka Google Play Store di Smart TV kamu.
05:34Cari Kompas TV melalui pencarian.
05:37Pilih aplikasi, lalu install.
05:39Selesai, kamu bisa menonton video pilihan editorial Kompas TV.
05:45Download Kompas TV Apps di TV kamu sekarang juga.