Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 menit yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Sejumlah mahasiswa menyampaikan kritik terhadap dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam orasi di Tugu Proklamasi, Jakarta, Selasa (20/10/2026).

Mereka menyoroti persoalan demokrasi, kebebasan sipil, penegakan hak asasi manusia, serta dugaan tindakan represif aparat.

Salah satu orator menyinggung tragedi Kanjuruhan yang menewaskan 135 orang dan kasus penyiraman air keras terhadap aktivis Andrie Yunus sebagai bagian dari kritik terhadap penegakan HAM.

Baca Juga UPDATE! Polda Metro Jaya Tahan Bharada AR dalam Kasus Penembakan di Pondok Cabe, Kejiwaan Didalami di https://www.kompas.tv/video/696978/update-polda-metro-jaya-tahan-bharada-ar-dalam-kasus-penembakan-di-pondok-cabe-kejiwaan-didalami

Selain isu demokrasi, mahasiswa juga mengkritik kondisi ekonomi masyarakat, pemberantasan korupsi, dan kebijakan pendidikan. Mereka mempertanyakan prioritas anggaran pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), di tengah persoalan akses pendidikan dan tekanan ekonomi yang dihadapi masyarakat.

Dalam orasi tersebut, Komite Selamatkan Daulat Rakyat (SADAR) turut menyerukan aksi nasional pada 28 Oktober di Jakarta serta mengajak mahasiswa, buruh, petani, dan elemen masyarakat sipil untuk bergabung.



Produser: Prayogi Haro

Editor: Joshua

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/696980/full-orasi-tuntutan-jelang-aksi-demo-mahasiswa-20-oktober-2026-di-jakarta
Transkrip
00:00Sebuah kota yang menjadi satu simbol dari pelanggaran, dari sebuah kebrengsekan dari aparat negara,
00:16135 orang nyawa melayang di Kanjuruhan beberapa tahun yang lalu.
00:23Dan saya menyampaikan, saya menyaksikan tubuh-tubuh yang dilukai, suara-suara yang dicurigai, dan keberanian yang harus dibayar dengan harga
00:33yang tak terperi.
00:35Bang Andriunus disiram air keras seolah tubuh seseorang boleh dijadikan sasaran ketika keberaniannya mengusik kekuasaan.
00:44Jurnalis diteror karena merawat kebenaran, sementara rakyat yang turun ke jalan harus berhadapan dengan kekerasan.
00:52Seragam gagah hasil jeripaya kami kian hadir di ruang keseharian.
00:57Bahkan di sekeliling kami hari ini, kita melihat seragam-seragam itu dengan senjata-senjata dibalik seragamnya tersebut.
01:07Sementara kami masyarakat sipil, perlahan kehilangan keleluasaan.
01:12Ada nyawa yang hilang, ada keberanian yang dibungkam, dan ada keadilan yang terus ditagih, tetapi belum sepenuhnya datang.
01:23Aku muak, aku muak, aku muak, aku muak menyaksikan demokrasi yang dirayakan dalam bidato.
01:34Sementara kebebasan rakyat perlahan kehilangan ruang.
01:38Apa arti kemerdekaan jika bersuara mendatangkan ancaman?
01:45Apa arti keamanan jika rakyat justru hidup dalam ketakutan?
01:52Dengan ini, aku tegaskan perlawananku terhadap segala rupa pembungkaman, pengekangan, dan militerisasi yang merampas ruang hidup rakyat.
02:03Tak akan kubiarkan demokrasi tinggal nama.
02:07Kebebasan sekadar kata, dan hak asasi menjadi panji tanpa makna.
02:16Sebab rakyat bukan musuh yang harus ditundukkan, kritik bukan ancaman yang harus dilumpuhkan, dan kebebasan bukan hadiah yang boleh dicabut
02:32oleh kekuasaan.
02:36Di sektor hukum dan tata kelola, belasan tahun sudah kami mengejam pendidikan di bangku sekolah.
02:44Kegiatan apapun kami jalani untuk mengisi CV puluhan kilo kutempu untuk mengundi nasib.
02:54Berlari, berdesak-desakan, terus berdiri hingga berdiam diri karena harapan tak kunjung datang.
03:02Sedangkan mereka, sang penguasa, tak perlu capek-capek untuk bersekolah, tak perlu capek-capek untuk mendapatkan ijazah, tinggal merengek kepada
03:12papa.
03:13Maka apapun yang diberikan, tak punya kenalan pun tak jadi masalah.
03:19Di negeri ini, asal ada fulus, segala urusan maka akan mulus.
03:26Penegak hukum yang bicara keadilan tidak tahan apabila ditawarkan emas di depan mata.
03:32Politisi yang manis berjanji, ini itu pada akhirnya hanya mengenyangkan perutnya sendiri.
03:41Mereka menjelaskan berapa semangat dan kayanya alam Indonesia yang hasilnya hanya didikmati oleh sekelintir pihak.
03:51Sedangkan kami, rakyat, yang setiap hari mau tidak mau menyisikan penghasilan dan untuk pajak, hanya mendapatkan sekantung sembako atas nama
04:03penguasa.
04:03Maka di sini kami tegaskan, cukup sudah kami buat beratas segala bentuk KKN, korupsi, kolusi, dan nepotisme yang menghambat kemajuan
04:15di negeri ini.
04:21Di sektor pendidikan, masih pantaskah kita mengatakan bahwa pendidikan kita telah mapan ketika masih ada seorang anak yang mengakhiri hidupnya
04:32karena tidak mampu membeli alat tulis.
04:35Masih pantaskah kita mengatakan bahwa pendidikan telah berkeadilan ketika teman-teman kita di Papua, Maluku, dan pelosok negeri lainnya harus
04:47menempuh perjalanan berkilo-kilometer demi menimba ilmu.
04:53Masih pantaskah kita mengatakan bahwa pendidikan telah mensejahterakan, bahwa pendidikan telah mensejahterakan rakyat ketika sekolah-sekolah di Aceh, sekolah-sekolah
05:04di Padang, Lampung, dan daerah lainnya hancur di luluh lantakan bencana yang mengakibatkan akses untuk memperoleh pendidikan yang layak turut
05:14terganggu.
05:16Bahkan di sekitar kita banyak sekali saudara dan tetangga yang terpaksa meninggalkan bangku sekolah bukan karena kehilangan cita-cita, namun
05:27melainkan karena kehidupan memaksa mereka untuk bekerja dan memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.
05:38Rasanya semua itu hanyalah kemunafikan ketika aku terus mengatakan bahwa semuanya sejahtera dan baik-baik saja.
05:47Sementara masih banyak saudara-saudaraku yang harus merintih kesakitan demi memperoleh itu semua.
05:55Apakah ini wajah asli negeri ini?
05:57Negeri yang menelantarkan pendidikan dengan membiarkan masyarakat miskin kesulitan memperoleh akses dan kesempatannya.
06:06Negeri yang justru membangun tembok penghalang bagi rakyat kecil untuk keluar dari rantai kemiskinan yang terus menggerot gotinya.
06:16Lantas, apakah aku harus terus diam melihat semua penderitaan yang dirasakan saudara sebangsaku ini?
06:24Jawabku, tidak.
06:30Maka, pada hari ini kami menegaskan kepada seluruh rakyat Indonesia
06:37Dengarkanlah pesan ini, pesan dari generasi yang akan paling merasakan borok luka hasil kebijakan rezim saat ini.
06:45Sadarlah Indonesia, suruhkan daulat rakyat.
06:49Kami sampaikan juga bahwasannya, forum Komite Sadar akan melaksanakan aksi nasional di Jakarta pada tanggal 28 Oktober.
07:07Mengajak seluruh kaum yang tertindas, kaum yang lapar, buruh, tani, mahasiswa, dan seluruh organ masyarakat sipil bergabung kepada aksi kami
07:18di tanggal 28 Oktober di Jakarta.
07:21Maka, tidak ada kata lain selanjutnya, hidup pelagian Indonesia, hidup pelagian Indonesia, hidup tani, hidup buruh, hidup mahasiswa.
07:41Itu saja seluruh harapan, seluruh teguran, seluruh saran kami dari Komite Sadar.
07:51Terima kasih.
08:05Terima kasih.
08:22Datang saja, dan aku akan kuberikan mikir ini kepada kalian.
08:36Hidup pelagian Indonesia.
08:40Teman-teman sekalian, saat ini kita kumpul karena sudah merasakan, temukan, pertama,
08:47Resim Prabowo Gibran tidak mengetaskan masalah-masalah demokrasi, pengetasan HAM, dan lain-lain.
08:51Selain demokrasi yang semakin buruk dan kebebasan ruang sipil yang semakin terbatas karena Resim Prabowo Gibran semakin represif,
09:00kita juga melihat sisi ekonomi yang semakin memburuk.
09:03Sisi ekonomi kelas menengah saat ini yang menjadi sumber pendapatan negara,
09:08menjadi penyumbang pajak, tapi hasil ekonominya tidak sebaik output yang dihasilkan dari kebijakan Prabowo Gibran,
09:19tidak menghasilkan daya beli masyarakat, tidak menggerakkan roda ekonomi di bawah,
09:23cuma menggerakkan roda-roda ekonomi di atas.
09:27Makanya kalau kita tidak sadar, kalau misalnya saat ini pajak-pajak kita digunakan hanya untuk program-program populis,
09:40bahkan bergizi gratis, koperasi desa merah putih, dan sebagainya yang tidak menghasilkan roda ekonomi bermutar di bawah,
09:46tidak menciptakan multiplayer efek.
09:49Justru daya beli masyarakat semakin tergerus, banyak kelas menengah yang tadi sudah disampaikan,
09:55makin harus berhati-hati untuk kebutuhan pokok.
09:59Selain itu, kita selalu semakin sadar.
10:06Bahwasannya, ketika kita mau protes, bahwasannya karena memang kebutuhan pokok kita semakin terancam,
10:14justru kita malah diadakan oleh aparat-aparat fasis, aparat-aparat represif,
10:20yang digunakan oleh rezim untuk membuka mereka yang ingin berpendapat.
10:24Mungkin cukup, terima kasih.
10:27Hidup rakyat Indonesia.
10:30Terima kasih kawan-kawan.
10:36Dari Senti, selaku Ketua BEMUNES, persilahkan.
10:50Hidup rakyat Indonesia.
10:54Saya di sini berdiri tidak menggunakan Almed.
10:57Saya hanya mahasiswa biasa, yang saya berasal dari keluarga biasa.
11:01Orang tua saya adalah perantau di Kresnya, Kota, Jakarta.
11:05Saya ditinggal di pedesaan kecil bersama renek saya.
11:09Itulah mirisnya, teman-teman.
11:11Seorang anak terpaksa ditinggalkan oleh orang tua untuk merantau ke ibu kota, dikerasnya, Jakarta.
11:19Karena apa?
11:20Karena untuk memenuhi kebutuhan ekonominya.
11:23Sebegitu tertimpangnya keadaan Indonesia saat ini, teman-teman.
11:27Kita perlu sadar, kita harus sadar, bahwasannya Indonesia saat ini itu sudah jauh dari tujuan dan cita-citanya.
11:36Kita ingat kembali, teman-teman, tujuan bangsa Indonesia.
11:40Yang pertama adalah melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.
11:46Itu tercantum, teman-teman, di Undang-Undang Dasar 1945.
11:52Sekarang kehidupan bangsa Indonesia tidak pernah terlindungi.
11:5550 ribu anak bangsa diracuni di program prioritas.
12:01Agak memalukan, teman-teman, ketika kita menyampaikan kepada negara lain.
12:05Kita punya program pemerintah, yaitu meracuni 50 ribu anak bangsa kita sendiri.
12:11Bagaimana kita merasa aman hidup di kepungan asap yang bahkan hari ini pemerintah tidak serius untuk menanggapi bencana tersebut.
12:20Saya mendapatkan laporan, saya mendapatkan laporan.
12:23Tapi tidak pernah datang ke Tanah Kalimantan untuk melihat kehidupan di Tanah Kalimantan.
12:31Dari mana letak melindungi segenap bangsa dan kehidupan Indonesia itu?
12:35Saya rasa sudah tidak ada, teman-teman.
12:40Menjejahterakan kejejahteraan umum.
12:43Saya rasa itu juga sudah jauh.
12:47Survei ekonomi, teman-teman, untuk menutupkan desil 1 sampai dengan desil 10 untuk menutupkan.
12:52Mana kaya dan mana miskin.
12:54Malah justru dijadikan sebagai pengerek ekonomi di Indonesia.
12:59Yang katanya ekonomi Indonesia itu semakin naik.
13:01Padahal ternyata itu hanya permainan desil saja, teman-teman.
13:04Yang miskin dijadikan desil 1, yang kaya hanya dijadikan desil 2.
13:10Lalu untuk apa kalau memang itu hanya semata yang katanya sudah naik,
13:15katanya sudah naik perekonomian atau kesejahteraan rakyat Indonesia?
13:19Yaitu belum, teman-teman.
13:20Itu hanya permainan desil saja.
13:23Selanjutnya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa.
13:25Dari mana sekarang anggaran pendidikan sudah dipotong, teman-teman.
13:31Dialihkan ke MBG, walaupun kemarin sudah digugat di MK itu pun masih,
13:36masih saja punya delik untuk dilakukan di tahun 2028.
13:40Lalu bagaimana dengan anggaran tahun 2027?
13:43Bagaimana pendidikan di tahun 2027?
13:46Mereka terlalu fokus untuk mengenyangkan perut kita agar kita lupa bahwasannya negara ini sudah bobrok.
13:54Sekarang masyarakat terpecah jadi dua, karena itulah rasanya tujuan dari rezim.
14:00Mengenyangkan perut rakyat seolah-olah mereka memang bisa mengangkat perekonomian.
14:05Padahal kita tahu sendiri bahwasannya ekonomi Indonesia, IHSG saja sudah turun hari ini.
14:11Selanjutnya, tujuan yang terakhir, ikut melaksanakan ketertiban dunia.
14:17Sekarang dunia saja masih ribut, teman-teman.
14:19Negara tetangga ribut, gara-gara apa?
14:21Asaf Indonesia yang negara tetangga.
14:26Mereka malah memunculkan, atau istilahnya Indonesia malah memunculkan konflik tersebut.
14:31Saya rasa tujuan keempat juga tidak pernah tercapai.
14:34Tujuan keempat juga tidak pernah diatasi secara maksimal ataupun serius.
14:38Jadi saya rasa, teman-teman, kita harus sadar bahwasannya negara Indonesia itu sudah jauh dari tujuannya.
14:45Tujuan dari Undang-Undang Dasar 1945.
14:49Dasar negara kita terbentuk, teman-teman.
14:52Kita harus sadar bahwasannya permainan rezim, permainan oleh gaji hari ini,
14:57itu semakin menindas rakyat kecil.
15:00Lucu rasanya ketika kita rakyat kecil terpecah hanya untuk membela mereka yang tidak pernah membela kita.
15:06Lagi-lagi, suara rakyat harus disatukan dan rakyat harus sadar.
15:11Mungkin dari aku cukup, terima kasih.
15:13Hidup rakyat Indonesia!
15:14Terima kasih Allah!
15:22Terima kasih.
15:22selamat menikmati

Dianjurkan