00:00Selanjutnya, ini adalah inovasi yang kami gagas kira-kira sebulan yang lalu.
00:05Kami mulai dengan namanya MBG Metode Prasmanan.
00:10Ada hadir dari Jaika di sini ya? Ada ya?
00:16Oh, Jaika di sini.
00:19Kita tidak berhenti, mari kita berhenti.
00:24Ini saya akan berhenti sekarang.
00:26Tepuk tangan untuk saya, boleh?
00:32Ini dari Jaika.
00:33Jaika ini kira-kira...
00:38Nantos, nani, nanteng kara, kya neng kara, nanka, osusume, sono nani, sono yari kata, ju, ju, ju tosi kureka, maik.
00:51Jangan.
00:5310 bulan yang lalu.
00:55Indonesia gue, ada semasa?
00:57Indonesiako nya sedikit saja.
00:59Sedikit sedikit, ya.
01:00Jadi, ya, ya, ya, ya.
01:11Ya, ya, ya.
01:14Ya, ya, ya.
01:15Last year, we recommended the development of SOP,
01:19because, ya, JAICA, not JAICA,
01:21Japan's implementation of hygiene sanitation is very strict,
01:27as you might have seen the video in YouTube,
01:32or something, and then very, ya know, strict.
01:34And for now, ya, we are also trying to develop several other things,
01:41which we are discussing with our team,
01:44Sistela and Dr. Kuroa.
01:46Ya, thank you.
01:47Thank you, thank you.
01:47Arigatou gozaimasu.
01:51Jadi, kami, ya maksudnya kami belajar dari mana-mana, ya.
01:58Salah satunya kita meniru best practice yang terjadi,
02:01yang baik di negara lain.
02:03Ternyata di Jepang pun tidak semua menu makan itu dimasak di sekolah.
02:10Jadi, saya kira menurut keterangan dari teman kita dari JAICA,
02:15mengatakan bahwa mereka juga ada central kitchen.
02:19Untuk sekolah-sekolah yang siswanya banyak,
02:23maka dia dapurnya di dalam sekolah.
02:25Tapi kalau sekolahnya sedikit-sedikit,
02:28itu dia bikin central kitchen di luar sekolah,
02:30kemudian dibawa anget-anget ke sekolah,
02:33kemudian disajikan di kelas-kelas.
02:36Jadi, sebetulnya ide bahwa MBG ini untuk bisa dikelola di dalam sekolah
02:43juga sudah di kita kerjakan,
02:45yaitu di pondok-pondok pesantren.
02:46Yang santrinya 9.000, santrinya 3.000,
02:50santri di atas 1.000,
02:52pondok pesantren bisa membangun dapurnya di dalam sekolah.
02:57Yang kurang dari 1.000,
03:00maka kemudian kita bikin central kitchen,
03:02dan dengan prasmanan ini anget-anget dibawa ke sekolah.
03:06Nah, saya harus jelaskan,
03:08di medsos ini kan kemudian orang berkembang dalam berdiskusinya,
03:13nanti kalau prasmanan kapan sekolahnya?
03:15Habis nanti untuk nyajiin.
03:17Bukan kok 300 orang dalam satu sekolah,
03:20kemudian bikin kayak orang kawinan? Bukan.
03:23Tapi prasmanan itu disajikan per kelas-kelas.
03:26Jadi anget-angetnya itu di kelas-kelas.
03:28Jadi kalau di kelas ada 30 orang,
03:30dia bawa 30 porsi nasi, sayur, lauk,
03:33ditaruh di kelas,
03:34dia sajikan, dia makan, dia beresi,
03:36kemudian selesai.
03:39Jadi anget-anget.
03:40Enggak perlu diangetin,
03:41karena di bawahnya anget-anget,
03:42dijaga suhunya di 60 derajat minimal tadi.
03:44Gitu ya.
03:45Jadi,
03:46ini bukan,
03:48maksud saya,
03:48yang kita lakukan ini bukan kok karangannya Pak Daryono?
03:52Bukan.
03:52Atau karangannya siapa?
03:53Bukan.
03:54Ini adalah best practice yang kami belajar dari banyak negara,
03:57dari beberapa negara,
03:59salah satunya Jepang,
04:00kemudian ada dari Eropa juga kami lihat,
04:03caranya sama.
04:03Dan di Jepang ini,
04:04menurut Jaika,
04:06mereka shifting,
04:07dari yang dapurnya ada di sekolah,
04:10mereka shifting menjadi central kitchen.
04:12Karena lebih ada economy of scale-nya,
04:14pengelolaannya lebih tersentralistik,
04:16dan seterusnya.
04:17Jadi sebetulnya,
04:17ini best practice,
04:19bukan karangan saya.
04:20Kita sudah melakukan ujicoba,
04:23ada 66 dapur,
04:24dan ini sedang nambah sekitar 230 lagi,
04:28ada sekitar,
04:28mungkin totalnya ada sekitar hampir 300,
04:30dan target saya adalah,
04:33sampai dengan akhir tahun,
04:34untuk mengurangi,
04:35tadi,
04:36mengurangi keracunan makanan,
04:38makanan rusak,
04:39gangguan kesehatan,
04:39dan,
04:40paling dinikmati oleh,
04:42atau diminati oleh siswa ini,
04:43maka kami berharap,
04:44sampai dengan akhir tahun,
04:45kita bisa implementasi PMBG Prasmanan ini,
04:485.000 sampai dengan 10.000 dapur,
04:51sudah bisa mengimplementasikan ini.
04:53Ini,
04:55jadi 66,
04:56sekarang ini sudah,
04:58kemudian kasus keracunannya nggak ada,
05:00dan tingkat,
05:01kehabisannya rendah sekali.
05:04kehabisannya itu,
05:07habis sekali gitu loh.
05:09Jadi,
05:10yang kecil-kecil bisa nambah,
05:12yang masih kurang bisa nambah,
05:14dan seterusnya.
05:15Jadi,
05:16orangnya dapat porsi sesuai dengan takaran gizinya,
05:18tapi masih ada spare,
05:20nah spare-nya itu orang bisa,
05:21kalau masih lapar bisa nambah.
05:23Jadi ini,
05:24so far so good,
05:25dan kami ingin ini mandatory,
05:27harus dilaksanakan seluas-luasnya,
05:30terhadap semua dapur dan semua sekolah.
05:37Kompas TV
05:38Cara baru nonton di Smart TV,
05:40nonton live streaming,
05:41dan ribuan tayangan Kompas Gramedia,
05:44langsung dari Smart TV kamu.
05:46Cara installnya,
05:47buka Google Play Store di Smart TV kamu.
05:50Cari Kompas TV,
05:51melalui pencarian.
05:53Pilih aplikasi,
05:54lalu install.
05:56Selesai,
05:56kamu bisa menonton video pilihan editorial Kompas TV.
06:00Download Kompas TV Apps di TV kamu sekarang juga.
06:04Sudah.
06:05Kompas TVаться.
06:05Sudah.
06:05Kita bisa menonton video saya.