Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, menyebut polemik ijazahnya dan ijazah putra sulungnya sekaligus Wapres, Gibran Rakabuming, sebagai operasi politik untuk menurunkan reputasinya dan Gibran.

Jokowi bahkan menyebut ada penumpang gelap di balik polemik kasus ijazah dirinya dan Gibran sehingga menjadi ramai.

Namun, Jokowi tidak mempermasalahkan polemik ini, termasuk jika partai politik di DPR mengambil sikap seperti hak angket terhadap putusan MK terkait ijazah Gibran.

Denny Indrayana, penggugat ijazah Gibran ke Mahkamah Konstitusi, merespons tudingan Jokowi soal operasi politik untuk menjatuhkan dirinya dan Gibran.

Baca Juga Kemenhub Catat 2.458 Penerbangan Terdampak Karhutla, Asap Meluas hingga Sulawesi dan Maluku di https://www.kompas.tv/nasional/696716/kemenhub-catat-2-458-penerbangan-terdampak-karhutla-asap-meluas-hingga-sulawesi-dan-maluku

Denny bilang operasi politik justru dilakukan sendiri oleh Jokowi, seperti mengubah pasal terkait syarat umur dan pendidikan untuk meloloskan anaknya, Gibran, menjadi wakil presiden.

Denny juga membantah gugatannya ke MK untuk menjatuhkan reputasi Gibran.

Denny Indrayana, penggugat ijazah Gibran ke MK.

Polemik ijazah Gibran bergulir setelah dalam pertimbangannya MK menyebut tidak menemukan bukti ijazah setara SMA untuk syarat menjadi cawapres di Pilpres 2024.

Namun, MK menegaskan tidak punya kewenangan mendiskualifikasi Gibran sehingga polemik ini menunggu sikap sejumlah partai politik di DPR.

Lantas, benarkah klaim Jokowi soal ada operasi politik dan penumpang gelap di balik kasus ijazah dirinya dan Gibran yang diangkat ke Mahkamah Konstitusi hingga ke polisi?

Kita bahas bersama Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Ray Rangkuti, dan Ketua Umum Rampai Nusantara, Mardiansyah Semar.

Baca Juga Hanta Yuda Soroti Klaim Operasi Politik Jokowi, Klarifikasi Lebih Penting! di https://www.kompas.tv/nasional/696702/hanta-yuda-soroti-klaim-operasi-politik-jokowi-klarifikasi-lebih-penting

#ijazahgibran #jokowi #gibran #politik

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/696723/full-sengit-debat-ray-rangkuti-mardiansyah-semar-soal-jokowi-klaim-ada-operasi-politik-ijazah
Transkrip
00:00Si politik untuk mendowngrade reputasi politik.
00:07Tidak ada reputasi yang downgrade, memang belum layak.
00:12Serta berbakti kepada nusah dan bangsa.
00:17Presiden ketujuh Joko Widodo menyebut polemik ijazahnya dan ijazah putra sulungnya sekaligus Wapres Gibran Raka Bumi
00:25sebagai operasi politik untuk menurunkan reputasinya dan Gibran.
00:30Jokowi bahkan menyebut ada penumpang gelap di balik polemik kasus ijazah dirinya dan Gibran sehingga menjadi ramai.
00:37Namun Jokowi tidak mempermasalahkan polemik ini, termasuk jika partai politik di DPR mengambil sikap seperti hak angket terhadap putusan MK
00:45terkait ijazah Gibran.
00:47Ya kan sudah saya sampaikan sejak awal, ini ada operasi politik, kemudian ada penumpang gelap yang menunggangi lagi, jadi menjadi
00:59ramai sekali.
01:00Tapi ya buat saya biasa saja, operasi politik untuk mendowngrade reputasi politik, seseorang.
01:13Bapak atau Mas Gibran kita maju?
01:15Ya dua-duanya bisa.
01:17Ya itu hak konstitusional dari semua partai yang ada di DPR.
01:24Denny Indrayana, penggugat ijazah Gibran ke MK, merespons tudingan Jokowi soal operasi politik untuk menjatuhkan dirinya dan Gibran.
01:33Denny bilang operasi politik justru dilakukan sendiri oleh Jokowi,
01:37seperti mengubah pasal terkait syarat umur dan pendidikan untuk meloloskan anaknya Gibran menjadi wakil presiden.
01:44Denny juga membantah gugatannya ke MK untuk menjatuhkan reputasi Gibran.
01:51Pendidikan yang seharusnya berpendidikan paling rendah SMA atau sederajat digibrankan melalui pasal 18 R3 peraturan KPU nomor 19 tahun 2023
02:03yang semakin terindikasi adalah pasal selundupan demi meloloskan Saudara Gibran menjadi wakil presiden.
02:12Itulah sebenarnya operasi politik yang merusak kejujuran dan keadilan Saudara Gibran.
02:20Tanpa didowngrade sekalipun, memang reputasinya masih belum layak.
02:25Beliau seharusnya tidak dipasarkan menjadi wakil presiden.
02:30Polemik ijazah Gibran bergulir setelah dalam pertimbangannya MK menyebut
02:35tidak menemukan bukti ijazah setara SMA untuk syarat menjadi cawapres di Pilpres 2024.
02:43Namun MK menegaskan tidak punya kewenangan mendiskualifikasi Gibran,
02:47sehingga polemik ini menunggu sikap sejumlah partai politik di DPR.
02:51Tim Deputan Kompas TV
02:58Saudara Presiden ke-7 Jokowi Dodo menyebut kasus si jasa ini merupakan operasi politik
03:03untuk menjatuhkan reputasi wakres Gibran.
03:06Hingga menuding ada penumpang gelap yang membuat isu ini menjadi ramai.
03:11Lantas benarkah klaim Jokowi soal ada operasi politik dan penumpang gelap
03:16dibalik kasus si jasa dirinya dan Gibran yang diangkat ke Mahkamah Konstitusi hingga ke Polisi?
03:23Kita bahas bersama Direktur Eksekutif Lingkar Madani, Rai Rangkuti,
03:27dan juga Ketua Umum Rampai Nusantara, Mardian Syah Semar.
03:30Selamat sore, Mas Semar, Bang Rai.
03:34Selamat sore, terima kasih untuk waktunya bergabung di Kompas Petang.
03:38Saya langsung ke Mas Semar.
03:39Mas Semar, apa sebenarnya dasar yang membuat Pak Jokowi menyebutkan
03:45kurang lebih ada operasi politik, penumpang gelap,
03:49mendowngrade reputasi politiknya?
03:52Ya jelas ya, jadi kalau Pak Jokowi menyampaikan ada operasi politik,
03:58ada penumpang gelap, karena memang kita semua menyaksikan kan bertahun-tahun ini
04:04itu selalu saja orangnya itu-itu saja yang coba untuk mendiskreditkan Pak Jokowi dan keluarga.
04:12Sekarang Mas Gibran sampai ke sidang MK dan lain sebagainya.
04:17Nah ketika ini bertahun-tahun dengan orang yang dilihat itu kolamnya sama,
04:23bagian-bagian yang memang selama ini juga berseberangan dengan Pak Jokowi,
04:26lalu ada beberapa penumpang-penumpang yang tadinya juga bukan bagian penting
04:32dari gerakan ini, ikut serta untuk membangun orkestrasi juga.
04:37Terus Pak Jokowi menyampaikan, wah ini ada operasi politik.
04:40Terus kalau misalnya dasarnya Pak Jokowi menyampaikan ini karena ingin mendowngrade reputasi,
04:46ya jelas Pak Jokowi itu win rate-nya 100% ya gak pernah kalah dalam kontestasi politik
04:51dari wali kota sampai calon presiden.
04:54Bahkan dia mengikhlaskan Gibran, mendampingi Pak Prabowo pun juga menang.
05:00Nah dalam konteks politik itu membahayakan buat lawan politik.
05:04Dalam konteks politik kekuasaan,
05:06pasti kekuatan yang dimiliki Pak Jokowi itu sulit dikalahkan,
05:11sehingga harus didegradasi, harus di downgrade dan lain sebagainya.
05:16Jadi wajar-wajar aja statement Pak Jokowi, masuk akal kalau menurut saya sih Pak.
05:19Oke, jadi artinya ada kekuatan yang begitu besar yang melekat di Pak Jokowi,
05:25sehingga ada hal-hal tersebut yang dikaitkan dengan di jasa saya.
05:30Akan ke Bang Re.
05:32Bang Re, kalau menurut Anda Anda sepakat dengan apa yang disampaikan Mas Semar?
05:35Apakah memang operasi politik untuk mendowngrade reputasi Gibran dan Pak Jokowi ini
05:42memang betul terjadi saat ini?
05:46Ya nggak tahu, ditanyakan Pak Jokowi aja.
05:49Tapi kalau Anda melihat, kenapa Pak Jokowi menyampaikan itu?
05:52Pernyataan itu disampaikan saat ini? Mengapa?
05:55Ya lagi panik aja, sudah nggak ada argumennya,
05:58ya tinggal serang-serang ke sana kemari kan.
06:01Ini kan seperti sob yang sedang bekerja.
06:04Sob pertama itu adalah tuduh mereka sebagai orang-orang yang membuat
06:09keributan, kericuhan, dan kegaduhan.
06:12Ternyata nggak begitu laku di tengah masyarakat.
06:15Lalu masuk ke sob kedua.
06:17Apa itu?
06:18Tuduh mereka bahwa orang-orang ini ada yang bayarin,
06:22ada tokoh politik yang bermain di belakangnya,
06:25ada penumpang gelap gitu.
06:27Nah ini yang lagi berjalan nih, sob kedua.
06:30Kalau sob kedua ini nanti tidak laku juga di tengah masyarakat,
06:34biasanya akan maju ke sob yang ketiga.
06:36Apa itu?
06:37Laporkan aja ke polisi satu-satu gitu.
06:39Dengan berbagai dalil lah, dengan berbagai pasal gitu.
06:43Nah kan, karena kan kali pertama Pak Jokowi melakukan ini,
06:46dan sampai sekarang kita nggak tahu siapa yang dimaksudkan oleh beliau.
06:50Dan oleh karena itu saya nggak ambil pusing,
06:52mau beliau mengatakan ada operasi di belakangnya,
06:55ada ini, ada macam-macam.
06:57Tidak peduli, seperti kata lagu dangdut ya.
07:00Ya kan, tuduhlah aku sesukamu.
07:03Tapi yang penting bagi saya,
07:05aku gimana itu.
07:08Bang Re, tapi kan Anda,
07:10Anda termasuk salah satu orang yang aktif
07:13untuk menyampaikan pertimbangan
07:14dari putusan Mahkamah Konstitusi ke DPR.
07:18Anda merasa tidak sebagai salah satu pihak
07:20yang dituding Pak Jokowi?
07:23Ya nggak akan ngomong.
07:24Aku nggak peduli.
07:25Nggak peduli?
07:26Sebenarnya beginian ini bukan kali pertama.
07:28Iya, bukan kali pertama saya alami.
07:30Tanya Bung Semartu.
07:32Zaman Soeharto kita udah tuduh macam-macam.
07:35Dituduh sebagai ekstrim kiri, ekstrim kanan.
07:38Tapi pada kenyataan aja kan
07:39apa yang kita lakukan tuh semua kok dijadiin.
07:42Kok benar, kok hidup masyarakat.
07:44Apalagi ya cuma dituduh begini begono.
07:47Kalau di zaman Soeharto lebih dari itu.
07:49Tanya Bung Semartu.
07:50Saya nggak terlalu peduli.
07:52Makanya saya mengatakan tadi,
07:54tuduhlah aku sesukamu.
07:56Yang asing bagiku adalah...
07:58Tandanya yang benar dong yang hidup.
07:59Tapi gini, ini Mas Semart.
08:02Mas Semart, kalau disampaikan Bang Reh,
08:05Bang Reh tidak menanggapi,
08:07tidak merasa tertuduh,
08:08bahkan tidak peduli.
08:10Kalau Anda melihat apa yang terjadi saat ini,
08:13kenapa tidak langsung saja ditunjukkan ijazahnya gitu,
08:18supaya apa yang dituduhkan Pak Jokowi itu juga berhenti sampai di sini saja.
08:23Jadi kalau Reh menyampaikan itu,
08:25sudah pada tempatnya itu.
08:27Jadi nggak peduli,
08:28bodo amat gitu ya.
08:30Kenapa sudah pada tempatnya?
08:32Sudah pada tempatnya,
08:33karena positioning Reh,
08:35itu kan nggak mungkin juga menjelaskan,
08:38apa yang disampaikan Pak Jokowi,
08:39ada operasi politik.
08:41Terus ditanya Reh,
08:42benar nggak ada operasi politik?
08:43Masa Reh bilang,
08:44benar,
08:44yang operasi ABC,
08:46saya operator Reh,
08:47kan nggak mungkin.
08:48Pasti nggak peduli gitu loh.
08:50Nah bahwa memang akhirnya ini terlihat ada orkestrasi ya,
08:55kan wajar juga Pak Jokowi merasa itu.
08:58Karena kalau kita lihat,
09:00kok yang dituduh ya dia-dia aja itu,
09:02Pak Jokowi,
09:03Gibran,
09:03Pak Jokowi,
09:04Gibran.
09:05Kayak misalnya Gibran,
09:06konteks sekolah di luar negeri kan nggak cuma Gibran,
09:09banyak juga pejabat lain.
09:11Kalau perjuangan nilai dan norma kan harusnya semua pukul rata
09:14untuk diperbaiki itu,
09:16aturannya dan lain sebagainya.
09:17Dalam posisi yang Gibran juga nggak salah,
09:19Emil Dardak ya nggak salah juga.
09:21Kan gitu loh.
09:21Oke, tapi gini deh Mas Semar,
09:23coba saya geser pertanyaannya ya.
09:25Sebenarnya siapa yang dimaksud Pak Jokowi
09:28sebagai aktor operasi politik tersebut?
09:30Kalau beberapa waktu lalu,
09:31Pak Jokowi juga menyebut ada orang besar.
09:35Apakah aktor operasi politik ini sama dengan orang besar
09:38yang disebut Pak Jokowi beberapa waktu lalu itu?
09:40Ya kan di awal,
09:42tadi saya sudah sampaikan,
09:43bahwa Pak Jokowi itu merupakan kekuatan yang juga tidak hanya mengkhawatirkan tuh,
09:49tapi mengerikan.
09:50Sampai sekarang itu Pak Jokowi rumahnya 300-400 orang.
09:54Masyarakat datang untuk foto salaman sama Pak Jokowi.
09:57Kekuatannya ketika dia lengser sebagai presiden,
10:00nggak punah tuh,
10:01nggak bergeser.
10:02Tetap salaman.
10:04Sama seperti kita melihat begini,
10:05ini supaya dasarnya dulu ya Mbak.
10:07Oke.
10:08Sama ketika kita melihat Pak Prabowo bertarung berkali-kali kalah,
10:12tapi berteman dengan Pak Jokowi menang.
10:14Berarti secara otomatis bisa kita nilai,
10:16dukungan Pak Jokowi sangat signifikan
10:19untuk membuat kemenangan Pak Prabowo dalam Pilpres 2024.
10:22Dalam konteks itu,
10:23dalam konteks politik ya,
10:24ya ini menakutkan buat lawan-lawan politik
10:27yang tidak suka Pak Jokowi menang terus.
10:29Yang tidak suka Pak Jokowi atau Gibran
10:32itu punya keleluasaan dalam politik kekuasaan
10:35untuk memenangkan pertarungan.
10:37Bagaimana caranya?
10:38Lawan sejak awal.
10:40Lakukan downgrade terhadap revolusi.
10:43Jadi tujuannya untuk 2029 ya,
10:45Mas Emar maksudnya?
10:46Itu suara Pak Jokowi adalah suara Mas Gibran.
10:49Siapapun yang ditemani nanti 2029 oleh Pak Jokowi dan Pak Gibran,
10:54kemungkinan besar,
10:55insya Allah akan menang lagi.
10:56Kan begitu lho.
10:57Nah ini kan yang menjadi lawan-lawan politik itu jadi panik.
10:59Jadi kalau dibicara panik,
11:01yang panik lawan-lawan politik bukan Re ya.
11:03Karena Re ini kan pengamat lingkar madani.
11:05Bukan bagian dari lawan residu kekalahan 2024.
11:08Tapi kepentingan politik yang lain.
11:10Pasti begitu.
11:11Nah makanya gak ngerti juga.
11:13Tapi Bang Re adalah salah satu pihak yang cukup aktif
11:15terkait dengan ijazahnya Mas Gibran gitu.
11:19Bukan sekarang ini kan kita bicara
11:21dengan Re sebagai pengamat dari lingkar madani.
11:24Bukan Re sebagai orang yang selama ini
11:26positioning politik kekuasaannya
11:28berseberangan dengan Pak Jokowi.
11:29Kadang nyamar-nyamar juga Re ini.
11:31Kadang jadi pengamat.
11:32Kadang juga jadi apa gitu loh.
11:34Jadi kadang kita bagaimana ya?
11:36Menanggapi.
11:37Anda gak apa-apa Mas Re,
11:39Bang Re dibilang menyamar.
11:41Kadang jadi pengamat.
11:43Kadang juga jadi pihak yang gak bisa dikatakan cukup.
11:45Saya harus jelas lah.
11:46Harusnya kedudukan politiknya harus jelas lah.
11:48Tapi dijawabnya yang saya jadai ya.
11:49Bang Re tetap bersama kami di Kompas Petang.
11:51Sakses A, Sakses B, apa segala macam.
12:00Terima kasih Anda masih bersama kami di Kompas Petang.
12:03Saya lanjutkan dialog sore hari ini.
12:05Bang Re, kalau Anda melihatnya bagaimana?
12:08Kan ini awalnya adalah isu dari ijasa.
12:11Apa yang Anda lihat?
12:13Apakah memang isu dari ijasa?
12:15Lalu kemudian berlanjut pada putusan Mahkamah Konstitusi
12:18dengan sejumlah pertimbangannya.
12:20Apakah ini sekarang bergeser ke legitimasi politik?
12:23Karena ada pernyataan dari Pak Jokowi.
12:27Iya, saya tadi menyebut ini kan semacam sob ya.
12:30Sob pertama tuduh mereka itu tukang gaduh,
12:32tukang nyari kekuasaan karena gak dapat jabatan,
12:35blablabla lah ya.
12:36Nah, dan itu sampai sekarang gak terbukti.
12:39Langsung masuk ke sob kedua.
12:41Apa itu?
12:43Katakan saja di belakang mereka itu ada aktor-aktor politik dan seterusnya gitu.
12:47Nanti sob ketiga itu biasanya diadukan ke polisi.
12:50Deni rayanya sehingga saya mau digugat lagi ke polisi kan?
12:55Setahu saya gitu.
12:56Nah, itu udah sobnya tuh.
12:57Nah, kenapa itu dilakukan?
12:59Karena biasanya argumennya udah gak ada.
13:01Argumen dari Pak Jokowi gitu.
13:02Karena argumen dari Pak Jokowi gak ada,
13:05ya itu ya.
13:06Maka yang disebut operasi politik yang berjalan.
13:09Seperti yang sekarang ini gitu.
13:11Dan saya udah paham itu semua.
13:13Dan oleh karena itu saya bilang saya gak peduli.
13:15Karena apapun yang disebut.
13:16Jangankan saya,
13:17Bung Semar aja gak tahu kok siapa dalang yang dimaksud oleh Pak Jokowi kan.
13:21Yang tahu itu kan cuma Pak Jokowi sendiri gitu.
13:23Nah, oleh karena itu ya biarkan aja Pak Jokowi sibuk dengan urusan dia memikirkan bahwa belakang ini semua ada dalamnya.
13:30Biarkan aja tambah-tambah pikiran Pak Jokowi dengan itu semua.
13:34Kalau kita sih santai-santai aja ya.
13:35Karena justru yang kita dorong itu adalah
13:38Fasilitas bagi Pak Jokowi untuk membuktikan bahwa beliau benar.
13:42Apa itu?
13:43Ya kangket itu.
13:44Di kangket itu lah di uji.
13:45Apa benar ada ijazahnya.
13:47Ijazah itu ijazah SD, ijazah SMP, ijazah SMA.
13:51Atau ijazah S1-nya.
13:53Atau hanya ada ijazah SMA, SD-nya saja, SMP-nya saja, S1-nya saja.
13:58Ijazah SMA-nya gak ada.
13:59Ya kita gak tahu.
14:00Nah justru kita sedang memfasilitasi oleh Pak Jokowi.
14:04Oke, tapi maaf Bang Reh.
14:07Tapi Bang Reh, bagaimana Anda menjawab pernyataan dari Bung Semar bahwa memang Pak Jokowi sekuat itu.
14:15Sehingga harus di downgrade reputasinya.
14:18Kalau gak kuat didiemin, Pak.
14:19Gimana Bang Reh menjawab itu?
14:22Kan saya udah mengatakan, saya gak terlalu peduli soal elektabilitas siapapun.
14:26Persoalan saya itu, ada wakil presiden yang dinyatakan Mahkamah Konstitusi, gak punya ijazah.
14:31Dada, kalau soal Mahkamah Konstitusi, Reh salah dong.
14:34Itu bagian dari tambahan pertimbangan.
14:37Supaya, maksudnya Mahkamah Konstitusi, yang jadi patok itu amat putusan Reh, kau salah kau.
14:43Kau salah kalau bicara soal putusan MK, itu amat putusannya ditolak gugatan dan tidak didiskualifikasi.
14:51Clear.
14:52Gak ada lagi debat.
14:53Nah, persoalan bahwa kalian mau menggoreng, menggoreng ya, bahan tambahan pertimbangan dari MK, boleh.
15:01Tapi jangan juga sesat soal amat putusannya.
15:04Amat putusannya clear.
15:05Digugat itu, apa, digugat, ditolak ya gugatannya.
15:09Dan yang kedua, tidak diterima soal disqualifikasi.
15:14Sudah clear.
15:14Jangan juga, akhirnya seakan-akan.
15:16Tapi kan ada pertimbangan dari MK juga, Bang Semar.
15:20Kenapa?
15:20Ada pertimbangan dari MK juga.
15:22Itu kan tambahan pertimbangan, Mbak.
15:24Ini waktu saya berbicara, rasanya ya.
15:27Kalau misalnya bahan pertimbangan itu, menopang putusan amat putusannya, itu mungkin bisa ada yang lainnya.
15:33Gitu lho.
15:36Itu sudah semua setuju.
15:38Dan semua sudah paham.
15:39Tapi di dalam pertimbangannya ada yang disebutkan dengan nyata-nyata.
15:43Sudara Gibran itu tidak punya ijazah.
15:45Ini yang akhirnya, kita melihat.
15:49Ini yang pengakuan dari pihak Gibran.
15:51Kalau ijazah itu ada.
15:53Kenapa di dalam pertimbangannya tidak disebutkan?
15:55Karena ketika resepsi, selain itu harus setuju.
15:57Mereka menerima putusan amat putusannya yang berisi, sudah kelihatan.
15:59Kenapa tidak dibawa oleh para pendukungnya sendiri?
16:02Gini deh, Bung Semar.
16:04Maaf, ditahan dulu, Bang Re.
16:06Semua proses sudah dilewati.
16:09Oke.
16:09Supaya pernyataan para pendukung Gibran ini,
16:13Bung Semar, mengapa tidak menjawab polemik ini dengan transparansi dokumen
16:24daripada menuding adanya politisasi?
16:27Betul.
16:28Kan semua kan ada juga, ada momentumnya.
16:31Kalau misalnya memang dia oleh negara nggak diminta, buat apa?
16:34Justru kan Gibran ini kan patuh konstitusi.
16:36Patuh konstitusi juga ketika mahkamah konstitusi memutuskan,
16:40menolak gugatan dan tidak didisqualifikasi, ya sudah.
16:42Kan begitu.
16:43Apalagi, nah ketika kalian coba untuk menggoreng tambahan pertimbangan,
16:48boleh saja.
16:49Tapi jangan juga melihat bahwa itu bagian penting
16:52dari putusan mahkamah konstitusi.
16:54Dan Re ini penggiat pemilu.
16:56Dia harus tahu.
16:57Dari 2024 pas kapi pres,
17:01sudah, sudah lewati.
17:03Bahwa ada mahkamah yang sangat nusiasi,
17:05terkait dengan perperatan aktivitas.
17:08Itu yang maksud saya.
17:09Oh ternyata, proses percalonan Pak Prabowo dan Pak Prabowo.
17:15Clear.
17:15Mereka yang tidak terbukti memiliki
17:18secara legitimasi konstitusi clear.
17:20Karena memang,
17:22KPU sudah,
17:24pendidikan sudah.
17:25Nah cuma kan kita masih berpati ke para.
17:27Jangan-jangan Re sudah tidak lagi punya
17:29keilmuan soal pemilu.
17:32Kalau keilmuan pemilu masih dijangkannya,
17:35saya paham lah.
17:35Tidak bisa lagi dipersoalkan.
17:37Oke.
17:38Bang Re,
17:40Bang Re,
17:40kalau tadi Bung Semar sempat menyatakan bahwa
17:44Pak Jokowi ini cukup kuat.
17:46Sehingga ada alasan ketika Pak Jokowi menyebutkan
17:49bahwa dirinya di downgrade
17:51untuk reputasi politiknya.
17:53Kalau dari kacamata Anda,
17:55kekuatan seperti Semar ya,
17:57karena dia mengakui bahwa Pak Jokowi itu...
17:59Nah,
18:00gimana Bang Re?
18:00Tidak dipotong Semar dan...
18:02Silahkan Bang Re.
18:02Kalau dipotong ya, kita terlihatkan aja.
18:04Silahkan dulu Bang Re.
18:06Silahkan Bang Re.
18:07Tidak sempatnya...
18:08Ya, karena tadi ada motong di tengah jalan.
18:11Oke.
18:11Tidak ada yang ngomong ya.
18:12Tidak boleh potong.
18:13Oke, Bang Semar.
18:14Tahan dulu Bang Semar.
18:15Kita dengarkan dulu pernyataan dari Bang Re.
18:17Ya, bagaimana dong mbak?
18:18Dia potong saya boleh,
18:19saya potong dia tidak boleh.
18:20Saya berbicara ya.
18:22Itulah sebabnya saya mengatakan...
18:25Itulah sebabnya saya mengatakan...
18:27Kita pakai angket.
18:28Kalau enggak, begini-gini aja nih.
18:30Gak ada selesainya.
18:32Saya mengatakan bahwa...
18:34Jasa di Bipran itu mana?
18:36Mendukung Bipran mengatakan ada jasanya.
18:39Menyelesaikannya apa?
18:41Menyelesaikannya melalui yang angket.
18:42Jangan digiring-giring.
18:43Itu makanya saya dorong.
18:44Itulah sebabnya saya mengatakan bahwa...
18:48Mengada-ngada.
18:49Oke.
18:50Apa yang membuat...
18:52Bung Semar,
18:53apa yang membuat Anda menuding Bang Re ini mengada-ngada?
18:59Pernyataannya...
19:00Sebenarnya kan tujuannya Bang Re dari udah jelas.
19:03Ingin hak angket di DPR.
19:05Perintah hukum dari putusan mahkamah konstitusi itu, mbak.
19:07Enggak ada.
19:08Perintah dan keputusan konstitusinya jelas.
19:11Menolak dugatan dan tidak mendiskualifikasi.
19:14Sudah.
19:15Enggak ada lagi.
19:16Jadi jangan juga seakan-akan bahwa...
19:19Karena tak bisa menjalankan apa yang menjadi itu.
19:21Saya boleh jawab nanti ya.
19:23Enggak ada itu.
19:24Oke.
19:24Gimana Bang Re menjawab itu?
19:26Oke.
19:27Inilah keciluran Bung Semar.
19:30Dia pikir angket itu langsung HMP.
19:32Haku menyatakan pendapat.
19:34Bukan.
19:35Ya.
19:36Mas.
19:37Saya tahu soal itu.
19:38Haku angket itu untuk memfasilitasi Pak Jokowi.
19:41Menjelaskan kepada publik bahwa...
19:46Temuan mahkamah konstitusi itu tidak benar.
19:49Jadi kita ini jadi bingung menghadapi keluarga Pak Jokowi dan pendukungnya kan.
19:54Dibuka NK, salah.
19:56Dibuka, apa namanya?
19:58Salah.
19:59Oke.
20:00Sekarang saya berikan waktu masing-masing untuk memberikan pernyataannya deh.
20:04Apa sebenarnya yang saat ini titik baliknya harus bagaimana?
20:07Singkat dulu dari Bung Semar, kemudian singkat saja dari Bang Re.
20:10Singkat saja waktu kita selesai.
20:11Sama-sama jangan saling potong ya.
20:13Ya, silakan Bung Semar.
20:15Oke.
20:16Apa pertanyaannya?
20:17Apa dari titik balik ini, setelah pernyataan Pak Jokowi, apa yang diharapkan dari Pak Jokowi dan juga teman-teman terkait
20:26dengan ijazah ini?
20:28Sederhana.
20:29Putusan MK sudah jelas.
20:31Nggak usah saya ulang-ulang.
20:32Ditolak bugatan, tidak didisqualifikasi, sudah.
20:35Rakyat sedang susah juga.
20:36Asap di mana-mana belum selesai.
20:38Fokus pemerintah harusnya di situ, jangan juga akhirnya dibuat gaduh dan lain sebagainya.
20:43Kalau teman-teman yang ada residu Pilpres 2024, kelompok-kelompok yang akhirnya bersatu,
20:49karena memang berseberangan politik dengan Pak Jokowi dan Mas Gibran,
20:52silakan konsolidasi lawan di 2029.
20:55Jangan menghabiskan energi soal-soal yang menurut saya di momentum sekarang ini sudah tidak tepat lagi.
21:01Oke, baik. Kita kasih waktu juga ke Bang Re.
21:03Singkat saja Bang Re, waktu kita sudah habis. Silakan.
21:05Oleh karena itulah saya dorong angket, supaya keluarga Pak Jokowi bisa membuktikan bahwa mereka itu benar-benar-benar.
21:13Karena mereka menyebut bahwa mereka itu punya ijazahnya yang tidak sempat dihadirkan di Mahkamah Konstitusi.
21:18Karena bagaimanapun, pernyataan Mahkamah Konstitusi bahwa Sudara Gibran tidak punya ijazah SMA itu adalah fakta hukum yang didapatkan oleh Mahkamah
21:27Konstitusi.
21:27Dan supaya kita tidak menjadi diskusi warung kopi seperti yang sore ini,
21:36makanya kegiatan angket itu memperadabkan perbedaan.
21:40Sehingga tidak perlu kita ribut seperti sekarang dan fokus kita kepada berbagai masalah yang kita hadapi Bang.
21:47Termasuk soal kebakaran yang terjadi di seluruh Indonesia yang tanggung jawab besarnya ada di Menteri Kehutanan yang datang dari PSI.
21:56Baik, terima kasih kami sudah tangkap.
21:58Terima kasih Bang Rai Rangkuti, terima kasih Ibu Mabian Fiasemar atas perspektifnya sore hari ini.
22:03Terima kasih, selamat sore.

Dianjurkan